• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Bab Ii Makna Dan Urgensi Agama Bagi Manusia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF Bab Ii Makna Dan Urgensi Agama Bagi Manusia"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

Dalam wacana pemikiran Barat modern, persoalan mengenai definisi kata agama telah memicu perdebatan dan kontroversi yang tiada habisnya, baik dalam bidang filsafat agama, teologi, sosiologi, antropologi, maupun dalam bidang perbandingan agama itu sendiri. Quraish Shihab mengartikan kata agama sebagai suatu istilah yang mudah diucapkan namun sangat sulit untuk didefinisikan secara tepat.3 Dan bahkan Mukti Ali, sebagaimana disebutkan oleh Muhaimin, mengartikan kata agama sebagai “yang paling sulit” untuk ditarik batasan atau definisinya sebagaimana tercermin dalam pernyataan ini: “Mungkin tidak ada kata yang paling sulit dirumuskan maknanya kecuali kata agama.” 4 Karena begitu rumitnya permasalahan dalam mendefinisikan agama, J. Sastrapratedja pernah mengatakan bahwa kesulitan dalam mendefinisikan kata agama lebih disebabkan oleh oleh perbedaan pemahaman terhadap makna atau makna agama-agama, di samping perbedaan cara memahami serta menerima masing-masing agama dalam upaya memahami agama tersebut.9.

Di antara indikator-indikator yang begitu kuat, sekaligus penting untuk dikemukakan ke permukaan, adalah adanya tingkat kesulitan yang relatif tinggi dalam kaitannya dengan pendefinisian kata agama secara tepat, yaitu. ternyata rumusan atau definisi agama sangat banyak dan berbeda-beda. Dari pendekatan etimologis kita akan memahami arti sederhana kata agama, serta perubahan dan variasi maknanya sepanjang sejarah penggunaan kata agama. Selain kata agama, ada istilah lain yang secara umum dianggap setara dengan kata agama, yaitu religi dan din.

Atau dengan kata lain, khususnya dalam literatur ilmu agama di Indonesia, setidaknya ditemukan tiga istilah yang mengacu pada pengertian agama, yaitu: agama, din, dan kata agama itu sendiri. Bertentangan dengan pandangan yang telah dijelaskan di atas, pandangan ini merupakan pandangan yang secara tegas menyamakan arti kata agama dengan agama dan din. Menurut beberapa ahli, kata agama berasal dari bahasa Sansekerta dan terdiri dari dua kata yaitu “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti semrawut, sehingga kata agama dapat diartikan tidak semrawut atau tidak terkoyak, dan / atau agama untuk menertibkan kehidupan manusia.

Masih mengenai kata agama, pendapat lain menyebutkan bahwa kata agama berasal dari kata dasar “gam”, yang mempunyai awalan dan akhiran “a”, sehingga menjadi agama.

اس ّىهلإ عضوذل قئ

Tentu saja fenomena keagamaan yang dimaksud hanya sebatas pada perilaku keagamaan manusia yang bersifat empiris dan dapat diamati. Dengan kata lain, perilaku keagamaan yang dimaksud adalah fenomena empiris, sama sekali tidak berkaitan dengan hal-hal yang melatarbelakangi fenomena tersebut. Para ahli kesulitan sekali merumuskan definisi agama, artinya tentu saja definisi yang akurat dan dapat diterima oleh semua kelompok agama.

Begitu pelbagai dan pelbagai bilangan dan jenis takrifan agama sehinggakan ia menjadi bukti sebenar kewujudan kesukaran itu. Dalam kamus dinyatakan bahawa "agama ialah kepercayaan kepada kekuatan roh nenek moyang, dewa dan Tuhan".25 Berdekatan dengan itu, WJS Poerwadarminto mengatakan: "agama juga ialah segala kepercayaan (kepada Tuhan, tuhan dan sebagainya) sebagai dengan dedikasi dan kewajipan yang berkaitan dengan akidah tersebut”.26. Dalam kesusasteraan bahasa Arab, sebagaimana dikemukakan oleh al-Jurjani,27 yang kemudiannya dikemukakan pula oleh Thahir Abdul Mu’in,28 rumusan atau definisi agama dinyatakan seperti berikut. .

