• Tidak ada hasil yang ditemukan

pendahuluan - Jurnal Ilmiah Mahasiswa STKIP PGRI Sumbar

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "pendahuluan - Jurnal Ilmiah Mahasiswa STKIP PGRI Sumbar"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PENDAHULUAN

Masing-masing Negara mempunyai tujuan dan cita-cita tersendiri, demikian juga dengan Negara Indonesia seperti pentingnya pendidikan bagi suatu Negara karena dapat mempengaruhi aspek-aspek kehidupan lain.

Pendidikan tidak saja dilaksanakan di lembaga formal tapi juga di lembaga non formal atau lebih dikenal dengan pendidikan di luar sekolah.

Sekolah sebagai lembaga formal merupakan tempat pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan mulai dari Sekolah Dasar (SD) Sekolah Menengah Atas (SMA) sampai Perguruan Tinggi (PT).

Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan tersebut adalah kurikulum, karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh pengelola maupun penyelenggara, khususnya oleh guru dan kepala sekolah. Oleh karena itu, sejak Indonesia memiliki kebebasan untuk menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak bangsanya, sejak saat itu pula pemerintah menyusun kurikulum (Mulyasa 2006:4).

Berdasarkan besarnya peranan sejarah pemerintah selalu mengupayakan penyempurnaan pendidikan diantaranya dengan perubahan kurikulum. Sesuai dengan perkembangan pendidikan saat ini maka pemerintah mengupayakan implementasi

kurikulum 2013. Komponen terpenting dalam implementasi kurikulum 2013 adalah pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan untuk membantu peserta didik dalam mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Berdasarkan pengamatan penulis lakukan di SMA N 1 Pulau Punjung dan SMA N 2 Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya dalam proses pembelajaran Sejarah, terlihat bahwa guru yang mengajar mata pelajaran sejarah belum sepenuhnya melaksanakan keterampilan mengajar pada kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan penutup, sebagai mana mestinya dalam proses belajar sejarah ditemukan bahwa guru tidak menyiapkan siswa secara fisik dan fisikis, tidak menjelaskan tujuan dan cakupan materi.

Dalam kegiatan inti pembelajaran, guru belum dapat melaksanakan proses eksplorasi elaborasi dan konfirmasi dengan baik, yaitu belum bisa memfasilitasi siswa dengan pendekatan berbagi media dan sumber pembelajaran yang beragam. Kegiatan penutup sebagai kegiatan akhir pembelajaran. Dalam kegiatan penutup guru tidak melakukan evaluasi untuk melihat hasil pembelajaran siswa yang telah dilaksanakan. Hal ini bisa terlihat dalam mengajar guru hanya menerangkan materi sampai habis dan siswa mencatat apa yang di sampaikan guru.

(3)

Penelitian ini lebih memfokuskan perhatian pada Kegiatan Pendahuluan, Kegiatan Inti dan Kegiatan Penutup yang dilaksanakan oleh guru sejarah di SMA N 1 Pulau Punjung dan SMA N 2 Pulau Punjung.

Sesuai dengan yang diuraikan dalam pembatasan masalah, maka yang akan diungkap dalam perumusan masalah adalah :

1. Bagaimanakah Kegiatan Pendahuluan dalam Proses Pembelajaran pada mata Pelajaran Sejarah di SMA N Se Kabupaten Dharmasraya.

2. Bagaimanakah Kegiatan Inti dalam Proses Pembelajaran pada mata Pelajaran Sejarah di SMA N Se Kabupaten Dharmasraya.

3. Bagaimanakah Kegiatan Penutup dalam Proses Pembelajaran pada mata Pelajaran Sejarah di SMA N Se Kabupaten Dharmasraya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang : 1. Kegiatan Pendahuluan dalam

Proses Pembelajaran pada mata Pelajaran Sejarah di SMA N Se Kabupaten Dharmasraya.

2. Kegiatan Inti dalam Proses Pembelajaran pada mata Pelajaran Sejarah di SMA N Se Kabupaten Dharmasraya.

3. Kegiatan Penutup dalam Proses Pembelajaran pada mata Pelajaran Sejarah di SMA N Se Kabupaten Dharmasraya.

Sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan maka penelitian ini diharapkan berguna untuk:

1. Untuk memperbaiki dan meningkatkan efektifitas pelaksanaan proses pembelajaran sejarah di SMA N Kabupaten Dharmasraya.

2. Sebagai bahan bagi guru Pendidikan Sejarah meningkatkan mutu pengajaran.

3. Sebagai bahan bacaan di perpustakaan yang diharapkan dapat meningkatkan dan menambah pengetahuan mahasiswa dan masyarakat yang membacanya.

