• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelajari tentang Pajanan di Tempat Kerja

N/A
N/A
Kursiah Warti Ningsih

Academic year: 2023

Membagikan "Pelajari tentang Pajanan di Tempat Kerja"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Pajanan di Tempat Kerja

Baik atau buruknya kinerja perusahaan tidak terlepas dari kondisi lingkungan kerja. Semakin nyaman tempat bekerja maka akan berdampak pada produktivitas karyawan dan begitu juga sebaliknya, jika suasana kerja tidak aman tentu akan mengganggu kerja karyawan. Terutama di perusahaan atau pabrik yang memiliki potensi bahaya lingkungan kerja

Di samping itu, lingkungan kerja yang tidak memenuhi standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tentu akan menimbulkan potensi bahaya terhadap pekerja. Sehingga pemerintah pun mewajibkan perusahaan untuk melakukan monitoring dan pengukuran lingkungan kerja.

Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 5 Tahun 2018 telah diatur terkait pemeriksaan dan pengujian lingkungan kerja. Bahkan keamanan lingkungan kerja, bukan hanya meliputi fisik karyawan, namun juga psikologi.

Pemeriksaan lingkungan kerja dilakukan dengan mengamati, menganalisis, membandingkan, dan mengevaluasi kondisi lingkungan kerja untuk memastikan terpenuhinya persyaratan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan pengujian adalah pengukuran kondisi lingkungan kerja yang meliputi alat, bahan, dan proses kerja untuk mengetahui tingkat konsentrasi dan pajanan terhadap tenaga kerja untuk memastikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Peraturan Pemeriksaan Lingkungan Kerja

Pemeriksaan dan pengujian lingkungan kerja dilakukan secara internal atau bekerja sama pihak eksternal dari luar perusahaan. Pemeriksaan internal ini harus dilakukan oleh tim yang memiliki sertifikasi Ahli K3 Lingkungan Kerja dengan tingkatan Muda, Madya, sampai Utama.

Pemeriksaan internal oleh perusahaan terkait lingkungan kerja harus dilaksanakan secara rutin atau berkala. Terutama pada perusahaan atau pabrik yang dimiliki memiliki risiko kerja yang sangat besar dan berbahaya. Seperti faktor kimia berupa zat berbahaya atau faktor biologi berupa penularan patogen.

Meski perusahaan sudah melakukan pemeriksaan internal terhadap lingkungan kerja, namun pemeriksaan oleh lembaga eksternal tetap harus dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil maksimal dan mengurangi potensi kesalahan atau kecurangan tidak akan terjadi.

Lembaga eksternal yang ikut melakukan pemeriksaan atau pengujian terdiri dari:

Unit Pelaksana Teknis Pengawasan Ketenagakerjaan.

Direktorat Bina Keselamatan dan Kesehatan Kerja beserta Unit Pelaksana Teknis Bidang K3.

Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Bidang pelayanan Pengujian K3.

Lembaga yang terakreditasi dan ditunjuk oleh Kementerian.

(2)

Jenis Pemeriksaan atau Pengujian Lingkungan Kerja

Dalam pasal 60 Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 5 Tahun 2018 menetapkan empat jenis pemeriksaan atau pengujian terkait K3 lingkungan kerja, baik itu pemeriksaan oleh tim internal maupun eksternal;

1. Pertama

Pemeriksaan dan pengujian pertama dilakukan untuk mengidentifikasi potensi bahaya lingkungan kerja di tempat kerja yang meliputi area kerja dengan pajanan faktor fisika, kimia, biologi, ergonomi, psikologi. Kemudian kondisi kualitas udara dalam ruangan (KUDR), serta sarana dan fasilitas sanitasi.

2. Berkala

Pemeriksaan dan pengujian berkala dilakukan oleh tim eksternal minimal satu kali setahun atau sesuai dengan penilaian risiko kerja terhadap perusahaan. Pemeriksaan berkala ini meliputi, area kerja dengan pajanan faktor fisika, kimia, biologi, ergonomi, psikologi. Kemudian kondisi kualitas udara dalam ruangan (KUDR), serta sarana dan fasilitas sanitasi.

3. Ulang

Pemeriksaan dan pengujian ulang dilakukan saat hasil pemeriksaan dan pengujian sebelumnya terdapat keraguan. Seperti adanya selisih dan sangat memengaruhi hasil dan

kesimpulan pemeriksaan atau pengujian.

