• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF repository.unisba.ac.id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF repository.unisba.ac.id"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

Pada bagian ini akan disajikan temuan-temuan penelitian yang tergambar dalam Model Pengelolaan Zakat Menggunakan Good Zakat Governance (GZG) Dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya sebagai upaya peningkatan daya saing. Sebagai upaya peningkatan kapasitas kelembagaan organisasi pengelola zakat, salah satu proses pengelolaan zakat adalah penerapan model Good Zakat Governance (GZG). Alasan penggunaan model Good Zakat Governance (GZG) adalah karena model ini mencakup seluruh aspek strategis hingga operasional, serta etika dan norma tata kelola.

Berdasarkan temuan penelitian tim, Good Zakat Governance (GZG) akan lebih efektif dan optimal jika penerapannya didukung oleh 3 pilar yaitu penerapan pengendalian internal, penerapan budaya organisasi dan penerapan total quality management. Oleh karena itu, dalam penerapan tata kelola zakat dengan Good Zakat Governance (GZG), harus disusun suatu buku panduan sebagai gambaran yang menjadi pedoman bagi para pengelola zakat. Tentunya ke depan akan terus dilakukan perbaikan dan disesuaikan dengan kondisi praktik, hingga benar-benar menjadi buku panduan yang menjadi landasan penerapan tata kelola zakat dengan Good Zakat Governance (GZG).

Menerapkan pengelolaan zakat yang baik Setiap dimensi akan dijelaskan sebagai komponen model. 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat dan kepatuhan terhadap PSAK 109 tentang pelaporan keuangan bagi organisasi pengelola zakat, serta tunduk pada sejumlah ketentuan lain terkait OPZ. Berdasarkan instrumennya, OPZ sebagai organisasi publik harus mampu menyediakan segala informasi terkait kegiatan operasional.

Penilaian responden terhadap dimensi kemandirian menunjukkan bahwa penerapan kemandirian di sebagian besar OV sudah cukup baik.

Tabel 1. Dimensi Pertanggungjawaban (Responsibility)
Tabel 1. Dimensi Pertanggungjawaban (Responsibility)

Gambaran Daya Saing Organisasi Pengelola Zakat di Indonesia

Keahlian dan kinerja OPZ ditentukan oleh apa yang dilakukan OPZ dalam mengelola dana zakat. jangka waktu tertentu).

Implementasi Pengendalian Intern

Dengan demikian, penerapan tata kelola yang baik yang bertumpu pada pilar penerapan pengendalian internal, penerapan budaya organisasi dan penerapan total quality management dapat meningkatkan daya saing OPZ yang terlihat dari dana yang dapat dihimpun sebagai salah satu pilarnya. peran perantara OPZ. Kemudian, nilai-nilai integritas dan etika juga tercermin dalam struktur organisasi, dimulai dari struktur organisasi yang sederhana. Namun apapun struktur organisasi OPZ, maksudnya adalah menguraikan tanggung jawab dan wewenang yang tercermin dalam uraian tugas seluruh komponen sumber daya manusia di OPZ.

Secara khusus, bagi Komite Pengawas (Komite Audit) telah melaksanakan tugas dan kewajibannya terutama dalam menentukan akuntan publik yang akan mengaudit laporan keuangan OPZ. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah (PSB) di OPZ merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari OPZ yang memiliki keahlian di bidang pengelolaan zakat dan fiqih zakat. Seluruh OPZ yang diteliti mempunyai DPS, hal ini tercermin dari struktur organisasi dan fungsi DPS yang dinilai sudah optimal, karena lembaga pelaksana sangat patuh terhadap ketentuan DPS.

Jumlah pokok kriteria pelaksanaan 1 Pertimbangkan risiko eksternal Pertimbangkan 2 pertimbangkan risiko internal Pertimbangkan 3 Pertimbangkan risiko anomali Pertimbangkan. Hal ini terlihat dari peraturan yang mengatur, kebijakan organisasi yang dikembangkan sesuai dengan perkembangan manajemen dan tuntutan masyarakat yang selalu berubah. Terdapat dua model sistem perizinan khusus terhadap kegiatan keuangan OPZ, yaitu (1) sentralisasi keuangan OPZ dengan keuangan yayasan yang membawahi OPZ, sehingga sistem perizinan tersebut mengikutsertakan pejabat dalam struktur organisasi yayasan OPZ, misalnya LAZ Ummat . Pusat Zakat dan Rumah Amal LAZ Salman ITB. 2) desentralisasi keuangan dari keuangan yayasan, artinya keuangan LAZ bersifat mandiri.

Di sini, sistem otorisasi hanya mencakup pejabat yang berwenang dalam struktur organisasi LAZ, seperti LAZ Muhammadiyah dan. Salah satu bentuk akuntabilitas dan transparansi yang dibutuhkan masyarakat adalah OPZ menyajikan informasi baik berupa informasi keuangan maupun informasi non keuangan. Selain itu, OPZ harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan agar mampu menyajikan data keuangan yang benar.

Memang masih sedikit OPZ yang memiliki departemen audit internal organisasi, namun selama ini keberadaan badan pengawas dan dewan syariah dirasa cukup untuk berfungsi sebagai pemantau kegiatan OPZ. Kemudian, ketika DPS menyatakan OPZ yang diawasi beroperasi berdasarkan nilai dan batasan syariah, maka setiap pelanggaran yang terjadi menjadi tanggung jawab DPS. Begitu pula ketika DPS menyatakan OPZ yang diawasinya telah memenuhi batasan dan nilai syariah, padahal kenyataannya justru sebaliknya.

