• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pathokan Baku dalam Joged Mataram

N/A
N/A
Budi Sasono

Academic year: 2025

Membagikan " Pathokan Baku dalam Joged Mataram"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

Joged Mataram, Pathokan Baku.

--- Pathokan yang mutlak harus ditaati oleh seorang penari., baik putra maupun putri yang ingin mencapai tingkat optimal dalam seni tarinya.

--- Pathokan Baku Joged Mataram tersebut antara lain : 1.--- Pandengan (pandangan mata)

2.--- Pacak gulu (gerak leher) 3.--- Deg (sikap dari badan) 4.--- Gerak cethik ([angkal paha]

5.--- Mlumahing pupu (terbukanya posisi paha) 6.--- Nyelekething-nya jari-jari kaki

7.--- Mendhak Pandengan.

--- Salah satu patokan baku dalam tari gaya Yogyakarta (joged Mataram).

Pandangan mata ini bukan hanya pandangan mata seorang penari untuk melihat sekitarnya, melainkan harus dapat mencerminkan suasana jiwa dan karakter tokoh yang dibawakannya. Pandengan  -(pandangan mata) berhubungan erat dengan penjiwaan tari yang terkandung dalam filsafat joget Mataram. Dalam tingkat pertama pandengan akan mampu membentuk polatan atau ulatan (mimik). Pada tingkat berikutnya dapat mewujutkan paseman (semu).

Paseman.

--- Paseman adalah pancaran yang mengekspresikan getar jiwa. Jika seorang penari mampu menghayati pandangan secara penuh, maka tanpa menunjukkan perubahan ekspresi- wajah. Ia mampu mengungkapkan rasa sengsem  (bergairah), marah, gembira, cinta dan sebagainya lewat pandengan. Emosinya tersalur secara halus, namun tetap menyentuh perasaan secara tajam. Konsentrasi dari seorang penari putri dpat diukur juga dari pandengannya. Untuk penari putri pandengan harus tajem (memukau) dan jatmiko (halus). Pandengan atau pandangan mata merupakan persyaratan yang paling penting untuk mengisi penjiwaan.

-

Pacak Gulu : Gerak indah pada leher.

--- Gerakan ini termasuk gerakan tari yang sukar. Gerak pada Pacak gulu harus berpangkal pada gerak menekuk leher dan mendorong pangkal leher (jiling) yang lazim- disebut pacak gulu tekuk jiling. Dalam tari klasik gaya Yogya terdapat 4 macam pacak gulu :

a.--- Pacak gulu baku (pokok)

b.--- Tolehan, terdapat 2 macam tolehan yaitu tolehan biasa dan ngenggot (untuk tari putri dan putra halus)

c.--- Coklekan, khusus untuk tari golek, cantik dan kera. Gerakan ini sama sekali tidak boleh dilakukan untuk Bedhaya / srimpi.

d.--- Gedheg  : khusus untuk tari putra gagahan. Gebes untuk para raksasa (tidak termasuk pacak gulu baku).

Pacak gulu merupakan persyaratan kedua yang sangat penting pada tari Jawa gaya Yogyakarta.

- Deg.

Sikap dan gerak badan mempunyai ketentuan : Tulang punggung berdiri tegak

Tulng belikat datar Bahu membuka

; Dada membusung (Jawa : Jaja Monggal)

(2)

Tulang rusuk terangkat (Jawa : Iga ngunus) Perut kempis

--- Untuk dapat mewujudkan sikap dan gerak badan ini adalah dengan jalan menarik nafas (unjal nafas). Kemudian apabila tubuh terasa seperti yang dimaksud di atas, sifat dan rasa ketegangan dilepaskan. Selanjutnya jalan pernafasan harus diatur jangan sampai merubah sikap. Sikap torso yang tegak lurus tanpa menegangkan pundak dan tulang belakang. Tetapi juga tidak mengendorkannya. Sebab kalau tegang akan tampak Methentheng (kaku). Maka tulang belakang harus semeleh atau mapan dengan tepat.

Gerak Cethik.

--- Merupakan pusat gerakan tubuh kesamping atau kekakanan (oyongan) dan kebawah (mendhak-Jawa). Gerak ngoyong ialah gerak memindahkan posisi badan dari ngleyek kiri akan pindah ngeleyek ke kanan atau sebaliknya. Menburut paugeran , gerak ngoyong harus dimulai dari chetik  kemudian anggota badan yang lain harus mengikuti.- Oyongan dan mendhak  yang salah menyebabkan tari tampak datar dan kurang luwes. Seharusnya cethik-lah yang dipergerakkan. Tetapi cethik  baru dapat berfungsi dengan lancar dan baik setelah paha dalam posisi yang benar. Posisi paha yang benar adalah posisi terbuka (Jawa: mlumah).

Mlumahing pupu.

--- Posisi paha yang terbuka berfungsi agar gerak tari tampak stabil, luwes (fleksibel ) dan ringan. Tanpa posisi ini foot work akan tampak berat, kurang trampil dan cekatan untuk melakukan adegan perang dan junjungan (mengangkat) kaki, dimana keseimbangan harus sempurna. Kecuali itu kurang sempurnanya posisi paha akan menyebabkan centhik sukar untuk dapat digerakkan. Posisi mlumahing pupu adalah salah satu pathokan baku dalam tari gaya Yogyakarta (joged mataram).

-

Nylekething.

--- Salah satu pathokan baku dalam tari gaya Yogyakarta (joged Mataram). Yang dimaksudkan dengan posisi “Nylekething- pada jari kaki adalah mengangkat posisi jari kaki tegak keatas dengan tegang. Kedaan ini akan menyebabkan adanya tarikan pada bagian kaki sehingga dalam keadaan menapak dilantai, kaki akan tertanam dengan kokoh. Hal ini akan mempengaruhi intensitas dari semua gerakan dan sikap seluruh badan. Dengan gerakan ini semua otot-otot penari akan memperoleh tarikan dan terasa kenceng  (sintal) serta berisi.

-

Mendhak.

--- Salah satu pathokan baku yang harus dihayati oleh setiap penari- tarian gaya Yogyakarta (joged Mataram). Mendhak adalah posisi berdiri merendah dengan lekukan lutut .Tekukan ini dilakukan dalam keadaan paha terbuka. Mendhak yang mapan memungkinkan gerakan kaki lebih hidup sehingga tarinya tampak ebrah (besar). Ruang geraknya menjadi luas. Dengan kata lain tarian dapat mengisi ruang.

--- Penari yang kurang mendhak tariannya akan tampak lemah, tanpa konsentrasi dan intensitas geraknya kosong tak berisi. Tetapi terlalu mendhak akan menghasilkan tari yang ngoyo (dipaksakan) dan membuang tenaga. Mendhak harus dilakukan tidak kendhor tetapi juga tidak tegang. Mendhak yang benar adalah mendhak centhik yaitu merendah dengan memusatkan gerak pada cethik, bukan pada tekokan lututnya.

--- -

Lenggah.

(3)

--- Mempergunakan lahir dan batin dalam proporsi yang dituntut oleh peranannya dengan- cermat dan tepat sesuai dengan watak dan kedudukan dari peran yang dihayatinya. Lenggah  penting bagi seorang penari, sebab apabila seorang penari sudah secara sungguh-sungguh menguasai karakter dan peranannya, ia masih harus melihat secara lebih teliti lagi pada lingkup cerita dimana tokoh yang dimainkan itu berperan. Hal ini penting agar penari dapat secara tepat mendudukkan proporsi dan takaran laku dari tokoh yang dibawakannya.

-

Patrap.

--- Sikap tari yang berhubungan dengan teknik menarinya. Patrap penting dikuasai oleh seorang penari agar penari dapat secara tepat mendudukkan proporsi dan takaran laku dari tokoh yang dibawakannya.

Tari tunggal gaya Yogyakarta, lahir di lingkungan istana dan ditampilkan sebagai pertunjukkan tersendiri yang klasik. Pada penampilannya klana Alus lebih lunak dan lamban irama geraknya. Merupakan nikmat keindahan tersendiri, bagi suasana kehidupan romantis pada zamannya, seperti kelahiran -beksan eleng- yang mendambakan soal -bagus- yang kontras dengan -beksan lawung- yang perkasa.

Tokoh yang ditampilkan biasanya prabu Jangkung Mardeya, yang gandrung terhadap seorang putri kerabat Pandawa. Hiasan kepala dapat pula dengan -teropong- atau -songkok-. Tokoh lain yang lebih unik adalah Prabu Sri Suwela, penyamaran Dewi Arimbi, yang dalam figur pria meminang Bima.

Hiasan kepala menunjukkan keunikan keindahan di luar pola tradisional, mempergunakan bulu-bulu burung merpati yang ditata indah warna-warni artistik Jawa. Gerak-tari- Sri Suwela lebih mendekati sifat feminim. Iringan-klana alus- biasanya gendhing -cangklek laras slendro palet 9.

Klana Alus merupakan jenis tari klana yang ditarikan dengan tipe tari alus gaya Yogyakarta yang menggambarkan seorang kesatria sabrangan (seberang) yang sedang jatuh cinta.

Seni tari menempati posisi sangat terhormat di Keraton Yogyakarta. Sejarah seni tari gaya Yogyakarta membentang sepanjang sejarah kesultanan ini sendiri. Keberadaannya menyatu dengan dinamika kehidupan di keraton dan menjadi pegangan hidup para pelakunya.

