• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Pemanfaatan Eco-enzyme Dalam Stabilisasi Ph Air ... - Unibos

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF Pemanfaatan Eco-enzyme Dalam Stabilisasi Ph Air ... - Unibos"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Oleh karena itu diperlukan suatu teknologi semi intensif dalam budidaya ikan nila (O. niloticus) yang dapat diterapkan pada lahan kecil dan lahan minim air dengan pola pengelolaan yang efisien dan efektif. Penumpukan sampah organik berupa sisa pakan dan kotoran (feses) ikan nila (O. niloticus) dapat menimbulkan permasalahan berupa penurunan kualitas lingkungan media budidaya.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Dapat mengembangkan jiwa wirausaha para wirausaha karena potensi ikan Nila (O. niloticus) sangat bagus untuk dijadikan komoditas.

TINJAUAN PUSTAKA

Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

  • Klasifikasi Ikan Nila
  • Morfologi Ikan Nila
  • Habitat Ikan Nila
  • Pertumbuhan Ikan Nila
  • Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Nila

Ikan nila (O. niloticus) mempunyai ciri-ciri yaitu mempunyai bentuk tubuh pipih memanjang, mempunyai sisik yang besar dan kasar, serta mempunyai gurat sisi (lateral line) yang terbagi menjadi 2 yaitu bagian atas dan bawah. Ikan nila (O. niloticus) memiliki garis atau pita (garis) gelap vertikal pada tubuhnya yang memudar seiring bertambahnya usia ikan. Ikan nila (O. niloticus) mempunyai 8 garis vertikal pada tubuhnya, 8 sirip punggung, 6 sirip ekor, warna sirip punggung berubah menjadi kemerahan pada musim kawin.

Ikan nila (O. niloticus) dilengkapi dengan sirip yang sempurna yaitu sirip punggung, sirip perut, sirip dada, sirip dubur dan sirip ekor (Saparinto & Rini, 2013). Ikan nila (O. niloticus) hidup di dataran rendah maupun pegunungan dengan ketinggian berkisar antara 0 – 1.000 meter di atas permukaan laut (Pramleonita et al., 2018). (Mustofa & Fansuri, 2016) menambahkan ikan Nila (O. niloticus) mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. dan ketahanan terhadap perubahan lingkungan, ikan Nila.

Ikan Nila Jantan (O. niloticus) mempunyai laju pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan Ikan Nila betina (O. niloticus). Menurut Arminë (2010), kelangsungan hidup ikan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Gambar 1. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Gambar 1. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Eco-Enzyme

Permasalahan lingkungan dan kesehatan yang timbul akibat sampah organik perlu diatasi dengan mengurangi produksi dan mengolah sampah organik yang dihasilkan menjadi eco-enzim untuk mencegah penumpukan. Produksi enzim ramah lingkungan ini juga mempunyai dampak luas terhadap lingkungan di seluruh dunia, baik dari sudut pandang ekonomi maupun manfaat lingkungan. Seperti diketahui, jika salah satu kandungan dalam ecoenzyme adalah asam asetat (CH3COOH), maka mampu membunuh kuman, virus, dan bakteri.

Pembuatan produk ini hanya membutuhkan air, gula sebagai sumber karbon serta limbah buah dan sayur organik yang belum matang serta tidak busuk, cacingan, atau berjamur. Gula yang digunakan adalah gula merah yang belum mengalami proses pemutihan seperti gula pasir, untuk meminimalkan kemungkinan adanya sisa senyawa kimia yang digunakan dalam proses pemutihan. Penerapan ekoenzim pada sektor pertanian telah banyak dimanfaatkan untuk produktivitas tanaman khususnya pada lahan marginal.

Selain itu, ekoenzim dapat meningkatkan kualitas air, danau dan sungai serta mengurangi kekeruhan air (Wee, 2018).

