1
Pendahuluan
Digitalisasi di era 4.0 merupakan keniscayaan. Pasti terjadi dan harus diikuti agar tidak tergerus kemajuan jaman. Era 4.0 merupakan era industri baru yang ditandai dengan era digitilasisasi di pelbagai sektor kehidupan (Suwardana, 2018). Digitalisasi di era 4.0 berarti menjadikan kegiatan dan berbagai urusan lebih banyak dilakukan melalui jaringan internet atau secara online. Digitalisasi paling cepat dilakukan di sektor bisnis sebagai sektor aktivitas yang paling kompetitif dibandingkan sektor kesehatan, budaya, atau yang lainnya. Semua yang menjalankan bisnis harus lebih responsif dan cekatan dalam menangkap peluang guna mengembangkan usahanya, tidak terkecuali Usaha Mikro Kecil dan Menegah (UMKM).
Usaha Mikro Kecil dan Menegah (UMKM) di Indonesia menjadi salah satu sektor usaha yang cukup mendominasi dijalankan oleh pelaku usaha. UMKM merupakan jenis usaha yang memiliki pemilik dan pengelola yang sama, dengan modal disediakan oleh pemilik atau sekelompok kecil pemilik modal dan jarang menggunakan hutang perbankan. UMKM mengalami tantangan persaingan yang tidak ringan di era industri 4.0 ditandai oleh makin kuatnya digitalisasi segala bidang terutama di dunia bisnis(Idah, 2019). Kebutuhan untuk menjalankan bisnis secara lebih efektif dan efisien serta akuntabel haruslah dipenuhi, salah satunya adalah dengan melakukan pencatatan akuntansi secara digital. Akuntansi merupakan proses sistematis untuk menghasilkan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan bagi penggunanya termasuk juga bagi pelaku UMKM (Fatwitawati, 2018). Era sekarang, akuntansi telah lebih maju lagi dengan menerapkan akuntansi digital.
Digitalisasi UMKM telah menjadi sesuatu hal yang sudah tidak dapat dielakkan lagi sekaligus menjadi salah satu solusi bagi para pelaku UMKM yang jumlahnya sangat besar di Indonesia (Wijoyo, 2020). Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KemenkopUKM) bulan Maret 2021, jumlah UMKM mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 61,07 persen atau senilai Rp 8.573,89 triliun. UMKM mampu menyerap 97 persen dari total tenaga kerja yang ada, serta dapat menghimpun sampai 60,42 persen dari total investasi di Indonesia (Sasongko, 2021). UMKM tersebar di berbagai kota, salah satunya di Kota Salatiga, Jawa Tengah.
Jumlah UMKM di Kota Salatiga mencapai 823 unit UMKM pada tahun 2021 (Dinas Koperasi, Usaha Kecil & Menengah Provinsi Jawa Tengah, 2021).Keberadaan UMKM ini didukung oleh Pemerintah Kota Salatiga dengan adanya program pengentasan kemiskinan di Kota Salatiga. Seiring dengan perkembangan UMKM di Salatiga ini, terdapat kendala yang dihadapi oleh wirausahawan UMKM, khususnya dalam aspek keuangan, yaitu masalah kinerja
2
keuangan dan pencatatan akuntansi. Menurut Farhan et al. (2020), masalah ini disebabkan karena rendahnya pendidikan wirausahawan UMKM, masih kurangnya pemahaman wirausahawan UMKM mengenai pencatatan akuntansi baik manual maupun digital dan masih kurangnya pelatihan dalam proses penyusunan laporan keuangan.
Pencatatan keuangan secara manual di era digital seperti ini sudah mulai ditinggalkan, seiring dengan banyaknya tersedia software akuntansi yang dapat digunakan. Sebenarnya sudah banyak software akuntansi yang disediakan oleh perusahaan pengembangan software akuntansi, seperti Myob, Xero, dan Zahir. Idealnya, UMKM menerapkan akuntansi digital.