Sejarah Singkat Tari Klasik Gaya Yogyakarta

Tari klasik gaya Yogyakarta telah ada sejak berdirinya Kesultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta tidak hanya membagi wilayah, namun juga membagi khazanah budaya. Salah satunya adalah seni tari. Kesunanan Surakarta menciptakan corak tari gaya baru sedangkan Kesultanan Yogyakarta melanjutkan dan mengembangkan gaya tari yang sudah ada. Oleh karena itulah tari klasik gaya Yogyakarta juga disebut sebagai Joged (tari) Mataram.

Sri Sultan Hamengku Buwono I bukan sekadar mencintai seni tari, namun ia juga merupakan penari yang handal. Semasa ia memerintah, ia menciptakan beragam tarian seperti Beksan LawungBeksan Etheng, dan dramatari Wayang Wong.

(4)

Tari-tari tersebut awalnya tumbuh dan diajarkan di dalam lingkup tembok keraton. Baru pada 17 Agustus 1918, tari klasik gaya Yogyakarta mulai diperkenalkan keluar dari keraton dengan ditandai berdirinya perkumpulan Krida Beksa Wirama. Perkumpulan ini didirikan oleh dua putera Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan mendapat restu dari Sultan sendiri.

Bentuk dan Ragam Perwatakan Tari Klasik Gaya Yogyakarta

Bentuk karakter dalam tari klasik gaya Yogyakarta dapat dibagi menjadi halus (alusan), gagah (gagahan), dan kasar. Bentuk halus dapat dibagi lagi menjadi halus luruh yang memiliki gerakan lembut dan pelan, halus mbranyak yang dinamis, dan tumanduk yang ada diantara luruh dan mbranyak. Bentuk gagah dapat dibagi menjadi gagah lugu yang tampak bersahaja, dan gagah kongas yang penuh kebanggaan. Sedang bentuk kasar dapat dibagi menjadi kasar kesatria dan kasar raksasa.

Ragam perwatakan tari klasik gaya Yogyakarta diambil dari perwatakan karakter-karakter yang ada di wayang kulit. Pola gerak untuk karakter putri hanya satu, yaitu ngenceng encot atau nggruda. Sedang untuk karakter putra, ada empat ragam pokok yang disebut impurkambengkalang kinantang, dan bapang.

Impur berkarakter halus . Kambeng berkarakter putra gagah. Keduanya digunakan untuk menggambarkan watak sederhana, tidak banyak tingkah, dan penuh percaya diri. Kalang kinantang berkarakter halus dan gagah, digunakan untuk menggambarkan watak keras, angkuh, dan dinamis. Bapang berkarakter gagah dan kasar, digunakan untuk menggambarkan watak sombong sekaligus banyak tingkah.

Selain hal-hal di atas, dikenal juga istilah wanda yang menunjukkan ekspresi dan raut muka yang menggambarkan watak dan suasana hati seorang tokoh. Biasanya, tiap tokoh memiliki tiga macam wanda. Misalnya tokoh Kresna yang memiliki wanda mangugendreh, dan gidrahMangu untuk menunjukkan wibawa, gendreh saat menunjukkan kepandaian bicara, dan gidrah saat adegan perang atau terbang.

Pedoman Baku Tari Klasik Gaya Yogyakarta

Terdapat tujuh pedoman atau pathokan baku yang harus ditaati oleh penari klasik gaya Yogyakarta agar dapat membawakan tariannya secara maksimal. Pedoman-pedoman ini pula yang membedakan tari klasik gaya Yogyakarta dengan gaya-gaya tari lainnya. Pedoman tersebut berkenaan dengan pandenganpacak guludeggerak cethikmlumahing pupunyeklenthing-nya jari-jari kaki, dan mendhak.

(5)

Pandengan atau pandangan memiliki peran penting dalam mencerminkan karakter dan suasana jiwa tokoh yang dibawakan. Dalam tari klasik gaya Yogyakarta, dibutuhkan pandengan yang terarah dan tidak banyak berkedip. Pandengan membentuk polatan atau ulat (mimik) sekaligus mewujudkan pasemon atau pancaran jiwa.

Pacak gulu adalah gerak indah pada leher. Gerak ini berpangkal pada gerak menekuk dan mendorong pangkal leher (jiling), gerak ini juga dikenal dengan sebutan pacak gulu tekuk jiling.

Ada empat macam gerak pacak guluPacak gulu bakutolehan biasa dan nglenggotcoklekan yang digunakan dalam tari golekcantrik, dan kera, dan terakhir gedheg yang digunakan untuk gagahan.

Deg adalah sikap badan yang tegak lurus namun pundak dan tulang belakang tetap rileks, tidak tegang ataupun lemas.

Gerak cethik menjadi pedoman bagi gerakan tubuh ke samping maupun ke bawah. Dalam gerakan tersebut, cethik atau pangkal paha menjadi pusat gerakan oyogan (ke kiri atau kanan) dan mendhak (ke bawah). Mlumahing pupu penting agar gerakan tari tampak luwes dan stabil.

Mlumahing pupu berarti membuka posisi paha agar cethik dapat digerakkan dengan baik.

Nyeklenthing-nya jari-jari kaki adalah posisi di mana jari-jari kaki diangkat tegak ke atas dalam keadaan tegang. Posisi ini mampu mempengaruhi seluruh gerakan badan dan membuat kaki dapat menapak menapak lebih kokoh.

Mendhak adalah posisi tubuh yang merendah dengan cara menekuk lutut dan dilakukan dengan posisi paha terbuka. Posisi ini menghasilkan gerakan kaki yang lebih hidup dan ruang gerak yang lebih luas.

(6)

Salah satu jenis Beksan Mataraman

 

Ragam Tari Klasik Gaya Yogyakarta

Tari yang lahir dan berkembang di dalam keraton dapat dibagi dalam beberapa kategori seperti tari tunggal, BeksanSrimpi, dan Bedhaya. Tari tunggal dibawakan hanya oleh seorang penari, seperti tari Klana Raja, tari Klana Alus, dan tari Golek.

Beksan, yang sebenarnya juga berarti “tari”, dapat dibagi menjadi Beksan Petilan yang dilakukan berpasangan dan Beksan Sekawanan yang didukung empat penari atau kelipatannya. Ada berbagai macam beksan, seperti Beksan LawungBeksan AnglingkusumaBeksan Jangerana, dan Beksan Panji Ketawang. Di antara tarian tersebut, Beksan Lawung menempati posisi khusus karena ditempatkan sebagai tari kenegaraan. Bahkan keberadaannya dianggap sebagai wakil dari Sultan saat ada resepsi perkawinan agung di Kepatihan.

Tari Srimpi adalah tarian lemah gemulai yang biasanya ditarikan oleh empat penari, kecuali Srimpi Renggowati yang ditarikan oleh lima orang. Ada berbagai macam tari srimpi seperti Srimpi PandeloriSrimpi JebengSrimpi Muncar, dan Srimpi Pramugari.

(7)

Tari Bedhaya dibawakan oleh sembilan penari, dibandingkan dengan ragam lainnya, tari ini dianggap lebih tua dan sakral. Terdapat beberapa tari Bedhaya seperti Bedhaya SemangBedhaya Bedah MadiunBedhaya Sinom, dan Bedhaya Tirta Hayuningrat.

Di antara tari-tari tersebut, terdapat dua tarian yang dianggap sakral dan hanya boleh ditampilkan pada saat-saat tertentu. Keduanya adalah Srimpi Renggowati dan Bedhaya Semang. Selain itu juga terdapat dua genre dramatari, Wayang Wong dan Golek MenakWayang Wong mengacu pada wayang kulit sedang Golek Menak mengacu pada wayang golek yang terbuat dari kayu.

Falsafah dalam Tari Klasik Gaya Yogyakarta

Tari klasik gaya Yogyakarta atau Joged Mataram tidak sekadar dipahami sebagai seni olah tubuh namun juga dimaknai sebagai falsafah hidup. Jiwa dari Joged Mataram diungkapkan ke dalam empat unsur, sawijigregedsengguh, dan ora mingkuh. Keempat unsur ini tidak hanya diajarkan dalam seni tari, namun juga dihidupkan sebagai karakter rakyat Yogyakarta.

Sawiji berarti fokus, konsentrasi penuh namun tanpa ketegangan. Greged dapat diartikan sebagai semangat yang terkendali, kesungguhan untuk mencapai tujuan. Sengguh berarti rasa percaya diri tanpa kesombongan. Ora mingkuh dapat diartikan sebagai ketangguhan, tetap bertanggung jawab dan tidak berkecil hati saat menghadapi kesukaran-kesukaran.

Tari klasik gaya Yogyakarta memiliki ragam gerak berupa simbol yang diungkapkan melalui stilirisasi karakter yang dibawakan. Tari ini menekankan pada penjiwaan karakter yang dibawakan sehingga muncul istilah jogedan dan anjogedJogedan baru sebatas menggerak-gerakkan badan sekadar mengikuti hafalan. Sementara Anjoged dapat diartikan sebagai menari dengan penuh keyakinan, dengan gerakan-gerakan yang indah dan mantap, bahkan termasuk ketika penari sedang diam tak bergerak.