Kualitas Air

Fluktuasi pH suatu perairan biasanya erat kaitannya dengan aktivitas fitoplankton dan tumbuhan air lainnya dalam penggunaan CO₂ di dalam air pada saat proses fotosintesis. Oksigen terlarut (DO) adalah jumlah oksigen terlarut dalam air hasil fotosintesis dan serapan dari atmosfer/udara. Fungsi oksigen terlarut adalah untuk mengoksidasi zat-zat organik.Menurut Patty (2018), oksigen yang terdapat dalam air digunakan oleh organisme akuatik untuk menguraikan zat-zat organik menjadi zat-zat anorganik dengan bantuan mikroorganisme.

Suhu yang tinggi dapat mempengaruhi kandungan oksigen terlarut dan mempengaruhi nafsu makan ikan sehingga menghambat pertumbuhan ikan. Menurut Asmawi (1983) dalam Garvano et al., (2017) suhu air mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertukaran zat atau metabolisme makhluk hidup di perairan. Selain mempengaruhi pertukaran zat, suhu juga mempengaruhi kadar oksigen terlarut dalam air.

Kehadiran bakteri pembusuk sangat mempengaruhi pasokan oksigen yang terlarut secara alami dalam air (Komarawidjaja, 2005). Amoniak akan sangat berbahaya jika konsentrasi amoniak dalam air sungai melebihi batas ambang batas yaitu <0,5 mg/L menurut Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001.

METODE PENELITIAN

  • Waktu dan Tempat
  • Alat dan Bahan
    • Alat
    • Bahan
  • Prosedur Penelitian
    • Persiapan Wadah
    • Persiapan Media Budidaya
    • Pemeliharaan Benih dan Pemberian Pakan
    • Pengambilan Sampel
    • Pengukuran Kualitas Air
    • Rancangan Percobaan
    • Parameter Uji
    • Data Penunjang
  • Analisis Data

Penyiapan media budidaya dilakukan dengan mencampurkan eco-enzyme pada air media budidaya dengan dosis berdasarkan perlakuan. Hal ini dikarenakan eco-enzyme pada perlakuan B, C dan D mampu menjaga kestabilan atau meningkat setiap minggunya. Hal ini menunjukkan bahwa eco-enzyme mampu meningkatkan kualitas air, sesuai dengan pendapat Dewi et al, (2015) eco-enzyme bersifat ramah lingkungan dan berfungsi untuk menjernihkan air, selain itu eco-enzyme juga meningkatkan kualitas air, danau dan sungai, serta penurunan nilai kekeruhan air (Wee, 2018).

Hal ini menunjukkan bahwa pH media budidaya masih aman bagi kehidupan ikan Nila (O. niloticus) yang dipelihara. Hal ini diduga karena dosis eco-enzyme yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan energi benih ikan nila dan dosis eco-enzyme bekerja efektif mengatasi sampah organik yang menumpuk pada media budidaya sehingga kualitas airnya baik. Penggunaan eco-enzyme dengan dosis berbeda mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila (O. niloticus).

Dosis yang dapat menstabilkan pH pada media budidaya ikan nila (O. niloticus) adalah perlakuan D dengan dosis 10 ml. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk pengembangan budidaya ikan Nila ((O. niloticus) pada lingkungan budidaya tanpa pergantian air, sebaiknya menggunakan dosis 10 ml eco-enzyme untuk meningkatkan kualitas air. sebaiknya dilakukan kembali dengan dosis yang lebih tinggi agar diperoleh hasil selanjutnya yang lebih stabil (maksimal).

Tabel 2. Bahan yang Digunakan dalam Penelitian
Tabel 2. Bahan yang Digunakan dalam Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

Stabilisasi pH Air Media Budidaya

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui rata-rata kondisi pH per minggu pada media budidaya ikan nila (O. niloticus) selama. Dinamika pH media yang diberi ekoenzim cenderung lebih kecil dibandingkan media yang tidak diberi ekoenzim. Perlakuan A (kontrol) selama penelitian mengalami peningkatan nilai pH setiap minggunya dari minggu 1 hingga minggu ke 8 yaitu 8,0 hingga 9,0.

