PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pemerkosaan merupakan salah satu jenis tindak pidana yang diatur dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) yang dikatagorikan sebagai kejahatan terhadap kesusilaan (misdrijven tegen de zeden). Tindak pidana umum adalah tindak pidana yang perumusanya sudah terdapat dalam kitab Undang-undang Hukum Pidana. Dengan demikian tindak pidana pemerkosaan yang dilakukan oleh ayah kandung sendiri bisa dipidana dengan hukuman maksimal.
Analisis Pemberatan Sanksi Pidana dalam Tindak Pidana Pemerkosaan Anak Kandung dalam Perkara Pengadilan Negeri Makassar Nomor: 1459/Pid/B/2013/PN.Mks Perspektif Asas Keadilan.
Fokus Penelitian
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui Pemberatan Sanksi Pidana dalam Tindak Pidana Pemerkosaan Anak Kandung dalam Perkara Pengadilan Negeri Makassar Nomor: 1459/Pid/B/2013/PN.Mks Perspektif Asas Keadilan.
Manfaat Penelitian
Definisi Istilah
Pemerkosaan: Adanya perilaku kekerasan yang terkait dengan hubungan seksual, yang dilakukan dengan jalan melanggar hukum, dilakukan denga cara pemaksaan.17. Keluarga Kandung: Dalam artian sempit adalah suatu kumpulan masyarakat yang terkecil yang berdiam dalam suatu tempat tinggal yang terdiri dari suami, istri dan anak.18. Pemberatan Sanksi Terhadap Pelaku Pemerkosaan Keluarga Kandung Dalam Putusan Pengadilan Negeri Makassar Nomor: 1459/Pid/B/2013/PN.Mks”.
Adalah menegaskan bahwa begitu pentingnya pemberatan sanksi bagi pelaku pemerkosaan yang dilakukan terhadap keluarga kandung sendiri karena keluarga kandung itu dianggap perlindungan terakhir dari Negara, meskipun Negara mempunyai konsep tersendiri untuk perlindungan anak di bawah umur, sebagai bentuk tindakan represif yang diharapkan dapat memberikan efek jera bagi pelaku pemerkosaan terutama yang dilakukan oleh keluarga kandung di masa yang akan datang.
Sistematika Pembahasan
TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian Terdahulu
Peneliti memberikan pandangan bahwa dalam penelitain ini ada persamaan dan perbedaan antaralain persamaan: Sama-sama menganalisis tindak pidana pelaku pemerkosaan yang dilakukan oleh ayah kandung. Jenis dari tindak pidana di dalam KUHP dibagi menjadi dua yaitu; kejahatan (rechtdelicted) dan pelanggaran (wetsdelicten). Jenis dari tindak pidana ini berdasarkan bentuk perumusannya dalam Undang-Undang dibagi menjadi dua yaitu;.
Analisis Terhadap Ratio Decidendi Perkara Tindak Pidana Pemerkosaan yang Dilakukan Keluarga Kandung Pada Putusan Nomor:1459/Pid/B/2013/PN.Mks Perspektif Hukum Positif dan Hukum Pidana Islam.
Kerangka Konseptual
- Konsepsi Tindak Pidana
- Konsepsi Pemidanaan dan Pidana
- Konsepsi Tindak Pidana Pemerkosaan
- Konsepsi Umum Tentang Anak
- Konsepsi Pemberatan Sanksi
- Konsepsi Pemerkosaan dalam Hukum Pidana Islam
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian normatif dan studi terhadap putusan kasus yakni dengan cara mengidentifikasi dengan upaya yang sistematis dan juga melakukan sebuah analissi yang mendalam dari serangkaian dokumen yang berkaitan dengan informasi, objek, tema, dan juga masalah yang ada di dalam sebuah penelitian.67 Jenis dari penelitian yang dimaksud ialah dengan upaya mengkajian yang lenih fokus dan juga mendalam dari berbagai literatur yang telah dikumpulkan, baik melalui semua dari putusan hakim, serangkatan buku, sejumlah catatan, serangkain artikel, e-book, jurnal hukum, atau juga dengan.
Pendekatan penelitian
Sumber Bahan Hukum
Teknik Analisis Bahan Hukum
Keabsahan Bahan Hukum
Tahap-tahap Penelitian
Nuri Lr.312 Kota Makassar Agama: Islam Pekerjaan: Tukang parkir.75 Mulanya pada saat kejadian Terdakwa tersebut dalam keadaan mabuk, saksi korban yaitu Rismawati alias risna sementara tidur bersama adiknya yaitu saksi Yuniana tiba-tida Terdakwa masuk kedalam kamar saksi korban dan mematikan lampu kamar, setelah itu Terdakwa naik ke atas tempat tidur kemudian saksi Risna terbangun dan Terdakwa langsung mengancam saksi korban dengan parang untuk diam, jika ribut akan dibunuh dan memaksa untuk melayaninya berhubungan suami istri selanjutnya terdakwa memasukan alat kelaminnya kedalam alat kelamin saksi korban sambil menutup mulut korban dengan tangan kanan terdakwa dengan maksud agar saksi korban tidak bisa berteriak pada saat disetubuhi terdakwa.76. Terdakwa menyetubuhi saksi korban hanya satu kali pada malam itu saja, di mana istri terdakwa yang merupakan ibu kandung dari saksi korban sedang bekerja sebagai tukang parkir di Lagaligo yang pulangnya. Pada saat terdakwa menyetubuhi anak kandungnya yang bernama Risnawati, perbutan terdakwa tersebut juga disaksikan oleh anak perempuan Terdakwa yang nomer dua yang bernama Yuliana Alias Uli yang adik kandung dari saksi korban, tapi karena diancam akan dibunuh oleh Terdakwa maka adik dari saksi korban diam saja.