Selain olah gerak, tari klasik gaya Yogyakarta juga menuntut olah rasa yang disesuaikan dengan falsafah hidup yang dirumuskan Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792). Maka tak mengherankan apabila kemudian latihan tari klasik gaya Yogyakarta juga digunakan sebagai sarana membentuk karakter.

Sultan Hamengku Buwono, Sang Maestro Tari

 

Sejak awal berdirinya Kesultanan Yogyakarta, Sultan yang berkuasa selalu memberi perhatian khusus pada perkembangan seni tari. Tidak sekadar mendukung, mereka juga bertindak langsung sebagai penari dan pencipta tari. Pada Babad Prayut (Giyanti Pungkasan) diketahui bahwa Sultan sendiri yang mengajarkan Putra Mahkota untuk menari Beksan Sekar Medura. Bahkan di dalam

(8)

kesempatan lain, Sultan dan Putra Mahkota menari Beksan Jebeng secara bersama. Menari kemudian menjadi kewajiban bagi Putra DalemSentana DalemWayah Dalem, hingga para Abdi Dalem Prajurit . Bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono I juga memiliki kesatuan prajurit berisi penari-penari cakap, yaitu Bregada Nyutra, yang selain menjadi kesatuan militer juga bertugas menampilkan pertunjukkan tari.

   

Beksan Jebeng dalam Uyon-uyon Selasa Wagen 4 Maret 2019

 

Kawruh Joged Mataraman

Tari klasik gaya Yogyakarta dijiwai oleh Joged Mataraman, suatu falsafah sekaligus ilmu dalam menari. Apabila tari gaya Yogyakarta adalah wujud dari teknik lahiriah, maka Joged Mataram adalah jiwa yang menghidupinya. Landasan sikap dan gerak dari Joged Mataram didasakan pada orientasi sawijigregetsengguh, dan ora mingkuh. Empat prinsip dasar tersebut dikenal sebagai kawruh Joged Mataraman yang selanjutnya menjadi sebuah pendidikan rasa bagi para penari.

Sawiji berarti konsentrasi yang total tanpa menimbulkan ketegangan jiwa. Greget dimaknai sebagai semangat yang menjiwai, sedangkan sengguh adalah sikap percaya diri tanpa mengarah pada kesombongan. Terakhir adalah ora mingkuh yang berarti tidak menyerah dan takut menghadapi kesulitan. Falsafah Joged Mataram apabila diterapkan dalam seni tari akan memberikan keseimbangan lahir dan batin.

(9)

Postur tubuh mencerminkan falsafah Joged Mataram

(10)

 

Pendidikan Karakter

Keberadaan seni tari sebagai bagian dari pendidikan di dalam Keraton Yogyakarta sudah dimulai sejak awal. Saat keraton membangun Sekolah Tamanan pada tahun 1756, segera setelah keraton difungsikan sebagai tempat tinggal dan pusat pemerintahan, seni tari menjadi salah satu pelajaran wajib yang berkaitan dengan kebudayaan.

Sesaat setelah mengakhiri sembilan tahun masa peperangan, tidak mengherankan jika semangat keprajuritan yang kental muncul dalam falsafah Joged Mataram. Sri Sultan Hamengku Buwono I secara sadar memang memasukkan nilai-nilai ksatria, olah keprajuritan, dan semangat kepahlawanan seperti dalam kisah pewayangan. Bahkan beliau mengangkat latihan ketangkasan bermain tombak dalam olah keprajuritan sebagai salah satu tari pusaka Beksan Lawung Ageng yang kadang juga dikenal sebagai Beksan Trunajaya.

Pemaknaan terhadap pendidikan karakter dalam tari klasik gaya Yogyakarta terus berkembang seiring dengan perkembangan tari ini sendiri. BPH Suryobrongto, putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang menjadi seorang empu tari, menyebutkan bahwa menari adalah mendidik diri tentang rasa.

Menari adalah pendidikan jasmani dan estetika. Bahkan menari menjadi upaya membangun rasa kesucian bagi para putri, sekaligus sebagai senjata untuk menolak sifat-sifat yang kasar.

Pendidikan karakter dalam seni tari ini digunakan sebagai media memperhalus budi.

Oleh karenanya, Suryobrongto kemudian menerjemahkan falsafah Joged Mataram sebagai konsep pedoman hidup. Sawiji dimaknai sebagai upaya keras dalam mewujudkan cita-cita yang didukung dengan konsentrasi terarah pada tujuan utama. Greget merupakan perwujudan dari semangat dan dinamika yang terarah melalui saluran yang wajar. Sengguh merupakan rasa percaya diri penuh pada kemampuan pribadi. Ora mingkuh adalah bentuk semangat juang tanpa menyerah meskipun menghadapi rintangan. Bahkan ia menyatakan bahwa pada masa lalu, seseorang dianggap sebagai under educated apabila belum dapat memahami makna Joged Mataram.

Joged Mataram memang dapat dimaknai secara luas, bahkan termasuk dalam hubungan dengan Sang Pencipta. Dalam falsafah ketuhanan, kawruh Joged Mataraman dimaknai bahwa setiap umat hendaknya mengesakan Tuhannya. Di samping itu, penanaman rasa syukur dalam diri merupakan hal terpenting dalam menjalani hidup. Bahkan dalam prinsip dari tari klasik gaya

(11)

Yogyakarta terdapat unsur kesusilaan yang menanamkan rasa dalam menari agar tidak melanggar norma susila. Termasuk pula pendidikan untuk berlaku disiplin dan teguh pendirian.

Pertunjukan Wayang Wong yang disajikan secara lengkap adalah pertunjukan drama tari akbar.

Pada masa puncaknya di bawah pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1239), sebuah pertunjukan Wayang Wong di Keraton Yogyakarta mampu melibatkan 300 sampai 400 penari, dipentaskan selama tiga sampai empat hari berturut-turut dari pukul 06.00 sampai 23.00 tanpa istirahat, menarik sekitar 30.000 penonton tiap harinya, menghabiskan biaya 15.000 gulden untuk produksi, dan 200.000 gulden untuk pembuatan busana. Sebagai perbandingan, gaji tertinggi seorang Abdi Dalem pada masa itu hanyalah 150 gulden sebulan.

Awal Mula Wayang Wong

Di Jawa, Wayang Wong atau Wayang Orang berkembang bersama dengan wayang kulit.

Keduanya saling memengaruhi satu sama lain. Keberadaan drama tari yang mengisahkan cerita wayang telah disebutkan pada prasasti Wimalasmara di Jawa Timur yang berangka tahun 930 Masehi. Prasasti tersebut menyebutkan istilah wayang wwang. Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi), wayang berarti bayangan dan wwang berarti manusia.

Fragmen Wayang Wong Pregiwa, dokumentasi Kassian Cephas, Photography in the Service of The Sultan/KITLV

(12)

Drama tari yang berasal dari Mataram Kuno di Jawa Tengah ini kemudian dilestarikan oleh kerajaan-kerajaan penerusnya seperti Kediri, Singasari, dan Majapahit. Ketika Kerajaan Mataram Islam dibagi menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada tahun 1755, Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792) sebagai pendiri dan raja pertama Kesultanan Yogyakarta menggubah dan mencipta ulang kesenian tersebut. Di Yogyakarta, Wayang Wong ditempatkan pada posisi terhormat. Wayang Wong menjadi pertunjukan ritual kenegaraan dan untuk merayakan upacara-upacara penting seperti ulang tahun penobatan dan pernikahan anak Sultan. 

Pergelaran Wayang Wong pertama di Yogyakarta diperkirakan diselenggarakan tahun 1757 dengan mengangkat lakon Gandawardaya, sebuah carangan (cabang cerita) dari kisah Mahabharata. Pada saat itu, pertunjukan masih menggunakan pola pertunjukan wayang kulit.

Panggung berbentuk sempit tetapi panjang dan pergerakan pemainnya menggunakan pola dua dimensi.

Wayang Wong lakon Jaya Semadi, dokumentasi Kassian Cephas, Photography in the Service of The Sultan/KITLV

Perkembangan Wayang Wong

Sri Sultan Hamengku Buwono V (1823-1855) yang terkenal memiliki perhatian besar pada seni dan budaya memberi andil besar bagi perkembangan Wayang Wong. Bahkan

(13)

terdapat babad yang menceritakan bahwa beliau ditemani oleh Pangeran Mangkubumi, adiknya yang kelak menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono VI, menari bersama dalam sebuah pertunjukan Wayang Wong. Pada masa pemerintahannya, Wayang Wong dipentaskan sedikitnya lima kali.

Pada masa ini pula dilakukan pengembangan penulisan Serat Kandha yang telah dimulai sejak era Sri Sultan Hamengku Buwono I. Serat Kandha adalah teks cerita yang dibacakan oleh pemaos kandha (pembaca cerita) dalam pertunjukan Wayang Wong.

Pada masa ini penari Wayang Wong diklasifikasikan menjadi tiga, ringgit gupermen, ringgit encik, dan ringgit cina. Kata ringgit berarti wayang, atau penari Wayang WongGupermen berarti pemerintahan, mengacu pada kata dari Bahasa Belanda gouverment yang diucapkan dengan lidah Jawa. Encik berarti orang Timur Asing, merujuk ke warga negara asing non- Eropa. Cina merujuk kepada orang-orang berkebangsaan Cina.

