• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Pemimpin Non-muslim Dalam Prespektif Al-

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF Pemimpin Non-muslim Dalam Prespektif Al-"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Identifikasi Masalah

Pembatasan dan Perumusan Masalah

Bagaimana Nawawi al-Bantani dan Quraish Shihab menafsirkan perkataan Kafara dan Auliyâ dalam QS.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Tinjauan Pustaka

Respon Kelompok Muslim Terhadap Kepemimpinan Non Muslim (Studi Kasus Pada Masa Desa Lenteng Agung), Jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Seorang Non Muslim Bisa Menjadi Presiden Republik Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, karena NKRI bukanlah negara Islam.

Metodologi Penelitian

  • Jenis Penelitian
  • Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Metode Analisis Data

Sejalan dengan fokus penelitian, maka logis jika penelitian ini tidak terlalu menjelaskan pandangan Al-Quran tentang ruang bagi pemimpin non-Muslim. Meski bukan fokus penelitian penulis, buku ini telah memberikan masukan dan gambaran bagaimana hubungan presiden (pemimpin) non-Muslim dengan tata kelola dan politik negara Islam.

Teknik dan Sistematika Penulisan

  • Teknik Penulisan
  • Sistematika Penulisan

Untuk mencapai hasil yang maksimal maka pendekatan pada bagian ini adalah pendekatan deskriptif – analitis. Untuk mencapai hasil yang maksimal maka pendekatan pada bagian ini adalah pendekatan deskriptif – analitis – komparatif.

TINJAUAN UMUM PEMIMPIN

Macam-macam Istilah Pemimpin

Kata Imam merupakan salah satu bentukan kata dari akar kata yang berarti “mengecek, bermaksud dan membidik”. Kata ini diambil dari akar kata yang terdiri dari huruf wauw, lam dan ya' yang makna dasarnya dekat.

Macam-macam Non-Muslim

Dan tujuan ayat suci tersebut tercapai dengan menyebutkan agama-agama yang diketahui (oleh bangsa arab), sehingga tidak perlu membuat pernyataan-pernyataan yang terasa aneh (ighrab) dengan menyebutkan kelompok-kelompok yang belum diketahui orang sebagai alamat diskusinya. pada saat turunnya Al-Qur'an. , berupa pemeluk agama lain. Kedua, Kafir Mu'ahad, yaitu non-Muslim yang terikat komitmen terhadap umat Islam untuk tidak saling bermusuhan. Kafir Mu'ahad berasal dari Darulḥarbi, namun mereka membuat perjanjian damai dengan pemerintahan Islam. Hak dan kewajiban mereka ditentukan menurut Al-Qur'an, Sunnah dan kesepakatan bersama, oleh karena itu hak dan kewajiban mereka harus dilindungi.

21 Harifuddin Cawidu, Konsep Kufur dalam Al-Qur'an; Kajian Teologi dengan Pendekatan Tafsir Tematik, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), hal. Oleh karena itu, para ahli fiqh dari berbagai mazhab sepakat untuk menganggap mereka sebagai penghuni wilayah Islam.23. Begitu pula dengan para sahabat, mereka aktif di pasar bersama-sama dengan non-Muslim untuk mencari rezeki.

Kriteria Pemimpin

Selain syarat-syarat kepala negara yang telah terangkum di atas, perlu juga diberikan perbandingan syarat-syarat kepala negara yang dirumuskan oleh para ahli kenegaraan Islam, baik yang hidup pada zaman klasik (650-1250 M). ) hidup ), pertengahan M) dan kontemporer (1800 M-sekarang). Menurut Ibnu Abi Rabi' (wafat tahun 841 M), seorang calon kepala negara Islam harus memenuhi enam syarat sebagai berikut: (1) harus merupakan anggota keluarga kerajaan, dan memiliki hubungan keturunan yang dekat dengan raja sebelumnya. , (2) mempunyai cita-cita yang luhur, (3) mempunyai pandangan yang mantap dan kokoh, (4) mempunyai ketahanan internal. Imam Abu Bakar al-Baqilani (w. 1013 M) mengemukakan secara rinci lima syarat pemimpin negara Islam, yaitu: (1) asli keturunan Quraisy, (2) harus berilmu luas, (3) harus berilmu bahwa dalam urusan perang, militer dan pasukan tempur, (4) mampu melindungi wilayah dan membela rakyat serta mampu membalas dendam terhadap orang-orang yang melakukan ketidakadilan dan membela orang-orang yang teraniaya dengan segala kepentingan yang berkaitan dengan urusan negara. orang, (5) harus menjadi orang yang tidak lemah hati, tidak mudah berbelas kasihan untuk menerapkan hukum pidana.38.

