• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMAKZULANPRESIDENDALAMKONSTITUSIDIINDONESIA

N/A
N/A
Wida Andina

Academic year: 2024

Membagikan "PEMAKZULANPRESIDENDALAMKONSTITUSIDIINDONESIA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

KETENTUAN PEMAKZULAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN DALAM KONSTITUSI DI INDONESIA

Andoko,SH.I..,M.Hum

Dosen Universitas Pembangunan Pancabudi Medan

Abstrak

Pemakzulan Dalam Sistem Ketatanegaraan. Makalah ini bertujuan: Untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana pengaturan pemakzulan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia; Untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana proses hukum dalam mekanisme pemakzulan sebelum dan sesudah amandemen amandemen UUD 1945; dengan menggunakan Metode Normatif Penelitian dilakukan dalam hal ini penelitian adalah literatur. Impeachment dari Presiden dan Wakil Presiden atas jabatannya bukanlah hal baru dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Baik sebelum amandemen dan sesudahnya amandemen UUD 1945.

UUD 1945 hasil amandemen sudah menetapkan ketentuan tentang pemakzulan Presiden dan Wakil Presiden sebagai kepala Negara. Mahkamah Konstitusi dalam proses pemakzulan mempunyai kewajiban memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden.

Mahkamah Konstitusi memeriksa dan mengadili pendapat DPR atas kinerja Presiden dan/atau Wakil Presiden yang dianggap memenuhi Pasal 7A UUD NRI 1945. Pemeriksaan yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi merupakan proses peradilan yang putusannya berupa putusan justisil. Hasil dari proses pemakzulan sangat bergantung pada keputusan MPR dalam rapat paripurna yang merupakan forum politik, di mana Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan atau tidak diberhentikan. Putusan Mahkamah Konstitusi tidak mengikat MPR sehingga sangat memungkinkan adanya perbedaan antara putusan yuridis yang dikeluarkan Mahkamah Konstitusi dengan keputusan MPR dalam rapat paripurna yang bersifat politis. Keterlibatan Mahkamah Konstitusi dalam proses pemakzulan berbeda di masing-masing negara, tergantung pada sistem pemerintahan yang dimiliki oleh negara tersebut, serta bergantung pada kewenangan yang diberikan oleh Konstitusi kepada Mahkamah Konstitusi dalam proses pemakzulan.

Kata kunci: kewenangan, mahkamah konstitusi, pemakzulan

A.Pendahuluan

Impeachment diartikan sebagai proses peradilan pidana terhadap pejabat publik yang diselenggarakan di hadapan Senat, disebut pengadilan politik semu.

Proses pemakzulan dimulai dengan pasal impeachment, yang fungsinya mirip dengan dakwaan peradilan pidana. Pemakzulan Proses merupakan salah satu kewenangan yang dimiliki oleh lembaga legislatif sebagai bentuk kontrol

(2)

parlementer berfungsi atas tingkah laku setiap pejabat publik yang diamanatkan oleh rakyat untuk menjalankan tugas dan kewajibannya. Jika pejabat publik melakukan pelanggaran selama nya masa jabatan dalam hukum konstitusi atau hukum positif, maka yang bersangkutan dapat dihadapkan dengan proses pemakzulan yang mengarah pada pencopotan jabatannya. Pemakzulan dirancang sebagai instrumen untuk "menegur" kesalahan, penyalahgunaan dan pelanggaran kepercayaan publik terhadap seseorang memegang jabatan publik.1

Ide negara konstitusional dibangun oleh perkembangan hukum sebagai sistem yang fungsional dan berkeadilan, dikembangkan dengan menata suprastruktur dan infrastruktur kelembagaan politik, ekonomi dan sosial secara tertib dan organi semangat, serta dibina dengan menciptakan budaya dan kesadaran hukum rasional dan imperonal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Makanya, sistem hukumnyaNperlu dibangun (pembuatan hukum) dan ditegakkan (hukum penegakan) sebagaimana mestinya, dimulai dengan konstitusi sebagai kedudukan hukum tertinggi. untuk memastikan penegakan konstitusi sebagai " wali konstitusi.2

Konstitusi adalah bentuk kesepakatan semua orang (kesepakatan umum) yang terkait dengan membangun negara yang ideal. Konstitusi berlaku sebagai hukum tertinggi karena merupakan bentuk kontrak sosial tertinggi dari semua orang yang berdaulat di suatu negara. Dengan demikian, mengubah konstitusi juga merupakan perubahan kontrak sosial sesuai dengan perkembangan dan pengalaman dari masyarakat itu.3 Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) mengubah prasyarat penting untuk membangun sistem ketatanegaraan dan sistem politik yang lebih demokratis yang mengedepankan kedaulatan rakyat, keseimbangan (check and balances) antara cabang kekuasaan dan jaminan manusia hak. Perubahan UUD 1945 adalah salah satu yang penting dan langkah mendasar untuk mengawasi reformasi dan mengantarkan bangsa Indonesia menuju demokrasi yang terkonsolidasi.4

UUD 1945 telah mengalami perubahan mendasar, yaitu pembentukan Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut MK) yang ditentukan dalam UU No.

Bagian 7B, Pasal 24 dan Pasal 24C dari UUD 1945 (selanjutnya disebut UUD NRI 1945). Lembaga negara baru ini merupakan perwujudan dari kekuasaan otoritasnya sendiri di luar Mahkamah Agung.5 Berdasarkan amandemen UUD NRI 1945, Konstitusi Mahkamah berwenang menguji konstitusi,

1 Raoul Berger. Impeachment: The Constitutional Problems (Cambridge: Harvard University Press, 1974)

2 Aninditya Eka Bintari, ”Mahkamah Konstitusi sebagai Negative Legislator dalam Penegakan Hukum Tata Negara”, Jurnal Pandecta, Vol. 8 No. 1, January 2013, Semarang: Faculty of Law Universitas Negeri Semarang, page 84.