Wayang Wong lakon Jaya Semadi, dokumentasi Kassian Cephas, Photography in the Service of The Sultan/KITLV

Klasifikasi ini kemungkinan dibuat untuk membagi Wayang Wong berdasar kualitas dan lokasi  pertunjukan. Ringgit gupermen digelar di Tratag Bangsal Kencana dan digunakan sebagai upacara kenegaraan yang biasa dihadiri oleh kalangan istana serta orang-orang Belanda di pemerintahan. Ringgit encik digelar di Bangsal Trajumas. Sedang ringgit cina yang memiliki kualitas penari paling rendah digelar di Bangsal Kemagangan. Klasifikasi ini sejalan dengan

(14)

hierarki sosial pada masa itu yang menempatkan orang-orang Belanda dan istana di lapisan pertama, orang-orang Arab dan India di lapis kedua, dan orang-orang Cina di lapisan paling bawah.

Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921), pertunjukkan Wayang Wong diperlengkap dengan Serat PocapanSerat Pocapan adalah teks dialog dari masing- masing tokoh yang dipentaskan. Teks ini tidak dibawa saat pentas, namun hanya digunakan saat latihan saja.

Pada tahun 1918, dua putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII, GPH Tejokusumo dan BPH Suryodiningrat, mendirikan perkumpulan Kridha Beksa Wirama. Perkumpulan ini menandai keluarnya ilmu tari dari dalam benteng keraton. Sebagai imbas dari kebijakan ini, banyak masyarakat yang menguasai tari keraton dan persediaan penari untuk pementasan Wayang Wong makin bertambah banyak.

Perkembangan Wayang Wong mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939), bahkan beliau dikenal sebagai pelindung besar Wayang Wong. Pada masa ini, ada sebelas pertunjukan Wayang Wong yang digelar secara besar- besaran. Di antaranya adalah lakon bersambung Mintaraga dan Samba Sebit yang digelar selama empat hari untuk merayakan perkawinan beberapa putri Sultan.

Berbagai pembaruan dilakukan pada masa ini. Tata busana dirancang mengacu pada pakaian yang digunakan karakter di wayang kulit. Pada masa sebelumnya busana penari banyak dipinjam dari pakaian prajurit. Karakterisasi para tokoh juga disempurnakan, termasuk kelengkapan pentas yang dibuat menjadi lebih realis. Selain itu, dilakukan juga penciptaan gerak khusus bagi tokoh- tokoh kera. Bahkan pergelaran yang sebelumnya hanya dilakukan sampai sore pukul 18.00, diperpanjang sampai pukul 23.00 karena telah munculnya penerangan dari listrik.

Selepas pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939), Wayang Wong di Keraton Yogyakarta mengalami kemunduran. Berkecamuknya Perang Dunia II dan masa pendudukan Jepang memperburuk kondisi keraton dan masyarakat di berbagai aspek kehidupan. Sejak saat itu, tidak ada lagi pementasan Wayang Wong secara besar-besaran. Namun begitu, Wayang Wong tetap lestari walau hanya dipentaskan dalam fragmen-fragmen pendek oleh perkumpulan- perkumpulan dan sekolah tari. Bahkan Kridha Beksa Wirama membawa pertunjukkan ini ke luar keraton dan mulai menampilkan penari putri untuk membawakan tokoh-tokoh putri. Sebelumnya, seluruh peran Wayang Wong dibawakan oleh penari pria, baik itu tokoh putra maupun tokoh putri. 

(15)

Pertunjukan Wayang Wong lakon Gandawardaya di Bangsal Pagelaran, November 2019.

Peran Wayang Wong bagi Keraton Yogyakarta

Bagi Keraton Yogyakarta, Wayang Wong bukan sekadar pertunjukan kesenian belaka. Sebagai ritual kenegaraan, Wayang Wong merupakan sarana legitimasi kekuasaan. Mencipta kembali dan mementaskan Wayang Wong tidak lama setelah berdirinya kesultanan yang baru dapat diartikan sebagai salah satu upaya Sri Sultan Hamengku Buwono I menunjukkan keabsahannya sebagai penerus raja-raja Jawa.

Sebagaimana tari gaya Yogyakarta yang lain, belajar dan berlatih Wayang Wong juga merupakan sarana pendidikan jiwa dan tata krama. Tidak heran apabila banyak peran-peran penting dalam pementasan Wayang Wong dimainkan oleh putra-putra Sultan sendiri. Bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII selalu menasehati putra-putranya untuk mengasah kemampuan menari.

Bahkan ketika pemerintah kolonial makin menekan Kesultanan Yogyakarta pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, keraton menggunakan Wayang Wong sebagai strategi kebudayaan dalam menghadapi tekanan tersebut. Karena terhimpit secara militer dan politik administratif, Sultan menggelar banyak pementasan Wayang Wong secara akbar untuk menunjukkan kebesarannya sebagai seorang raja.

(16)

Sebet byar wauta, ingkang rinenggeng kandha, Raden Arya Narasoma dupi wus wignya ngentasi sayumbara ing nagari Mandura, sekala arsa amboyong ingkang garwa Dewi Kunthi Nalibrangta.

Kondur dhumateng nagari Mandaraka. Wondene Sang Dyah sinung aneng sajroning kalpika.

Wauta kocapa, Raden Pandhudewanata ingkang sumedya ngedegi pasanggiri, mring nagari Mandura. Wonten ing margi kapethuk Raden Arya Narasoma. Yen tinon risang kalih, sareng tumindak lir Gonjang-ganjing ingkang triloka.

Terjemahan

Syahdan, adapun yang terangkai dalam narasi cerita, yakni Raden Arya Narasoma setelah berhasil memenangkan sayembara di negara Mandura segera memboyong istrinya Dewi Kunthi Nalibrangta pulang ke negara Mandaraka. Tersebutlah sang putri dimasukkan ke dalam cincin. 

Diceritakan Raden Pandhudewanata yang juga hendak mengikuti sayembara di negara Mandura di jalan bertemu dengan Raden Arya Narasoma. Jika keduanya dilihat dari kejauhan, saat bergerak seakan mengguncangkan ketiga dunia (dunia para dewa, dunia manusia, dan dunia bawah).

Usai menampilkan Bedhaya Tunjung Anom/Bedhaya Sigaluh pada Uyon-Uyon Hadiluhung bulan Agustus, Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali

(17)

mempersembahkan pertunjukan dari kisah kondang berjudul “Sayembara Kunthi”. Tarian ini merupakan Yasan (prakarsa karya) Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Ka 10, Suryaning Mataram, Senopati Ing Ngalogo, Langgenging Bawono Langgeng, Langgenging Tata Panotogomo, yaitu Beksan NarasomaBeksan kakung alus (tari putra halus) ini perdana ditampilkan pada Senin Pon 23 September 2024 dalam Uyon-Uyon Hadiluhung untuk memperingati Wiyosan Dalem (hari kelahiran Sri Sultan).

Kisah Beksan Narasoma

Beksan Narasoma mencuplik sepenggal fragmen dari epos Mahabharata yang menggambarkan perjuangan Narasoma dari Mandaraka (kelak menjadi raja bergelar Prabu Salya) saat melawan Raden Pandhu dari Astina untuk memperebutkan Dewi Kunthi.

Perebutan itu berawal ketika Raja Mandura yaitu Prabu Kunthiboja menggelar sayembara untuk mencari jodoh bagi putrinya, Dewi Kunthi. Raden Narasoma yang sedang berkelana bersama istrinya Dewi Pujawati dan adiknya Dewi Madrim tertarik mengikuti sayembara tersebut untuk membuktikan kekuatannya. Sepekan setelah sayembara itu dilaksanakan, Raden Narasoma ditetapkan sebagai pemenang karena berhasil mengalahkan peserta lain. Ketika Dewi Kunthi akan diboyong oleh Raden Narasoma, tiba-tiba Raden Pandhu, kesatria dari Astina datang dan berniat mengikuti sayembara tersebut. Ingin menunjukkan sifat kesatria, Raden Narasoma mempersilakan Raden Pandhu untuk melawannya. Ternyata Raden Narasoma tidak cukup kuat

(18)

untuk melawan Raden Pandhu meski telah mengerahkan aji (kekuatan) chandrabirawa yang ia dapat dari mertuanya, Prabu Bagaspati. Pada akhirnya Raden Narasoma harus menerima kekalahan dan menyerahkan Dewi Kunthi kepada Raden Pandhu.

Catatan kisah mengenai Beksan Narasoma terdapat dalam koleksi Kagungan Dalem Widyabudaya dalam Serat Kandha lan Pocapan Beksan Pethilan: Pandhu Mengsah Narasoma bernomor seri K.216 T.30.

Konsep dan Penyajian Tari

Wauta wong agung kalih, ingkang arsa mentaraken kawiraganira. Dhasar sami sigit agung anem, tinon lir Sang Ywang Asmara. Kaot kontap lan jetmika, tur sami winongwong ing Ywang Siwah Boja, pra hapsari myang jawata. Aningali risang kalih denira yuda, tansah ngudanaken arum-arum.

Lah ing ngriku wong agung kalih anglir murca kinedhepna, yen sinawang saking mandrawa akarya gitaning kang samya mulat.