Pemeriksaan ulang akan dilakukan oleh tim internal dan eksternal dengan metode yang sama.

4. Khusus

Pemeriksaan dan pengujian khusus dilakukan untuk kasus kecelakaan kerja atau laporan dugaan tingkat pajanan di atas NAB. Pemeriksaan dan pengujian dilakukan untuk menghindari resiko bahkan korban baru di dalam atau di luar perusahaan. Pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan mendalam untuk mendapatkan hasil akurat dengan menggunakan metode yang sudah diatur oleh undang-undang.

Syarat-syarat K3 Lingkungan Kerja

Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 5 Tahun 2018 tentang keselamatan kerja dan kesehatan di lingkungan kerja, pada pasal 3 ditetapkan syarat-syarat K3 Lingkungan yaitu;

Pengendalian faktor fisika dan kimia agar berada di bawah NAB.

Pengendalian faktor biologi, ergonomi, dan psikologi agar memenuhi standar.

Penyediaan fasilitas kebersihan dan sarana higiene di tempat kerja.

(3)

Penyediaan personil K3 yang memiliki kompetensi dan kewenangan K3.

Tujuan Pemeriksaan dan Pengujian Lingkungan Kerja

Secara umum tujuan pengukuran dan pengujian untuk memastikan lingkungan kerja aman dan nyaman bagi seluruh pihak dengan menjamin tidak ada resiko kerja yang dapat membahayakan orang lain. Berikut tujuan dari pemeriksaan dan pengujian lingkungan kerja;

Mengawasi penerapan K3 di tempat kerja.

Memantau kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK).

Mengevaluasi pelaksanaan K3

Mengukur kinerja K3

Mengumpulkan data untuk evaluasi K3

Mengumpulkan data untuk menilai kompetensi personil K3

Faktor Utama dalam K3 Lingkungan Kerja

Berdasarkan Pasal 5, Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 pengawasan kualitas Lingkungan Kerja meliputi sejumlah faktor, yaitu faktor fisika, kimia, biologi, ergonomi, dan psikologi.

Berikut ulasannya;

1. Faktor Fisika

Faktor fisika yang dapat menimbulkan resiko di tempat kerja meliputi iklim kerja, kebisingan, getaran, gelombang radio atau gelombang mikro, sinar ultraviolet, medan magnet statis, tekanan udara dan juga pencahayaan. Penanganan faktor fisika ini cukup kompleks karena setiap faktor memiliki cara yang spesifik. Sehingga penanganan yang paling tepat yaitu dengan mengendalikan pemicu agar tidak menimbulkan gangguan.

2. Faktor Kimia

Kemudian faktor kimia yang dapat menyebabkan resiko di tempat kerja yaitu zat-zat yang membahayakan karyawan atau masyarakat umum sekitar perusahaan. Beberapa bahan kimia berbahaya meliputi zat yang mudah terbakar, mudah meledak, beracun, oksidator, reaktif dan radioaktif. Baik itu berbentuk dari padat, cair, dan gas harus mendapatkan perhatian dengan baik. Perusahaan wajib melakukan pengendalian faktor kimia dengan membuat ventilasi udara, mengisolasi, penggunaan bahan yang lebih aman, dan lainnya.

3. Faktor Biologi

Pengukuran, pemantauan, dan pengendalian faktor biologi yang bisa memicu insiden di tempat kerja meliputi mikroorganisme, arthropoda, hewan berbahaya, hewan invertebrata, toksin dari tumbuhan. Berdasarkan Permenaker Nomor 5 Tahun 2018, Pasal 22, pengendalian faktor biologi tersebut bisa dilakukan dengan mengatur atau membatasi waktu pajanan terhadap sumber bahaya faktor biologi, menggunakan alat pelindung diri,

(4)

memberikan vaksinasi apabila memungkinkan, meningkatkan higiene perorangan dan memberikan desinfektan.