3 Weldy Agiwinata, “Konvensi Ketatanegaraan sebagai Batu Uji dalam Pengujian Undang- Undang di Mahkamah Konstitusi”, Jurnal Yuridika, Vol. 29 No. 2, May 2014, Surabaya: Faculty of Law Universitas Airlangga, page 162

4 See Watiah and Kusriyah, “Tinjauan Yuridis Hubungan Lembaga Negara antara DPD dengan DPR dalam Sistem Bicameral”, Jurnal Hukum Khaira Ummah, Vol. 3 No. 2, September 2008, Semarang:MIH UNISSULA, page 186.

5 Dian Utami Mas Bakar, “Pengujian Konstitusional UndangUndang Pengesahan Perjanjian Internasional”, Jurnal Yuridika, Vol. 29 No. 3, September 2014, Surabaya: Faculty of Law Universitas Airlangga, page 288

(3)

memutus sengketa kewenangan lembaga negara, pembubaran partai politik, sengketa hasil pemilu, dan memeriksa, menilai, dan memutuskan pendapat DPR Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang dugaan tersebut pelanggaran hukum oleh Presiden dan / atau Wakil Presiden

Presiden berdasarkan UUD NRI 1945.

Ide pembentukan Mahkamah Konstitusi bermula dari perdebatan di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) setelah UUD NRI 1945 amandemen kedua tahun 2001, soal kemungkinan menjadi Presiden tidak bisa diberhentikan secara politik oleh DPR dalam sistem pemerintahan presidensial. Itu polemik tentang legalitas, kepatutan dan konsistensi membangun dan memperkuat sistem presidensial, terutama ketika Presiden Abdurrahman Wahid diberhentikan di tengah masa jabatannya sebagai presiden.6 Proses pemakzulan Presiden dan / atau Wakil Presiden dalam UUD NRI 1945 tidak diatur secara tegas tentang kewenangan konstitusional

Pengadilan memeriksa pendapat DPR atas dugaan pelanggaran hukum oleh Presiden dan / atau Wakil Presiden. Masalahnya diangkat dalam pengajuan dugaan pelanggaran hukum ke Mahkamah oleh DPR, tidak otomatis mengikat MPR. Berdasarkan konstruksi Pasal 7B ayat (7) UUD NRI 1945 memungkinkan MPR mengesampingkan keputusannya sekalipun Presiden dan / atau Wakil Presiden terbukti melanggar hukum. Berdasarkan substansinya Pasal 7B ayat (7) UUD NRI 1945 di atas, mengatakan itulah fungsi Mahkamah Konstitusi dalam konteks pemakzulan Presiden dan / atau Wakil Presiden tidak efektif, karena Putusan Mahkamah Konstitusi tidak mengikat tentang anggota MPR. Artinya, rapat paripurna MPR bisa saja menghasilkan keputusan yang berbeda dengan keputusan Mahkamah Konstitusi. Pelaksanaan kekuasaan Mahkamah Konstitusi dalam UUD NRI 1945 cenderung lebih menekankan aspek prosedural daripada aspek substantif dari proses pemakzulan itu sendiri.

Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan7 sehingga Proses pemberhentian Presiden / atau Wakil Presiden hanya dapat dilakukan setelah Proses ketatanegaraan disahkan melalui Mahkamah Konstitusi (MK) yang akan memeriksa, mengadili dan memutuskan pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan / atau Wakil Presiden

telah melanggar hukum berupa makar terhadap negara, korupsi, tindak pidana berat lainnya pelanggaran, kesalahan, atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden.

Indonesia dalam sejarah ketatanegaraannya sudah dua kali menggulingkan presiden. Ini Pengalaman sejarah telah menimbulkan kontroversi atas proses dan mekanisme dan alasan yang digunakan untuk menjatuhkan seorang presiden. Dari proses keruntuhan keduanya Presiden Indonesia, dan alasannya digunakan dengan berbagai dialektika Negara Secara administrasi, dalam hal sistem pemerintahan yang dianut oleh Indonesia, terdapat kebingungan antara sistem pemerintahan Presidensial dan sistem pemerintahan parlementer. Itu Proses pemakzulan kedua Presiden Republik Indonesia saat ini Presiden Soekarno dan Presiden

6 Ahmad Syahrizal, “Problematik Implementasi Putusan MK”, Jurnal Konstitusi, Vol. 4 No.

1, March 2007, Jakarta: MKRI, page 107

7 Pasal 4 Ayat (1) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesi

(4)

Abdurrahman Wahid. Dua eksekusi pemakzulan yang terjadi di Indonesia membuat kebingungan ketatanegaraan dari sisi yuridis dan tidak jarang menimbulkan baik material maupun kerusakan immaterial jika dilihat dari aspek sosial masyarakat. Oleh karena itu sudah waktunya untuk Indonesia memiliki aturan dan mekanisme (rule of the game) yang jelas ada bermacam-macam proses administrasi negara, terutama dalam kasus pemakzulan. Berdasarkan uraian latar belakang yang telah diuraikan diatas, masalah-masalah yang penulis hadapi yang dibahas dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana pengaturan pemakzulan di Indonesia sistem ketatanegaraan dan bagaimana proses hukum dalam mekanisme pemakzulan sebelumnya amandemen dan setelah amandemen UUD 1945. Detail nya yang akan dijelaskan di bab selanjutnya.

B. Rumusan Masalah

Agar tulisan ini lebih terarah, penulis menentukan di rumusan masalah seperti:

1. Bagaimana pengaturan pemakzulan di Indonesia sistem ketatanegaraan?

2. Bagaimana proses hukum dalam mekanisme pemakzulan sebelum amandemen dan setelah amandemen konstitusi di Indonesia?

C. Metodologi Penelitian

Penelitian hukum merupakan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan kepastian pemikiran, yang bertujuan untuk mempelajari sesuatu atau beberapa fenomena hukum tertentu dengan cara menganalisis mereka.8 Penelitian dalam makalah ini menggunakan model penelitian hukum normatif seperti halnya dalam penelitian studi hukum lainnya. Kajian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Metode (metode) itu yang dapat dilakukan adalah studi dokumen (studi dokumenter). Artinya, dalam penelitian ini akan dikaji ulang kritis setiap literatur seperti peraturan perundang-undangan, buku, artikel, jurnal, majalah, dan lainnya materi terkait isu impeachment (impeachment) di Indonesia.

