Pengelolaan destinasi melebihi daya dukungnya, sehingga muncul hal-hal negatif terhadap destinasi, seperti kerusakan lingkungan, meningkatnya kriminalitas, persaingan harga yang tidak sehat di industri pariwisata, dan degradasi budaya masyarakat lokal. Untuk menghindari terjadinya penurunan atau pengurangan kualitas yang dijelaskan dalam teori Butler di atas, maka tertanggung dan masyarakat Sukaratu harus memahami teori daya dukung untuk menghindari kerusakan akibat eksploitasi yang berlebihan, baik eksploitasi sumber daya alam maupun domain sosial budaya terhadap masyarakat Sukaratu sebagai seorang tuan rumah. Daya dukung mengacu pada kemampuan suatu sistem untuk mendukung suatu kegiatan pada tingkat tertentu (MacLeod dan Cooper, 2005).
Konsep daya dukung menurut MacLeod dan Cooper (2005) dikategorikan menjadi: daya dukung fisik, daya dukung ekologi, daya dukung sosial, dan daya dukung ekonomi. Daya dukung fisik; Berdasarkan batas ruang suatu kawasan memperhatikan seberapa banyak material (satuan) yang dapat ditempatkan pada kawasan tersebut. Daya dukung sosial: pada dasarnya ukuran yang dapat ditoleransi pada suatu tempat yang dikelilingi oleh banyak orang.
Daya Dukung Perekonomian: Dapat digambarkan sebagai sejauh mana suatu kawasan dapat dimodifikasi sebelum kegiatan ekonomi terjadi, sebelum kawasan tersebut terkena dampak buruk. Jadi, dengan konsep daya dukung yang telah dijelaskan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa daya dukung memegang peranan dan kedudukan yang sangat penting dalam mengendalikan arah perencanaan pengembangan fasilitas pariwisata tersebut, sehingga kegiatan pariwisata yang dibangun dapat berjalan sesuai rencana. dengan menganalisis daya dukung yang tersedia pada fasilitas pariwisata untuk memenuhi permintaan/kegiatan pariwisata, baik dari wisatawan (demand) maupun dari sumber daya manusia dan alam (supply).
Komponen Pariwisata
Sarana Pariwisata
Sarana pengelolaan administrasi terdiri dari ruang resepsionis, ruang tata usaha, toilet dan ruang tunggu. Fasilitas ini akan melayani wisatawan untuk melakukan kegiatan rekreasi di pantai yaitu berjalan kaki, berenang, bersepeda, berjemur, berlayar, jogging, berkuda, menyelam, jet ski, olah raga dan berkemah. Fasilitas yang diperlukan adalah menara pengawas, terminal perahu, terminal jet ski, jalur kecil untuk jogging, bersepeda dan berjalan kaki, shelter, kandang kuda dan toilet.
Jasa Pariwisata
Dengan adanya informasi, masyarakat dapat memberikan penilaian terkait dengan pengalaman perjalanan wisata yang ingin dilakukannya, dan penilaian ini akan mempengaruhi keputusannya dalam memilih suatu daerah tujuan wisata (Gunn, 1998 dalam Indriasari. Oleh karena itu, untuk menarik minat masyarakat untuk berwisata ke suatu tempat , informasi tersebut harus memberikan nilai promosi yang menggambarkan daya tarik suatu objek wisata. Untuk memudahkan promosi tersebut dapat digunakan berbagai jenis bahan promosi seperti brosur, booklet, buku panduan, leaflet, leaflet, dan lain-lain (Yoeti.
Materi promosi ini juga biasanya disediakan oleh biro perjalanan untuk menciptakan koordinasi dan sinkronisasi antara satu kegiatan dengan kegiatan lainnya (Indriasari. Pemandu wisata; bentuk sistem pariwisata tertentu mungkin memerlukan jenis fasilitas dan layanan wisata khusus (Indriasari. Terkait dengan wilayah studi itu suatu daya tarik wisata berupa kegiatan eksplorasi cagar alam, maka diperlukan jasa pemandu wisata yang berfungsi sebagai pemandu bagi pengunjung yang melakukan kegiatan eksplorasi tersebut.