Terjemahan

Tersebutlah kedua kesatria tersebut, yang hendak menunjukkan kekuatannya. Memang keduanya sama-sama tampan dan masih muda, seakan tampak seperti Sang Hyang Asmara. Telah unggul dan sempurna dalam segala hal, serta tenang perilakunya. Dan lagi sama-sama dilindungi oleh

(19)

Hyang Siwah Boja, bidadari, serta dewata. Melihat mereka berdua berperang, dewata tiada hentinya menurunkan hujan wewangian. Di situlah kedua kesatria tersebut seakan hilang dalam kejapan mata, jika dilihat dari kejauhan menjadi perhatian bagi semua yang melihat. 

Beksan Narasoma disajikan dalam konsep beksan sekawanan dengan dua penari memerankan tokoh Raden Narasoma dan Raden Pandhu, sementara dua penari lainnya memerankan bayangan dari dua tokoh tersebut. Kedua tokoh utama sama-sama berkarakter luruh (halus), tetapi Raden Narasoma ditampilkan lebih lanyap (keras) dibandingkan Raden Pandhu. Kedua tokoh digambarkan memiliki paras yang rupawan, unggul, dan sempurna dalam segala hal. 

Ragam gerak karakter luruh (halus) dan lanyap (keras), pada tarian ini tetap berdasar pada dasar gerakan khas gaya Mataraman, seperti beberapa diantaranya adalah: sembahan sila, lampah sekar, kipat gajah gantung, kipat asta ngusap pasuryan, impur, tayungan, ongkek, kicat, tawing encot pendhapan, kengser, tawing kengser jemparing, dan pucang kanginan.

Tidak seperti beksan sekawanan pada umumnya, tarian ini tidak dibuka dengan sabetan atau ragam baku ringgit. Para penari langsung mundur lurus ke belakang, saling bertukar tempat, kemudian maju ke posisi semula pada saat sembahan dan kembali ke tempat dengan menggunakan gerakan mundhur gawang (mundur untuk bersiap-siap).

Tidak seperti beksan kakung lain yang biasanya menggunakan enjeran (persiapan/pemanasan) sebelum perang, Beksan Narasoma langsung menampilkan adegan perang yang menjadi inti cerita. Adegan ini memuat perang dan jeda perang. Dhuwung (keris) dan jemparing (panah) digunakan sebagai properti.

(20)

Iringan Gendhing

Gendhing-gendhing pengiring Beksan Narasoma berlaraskan slendro sanga. Komposisinya yaitu: Lagon Wetah, Lagon Ngelik, Ladrang Brangta Kingkin (Majeng Gendhing), Monggang (Ngracik), Kawin Sekar Tawang Puja, Ada-Ada Jugag Laras, Bubaran Tunjung Sari, Gangsaran Nglangu, dan Lagon Jugag.

Iringan Beksan Narasoma memiliki kekhasan. Pertama, majeng gendhing menggunakan ladrang brangta kingkin dengan ladrang I, II, dan III. Biasanya, yang digunakan adalah ladrang irama I dan II. Kedua, bagian irama III yang biasanya menggunakan kendhang batangan, justru menggunakan kendhang kalih. Ketiga, adegan peperangan diiringi gending berbentuk bubaran irama II dan irama I yang disertai garap vokal. Keempat, adegan perang nyata diiringi gendhing lancaran.

(21)

Tata Busana

Busana yang dikenakan penari Beksan Narasoma pada pementasan ini adalah kostum gladhi atau kostum latihan. Kelengkapannya antara lain celana panji polos, nyamping (jarik) bermotif nitik dengan model wiron engkol, lonthong berwarna hijau polos, kamus timang, sondher gendhala giri, udheng. Sementara senjata yang dimainkan adalah keris (dhuwung) dan jemparing.

Beksan Narasoma merupakan adaptasi segar kisah ringgit tiyang (wayang wong) yang populer pada masa lampauKreativitas semacam ini diharapkan akan terus berkembang hingga masa mendatang.

Jelang akhir tahun 2024, Keraton Yogyakarta kembali menggelar Uyon-Uyon Hadiluhung untuk memperingati Wiyosan Dalem (hari kelahiran Sri Sultan). Selain pertunjukan gamelan, Keraton Yogyakarta juga menampilkan pertunjukan Beksan Tarunayuda. Tarian putra gagah ini merupakan Yasan (prakarsa karya) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 dan perdana dipertunjukan pada Senin Pon, 30 Jumadilawal Je 1958/2 Desember 2024.

(22)

Tarunayuda merupakan beksan sekawanan yang menceritakan pertarungan antara tokoh Sencaki/Setyaki dan Singamulangjaya. Perseteruan kedua tokoh ini menjadi bagian tak terpisahkan dari lakon cerita kondang Bedhah Dwarawati saat Narayana pada akhirnya bertakhta di Kerajaan Dwarawati dan bergelar Sri Bathara Kresna atau Prabu Kresna.

(23)

Kisah Beksan Tarunayuda

Sebetbyar wauta, hanenggih ingkang kawiyosaken punika Beksan Tarunayuda. Hamethik saking cariyos Mahabharata, lampahan Bedhah Dwarawati. Katindakaken dening Kawedanan Kridhamardawa, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Wauta, para Abdi Dalem Punakawan, ingkang kakarsakaken caos beksa, dhasar sami agung, anem, gagah pratamaning beksa. Karengga hing busana, ambeg sami prakosing jurit, sareng majeng hing Ngarsa Dalem, yen cinandra lir Lelancuring Ngadilaga.

(Alkisah, yang ditampilkan saat ini adalah Beksan Tarunayuda. Menukil cerita Mahabharata saat negeri Dwarawati kalah. Ditampilkan oleh Kawedanan Kridhamardawa, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

(24)

Lihatlah, para Abdi Dalem Punakawan yang ditunjuk untuk tampil, semuanya masih tampan, muda, gagah, serta lihai menari. Mereka berhiaskan busana indah, semuanya pemberani dalam peperangan. Jika diibaratkan, saat maju ke hadapan sang Raja, mereka tampak seperti lelaki sejati berperang di medan laga).

Beksan Tarunayuda mengisahkan pertarungan antara Raden Sencaki dan Raden Singamulangjaya saat keduanya bertemu di tengah pertempuran besar yang dikenal dengan Bedhah Dwarawati. Alkisah di Kerajaan Dwarawati, saat Prabu Narasingamurti belum selesai membicarakan keadaan negerinya, Raden Narayana dan Raden Sencaki mendadak datang dan meminta Kerajaan Dwarawati. Permintaan itu memancing amarah Raden Singamulangjaya, adik Prabu Narasingamurti. Namun, berkat kesaktian dan bantuan Raden Permadi (Arjuna), Raden Narayana berhasil menaklukan Prabu Narasingamurti. Pada saat bersamaan, Raden Sencaki bertarung melawan Raden Singamulangjaya.

Setelah pertarungan sengit, akhirnya, Raden Sencaki berhasil mengalahkan Raden Singamulangjaya. Sukma Raden Singamulangjaya kemudian menyatu/menitis pada tubuh Raden Sencaki. Pusaka Gada Wesi Kuning milik Raden Singamulangjaya pun pada akhirnya menjadi milik Raden Sencaki. Penyatuan jiwa ini membuat Raden Sencaki juga dikenal dengan nama Raden Singamulangjaya.

(25)

Wauta, Raden Singamulangjaya, bebetenging negeri Dwarawati, arsa majeng suramadilaga.

Kapethuk Raden Harya Setiyaki, satriya Garboruci. Yen cinandra saking mandrawa, katon sinekti daya makantar-kantar.

(Alkisah, Raden Singamulangjaya sebagai benteng pertahanan negeri Dwarawati hendak maju ke medan perang. Ia berhadapan dengan Raden Setiyaki (Sencaki), kesatria dari Garbaruci. Jika diibaratkan dari kejauhan, kesaktian keduanya tampak menyala).

Kisah Sencaki dan Singamulangjaya terdapat dalam salah satu kumpulan manuskrip koleksi Kawedanan Widya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat bernomor K.235 T.49 yang berjudul Serat Kandha Beksan Pethilan: Singamulangjaya Mengsah Sencaki. Teks kandha  ini berisikan petikan naskah wayang wong yang menceritakan adegan perang antara Singamulangjaya dengan Sencaki.

(26)

Konsep dan Penyajian Tari

Sebagaimana khasnya beksan kakung gaya Yogyakarta, Beksan Tarunayuda digarap dengan konsep beksan sekawanan atau ditampilkan empat orang. Dua orang berperan sebagai tokoh Sencaki dan Singamulangjaya, sementara itu dua orang lainnya memerankan bayangan kedua tokoh itu. Ragam gerak dan pola lantai yang digunakan mengacu pada tari klasik gaya Yogyakarta.

Tarian ini terdiri dari majeng gendhing (awal tarian), enjeran (persiapan perang), perang, dan mundhur gendhing (akhir tarian).

Ragam gerak Beksan Tarunayuda bercorak kalang kinantang yang dinamis. Sifat gerakan ini disesuaikan dengan ragam perwatakan karakter tokoh Sencaki dan Singamulangjaya yang sama- sama keras, temperamental, dan angkuh. Namun, Singamulangjaya memiliki postur tubuh yang lebih besar dan watak yang lebih keras. Berbeda dari beksan kakung gagah pada umumnya, Beksan Tarunayuda juga menyuguhkan ragam gerak nggrudha ala tari putra gagah.