Karena penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif maka data yang dikumpulkan merupakan data sekunder. Data sekunder diperoleh dari bahan hukum yang mengikat dan berkaitan dengan obyek penelitian ini. Yaitu: Tahapan analisis dan penyajian data menempati posisi yang cukup menentukan dalam penelitian ini. Data yang dikumpulkan, baik bahan hukum primer, sekunder, tersier maupun informasi dari ahli dianalisis menggunakan instrumen teoritis atau konseptual seperti dalam kerangka untuk membahas atau memberikan jawaban atas masalah penelitian ini. Mengingat target data bersifat yuridis, Analisis data dilakukan dengan analisis kualitatif dan hasilnya disajikan secara deskriptif untuk Analisis data dilakukan dalam suatu proses, yaitu pelaksanaannya telah dilakukan sejak Pengumpulan data dilakukan secara intensif hingga pendataan selesai dilakukan. Proses dari Analisis ini dilakukan hampir bersamaan dengan interpretasi data dilakukan segera tanpa harus menunggu jumlah data yang

8 Soeryono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1981) p. 43.

(5)

terkumpul. Sebelum dianalisis, diperoleh data kemudian diolah dengan terlebih dahulu melakukan seleksi dan klarifikasi secara logis, sistematis, dan yuridis.

Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang bersifat deskriptif, kemudian datanya dianalisis secara kualitatif.

D. Analisis dan Pembahasan

I. Pengaturan Ketentuan Pemakzulan Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia

Salah satu dinamika ketatanegaraan yang jelas menunjukkan hubungan erat antara proses hukum dan politik adalah proses memberhentikan Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Proses pemberhentian Presiden dikenal dalam praktik ketatanegaraan di banyak negara, biasa disebut impeachment.9 Menurut Mahmud MD ada dua model pemakzulan Presiden dan / atau Wakil Presiden, yaitu diberhentikan secara politik (impeachment) dan pemberhentian melalui pengadilan khusus. forum (previli-giatum). Pasal 7A dan 7B merangkul kedua model impeachment dan previligiatum sekaligus. Pemberhentian oleh MPR adalah salah satu bentuk dari model pemakzulan dan penilaian oleh Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu model bentuk previligiatum.

Intervensi Konstitusi Pengadilan sedang dalam proses memberhentikan Presiden berharap pemecatan presiden tersebut tidak semata-mata atas dasar politik tetapi juga alasan hukum.10 Pemakzulan adalah salah satu mekanismenya yang secara konstitusional disediakan oleh UUD NRI 1945 untuk menggantikan Presiden dan / atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya jika ditemukan pelanggaran hukum. Pemakzulan Presiden oleh para ahli dikenal sebagai peristiwa politik luar biasa di Sistem Pemerintahan Presidensial11 Pendakwaan adalah tindakan retributif hukum berdasarkan alat bukti hukum. Berbeda dengan impeachment, impeachment adalah prosedur dimana pejabat publik terpilih, didakwa melakukan perbuatan melawan hukum. Proses politik pengajuan pendapat DPR untuk membuktikan apakah Presiden dan / atau Wakil Presiden telah melanggar hukum atau tidak oleh Mahkamah Konstitusi adalah proses impeachment, sedangkan konsep impeachment adalah sebuah putusan untuk memberhentikan Presiden dan / atau Wakil Presiden atas pelanggaran yang telah dilakukan selesai.12

Berdasarkan Pasal 7A UUD NRI 1945, Presiden dan / atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh MPR setelah MPR rekomendasi Dewan Perwakilan Rakyat, jika terbukti melanggar undang-undang di DPR bentuk pengkhianatan, korupsi, penyuapan, tindak pidana atau perbuatan tidak

9 Eko Noer Kristianto, “Pemakzulan Presiden Republik Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945”, Jurnal Rechtsvinding, Vol. 2, No. 3, Dec. 2013, Jakarta:BPHN, page 332.

10 Hananto Widodo, “Politik Hukum Interpelasi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia”, Jurnal Rechtsvinding, Vol. 1 No. 3, Dec. 2012, Jakarta: BPHN, page 433

11 Putusan Mahkamah Konstitusi No. 23-26 / PUU-VII / 2010 bagian keterangan ahli, Saldi Isra, hal. 47

12 M. Ilham Hermawan and Dian Purwaningrum, “Mekanisme Pemberhentian Presiden (Impeachment) dan Kritik Substansi Pengaturannya Di Indonesia”, Jurnal Ilmu Hukum Amanna Gappa, Vol. 20, No. 2, June 2012, Makasar: Faculty of Law Universitas Hasanuddin, page 157

(6)

senonoh lainnya, dan jika tidak memenuhi syarat kembali sebagai Presiden dan / atau Wakil Presiden. Artikel 7B ayat (1) UUD NRI 1945 menunjukkan bahwa proses pemakzulan setelah amandemen UUD NRI 1945 melibatkan tiga lembaga negara, yaitu DPR, Konstitusi Pengadilan, dan MPR. Adanya Konstitusional Pengadilan sebagai salah satu pemegang otoritas kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia adalah implementasi gagasan ketatanegaraan dan memperkuat mekanisme pengawasan.13

Sejarah ketatanegaraan Indonesia memiliki dua pemakzulan Presiden yaitu Presiden Soekarno dan Presiden Abdurrahman Wahid. Presiden Abdurrahman Wahid menjalankan pemerintahan dengan sikap dan kontroversial kebijakan.14 Kondisi ini membuat politikn kekuasaan yang dibawa Presiden Abdurrahman Wahid beralih ke perlawanan. Perseteruan antara Presiden Abdurrahman Wahid memulai dengan mengklaim DPR kepada Presiden Abdurrahman Wahid perihal dana Bulog Yanatera dengan jumlah Rp. 35 M dan Sultan Brunei Darussalam bantu US $ 2 juta.13 Tuduhan itu ditanggapi DPR dengan mengusulkan penggunaan hak untuk melakukan investigasi disetujui dalam rapat paripurna DPR pada 28 Agustus 2000 lalu dilanjutkan dengan pembentukan Special Komite pada 5 September 2000.