Kenyataannya, belum banyak UMKM yang memanfaatkan software yang sudah ada (Rinandiyana, 2020). Pemanfaatan teknologi dalam kegiatan pencatatan akuntansi ini dapat memudahkan para pelaku UMKM dalam melihat celah dan kesempatan yang mungkin terjadi sehingga akan dapat mengantisipasi maupun memanfaatkan kemungkinan yang terjadi di masa yang akan datang (Farhan et al., 2020). Kenyataannya, belum banyak UMKM yang menerapkan akuntansi digital (Achadiyah, 2019). Proses digitalisasi ini berbeda dengan komputerisasi. Komputerisasi hanya sebatas penggunaan komputer dalam proses pencatatan akuntansi, sedangkan untuk digitalisasi lebih kepada aspek yang berkaitan dengan dunia digital dan platform online. Terdapat sejumlah aplikasi yang tersedia yang dapat didownload oleh pengguna di playstore.
Terkait dengan penerapan proses pencatatan akuntansi digital yang dilakukan oleh pelaku UMKM, Achadiyah (2019) menjelaskan, bahwa pelaku UMKM merasa dimudahkan dengan adanya sistem pencatatan akuntansi digital karena semakin dimudahkan dalam proses pencatatan akuntansi. Sistem informasi akuntansi dapat membantu para pelaku UMKM yang memiliki keterbatasan pemahaman ilmu akuntansi. Para pelaku UMKM juga masih sulit untuk menemukan jenis software yang sesuai dengan kegiatan usaha mereka, software tersebut memiliki sistem yang kompleks untuk aktivitas tingkat UMKM dan kurangnya pengetahuan para pelaku mengenai teknologi digital ini atau lebih dikenal dengan gagap teknologi. Biaya untuk menyewa jasa pembuatan software khusus yang sesuai kebutuhan UMKM pun tidaklah murah dan hal inilah yang membuat pelaku UMKM enggan untuk menggunakan software khusus. Namun dengan adanya sejumlah aplikasi praktis yang bisa didownload, maka keengganan sebagaimana diungkapkan Achadiyah (2019) menjadi terbantahkan.
Rachmawati (2018) berpendapat, banyak pelaku UMKM yang masih menggunakan pencatatan akuntansi secara manual dan bahkan tidak melakukan pencatatan sama sekali
3
dikarenakan penggunaan software akuntansi yang sangat kompleks. Bahkan, dalam pencatatan yang dilakukan pun masih belum sesuai dengan standar yang ada sehingga laporan keuangan yang disajikan menjadi tidak akuntabel dan tidak dapat diandalkan (Andarsari & Dura, 2018) . Laporan keuangan yang disajikan menggunakan software akuntansi digital ini dinilai akan lebih akurat dan akuntabel serta memudahkan bagi pelaku UMKM untuk memahami kondisi keuangan UMKM yang dijalankannya (Thomas, Miller, & Simmons, 2015). Seharusnya, UMKM antusias menerapkan pencatatan akuntasi digital agar pencatatan keuangan lebih akuntabel sehingga bisnis bisa dijalankan lebih efektif dan efisien. Kenyataannya, masih banyak UMKM yang memilih pencatatan akuntansi secara manual.
Para pelaku UMKM harus melakukan pencatatan akuntansi dengan tepat dan benar untuk menghasilkan laporan keuangan yang akuntabel dan dapat diandalkan. Dalam hal ini, para pelaku UMKM membutuhkan suatu sistem yang penggunaannya mudah dan memberikan manfaat informasi akuntansi. Pada studi ini, pihak UMKM yang berpartisipasi adalah paguyuban UMKM olahan singkong yang menggunakan maupun tidak menggunakan sistem pencatatan akuntansi digital dan tidak membatasi dalam penggunaan platform digital software tertentu. Paguyuban olahan singkong ini bertempat di Kecamatan Argomulyo, Salatiga.
Paguyuban olahan singkong ini berada di kawasan desa wisata kuliner yangbanyak dikunjungi wisatawan sehingga banyak transaksi penjualan yang membutuhkan aplikasi akuntansi digital.
Penggunaan aplikasi akuntansi digital telah banyak digunakan oleh pelaku UMKM di desa wisata kuliner ini, tetapi masih ada sebagian pelaku UMKM yang belum menggunakan aplikasi digital.