Dalam berbagai rinciannya, Al-Ghazali (w. 1111 M) menyampaikan sepuluh tuntutan kepada kepala negara Islam, yaitu: (1) dewasa atau Aqil baligh, (2) otak sehat, (3) merdeka dan tidak menjadi budak, ( 4) laki-laki, (5) keturunan Quraisy, (6) pendengaran dan penglihatan, (7) kekuasaan nyata, (8) petunjuk, (9) ilmu, dan (10) wara' (hidup bersih dengan penguasaan terhadap kemampuan diri sendiri, tidak melakukan hal-hal yang dilarang dan memalukan).40. Berbeda dengan para ahli pemerintahan Islam pada zaman klasik, Ibnu Taymiyah (w. 1328 M) yang hidup pada Abad Pertengahan menyatakan bahwa seorang calon kepala negara Islam hanya mempunyai dua syarat yang harus dipenuhi: patuh, yaitu (1 ) kejujuran atau keandalan. (Amanah), (2) mempunyai kekuatan atau ketrampilan (Quwwah). Berbeda dengan pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun (1406 M) yang juga hidup pada Abad Pertengahan menyebutkan lima syarat kepala negara Islam, yaitu: (1) berilmu, (2) jujur, (3).

Kepemimpinan di Era Modern

Selaras dengan pendapat Hasan Ismail Hudaibi, Abul A'la Al-Maududi (w. 1979 M) turut mengemukakan empat syarat bagi ketua negara Islam iaitu: (1) mesti beragama Islam, (2) mesti beragama Islam. lelaki, (3) sihat dan dewasa, (4) warganegara negara Islam. Erti amanah bagi pemimpin lebih tinggi daripada erti amanah rakyat biasa. Oleh itu, pemimpin tidak seharusnya membelanjakan harta awam untuk kepentingan mereka sendiri. Pemimpin juga dilarang mengkhianati kawannya. Pemimpin mesti berani berterus terang dan membetulkan pendapat umum yang salah dan terpesong, walaupun marah atau geram dengan tindakan pemimpin.

Pemimpin mesti ada kebijaksanaan itu kerana sesebuah negara sering membuat perjanjian dengan negara luar. Pemimpin yang bijak melalui banyak pengalaman adalah sangat penting dan pemimpin yang bijak dapat mengukur kekuatannya. Pemimpin seharusnya mempunyai sikap bertimbang rasa atau setia kawan, iaitu kekuatan hubungan pemimpin dengan rakyat terutama dengan rakan sejawat yang rapat.

Kewajiban dan Hak Pemimpin

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-rasul (Nya) dan ulil amr daripada kamu. Pengurus berhak mendapat pertimbangan yang sewajarnya Seorang pengurus selain berhak dihormati, juga berhak menerima pertimbangan yang sewajarnya seperti gaji, honorarium dan elaun-elaun lain secara layak mengikut peruntukan dan peraturan yang berkuat kuasa. Pemimpin juga mempunyai hak untuk dihormati dengan sewajarnya dalam masyarakat, untuk diiktiraf oleh orang ramai dan mengekalkan kuasa mereka.

Wahai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu beri mahar, dan hamba-hamba yang kamu miliki, termasuk apa yang telah kamu peroleh dalam perang yang telah Allah berikan kepadamu, dan (juga) anak-anak perempuan saudara-saudaramu. putri dari. Sesungguhnya kami telah mengetahui apa yang kami perlukan dari mereka sehubungan dengan istri dan hamba-hambanya.” Pemimpin juga harus membuat aturan bagaimana bumi bisa sejahtera dan subur.50 Karena hal ini diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, Surat Hud [11 ]: 61 .

Pandangan Ulama tentang Pemimpin

Jangan biarkan orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai wali, meninggalkan orang-orang beriman. Ayat ini menjelaskan bahwa umat Islam tidak dilarang berbuat baik dan bersikap adil terhadap non-Muslim yang tidak memeranginya karena perbedaan agama atau lainnya. Senada dengan Al-Jashshash dan Ibnu Arabi, Ibnu Katsir juga menyetujui pelarangan memilih non-Muslim sebagai pemimpin umat Islam, menjalin persahabatan erat dengan orang-orang kafir dan/atau menjadikan mereka sebagai pemimpin, serta mengecualikan orang-orang beriman.

Al-Shabuni berkata bahawa Allah melarang hamba-Nya yang beriman untuk bersahabat atau menjalinkan hubungan kasih sayang dengan orang-orang kafir. Menurut al-Zamakhsyari, melarang orang Islam melantik orang bukan Islam sebagai pemimpin mereka adalah logik memandangkan orang kafir adalah musuh orang Islam, dan pada dasarnya tidak mungkin seseorang itu melantik musuh mereka sebagai pemimpin. Dia mula-mula menyebut Ibn Abbas dan berkata bahawa Allah melarang orang-orang mukmin untuk berbuat baik kepada orang-orang kafir dan menjadikan mereka pemimpin dan penolong.

BIOGRAFI MUFASSIR DAN PROFIL KITAB

Riwayat Hidup Nawawi al-Bantani

Pertama, tafsir ijmali, yaitu metode yang menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an secara global atau umum. Quraish Shihab, Landasan Quran, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1992), hal. Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi Al-Qur'an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat (Jakarta: Lentera Hati, 2006) tentang penulis.