Prasarana Lingkungan
Komponen Permintaan 1. Wisatawan
Definisi yang lebih sederhana adalah setiap orang yang, untuk keperluan bisnis, liburan atau tujuan lainnya, melakukan perjalanan dan/atau tinggal di suatu tempat di luar wilayah tempat tinggalnya, baik negara, provinsi, kota atau desa, tidak lebih dari satu tahun. .
Masyarakat Setempat
Destinasi Wisata
Sapta Pesona
Aman
Tertib
Bersih adalah keadaan/kondisi lingkungan yang menunjukkan suasana bebas dari kotoran, sampah, limbah, penyakit, dan pencemaran. Wisatawan akan betah dan nyaman jika berada di tempat yang bersih dan sehat seperti: lingkungan bersih baik di rumah maupun di tempat umum seperti hotel, restoran, angkutan umum, tempat rekreasi, tempat buang air kecil/besar, dan lain-lain. . Menggunakan dan menyajikan peralatan yang bersih seperti sendok, piring, tempat tidur, peralatan olah raga, dan lain-lain.
Pakaian dan penampilan petugas bersih, rapi dan tidak mengeluarkan bau tidak sedap, dll. Kesejukan yang diinginkan sebaiknya tidak hanya di luar ruangan atau bangunan saja, namun juga di dalam ruangan, misalnya ruang kerja/belajar, ruang makan, kamar tidur dan lain sebagainya. Berpartisipasi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup dan hasil penghijauan yang dilaksanakan oleh masyarakat dan pemerintah b.
Hiasi ruang belajar, ruang tamu, kamar tidur, dan ruang lainnya dengan berbagai tanaman hias atau penyejuk. Menggagas berbagai kegiatan dan upaya lain yang dapat menjadikan lingkungan hidup kita sejuk, bersih, segar dan nyaman.
Indah
Ramah Tamah
Kenangan
Pengertian Bencana Alam
- Mitigasi Bencana
- Mitigasi Bencana yang Efektif
- Mitigasi Bencana Berbasis Masyarakat
- Sarana Mitigasi Benca Alam
Ruang kawasan yang ada, konsistensi antara rencana tata ruang dan pemanfaatan ruang menjadi syarat utama tercapainya keselarasan antara kawasan lindung dan kawasan budidaya. Akibatnya kawasan bencana menjadi terbengkalai dan mengakibatkan ketidaksesuaian antara pemanfaatan fungsi tata ruang dengan kawasan rawan bencana dalam koridor pariwisata. Konsistensi antara rencana tata ruang dan pemanfaatan ruang merupakan prasyarat untuk mencapai keselarasan dan keselarasan antara kawasan lindung dan kawasan budidaya.
Keserasian dan keselarasan antara kawasan budidaya dan kawasan lindung terwujud apabila suatu kawasan dikembangkan sesuai dengan prinsip dan kaidah pembangunan daerah. Kegiatan pada tahap prabencana erat kaitannya dengan konsep mitigasi bencana, yaitu upaya untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh suatu bencana. Mitigasi bencana mencakup perencanaan dan pelaksanaan tindakan untuk mengurangi risiko dampak bencana sebelum bencana terjadi, termasuk kesiapsiagaan dan tindakan pengurangan risiko jangka panjang.
