• Tidak ada hasil yang ditemukan

pendidikan karakter di sekolah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pendidikan karakter di sekolah"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kehidupan siswa saat ini sangat memprihatinkan karena tidak ditanamkan seperti apa pendidikan karakter. Berdasarkan permasalahan di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pendidikan Karakter di Sekolah (Studi tentang Penyimpangan Siswa di SMA Negeri Bantaeng)”.

Tabel 1.1 Kegiatan Siswa
Tabel 1.1 Kegiatan Siswa

Rumusan Masalah

Tujuan

Mamfaat

Hasil penelitian bermanfaat sebagai acuan dalam pelaksanaan proses pendidikan siswa dalam meningkatkan pendidikan karakter siswa. Kegunaannya bagi masyarakat luas diharapkan dapat meningkatkan pendidikan karakter pada peserta didik untuk mengembangkan karakter agar tidak melakukan perilaku menyimpang.

Defenisi Operasional

Kegunaan peneliti bagi penulis adalah untuk memberikan wawasan dan pengalaman bagi peneliti dalam memahami permasalahan pendidikan karakter di sekolah. Dari uraian peneliti di atas tentang perlunya pendidikan karakter, terlihat jelas bahwa setelah keluarga, sekolah merupakan lembaga pendidikan moral anak dan disebut juga lembaga sekunder yang memegang peranan penting, yang tujuannya adalah untuk membentuk pembangunan fisik yang menyeluruh. , aspek intelektual dan moral (karakter) untuk mempersiapkan siswa mencapai kehidupan yang sukses dan bermasyarakat.

Kajian Penelitian Relevan

Deni Setiawan (2013) “Peran Pendidikan Karakter Dalam Pengembangan Kecerdasan Moral” Pembangunan karakter bangsa yang diupayakan dalam berbagai bentuk masih belum terlaksana secara optimal. Berdasarkan ketiga penelitian di atas, sama-sama membahas tentang pendidikan karakter di sekolah dan cara penerapannya.

Pendidikan Karakter

Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah kemampuan siswa untuk meningkatkan karakter tanggung jawab terhadap diri pribadi seseorang. Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah pembentukan karakter siswa untuk meningkatkan prestasi siswa untuk semua.

Bentuk Perilaku Menyimpang a. Tindakan kriminal/kejahatan

Perilaku menyimpang yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di sekolah, baik disadari maupun tidak disadari. Berdasarkan hal di atas, peneliti dapat membedakan perbuatan yang dilakukan siswa antara satu siswa dengan siswa lainnya, berbagai jenis perilaku menyimpang yang dilakukan, ada yang tindakannya sangat besar atau kecil. Persamaannya adalah setiap siswa melakukan apa yang disebut dengan penyimpangan, namun cara dan upaya yang sama dilakukan dalam mendidik anak untuk tidak melakukan hal yang disebut dengan perilaku menyimpang yang sebaiknya dihindari.

Arogansi dan eksentrisitas Arogansi, termasuk kesombongan terhadap sesuatu yang dimiliki, seperti kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Semua ini memiliki faktor-faktor yang mencakup mengetahui bahwa itu tidak menguntungkan tetapi masih melakukan tindakan tersebut. Siswa yang melakukan hal tersebut seringkali tidak mengetahui maksudnya, namun berbagai hal telah mereka lakukan untuk menghindari perilaku menyimpang tersebut, namun tetap saja mereka melakukannya.

Teori – Teori Penyimpangan a. Teori belajar atau teori sosialisasi

Teori ini tidak berusaha menjelaskan mengapa individu tertentu tertarik atau terlibat dalam tindakan menyimpang, namun yang ditekankan adalah pentingnya definisi sosial dan sanksi sosial negatif yang dikaitkan dengan tekanan pada individu untuk melakukan tindakan yang lebih menyimpang. Backer (dalam Chinard dan Meier 2009: 92) mendefinisikan penyimpangan sebagai “konsekuensi dari penerapan aturan dan sanksi oleh orang lain terhadap seorang pelanggar”.

Kerangka Konsep

Penyimpangan karakter melalui pendidikan karakter didasarkan pada moral dan cita-cita individu serta berdasarkan nilai dan norma yang telah ditetapkan. Dalam hal ini peneliti dapat mendefinisikan penyimpangan sebagai perilaku yang tidak sesuai dengan aturan dan ketentuan. itu tidak berlaku.

Jenis Penelitian

Pujosuwarno (2009: 1) mengemukakan pandangan bahwa studi kasus dapat diartikan sebagai suatu teknik mempelajari seseorang secara mendalam untuk membantunya mencapai penyesuaian diri yang baik. Menurut Lincoln dan Guba (dalam Dedy Mulyana), penggunaan studi kasus sebagai metode penelitian kualitatif memiliki beberapa keunggulan, yaitu Studi kasus menyajikan gambaran komprehensif yang serupa dengan apa yang dialami pembaca dalam kehidupan sehari-hari.