Paguyuban singkong ini merupakan kelompok UMKM yang bergerak dalam sektor kuliner pengolahan singkong. Pencatatan akuntansi digital dibutuhkan agar pengelolaan usaha lebih efisien. Kenyataan sudah banyak pelaku UMKM olahan singkong yang sudah memakai aplikasi akuntansi digital, namun juga masih ada sebagian yang belum menerapkan pencatatan akuntansi digital menjadi menarik untuk diteliti. Konstruk yang digunakan dalam penelitian ini, mengacu pada penelitian sebelumnya yaitu: Otomatisasi Pencatatan Akuntansi Pada UMKM (Achadiyah, 2019), namun dimodifikasi dengan tidak membatasi platform teknologi digital yang digunakan oleh pelaku UMKM.
Masalah dalam penelitian ini adalah para pelaku UMKM masih belum sepenuhnya menggunakan sistempencatatan akuntansi digital, buktinya beberapa pelaku UMKM yang sudah menggunakan pencatatan akuntansi digital namun juga masih menggunakan manual.
Bahkan ada pelaku UMKM yang belum menggunakan sama sekali, padahal pemilik UMKM
4
sangat membutuhkan pencatatan tersebut. Masalah ini juga sejalan dengan temuan Atmojo, (2020) terhadap UMKM pengolahan singkong Keripik Bu Tin, yang mana pencatatan akuntansi yang dilakukan secara manual pada buku penjualan yang seadanya saja. Penelitian Atmojo (2020) dengan pendekatan studi kasus mengangkat permasalahan efektivitas pengendalian internal pencatatan penjualan dan penerapan sistem informasi akuntansi yang efektif di siklus pendapatan. Hasil penelitian Atmojo mengungkaptkan bahwa pengendalian internal pencatatan penjualan dan penerapan sistem informasi akuntansi yang tidak efektif.
Salah satu sebab tidak efektif yaitu UMKM pengolahan singkong keripik Bu Tin yang dalam pencatatan akuntansi dilakukan secara manual dan seadanya. Temuan tersebut menarik untuk ditindaklanjuti dengan penelitian yang mencoba mengungkap perilaku para pelaku UMKM dalam pencatatan akuntansi di era digital dan faktor apa saja yang mempengaruhinya.
Hasil observasi pendahuluan terhadap kegiatan transaksi jual beli olahan singkong di Argomulyo, Kota Salatiga menunjukkan kondisi empirik yakni banyaknya penggunaan pencatatan akuntansi digital dalam usahanya, namun tidak sedikit yang belum menggunakan aplikasi. Beberapa pelaku UMKM yang sudah menggunakan aplikasi digital juga masih ada yang mencatatkan transaksi secara manual. Fenomena kegiatan UMKM olahan singkong di Argomulyo terkait dengan pencatatan akuntansi digital menarik untuk diteliti. Keputusan untuk menggunakan atau tidak menggunakan pencatatan akuntansi digital merupakan pilihan rasional yang didasari oleh suatu keyakinan, sikap, perilaku ataupun aturan atau ketentuan yang diikuti oleh masing-masing individu. Dalam konteks ini, Theory of Reasoned Action (TRA) dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena yang diteliti.
Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini yaitu: 1) bagaimana perilaku UMKM dalam pencatatan akuntansi di era digital, dan 2) apa saja faktor yang mempengaruhi perilaku UMKM dalam penerapan pencatatan akuntansi secara digital. Sejalan dengan permasalahan tersebut, penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis perilaku UMKM dalam pencatatan akuntansi di era digital, serta faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku UMKM dalam penerapan pencatatan akuntansi secara digital.
Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan kontribusi praktis.
Kontribusi teoritis hasil penelitian ini yaitu dapat memperkaya kajian dalam bidang ilmu bisnis khususnya yang berkaitan dengan akuntansi digital di kalangan pelaku bisnis UMKM.
Sedangkan untuk kontribusi praktis, penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai pentingnya, manfaat dan kendala yang dihadapi pelaku UMKM dalam menerapkan pencatatan akuntansi secara digital sehingga mendorong pelaku UMKM yang belum menggunakan aplikasi digital untuk menggunakan aplikasi dalam pencatatan keuangannya.