ىومهرايتخاب لوقعلا

إحلاّصلا ىل

حلافلاو لاحلا ىف لأملا ىف

Urgensi Agama Bagi Manusia

Untuk memahami tingkat urgensi agama bagi masyarakat, pertama-tama kita perlu memahami keberadaan masyarakat dan kebutuhannya di satu sisi, kemudian menghubungkannya dengan peran yang dapat dimainkan oleh agama dalam memenuhi kebutuhan tersebut. samping. Para filosof abadi mengatakan bahwa “secara hakiki dan kodrati Tuhan menanam benih atau potensi (fitrah) agama pada setiap manusia”,35 dan oleh karena itu secara kodrati manusia dihargai sebagai homo-religius (makhluk beragama). Dan karena agama merupakan suatu kecenderungan kodrati (fitrah) dalam diri setiap manusia, maka fenomena agama merupakan fenomena yang bersifat universal bagi umat manusia, tanpa adanya batasan ruang dan waktu.

Max Muller, salah satu tokoh psikologi modern, seperti dikutip al-Aqqad, mengatakan bahwa manusia telah beragama sejak awal keberadaannya,36 dan agama itu akan benar-benar ada selama manusia ada.37 Oleh karena itu, dalam sejarah umat manusia, sebagaimana ditegaskan Yusuf Musa, tidak pernah ada satu masyarakat pun yang hidup tanpa agama.38 Dengan kata lain, sebenarnya fenomena agama merupakan fenomena yang lebih universal bagi manusia, oleh karena itu dari masa lalu hingga Masehi. sekarang bahkan belum ditemukan. Jika demikian, maka sebagai makhluk sosial kita manusia memerlukan aturan-aturan dalam hidup bersama agar tercipta kehidupan bersama yang baik. Di antara pengaturan tersebut juga terdapat pengendalian ego yang berlebihan, yang memanifestasikan dirinya dalam bentuk berbagai perilaku dalam hidup.

Selain informasi di atas, juga diberikan penjelasan lain mengenai urgensi atau pentingnya agama bagi umat manusia. Pentingnya agama bagi manusia disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut: (1) Agama merupakan sumber moral; (2) agama merupakan petunjuk kebenaran; (3) Agama merupakan sumber informasi mengenai permasalahan metafisik (gaib); dan (4) Agama memberikan bimbingan spiritual kepada manusia, baik di saat suka maupun duka 41 C. Sejalan dengan agama sebagai fitrah manusia, Nurcholish Madjid pernah menyebutnya sebagai hal yang sangat wajar, 42 sekaligus merupakan kebutuhan esensial bagi setiap manusia.

Menurut teori yang dicadangkan oleh Tylor, kewujudan manusia sememangnya pertama kali dinyatakan sebagai manusia primitif atau manusia purba; asalnya orang zaman dahulu belum dan atau belum mengetahui kewujudan Tuhan (baca, agama), oleh itu mereka dikatakan tidak beragama. Perjalanan atau proses pengenalan mereka kepada agama atau Tuhan boleh digambarkan sebagai pertama kepercayaan mereka kepada Tuhan dalam bentuk kepercayaan kepada dinamisme, kemudian meningkat dalam animisme, kemudian meningkat semula dalam bentuk syirik dan akhirnya sebagai puncak tertinggi adalah kepercayaan kepada bentuk tauhid. Iman dalam bentuk monoteisme (pengiktirafan Tuhan Yang Esa), menurut teori antropologi Tylor, adalah kemuncak tertinggi proses dialektik panjang umat manusia untuk merealisasikan sifat semula jadi atau sifat ketuhanan.

Berlawanan dengan dua teori di atas, kebanyakan ahli - terutamanya yang bergabung secara rasmi dengan agama tertentu - lebih cenderung untuk berpegang kepada teori wahyu, daripada menolak teori antropologi yang dikemukakan oleh Tylor. Menurut pandangan Islam, setiap manusia dilahirkan ke dunia ini bukan dalam keadaan tidak subur dan atau mempunyai potensi ketuhanan. Bagi setiap jiwa manusia sebelum ia turun dan bersama-sama dengan jasad jasmani di dunia fana (empirikal-fizikal) ini, jiwa manusia telah memasuki perjanjian ilahi (primordial) di alam rohani, di mana dalam perjanjian ilahi setiap jiwa manusia telah menyatakan pengiktirafannya terhadap keesaan Tuhan (tauhid) dan pada masa yang sama kesanggupan dan kesanggupannya untuk mentaati ajaran Tuhan di akhirat, seperti perintah dan laranganNya, dan inilah sebabnya menurut Islam setiap manusia dilahirkan ke dunia. dalam keadaan fitrah.