Fluktuasi pH pada perlakuan A (Kontrol) menunjukkan kecenderungan yang tidak stabil, karena pada perlakuan A yang ditandai dengan perbedaan pH berada pada nilai 0,1 – 0,2. Hal ini sesuai dengan nilai ambang batas pH yang ditetapkan untuk kegiatan pengolahan (Kelas III) yaitu 6-9, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 yang menunjukkan bahwa toleransi pH untuk baku mutu kelas III adalah 6-9. Kisaran pH ikan air tawar untuk hidup aman adalah sekitar 6,5-9,0, jika nilai pH melebihi 10 maka langsung menyebabkan kematian pada ikan (Daiyong Chao et al., 2020).

Selanjutnya menurut Boyd (1982), nilai pH yang mematikan bagi ikan adalah kurang dari 4 dan lebih dari 11. Nilai pH kurang dari 6,5 atau lebih dari 9,5 dalam jangka waktu lama akan mempengaruhi pertumbuhan dan reproduksi ikan.

Pertumbuhan Mutlak

Berdasarkan hasil analisis pada histogram di atas terlihat bahwa setiap perlakuan mempunyai pengaruh terhadap pertambahan bobot badan Ikan Nila (O. niloticus). Tingginya nilai rata-rata bobot pada perlakuan D diduga disebabkan oleh adanya eco-enzyme yang merupakan larutan hasil fermentasi sampah organik yang dapat menunjang pertumbuhan ikan. Ecoenzyme pada perlakuan D memiliki dosis yang lebih tinggi, dimana ecoenzyme tersebut dikenal ramah lingkungan dan berfungsi untuk menjernihkan air (Dewi et al., 2015), selain itu ecoenzyme juga dapat meningkatkan kualitas air, danau dan sungai, serta mengurangi nilai kekeruhan air (Wee 2018).

Rendahnya nilai rata-rata berat pada perlakuan B dan C diduga disebabkan oleh pH air yang relatif tinggi, dengan nilai pH B 8,2-8,9 dan C 8,3-8,8. Lebih lanjut menurut Satya dkk (2021), ikan nila (O. niloticus) dapat tumbuh dengan baik pada pH air antara 6,5 ​​hingga 8,5. Hal ini disebabkan oleh sampah organik (sisa pakan dan feses) yang menumpuk di dasar media budidaya sehingga menyebabkan kualitas air buruk sehingga menghambat pertumbuhan ikan Nila (O. niloticus).

Nilai rata-rata pertumbuhan absolut tertinggi terdapat pada perlakuan D yang dosis ekoenzimnya paling tinggi, sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan A, dimana perlakuan A tanpa ekoenzim (Kontrol). Hasil penelitian ini mempunyai pertumbuhan absolut yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian Arnita dkk (2018) yang memperoleh pertumbuhan absolut tertinggi sebesar 3,89 g dengan penggunaan eco-enzyme sebagai perlakuan.

Kelangsungan Hidup

Konsentrasi amonia (NH mg/L terbukti menghambat pertumbuhan dan menyebabkan kerusakan jaringan pada beberapa spesies ikan. Sementara itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh El-Shafai et al. 2004) menunjukkan konsentrasi amonia non-ionisasi sebesar 0,434 mg/L memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan ikan nila muda (O. niloticus), namun tidak menyebabkan kematian pada tingkat tersebut. Nilai kelangsungan hidup menunjukkan bahwa perlakuan D dengan dosis 10 ml jauh lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya.

Menurut Kelabora (2010), asupan nutrisi dan kualitas air merupakan faktor penting yang mempengaruhi kelangsungan hidup suatu organisme. Menurut (Arminah, 2010), faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup ikan adalah faktor biotik yang meliputi pesaing, kepadatan, populasi, umur dan kemampuan ikan beradaptasi dengan lingkungannya.