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini pernah dilakukan oleh Novma Rengga dengan judul “ Pelaksanaan guru dalam menerapkan keterampilan mengadakan variasi pada pembelajaran sejarah di SMP Negeri 3 Pantai Cermin Kabupaten Solok ’’ (Novma Rengga : 2014)

Skripsi Syafni Arianti dengan judul “ kemampuan guru sejarah dalam Mengajarkan Mata Pelajaran Sejarah Di SLTP N Kec. Lembah Gumanti Kab.Solok ’’.

Skripsi Rizki Yushar (2010) dengan judul “Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada Pembelajaran

Sejarah di MAN 2

Payakumbuh“Rizki Yushar : 2010)

(4)

Skripsi Fitri Ayudya Sari, dengan judul “ Kesiapan Guru Sejarah dalam pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Oleh Guru-guru Sejarah di SMU N Kabupaten Brebes Utara (Fitri Ayudya Sari.2008)

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat deskriptif studi evaluatif. Menurut Moleong (2010:11) , metode deskriptif ini untuk melihat, mengetahui, meninjau dan mengungkapkan keadaan apa adanya pada waktu penelitian dilakukan.

Sedangkan evaluatif suatu penelitian untuk mengevaluasi pelaksanaan suatu kebijakan dalam proses pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Tempat penelitian ini berlokasi di SMA N 1 Pulau Punjung dan SMA N 2 Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya, Waktu penelitian semester genap 2013/2014.

Informan penelitiannya adalah kepala sekolah, guru sejarah, siswa- siswa SMA N 1 Pulau Punjung dan SMA N 2 Pulau Punjung. Data penelitian ini dihimpun melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi.

Untuk menguji validitas datar Agar data dapat dipercaya, maka penelitian ini menggunakan trianggulasi, yaitu dengan memberikan pertanyaan yang sama pada sumber yang berbeda. Menurut Moleong (2010: 330) trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Berdasarkan hal tersebut maka teknik yang digunakan

dalam penelitian ini adalah trianggulasi sumber. Trianggulasi sumber menurut Moleong (2010:

330) maksudnya adalah membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda

Data yang dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi disusun dan diolah secara sistematis, kemudian disajikan secara deskriptif.

Maksudnya data yang dikumpulkan tidak menggunakan perhitungan secara statistik, namun lebih menekankan pada penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mencapai pengertian dan mendapatkan informasi yang memadai dari informan. Analisa yang dilakukan dengan melakukan interpretasi data secara terus menerus dari awal penelitian.

Menurut Miles dan Huberman (dalam Sugiyono 2011:337) metode analisis data yang dipakai dalam penelitian kualitatif melalui beberapa tahap analisa data yaitu:

1. Reduksi data

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu.

Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah

untuk melakukan

pengumpulan data

selanjutnya.

2. Display data (Penyajian data) Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya

(5)

mendisplay data, melalui penyajian data tersebut maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan sehingga akan semakin mudah dipahami.

Penulis juga melakukan display data secara sistematik, agar mudah untuk dipahami dan data diklasifikasikan berdasarkan tema-tema inti sehingga mudah dalam penyajiannya.

3. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan dan verifikasi, kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah setelah ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung maka kesimpulan bersifat sempurna.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengamatan, wawancara serta dokumentasi terhadap guru, dalam melakukan kegiatan pendahuluan guru belum sepenuhnya melaksanakan sesuai dengan Permendiknas No 41 tahun 2007, karena disebabkan oleh waktu yang singkat dan materi sejarah yang begitu banyak sehingga membuat guru tidak sepenuhnya efisien dalam melaksanakan kegiatan pendahuluan dalam proses pembelajaran secara maksimal.

Dalam kegiatan pendahuluan guru hanya melakukan absensi dan melaksanakan peninjauan kembali materi yang sudah dipelajari sebelumnya (Appersepsi) tetapi tidak memberikan pertanyaan, dan disini guru belum menjelaskan tujuan

pembelajaran serta tidak menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran. Sedangkan menurut Permendiknas 41 tentang standar proses pembelajaran dimana dalam kegiatan pendahuluan guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran, mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari, menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai, menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus. Tetapi pada kenyataanya guru hanya mengabsen dan mengulangi pelajaran minggu sebelumnya.

Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD.

Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

Berdasarkan hasil pengamatan, dimana dalam melakukan kegiatan inti belum sepenuhnya sesuai Permendiknas 41 tahun 2007. Karena juga disebabkan oleh waktu yang singkat dan materi sejarah yang begitu banyak sehingga membuat guru tidak efisien dalam proses pembelajaran.

(6)

Hal ini terlihat dari hasil pengamatan dan wawancara serta dokumentasi yang telah dipaparkan sebelumnya. dalam kegiatan inti Guru hanya menerangkan pelajaran sampai habis dan setelah menerangkan guru memberikan pertanyaan guru menguatkan jawaban dari siswa dan memberikan tugas dirumah kepada siswa, sehingga siswa mendengarkan dan mencatat saja.