4. Faktor Ergonomi

Selanjutnya faktor ergonomi yang meliputi cara kerja, posisi kerja, dan postur tubuh yang tidak sesuai saat melakukan pekerjaan. Kemudian desain alat kerja dan tempat kerja yang tidak sesuai dengan antropometri karyawan, serta beban yang melebihi kapasitas kerja.Potensi bahaya faktor ergonomi tersebut dapat dikendalikan dengan menghindari posisi kerja yang janggal, memperbaiki cara kerja dan posisi kerja, mendesain ulang atau mengganti tempat kerja, dan peralatan kerja.Perusahaan juga bisa mengatur ulang waktu kerja dan waktu istirahat dan menggunakan alat bantu.

5. Faktor Psikologi

Selanjutnya faktor psikologi di tempat kerja meliputi ketidakjelasan peran, konflik peran, beban kerja berlebih, pengembangan karir dan juga tanggung jawab terhadap orang lain.Faktor psikologi tersebut dapat dikendalikan melalui manajemen stress dengan memberikan pendidikan atau pelatihan bagi tenaga kerja, mengadakan program kebugaran, menyediakan program konseling, memberikan kebebasan bagi karyawan untuk memberikan masukan dalam proses pengambilan keputusan.

Pelaporan Hasil Pemeriksaan/Pengujian

Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian terhadap lingkungan kerja diberikan kepada Unit Pengawasan Ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Setelah hasil pemeriksaan tersebut akan diperiksa untuk kemudian disetujui oleh manajer teknis.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut Unit Pengawasan Ketenagakerjaan akan mengeluarkan surat keterangan sudah memenuhi atau tidak persyaratan K3. Bila hasil laporan lingkungan kerja perusahaan masih buruk makan akan diberi stiker. Dan perusahaan harus segera memperbaiki untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan dan pengujian ulang.

Monitoring kualitas lingkungan kerja harus menjadi prioritas perusahaan agar dapat mewujudkan suasana kerja yang aman, nyaman dan sehat. Sehingga karyawan dapat bekerja lebih produktif dan menunjang kinerja perusahaan. Apakah lingkungan kerja anda sudah memenuhi prosedur K3?

Strategi Kajian Pajanan & Sampling di Tempat Kerja

Kajian pajanan ditempat kerja (Baseline study Data) merupakan salah satu bagian terpenting didalam program kegiatan Industrial Hygiene. Hasil dari kajian ini digunakan sebagai data awal dari pengembangan program kegiatan Industrial Hygiene sehingga dari kajian ini maka program tersebut dapat dilaksanakan. Kajian pajanan ditempat kerja meliputi Manajemen Bahan Berbahaya, Program Perlindungan Pendengaran, Pengendalian Teknis, Pengendalian administratif, Pengendalian Tata Kerja, APD, Keselamatan Radiasi, Surveilans Kesehatan/Medik, Epidemiologi, Komunikasi Bahaya, Pendidikan & Pelatihan, Monitoring Pajanan (Mulhausen & Damiano, 2003).

Beberapa guidelines telah dikembangkan sebagai rujukan didalam melakukan kajian pajanan ditempat kerja diantaranya adalah : British HSE HSG 173, NIOSH Occupational Exposure Sampling Strategy, NSC (National Safety Council), AIHA Guidance, CCOHS (Canadian Center for OHS), AIOH (Australian Institute of Occupational Hygienists).

AIHA Guidance

Terdapat 2 Pendekatan yang digunakan pada strategi kajian pajanan AIHA yaitu Compliance Monitoring & Comprehensive Exposure Assessment. pada Compliance Monitoring ini fokus

(5)

kepada maximum risk employee untuk menentukan apakah pajanan berada di bawah atau di atas nilai ambang batas sedangkan Comprehensive Exposure Assessment merupakan kajian kompherenshif dengan menekankan pada karakterisasi seluruh pajanan setiap hari sehingga dapat memberikan informasi yang detail mengenai profil pajanan yang mencakup seluruh pekerja, hari kerja dan bahan kimia yang digunakan sehingga data ini dapat digunakan dalam studi epidemiologi. Terdapat 7 elemen didalam strategi melakukan kajian di tempat kerja diantaranya adalah :

1. Start (Tahapan Awal yang menentukan tujuan dari kajian pajanan);

2. Basic Characterization;

3. Exposure Assessment (acceptable exposure, uncertain & unacceptable exposure);

4. Future Information Gathering;

5. Health Hazard Control;

6. Re-Assessment;

7. Communication & Documentation.

Langkah Pertama :

Menentukan tujuan kajian pajanan (exposure assessment goals). Pada tahapan ini anda dapat menentukan tujuan kajian yang akan digunakan apakah Compliance Monitoring (Monitoring kepatuhan terhadap peraturan) atau Comprehensive Exposure Assessment (Kajian pajanan komprehensif). Apabila anda mengunakan Compliance Monitoring (Perlu diingat bahwa fokus dari kajian ini adalah kepatuhan kepada persyaratan/peraturan yang ditetapkan) maka hasil yang diperoleh akan dibandingkan dengan NAB ( Nilai Ambang Batas) atau Occupational Exposure Limit (OEL) yang telah ditetapkan. Hal ini akan berbeda dengan Comprehensive Exposure Assessment yang berfokus pada detail kajian pajanan seperti pola & waktu kerja, varibilitas pekerja, daily exposure dan lainnya dimana data yang diperoleh nantinya dapat digunakan untuk kebutuhan studi epidemiologi (Support epidemiological studies).

Langkah Kedua :

Mengumpulkan informasi dan data mengenai karaterisasi dasar (Basic Characterization) pajanan. salah satu cara yang dilakukan adalah dengan melakukan Walkthrough Survey. diantara beberapa informasi yang dibutuhkan antara lain adalah :

1. Informasi tempat kerja termasuk Proses Kerja/Operasi/Kegiatan yang dilakukan;

2. Informasi Tenaga Kerja termasuk Karakteristik Pekerja & pola kerja;

3. Informasi Bahan kimia yang terdapat ditempat kerja baik sifat, kandungan bahaya & jumlah yang digunakan;

4. Sumber, Proses dan Kapan pekerja terpajan bahan kimia berbahaya;

5. Efek atau dampak kesehatan yang mungkin timbu, mekanisme toksisitas dan nila dari NAB/OEL dari suatu bahan kimia;

6. Sistem Kendali yang diterapkan dan digunakan termasuk Engineering Control, Administrative contro, Work Practice & PPE

Langkah Ketiga :

(6)

1. Menetapkan kelompok pajanan serupa (Similiar Exposure Group's). kelompok ini adalah sekelompok pekerja dengan profil dengan pajanan serupa seperti kesamaan dalam melakukan tugas, kesamaan frekuensi dalam melakukan tugas, kesamaan material yang digunakan, kesamaan proses pekerjaan dan kesamaan dalam metode yang digunakan dalam bekerja. untuk dapat menentukan SEG anda dapat melakukan observasi dan pengkajian terhadap hasil survey sebelumnya atau kombinasi keduanya.

2. Menentukan profil pajanan pada setiap SEG hal ini digunakan untuk mengestimasi intensitas pajanan dan variasi pajanan selama periode waktu untuk pekerja dalam kelompok SEG. beberapa pendekatan yang dapat digunakan antara lain adalah Penilian kualitatif (berdasarkan observasi di TK), Penilian Kualitatif yang didukung oleh Exposure Rating (Simplified Modeling Approches); Skema penilaian diberikan dalam panduan AIHA pendekatan lainnya adalah HSE's COSHH Essentials atau Skema Control Banding; Pengkuran secara semi-kuantitatif atau pengambilan sampel area (area sampling) atau static sampling; Survey untuk mengukur pajanan pekerja. hal ini direkomendasikan terutama untuk lokasi kerja ketika pajanan melebihi 10% dari OEL; Study Literature (Memperoleh data & informasi dari literatur pada industri yang serupa; Modeling Pajanan (exposure modeling)

& Surrogate Data, menilai pajanan pada suatu agens berdasarkan pada data yang diperoleh untuk zat yang serupa lainnya.

3. Membandingkan exposure dengan Occupational Exposure Limit dan menentukan apakah pajanan dapat diterima. beberapa hal yang perlu dihindari adalah ketidakpastian data yang diperoleh dari sampel yang diperoleh hal ini juga dipengaruhi oleh bervariasinya pajanan pada pekerja. sehingga professional judgement sangat diperlukan untuk menentukan apakah suatu pajanan accepatableatau unacceptable dan ini merupakan proses kajian pajanan (exposure assessment). Tentunya hasil yang ditemukan akan berujung kepada efektifitas dari tindakan pengendalian (control measure) yang diterapkan, sehingga perlu dilakukan kajian berkelanjutan untuk memastikan bahwa exposure dari suatu pajanan benar-benar dikendalikan.

Pengumpulan data dan informasi yang akurat serta metedologi dan pengukuran yang tepat akan menekan nilai uncertain sehingga data yang dihasilan akan lebih akurat.

Langkah Keempat

Langkah Keempat adalah pengumpulan data lebih lanjut dilakukan jika pajanan tidak diketahui secara pasti dan tingkat pajanan tidak dapat ditentukan serta untuk pajanan dengan high exposure rate. terdapat 5 pendekatan monitoring yang dapat dilakukan diantaranya adalah exposure monitoring, exposure modeling, Biological Monitoring,Toxicological data generation dan Epidemiological data generation.

Langkah Kelima

Health hazard control diperlukan untuk tingkat pajanan yang berada pada tingkat pajanan tidak dapat diterima (unacceptable), Apabila pada Similiar Exposure Group's terdapat profil pajanan yang tidak dapat diterima, maka hal ini merupakan daftar prioritas untuk dilakukan pengendalian.

Langkah Keenam

Re-Assessment sangat diperlukan untuk melakukan evaluasi secara periodik terhadap hasil kajian pajana serta menentukan apakah monitoring rutin diperlukan pada level yang berbeda serta untuk memvalidasi hasli justifikasi untuk pajanan yang dapat diterima serta menyakinkan proses operasi tidak berjalan diluar kendali dan untuk melakukan update terhadap profil

pajanan dan Similiar Exposure Group's.

(7)

Re-Assessment terkait juga dengan Management of Change (MoC) untuk membantu mengidentifikasi perubahan yang terjadi pada proses produksi, material ataupun perubahan pekerja yang dapat mempengaruhi atau memperburuk kondisi pajanan. kajian ini diperlukan pada kondisi ketika terjadi perubahan, antara lain Peningkatan/penurunan laju produksi, peningkatan/penurunan energi yang digunakan untuk produksi, pekerja baru atau pekerja yang belum terlatih, Perubahan NAB, ditemukannya data toksisitas yang baru dan perubahan material baik pengunaan bahan kimia baru maupun jika terjadi sifat fisik dan kimia.

Langkah Ketujuh

Komunikasi dan Dokukmentasi, elemen ini merupakan bagian yang terpenting, yaitu mengkomunikasikan hasil kajian pajanan & dokumentasi hasil kajian tersebut kepada semua pihak dalam kelompok Similiar Exposure Group's hal ini mencakup list of Similiar Exposure Group's, profil pajanan, justifikasi yang dibuat untuk tingkat pajanan yang dapat diterima, Program dasar dan baseline and routine monitoring programs serta pengendalian bahaya dan implementasinya.

Referensi

Dokumen terkait

Penentuan batasan debit bertujuan untuk menyatakan banyaknya nilai debit air sungai yang tidak memenuhi atau berada di bawah ambang batas debit minimum pada suatu

Radiasi sinar las dapat menyebabkan berbagai cedera pada mata salah satunya penurunan visus, penelitian ini diharapkan dapat menentukan ambang batas lama paparan

Dari data kelelahan tersebut dapat dikatakan bahwa tenaga kerja yang berada pada Extruder dengan intensitas kebisingannya diatas Nilai Ambang Batas (NAB) sistem

Berdasarkan penelitian di atas didapatkan kesimpulan bahwa kadar kandungan residu pestisida golongan organofosfat masih berada di bawah ambang batas BMR yang

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Lokan dan Sepetang dari perairan utara pulau Bengkalis ini masih berada di bawah ambang batas tercemar logam berat

Data UNDP menyebutkan, Indeks Kemiskinan Manusia (Human Poverty Index-HPI) yang memfokuskan perhatiannya pada proporsi manusia yang berada di bawah ambang batas

 Salah satu karakteristik pendengaran manusia adalah memiliki batas frekuensi 20 Hz s/d 20 kHz, dimana suara yang memiliki frekuensi yang berada di bawah ambang batas ini tidak

Secara keseluruhan, kandungan logam berat tersebut masih berada di bawah ambang batas yang diijinkan Dari data hasil pengukuran dapat diambil kesimpulan bahwa penyebab terjadinya