Anak berkebutuhan khusus juga kurang memahami, kurang informasi dan tidak sadar akan hak-haknya. Anak berkebutuhan khusus di Indonesia seringkali hanya diperbolehkan menerima bantuan tanpa dimintai pendapatnya.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Manfaatnya bagi pimpinan sekolah sangat luar biasa: bahwa hasil penelitian ini nantinya dapat dijadikan masukan kebijakan dalam upaya perbaikan proses belajar mengajar. Manfaat Bagi Ketua/Direktur Yayasan/Pengurus SLB: Hasil penelitian ini dapat dijadikan gambaran, yaitu bahwa strategi dalam pelaksanaan pembelajaran merupakan hal yang sangat penting bagi siswa pendidikan luar biasa.
KAJIAN PUSTAKA, DESKRIPSI KONSEP, DAN TEORI
Kajian Pustaka
Penelitian Sari di atas dapat dijadikan acuan penelitian dalam mencari strategi pembelajaran pendidikan agama Hindu dan perbandingan dalam proses pembelajaran di sekolah normal dan sekolah tunagrahita seperti di SLB/C Kemala Bhayangkari Kerambitan, Tabanan. Namun penelitian ini mengangkat topik tentang strategi pembelajaran pendidikan agama Hindu di SLB/C Kemala Bhayangkari Kerambitan Tabanan.
Deskripsi Konsep
- Strategi
- Pembelajaran
- Pendidikan Agama Hindu
Sedangkan pendidikan agama Hindu di sekolah merupakan upaya untuk mendorong pertumbuhan rohani dan jasmani siswa sesuai dengan ajaran agama Hindu (PHDI Pusat, 2001:23). Oleh karena itu, yang dimaksud dengan pendidikan agama Hindu menurut pemahaman penulis adalah upaya mendorong pertumbuhan jiwa manusia melalui ajaran agama Hindu.
Teori
- Anak Berkebutuhan Khusus
- Teori Naturalisme
- Teori Koneksionisme
- Teori Belajar Humanistik
Salah satu teori belajar adalah behaviorisme karena menekankan pada tingkah laku atau tingkah laku yang dapat diamati. Teori pembelajaran asosiatif dikembangkan oleh Thorndike, belajar merupakan suatu proses interaksi antara stimulus dan respon.
Model Penelitian
Padahal, tujuan pendidikan agama Hindu sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Terkait dengan tujuan pendidikan nasional di atas, pola pembelajaran agama Hindu dalam konteks ini mengandung makna konsep yang menekankan pada proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan positif pada diri siswa sesuai dengan ajaran agama Hindu. Permasalahan penelitian ini adalah: 1) Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan strategi pembelajaran pendidikan agama Hindu di SLB-C Yayasan Kemala Bhayangkari Kerambitan Tabanan, 2) Strategi pembelajaran pendidikan agama Hindu di SLB-C Yayasan Kemala Bhayangkari Kerambitan Tabanan, 3) Bagaimana menerapkan strategi pembelajaran pendidikan agama Hindu di Yayasan Kemala Bhayangkari Kerambitan Tabanan.
Rancangan Penelitian
Penelitian kualitatif juga merupakan penelitian yang menekankan analisisnya pada proses penalaran deduktif dan analisis dinamika hubungan antara fenomena yang diamati dengan menggunakan logika ilmiah.
Lokasi Penelitian
Jenis dan Sumber Data
- Sumber Data Primer
- Sumber Data Sekunder
Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat ukur atau alat perolehan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang diperlukan. Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber berupa teks atau dokumen, pemberitahuan, surat dan spanduk. Data yang diperoleh diperoleh dengan cara mencatat dan mencari sumber-sumber tertulis yang berkaitan dengan judul yang penulis peroleh.
Teknik Pengumpulan Data
Sumber data primer ini juga dapat diperoleh dari sumber atau arsip sekolah dalam bentuk purposive sampling yang meliputi daftar nama guru, hubungan guru, struktur organisasi, dan jumlah siswa di lokasi penelitian. Bisa juga dalam bentuk gambar (foto), suara (yang direkam dari informan) atau berupa gabungan teks berupa gambar dan suara. Dalam penelitian ini data sekunder dikumpulkan dari jurnal, buku, majalah, surat kabar dan dokumentasi berupa foto-foto yang berkaitan dengan penelitian ini.
Metode Observasi merupakan teknik pengamatan dan pencatatan sistematis dari fenomena-fenomena yang diselidiki untuk menemukan data dan informasi
- Instrumen Penelitian
- Teknik Analisis Data
- Pengecekan Keabsahan Data
- Gambaran Umum Lokasi Objek Penelitian
Pada tahun 1983 Bpk. Sumarjono datang ke pulau dewata, saat itu ia sedang bekerja di TKS BUTSI Provinsi Bali. Namun, karena kurangnya saran dan infrastruktur pada saat itu, Tn. Sumarjono dan rekan-rekan pionir baru saja merekrut calon siswa yang dekat dengan kota Tabanan dan saat itu terdapat 6 calon siswa SLB/C pada awal uji coba. Pak Sumarjono selaku calon kepala sekolah bersama rekan-rekan calon guru mengadakan rapat kecil membahas pencarian platform/yayasan yang akan menampung SLB/C. Dari hasil pertemuan tersebut mereka mendapat ide yaitu Kemala. Bhayangkari akan dijadikan calon anggota organisasi tersebut.
