Menurut Hans Selye, stres adalah reaksi non-spesifik tubuh terhadap tuntutan yang diberikan padanya. Eustress, yaitu hasil respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif dan konstruktif (bersifat konstruktif). Distress, yaitu akibat respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif dan destruktif (bersifat destruktif).
Fungsi coping strategy
Pada fungsi problem-focused coping orientasinya lebih pada pemecahan masalah dan strategi penyelesaiannya, artinya upaya yang dilakukan ditujukan untuk mengurangi tuntutan dan situasi stres atau mengerahkan/memperluas sumber daya untuk mengatasi atau mengurangi stres tersebut. Coping yang berfokus pada emosi disebut juga respon defensif yang berfungsi untuk mempertahankan harapan dan optimisme dengan cara mengingkari fakta dan implikasinya, menolak menerima kemungkinan terburuk, dan bereaksi seolah-olah apa yang terjadi tidak menimbulkan masalah karena dianggap tidak ada gunanya untuk diprediksi. . kenyataan buruk yang harus dihadapi.
Bentuk-bentuk Strategy Coping
Lazarus dan Folkman mengatakan bahwa coping yang efektif adalah coping yang membantu seseorang untuk bertoleransi dan menerima situasi stres dan tidak khawatir terhadap tekanan yang tidak dapat dikendalikan. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Cohen dan Lazarus menyatakan bahwa agar coping dapat terlaksana secara efektif, maka strategi coping harus mengacu pada lima fungsi tugas coping yang dikenal dengan coping task, yaitu. Solusi terencana untuk masalah; suatu upaya untuk mengubah keadaan yang dianggap menimbulkan stres secara hati-hati, bertahap dan analitis dalam mengatasi permasalahan yang terjadi.
menjaga jarak; menggambarkan reaksi menjauhi masalah yang muncul, menarik diri atau berusaha tidak terlibat dalam masalah, termasuk juga menciptakan pandangan positif. Evaluasi ulang yang positif; upaya mencari makna positif dari permasalahan yang dialami dengan tujuan pengembangan diri. Penerimaan tanggung jawab; dimana individu menyadari perannya sendiri dalam permasalahan yang dihadapinya, sekaligus berusaha memperbaiki keadaan.
Melarikan diri/menghindar; upaya untuk mengatasi situasi stres dengan melarikan diri dari situasi tersebut atau menghindarinya dengan beralih ke hal lain seperti makan, minum, merokok atau menggunakan obat-obatan.
Episode Coping
Komponen-komponen Coping
Fleksibilitas ini mengacu pada adanya variasi strategi coping dalam menghadapi sumber stres dan kesediaan untuk mengakomodasi variasi tersebut. Ketiga komponen tersebut saling berhubungan dan coping yang efektif selalu melibatkan ketiga komponen tersebut.
Sumber Daya Individu yang Menunjang Keberhasilan Coping strategy Menurut Lazarus dan Folkman (1984), keberhasilan dari strategi dan proses
Hal ini akan meningkatkan motivasi seseorang untuk terus mencari alternatif pemecahan masalah yang paling sesuai. Kemampuan untuk mencari informasi, menganalisis situasi, mengidentifikasi masalah dalam upaya menemukan tindakan alternatif, mempertimbangkannya, memilih rencana tindakan yang tepat dan menerapkannya untuk mengatasi masalah. Keterampilan sosial tersebut merupakan kemampuan dalam mencari informasi, menganalisis permasalahan, memberikan kesempatan untuk berkolaborasi dan memperoleh dukungan melalui interaksi sosial yang terjalin serta memberikan kontrol yang baik bagi individu yang bersangkutan.
Melalui orang lain dapat diperoleh informasi dan/atau dukungan emosional yang dapat membantu individu mengatasi permasalahan. Sumber daya material dapat berupa uang, barang atau benda lain yang dapat mendukung pelaksanaan penanggulangan yang efektif.
Hubungan antara Fungsi Coping strategy yang Berpusat Pada Emosi dengan Coping strategyyang Berpusat Pada Masalah
Hambatan-hambatan dalam Melakukan Coping strategy
Semakin besar ancamannya, penggunaan strategi coping yang berfokus pada emosi cenderung menjadi primitif atau regresif, dan penggunaan strategi coping yang berfokus pada masalah menjadi semakin terbatas.