Saksi korban pada saat kejadian itu masih berumur 15 (lima belas) tahun dan masih sekolah kelas 2 SMP dan akibat dari perbuatan tersebut saksi korban menjadi hamil sehingga korban merasa malu dan akhirnya saksi korban keluar dari sekolah, selanjutnya korban melaporkan kejadian pada tantenya, dan merasa tidak terima atas perbutan terdakwa kepada saksi korban. Akhirnya tantenya dan saksi korban bersama adik perempuanya yang bernama Uli melaporkan terdakwa kepada Polisi.77. Bahwa terdakwa telah melakukan pada waktu dan tempat sebagaimana tersebut di atas saksi korban yaitu Risnawati alias risna sementara tidur bersama adiknya yaitu saksi Yuliana tiba-tiba Terdakwa masuk kedalam kamar saksi korban langsung mematikan lampu kamar korban, setelah itu terdakwa naik ke atas tempat tidur kemudian saksi korban risna terbangun dan terdakwa langsung mengancam saksi koban dan berkata “sannangko kobunuhko injo” setelah itu terdakwa menarik.
Terdakwa mengetahui pada saat menyetubuhi atau melakukan hubungan badan dengan saksi korban masih berumur 15 (lima belas) tahun. Bahwa akibat perbuatan terdakwa, saksi korban merasa kesakitan yang menyebabkan saksi korban mengalami luka dibagian kelamin. Saksi ke-1 saksi Korban RISNAWATI Alias RISNA: Bahwa saksi kenal dengan terdakwa dan adanya hubungan keluarga sedarah di mana terdakwa adalah Bapak kandung saksi.
8. . dengan terdakwa, Bahwa korban melaporkan kejadian tersebut kepada saksi kerena tantenya korban, dan karena ibu kandung korban agak idiot maka persoalan saksi korban tersebut diabil alih oleh saksi dan kemudian bersama korban dan adiknya korban, saksi melaporkan terdakwa kepolisian, yang mana pada saat kejadian tersebut korban masih sekolah kelas 2 SMP tapi akibat kejadian tersebut korban hamil dan karena malu kemudian korban keluar dari sekolah. - bahwa keterangan saksi semuanya dibenarkan oleh terdakwa;. Tentang tindak pidana pemerkosaan yang dilakukan oleh keluarga kandung yang diartur di luar KUHP yaitu pada Undang-Undang Perlindungan Anak UUPA Nomor 23 Tahun 2014 “Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 pasal 76D“Tentang Perlindungan Anak”. Tindak pidana pemerkosaan ialah salah satu bentuk kesejahatan asusila yang diatur di dalam KUHP, larangan yang.
86 Oleh karena itu bisa dilihat berdasarkan pada falsafah pemidanaan ada beberapa hal yang harus diperhatikan yakni: Let the funishmet fit the crime (sesuaikan hukuman dengan perbuatannya), dan aliran moderen falsafah pemidaannya Let the funisment fit the criminal (sesuaikan hukuman dengan pelakunya), serta aliran neo klasik falsafah pemidaannya Let the funishment fit the crime and the criminal (sesuaikan hukuman dengan perbuatan dan pelakunya). 2) Tindak Pidana Pemerkosaan dalam Perspektif Hukum Pidana Islam.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Posisi Kasus
Dakwaan Penuntut Umum
Penyajian Hasil Penelitian dan Pembahasan
- Dasar Pertimbangan Hukum Hakim (Ratio Decidendi)
- Pemberatan Sanksi Pidana dalam Tindak Pidana
Melakukan Pemerkosaan terhadap anak di bawah umur” dalam pertimbangan Hakim dikenakan Undang-Undang UUPA Nomor 23 Tahun 2014 “Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002. 11. . mengantur tentang kejahatan tindak pidana persetubuhan yaitu tidak hanya KUHP aja yang lebih khusus diterapkan ke dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak karena pelaku dan korban pemerkosaan tersebut adalah seorang anak. Tindak pidana persetubuhan yang dilakukan terhadap anak maka akan dijerat dengan padasl 76D Undang-Udang Nomor 35 Tahun 2014 Tetang Perlindungan Anak yang berbunyi, Pasal 76D: “Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain”.