Gerakan tersebut tampak jelas pada bagian persiapan perang saat majeng gendhing ketika penari dalam posisi berhadap-hadapan. Dalam Beksan Sekawanan, ragam gerak nggrudha jarang digunakan. Para penari juga membentuk pola berputar, diagonal, dan garis lurus. Tari lain yang menggunakan ragam gerak nggrudha adalah Beksan Sekar Madura.

Beksan Tarunayuda juga menyuguhkan adegan menitis melalui gerakan. Pada bagian ini, Singamulangjaya bergerak dalam posisi berdiri sementara itu Sencaki bergerak dalam

(27)

posisi jengkeng (rendah). Atmosfer wingit yang diciptakan terasa makin kuat karena proses penyatuan dua jiwa ini diiringi oleh Gendhing Ketawang Kemanak. Bagian ini khas karena dalam  beksan pethilan, proses menitis hanya dijelaskan dalam kandha (alur cerita yang dibacakan oleh dalang). Setelah adegan menitis, para penari mengundurkan diri diiringi Gendhing Gati.

Iringan Gendhing

Iringan Beksan Tarunayuda menggunakan Laras Pelog Pathet BarangLagon Wetah digunakan sebagai gendhing pembuka, sementara Ladrang Gati Priya digunakan sebagai iringan untuk majeng gendhing, dilanjutkan dengan Kawin Sekar Pangkur Dhudhukasmaran, Ladrang Buntar Gebengan, Kawin Sekar Durma Kakawin, Ladrang Bala Kuswa, Gendhing Kalaganjur, Gendhing Ayam Sepinang, Gangsaran, Kemanakan, Ladrang Gati Kondur, dan ditutup dengan Lagon Jugag.

Ciri Khas Gendhing

Rangkaian iringan Beksan Tarunayuda menjadi lebih istimewa karena banyak kekhasan di dalamnya. Ladrang Gati Priya yang dimainkan saat majeng gendhing biasanya digunakan untuk mengiringi beksan putri srimpi dan bedhaya. Iringan tersebut menambah keserasian dan estetika pada tarian ini. Selain itu, gendhing-gendhing ciptaan baru juga dimunculkanDua di antaranya adalah Ladrang Buntar Gebengan yang dimainkan dalam adegan persiapan perang dan Ladrang

(28)

Bala Kuswa yang digarap dengan Kendhangan Ladrang Gangsaran dan dimainkan pada bagian  Mentaraken Kawiragan.

Gendhing ciptaan baru lainnya, Ketawang Manitis, mengiringi adegan Raden Singamulangjaya menyatu ke dalam raga Raden Sencaki. Iringan ini menggunakan gendhing kemanak sebagai penguat suasana magis dan sakraldilengkapi paduan suara pria dan wanita. Kekhasan selanjutnya terdapat pada bagian akhir tarian, yakni dalam adegan mundhur gendhing yang menggunakan Ladrang Gati Kondur. Jenis gendhing ini biasanya juga dijumpai dalam beksan putri srimpi dan bedhaya untuk mengiringi bagian awal dan akhir tarian.

Tata Busana

Pada Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini, para penari menggunakan busana gladhen (latihan).

Kelengkapannya antara lain: celana panji polos berwarna merah, nyamping (jarik) dengan corak Seling Gandasuli, lonthong polos berwarna merah, kamus timang, sondher gendala giri, dan udheng/iket. Properti senjata yang digunakan adalah bindi dan gada. Bindhi digunakan oleh tokoh Sencaki, sementara senjata gada digunakan oleh Singamulangjaya.

Beksan Tarunayuda yang ditampilkan perdana untuk memperingati Wiyosan Dalem (hari kelahiran) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 merupakan bukti kontinuitas produktif Keraton Yogyakarta dalam mengembangkan beksan-beksan kakung pada masa kini dengan segala

(29)

bentuk kekhasannya. Tak hanya menambah ragam kekayaan tak benda di dunia seni budaya, beksan kakung dengan segala aspek yang mendasarinya akan terus lestari, menghidupi kebudayaan yang melingkupinya.

Sejarah

Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Ka 10, Suryaning Mataram, Senopati Ing Ngalogo, Langgenging Bawono Langgeng, Langgenging Tata Panotogomo, kembali memprakarsai tari putra (beksan kakung), yaitu Beksan Jiwa Taruna. Tarian ini berbentuk beksan sekawanan, yang berarti dibawakan oleh empat orang penari laki-laki. Dasar ceritanya diambil dari manuskrip koleksi Kridhamardawa yang kini disimpan di Kawedanan Widyabudaya berkode T.59. 

Pada tahun 1984, naskah yang sama pernah diintrepretasi oleh Sumaryono (mahasiswa Institut Seni Indonesia) dalam tari berjudul Wiratamtama dan dipentaskan 2 Agustus 1984. Menurut keterangan Sumaryono, itu adalah pementasan Beksan Wiratamtama yang kedua. Beksan Wiratamtama pertama kali dipertunjukan oleh Bebadan Among Beksa pada 14 Juli 1957 di Ndalem Purwodiningratan (dahulu Ndalem Wirogunan, kini Ndalem Kaneman). Saat itu, BRM Dananjaya (putra Sri Sultan Hamengku Buwono VIII) memerankan tokoh utama Joko Tingkir.

Kedua pementasan tersebut lahir dari proses yang hampir sama, yaitu interpretasi naskah kandha dan pocapan yang tersedia.

(30)

Pada Senin Pon 15 Juli 2024, Beksan Jiwa Taruna perdana dipertunjukan dalam Uyon-Uyon Hadiluhung untuk memperingati Wiyosan Dalem (hari kelahiran Sri Sultan). Beksan Jiwa Taruna d itampilkan sebagai bentuk rekonstruksi dan interpretasi baru berdasarkan naskah beksan berkode T.59. 

Jalan Cerita

Beksan Jiwa Taruna mengisahkan perjalanan Jaka Tingkir untuk mengabdi ke Demak. Menurut literatur dan cerita tutur masyarakat Jawa, Jaka Tingkir merupakan raja pertama Kerajaan Pajang yang dikenal sebagai Sultan Hadiwijaya. Sebelum menjadi raja, ia banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja di Kerajaan Demak. Kisah di Demak inilah yang menjadi dasar cerita Beksan Jiwa Taruna.

Dalam naskah kandha T.59, disebutkan Jaka Tingkir diwisuda menjadi pemimpin prajurit tamtomo .

Kacarita sang Prabu kagungan santana muda ingkang winisuda dados lelurahing prajurit tamtomo, wasta Raden Jaka Tingkir, putranipun Kyaigeng Pengging.

Terjemahan: 

(31)

Diceritakan sang Prabu memiliki saudara muda yang dinobatkan menjadi pemimpin Prajurit Tamtomo, bernama Raden Jaka Tingkir, Putra Kiai Ageng Pengging.

Tokoh utama Beksan Jiwa Taruna adalah Jaka Tingkir dan Dhadhungawuk. Alkisah, Demak menyelenggarakan sayembara pilihan lurah dan datanglah Dhadhungawuk yang berwatak sombong. Dalam sayembara tersebut, ia tidak mau melawan prajurit lain, kecuali Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir menyambut tantangan itu. Keduanya bertarung dan Jaka Tingkir mengalahkan Dhadhungawuk. Alih-alih mendapat penghargaan, Jaka Tingkir justru dipecat dari keprajuritan karena mengalahkan Dhadhungawuk dan melepaskan gelar wirotamtomo. Dari versi lain, Dhadhungawuk tewas di tangan Jaka Tingkir hanya lantaran dadanya ditusuk dengan ikatan daun sirih (Jawa: sadak)

Jaka Tingkir dipecat dan dikeluarkan dari Demak. Walaupun dipecat dan dikeluarkan, Jaka Tingkir tetap ingin mengabdi di Demak. Oleh sebab itu, Jaka Tingkir mendatangi Kebo Kanigoro (Paman Jaka Tingkir). Dari pertemuan tersebut, Jaka Tingkir mendapatkan beberapa sipat kandel (mantra yang memiliki kekuatan). Kebo Kanigoro kemudian menyampaikan agar Jaka Tingkir kembali ke Demak dan diminta kembali maju sebagai Wira Tamtama.

Selanjutnya, Jaka Tingkir berangkat lagi ke Demak ia berusaha sekuat tenaga menghadapi banyak rintangan dalam perjalanannya kembali ke Demak, antara lain siluman Buaya Bajul Gilig yang ia hadapi saat menyeberang Sungai Bengawan Solo. Setelah berhasil mengalahkan siluman

(32)

itu, Jaka Tingkir kembali ke Demak. Dalam perjalanan kembali tersebut, ia bertemu dengan Kerbau Kebondanu yang sedang mengamuk. Tak ada prajurit dan narapraja Demak yang bisa menundukkannya. Jaka Tingkir pun maju dan dan berhasil membunuhnya. Keberhasilan tersebut membuat Jaka Tingkir diangkat kembali menjadi Lurah Prajurit dan mendapat julukan Wiratamtama.

Ragam Gerak

Tokoh-tokoh Beksan Jiwa Taruna berkarakter gagah. Ciri khas tarian ini adalah banyaknya motif capeng yang muncul dalam adegan peperangan antara Jaka Tingkir dan Dhadhungawuk.

Selain itu, watak Dhadhungawuk yang sombong dimunculkan dalam motif gerak bapang yang menunjukkan kesan kongas dan kasar. Adapun adegan perang didominasi dengan pola ruang diagonal.

Tarian ini diawali dengan empat penari memasuki area pementasan, dilanjutkan ragam tayungan majeng, tranjalan onclang loncat, tancep seleh kanan. Selepas itu, penari melakukan sembah dalam posisi duduk sebagai tanda tarian akan dimulai. Selanjutnya, ragam gerak yang dilakukan antara lain; kinanthang, slimpet, jogedan kinanthang, dan sabetan,

Beksan Jiwa Taruna berlanjut dengan adegan perang antara Jaka Tingkir dan Dhadhungawuk.

Perang keduanya diawali dengan ragam capeng; yaitu gerakan bersiap sebelum maju perang.

(33)

Berbagai motif gerak mewarnai adegan perang tersebut antara lain; jogedan kinantang, ngunus racik, sabetan maju, ulap-ulap tranjal, tancep sabetan, sabetan jeblosan, gapruk, jeblosan, dan nyrampang. Selain digambarkan dalam ragam gerak, adegan perang juga dituturkan dalam kandha (narasi atau cerita) sebagai berikut.

Wauta mangkono Dyan Jaka Tingkir ingkang harsa ngayahi jejibahanira, minangka lurahing prajurit, arsa nyobi kasantosanira Dhadungawuk, mangkana Dyan Jaka Tingkir tansah gancar lumampahira.

Terjemahan: 

Demikian Raden Jaka Tingkir yang hendak menjalankan tugasnya sebagai pemimpin prajurit.

(Dia) hendak mencoba kekuatan Dhadhungawuk, senantiasa lancar jalanannya.

Perlawanan Jaka Tingkir terhadap Kebo Ndanu (kerbau) ditampilkan secara dramatik dalam tarian. Pemeran Jaka Tingkir naik ke pundak penari lain kemudian melakukan adegan memukul. 

Tarian diakhiri dengan bergeraknya para penari menuju ke area belakang panggung dan melakukan sembah.

Komposisi Gendhing

(34)

Komposisi gendhing Beksan Jiwa Taruna diawali dengan Lagon Wetah Laras Slendro Pathet Manyura dan dilanjutkan dengan Kawin Sekar Durma Dhendha Rangsang serta pembacaan Kandha. Racikan gendhing selanjutnya adalah Ladrang Liwung Slendro Manyura, Kawin Sekar Asmaradana, Lancaran Mangsah Yuda, Ada-Ada Jugag, Ladrang Gangsaran Taruna Sura, Plajaran Wetah, Kawin Sekar Megatruh Wuluh Gadhing, Carabalen, Lagon Wetah Slendro Pathet Manyura, Ladrang Gangsaran Jiwa Taruna Slendro Manyura dengan Kendhangan Bhineka, Ladrang Liwung Slendro Manyura, dan Lagon Jugag Slendro Manyura.

Busana Tari

Busana yang dikenakan penari pada Beksan Jiwa Taruna pada pementasan ini adalah kostum gladhi atau kostum latihan. Kelengkapannya antara lain celana panji polos, nyamping kambil secukil, lonthong polos, kamus timang motif bludiran, sondher gendhala giri dan udheng.

Beksan Jiwa Taruna hadir sebagai sebuah tari dramatik yang menampilkan perjuangan Jaka Tingkir menjadi pemimpin prajurit. Walaupun menghadapi banyak rintangan, ia tetap bertahan seperti seharusnya kesatria sejati, hingga berhasil memetik kemenangan.

Sumbu Filosofi Yogyakarta, Pengejawantahan Asal dan Tujuan Hidup

Editor: Admin

11-08-2022

Bagikan:

(35)

Pada tahun 1755, Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang juga dikenal sebagai Pangeran Mangkubumi, mulai membangun Kota Yogyakarta. Pengejawantahan konsep ke dalam tata ruang Kota Yogyakarta dihasilkan dari proses menep atau perjalanan hidup Pangeran Mangkubumi. Dilahirkan sebagai putra Raja Mataram, Sunan Amangkurat IV, Pangeran Mangkubumi tumbuh besar di lingkungan Keraton Kartasura. Karena perpindahan lokasi istana, berikutnya Pangeran Mangkubumi mengetahui persis seluk beluk Keraton Surakarta. Keraton Yogyakarta dibangun berdasarkan konsepsi Jawa dengan mengacu pada bentang alam yang ada, seperti gunung, laut, sungai, serta daratan.

Prinsip utama yang dijadikan dasar pembangunan keraton oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah konsepsi Hamemayu Hayuning Bawono. Artinya membuat bawono (alam) menjadi hayu (indah) dan rahayu (selamat dan lestari)Konsep-konsep tersebut diejawantahkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dengan Laut Selatan dan Gunung Merapi sebagai poros. Lokasi pembangunannya juga dipilih dekat dengan sumber mata air Umbul Pacethokan. Kontur tanah wilayah bangunan keraton lebih tinggi, seperti di atas punggung kura-kura, dengan diapit oleh 6 sungai, 3 di timur, dan 3 di barat, sehingga bebas dari banjir. Selain sebagai perindang, aneka vegetasi juga ditanam di seputar keraton sebagai media menambatkan makna kehidupan.

(36)

Berlawanan dengan anggapan umum, sebenarnya Laut Selatan, Keraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi tidak persis berada dalam satu garis lurus. Oleh karena itu, poros bentang alam ketiganya disebut sebagai sumbu imajiner. Sumbu nyata yang membentang utara selatan dalam satu garis lurus adalah jalan yang menghubungkan Tugu Golong Gilig, keraton, dan Panggung Krapyak. Di dalamnya menggambarkan perjalanan siklus hidup manusia berdasarkan konsepsi Sangkan Paraning Dumadi.

Perjalanan dari Panggung Krapyak menuju keraton mewakili konsepsi sangkan (asal) dan proses pendewasaan manusia. Sementara perjalanan dari Tugu Golong Gilig menuju ke keraton mewakili filosofi paran (tujuan)Yaitu perjalanan manusia menuju Penciptanya.

Panggung Krapyak terletak kurang lebih 2 km dari Keraton Yogyakarta. Berbentuk segi empat dengan tinggi kira-kira 10 meter, lebar 13 meter, dan panjang 13 meter. Panggung Krapyak terdiri dari dua lantai yang dahulu dihubungkan dengan tangga kayu. Lantai atas berupa ruang terbuka berpagar. Bangunan ini dahulu digunakan oleh Sultan untuk menyaksikan prajurit atau kerabatnya dalam berburu (ngrapyak) rusa.

Secara simbolis, Panggung Krapyak memiliki makna awal kelahiran atau rahimIni ditegaskan dengan keberadaan kampung di sebelah barat laut bernama Mijen, yang berasal dari kata “wiji” (benih). Pohon asem atau asam (Tamarindus indica) dan

(37)

pohon tanjung (Mimusops elengi) yang ditanam sepanjang jalan dari Panggung Krapyak menuju keraton juga memiliki arti tersendiri. Sinom, daun asam, melambangkan anom (muda). Bersama dengan pohon tanjung melambangkan anak muda yang selalu disanjung-sanjung oleh lingkungannya.

Lebih ke utara lagi terdapat Alun-Alun Selatan yang sekitarnya ditanami pohon pakel dan kweni. Pohon-pohon ini melambangkan pemuda yang sudah akil balig dan sudah wani (berani) meminang gadis pujaannya.

Lebih ke utara, terdapat Siti Hinggil Kidul (kini dikenal sebagai Sasana Hinggil Dwi Abad). Di area Siti Hinggil Kidul juga terdapat pohon pelem cempora dan pohon soka. Pelem cempora yang berbunga putih melambangkan benih laki-laki dan soka yang berbunga merah melambangkan benih perempuan. Di kiri dan kanan Siti Hinggil Kidul terdapat jalan yang bernama Pamengkang, yang berarti posisi kaki yang berjauhan satu sama lain. Melambangkan gerbang menuju rahim. Lebih ke utara, terdapat kompleks Kamandhungan yang berasal dari kata kandungan. Simbol sukma atau janin yang menunggu dilahirkan.

Di sebelah utara Kamandhungan terdapat pelataran Kemagangan, yang melambangkan bahwa anak perlu magang untuk menjadi manusia dewasa. Maka dari itu, di kiri kanan Kemagangan terdapat kampung Sekullanggen dan Gebulen,

(38)

tempat tinggal Abdi Dalem yang bertugas sebagai juru masak keraton. Penempatan kampung itu memberi arti bahwa anak yang sedang tumbuh memerlukan kecukupan makanan. Seputar area tersebut ditanami pohon jambu dersana (Syzgium malaccense/Eugenia malaccensis) yang bermakna keteladanan (sinudarsana).

Filosofi sangkan berhenti di sini, ketika anak sudah tumbuh menjadi manusia dewasa. Sedangkan filosofi paran dimulai dari Tugu Golong Gilig ke selatan menuju keraton. Tugu Golong Gilig semula memiliki ketinggian 25 meter. Puncak tugu berbentuk bola sehingga disebut “golong”, sedangkan badan tugu berbentuk kerucut terpancung yang berbentuk bulat panjang (gilig). Karena tugu tersebut berwarna putih maka dalam bahasa Belanda disebut De Witte Paal. Karenanya tugu ini juga sering disebut sebagai Tugu Pal Putih.

