PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PELAKU PEMBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI WILAYAH HUKUM KEPOLISIAN
SEKTOR MINAS BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN
DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Di Fakultas Hukum
Universitas Lancang Kuning
Disusun Oleh:
NAMA : JOKI ARMANSYAH DALIMUNTHE NPM : 1774201263
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LANCANG KUNING PEKANBARU
TAHUN 2021
v
vii
Terjadinya kasus kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Minas Kabupaten Siak kembali terjadi, terdapat 2 kasus karhutla dalam 3 tahun terakhir. Dengan demikian terjadi pertentangan antara aturan yang mengatur yakni Undang_undang No 32 Tahun 2009 dengan kasus yang terjadi. Rumusan masalah yang pertama, bagaimanakah pelaksanaan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan di Wilayah Hukum Kepolisian Sektor Minas Berdasarkan Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan?, kedua, Bagaimana Hambatan Pelaksanaan Penegakan Hukum terhadap Pelaku Pembakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Hukum Kepolisian Sektor Minas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan?, dan ketiga, Bagaimana Upaya Polisi dalam Penanggulangan Karhutla di Wilayah Hukum Kepolisian Sektor Minas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan?. Tujuan penelitian ini, pertama, Untuk mengetahui Pelaksanaan Penegakan Hukum terhadap Pelaku Pembakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Hukum Kepolisian Sektor Minas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan, kedua, Untuk mengetahui Hambatan Pelaksanaan Penegakan Hukum terhadap Pelaku Pembakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Hukum Kepolisian Sektor Minas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan, dan ketiga, Untuk mengetahui Upaya Kepolisian dalam penanggulangan Karhutla di Wilayah Hukum Kepolisian Sektor Minas berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan. Metode penelitian pada penelitian ini adalah hukum sosiologis, lokasi penelitian ini Kantor Kepolisian Sektor Minas, penelitian ini menggunakan jenis data primer, sekunder dan tertier, teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara dan kajian kepustakaan.
Analisis data menggunakan analisis deduktif dan induktif. Hasil penelitian, pertama, proses penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan di wilayah hukum kepolisian sektor Minas masih dalam proses penyelidikan, hal ini dikarenakan pada saat olah TKP tidak ditemukan saksi dan barang bukti, kedua, hambatan yang terjadi dalam penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan ini lokasi yang sulit ditempuh, tidak adanya saksi dan barang bukti, keterbatasan anggaran dalam mendatangkan saksi ahli, dan alur Birokrasi Penegakan Hukum yang panjang, dan ketiga, Upaya Polisi dalam Penanggulangan Karhutla diantaranya melakukan pengaturan, penjagaan, pengawalan dan patroli bersama aparat desa/lurah, membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan perundang-undangan lainnya.
Kata kunci: Penegakan hukum, Karhutla, Kecamatan Minas.
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki hutan tropis yang terluas di dunia, yang di dalamnya terdapat kekayaan sumber daya hutan dan keanekaragaman hayati yang beragam yang selama ini dimanfaatkan secara langsung maupun tidak langsung untuk memenuhi kebutuhan manusia, masyarakat, dan Negara Indonesia.1
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutan, pada tahun 2019 luas lahan berhutan di Indonesia adalah seluas 94.1 juta ha atau 50.1 % dari total daratan. Dari jumlah luas lahan berhutan tersebut, sebesar 92.3% atau 86.9 juta ha berada di kawasan hutan. Besaran jumlah luas lahan berhutan ini setiap tahun selalu mengalami penurun (deforestasi). Menurut Ditjen PKTL (Planologi Kehutan dan Tata Lingkungan Hidup) deforestasi di Indonesia pada tahun 2018-2019 relatif lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.2
Menurut Forest Watch Indonesia (FWI) bahwa Kerusakan dan kehilangan hutan alam skala besar telah terjadi semenjak tahun 1970-an, ketika perusahaan- perusahaan pengelolaan hutan mulai beroperasi. Salah satu provinsi dengan tingkat kerusakan hutan atau deforestasi terparah dialami oleh Provinsi Riau. Kerusakan
1 Forest Watch Indonesia, “Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode 2009-2013, Desember 2014, (online), diakses pada tanggal 3 Maret 2021.
2 Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siaran Pers Hutan dan Deforestasi Indonesia Tahun 2019, (online), http://ppid.menlhk.go.id siaran_pers/browse/2435, diakses pada tanggal 3 Maret 2021.
2
hutan di Riau salah satunya disebabkan oleh adanya kebakaran hutan.Kebakaran hutan di Riau diperparah dengan kondisi lahannya yang berupa lahan gambut.