Dari Segi Sosiologi
Lalu Tuan. Sumarjono, Ny. Mamik Umi Hasanah dan rekan-rekan calon guru lainnya menghampiri Ketua Penghubung Yayasan Kemala Bhayangkari Tabanan yang saat itu dijabat oleh Ibu Didy Kusumayati untuk menyampaikan gagasan dan menceritakan tentang keberadaan anak-anak yang mengalami gangguan jiwa. disabilitas (Tuna Grahita). Atas kebaikan dan keluhurannya, Ketua Penghubung Yayasan Kemala Bhayangkari tergerak dan ketua bersedia dan akan meneruskan gagasan ini kepada Ketua Perwakilan Yayasan Kemala Bhayangkari wilayah Nusa Tenggara yang saat itu dijabat oleh NY. . MS. Didy Kusumayadi selaku Liaison Chairperson Yayasan Tabanan Kemala Bhayangkari beserta jajarannya bersedia menerima gagasan dan mewujudkan cita-cita didirikannya Lembaga Pendidikan Khusus/SLB berdasarkan landasan sebagai berikut:
Dari Segi Psikologis
SLB/C semuanya diperkenalkan oleh Ny. Mammik Umi Hasanah yang telah menjadi anggota Bhayangkari Resort Tabanan.
Dari Segi Yuridis Formal
Dari Segi Paedogis
Dari Segi Etis Religius
Anak penyandang disabilitas mental merupakan makhluk Tuhan yang memerlukan sikap positif dari seluruh umat manusia. Berdasarkan pemikiran di atas, Ibu Didy Kusumayadi selaku Ketua Penghubung Yayasan Kemala Bhyangkari Tabanan saat itu bersama pengurus berusaha mewujudkan impian terciptanya lembaga pendidikan khusus anak “Tuna Grahita”. Pada tanggal 20 Maret 1996, Kepala Penghubung Yayasan Kemala Bhayangkari Cabang Tabanan, Ny. Didy Kusumayadi didampingi guru-guru yang bersedia menjadi perintis, meminta persetujuan dan restu dari Kepala Perwakilan Yayasan Kemala Bhyangkari Wilayah Nusa Tenggara dan pada tanggal 23 Juli 1986 dimulainya berdirinya SLB/C sebagai keseluruhannya disahkan secara sah, di bawah naungan Yayasan Kemala Bhayangkari.
Pembangunan gedung SLB/C lantai dasar
Maka untuk tahap selanjutnya Pengurus Ibu Keuta dan pengurus Yayasan Kemala Bhayangkari mengadakan tanya jawab dan korespondensi kepada semua pihak yang memungkinkan untuk membantu penggalangan dana pembebasan lahan dan pembangunan gedung SLB/C Kemala Bhayangkari Tabanan. Berkat kegigihan dan pendekatan personal dari pengurus yayasan khususnya pengurus Yayasan Kemala Bhayangkari yang saat itu dijabat oleh Ny. Setelah dana terkumpul seluruhnya, Ketua Penghubung dan Pengurus Yayasan Kemala Bhayangkari mulai mempersiapkan langkah-langkah rencana pembangunan gedung SLB/C Kemala Bhayangkari Tabanan.
Peresmian gedung SLB/C Kemala Bhayangkari Tabanan
Maka dengan diresmikannya penggunaan gedung ini, SLB/C Kemala Bhayangkari tidak lagi meminjam gedung SD Inpres No.8 Dajan Peken Kamasan Tabanan. Zaenoer Rosidin selaku Liaison Chairman Yayasan Kemala Bhayangkari Tabanan, beliau melakukan upaya pendirian 2 gedung lokal untuk panti asuhan/perguruan tinggi putra dan putri. Sedangkan santri yang ingin tinggal di panti asuhan/perguruan tinggi semakin hari semakin bertambah untuk biaya operasional dan makan sehari-hari panti asuhan selama ini, mereka dibantu oleh Yayasan Darmais dan para donatur yang bersedia menyumbangkan hartanya.
Pembangunan lantai II gedung SLB/C Kemala Bhayangkari Tabanan
Kemala Bhayangkari dan atas kerjasama yang baik antara panitia pembangunan dan pihak pelaksana pembangunan gedung SLB/C lantai 2 dapat terealisasi dengan lancar dengan mengeluarkan dana sebesar Rp. Sementara pembangunan gedung lantai dua sedang berlangsung, proses kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di panti asuhan/perguruan tinggi dalam jangka waktu beberapa bulan, pembangunan SLB/C lantai dua selesai, sehingga pada bulan Agustus Tahun 1994, Gedung SLB/C lantai 2 diresmikan oleh Ny.