Tabel 7. Dimensi  Penaksiran Risiko
Tabel 7. Dimensi Penaksiran Risiko

Implementasi Budaya Organisasi

Ketiga, norma dan nilai yang terlihat dari perilaku para amil dalam menjalankan kegiatan pengabdian kepada muzaqi dan mustahiq yang diimplementasikan dalam kode etik amil zakat. Kemudian implementasi budaya organisasi pada ZPZ yang terdaftar di FoZ sebagai anggota aktif akan terungkap melalui jawaban responden atas pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner yang mencakup beberapa dimensi. Isi komponen dimensi Inovasi dan Pengambilan Risiko dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

1 Manajemen mengapresiasi prestasi pegawai 2 Kebebasan pegawai dalam mengeluarkan gagasannya 3 Kepatuhan keputusan pada wewenang Sesuai 4 Keberanian pegawai dalam bekerja dengan berani. 1 Perhatian pegawai terhadap pelanggan Perhatian 2 Tanggung jawab pegawai terhadap kualitas kerja Tanggung jawab 3 Dukungan pegawai dalam mencapai tujuan Dukungan. 2 Organisasi menghormati perbedaan pendapat Menghargai 3 Dukungan manajer terhadap kelancaran kerja Dukungan 4 Upaya manajer untuk mendukung karyawan Dukungan.

2 Upaya kepemimpinan untuk menjaga kesehatan keuangan Menjaga 3 Upaya kepemimpinan untuk memantau hasil kerja karyawan Diawasi 4 Upaya kepemimpinan untuk mendorong karyawan agar loyal Mendorong.

Tabel 11. Dimensi Inovation and Risk Taking
Tabel 11. Dimensi Inovation and Risk Taking

Implementasi Total Quality Management

Artinya seluruh amil zakat dilibatkan dalam seluruh kegiatan OPZ sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Dalam konteks ini, OPZ memberikan kebebasan kepada amil zakat untuk berinovasi dan berkreasi untuk menciptakan program-program yang ditawarkan OPZ. Hal ini dilakukan untuk menciptakan keselarasan dan memperkuat komitmen bersama dalam menjalankan perannya masing-masing.

OPZ melakukan banyak hal untuk meningkatkan kompetensi dan kemampuan amil zakat seperti pendidikan dengan studi lanjutan program sarjana dan magister. Selain itu, memberikan pelatihan kepada para penerima zakat juga penting, terutama untuk meningkatkan keterampilan. FoZ biasanya menyelenggarakan pelatihan bagi para penerima zakat mengenai aturan, kebijakan dan hal-hal lain yang mengikat seluruh anggota FoZ terkait pengelolaan zakat.

Pengurus OPZ sadar bahwa memberikan kepercayaan penuh akan meningkatkan kepercayaan diri para penerima zakat untuk berkreasi, berinovasi dan berprestasi. Terbukti banyak OPZ yang mampu menciptakan program yang ditawarkan dengan variasi yang tinggi sehingga menjadi keunggulan komparatif dan kompetitif bagi setiap OPZ. Untuk dapat menciptakan suatu program yang disajikan, tidak hanya harus baik dan bernilai tinggi, khususnya bagi para mustahik, juga harus benar (sesuai syariah).

Hal-hal yang perlu dilakukan OPZ: (1) mengidentifikasi kebutuhan mustahik; (2) Proses perancangan dan pembuatan program ditawarkan dengan mempertimbangkan: manfaat bagi muzaki, instansi terkait, siapa yang bertanggung jawab, berapa biayanya, waktu pelaksanaan program dan faktor lainnya; (3) Rancangan program yang akan ditawarkan oleh OPZ selanjutnya akan dikonsultasikan terlebih dahulu dengan DPS untuk dinilai kesesuaian dan kelayakannya dari sudut pandang syariah. Upaya tersebut antara lain tingkat pemahaman yang tinggi dalam menciptakan program yang ditawarkan, ketelitian organisasi dalam memahami kebutuhan konsumen, dan penggunaan berbagai mekanisme dalam komunikasi terutama mendengarkan keinginan dan keluhan konsumen. Isi komponen dimensi pemberdayaan dan keterikatan pegawai dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Amil zakat merupakan salah satu kunci keberhasilan OPZ, oleh karena itu OPZ memberdayakan dan mengikutsertakan amil zakat dalam seluruh kegiatan OPZ dalam pengabdian kepada masyarakat. 1 Identifikasi masalah pelayanan yang diberikan Identifikasi 2. Dokumentasikan proses pemberian layanan Dokumen 3. Ukur kinerja sesuai kepuasan pelanggan Ukur. Untuk dapat memberikan kepuasan pelanggan yang maksimal, ternyata pemberdayaan dan keterlibatan karyawan saja tidak cukup, namun harus dilakukan upaya untuk meningkatkannya.

Tabel 18.  Dimensi Berorientasi Pada Kepuasan Pelanggan
Tabel 18. Dimensi Berorientasi Pada Kepuasan Pelanggan

Penutup

Gambar

Tabel 1. Dimensi Pertanggungjawaban (Responsibility)
Tabel 2.  Dimensi Akuntabilitas (Accountability)
Tabel  3.  Dimensi Keadilan (Fairness)
Tabel 4.  Dimensi Transparansi (Transparancy)
+7

Referensi

Dokumen terkait

4 1.5 Metode Penyelesaian masalah Tahapan proses penyelesaian masalah yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan metode yang disusun secara terurut dengan melakukan tahapan-

Kaur and Gupta 2010 have inspected India's presentation dependent on its distribution yield in dental sciences during 1999- 2008, in view of a few boundaries, including the country