Gambut memiliki karakteristik fisik yang unik. Kemampuannya mengikat air bisa mencapai 13 kali bobotnya sehingga mampu menjadi pengatur hidrologi yang hebat bagi lingkungan sekitarnya. Tetapi di sisi lain, gambut yang sempat terbakar akan sangat sulit dipadamkan meskipun dalam keadaan lembab dan justru akan menimbulkan kabut asap. 3
Kebakaran hutan semula dianggap terjadi secara alami, tetapi kemungkinan manusia mempunyai peran dalam memulai kebakaran di millennium terakhir ini, perburuan dan selanjutnya untuk membuka petak-petak pertanian di dalam hutan atau lahan. Kebakaran hutan dan lahan terjadi disebabkan oleh 2 (dua) faktor utama yaitu faktor alami dan faktor kegiatan manusia yang tidak terkontrol. Faktor alami antara lain oleh pengaruh El-Nino yang menyebabkan kemarau berkepanjangan sehingga tanaman menjadi kering. Tanaman kering merupakan bahan bakar potensial jika terkena percikan api yang berasal dari batubara yang muncul di permukaan ataupun dari pembakaran lainnya baik disengaja maupun tidak disengaja. Hal tersebut menyebabkan terjadinya kebakaran bawah (ground fire) dan kebakaran permukaan (surface fire).4
Kebakaran hutan dan lahan terjadi semakin intensif dan meningkatkan kerusakan hutan dan lahan. Kebakaran hutan dan lahan dipicu oleh faktor kesengajaan. Kebakaran ini terutama akibat pembukaan lahan untuk dijadikan
3 Op.cit.
4 Fachmi Rasyid. Permasalahan dan Dampak Kebakaran Hutan. dalam Jurnal Lingkar Widyaiswara Edisi 1 No. 4, Oktober – Desember 2017.
3
perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman. Berdasarkan rekapitulasi data luas kebakaran hutan dan lahan dari Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan RI, Provinsi Riau pada tahun 2014 luas kebakaran hutan dan lahan yang terjadi seluas 6.301,10 Ha, kemudian meningkat drastis di tahun 2015 seluas 183.808,59 Ha. Pada Tahun 2016 terjadi penurunan dengan luas kebakaran hutan dan lahan seluas 85.219,51 Ha, dan terjadi penurunan yang signifikan di tahun berikutnya yaitu seluas 6.866,09 Ha. Namun pada tahun 2018 kembali terjadi peningkatan dengan luas kebakaran seluas 37.236,27 dan tahun 2019 kembali terjadi peningkatan yang semakin tinggi dengan luas kebakaran sebesar 90.233,00. 5
Kebakaran hutan dan lahan telah menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat dan lingkungan hidup. Menurut BMKG dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kerusakan pada ekosistem yang kemudian menyebabkan kepunahan pada flora dan fauna yang ada di hutan. Selain itu, Kebakaran hutan dan lahan juga berdampak pada kesehatan akibat asap yang dihasilkan dari kebakaran. Penyakit yang dapat disebabkan nya antara lain: Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) Asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronik, Penyakit Jantung serta Iritasi pada mata, tenggorokan dan hidung. Di bidang Transportasi, Kabut asap yang tebal dapat mengganggu jalannya lalu lintas seperti lalu lintas udara (penerbangan). Asap yang tersebar di udara disertai emisi gas karbondioksidan dan gas-gas lain ke udara berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim. Dampak lainnya adalah hutan menjadi
5 Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Karhutla Monitoring System, (online), sipongi.menlhk.go.id, diakses pada tanggal 3 Maret 2021.
4
gundul, sehingga tidak memiliki kemampuan dagi dalam menampung cadangan air saat musim hujan. Akibat lain yang timbul kemudian adalah berkurangnya sumber air bersih dan bencana kekeeringan akibat tidak ada pohon yang menmpung cadangan air.6
Dengan adanya dampak yang sangat merugikan akibat kebakaran tersebut sayangnya masyarakat belum merasakan tindakan tegas dari aparat penegak hukum terhadap pelaku pembakaran hutan. Aparat penegak hukum dalam merespon dan menyelesaikan berbagai persoalan kebakaran hutan menunjukkan sikap yang formalis, deterministik, dan memberi peluang terjadinya perilaku eksploitatif di kalangan pelaku usaha (investor). Beberapa putusan pengadilan menunjukkan bahwa hukum yang diputuskan tidak berkeadilan, misalnya pada putusan pengadilan di daerah Pelalawan dimana manager operasional PT. Langgam Inti Hibrido (LIH) divonis bebas oleh majelis hakim meskipun telah terjadi kebakaran hutan dan lahan seluas 533 hektare di wilayah PT. LIH Kebun desa Gondai Kecamatan Langgam. Masih di pengadilan yang sama Pengadilan Negeri Pelalawan memvonis bersalah seorang petani jagung di Kelurahan Teluk Meranti dengan hukuman penjara 1 tahun 4 bulan, denda Rp 1 Milyar rupiah subside 3 bulan kurungan untuk membakar 5 tumpuk sampah jagung. 7
Keberadaan hukum dalam masyarakat, sebenarnya tidak hanya dapat diartikan sebagai sarana untuk menertibkan kehidupan masyarakat, melainkan juga
6 BMKG dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Dampak kebakaran hutan, (onlline), http://indonesiabaik.id/infografis//. diakses pada tanggal 3 Maret 2021.
