Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku konsumen milenial dalam menghadapi menurunnya tren arisan online berdasarkan prinsip konsumsi ekonomi syariah. Berdasarkan fenomena tersebut, penulis tertarik untuk mengetahui perilaku konsumen milenial mengenai menurunnya tren arisan online. Maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “Perilaku Konsumtif Milenial Terhadap Menurunnya Tren Arisan Online Berdasarkan Prinsip Konsumsi Islami”.
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana penurunan perilaku konsumen milenial terhadap tren arisan online berdasarkan prinsip konsumsi Islami. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana perilaku konsumen generasi milenial terkait dengan menurunnya tren arisan online berdasarkan prinsip konsumsi Islami. Secara teoritis manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perilaku konsumen milenial mengenai tren menurunnya arisan online berdasarkan prinsip konsumsi Islami.
Perbedaan lainnya pada penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perilaku konsumen terhadap produk fashion dari sudut pandang Monzer Kahf, sedangkan penelitian berikutnya menganalisis perilaku konsumsi milenial terhadap menurunnya tren arisan online. Perbedaan lainnya pada penelitian ini adalah menganalisis gaya hidup dan ideologi gender dalam arisan perempuan kelas menengah di kota Surabaya, sedangkan penelitian selanjutnya menganalisis perilaku konsumen kaum milenial terhadap tren menurunnya arisan online berdasarkan prinsip konsumsi Islami. Perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah pada prinsip konsumsi dalam Silam: Tinjauan Perilaku Konsumen Muslim dan Non Muslim, sedangkan penelitian selanjutnya menganalisis perilaku konsumen milenial mengenai tren menurunnya arisan online berdasarkan prinsip konsumsi Islami.
Subjek dalam penelitian ini adalah generasi milenial berusia 19-24 tahun yang mengikuti arisan online.
PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Kegunaan Teori
Penelitian Terdahulu
Metode Penelitian
- Jenis dan Pendekatan Penelitian
- Waktu dan Lokasi Penelitian
- Subjek/Informan penelitian
- Sumber data dan Tekhnik Pengumpulan Data
Sistematika Penulisan
KAJIAN TEORI
- Perilaku Konsumtif
- pengertian Konsumtif
- Aspek Perilaku Konsumtif
- Faktor Pendorong Perilaku Konsumtif
- Indikator Perilaku Konsumtif
- Teori Konsumsi Islam
- Prinsip Konsumsi Islam
- Milenial
- Arisan Online Menurun
Konsumsi yang berlebihan merupakan ciri masyarakat yang tidak mengenal Tuhan, dikutuk dalam Islam dan disebut dengan Israf (pemborosan) dan Tabzir (pemborosan harta yang tidak ada manfaatnya). Setiap mukmin berusaha mencari kesenangan dengan cara menaati perintahnya dan memuaskan dirinya dengan barang dan karunia yang Allah SWT ciptakan untuk manusia demi keselamatan umat, konsumsi berlebihan merupakan ciri masyarakat yang tidak mengenal Tuhan, dikutuk dalam Islam, karena termasuk ishraf (kelebihan), Tazbir (penggunaan harta yang salah), karena ajaran Islam harus seimbang yaitu pola yang terletak antara kikir dan pemborosan, sehingga konsumsinya wajar.21. Menurut Lubis, perilaku konsumen adalah perilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan rasional, melainkan karena keinginan yang tidak rasional lagi.
Perilaku konsumtif sering kali dilakukan secara berlebihan sebagai upaya seseorang untuk memperoleh kesenangan atau kebahagiaan, padahal sebenarnya yang diperoleh hanyalah kepalsuan.23 Perilaku konsumtif adalah kegiatan pembelian barang yang tujuannya bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan. kebutuhan. keinginan dan tindakan ini dilakukan berulang kali – momen yang mengakibatkan penggunaan uang secara berlebihan. Peran Kecerdasan Budaya dan Kepribadian Terhadap Perilaku Konsumtif Daring Generasi Milenial Yang Bermigrasi ke Jakarta”, Jurnal Psikologi Malahayati, Jilid 2 Nomor halaman 62. 23 Arbanur Rasyid, “Perilaku Konsumtif dalam Perspektif Keagamaan Islam”, Jurnal Hukum Ekonomi Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan Edisi 2 (2019), halaman 175.
Boros, pada perilaku konsumen yang menggunakan nilai uang lebih besar dari barang dan jasa yang bukan merupakan kebutuhan pokok. Perilaku konsumen hanya didasari oleh keinginan untuk mengonsumsi barang secara berlebihan yang sebenarnya tidak diperlukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen remaja terhadap pakaian (studi kasus pada remaja dengan status sosial ekonomi rendah.