Strategi Coping Pasca Putus Cinta
Individu yang mengalami putus cinta umumnya akan merasa sedih, kaget, marah, dan menyesal, namun ada juga yang justru merasa bahagia karena merasa bisa mengambil hikmah dari putusnya hubungan tersebut. Setelah mengalami putus cinta, individu akan melakukan beberapa kemungkinan perilaku dan umumnya hal ini akan tercermin dalam bentuk strategi coping yang ada, yaitu strategi coping yang fokus pada masalah dan strategi coping yang fokus pada emosi. Jika strategi coping yang fokus pada masalah dan strategi coping yang fokus pada emosi dilakukan secara efektif, maka individu akan mudah beradaptasi dengan keadaan.
Tetapi sebaliknya, jika strategi daya tindak yang dilakukannya tidak berkesan, individu tersebut akan mengalami kesukaran untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan situasi dan masalah lain yang mungkin dihadapinya.
Definisi Adaptational outcomes
Oleh karena itu, individu diharapkan mampu mengatasi, mengelola, dan mengendalikan situasi apa pun serta tetap mampu berpikir jernih. Adaptasi adalah suatu proses yang mencakup respon mental dan perilaku yang merupakan upaya individu untuk berhasil mengatasi dan menguasai kebutuhan batin, ketegangan, konflik dan frustasi yang dialaminya, yang dianggap baik/buruk atau berhasil/tidak berhasilnya penyesuaian yang dilakukan. oleh individu. itu. Tujuan dari upaya ini adalah untuk mencapai keselarasan dan keserasian antara tuntutan dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan.
Oleh karena itu, perilaku mempunyai fungsi menguasai tuntutan dan tindakan manusia dapat dipahami sebagai adaptasi terhadap tuntutan tertentu.
Dimensi-dimensi Adaptational outcomes
Jadi, hasil adaptif adalah kualitas hidup yang biasa disebut kesehatan fisik dan mental yang berkaitan dengan bagaimana individu mengevaluasi dan mengatasi ketika berada dalam kondisi stres dalam hidup (Lazarus & Folkman, 1984). Efektivitas upaya untuk mengelola situasi stres sangat penting bagi kualitas fungsi sosial seseorang secara keseluruhan. Sebaliknya, individu dengan harga diri negatif akan lebih banyak mengalami emosi negatif.
Hal ini juga disertai dengan rendahnya harga diri sehingga akan menyebabkan individu merasa tidak bahagia atau tidak puas dengan kondisi kehidupannya. Pengaruh penilaian kognitif dan penanggulangan terhadap terjadinya penyakit fisik melibatkan dua pendekatan yang bertentangan. Hal ini berbeda dengan pendekatan spesifik, dimana penilaian kognitif dan coping memainkan peran utama dalam munculnya penyakit fisik tertentu.
Hal ini terjadi untuk mencegah atau memperbaiki kondisi lingkungan yang berbahaya, untuk mengatur tekanan emosional dalam menghadapi bahaya atau ancaman, dan dengan mengekspresikan serangkaian nilai dan gaya hidup yang selaras dengan tuntutan. Mengatasi dapat membahayakan kesehatan dengan mencegah individu melakukan tindakan adaptif yang berkaitan dengan kesehatan fisik.
Hubungan antara Coping strategy dengan Adaptational outcomes
Individu yang menilai suatu peristiwa atau situasi yang dialaminya sebagai ancaman akan mampu mengatasinya. Individu yang menggunakan problem-focused coping artinya akan segera mengatasi masalah yang menjadi penyebab stresnya sehingga kesejahteraan individu tersebut tidak terlalu terganggu karena masalah tersebut lebih cepat terselesaikan dan tidak mengeluarkan banyak tenaga/sumber daya untuk mengatasi masalah tersebut. . Sedangkan individu yang menggunakan Emotion Focused Coping akan melakukan pengaturan emosi untuk menghadapi masalah yang terjadi, namun tidak menyelesaikan masalah yang menjadi sumber stresnya.
Coping yang berhasil dilakukan kemudian akan menghasilkan efek-efek menguntungkan yang diperoleh sebagai akibat dari coping yang berhasil. Hal ini termasuk mengurangi stres, menjaga keseimbangan emosi, menjalin hubungan yang memuaskan dengan orang lain, dan menjaga citra tubuh yang positif. Setiap individu bereaksi berbeda-beda dalam menghadapi suatu situasi dan hal ini bergantung pada proses pendekatannya.
