• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Efisiensi - Unisba

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Efisiensi - Unisba"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

Konsep efisiensi pasar melihat bagaimana pasar merespons informasi masukan dan bagaimana informasi tersebut dapat mempengaruhi pergerakan harga sekuritas menuju harga keseimbangan baru. Secara umum, efisiensi pasar didefinisikan sebagai rasio harga sekuritas terhadap informasi. Pasar sekuritas dikatakan efisien jika harga sekuritas “sepenuhnya mencerminkan” informasi yang tersedia.

Definisi efisiensi pasar berdasarkan proses dinamis memperhitungkan distribusi informasi yang asimetris dan menjelaskan bagaimana harga akan menyesuaikan akibat informasi asimetris tersebut. Pasar dikatakan semi efisien apabila harga saham sepenuhnya mencerminkan seluruh informasi yang dipublikasikan, termasuk informasi yang terdapat dalam laporan keuangan perusahaan. Pasar dikatakan efisien dalam bentuk kuat ketika harga sekuritas sepenuhnya mencerminkan semua informasi yang tersedia, termasuk informasi pribadi.

Studi peristiwa dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi dan juga untuk menguji efisiensi pemasaran bentuk semi-kuat. Pengujian konten informasi dan pengujian efisiensi pemasaran bentuk semi-kuat adalah dua pengujian yang berbeda. Jika pengujian tersebut menyangkut kecepatan reaksi pasar dalam menyerap informasi yang dipublikasikan, maka pengujian ini merupakan pengujian efisiensi pasar dalam bentuk informasi semi kuat.

Masalahnya, informasi pribadi yang akan diuji adalah informasi yang tidak bisa diamati secara langsung.

Pengujian Efisiensi Pasar

Uji statistik yang sering dilakukan untuk menguji independensi adalah menguji hubungan variabel dengan menggunakan korelasi serial atau regresi linier dan uji t. Untuk pasar lemah yang tidak efisien, pergerakan return atau harga saham dari waktu ke waktu mungkin mempunyai pola tertentu. Jika pola seperti itu benar-benar bisa terjadi, maka investor bisa memanfaatkannya sebagai strategi trading untuk mendapatkan keuntungan berlebih.

Salah satu strategi perdagangan yang menggunakan pola perubahan harga sekuritas ini adalah strategi filter rule. Strategi aturan filter ini merupakan strategi timing, yaitu strategi mengenai kapan investor harus membeli atau menjual suatu sekuritas. Dengan strategi ini, investor akan menjual surat berharga jika harga surat berharga tersebut naik melampaui batas atas yang telah ditentukan dan menjualnya jika harganya turun di bawah batas bawah yang telah ditentukan.

Tes bentuk semi-kuat atau studi peristiwa. Studi peristiwa adalah studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman. Pasar dalam bentuk semi kuat dikatakan efisien ketika investor bereaksi cepat untuk menyerap abnormal return sehingga bergerak menuju harga keseimbangan baru.

Jika investor menyerap abnormal return secara perlahan, maka pasar dikatakan tidak efisien secara informal dalam bentuk semi kuat. Proksi yang digunakan adalah return yang diperoleh dari internal perusahaan dan return yang diperoleh dari portofolio reksadana.

Net Interest Margin (NIM)

Konsep margin bunga bersih mirip dengan selisih bunga bersih, namun selisih bunga bersih adalah perbedaan rata-rata nominal antara suku bunga pinjaman dan suku bunga pinjaman, tanpa mengkompensasi fakta bahwa aset produktif dan aset pinjaman mungkin memiliki aset yang berbeda dan volume yang berbeda. . Dengan demikian, margin bunga bersih bisa lebih tinggi (atau terkadang lebih rendah) dibandingkan selisih bunga bersih.

Non Performing Loan (NPL)

Loan to Deposit Ratio (LDR)

Capital Adequacy Ratio (CAR)

  • Definisi Capital Adequacy Ratio (CAR)
  • Formula Capilal Adequacy Ratio (CAR)
  • Capital Adequacy Ratio Untuk Perbankan Indonesia
  • Komponen Capital Adequacy Ratio CAR
  • Tata-cara Perhitungan Kebutuhan modal minimum

CAR yang ingin dicapai oleh bank umum ditetapkan sekitar 8%, dengan ketentuan mengenai besaran CAR ini harus dipatuhi oleh seluruh bank umum. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kedisiplinan dan profesionalisme setiap bank dalam mengelola seluruh aset yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan bagi bank. Modal digunakan untuk menilai seberapa besar kemampuan bank dalam menanggung risiko yang mungkin timbul.