Tafsir Al-Mishbah”, yang sebenarnya memiliki nama panjang “Tafsir Al-Mishbah; Pesan kesan dan keselarasan Al-Qur'an." Dalam Al-Qur'an dan terjemahannya oleh kelompok Departemen Agama, kata Auliy' diterjemahkan sebagai pemimpin. Jihad Fiqih; Karya Jihad Jihad yang monumental terlengkap menurut dengan Al-Qur'an dan Sunnah, Trans.

Karya-karya Nawawi al-Bantani

Paham Theologi dan Mazhab Fiqh

Telaah Metodologis

Tafsir merupakan bentuk ekspresi intelektual seorang mufasir ketika ia menafsirkan ucapan-ucapan Al-Qur’an sesuai dengan kemampuannya, padahal hal tersebut mencerminkan kepentingan dan cakrawala ilmu penafsir. Tafsir ayat al-Ahkam ini sudah sangat tua karena kelahirannya bertepatan dengan lahirnya tafsir Al-Qur'an itu sendiri. Dalam penafsiran ini, Al-Qur’an bukan hanya ilmu agama yang beriman saja, namun mencakup semua ilmu-ilmu sekuler.

Ahmad Izzan mengatakan, buku ini sebenarnya bukan bersifat tarbawi, buku ini lebih mendalami metode-metode Al-Quran. Tafsir jenis ini lebih banyak membahas tema-tema teologis dibandingkan mengedepankan pesan-pesan utama Al-Qur’an. Pengkategorian ayat-ayat yang digunakan Al-Qur’an sendiri, seperti Muhkam dan Mutasyabih, merupakan sumber teoritis perbedaan penafsiran yang dibangun atas dasar keyakinan teologis.

Biografi Quraish Shihab

  • Riwayat Hidup Quraish Shihab
  • Karya-karya Quraish Shihab

Iaitu mereka yang mengambil orang-orang kafir sebagai teman dan penolong dengan meninggalkan orang-orang yang beriman. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi penolong, sedangkan kamu meninggalkan orang-orang yang beriman. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin kamu.

Janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin kamu (QS. Al-Maidah [6]: 51).

Profil kitab al-Misbah

  • Gambaran Umum Tafsir al-Misbah

AYAT-AYAT TENTANG PEMIMPIN NON-MUSLIM DALAM

Ali Imran [3]: 28

Ayat ini melarang orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai penolongnya, karena jika orang mukmin menjadikannya penolong, berarti orang mukmin itu lemah. Yang membuat orang kafir dari Auliyâ‟ yaitu para sahabatnya, para pembantunya dan pendukungnya serta dimana mereka menyimpan rahasianya. Apakah mereka termasuk orang-orang munafik yang sungguh-sungguh mencari kekuatan di pihak mereka dari orang-orang kafir?

Atau, kerana orang-orang yang memihak kepada mereka terdiri daripada orang-orang munafik - (Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mencela Yahudi dan Nasrani dan sesiapa yang serupa dengan mereka sifatnya, janganlah kamu memanggil mereka Auliyâ', iaitu dekat manusia ambil Sesungguhnya. , Allah tidak memberi petunjuk, iaitu menunjukkan dan mengatur, kepada orang yang zalim ke jalan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.

Antara lain: 1) larangan tegas, yang menyatakan bahwa Anda tidak boleh menjadikan orang Yahudi dan Kristen sebagai pemimpin Anda. Hai orang-orang yang beriman, jangan jadikan pemimpin orang-orang yang menjadikan agamamu sebagai bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di kalangan manusia.

An-Nisa [4]: 139

An-Nisa [4]: 144

Al-Maidah [5]: 51

Al-Maidah [5]: 57

Implementasi Ayat Tentang Pemimpin non-Muslim

Referensi

Dokumen terkait

Quraish Shihab dalam menafsirkan suatu ayat-ayat al-Qur’an, maka telah jelas bahwa tafsir al-Mishbah ini dengan menggunakan metode tahlily, karena beliau sudah sangat berusaha

Quraish Shihab dan al-Maraghi menafsirkan bahwa orang-orang yang lalai dalam merenungkan ayat-ayat Allah dan tidak menggunakan mata serta telinga untuk

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat persamaan pemikiran hukum antara Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dan M.Quraish Shihab bahwa menafkahi itu dibebankan

Masalah pokok dalam penelitian ini para mufasir umumnya menafsirkan kata ‘abdan dalam surah al-Kahfi ayat 65 sebagai seorang Nabi, sedangkan Quraish Shihab

Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat 128 surat an-Nisa’ menyatakan : “Dan jika seorang wanita khawatir menduga dengan adanya tanda-tanda akan nusyuz keangkuhan

Persamaan penafsiran Sayyid Quṭb dan Quraish Shihab yang ketiga adalah ketika menafsirkan “dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu...”, kedua

Quraish Shihab dalam menafsirkan kata musibah dapat ditarik kesimpulan yang mana sebab musibah terjadi karena ulah manusia, musibah terjadi atas izin Allah,

Quraish Shihab dan Hamka juga berpendapat sama, menafsirkan dengan rasa kasih sayang, yaitu rasa kasih sayang yang timbul dari dalam hati karena mengikuti jejak para nabi dan rosul