Zina dan pemerkosan tidak ada bedanya, hanya saja beda cara melakukan zina dilakukan dengan sama-sama menginginkan kedua belah pihak hukuman (had) yang dikenakan ialah laki-laki dan perempuan yang melakukan perbuatan zina sedangkan pemerkosaan ialah dengan menggunakan kekerasan atau dengan paksaan kepada korban atau zina yang dipaksa bentuk paksaan (al- ikrah). a) Pembuktian dalam Tindak Pidana Persetubuhan (Jarimah Zina). 89 Ahma d Wa rdi Muslich, Hukum Pidana Islam..53-54. . timbulnya kehamilan pada seorang wanita yang bersuami atau tidak diketahui suaminya.90. Uqubah, yang meliputi baik hal-hal yang merugikan ataupun tindak kriminal, di dalam hukum pidana Islam memandang setiap hukuman kelamin di luar nikah sebagai pemerkosaan dan mengencamnya dengan hukuman, baik orang yang melakukan sudah nikah atau belum, baik dilakukan dengan dasar mau sama mau atau tidak.
Maka tindakan ini secara sadar melakukan pemerkosaan terhadap anak kandung sendiri padahal dalam asas hukum asas Errare humanum est, turpe in errope perseverare: Kekeliruan itu manusiawi, tapi tidak boleh senantiasa berbuat keliru (berbuat salah), perbuatan ini dilakukan dengan cara sengaja bukan secara tindak pidana secara tiba- tiba. Para pelaku akan sangat senang sekali apabila hukuman yang diberikan oleh hakim itu tidak memberikan efek jera kepada sipelaku, kedua yakni tidak ada prosedur yang menegaskan bahwa apabila keluarga kandung yang melakukan tindak pidana pemerkosaan itu diberatkan hukumannya dan denda yang paling tinggi karena dia tidak melindungi keluarganya sendiri yang di mana seharusnya keluarga (ayah) adalah pelindungan terakhir bagi anaknya. Sedangkan dalam perspektif hukum positif dan hukum pidana Islam, perbuatan pemerkosaan yang dilakukan oleh Terdakwa termasuk dalam perbuatan yang dilarang oleh Undang- Undang dalam Syariat Islam dengan mendapatkan hukuman.
Hasan Mustofa, Saebani Beni Ahmad, 2013, Hukum Pidana Islam Fiqih Jinayah Dilengakapi Dengan Kajian Hukum Pidana Islam, Bandung: Pustaka Setia. Sholehuddin, 2003, Penegakan Sistem Hukum Pidana Ditinjau dari Hukum Pidana Indonesia, serta menemukan Ide Dasar Double Track System dan Implementasiny, Jakarta: PT. Imanuel Sembiring, 2018, Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Ayah yang Memerkosa Anak Kandungnya Secara Berulang (Studi Putusan No: . 92/PID./SUS/2013/PN.SLW), (Medan: Universitas Sumatra Utara).
Suci Dwi Damayanti, 2020, “Penerapan Sanksi Bagi Pelaku Pemerkosaan Saudara Kandung di Desa Pulau Kecamatan Muara Tembasi Kabupaten Batanghari di Tinjau Dari Hukum Pidana Islam”, (Jambi: UIN Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin).
PENUTUP
Kesimpulan
Bahwa dalam Pertimbangan Hakim (Ratio Decidendi) Putusan Pengadilan Negeri Makassar Nomor:1459/Pid/B/2013/PN.Mks telah sesuai, Dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa, majelis Hakim memiliki banyak pertimbangan yang terungkap dalam persidangan dan dituangkan dalam berkas putusan perkara. Selain yang menjadi korban adalah anak kandung terdakwa, majelis Hakim juga mempertimbangkan kondisi anak korban yang diakibatkan oleh perbuatan terdakwa tersebut. Hal itu merupakan hal-hal yang memberatkan untuk terdakwa, namun dalam perkara tersebut majelis Hakim juga mempunyai pertimbangan yang dapat meringankan terdakwa diantaranya adanya pengakuan (tidak menutupi fakta-fakta hukum), adanya penyesalan terhadap perbuatan yang dilakukan, serta terdakwa belum pernah dipidana.
Saran
Arif Badar Nawawi, 2014, Metodologi Penelitian Hukum Normatif dalam Justifikasi Teori Hukum, Jakarta: Kencana Prenada Group Media. Said, Efektifitas dan Efesieansi Hukuaman Had Tentang Zian dalam Pidana Islam dan Hukuman Penjara pada Hukum Positif, Al-Adalah, (10 Januari 2012). Mangkepriyanto Extrix, 2019, Pidana Umum dan Pidana Khusus Serta Ketertiban Undang-Undang Perlindungan Sanksi dan Korban, Guepedia Publisher.
Mudzakkir sebagaimana dikutip dalam Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barakatullah, 2005, Politik Hukum Pidana: Kajian Kebijakan Kriminalisasi dan Dekriminalisasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajaran. Dalam Achie Sudiarti Luhulima, Pemahaman Bsentuk-Bentuk Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Alternatif Pemecahannya, Jakarta: PT. Pertimbangan Hukum Hakim (Ratio . Decidendi) Pada Putusan Pengadilan Negeri Makassar Nomor:1459/Pid/B/2 013/PN.Mks Telah Sesuai Dengan Ketentuan Hukum Positif dan Prinsip Pidana Islam.