7 Elviandri, Effendi, & Yulias, E, 2017, Penegakan Hukum Kebakaran Hutan: Tawaran Rekonstruksi Hukum progresif Mewujudkan Keadilan, Yustisia Merdeka: Jurnal Ilmiah Hukum, Volume 3 Nomor 1, Maret 2017, hlm. 12.
5
dijadikan sarana yang mampu mengubah pola pikir dan pola perilaku warga masyarakat.8
Penerapan sanksi pidana wajib diberlakukan sebagai cara dalam menanggulangi masalah lingkungan. Namun penerapan sanksi pidana sebagai ultimum remindum dirasa kurang maksimal dalam menindalanjuti permasalahan tindak pidana pencemaran lingkungan. Maka dalam memerangi tindak pidana lingkungan hidup perlu diberlakukan sanksi pidana secara primum remidium, tindak pencemaran dan perusakan lingkungan hidup perlu disikapi dengan tegas melalui sanksi-sanksi pidana9.
Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana, tindak pidana terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan belum dijelaskan secara eksplisit. Dalam Pasal 188 KUHP berbunyi:
“Barang siapa karena kesalahan (kealpaan) menyebabkan kebakaran, ledakan atau banjir, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah, jika karena perbuatan itu timbul bahaya bagi nyawa orang lain, atau jika karena perbuatan itu mengakibatkan orang mati.”
Dalam pasal 188 KUHP ini, tidak disebutkan kesalahan (kealpaan) karena membakar hutan dan lahan, hanya mengatur mengenai perbuatan yang membahayakan keamanan umum seperti menyebabkan kebakaan.10
8 Marwan Mas,Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2016), hlm.72.
9 Ni Putu Risna Daryani, Ayu Putu Laksmi Danyathi, I Made Walesa Putra.
Pertanggungjawaban Tindak Pidana Lingkungan Hidup Ditinjau dari Perspektif Hukum Pidana di Indonesia. Program Kekhususan Pidana Fakultas Hukum Universitas Udayana, hlm 5.
10 YuniaRijayanti, Hartiwiningsih, Tindak Pidana Pembakaran Hutan dan Lahan (Studi Putusan Nomor 89/PID.B/2014/PN.Siak), Recidive, Volume 4 No. 3 Sep-Des 2015, hlm 5.
6
Aturan Perundang-undangan yang mengatur tentang larang pembakaran hutan dan lahan yakni Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam UU Nomor 32 Tahun 2009 pasal 69 ayat (1) huruf h disebutkan bahwa “Setiap orang dilarang melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar”. Adapun sanksi yang diterima bagi pelaku pembakaran hutan diatur dalam pasal 108 yang berbunyi “Setiap orang yang melakukan pembakaran lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf h dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
Dalam UU Nomor 32 Tahun 2009 ini juga mengatur tentang kearifan lokal pada pasal 69 ayat (2) dimana kearifan lokal yang dimaksud dalam pasal ini adalah melakukan melakukan pembakaran lahan dengan luas lahan maksimal 2 hektar per kepala keluarga untuk ditanami tanaman jenis varietas lokal dan dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegah penjalaran api ke wilayah sekelilingnya.
Kabupaten Siak merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Riau dengan tingkat kebakaran hutan dan lahan yang tinggi. Berdasarkan laporan Biro Operasional Polda Riau Pada Tahun 2019, Luas Kebakaran hutan dan lahan pada Kabupaten siak seluas 891,19 Ha dengan jumlah kasus yang tertangani sebanyak lima kasus sedangkan Untuk Tahun 2020, luas lahan yang terbakar sampai bulan maret seluas 89 Ha dengan jumlah kasus yang tertangani sebanyak dua kasus.11
11 Biddokdes Polda Riau. Laporan Biro Operasional Polda Riau, https://biddokkespoldariau.org/, diakses pada tanggal 3 Maret 2021.