Pada dasarnya penelitian jenis studi kasus dimaksudkan untuk mengetahui sesuatu secara lebih mendalam. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan metode studi kasus untuk mengungkap konsep diri dan faktor-faktor yang melatarbelakangi pembentukan karakter di sekolah.

Lokus penelitian

Informan Penelitian

Fokus Penelitian

Instrumen Penelitian

Untuk menjaga objektivitas peneliti sebagai alat utama, penelitian ini menggunakan berbagai alat pendukung berupa panduan wawancara, panduan observasi dan dokumentasi pendidikan karakter di sekolah. Dalam penelitian ini peneliti memulai dari tahap awal penelitian hingga hasil penelitian ini semua dilakukan oleh peneliti. Selain itu, untuk menunjang pencapaian hasil penelitian, peneliti menggunakan alat berupa lembar observasi, panduan wawancara dan catatan dokumentasi sebagai pendukung penelitian ini.

Lembar Observasi, berisi catatan-catatan yang diperoleh melalui penelitian pada saat dilakukan pengamatan langsung di lapangan. Panduan wawancara merupakan seperangkat pertanyaan yang disiapkan oleh peneliti sesuai dengan rumusan masalah dan pertanyaan peneliti yang akan dijawab melalui proses wawancara. Catatan dokumentasi menunjang data yang dikumpulkan untuk memperkuat data observasi dan wawancara berupa gambar, data sesuai dengan kebutuhan penelitian.

Jenis dan Sumber data Penelitian

Data sekunder yaitu berupa dokumen atau literatur dari buku, internet, jurnal dan lain sebagainya. Menurut Lofland dan Lofland (2008:47), sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya merupakan data tambahan seperti dokumen dan sebagainya. Berkenaan dengan itu, jenis data pada bagian ini dibedakan menjadi kata-kata dan perbuatan, sumber data tertulis dan foto.

Sumber tertulis jelas tidak bisa diabaikan, padahal sumber di luar kata-kata dan tindakan dikatakan sebagai sumber sekunder. Bahan tambahan dari sumber tertulis dapat dibedakan sumber datanya menjadi sumber dari buku dan jurnal ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi.

Teknik Pengumpulan Data

Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap objek yang akan diteliti. Metode observasi merupakan suatu metode pengumpulan data yang digunakan untuk mengetahui data yang dilihat secara langsung. Metode observasi adalah suatu metode yang dilakukan dengan cara mengamati objek yang diteliti, seperti yang dikemukakan oleh Hadi, “Metode observasi biasanya dikatakan mengamati dan mencatat secara sistematis gejala-gejala yang diteliti, dalam arti luas pengamatan terhadap tindakan hanya sebatas observasi. dilakukan secara langsung dan tidak langsung.

Wawancara adalah pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara mendalam atau antara peneliti dan informan, yang dilakukan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap dan jelas. Teknik ini disertai dengan pencatatan konsep, gagasan dan pengetahuan informan yang dilakukan secara tatap muka. Dokumentasi merupakan suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data berupa dokumen, baik dokumen tertulis maupun gambar.

Tabel 3.2 Teknik Pengumpulan Data  No  Jenis pengumpulan
Tabel 3.2 Teknik Pengumpulan Data No Jenis pengumpulan

Analisi Data

  • Teknik Keabsahan Data

Keabsahan data menggunakan sesuatu selain data itu dengan tujuan untuk memeriksa atau membandingkan data itu. Denzin (2009:89) mengartikan triangulasi sebagai gabungan atau kombinasi berbagai metode yang digunakan untuk mempelajari fenomena yang saling berkaitan dari berbagai sudut pandang dan perspektif. Menurutnya, triangulasi mencakup empat hal, yaitu: (1) triangulasi metode, (2) triangulasi antar peneliti (jika penelitian dilakukan secara kelompok), (3) triangulasi sumber data.

Untuk memperoleh informasi yang dapat dipercaya dan gambaran yang utuh mengenai informasi tertentu, peneliti menggunakan metode wawancara dan observasi untuk mengecek kebenarannya. Triangulasi antar peneliti dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu orang dalam pengumpulan dan analisis data. Setiap metode akan menghasilkan bukti atau data yang berbeda-beda, yang kemudian akan memberikan pandangan berbeda terhadap fenomena yang diteliti.

Kota bantaeng

Sebelah utara Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinjai, sebelah selatan Kabupaten Jeneponto dan Laut Flores, sebelah barat Kabupaten Gowa dan Kabupaten Jeneponto, serta sebelah timur Kabupaten Bulukumba. Kabupaten Bantaeng yang mencakup 0,63% luas wilayah Sulawesi Selatan masih mempunyai potensi alam yang perlu dikembangkan lebih lanjut. Dan tepatnya di Kecamatan Bissappu yang terdiri dari 11 kecamatan di Kecamatan Bonto Atu dengan kode pos 92451 peneliti melakukan penelitian tepatnya di SMA Negeri 2 Bantaeng.