Sedangkan menurut

Pemendiknas No 41 tahun 2007 dalam kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpatisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, krativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi.

Kegiatan penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau simpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut. Berdasarkan hasil penelitian, dalam kegiatan penutup guru belum sepenuhnya melaksanakan sesuai Permendiknas No 41 tahun 2007.

Disebabkan oleh waktu yang singkat dan materi sejarah yang begitu banyak sehingga membuat guru tidak efisien dalam proses pembelajaran Hal ini terlihat dari

hasil pengamatan wawancara dan dokumentasi yang telah dipaparkan sebelumnya dimana dalam kegiatan penutup guru hanya meminta siswa untuk mengulangi pelajaran dirumah dan menyuruh siswa membaca materi minggu yang akan datang dan guru siap-siap keluar kelas.

Sedangkan menurut

Pemendiknas 41 Tahun 2007 dalam kegiatan penutup guru bersama-sama dengan peserta didik dan sendiri membuat rangkuman / simpulan, melakukan penilaian atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terpogram, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, pengayaan, layanan konseling dan memberikan tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

KESIMPULAN

1. Kegiatan Pendahuluan dalam pelaksanaan membuka pelajaran, kegiatan ini merupakan rangkaian yang perlu dikembangkan pada awal pembelajaran dalam Proses Pembelajaran pada mata Pelajaran Sejarah di SMA N Se Kabupaten Dharmasraya, belum terlaksana dengan maksimal sesuai Permendiknas 41 Tahun 2007. Dari hasil penelitian guru hanya meninjau kembali materi pelajaran minggu yang lalu tanpa adanya menjelaskan tujuan pembelajaran dan menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik.

(7)

2. Kegiatan Inti merupakan rangkaian eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi yang perlu dikembangkan pada pembelajaran pada mata Pelajaran Sejarah di SMA N Se Kabupaten Dharmasraya, juga belum sepenuhnya terlaksana dengan baik sesuai Permendiknas No. 41 Tahun 2007. Guru hanya menerangkan pelajaran sampai habis dan setelah menerangkan guru memberikan pertanyaan kepada siswa sdimana telah itu guru memberikan penguatan dari jawaban siswa.

3. Kegiatan Penutup belum terlaksana dengan maksimal sesuai Permendiknas No. 41 Tahun 2007.

Guru tidak melakukan refleksi atau menyimpulkan pelajaran, guru hanya meminta siswa untuk mengulangi pelajaran dirumah dan guru siap-siap keluar rumah.

DAFTAR PUSTAKA A. Buku

Hamalik, Oemar. (2008). Kurikulum dan Pengembangan. Bandung : Bumi Aksara

Hamzah, B. (2008). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta : Sinar Grafika.

Meleong, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualititatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Mulyasa. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung : Rosdakarya.

Muslich, Masnur. (2007). KTSP Dasar Pemahaman dan Pengembangan.Malang:

BumiAksara.

Permendiknas.(2007).Standar Proses untuk Pendidikan Dasardan Menengah. Jakarta.

Soehendro, Bambang. (2006).

Panduan Penyiusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta : Badan Standar Nasional Pendidikan.

Sudjana, Nana. (2008). Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung : Sinar Baru Algesindo.

Sugiyono. (2011). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeto

Suharsimi Arukunto. (2002).

Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta

Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Wina, Sanjaya. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Bumi Aksara

B. Skripsi

Novma Rengga (2014). Pelaksanaan guru dalam menerapkan keterampilan mengadakan variasi pada pembelajaran sejarah di SMPNegeri 3 Pantai Cermin Kabupaten Solok.

Syafni Arianti (2008). Kemampuan guru sejarah dalam Mengajarkan MataPelajaran Sejarah Di SLTP N Kec.

Lembah Gumanti Kab.Solok.

Rizki Yushar (2010). Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan padaPembelajaran Sejarah di MAN 2 Payakumbuh.

Fitri Ayudya Sari, (2008). Kesiapan Guru Sejarah dalam pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Oleh Guru- guru Sejarah di SMU N Kabupaten Brebes Utara

Referensi

Dokumen terkait

Kasmawarni menjadi ketua Perwati semenjak tahun 1998 maka hal yang dilakukannya terhadap pendidikan yaitu mendirikan TK RA Amanah Batukambing pada tanggal 17 Juli 2002 dengan nama TK RA

Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling dilihat dari Pengevaluasian Pelaksanaan Program BK Mengenai pengevaluasiaan pelaksanaan program BK, guru BK telah melaksanakan pengevaluasian yaitu