PELANGGARAN PEMILU
Mhd Yusrizal Adi S, SH.MH Fakultas Hukum
Universitas Medan Area Medan
2020
Pendahuluan
•
Pemilu dalam prespektif demokrasi dapat dikatakan sebagai prosedur tertentu yang waktunya ditetapkan secara teratur untuk memiliki atau rekruitmen wakil-wakil rakyat serta pemimpin rakyat yang dapat merepresentasikan kepentingan-kepentingan dan kebutuhan rakyat dalam kerangka mengembangkan kesejahteraan bersama.
•
Oleh karena itu sistem demokrasi itu tidak cukup hanya dengan
Pemilu yang hanya bersifat procedural, melainkan pemilu harus
mampu memberikan suatu kompetisi yang fair untuk memiliki wakil
(representasi rakyat) dan pemimpin rakyat yang memiliki kompetensi
dan integrasi yang memadai.
•
Pemilu dalam prespektif demokrasi harus dapat dilaksanakan melalui prinsip bebas, jujur, dan kompetitif. Kondisi ini hanya mungkin dapat terjadi apabila ada kebebasan berpendapat, berkumpul, dan pers, serta jika kandidat dan partai opisisi dapat melakukan kritik terhadap penguasa tanpa ketakutan akan terjadinya pembalasan.
•
Penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis tercermin dalam
recuitment kepala pemerintahan dan anggota perwakilan
(DPR,DPD,DPRD) seta cara pengambilan keputusan yang berkaitan
dengan kepentingan publik oleh lembaga yang diberikan kewenangan
dan tugas untuk kepentingan itu.
• Pemilu merupakan bagian dari elemen demokrasi yang harus dijadikan sarana untuk mengukur legitimasi Parpol termasuk Parpol dan calon-calon indepent yang akan maju menjadi pemimpin
• Sebagai legitimasi gagasan parpol, maka organ partai politik
peserta Pemilu harus memiliki gagasan segar sebagai solusi
terhadap masalah kebangsaan dan kenegaraan yang oleh
sebagian besar masyarakat dapat diterima dan didukung
sebagai gagasan solutif yang akan berdampak pada tumbuhnya
kepercayaan masyarakat terhadap parpol tersebut
• Sebagai wadah demokrasi, tidak jarang pemilu diwarnai dengan pelanggaran-pelanggaran baik dalam pelaksanaannya atau pun sebelum pemilu tersebut terjadi.
• Kecurangan-kecurangan yang dilakukan untuk memperoleh
kemenangan dalam pemilu merupakan jalan salah untuk
memperoleh kekuasaan dalam sistem pemerintahan baik
dalam bidang legislatif maupun bidang eksekutif. Oleh karena
itu, dibutuhkan hukum yang kokoh untuk menghindari
pelanggaran, kecurangan tersebu terjadi. Hukum pemilu juga
dibutuhkan untuk mencegah terjadinya tindak pidana pemilu
terjadi.
• Dibutuhakn Penegakan hukum yang baik untuk merespons kecurangan dan pelanggaran serta tindak pidana yang terjadi dalam pemilu.
• Penegakan Hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma- norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalu-lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Jika melihat pada standar terakhir
(kepatuhan dan penegakan hukum pemilu), adalah penting untuk memastikan pelaksanaan pemilu yang adil.
• Berkaitan dengan standar tersebut, dikemukakan bahwa:
“Kerangka hukum harus menyediakan bagi setiap pemilih, kandidat, dan partai politik kesempatan untuk menyampaikan keberatan kepada pihak KPU yang atau pengadilan yang berwenang ketika pelanggaran atas hak-hak kepemiluan jelas terjadi. Undang-undang harus mempersyaratkan lembaga KPU atau pengadilan memberikan keputusan segera untuk menghindari pihak yang dirugikan hilang hak pemilunya. Undang-Undang harus memberikan kesempatan untuk mengajukan gugatan pada pihak KPU yang lebih tinggi atau pengadilan dengan otoritas mengkaji dan membuat keputusan yurisdiksi terkait kasus tersebut. Keputusan akhir pengadilan harus dikeluarkan dengan segera”
Pelanggaran dalam Pemilu
•
Di dalam Pasal 93 UU No. 7 tahun 2017 dikatakan bahwa salah satu tugas dari Bawaslu adalah melakukan pencegahan dan penindakan terhadap:
1. pelanggaran Pemilu; dan
2. sengketa proses Pemilu;
•
Bawaslu dalam melakukan Penindakan terhadap Pelanggaran Pemilu sebagaimana yang telah ditentukan dalam Pasal 93 huruf b maka
Bawaslu bertugas sebagai berikut:
1. Menerima, memeriksa dan mengkaji dugaan pelanggaran Pemilu;
2. Menginvestigasi dugaan pelanggaran Pemilu;
3. Menentukan dugaan pelanggaran administrasi Pemilu, dugaan pelanggaran kode etik Penyelenggara Pemilu, danTatau dugaan tindak pidana Pemilu; dan
4. Memutus pelanggaran administrasi Pemilu
Di dalam Pasal 95 Bawaslu memiliki kewenangan untuk :
1. Menerima dan menindaklanjuti laporan yang berkaitan dengan dugaan adanya pelanggaran terhadap lelaksanaan peraturan perundang- undangan yang mengatur mengenai Pemilu
2. Memeriksa, mengkaji, dan memutus pelanggaran, administrasi Pemilu;
3. Memeriksa, mengkaji, dan memutus pelanggaran politik uang;
4. Menerima, memeriksa, memediasi atau mengadjudikasi, dan memutus penyelesaian sengketa proses Pemilu;
5. meminta bahan keterangan yang dibuhrhkan kepada pihak terkait dalam rangka pencegatran dan penindakan pelanggaran administrasi, pelanggaran kode etik, dugaan tindak pidana Pemilu, dan sengketa proses Pemilu
• Perundangan-undangan pemilu harus melindungi proses politik dari pelanggaran, rintangan, pengaruh buruk, kepentingan tertentu, penipuan, kecurangan, intimidasi, dan segala bentuk tindakan ilegal, dan praktik korup.
• Sanksi nonpidana maupun pidana harus dijatuhkan terhadap pelanggaran oleh penyelenggara pemilu maupun penegak hukum. Kesempatan untuk menggugat hasil pemilu dan penyelesaian masalah bagi pihak yang dirugikan harus disediakan oleh undang-undang. Proses pengajuan keberatan dan laporan pelanggaran harus diatur. Dampak pelanggaran terhadap hasil pemilu juga harus diatur di dalam undang-undang.
• Setiap pihak yang mengajukan keberatan, menyangkal hasil pemilu atau hak partai politik lainnya harus mendapat akses atas keadilan dan penyelesaian masalah
Terkait penegakan hukum pemilu tersebut, setidaknya ada tiga hal yang mesti diberi perhatian mendalam.
1. Pertama, berkaitan dengan perlindungan proses politik dari pelanggaran, rintangan, pengaruh buruk, kepentingan tertentu, penipuan, kecurangan, intimidasi, dan segala bentuk tindakan ilegal, dan praktik korup. Sanksi nonpidana dan pidana harus dijatuhkan kepada para pelanggarnya. Ketentuan ini menitikberatkan pada hukum substansi atau materiil seperti jenis- jenis pelanggaran, dan sanksi terhadap pelanggaran. Tujuan yang ingin dicapai adalah
“perlindungan proses pemilu dari kecurangan”. Penegakan hukum merupakan faktor pencegah terhadap pelanggaran atau kecurangan yang mengancam integritas pemilu. Setiap pelanggaran harus dikoreksi. Institusi yang berbeda dengan mekanismenya masing-masing dapat bertanggung jawab untuk menegakkan integritas itu, yang secara spesifik tertuang dalam kerangka hukum.
2. Kedua, terkait dengan hak untuk menggugat hasil pemilu dan pihak yang dirugikan untuk menyelesaikan masalah. Hal ini harus termuat dalam undang-undang. Proses petisi pemilu harus mengatur berbagai hal yang diperlukan. Ketentuan tersebut memberikan penekanan terhadap hukum acara seperti bagaimana pihak yang dirugikan (kandidat atau partai politik) dalam pemilu dapat memperjuangkan haknya dengan memprotes hasil pemilu.
• Penting bagi tersedianya batasan waktu untuk penanganan kasus pemilu. Proses yang bekepanjangan dapat membuat ketidakstabilan sensitif pada politik, dan akhirnya menuju ketidakpastian. Berkaitan dengan alasan-alasan tersebut, penting bahwa keberatan pemilu dapat diselesaikan secara cepat, efisien, dan transparansi yang maksimal dan akuntabel.
Selain itu, penting juga gugatan tidak menghambat proses pemilu.
• Keterlambatan dalam membentuk parlemen dan
pemerintahan juga akan berujung pada ketidakpastian politik
dan sipil
• Ketiga, berhubungan dengan dampak pelanggaran terhadap hasil
pemilu. Bentuk ketentuan ini harus disusun oleh undang-undang.
Berkaitan dengan ini ditekankan apakah negara mempunyai kerangka
hukum yang menggabungkan aturan tentang dampak pelanggaran
dengan hasil pemilu. Dengan ketiadaan ketentuan tersebut, putusan
pidana atas tindak pidana pemilu yang dilakukan tidak akan
memberikan dampak terhadap hasil pemilu –oleh karenanya tidak
akan berjalan efektif. Kelemahan dari ketentuan ini akan mendorong
beberapa partisipan untuk memobilisasi suara melalui cara negatif
atau cara yang ilegal karena implikasi pelanggaran yang tidak signifikan,
misalnya ancaman diskualifikasi atas kursi yang telah diperoleh.