Selain itu, upaya mitigasi juga dapat dilakukan dalam bentuk non-struktural, antara lain menghindari daerah bencana dengan membangun jauh dari lokasi bencana yang dapat diidentifikasi melalui perencanaan tata ruang dan wilayah serta dengan memperkuat komunitas dan tata kelola daerah. Mitigasi bencana yang efektif harus mencakup tiga elemen utama, yaitu penilaian bahaya, peringatan, dan persiapan. Tahapan ini menghasilkan peta potensi bencana yang sangat penting untuk merencanakan dua elemen mitigasi lainnya;
Sistem peringatan ini didasarkan pada data bencana yang berfungsi sebagai peringatan dini dan menggunakan berbagai saluran komunikasi untuk menyampaikan pesan kepada pihak berwenang dan masyarakat. Selain itu, terdapat pula bentuk persiapan lain yang menyangkut penataan ruang, yaitu penempatan lokasi fasilitas umum dan fasilitas sosial di luar zona bahaya bencana (mitigasi non-struktural), serta upaya teknis membangun bangunan yang aman terhadap bencana. bencana dan melindungi bangunan dari bencana. bencana (mitigasi struktural). Sementara itu, upaya penguatan pemerintah daerah dalam kegiatan pra/prabencana dapat dilakukan dengan memperkuat satuan/lembaga yang ada dan memberikan pelatihan kepada aparaturnya, serta melakukan koordinasi dengan lembaga antardaerah dan di tingkat nasional, apabila tidak tercapai pengakuan administratif. dalam bencana yang diakui. daerah, sehingga setiap daerah mempunyai rencana penanggulangan bencana yang potensial di daerahnya.
Menurut kamus tata ruang, pengertian saran adalah sarana penunjang yang berfungsi bagi terselenggaranya dan berkembangnya kehidupan perekonomian, pengertian mitigasi adalah meminimalkan akibat negatif dari bencana yang akan terjadi.
Sarana dan Prasarana Umum
Pemerintah daerah mempersiapkan sarana dan prasarana penanggulangan bencana di daerah dalam upaya mencegah, menanggulangi, dan menanggulangi terjadinya bencana di daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sarana dan Prasarana Khusus
Prinsip dan Ciri Dasar Pertimbangan Pengembangan Kegiatan Pariwisata yang Berwawasan Lingkungan (Ekowisata)
Melaksanakan kegiatan dan perencanaan pertumbuhan berkelanjutan di bidang industri pariwisata, terlebih dahulu melakukan penelitian agar pengembangan pariwisata memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah dan tidak melebihi daya dukung lingkungan hidup. Akomodasi berbagai program penelitian dalam rangka kontribusi kegiatan ekowisata terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan daerah setempat. Memberikan program yang berkualitas untuk memberikan edukasi kepada wisatawan, pekerja pariwisata, dan masyarakat lokal agar memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan alam dan budaya lokal serta memiliki apresiasi yang lebih tinggi terhadap alam dan budaya lokal;
Definisi Operasional
- Definisi Judul
- Definisi Lain
Pariwisata: Suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan tujuan bukan untuk mencari nafkah di tempat lain yang dikunjungi, tetapi sekadar untuk menikmati perjalanan yang dinikmati untuk jalan-jalan dan relaksasi atau untuk memenuhi berbagai keinginan. ragam (Yoety. Pariwisata adalah perjalanan yang dilakukan untuk bersantai atau berlibur dan juga persiapan yang dilakukan untuk kegiatan tersebut Bencana adalah suatu peristiwa atau serangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam. serta faktor manusia sehingga menimbulkan korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.
Bencana alam adalah bencana yang disebabkan oleh suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, antara lain gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Bencana tanah longsor adalah bencana yang disebabkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam berupa tanah longsor. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang mencakup penetapan kebijakan pengembangan risiko bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.
Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana. Kesiapsiagaan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian dan langkah-langkah yang tepat dan efektif. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan untuk memberikan peringatan kepada masyarakat sesegera mungkin tentang kemungkinan terjadinya suatu bencana di suatu tempat oleh instansi yang berwenang.
Mitigasi merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, seperti melalui pembangunan fisik dan peningkatan kesadaran serta kapasitas dalam menghadapi ancaman bencana. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan segera pada saat terjadinya bencana untuk mengatasi dampak negatif yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, manajemen evakuasi, penyelamatan dan pemulihan. dari segi prasarana dan sarana. Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologi, biologi, hidrologi, klimatologi, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, mengurangi, mencapai kesiapsiagaan, dan berkurangnya kemampuan. untuk merespons dampak negatif dari risiko tertentu.
Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana, baik dengan mengurangi ancaman bencana maupun kerentanan pihak-pihak yang terancam bencana.