Dari segi pengembangan gedung
- Letak Geografis Yayasan Kemala Bhayangkari Kerambitan, Tabanan Berdasarkan hasil wawancara penulis pada tanggal 15 September 2018, I
- Visi dan Misi SLB-C Yayasan Kemala Bhayangkari Kerambitan, Tabanan
Sejak saat itu kepemimpinan dan perintisan SLB/C Kemala Bhayangkari dipimpin oleh ketua Yayasan Kemala Bhayangkari yang baru, yaitu: Ibu Wisnu Hartono selaku ketua penghubung Yayasan Kemala Bhayangkari Tabanan, memberanikan diri untuk merintis dan merintis SLB/C Kemala Bhayangkari. C (Tuna Grahita) panti asuhan dengan pertimbangan sebagai berikut. Yayasan Kemala Bhayangkari Cabang Tabanan terus melebarkan sayapnya dan terus berkomitmen dan berupaya untuk pengembangan SLB/C Kemala Bhayangkari Tabanan.
Visi
Misi
- Keadaan Gedung SLB-C Yayasan Kemala Bhayangkari Kerambitan, Tabanan
- Keadaan Siswa SLB-C Yayasan Kemala Bhayangkari Kerambitan, Tabanan
- Keadaan Guru SLB-C Yayasan Kemala Bhayangkari Kerambitan, Tabanan
- Struktur Organisasi SLB-C Yayasan Kemala Bhayangkari Kerambitan, Tabanan
Sarana dan prasarana yang tersedia di Gedung SLB-C Kemala Bhayangkari Tabanan lantai 2 antara lain: 6 (enam) ruang lokal tempat tinggal guru/karyawan, 4 (empat) unit kamar mandi (WC), 2 (dua) unit cermin laundry dan wastafel, 2 (dua) ruang dapur lengkap dengan wastafel, 2 (dua) koridor sebagai penghubung jalan antara tempat tinggal dan ruang makan, serta 2 (dua) musala untuk melengkapi sarana sholat. Menurut Kepala Sekolah SLB-C Kemala Bhayangkari Kerambitan, Tabanan mengatakan, jumlah siswanya terus meningkat setiap tahunnya. Struktur organisasi SLB Bagian C Yayasan Kemala Bhayangkari Kerambitan Tabanan adalah sebagai berikut.
HASIL PENELITIAN
Faktor-Faktor Yang Memepengaruhi Dalam Melaksanakan Strategi Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu
Strategi pembelajaran Pendidikan Agama Hindu bagi siswa berkebutuhan khusus pada siswa SMP di SLB-C Kemala Bhayangkari Tabanan sesuai dengan kurikulum yang diberikan akan berkaitan dengan beberapa hal. Ada beberapa strategi metode pembelajaran Pendidikan Agama Hindu pada siswa sekolah menengah di SLB_C Kemala Bhayangkari Tabanan yang saat ini sedang dilaksanakan diantaranya. Ada beberapa strategi pendidikan yang dapat diterapkan untuk mengajarkan pendidikan agama Hindu di SLB-C Kemala Bhayangkari, antara lain:
Penerapan strategi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu pada Siswa SLB / C Kemala Bhayangkari Tabanan
Hasil wawancara dengan guru SLB-C Kemala Bhayangkari Tabanan mengenai strategi pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran pendidikan agama Hindu. Guru pendidikan agama hindu tidak dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar semaunya atau strategi yang baku dalam proses pembelajaran SLB-C karena akan mengabaikan tujuan yang telah dirumuskan. Maka hendaknya guru menggunakan metode-metode yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar sehingga dapat dijadikan alat yang efektif untuk mencapai tujuan pengajaran.
KESIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran agama Hindu adalah metode ceramah, metode demonstrasi, metode tugas dan metode ekskursi. Dalam melaksanakan strategi pembelajaran pendidikan agama Hindu di SLB-C Kemal Bhayangkari tidak bisa hanya mengikuti kurikulum saja karena saat ini belum ada kurikulum khusus siswa tunagrahita (SLB-C), sehingga masih menggunakan kurikulum sekolah umum dengan klasifikasi segregasi. Masih belum ada kurikulum yang khusus membahas pendidikan agama Hindu untuk SLB-C, b). belum menjadi guru yang optimal dalam memberikan materi pembelajaran, c).
Saran-Saran
Hambatan eksternal meliputi: a). faktor yang berasal dari keluarga siswa sendiri dimana mereka merasa malu mempunyai anak yang mempunyai keterbatasan/kekurangan, b). faktor yang berasal dari yayasan, c). faktor yang berasal dari lingkungan masyarakat, d). Bagi peneliti lain agar dapat dijadikan acuan untuk melakukan penelitian di negara lain pada waktu yang berbeda atau di negara lain yang mempunyai karakteristik yang hampir sama.
DAFTAR PUSTAKA
Efektivitas metode pelatihan yang berbeda dalam meningkatkan hasil belajar pendidikan agama Hindu pada siswa SLB negeri di Singaraja Bagian B. Model pembelajaran agama Hindu dan upaya peningkatan mutu pendidikan agama di SD Negeri Kubu Kabupaten Karangasem.