Presiden Abdurrahman Wahid mengambil langkah politik dengan mengeluarkan Keputusan Presiden yang menyatakan pembekuan DPR dan MPR, mempersiapkan lembaga untuk menggelar pemilihan umum dalam waktu satu tahun, dan reformasi total dari elemen orde baru membekukan Partai Golongan Karya.

Keputusan Presiden itu ditolak oleh DPR yang terus berlanjut Sidang Istimewa dengan mandat pencabutan agenda presiden dengan Ketetapan MPR No.

III / MPR / 2001 tentang Penetapan Wakil Presiden RI Megawati Soekarno-putri sebagai Presiden Republik Indonesia. Pemberhentian Presiden Abdurrahman Wahid dinilai inkonstitusional dan hanya di dipengaruhi oleh kekuatan politik tanpa proses hukum. Dua alasan prinsip pemakzulan Presiden Abdurrahman Wahid, presiden adalah melakukan perbuatan yang melanggar kebijakan negara sehingga menghambat proses ketatanegaraan karena tidak setuju untuk hadir dan menolak memberikan pertanggungjawaban kepada Sidang Khusus Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Dengan demikian proses pemakzulan yang sarat dengan nuansa politik dan jelas mencederai makna Indonesia sebagai negara hukum (rechtsstaat). Untuk menghindari pengulangan dari proses pemakzulan berdasarkan politik alasannya, kemudian pada perubahan ketiga UUD NRI 1945 lembaga negara yang baru dibentuk yaitu Mahkamah Konstitusi.15

13 Lihat Misranto, “Mahkamah Konstitusi dalam Konstruksi Penerapan Sistem Peradilan ”, Jurnal Perspektif, Vol. XIX, No. 3, September 2014, Surabaya: UWKS, halaman 154

14 Muhammad Bahrul Ulum, “Mekanisme Pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden Menurut UUD 1945 (Antara Realitas Politik dan Penegakan Konstitusi)”, Jurnal Konstitusi, Vol.

7, No. 4, August 2010, Jakarta: Sekjen dan Kepaniteraan MK, page141.

15 Pembentukan Mahkamah Konstitusi berkaitan dengan teori organ (organ dibentuk dengan peran dan fungsinya). Pembentukan Konstitusi dipengaruhi oleh efektivitas kerja jumlah anggota parlemen yang ada, yang mengisi masalah, integritas, dan mekanisme kerja lainnya. Masalah pengisian muncul ketika banyak manipulasi terjadi di mekanisme pemilihan anggota parlemen,

(7)

Ide pembentukan Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu ketatanegaraan modern yang muncul pada abad ke-20.16 kewenangan MK di UUD NRI 1945 terkait dengan proses pemakzulan di bawah Pasal 7B jo. Pasal 24C ayat (2).

Berdasarkan Pasal 7B ayat (1) UUD NRI 1945 pemakzulan tidak hanya berdasarkan pertimbangan politik, tetapi juga berdasarkan logika hukum (yudikatif). rasionalitas dan akuntabel.17 Mahkamah Konstitusi dalam pemakzulan proses memiliki kewajiban untuk memberikan keputusan pendapat DPR tentang atas dugaan pelanggaran oleh Presiden dan / atau Wakil Presiden. Mahkamah Konstitusi memeriksa dan mengadili pendapat Dewan Perwakilan Rakyat atas kinerja Presiden dan / atau Wakil Presiden yang dianggap memenuhi Pasal 7A UUD NRI 1945. Pemeriksaan dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi adalah proses yudisial yang dimilikinya putusan berupa putusan justisil.18

Berbasis tentang Pasal 83 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, ada tiga kemungkinan putusan yang dapat dijatuhkan oleh Mahkamah Konstitusi yang menyatakan permohonan tidak dapat diterima, menyatakan membenarkan pendapat DPR. Perwakilan dan negara bagian aplikasi ditolak. Di tingkat pengambilan keputusan hingga negara bagian Presiden dan / atau Wakil Presiden telah melanggar undang-undang atau tidak sebagaimana diuraikan dalam Pasal 7A UUD NRI 1945, dalam rapat paripurna DPR tentunya faktor politik cukup mempengaruhi, karena proses pemakzulan dapat dilanjutkan tergantung pada kepentingan politik anggota DPR, Sesuai Pasal 7B ayat (2) UUD NRI 1945, pendapat DPR yang dimiliki oleh Presiden dan / atau Wakil Presiden melanggar hukum atau tidak memenuhi syarat lagi sebagai Presiden dan / atau Wakil Presiden untuk melaksanakan fungsi pengawasan DPR. Fungsi pengawasan menurut Pasal 20 A ayat (2) UUD NRI 1945 terdiri atas Hak Interpelasi, Penyelidikan dan Mengekspresikan Pendapat.

Dilihat dari isi Pasal 7B ayat (2) UUD NRI 1945, fungsi pengawasan yang dimaksud dalam Pasal ini adalah hak untuk menyatakan pendapat. opini. Namun dalam rangka pemberhentian Presiden dan / atau Wakil Presiden karena melanggar hukum, maka penggunaannya Hak Mengekspresikan pendapat harus didahului dengan menggunakan hak angket untuk menyelidiki apakah Presiden dan / atau Wakil Presiden benar-benar melanggar hukum. Hak angket menurut UU No 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan di tingkat provinsi adalah hak DPR untuk melakukan investigasi atas pelaksanaan suatu undang- undang dan / atau kebijakan Pemerintah terkait dengan hal-hal penting, strategis,

saat itu tidak menjadi masalah lagi, masalah integritas muncul dari anggota parlemen dan menjadi sebuah kendala. Lihat Agung Laksono, “Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Pasca Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 ”, Jurnal Majelis, Vol. 1 No.1. Agustus 2009, Jakarta:

Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, halaman 47

16 Bambang Sutiyoso, “Kewenangan Mahkamah Konstitusi Dalam Pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden Di Indonesia”, Jurnal Konstitusi, Vol. 7 No. 1 February 2010, Jakarta:

Sekjen dan Kepaniteraan MK, page 95

17 Lihat Dinoroy Marganda Aritonang, “Penerapan sistem Presidensil di Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945 ”, Jurnal Mimbar Hukum, Vol. 22. No. 2, Juny 2010, Yogyakarta:

Fakultas Hukum Gadjah Mada, hal 397

18 Laica Marzuki, “Pemakzulan Presiden/Wakil Presiden Menurut Undang-Undang Dasar”, Jurnal Konstitusi, Vol. 7, No. 1, February 2010, Jakarta: Sekjen dan Kepaniteraan MK, page 20

(8)

dan luas berdampak pada masyarakat, bangsa dan negara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Fungsi hak angket dalam kasus ini merupakan bentuk kontrol DPR kepada Presiden. Pengendalian DPR terhadap Presiden merupakan wujud mekanisme check and balances antar lembaga negara Ini seperti ada-gium yang dikemukakan oleh Lord Acton "Kekuasaan cenderung korup, kekuasaan mutlak korup mutlak

".19 Hak penyelidikan ini jika presiden terbukti telah melanggar dapat terus di Rights Express Opinion yang merupakan bentuk resmi pendapat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7A UUD NRI 1945. Rights Express Opinion akan dibawa ke Mahkamah Konstitusi untuk diperiksa dan diputuskan, jika Mahkamah Konstitusi memutuskan kepada Presiden dan / atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran ke UU, selanjutnya akan diusulkan DPR ke MPR.

Keputusan Mahkamah Konstitusi itu saja mengikat DPR sebagai pemohon pemakzulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat 5 Peraturan Mahkamah Konstitusi. Nomor 21 Tahun 2009 tentang Pedoman Proses Perkara Melanggar Pendapat DPR Tentang Dugaan Pelanggaran oleh Presiden dan / atau Wakil Presiden. Peraturan Mahkamah Konstitusi secara eksplisit menyebutkan

"Keputusan pengadilan bersifat final dan mengikat secara hukum untuk DPR sebagai melamar " Masalahnya adalah putusan Mahkamah Konstitusi itu hanya mengikat DPR, jadi bahwa MPR tidak terikat dengan putusan Mahkamah Konstitusi.

Keterlibatan MK dalam proses pemakzulan berbeda-beda di setiap negara, itu tergantung pada sistem pemerintahan yang digunakan olehnya negara dan kewenangan yang diberikan oleh Konstitusi kepada Mahkamah Konstitusi dalam proses pemakzulan. Beberapa negara seperti Thailand dalam proses impeachment dilakukan terhadap pejabat negara pejabat, terutama Perdana Menteri, yang sebenarnya tidak memiliki otoritas yang kuat. Ini muncul di Konstitusi Thailand yang disebutkan dalam Bagian 270 itu sendiri tidak kuat. Dalam Bagian 270 Konstitusi Kerajaan Thailand 2007 menyatakan: “… Presiden Mahkamah Konstitusi…., Dapat dicopot dari jabatannya oleh Senat.” Otoritas mengajukan impeachment dalam konstitusi Thailand oleh senat tidak kurang dari ¼ dari semua anggota Senat telah mengajukan pemakzulan kepada pejabat publik, pemakzulan juga dapat diajukan oleh setidaknya 20.000 warga negara dari Thailand yang sudah memiliki hak suara itu menandatangani petisi untuk diajukan ke Senat Thailand.

Pengajuan impeachment di Thailand memiliki perbedaan dalam proses, untuk pos yang bukan jabatan politik, jadi itulah kewenangannya jatuh ke Jaksa Agung Thailand, sementara untuk jabatan politik otoritas untuk memeriksa jatuh Mahkamah Agung Thailand. Dalam proses yang satu yang memiliki jabatan politik saat dimakzulkan akan diperiksa oleh Tertinggi Divisi Kriminal Pengadilan, dan jika kejahatan adalah korupsi politik Pejabat kemudian diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setelah diperiksa oleh Mahkamah Agung, maka putusan yang dikeluarkan adalah terakhir.

19 See Jamin Ginting, ”Perjanjian Internasional dalam Pengembalian Aset Hasil Korupsi di Indonesia”, Jurnal Dinamika Hukum, Vol. 11, No. 3, September 2011, Purwokerto: Faculty of Law Universitas Jenderal Soedirman, page 436

(9)

Seperti di Thailand, Korea Selatan pun banyak jabatan publik yang dapat dimakzulkan, sesuai Pasal 65 Konstitusi Republik Korea 1987 menyatakan bahwa: “Dalam hal Presiden, …., Majelis Nasional dapat mengajukan mosi untuk pemakzulan mereka. " Untuk mengajukan impeachment ke pejabat publik selain presiden harus diajukan oleh 1/3 dari jumlah anggota DPR, sedangkan presiden harus diajukan oleh 2/3 dari jumlah anggota DPR. Selama proses pemakzulan dilakukan, para pejabat yang bersangkutan harus dinonaktifkan dari posisinya dan keputusan pemakzulan tidak hanya menyebabkan petugas tersesat pekerjaannya, tetapi juga bisa dituntut secara perdata atau pertanggungjawaban pidana.

Pemakzulan berdasarkan UUD NRI 1945 dilakukan karena terdapat pelanggaran hukum dan perbuatan tidak senonoh yang dilakukan oleh Presiden dan / atau Wapres, oleh karena itu penyelesaian pemakzulan harus melalui pertanggungjawaban hukum, bukan pertanggungjawaban politik. Putusan MK dalam Pasal 24C ayat (2) UUD NRI 1945 dapat diberikan legitimasi yang kuat sebagai otoritas Mahkamah Konstitusi yang diatur dalam Pasal 24C ayat (1) UUD NRI 1945, yang menunjukkan bahwa putusan MK adalah terakhir. Demikian putusan Mahkamah Konstitusi harus opini kelembagaan Parlemen no lagi proposal yang diambil di rapat paripurna MPR.

Rapat paripurna MPR harus menjadi pengesahan proposal Parlemen forum yang terbukti melanggar melalui keputusan tersebut Mahkamah Konstitusi. Oleh karena itu, sistem kuorum dalam rapat paripurna MPR harus diabaikan karena perbedaan konteks rapat paripurna yang lain, untuk meminimalkan proses politik ke dalam proses hukum. Ini sesuai dengan Pasal 1 (3) UUD NRI 1945 yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara hukum (rechtstaat) bukan negara yang berdasarkan kekuasaan semata (machtstaat).20

II. Proses Hukum dalam Mekanisme Penerapan Pemakzulan sebelum dan Sesudah Amandemen.

Proses Hukum dalam Mekanisme Penerapan sebelum dan Sesudah Amandemen Sebelum amandemen UUD 1945, Presiden dan / atau Wakil Presiden

dapat diberhentikan karena alasan politik dan non-yuridis. Ini tidak biasa di negara-negara dengan sistem pemerintahan presidensial. Oleh karena itu, UUD 1945 Amandemen Ketiga memuat ketentuan tentang pemberhentian Presiden dan / atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya semata-mata berdasarkan alasan yuridis dan hanya mengacu pada ketentuan normatif yang membatasi tersebut dalam Konstitusi. Selain itu, proses pemberhentian hanya dapat dilakukan setelah konstitusional melalui Mahkamah Konstitusi yang akan memeriksa, mengadili dan memutuskan pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan / atau Wakil Presiden telah melanggar hukum berupa makar terhadap negara, korupsi,

20 Compare to Lisdhani Hamdan Siregar, “Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Pemakzulan Presiden dan/ atau Wakil Presiden di Indonesia”, Jurnal Konstitusi, Vol. 9, No. 2, June 2012, Jakarta: Sekjen Kepaniteraan MK, page 290.

(10)

penyuapan, dan lain-lain pidana berat, perbuatan tercela, atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan / atau Wakil Presiden.

Kemungkinan diberhentikannya Presiden dan / atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya jabatan MPR atas usul DPR adalah apa yang secara teknis merupakan istilah tersebut pendakwaan. Namun, masalah selanjutnya, ketentuan tentang impeachment tertuang di dalam Konstitusi tidak mengatur lebih jauh masalah teknis, sehingga saat ini masih ada yang tepat perumusannya. Parlemen akan menggunakan mekanisme pemakzulan untuk memproses pejabat tinggi dan orang-orang kuat yang terkait dengan korupsi, atau hal-hal lain yang bukan merupakan hal biasa kekuasaan pengadilan.

Dalam praktiknya, The House of Commons bertindak sebagai Grand Jury yang memutuskan apakah untuk mendakwa seorang pejabat atau tidak. Jika pejabat itu dimakzulkan, maka The House of Lords akan menjadi hakim dia. Jika terbukti bersalah maka petugas diancam sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan, termasuk posisinya. Memang proses pemakzulan merupakan instrumen untuk mencegah dan mengatasi penyalahgunaan kekuasaan dari pemegangnya. Ketika konstitusi dirancang pada 1787, di Philadelphia, Pennsylvania, para ayah Amerika Serikat telah melihat kecenderungan para pemimpin menjadi korup ketika berkuasa.

Selain korup, pimpinan juga berusaha menguasai selama mungkin. Karena itu, Proses impeachment di Indonesia melalui proses di tiga negara bagian lembaga secara langsung, proses pertama di DPR dengan mengajukan Presiden dan / atau Wakil Presiden telah melakukan pengkhianatan terhadap negara atau suap atau tindak pidana berat lainnya, atau tercela, bahkan DPR yang berwenang menyatakan bahwa Presiden atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai pemimpin negara. Melalui pengawasannya, DPR menyelidiki dugaan telah terjadi tindakan yang dikategorikan dalam pemakzulan tersebut Alasannya, setelah proses di DPR selesai di mana paripurna Sidang Dewan Perwakilan Rakyat setuju untuk menyatakan bahwa Presiden atau Wakil Presiden telah mengambil tindakan sebagai alasan pemakzulan, keputusan sidang paripurna harus dibawa ke Mahkamah Konstitusi.

Sebelum akhirnya proses pemakzulan ditangani oleh MPR kepada mendapatkan keputusan akhir sebagai penentu nasib Presiden dan / atau Wakil Presiden. Kondisi ini diawali dengan permintaan DPR kepada Konstitusi Pengadilan setelah didukung oleh setidaknya 2/3 dari total anggota DPR Majelis (Pasal 7 B ayat (3) UUD). Selanjutnya sesuai dengan Pasal 80 ayat (2) Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi mensyaratkan bahwa Pemakzulan DPR harus dinyatakan dengan jelas dalam petisi tentang tuduhan bahwa Presiden dan / atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum berupa: negara; 2. korupsi, penyuapan; 3. tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela; 4. dan / atau Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan / atau Wakil Presiden berdasarkan Undang-Undang Dasar. Dewan Perwakilan Rakyat dalam permohonannya wajib mencantumkan putusan DPR Dewan Perwakilan Rakyat dan proses pengambilan keputusan tentang pendapat DPR DPR, risalah dan / atau risalah DPR, disertai bukti dakwaan yang terungkap dalam berita acara pendapat Dewan Perwakilan Rakyat.