Sebaliknya bank yang solvabilitasnya rendah akan menurunkan kemampuan bank dalam meningkatkan profitabilitasnya, bahkan dapat menurunkan kepercayaan masyarakat sehingga berdampak negatif terhadap kelangsungan usahanya. CAR (Capital Adequacy Ratio) merupakan rasio kecukupan modal yang berfungsi untuk memenuhi risiko kerugian yang mungkin dihadapi bank. Rasio kecukupan modal menurut Lukman Dendawijaya adalah “Rasio yang menunjukkan sejauh mana seluruh aset bank yang mengandung risiko (kredit, investasi, surat berharga, piutang pada bank lain) dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana dari sumber. di dalam dan di luar bank, seperti dana dari masyarakat, pinjaman dan lain-lain.

CAR merupakan indikator kemampuan bank dalam menutup penurunan aset akibat kerugian bank yang disebabkan oleh aset berisiko. Bank for International Settlements (B.I.S) menetapkan syarat dan perhitungan Capital Adequacy Ratio yang harus diikuti oleh bank-bank di seluruh dunia sebagai level dalam memainkan persaingan yang sehat di pasar keuangan global. Jika terdapat goodwill dalam pembukuan bank, maka jumlah modal inti harus dikurangi dengan nilai goodwill tersebut.

Modal pelengkap: Modal pelengkap terdiri dari cadangan yang dibentuk bukan dari laba setelah pajak, serta pinjaman yang sifatnya setara dengan modal. Tambahan modal (Tier 3) merupakan investasi subordinasi jangka pendek yang memenuhi kriteria Bank Indonesia sebagai berikut. Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan telah dibayar lunas - Memiliki kontrak jangka waktu minimal 2 tahun.

Jika pasar efisien dalam bentuk lemahnya, investor tidak dapat menggunakan informasi masa lalu untuk memperoleh keuntungan abnormal. Jika pasar efisien dalam bentuk setengah kuat, maka tidak ada investor atau kelompok investor yang dapat menggunakan informasi yang dipublikasikan untuk memperoleh keuntungan abnormal. Capital Adequacy Ratio (CAR) atau dikenal juga dengan Capital Adequacy Ratio merupakan perbandingan antara modal bersih yang dimiliki suatu bank dengan total asetnya.

Oleh karena itu, modal sebagai penyangga modal harus dilengkapi dengan berbagai cadangan, sehingga modal bank pada umumnya terdiri dari modal inti dan modal tambahan. Yang dimaksud dengan harta dalam perhitungan ini meliputi harta yang tercantum dalam neraca dan harta yang bersifat administratif yang tercermin dalam kewajiban kontinjensi dan/atau komitmen yang diberikan kepada pihak ketiga.

Return on Equity (ROE)

Net Profit Margin (NPM)

Net profit margin (NPM) merupakan rasio yang digunakan untuk menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih. Rasio ini sangat penting bagi manajer operasi karena mencerminkan strategi harga jual yang diterapkan perusahaan dan kemampuannya dalam mengendalikan biaya operasional. Menurut Weston dan Copeland (1998), semakin besar net profit margin berarti semakin efisien perusahaan dalam mengeluarkan biaya-biaya yang berkaitan dengan aktivitas operasinya.

Semakin besar NPM maka kinerja perusahaan akan semakin produktif sehingga meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Semakin besar rasio ini maka semakin baik kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba yang tinggi. Rasio laba bersih terhadap pendapatan bersih menunjukkan kemampuan manajemen dalam menjalankan bisnis dengan cukup sukses dengan memberikan sejumlah margin sebagai kompensasi yang adil kepada pemilik yang telah menyediakan modal untuk suatu risiko.

Gross profit margin (GPM)

Operating Profit Margin (OPM)

Margin laba operasi mengukur persentase keuntungan yang diperoleh perusahaan dari setiap penjualan sebelum dikurangi biaya bunga dan pajak.

Return On Asset ( ROA )

Menurut Lestari dan Sugiharto, ROA merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur laba bersih yang diperoleh dari penggunaan aset. Dengan kata lain, semakin tinggi rasio ini maka semakin baik produktivitas aset dalam menghasilkan laba bersih. Meningkatnya daya tarik perusahaan menjadikan perusahaan tersebut semakin menarik bagi investor, karena tingkat pengembalian atau dividen akan semakin tinggi.