Berhasil tidaknya seseorang dalam menjalankan fungsi kesehatan sosial, moral, dan somatik dapat ditentukan oleh efektivitas penilaian kognitif dan pengelolaan peristiwa yang muncul. Efektivitas coping tergantung pada keakuratannya dalam menghadapi tuntutan internal dan eksternal suatu situasi dan antara dua bentuk coping, baik yang berpusat pada masalah maupun yang berpusat pada emosi.
Dewasa Awal
Pengertian Dewasa Awal
Seseorang mungkin dapat merespons tanpa beban apa pun, namun sebagian lainnya merasakannya sebagai situasi yang mengancam. Secara umum, kualitas hidup seseorang erat kaitannya dengan cara dia menilai dan mengatasi situasi/peristiwa kehidupan yang penuh tekanan. Salah satu transisi terpenting dalam perkembangan kehidupan seseorang adalah masa dimana remaja berkembang menjadi dewasa.
Masa peralihan dari anak ke remaja diawali dengan berkembangnya masa pubertas, sehingga peralihan dari remaja ke dewasa ditentukan oleh latar belakang budaya dan pengalaman hidup (Santrcok, 2006). Berdasarkan hal tersebut, peralihan yang dialami seseorang dari masa remaja ke masa dewasa memerlukan proses yang panjang dan durasinya terkadang tidak menentu. Masa transisi ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berkembang dan mencapai tahap selanjutnya.Banyak perbedaan penelitian mengenai gambaran durasi transisi.
Transisi ini dapat menjadi proses penting dalam menstabilkan kehidupan finansial seseorang karena banyak individu sudah mulai mendapatkan pekerjaan yang stabil. Berdasarkan hal tersebut terlihat bahwa sebagian individu tidak lagi bergantung pada keluarga dan mulai memikul berbagai macam tanggung jawab.
Dewasa Muda sebagai Masa Transisi A. Transisi Fisik
Transisi Intelektual
Transisi Peran Sosial
- Aspek-aspek Perkembangan Fisik Aspek-aspek perkembangan fisik meliputi
- Perkembangan Kognitif Dewasa Awal
- Teori Perkembangan Mental MenurutTurner dan Helms
- Perkembangan Psikososial DewasaAwal
- Ciri-Ciri Dewasa Awal
- Tugas-Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal
- Dasar-dasar hubungan yang akrab dalam masa dewasa awal
- Kerangka Pikir
- Skema Kerangka Berpikir
- Hipotesis
Bagi subjek yang menilai stres yang diterimanya sebagai stres yang rendah, maka subjek akan mengapresiasi tuntutan tersebut sebagai sesuatu yang tidak memberatkan dan tidak membebani dirinya bahkan mungkin siswa menilainya sebagai sebuah tantangan. Sedangkan subjek yang menilai stres yang diterimanya dengan rasa syukur yang tinggi akan mempersepsikan tuntutan tersebut sebagai sesuatu yang memberatkan atau membuat dirinya stres dan dapat dinilai sebagai suatu ancaman. Dalam penelitian ini, gejala stres yang dialami peneliti, baik fisik maupun psikis, menunjukkan perilaku yang hampir sama antar subjek.
Ada subjek yang menyatakan bahwa kejadian putus cinta menyebabkan subjek bolos. Artinya, secara umum semua subjek merasakan gejala emosi yang sama, namun hanya dua subjek yang paling sering merasakan gejala emosi hingga merasa frustasi. Terkait gejala perilaku, dari seluruh subjek (16 responden), hanya satu subjek yang menunjukkan perilaku merokok dan meminum minuman beralkohol.
Sedangkan subjek lainnya setelah peristiwa perpisahan menunjukkan perilaku seperti; gelisah, menggigit kuku, perubahan cara makan, menangis, berteriak, mengumpat, bahkan melempar barang dan memukul benda tertentu atau bahkan orang lain (saudara, teman). Subjek yang menilai stres pada tingkat yang tinggi pada akhirnya akan mengarah pada strategi coping yang berfokus pada emosi. Dalam penelitian ini data yang diperoleh dari wawancara menunjukkan bahwa terdapat subjek yang melakukan upaya tertentu untuk mengatasi stresor (peristiwa putus cinta), yaitu tiga bulan setelah peristiwa putus cinta terjadi dan mantan pacarnya menikah dengan wanita lain, subjek memutuskan untuk menghadiri sebuah acara. Asrama Islam selama sebulan.
Selain subjek yang menggunakan problem-focused coping (problem-focused coping), terdapat juga subjek yang menghadapi tekanan menggunakan emotion-focused coping.