(11)

Mahkamah Konstitusi mengajukan permohonan yang sudah tercatat di Buku Perkara Konstitusi Pendaftaran kepada Presiden dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah aplikasi dicatat dalam Buku Pendaftaran Perkara Konstitusi Jika Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Presiden dan / atau Wakil Presiden memiliki tidak terbukti melanggar Undang-undang berupa makar negara, korupsi, suap, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela dan / atau terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Keputusan Presiden dan / atau Wakil Presiden menyatakan permintaan DPR ditolak (Pasal 83 ayat (3) Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2003). Mahkamah Konstitusi wajib memeriksa, mendengar, dan memutuskan seadil-adilnya pendapat Dewan Perwakilan Rakyat di dalamnya 90 (sembilan puluh) hari sejak permohonan dicatat dalam Pendaftaran Konstitusi Kasus Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Pendapat Rakyat Dewan Legislatif diserahkan kepada Parlemen dan Presiden dan / atau Wakil Presiden.

Di sisi lain, jika Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Presiden dan / atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum, perbuatan tercela, dan atau terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan / atau Wakil Presiden, menurut Parlemen sidang paripurna untuk meneruskan usulan pemberhentian Presiden dan / MPR (Pasal 7 B ayat (5) Konstitusi Indonesia).

MPR wajib mengadakan sidang untuk memutus usul DPR selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah usulan diterima (Pasal 7 B 96) Konstitusi Indonesia).

Keputusan MPR tentang usulan pemberhentian Presiden dan / atau Wakil Presiden akan diangkat dalam Sidang Paripurna MPR yang akan dilaksanakan dihadiri oleh setidaknya 3/4 dari total anggota dan disetujui oleh setidaknya 2/3 dari total anggota yang hadir, setelah Presiden dan / atau Wakil Presiden diberi kesempatan menyampaikan penjelasan dalam Sidang Paripurna MPR (Pasal 7 B ayat (7) bahasa Indonesia Konstitusi).

Keputusan MPR memberhentikan Presiden dan / atau Wakil Presiden pada masa masa jabatan adalah keputusan politik (politieke beslissing), bukan keputusan yudisial (judicial vonnis). Pemberhentian Presiden dan / atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya adalah kewenangan konstitusional MPR, bukan kewenangan peradilan (rechspraak). Meskipun Mahkamah Konstitusi telah memutuskan pendapat DPR tentang terbukti melanggar hukum oleh Presiden dan atau Wakil Presiden, MPR boleh mengesahkan keputusan lain sepanjang pertimbangan politik (politieke overweging) di Paripurna Sidang MPR menerima kedua penjelasan yang dikemukakan oleh Presiden dan / atau Wakil Presiden sehingga rapat dilihat dari Presiden dan / atau Wakil Presiden

Presiden tidak perlu diberhentikan. Rapat MPR memberi kesempatan kepada Presiden dan / atau Wakil Presiden untuk memberi kesempatan terlebih dahulu penjelasan sebelum sidang paripurna menjatuhkan putusan (vide Pasal 7 B Ayat (7) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945).

Penjelasan yang dimaksud dalam Pasal konstitusi pada hakikatnya merupakan tindakan defensif bagi Presiden dan / atau Wakil Presiden.

Bukan berarti ketetapan MPR mengesampingkan ketetapan konstitusi Pengadilan, tetapi pemecatan Presiden dan / atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya memang benar konstitusieeel bevoegheden dari MPR. Sementara itu,

(12)

Sidang Paripurna MPR yang memberhentikan Presiden dan / atau Wakil Presiden sebatas memberhentikan Presiden dan / atau Wakil Presiden. Presiden dari kantor publik kepala pemerintahan negara, dalam arti dicopot dari kantor, tidak memasuki ranah penyidikan dan penuntutan pidana terhadap Presiden dan / atau wakil presiden yang diberhentikan. Aturan politik (politik beslissing), bukan bagian dari proses investigasi (opsporing) dan penuntutan.

Berdasarkan uraian di atas, diperlukan kelengkapan norma dalam Pasal 24C ayat (2) UUD NRI 1945 yang menyatakan bahwa Konstitusional Putusan pengadilan atas dugaan pelanggaran hukum oleh Presiden dan / atau Wakil Presiden bersifat final dan mengikat tidak hanya di Parlemen sebagaimana disebutkan dalam PMK No. 21 Tahun 2009, namun mengikat dengan baik MPR, karena putusan MK adalah erga omnes artinya akibat hukum mengikat semua orang.

Keterikatan Majelis dalam Konstitusi Putusan pengadilan harus diwujudkan dalam refleksi Pasal 7B ayat (5), (6) dan (7) itu UUD diubah menjadi UUD NRI 1945 menjadi mengotorisasi / menjunjung putusan Konstitusi. Dengan demikian perwujudan tanggung jawab hukum kepada presiden pelanggaran tidak dapat dipisahkan karena proses politiknya sendiri. Lebih dari yang akan diterapkan di Indonesia sebagai negara hukum harus diminimalkan sehingga elemen di kasus pemakzulan politik utama terhadap presiden yang melanggar hukum.

D. Kesimpulan Dan Saran I. Kesimpulan

a. Amandemen UUD yang berdampak pada amandemen UUD sistem ketatanegaraan telah merevolusi struktur dan mekanisme negara administrasi. Model sistem pemerintahan telah berubah dimana Presiden sistem pemerintahan diikuti dengan mekanisme pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden. Kekuasaan membentuk UU telah bergeser dari Presiden ke DPR. Amandemen Konstitusi telah menjadikan DPR sebagai lembaga yang sangat berkuasa, apalagi sangat berkuasa Karena DPR banyak memegang peran penting dalam jalannya sistem ketatanegaraan. Itu landasan otoritas penting di DPR adalah berangkat dari perlunya mekanisme kontrol yang kuat sebagai hasil dari pelajaran rezim otoriter di masa lalu oleh otoritas pemerintah.

b. Bahwa Negara Republik Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 dan UU no. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi mengetahui apa yang disebut impeachment (permakzulan). Institusi yang terlibat dalam proses ini adalah DPR bertindak sebagai pengusul, kemudian Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia bertindak sebagai Proksi dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai pengambil keputusan akhir melalui Sesi Khusus.