ذ مهر وهظ نمهسفنأ ىلع مهدهشأو مهئير

أ مكبرب تسل

ان دهش ىلب اول اق

Klasifikasi Agama

  • Dinamisme
  • Animisme
  • Politeisme
  • Monoteisme

Sebagaimana agama dinamisme, dalam agama animisme ialah bomoh dan ahli sihir yang boleh mengawal roh. Dalam agama animisme, roh benda dan nenek moyang yang dianggap berkuasa dihormati, sangat dihormati dan disembah, sehingga roh itu membantu manusia dan tidak menjadi penghalang dalam pekerjaan dan kehidupan seharian. Terdapat dewa-dewa yang bertanggungjawab menurunkan hujan ke bumi, seperti Indra dalam agama Veda dan Thor atau Donnar dalam agama Jerman kuno.

Masih banyak dewa lain, namun politeisme telah mengurangi jumlah roh yang disembah dan dihormati dalam agama animisme. Dalam agama ini, hal-hal yang menimbulkan perasaan kagum dan ngeri bukan lagi dikuasai oleh makhluk halus, melainkan oleh para dewa. Atau Agni dalam agama Weda yang pernah dipandang sebagai dewa alam semesta diberi kedudukan lebih tinggi dari Varuna, Indra, Soma dan lain-lain.

Jadi, dibandingkan dengan henoteisme, Tuhan dalam agama monoteistik bukan lagi Tuhan yang bersifat nasional, melainkan Tuhan yang memilikinya. Jika asal usul manusia pada agama-agama terdahulu tidak mendapat perhatian, maka pada agama monoteistik manusia diyakini berasal dari Tuhan dan pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan. Selanjutnya menjadi keyakinan pula dalam agama tauhid bahwa di antara kedua kehidupan tersebut, kehidupan kedua lebih utama dibandingkan kehidupan pertama.

Pemahaman atau keyakinan semacam ini tidak terlihat jelas pada agama-agama politeistik, apalagi pada agama-agama dinamisme dan animisme. Tujuan hidup dalam agama monoteistik tidak lagi sekedar mengejar keamanan hidup secara materiil, namun juga keamanan hidup yang kedua atau spiritual. Dalam agama monoteistik, kekuatan magis atau supranatural dipandang sebagai sesuatu yang mempunyai kekuatan absolut dan bukan lagi sebagai sesuatu yang mengendalikan fenomena alam seperti yang terjadi pada dinamisme dan animisme.

Dalam agama primitif, masyarakat berusaha menyuap dan membujuk kekuatan gaib dengan ibadah dan pengorbanan untuk mengikuti kehendak manusia, sedangkan dalam agama monoteistik, sebaliknya, masyarakat tunduk pada kehendak Tuhan.62. Selanjutnya, dalam agama monoteistik, Tuhan diyakini Maha Suci dan Tuhan ingin manusia tetap suci. Merujuk pada penjelasan di atas, jelaslah bahwa tujuan hidup beragama tauhid adalah untuk mensucikan diri dan mensucikan jiwa dan ruh.

Oleh karena itu, semua agama monoteistik pasti berkaitan erat dengan pendidikan moral, bahkan keberadaan moralitas dalam agama monoteistik sangatlah penting. Tegasnya, tujuan hidup beriman tauhid adalah berserah diri seutuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa agar ruh atau jiwa manusia menjadi suci dan mulia.

Referensi

Dokumen terkait

MEMPENGARUHI PEMBENTUKAN BUDAYA MANUSIA DAN AKAN TERUS BERKEMBANG, BAHKAN CENDERUNG SANGAT PESAT SETELAH MANUSIA MENGENAL LISTRIK , DAN TEKNOLOGI , SEBAGAI BAGIAN MASYARAKAT

1) Makna ada dalam diri manusia. Makna tidak terletak pada kata-kata melainkan pada manusia. Makna yang didapat pendengar dari pesan-pesan akan sangat berbeda dengan

Budaya perusahaan merupakan suatu kekuatan tak terlihat yang mempengaruhi pemikiran, perasaan, pembicaraan maupun tindakan manusia yang bekerja di dalam

Dalam halnya sebagai paradigma keilmuan yang menyatu-padukan antara ilmu umum dan ilmu agama, bukan sekedar menggabungkan wahyu Tuhan dan temuan pikiran manusia (ilmu-ilmu

Nur Ahid dalam bukunya mengemukakan bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu proses penggalian, pembentukan, pendayagunaan dan pengembangan fitrah, dzikir dan

Agama adalah kepercayaan kepada Tuhan yang dinyat akan dengan mengadakan hubungan dengan Dia mel al ui upacara, penyembahan dan permohonan dan membent uk sikap hidup

tari tradisional merupakan wujud dari budaya serta karya manusia yang. didalamnya mengandung banyak nilai, pesan moral, ajaran agama, serta

Meskipun pluralisme mengakui akan adanya kesamaan dalam tujuan setiap agama, bukan berarti pluralisme ingin menciptakan suatu agama baru yang dimana semua agama