Letak Geografis Sekolah SMA Negeri 2 Bantaeng

Sejarah Singkat Sekolah SMA Negeri 2 Bantaeng

Visi Misi dan Tujuan SMA Negeri 2 Bantaeng 1. Visi

Penyelenggaraan pendidikan SMA Negeri 2 Bantaeng

Tata Tertip di SMA Negeri 2 Bantaeng

Seragam adalah pakaian yang wajib dipakai siswa pada saat mengikuti kegiatan pembelajaran, baik yang dilaksanakan di sekolah maupun di tempat lain menurut hari yang ditentukan oleh sekolah. Atribut merupakan identitas siswa lengkap yang wajib digunakan oleh seluruh siswa sebagaimana ditentukan oleh pihak sekolah. Angka Kredit Pelanggaran Siswa adalah angka/nilai yang diberikan kepada siswa akibat pelanggaran yang dilakukannya.

Nilai debet mahasiswa adalah angka/nilai yang diberikan kepada mahasiswa sebagai imbalan atas prestasinya dalam rangka menurunkan nilai kredit. 14. Skorsing sebagai sanksi atas pelanggaran terhadap nilai kredit yang diperoleh mahasiswa dengan memberikan tugas sesuai jadwal perkuliahan. Sanksi merupakan hukuman bagi siswa yang melanggar peraturan sekolah.

Prosedur penerimaan Siswa Baru SMA Negeri 2 Bantaeng

Fasilitas SMA Negeri 2 Bantaeng

  • Sumber Daya SMA Negeri 2 Bantaeng
    • Bolos
    • Gaya Hidup (Penampilan Siswa)
    • Malas Belajar

Ini semua adalah siswa yang sering keluyuran ke luar daerah, namun mengikuti sesi pada jam pelajaran. Suatu bentuk penyimpangan karakter gaya hidup siswa, dimana gaya hidup tersebut sering dilakukan oleh sebagian siswa yang tidak menaati aturan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini ya, ada beberapa siswa yang sering saya lihat dari segi cara berpakaiannya di lingkungan sekolah yang tidak sesuai dengan peraturan sekolah.

Ya, ada sebagian siswa yang malas dalam belajar dan mengerjakan tugas sekolah. “Siswa yang sering melanggar tata tertib yang dipasang di setiap ruang kelas.” Dengan adanya beberapa diversi siswa yang dilakukan, pihak sekolah selalu berusaha mencari solusi bagi siswa yang masih melakukan diversi.

Gambar 5.1 Siswa bolos  Gambar 5.2 Siswa bolos
Gambar 5.1 Siswa bolos Gambar 5.2 Siswa bolos

Faktor Penyebab Malas Belajar

  • Merusak Tatanan Nilai dan Norma
  • Merusak Unsur-Unsur Budaya
  • Mengundang Beban bagi Sekolah
  • Penanaman Nilai dan Norma yang Kuat
  • Pelaksanaan Peraturan yang Konsisten
  • Penyuluhan- Penyuluhan terkait Nilai dan Norma serta aturan-aturan Dalam Sekolah Dalam Sekolah

Beberapa siswa yang sering melanggar sekolah mempunyai pengaruh terhadap nilai dan norma. Ya jelas ingin melanggar nilai dan norma yang menyebabkan penyimpangan karakter karena berdampak pada siswa lain. Ya, itu menghancurkan nilai dan norma siswa disini serta peraturan yang ada di sekolah ini.

Ya, itulah perilaku yang melanggar nilai dan norma yang dilakukan oleh siswa yang melanggar peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan di sekolah ini. Dari segi penyimpangan siswa yang mengakibatkan rusaknya unsur budaya di SMA Negeri 2 Bantaeng. Sedangkan unsur budaya sekolah itu sendiri merusak berbagai macam adat istiadat yang ada di sekolah, serta nilai-nilai dan norma-norma yang ada di sekolah tersebut.” (Hasil Observasi 24 Juli 2018).

Konseling - Penyuluhan tentang nilai dan norma serta aturan di sekolah di sekolah di sekolah. Sekaligus di sini guru menceritakan tentang pendidikan karakter sekaligus membahas tentang nilai-nilai dan norma-norma yang harus dihormati di SMA Negeri 2 Bantaeng.

Gambar 6.1 Siswa yang melakukan peredaran obat terlarang dan Narkoba
Gambar 6.1 Siswa yang melakukan peredaran obat terlarang dan Narkoba

PENUTUP

Saran

Pendidikan karakter bangsa dalam perspektif Islam (Kajian kritis konsep pendidikan karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). PERSEPSI DAN PERILAKU SISWA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER (Studi Kasus di Jurusan Pendidikan IPS Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret).

Gambar 1.1 Lokasi penelitian SMA Negeri 2 Bantaeng
Gambar 1.1 Lokasi penelitian SMA Negeri 2 Bantaeng

Gambar

Tabel 1.1 Kegiatan Siswa
Tabel 1.2 Penyimpangan Siswa
Tabel 3.1 Informan Penelitian
Tabel 3.2 Teknik Pengumpulan Data  No  Jenis pengumpulan
+7

Referensi

Dokumen terkait

When this idea is added to the progressivist understanding of history and the radical form of modern individualism, we have a recipe for moral revolution... And, as with the other