Hal ini juga akan berdampak pada harga saham perusahaan di pasar modal yang akan semakin meningkat sehingga ROA akan mempengaruhi harga saham perusahaan. ROA dapat membantu perusahaan yang telah menerapkan praktik akuntansi yang baik untuk dapat mengukur efisiensi penggunaan modal secara keseluruhan, yang peka terhadap segala sesuatu yang mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan, sehingga dapat diketahui posisi perusahaan dalam industri.

Pengaruh Efisiensi (BOPO) dan Capital dan Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return On Asset (ROA)

Pengaruh Efisiensi (BOPO) terhadap Return On Asset (ROA)

Output adalah hasil dari suatu organisasi, dan input adalah sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Pada perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, efisiensi operasional dilakukan untuk mengetahui apakah kegiatan bank yang berkaitan dengan usaha utama bank tersebut telah dilaksanakan dengan benar sesuai dengan harapan manajemen dan pemegang saham. Efisiensi operasional juga mempengaruhi kinerja bank, yaitu menunjukkan apakah bank telah menggunakan seluruh faktor produksinya secara tepat (Mawardi, 2005).

Menurut Bank Indonesia, efisiensi operasional diukur dengan membandingkan total biaya operasional dengan total pendapatan operasional atau yang sering disebut (BOPO). Bank Indonesia menetapkan angka rasio (BOPO) yang terbaik adalah di bawah 90%, karena jika melebihi 90% hingga mendekati 100% maka bank tersebut dapat dikategorikan tidak efisien dalam menjalankan operasionalnya. Dalam penelitian ini variabel (BOPO) diambil sebagai salah satu variabel atau faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan bank, karena bagaimanapun juga jika kita berbicara tentang kinerja suatu perusahaan pasti juga berkaitan dengan efisiensi. operasi perusahaan. .

Rasio yang sering disebut rasio efisiensi ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan oleh bank yang bersangkutan, sehingga kemungkinan bank tersebut bermasalah semakin kecil. Penelitian yang dilakukan Mawardi, (2005), menyimpulkan bahwa (BOPO) berpengaruh negatif terhadap kinerja bank yang ditentukan oleh (ROA).

Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi rasio total biaya operasional terhadap pendapatan operasional, maka akan semakin tinggi pula return on assets. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sarifudin (2005) yang mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan laba bank yang terdaftar di BEJ periode 2000-2002 dan Suyono (2005) yang mempelajari analisis rasio bank yang mempengaruhi (ROA), dimana penelitiannya menunjukkan bahwa (BOPO) mempunyai pengaruh negatif yang signifikan terhadap return on assets (ROA).

Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return On Asset (ROA)

Referensi

Dokumen terkait

Pasar efisien dalam bentuk setengah kuat merupakan bentuk pasar yang lebih komperenhensif karena dalam bentuk ini harga saham selain dipengaruhi oleh data pasar (harga saham dan

Dimana pasar yang efisien tercermin dari cepatnya investor bereaksi terhadap masuknya informasi baru, jika pelaku pasar (investor) menganggap informasi tersebut

Investor dapat mengetahui kemampuan perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan secara efisien dan efektif, sehingga akan meningkatkan keuntungan

Dalam bentuk semi-strong, keadaan dimana harga saham tidak hanya mencerminkan harga di masa lampau tetapi juga mencerminkan informasi yang dipublikasikan. Sehingga investor tidak

Dan jika hanya terdapat pelaku pasar yang canggih maka hanya sebagian investor saja akan mendapatkan keuntungan tidak normal (abnormal return) , dikarenakan mereka

Jogiyanto (2008:412) menjelaskan bahwa pasar dikatakan efisien bentuk setengah kuat jika investor bereaksi dengan cepat ( quickly ) untuk menyerap abnormal return untuk

Jika hasil dari pengujian menghasilkan independensi berbagai harga sekuritas maka pasar dikatakan efisien dalam bentuk lemah, implikasinya adalah investor tidak bisa

Setiawan dan Hartono (2002) melakukan pengujian efisiensi pasar bentuk setengah kuat secara keputusan dalam merespon pengumuman dividen meningkat menyimpulkan bahwa pasar modal