Parameter Kualitas Air

Nilai kisaran tersebut masih dalam batas layak untuk pertumbuhan dan kehidupan ikan Nila (O. niloticus). Hal ini sejalan dengan pendapat Tatangindatu, dkk (2013) bahwa suhu yang baik untuk mendukung pertumbuhan ikan yang optimal pada budidaya ikan nila adalah 25-32oC. Pertumbuhan dan kelangsungan hidup Ikan Nila (Oreochromis. Sp) Batang merah dan batang hitam dipelihara pada salinitas.

Karakterisasi Morfologi Keturunan Pertama Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Ambil dan Berikan Berdasarkan Metode Truss Morphometric. Pertumbuhan Ikan Nila Larasati (Oreochromis niloticus) pada kolam dengan ransum pakan berbeda dan kepadatan berbeda. Budidaya ikan nila merah (Oreochomis sp.) super intensif menggunakan teknologi Biofloc: Profil kualitas air, kelangsungan hidup dan pertumbuhan.

Laju pertumbuhan dan efisiensi pemberian pakan ikan nila yang dipuasakan sebentar-sebentar (Oreochromis niloticus) yang dibudidayakan di kolam lembaran. Pengaruh kepadatan penebaran yang berbeda terhadap pertumbuhan ikan nila hadiah (Oreochromis niloticus) di kolam plastik [tesis master].

Tabel 3. Kisaran Parameter Kualitas Air Selama Penelitian.
Tabel 3. Kisaran Parameter Kualitas Air Selama Penelitian.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

Pengaruh penambahan probiotik dengan dosis berbeda pada pakan terhadap pertumbuhan dan rasio konversi pakan (Fcr) Ikan Nila (Oreochromis Niloticus). Kelangsungan hidup, pertumbuhan dan efisiensi makan ikan gabus (Channa striata) yang diberi pakan berbahan dasar tepung keong mas (Pomacea sp). Produksi dan karakterisasi ekoenzim yang dihasilkan dari limbah buah dan sayuran serta pengaruhnya terhadap lumpur budidaya.

Pemberian pakan alami yang berbeda untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan Bujuk (Channa lucius Civier). Kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan nila (Oreochromis niloticus) selama pemeliharaan pada kepadatan penebaran berbeda di dataran pasang surut Telang. Sistem Pengendalian Kualitas Air Kolam Ikan Nila Menggunakan Metode Jaringan Syaraf Tiruan Berbasis Arduino Uno Berdasarkan PH dan Kekeruhan.

Kajian parameter fisika dan kimia air pada kawasan budidaya ikan di Danau Tondano Desa Paleloan Kabupaten Minahasa. Yudo Satmoko, 2010, Kondisi Kualitas Air Sungai Ciliwung Di Wilayah DKI Jakarta Dilihat Dari Parameter Organik, Amoniak, Fosfat, Deterjen Dan Bakteri Coli, Vol 6, No.

Ikan Nila (O. niloticus)

Desain Unit Percobaan

Histogram Dinamika pH Air Media Budidaya

Histogram Pertumbuhan Mutlak Ikan Nila (O. niloticus)

Histogram Kelangsungan Hidup Ikan Nila (O. niloticus)

Pertumbhuan Mutlak Ikan Nila (O. niloticus)

Kelangsungan Hidup Ikan Nila (O. niloticus)

Alat dan Bahan yang Digunakan

Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian

Gambar

Tabel                                                                                              Halaman  1
Gambar 1. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Tabel 1. Alat yang Digunakan dalam Penelitian
Tabel 2. Bahan yang Digunakan dalam Penelitian
+6

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji daya hambat bakteri Sampel JumLah Bakteri CFU Tanpa cuci tangan 85 Sabun dengan Eco - Enzyme tanpa mikroba 6 Sabun dengan Eco-enzyme + Aspergillus oryzae 25 gr