7
Dalam penelitian ini, penulis mengambil lokasi di Kecamatan Minas, Kabupaten Siak. Kondisi jumlah tindak pidana pembakaran hutan dan lahan yang terjadi selama 3 tahun terakhir adalah sebagai berikut:
Tabel I.1
Kasus Tindak Pidana Pembakaran Hutan Di Kecamatan Minas
No Tahun Jumlah kasus Luas Area Status Perkara
1 2019 1 8 ha Penyelidikan
2 2020 - - -
3 2021 1 0,5 ha Penyelidikan
Sumber : Data Penanganan Kasus Karhutla Ditreskrimsus Polda Riau
Berdasaran Tabel 1.1 tersebut dapat diketahui bahwa jumlah kasus yang ditemukan di kecamatan Minas adalah sebanyak 2 kasus dalam 3 tahun terakhir, 1 kasus di tahun 2019 yang mengakibatkan 8 ha lahan terbakar dan 1 kasus di tahun 2021 yang mengakibatan 0,5 ha lahan terbakar. Kadua kasus ini masih dalam status penyelidikan karena pelaku yang menyebabkan kebakaran lahan masih buron.
Saksi yang melaporakan kejadian kebakaran ini juga tidak melihat secara langsung pelaku yang melakukan pembakaran lahan.
Penindakan terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan seringkali mengalami hambatan seperti kurangnya alat bukti dan pelaku yang tidak langsung tertangkap tangan oleh pihak kepolisian sehingga kasusnya tidak dapat diproses.
Selain itu, penegakan hukum masih terkesan tebang pilih sehingga tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku pembakaran hutan dan lahan, akibatnya pembakaran hutan dan lahan masih saja terjadi. Jika penegakan hukum dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, maka pelaku pembakaran hutan
8
dan lahan dapat dipidana minimal 3 tahun dan paling lama 10 tahun serta denda paling sedikit 3 (tiga) milyar dan paling banyak 10 (sepuluh) milyar.
Berdasarkan uraian di atas, Penulis tertarik untuk mengangkat judul penelitian tentang “Penegakan Hukum terhadap Pelaku Pembakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Hukum Kepolisian Sektor Minas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi permasalahan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan di Wilayah Hukum Kepolisian Sektor Minas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup?
2. Bagaimana hambatan pelaksanaan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan di Wilayah Hukum Kepolisian Sektor Minas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup?
3. Bagaimana upaya Kepolisian Sektor Minas dalam penanggulangan karhutla berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup?
9 C. Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui Pelaksanaan Penegakan Hukum terhadap Pelaku Pembakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Hukum Kepolisian Sektor Minas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
2. Untuk mengetahui Hambatan Pelaksanaan Penegakan Hukum terhadap Pelaku Pembakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Hukum Kepolisian Sektor Minas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
3. Untuk mengetahui upaya Kepolisian Sektor Minas dalam penanggulangan karhutla Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
D. Kegunaan Penelitian
1. Untuk memberikan masukan bagi Pemerintah, Para Penegak Hukum, dan Masyarakat dalam Pelaksanaan Penegakan Hukum terhadap Pelaku Pembakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Hukum Kepolisian Sektor Minas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
2. Untuk menjadi referensi bagi peneliti berikutnya dalam penelitian Penegakan Hukum terhadap Pelaku Pembakaran Hutan dan Lahan.
10 E. Kerangka Teori
1. Efektivitas Penegakan Hukum
Penulisan penelitian ini membutuhkan suatu konsep dasar yang membantu proses pembahasan yaitu dengan mengacu pada beberapa teori yang kuat supaya pembahasan lebih fokus dan terpola. Beberapa teori yang disusun melahirkan suatu kerangka teori yakni berupa kerangka pemikiran, pendapat-pendapat, butir-butir, teori, dan tesis mengenai suatu pemasalahan yang menjadi perbandingan dan pegangan teoritis.12
Kerangka teori pada hakikatnya memuat pemikiran-pemikiran yang bersifat teoritis yang menjadi landasan pemikiran dalam penelitian. Teori merupakan suatu cara untuk mengklasifikasi fakta, sehingga kesemua fakta tersebut dapat dipahami sekaligus.13
Hukum yang mempunyai posisi yang sangat dominan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, mempunyai dua sifat:
1. Bersifat imperative, secara a’priori wajib ditaati, kaidah ini tidak dapat dikesampingkan oleh suatu keadaan atau situasi tertentu hanya karena suatu perjanjian.