(13)

II.Saran

Harus selalu ada check and balances, yang diimplementasikan dalam peradilan belaka penegakan hukum, peran MK diperlukan sesuai dengan fungsinya kewenangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang terhadap penerapan pemakzulan Presiden dan / atau Wakil Presiden. Implementasi Impeachment harus dipertahankan jika Anda menginginkan sistem dengan asas negara hukum yang dicita-citakan.

Referensi

Agiwinata, Weldy. “Konvensi Ketatanegaraan sebagai Batu Uji dalam Pengujian UndangUndang di Mahkamah Konstitusi”. Jurnal Yuridika. Vol. 29. No. 2.

May 2014. Surabaya: Faculty of Law Universitas

Aritonang, Dinoroy Marganda. “Penerapan sistem Presidensil di Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945”. Jurnal Mimbar Hukum, Vol. 22. No. 2. June 2010. Yogyakarta: Faculty of Law Universitas Gadjah Mada;

Asshiddiqie, Jimly. Sejarah Mahkamah Konstitusi RI (1), ceramah, https://www.youtube. com/watch?v=Gq1LxxOkr7M.accessed on 1 April 2021;

Bakar, Dian Utami Mas. “Pengujian Konstitusio- nal Undang-Undang Pengesahan Perjanjian Internasional”. Jurnal Yuridika, Vol. 29. No. 3.

September 2014. Surabaya:Faculty of Law Universitas Airlangga;

Bintari, Aninditya Eka. “Mahkamah Konstitusi se- bagai Negative Legislator dalam Penegakan Hukum Tata Negara”. Jurnal Pandecta, Vol. 8. No. 1.

January 2013. Semarang: Fa- culty of Law Universitas Negeri Semarang;

Fauzan, Muhammad. “Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam Proses Impeachment Pre- siden menurut Sistem Ketatanegaraan Re- publik Indonesia”. Jurnal Dinamika Hu- kum, Vol. 11. No. 1. January 2011.

Purwo- kerto: Faculty of Law Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto;

Ginting, Jamin. ”Perjanjian Internasional dalam Pengembalian Aset Hasil Korupsi di Indo- nesia”. Jurnal Dinamika Hukum, Vol. 11. No. 3.

September 2011. Purwokerto: Facul- ty of Law Universitas Jenderal Soedirman;

Hermawan, M. Ilham dan Dian Purwaningrum. “Mekanisme Pemberhentian Presiden (Im- peachment) dan Kritik Subtansi Pengatur- annya Di Indonesia”. Jurnal Ilmu Hukum Amanna Gappa, Vol. 20. No. 2 June 2012.

Makassar: Faculty of Law Universitas Hasa- nuddin;

Kristianto, Eko Noer. “Pemakzulan Presiden Re- publik Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945.” Jurnal Rechtsvinding, Vol. 2 No. 3. December 2013. Jakarta: BPHN;

Laksono, Agung. “Dewan Perwakilan Rakyat Re- publik Indonesia Pasca Amandemen Un- dang-Undang Dasar 1945”. Jurnal Majelis, Vol. 1 No.1.

August 2009, Jakarta: Sekre- tariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;

Lisdhani, Hamdan Siregar. “Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi dalam

(14)

Pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden di Indo- nesia.” Jurnal Konstitusi, Vol. 9 No. 2. Ju- ne 2012. Jakarta: Sekjen Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi;

Marzuki, Laica. “Pemakzulan Presiden/Wakil Presiden Menurut Undang- Undang Dasar”. Jurnal Konstitusi, Vol. 7 No. 1. February 2010. Jakarta:

Sekjen dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi;

Misranto. “Mahkamah Konstitusi dalam Konstruk- si Sistem Peradilan Impeachment”. Jurnal Perspektif. Vol. XIX. No. 3. September 2014.

Surabaya: UWKS;

Rachman, Irfan Nur. “Politik Hukum Pengaturan Right to Vote and Right to be Candidate dalam Undang-Undang Pasca Putusan Mah- kamah Konstitusi”.

Jurnal Konstitusi, Vol. 10, No. 2, June 2013, Jakarta: Sekjen dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi;

Sutiyoso, Bambang. “Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam Pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden di Indonesia”. Jurnal Konstitusi. Vol. 7 No. 1. February 2010. Jakarta: Sekjen dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi;

Syahrizal, Ahmad. “Problematik Implementasi Putusan MK”. Jurnal Konstitusi.

Vol. 4. No.

1. March 2007. Jakarta: Sekjen dan Kepani- teraan Mahkamah Konstitusi;

Ulum, Muhammad Bahrul. “Mekanisme Pemakzu- lan Presiden dan/atau Wakil Presiden Me- nurut UUD 1945 (Antara Realitas Politik dan Penegakan Konstitusi)”. Jurnal Konsti- tusi, Vol. 7 No. 4. August 2010. Jakarta:

Sekjen dan Kepaniteraan Mahkamah Kons- titusi;

Watiah dan Kusriyah. “Tinjauan Yuridis Hubung- an Lembaga Negara antara DPD dengan DPR dalam Sistem Bicameral”. Jurnal Hu- um Khaira Ummah, Vol. 3 No. 2. Septem- ber 2008. Semarang: MIH UNISSULA;

Widodo, Hananto. 2012. “Politik Hukum Interpe- lasi Dewan Perwakilan Rakyat Republik In- donesia”. Jurnal Rechtsvinding, Vol. 1 No.

3. December 2012. Jakarta: BPHN.

Referensi

Dokumen terkait

Mahakamah Konstitusi wajib memberi putusan atas pendapat DPR bahwa presiden dan/ atau wakil presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan

Mahkamah konstitusi wajib memberi putusan atas pendapat DPR bahwa Prsiden dan/atau Wakil Presiden yang diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa penghianatan

(2) Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa

(2) Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa

(2) Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap

mahkamah Knstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum beruppa pengkhiyanatan

Sebelum adanya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 92/PUU­X/2012, proses penyusunan undang-undang menjadi kekuasaan Presiden dan DPR. Di tahapan ini, baik Presiden maupun DPR

Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa: penghianatan terhadap Negara,