Secara filosofis, Tugu Golong Gilig melambangkan golonging cipta, rasa, lan karsa untuk menghadap Sang Khalik (bersatunya seluruh kehendak untuk menghadap Sang Pencipta). Warna putih dipilih untuk melambangkan kesucian hati yang harus menjadi dasar bagi upaya itu. Sebagaimana sumbu Panggung Krapyak menuju keraton, penamaan tempat dan pemilihan vegetasi pada sumbu yang menghubungkan Tugu Golog Gilig dan keraton pun memiliki filosofinya sendiri. 

Tugu Golong Gilig diapit oleh dua desa, yaitu Pingit (menyimpan) di Barat dan Gondolayu (bau mayat) di timur. Penamaan ini memiliki arti bahwa ketika manusia hendak memulai perjalanan menuju Sang Pencipta, maka yang pertama perlu dilakukan adalah meninggalkan hal-hal yang berbau busuk.

Dari Tugu Golong Gilig ke selatan, terbentang jalan yang dinamai Jalan Margatama y ang berarti jalan menuju keutamaan. Selanjutnya adalah Jalan Maliabara (Jalan Malioboro) yang berarti penggunaan “obor” penerang, yaitu ajaran para wali. Ke selatan lagi terdapat Jalan Margamulya yang berarti jalan menuju kemuliaan. Untuk menuju ke sana, manusia harus bisa mengusir (ngurak) nafsu-nafsu yang buruk.

Karena itu jalan berikutnya dinamai Jalan Pangurakan.

Sepanjang tepian Jalan Margatama hingga Jalan Margamulya ditanami pohon asam ( asem) dan pohon gayam. Pohon asam melambangkan sengsem (ketertarikan) dan gayam melambangkan ayom (ketenangan). Maknanya, orang yang melewati jalanan sarat pesan kemuliaan tersebut akan merasa senang atau tertaik dan tenang atau nyaman. 

(39)

Jalan yang membentang dari tugu ke arah selatan akan berhenti di Alun-Alun Utara.

Alun-alun diambil dari kata alun (ombak), menggambarkan berbagai gelombang yang dihadapi manusia sebelum kembali kepada Penciptanya. Gambaran ombak ini diwujudkan dalam bentuk pasir yang mengelilingi area Alun-Alun Utara.

Lebih ke selatan lagi, terdapat area Siti Hingil Lor. Di area tersebut terdapat pohon gayam, kepel (Stelechocarpus burahol), dan kemuning (Murraya paniculata). Pohon kepel dimaknai sebagai tangan yang mengepal, melambangkan tekad dan kemauan untuk bekerja sebagai manusia dewasa. Pohon kemuning dimaknai sebagai ning yang berarti keheningan sebagai lambang kesucian dan pikiran yang jernih.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan kembali menuju area Kamandhungan Lor atau yang lebih dikenal dengan sebutan pelataran Keben. Disebut demikian karena di area ini terdapat pohon keben (Barringtonia asiatica) yang bermakna tangkeben atau menutupBahwa dalam usia senja, perjalanan manusia harus bisa menutup segala tingkah laku yang kurang elok. Selanjutnya, area berikutnya adalah pelataran Srimanganti. Di area tersebut terdapat Bangsal TrajumasTraju berarti timbangan, dan mas berarti logam mulia. Bangsal ini melambangkan bahwa manusia akan ditimbang amal baik dan buruknya di alam penantian (manganti) menuju keabadian.  

Alam abadi di Keraton Yogyakarta diwakili dengan pelita Kiai dan Nyai Wiji yang disimpan di Gedhong Prabayaksa, kompleks Kedhaton. Kedua pelita itu dijaga hingga tidak pernah padam sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai sekarang. Apinya diambil dari sumber api abadi Mrapen.

Di halaman Kedhaton, ditanam pohon sawo kecik (Manilkara kauki), jambu klampok arum (Syzygium jambos), dan kantil (Magnolia champaca). Sawo kecik menyimbolkan perbuatan sarwo becik (serba baik). Pohon jambu klampok arum membawa pesan agar manusia bersikap “harum”, baik dalam ucapan dan tindakan.

Pohon kantil memiliki makna kemantil-mantil atau selalu teringat. Artinya supaya manusia selalu ingat untuk berbuat baik.

Konsepsi paran berakhir di sini. Namun poros antar tugu, keraton, dan Panggung Krapyak tidak hanya memiliki makna tunggal. Khusus bagi Sultan, poros ini memiliki makna berbedaArahnya bukan dari tugu ke keraton, tetapi dari keraton ke tugu.

Sebaliknya, dari keraton menuju Panggung Krapyak.

(40)

Ketika Sultan duduk siniwaka di Bangsal Manguntur Tangkil yang berada di Siti Hinggil Lor, beliau akan bermeditasi dengan arah pandang ke Tugu Golong Gilig.

Karena itu Tugu Golong Gilig juga berarti Manunggaling Kawula Gusti. Fasad Tugu yang mengarah ke atas juga merupakan pengejawantahan filosofi tersebut, yaitu meleburnya kawula atau rakyat dan gusti atau sultan. Sekaligus kawula dalam makna manusia (termasuk sultan) dan Gusti yang berarti Tuhan.

Poros dari keraton hingga Tugu mencerminkan kewajiban Sultan untuk melindungi dan mengayomi rakyat. Sultan juga berkewajiban memfasilitasi masyarakat agar dapat hidup lebih baik dengan menyediakan materi dan pengayoman spiritual.

Penyediaan materi disimbolkan dengan fasilitas ekonomi, yaitu Pasar Beringharjo dan fasilitas pemerintahan, berupa Gedung Kepatihan, sementara pengayoman spiritual dicerminkan oleh Masjid Gedhe.

Hanya saja Tugu Golong Gilig yang dikenal sekarang telah berubah wujudnya. Tugu yang asli rusak akibat gempa pada tahun 1867. Tugu itu dibangun kembali dengan bantuan pemerintah Hindia-Belanda. Namun tugu tersebut bentuknya tidak sama dengan aslinya. Diduga, ini memang kesengajaan dari pemerintah Hindia-Belanda yang tidak suka dengan semangat kesatuan yang disimbolkan oleh tugu tersebut.

(41)

Tidak cukup dengan itu, pemerintah Hindia-Belanda pun membangun rel kereta api yang memotong sumbu filosofi.

Berbeda dengan konsepsi sangkan, bagi Sultan poros keraton menuju Panggung Krapyak merupakan area akhir (pungkuran). Salah satu pintu gerbang bagian selatan yaitu Plengkung Nirbaya atau yang sering disebut Plengkung Gading merupakan ruas jalan menuju tempat peristirahatan terakhir para Sultan di Pajimatan Imogiri.

Oleh karena itu, setiap Raja yang bertakhta maupun keluarga intinya dilarang untuk melewati jalur tersebut.

Sebagai arsitek andal, Sri Sultan Hamengku Buwono I merancang tetenger- tetenger atau penanda yang menegaskan harmonisasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Dari ruas sumbu filosofi dan titik-titik kunci penghubung, Kota Yogyakarta berkembang sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan sosial. Tradisi kebudayaan juga terus lestari dan menjadi identitas masyarakat. Ruang-ruang di dalamnya membangkitkan denyut nadi ekonomi dan mata pencaharian banyak orang.

Kekayaan filosofi tata Kota Yogyakarta ini hendaknya tidak berhenti sebagai simbol- simbol belaka. Namun, dapat digunakan sebagai sumber kesadaran akan makna hidup. Tiap kali melintasi jalan-jalan Kota Yogyakarta yang bertumpu pada poros utara-selatan, sumbu ini seakan mengingatkan bahwa kehidupan itu merupakan perjalanan kembali kepada Sang Pencipta.

Referensi

Dokumen terkait

Tidak ada hubungan faktor – faktor yang mempengaruhi tari klasik gaya Surakarta terhadap keseimbangan pada penari.. Kata Kunci: Tari klasik gaya

Tujuan: Untuk mengetahui hubungan faktor – faktor yang mempengaruhi Tari Klasik Gaya Surakarta terhadap keseimbangan pada penari.. Manfaat: Sebagai informasi bagi para penari

Mengetahui tata rias tari tradisi gaya Yogyakarta dan Surakarta, memahami teknik merias tari tradisi gaya Yogyakarta, teknik merias tari tradisi gaya Surakarta,

organisasi tari klasik gaya Yogyakarta yang ada

Landasan sikap dan gerak sebagai landasan filosofis tari klasik gaya Yogyakarta atau yang sering disebut Joged Mataram ini adalah sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh,

Mengetahui tata rias tari tradisi gaya Yogyakarta dan Surakarta, memahami teknik merias tari tradisi gaya Yogyakarta, teknik merias tari tradisi gaya Surakarta,

Formulir DPA SKPD RINGKASAN DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Tahun Anggaran 2019 PEMERINTAH KOTA MATARAM Urusan Pemerintahan : 3.. 01 DINAS KELAUTAN DAN

DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH DPA SKPD TAHUN ANGGARAN 2018 DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN PEMERINTAH KOTA MATARAM KODE NAMA FORMULIR Ringkasan