2. Bersifat fakultatif, yaitu tidak secara a’priori, tidak wajib ditaati atau tidak mengikat atau dapat dikesampingkan oleh suatu perjanjian.
Penegakan hukum sebagai suatu proses, pada hakikatnya merupakan penerapan diskresi yang menyangkut membuat keputusan yang tidak secara ketat
12 M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hlm 80.
13 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2015), hlm.125.
11
diatur oleh kaidah hukum, akan tetapi mempunyai unsur penilaian pribadi. Secara konsepsional, inti dari penegakkan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai terjabarkan didalam kaidah-kaidah yang mantap dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup. Konsepsi yang mempunyai dasar filisofis tersebut memerlukan penjelasan lebih lanjut sehingga akan tampak lebih konkrit.14
Manusia di dalam pergaulan hidup pada dasarnya mempunyai pandangan tertentu mengenai apa yang baik dan apa yang buruk. Pandangan-pandangan tersebut senantiasa terwujud di dalam pasangan-pasangan tertentu, misalnya ada pasangan dengan nilai ketentraman, pasanganan nilai kepentingan umum dengan nilai kepentingan pribadi dan seterusnya. Dalam penegakkan hukum pasangan nilai-nilai tersebut perlu diserasikan. Pasangan nilai yang diserasikan tersebut memerlukan penjabaran secara konkret karena nilai lazimnya berbentuk abstrak.
Penjabaran secara konkret terjadi dalam bentuk kaidah hukum, yang mungkin berisi suruhan larangan atau kebolehan. Kaidah tersebut menjadi pedoman atau patokan bagi perilaku atau sikap tindak yang dianggap pantas atau yang seharusnya.15 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum
Penegak hukum adalah petugas badan yang berwenang dan berhubungan dengan masalah peradilan yang tugasnya menyelesaikan konflik atau perkara hukum.
14 Soerjono Soekanto. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakkan Hukum. (Jakarta:
Raja Grafindo. 1983), hlm 7.
15 Ibid. hal 6
12
Hukum dapat tercipta bila masyarakat sadar akan hukum tanpa membuat kerugian pada orang lain. Menurut Satjipto Rahardjo, menjelaskan bahwa hakekat dari penegakan hukum adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan atau ide-ide hukum menjadi kenyataan. Keinginan hukum adalah pikiran badan pembentuk Undang-undang. Yang berupa ide atau konsep-konsep tentang keadilan, kepastian hukm dankemanfaatan sosial yang dirumuskan dalam peraturan hukum.
16
Penegakan hukum di indonesia tidak terlepas dari peran para aparat penegak
hukum. Menurut Pasal 1 Bab 1 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yang dimaksud aparat penegak hukum oleh undang-undang ini adalah sebagai berikut:
1. Penyelidik ialah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberikan wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyelidikan.
2. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperoleh hukum tetap.
3. Penuntut umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan ketetapan hakim.
4. Hakim yaitu pejabat peradilan negara yang diberi kewenangan oleh undangundang untuk mengadili.
16 Satjipto Rahardjo, Masalah Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis, (Bandung:
Sinar Baru, 2011), hlm. 15
13
5. Penasehat hukum ialah seseorang yang memenuhi syarat yang ditentukan oleh undang-undang untuk memberikan bantuan hukum.
Aparatur penegak hukum mencakup pengertian mengenai institusi penegak hukum dan aparat penegak hukum. Secara arti sempit, aparatur penegak hukum yang terlibat dalam proses tegaknya hukum, dimulai dari saksi, polisi, penasehat hukum, jaksa, hakim dan petugas pemasyarakatan. Dalam proses bekerjanya aparatur penegak hukum, terdapat tiga elemen penting yang mempengaruhi, yaitu:
1. Institusi penegak hukum beserta berbagai perangkat sarana prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaannya.