Larangan dalam Pemilu
Pelaksana, Peserta, tim kampanye, dilarang untuk:
1. Mempersoalkan dasar negara Pancasila, pembukaan‘ Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, Tahun 1945, dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia;
2. Melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesiaf : 3. Menghina seseorang, agana, sulnl, ras, golongan, calon, dan/atau Peserta Pemilu yang lain 4. Menghasut dan mengadu domba perseorangan ataupun masyarakat;
5. Mengganggu ketertiban umum;
6. Mengancam untuk melakukan kekerasan atau menganjurkan penggunaan kekerasan kepada seseorang, sekelompok anggota masyarakat, dan/atau peserta Pemilu yang lain;
7. Merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye Peserta Pemilu;
8. Menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan
9. Membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut selain dari tanda gambar dan/atau atribut peserta pemilu yang bersangkutan
10. Menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada peserta Kampanye pemilu.
• Pelaksana dan/atau tim kampanye dalam kegiatan Kamparrye Pemilu dilarang mengikutsertakan:
1. Ketua, wakil ketua, ketua muda, hakim agung pada Mahkamah Agung, dan hakim pada semua badan peradilan di bawah Mahkamah Agung, dan hakim konstitusi pada Mahkamah Konstitusi;
2. Ketua, wakil ketua, dan anggota Badan pemeriksa Keuangan
3. Gubernur, deprrti gubernur senior, dan deputi gubernur Bank Indonesia;
4. Direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah; :
5. Pejabat negara bukan anggota partai politik yang menjabat sebagai pimpinan di lembaga nonstruktural;
6. Aparatur sipil negara;
7. Anggota Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia;
8. Kepala Desa;
9. Perangkat Desa;
10. Anggota Badan Permusyawaratan Desa; dan
11. Warga Negara Indonesia yang tidak memiliki hak memilih.
• Pelanggaran terhadap larangan ketentuan menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon,dan/atau Peserta Pemilu yang lain;
1. Mengancam untuk melakukan kekerasan atau menganjurkan penggunaan kekerasan kepada seseorang, sekelompok anggota masyarakat, dan/atau peserta Pemilu yang lain;
2. Merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye Peserta Pemilu 3. Membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut selain
dari tanda gambar dan/atau atribut peserta pemilu yang bersangkutan 4. Menjaniikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada peserta
Kampanye pemilu.
5. Ketentuan Pasal 280 ayat (2) UU No. 7 tahun 2017 merupakan tindak pidana Pemilu
Berdasarkan ketentuan Pasal 454 UU No. 7 tahu 2017 bahwa:
• Pelanggaran Pemilu berasal dari temuan pelanggaran Pemilu dan laporan pelanggaran Pemilu.
• Temuan pelanggaran Pemilu merupakan hasil pengawasan aktif Bawaslu, Bawaslu Provinsi, Bawaslu Kabupaten/Kota, Panwaslu Kccamatan, Panwaslu Kelurahan/Desa, Panwaslu LN, dan Pengawas TPS pada setiap tahapan Penyelenggaraan Pemilu.
• Laporan pelanggaran Pemilu merupakan laporan langsung Warga Negara Indonesia yang mempunyai hak pilih, Peserta Pemilu, dan pemantau Pemilu kepada Bawaslu, Bawaslu Provinsi, Bawaslu Kabupaten/ Kota, Panwaslu Kecamatan, Panwaslu Kelurahan/Desa, Panwaslu LN, dan/atau Pengawas TPS pada setiap tahapan Penyelenggaraan Pemilu.
1. Pelanggaran Kode Etik KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, Bawaslu, Bawaslu Provinsi, dan Bawaslu Kabupaten/ Kota, diteruskan oleh Bawaslu, Bawaslu Provinsi, dan/ atau Bawaslu Kabupaten/ Kota kepada DKPP;
2. Pelanggaran administratif Pemilu diproses oleh Bawaslu, Bawaslu Provinsi, Bawaslu lkbupaten/Kota, Panwaslu Kecamatan, Panwaslu Kelurahan/Desa, Panwaslu LN, dan Pengawas TPS sesuai dengan kewenangan masing-
masing; dan
3. Pelanggaran terhadap perahrran perundang-undangan lainnya yang bukan pelanggaran Pemilu, bukan sengketa Pemilu, dan bukan tindak pidana
Pemilu:
a. Diproses oleh Bawaslu, Bawaslu Provinsi, Bawaslu Kabupaten/Kota, Panwaslu Kecamatan, Panwaslu Kelurahan/Desa, Panwaslu LN, dan Pengawas TPS sesuai dengan kewenangan masing-masing; dan/atau b. Diteruskan kepada instansi atau pihak yang berwenang