“Analisis pengaruh toko online terhadap perilaku konsumsi pada mahasiswa FEB (studi kasus mahasiswa angkatan 2016)”. Apabila konsumsi dalam Islam diartikan sebagai penggunaan suatu barang yang baik dan jauh dari sesuatu yang diharamkan, maka tentunya motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas juga harus sesuai dengan prinsip ekonomi Islam.28 Islam memandang aktivitas ekonomi sebagai salah satu cara untuk menciptakan (maslahah). ) menuju falah (kebahagiaan dunia dan akhirat). 29 Rani Oktaviani, “Perilaku Konsumtif Ditinjau dari Prinsip Konsumsi Islami (Studi Kasus Masyarakat Muslim di Desa Hargomulyo Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur”, hal. 22-28.
Berbagi kepada saudara dan tetangga yang membutuhkan juga merupakan prinsip kedermawanan yang dianjurkan Islam. Konsumsi seorang muslim harus dibingkai oleh akhlak yang terkandung dalam Islam, sehingga tidak hanya memenuhi seluruh kebutuhan saja. Kelebihan uang yang dibayarkan atau diterima di atas jumlah arisan adalah sebagai kompensasi waktu, yang tidak berbeda dengan kompensasi waktu sebagai dasar bunga (riba) dalam tradisi keuangan, yang tidak diperbolehkan dalam Islam.31.
Gambaran Umum Objek Penelitian
Gambaran Umum Arisan Squad Bengkulu
Sejarah arisan Squad Bengkulu
Mekanisme Arisan Online Menurun
Praktik Arisan Pada Akun Arisan Squad Bengkulu
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembahasan Hasil Penelitian
Anggota arisan mengikuti arisan secara online sehingga melanggar prinsip keadilan karena tidak mencari penghidupan yang halal. Dan semua pelapor melanggar prinsip keadilan karena mencari kekayaan ilegal dengan mengikuti pertemuan online. Dari kesimpulan di atas, penulis mencoba memberikan saran kepada generasi milenial yang semakin jarang mengikuti arisan online ini.
Temuan awal saat wawancara dengan pengurus Pasukan Arisan Bengklu bernama Karlina Dwi Kartika Sari mengatakan, jumlah masyarakat yang mengikuti arisan online sebagian mengalami penurunan. Karena fenomena tersebut, penulis tertarik untuk mengetahui perilaku konsumen kaum milenial terhadap menurunnya tren arisan online. “Analisis Perilaku Konsumen Milenial Terhadap Menurunnya Tren Arisan Online Pada Ekonomi Syariah Kota Bengkulu”.
Peserta memilih tempat atau nomor, pengelola menjamu anggota yang akan mengikuti arisan online yang dipromosikan. Kemudian pemilik menerima dan memberikan link kepada calon anggota untuk bergabung ke grup WhatsApp yang berisikan berkurangnya jumlah anggota arisan online yang akan menghadiri arisan tersebut. Hasil penelitian mengungkapkan, terdapat 10 anggota arisan online yang duduk, termasuk generasi milenial, termasuk yang berusia 19-29 tahun.
Ade mengikuti arisan online ini melalui media sosialnya dengan alasan mengikuti kegiatan ini karena. Begitu pula dengan Rini, ia mengikuti pertemuan sosial online tersebut karena seru dan penasaran dengan kegiatan sosial online tersebut. Begitu pula dengan Riska, ia mengikuti arisan online karena undangan teman dan uang yang ia terima dari kegiatan tersebut.
Ia mengikuti arisan ini karena banyak temannya yang mengikuti arisan tersebut, sehingga ia tertarik untuk mengikuti arisan online. Ia mengikuti arisan online melalui jejaring sosial karena awalnya ia melihat manfaat yang akan didapat dari kegiatan tersebut. Hasil survei Millenail terhadap aktivitas konsumen dalam menghadiri arisan online mengalami penurunan di Kecamatan Selebar Kelurahan Pagar Dewa Kota Bengkulu yang dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Kelompok panutan menjadi penyebab terjadinya perilaku konsumsi karena anggota yang mengikuti arisan online sudah banyak yang terjatuh setelah kebiasaan temannya yang beberapa kali mengikuti arisan, sehingga para anggota tersebut tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut. Selain itu, generasi milenial ke depan juga sebaiknya melakukan kegiatan arisan secara online dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhannya agar terhindar dari perilaku konsumen.