2. Budaya kerja yang terkait dengan aparatnya termasuk mengenai kesejahteraan aparatnya.
3. Perangkat peraturan yang mendukung baik kinerja kelembagaanya maupun yang mengatur materi hukum yang dijadikan standar kerja, baik hukum materiilnya maupun hukum acaranya17
3. Pengelolaan Hutan yang Baik Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Menurut Undang-Undang No.18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam komunitas alam lingkungannya yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dan
17 Ibid.
14
yang lainnya. Kebakaran hutan dibedakan dengan kebakaran lahan. Kebakaran hutan yaitu kebakaran yang terjadi di dalam kawasan hutan, sedangkan kebakaran lahan adalah kebakaran yang terjadi di luar kawasan hutan dan keduanya bisa terjadi baik disengaja maupun tanpa sengaja.18
Hutan sebagai modal pembangunan nasional memiliki manfaat yang nyata bagi kehidupan dan penghidupan bangsa Indonesia, baik manfaat teknologi, sosial budaya maupun ekonomi, secara seimbang dan dinamis19. Sumber daya hutan dan lahan merupakan satu kesatuan alam yang saling ketergantungan (interdepedence) yang sangat tinggi. Hutan sebagai suatu biotic community dan piramida kehidupan secara absolut membutuhkan abiotic community.
Kebakaran hutan ialah terbakarnya sesuatu yang menimbulkan bahaya atau mendatangkan bencana. Kebakaran dapat terjadi karena pembakaran yang tidak dikendalikan, karena proses spontan alami, atau karena kesengajaan. Proses alami sebagai contohnya kilat yang menyambar pohon atau bangunan, letusan gunung api yang menebarkan bongkahan bara api, dan gesekan antara ranting tumbuhan kering yang mengandung minyak karena goyangan angin yang menimbulkan panas atau percikan api.20 Kebakaran yang terjadinya akibat kesengajaan manusia dikarenakan
18 Muhammad, Hatta, Dampak Kebakaran Hutan terhadap Sifat-sifat Tanah di Kecamatan Besitdang Kabupaten Langkat, Skripsi Ilmu Hukum, Medan, Universitas Sumatera Utara, 2008, hlm 45.
19 Abdul Muis Yusuf. Mohammad Taufik Makarao. Hukum kehutanan Di Indonesia, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011), hlm. 2.
20Tejoyuwono, N., 2006, Pembakaran dan Kebakaran Lahan, Repro: Ilmu tanah Universitas gajah Mada (online), faperta.ugm.ac.id, diakses pada tanggal 8 September 2020.
15
oleh beberapa kegiatan, seperti kegiatan ladang, perkebunan (PIR), Hutan Tanaman Industri (HTI), penyiapan lahan untuk ternak sapi, dan sebagainya.21
Kebakaran hutan dan lahan adalah terbakarnya kawasan hutan/lahan baik dalam luasan yang besar maupun kecil. Kebakaran hutan dan lahan seringkali tidak terkendali dan bila ini terjadi maka api akan membakar apa saja di dekatnya dan menjalar mengikuti arah angin. Kebakaran itu sendiri dapat terjadi karena dua hal yaitu kebakaran secara alamiah dan kebakaran yang disebabkan oleh manusia.Kebakaran hutan semula dianggap terjadi secara alami, walaupun pada kenyataannya manusia mempunyai peran dalam memulai kebakaran di milenium terakhir ini, pertama untuk memudahkan perburuan dan selanjutnya untuk membuka lahan garapan di dalam hutan.22 Kebakaran-kebakaran yang sering terjadi kerap digeneralisir sebagai kebakaran hutan, padahal sebagian besar (99,9%) kebakaran tersebut adalah pembakaran yang sengaja dilakukan maupun akibat kelalaian, sedangkan sisanya (0,1%) adalah karena alam (petir, larva gunung berapi). Areal HTI, hutan alam, dan perladangan dapat dikatakan 99% penyebab kebakaran hutan di Indonesia yang berasal dari ulah manusia.
Berdasarkan kitab undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 pasal 69 Setiap orang dilarang:
(1) melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atauperusakan lingkungan hidup;
21 Muhammad, Hatta, Dampak Kebakaran Hutan terhadap Sifat-sifat Tanah di Kecamatan Besitdang Kabupaten Langkat, Skripsi Ilmu Tanah, Medan: Universitas Sumatera Utara, 2008, hlm 55.
22Irwanto, Lahan Garapan di hutan, (Jakarta: Tirtasari, 2006), hlm 45.
16
(2) memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan perundang- undangan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
(3) memasukkan limbah yang berasal dari luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ke media lingkungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia;
(4) memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
(5) membuang limbah ke media lingkungan hidup;
(6) membuang B3 dan limbah B3 ke media lingkungan hidup;
(7) melepaskan produk rekayasa genetik ke media lingkungan hidup yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan atau izin lingkungan;
(8) melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar;
(9) menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi penyusun amdal; dan/atau
(10) memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan informasi, merusak informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar.
Berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2009 Pasal 108 Setiap orang yang melakukan pembakaran lahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 69 ayat (1) huruf h , dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10
17
(sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 3.000.000.000,00 (tiga milyar rupiah) dan paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah).
F. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah penelitian Hukum Sosiologis yang menganalisis tentang Pelaksanaan Tindak Pidana Hukum terhadap Pelaku Pembakaran Hutan dan Lahan di wilayah Hukum Kepolisian Sektor Minas.
2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini pada Wilayah Hukum Kepolisian Sektor Minas.
3. Populasi dan Sampel Penelitian a. Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini terdiri atas anggota Kepolisian Sektor Minas dan Tokoh Masyarakat, antara lain:
1) Kapolsek Minas 1 orang.
Kapolsek merupakan pihak yang sangat bertanggungjawab akan kasus karhutla di Kecamatan Minas. Kabupaten Siak. Oleh karena itu, Kapolsek sangat cocok untuk menjadi responden dalam penelitian ini.
2) Kanit Kepolisian Sektor Minas 5 Orang.
Dalam kasus karhutla ada pihak yang turun langsung ke lokasi untuk menangani kasus ini dan bertugas dengan timnya untuk
18
melaksanakan tugasnya, dengan demikian sangat cocok untuk menjadi responden dalam penelitian ini.
3) Bhabinkamtibmas Polsek Minas 5 orang.
Pihak Bhabinkamtibnas tentu turut serta dalam menyelenggarakan keamanan dan ketertiban di lingkungan masyarakat, khususnya kasus karhutla di Kecamatan Minas, dengan demikian juga cocok untuk menjadi responden dalam penelitian ini.
4) Aparat Pemerintahan 5 orang
Aparatur pemerintah yang terdiri dari Lurah, RW dan RT juga memiliki wewenang untuk menciptakan ketentraman warga, dalam kasus ini harus adanya koordinasi dengan pihak Kepolisian, dengan demikian aparat pemerintah cocok untuk menjadi responden dalam penelitian ini.
b. Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah individu yang menjadi bagian dari populasi yang terdiri atas:
1) Kapolsek Minas 1 orang.
2) Kanit Kepolisian Sektor Minas 2 Orang . 3) Bhabinkamtibmas Polsek Minas 2 orang.
4) Aparat Pemerintahan 3 orang
Berdasarkan jumlah populasi dan sampel penelitian ini adalah sebagai berikut:
19 Tabel I.2.
Populasi dan Sampel Penelitian
No Responden Jumlah
Populasi
Jumlah Sampel
Persentase (%)
1 Kapolsek Minas 1 1 12,5
2 Kanit Polsek Minas 5 2 25
3 Bhabinkamtibmas Polsek Minas 5 2 25
4 Aparat Pemerintahan (Lurah, RT dan RW)
5 3 37,5
Total 16 8 100
Sumber: Data olahan penelitian 4. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini berasal dari data primer yang terdiri atas 3 (tiga) sumber, yaitu sebagai berikut:
a. Data primer, yakni data yang diperoleh dari responden di lapangan.
b. Data sekunder, yakni yang dihimpun dari berbagai literatur/referensi yang berkaitan dengan penelitian ini, undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan undang-undang nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Kehutanan
c. Data tertier, yakni data yang mendukung data primer dan skunder yang berasal dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan kamus hukum.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan 3 (tiga) teknik, yaitu sebagai berikut:
20
a. Observasi, yakni pengamatan langsung terhadap objek penelitian sebagai cara dalam mengamati permasalahan Pembakaran Hutan.
b. Kajian pustaka, yakni mengkaji berbagai literatur/referensi yang terkait dengan permasalahan penelitian.
c. Wawancara langsung terhadap subjek penelitian secara bebas degan dipandu daftar pertanyaan dalam wawancara.
6. Analisis Data
Dalam penelitian ini, analisis data menggunakan metode kualitatif, yakni dengan mendeskripsikan data yang diperoleh dalam kalimat-kalimat secara naratif. Dalam mengambil kesimpulan digunakan metode induktif, yakni menarik kesimpulan dari pernyataan yang bersifat khusus ke dalam pernyataan yang bersifat umum.
.BAB II
TINJAUAN UMUM KECAMATAN MINAS KABUPATEN SIAK
68
Abdul Muis Yusuf. Mohammad Taufik Makarao. Hukum kehutanan Di Indonesia, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011
Alvin S Johnson. Sosiologi Hukum. Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
Ari Wibowo, A. Ngakolen Gintings, Degradasi dan Upaya Pelestarian Hutan Jakarta:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, 2014.
Bambang Poernomo. Hukum Acara Pidana Indonesia, Yogyakarta: Amarta Buku, 1988.
Bambang Pramudi, Hukum Kehutanan dan Pembangunan Bidang Kehutanan, Jakarta:
Raja Grafindo, 1995.
Bambang Waluyo. Implementasi Kekuasaan Kehakiman Republik Indonesia, Jakarta:
Sinar Grafika, 1992.
C.F.G. Sunaryati Hartono, Peranan Kesadaran Hukum Masyarakat dalam Pembangunan Hukum. Jakarta: Bina Cipta, 1976.
Irwanto, Lahan Garapan di hutan, Jakarta: Tirtasari, 2006.
Marwan Mas, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2016.
Muhammad Akib, Hukum Lingkungan Perspektif Global dan Nasional. Depok: Raja Grafindo Persada, 2016.
Ramly Hutabarat. Persamaan Di Hadapan Hukum (Equality Before the Law) di Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985.
Salim, Dasar-Dasar Hukum Kehutanan, Jakarta: Sinar Grafika, 2013.
Satjipto Rahardjo, Masalah Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis, Bandung:
Sinar Baru, 2011.
Satjipto Raharjo, Penegakan Hukum Sebagai Tinjauan Sosiologis. Yogyakarta: Genta Publishing, 2009
Soerjono Soekanto. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakkan Hukum, Jakarta:
Raja Grafindo. 1983.
Soerjono Soekanto. Sosiologi Sebagai Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Persada, 1990.
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 1999.
Takdir Rahmadi, Hukum Lingkungan di Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2014.
69
Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah. Ilmu Hukum dan Filsafat Hukum..
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.
Yulies Tina Masriani. Pengantar Hukum Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika, 2004.
B.Jurnal dan Skripsi
Elviandri, Effendi, & Yulias, E, Penegakan Hukum Kebakaran Hutan: Tawaran Rekonstruksi Hukum progresif Mewujudkan Keadilan, Yustisia Merdeka, Jurnal Ilmiah Hukum, Volume 3, Nomor 1, Maret 2017.
Fachmi Rasyid. Permasalahan dan Dampak Kebakaran Hutan. Jurnal Lingkar Widyaiswara Edisi 1 No. 4, Oktober – Desember 2017.
Muhammad, Hatta, Dampak Kebakaran Hutan terhadap Sifat-sifat Tanah di Kecamatan Besitdang Kabupaten Langkat, Skripsi Ilmu Tanah, Medan:
Universitas Sumatera Utara, 2008.
Muhammad, Hatta, Dampak Kebakaran Hutan terhadap Sifat-sifat Tanah di Kecamatan Besitdang Kabupaten Langkat, Skripsi Ilmu Hukum, Medan, Universitas Sumatera Utara, 2008.
Ni Putu Risna Daryani, Ayu Putu Laksmi Danyathi, I Made Walesa Putra.
Pertanggungjawaban Tindak Pidana Lingkungan Hidup Ditinjau dari Perspektif Hukum Pidana di Indonesia. Program Kekhususan Pidana Fakultas Hukum Universitas Udayana, 2018.
YuniaRijayanti, Hartiwiningsih, Tindak Pidana Pembakaran Hutan dan Lahan (Studi Putusan Nomor 89/PID.B/2014/PN.Siak), Jurnal Recidive, Volume 4, No. 3 Sep- Des 2015.
C.Website
Biddokdes Polda Riau. Laporan Biro Operasional Polda Riau, https://biddokkespoldariau.org/, diakses pada tanggal 3 Maret 2021.
BMKG dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Dampak kebakaran hutan, (onlline), http://indonesiabaik.id/infografis//. diakses pada tanggal 3 Maret 2021
Forest Watch Indonesia, “Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode 2009-2013, Desember 2014, (online), diakses pada tanggal 3 Maret 2021.
KBBI, 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). [Online], http://kbbi.web.id/pusat, Diakses 21 Mei 2021
70
Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Karhutla Monitoring System, (online), sipongi.menlhk.go.id, diakses pada tanggal 3 Maret 2021.
Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siaran Pers Hutan dan Deforestasi Indonesia Tahun 2019, (online), http://ppid.menlhk.go.id siaran_pers/browse/2435, diakses pada tanggal 3 Maret 2021.
Tejoyuwono, N., 2006, Pembakaran dan Kebakaran Lahan, Repro: Ilmu tanah Universitas gajah Mada (online), faperta.ugm.ac.id, diakses pada tanggal 8 September 2020.
D. Peraturan Perundang-Undangan
Kitab Undang-Undang Hukum Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Kitab Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Kehutanan
Kitab Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan kehakiman
Kitab Undang-Undang Nomor 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia Kitab Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia