• Tidak ada hasil yang ditemukan

penelitian 642e92efb79421734881b53e1e1b18b6 1526947568

N/A
N/A
Gemilang Makmur .P

Academic year: 2023

Membagikan "penelitian 642e92efb79421734881b53e1e1b18b6 1526947568"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

Bagaimana peta kecenderungan materi yang disampaikan para dai di lapangan? Demikian pula implikasinya juga bersifat internal umat beragama, antar umat beragama, dan antara umat beragama dengan pemerintah (kerukunan tri umat beragama). 3 Alwisral Imam Zaidallah dan Khaidir Khatib Bandaro, Strategi Dakwah Dalam Pembinaan Profesi Da'i dan Khatib, Cet Kedua, Kalam Mulia: Jakarta, 2005, hal. Karena tujuan dakwah sangat penting bagi seorang da’i, maka tujuan tersebut harus dipahami dan disadari oleh para pelaksana dakwah Islam.

Unsur-unsur tersebut antara lain da’i (penyebar dakwah), mad’u (mitra dakwah), maddah (bahan dakwah), wasilah (media dakwah), tariqah (metode) dan atsar ( efek dakwah). Da’i adalah orang yang melakukan dakwah, baik lisan, tulisan, maupun tindakan, baik secara perseorangan maupun kelompok, atau dalam bentuk organisasi atau lembaga.10 Kedudukan da’i dalam Islam adalah terhormat karena selalu menunaikan kewajiban agama yang paling mulia di sisi Allah, yaitu menjalankan risalah Rasulullah dengan menyeru umat manusia agar selalu berbuat baik dan menjauhi keburukan. Adapun mata pelajaran dakwah setidaknya dapat dibedakan menjadi tiga komponen atau tiga jenis atau jenis mata pelajaran, yaitu: khatib, perencana, dan pengelola dakwah.

Komponen da’i sudah banyak dikaji dan mendapat perhatian yang cukup, yang secara khusus diartikan sebagai khatib sebagai penyampai pesan dakwah. Faktor dakwah memberikan kontribusi terhadap keberhasilan dakwah, namun faktor perencanaan dan pengelolaan mempunyai kontribusi (peran, pengaruh dan kontribusi) yang jauh lebih besar terhadap keberhasilan dakwah. Inilah heterogenitas manusia penerima dakwah. Setiap da’i harus memperhatikan semua itu agar tidak salah dalam memilih pendekatannya.

Materi dakwah adalah isi risalah atau materi yang disampaikan khatib kepada Med'u 14 Yang menjadi meda (materi dakwah) adalah ajaran Islam itu sendiri.

Strategi Pengambangan Dakwah

Strategi adalah suatu konsep dan/atau upaya untuk mengerahkan dan mengarahkan potensi dan sumber daya ke dalam serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 19 Strategi adalah suatu pendekatan menyeluruh yang berkaitan dengan realisasi gagasan, perencanaan, dan pelaksanaan kegiatan dalam jangka waktu tertentu. 20 Strategi dakwah adalah cara, siasat atau siasat atau manuver yang dilakukan dalam kegiatan dakwah.21. Strategi dakwah yang digunakan dalam upaya dakwah harus memperhatikan beberapa prinsip dakwah agar proses dakwah dapat tepat sasaran dan mudah diterima oleh masyarakat yang menjadi subjek dakwah. Prinsip filosofis, prinsip-prinsip tersebut terutama membahas permasalahan yang berkaitan erat dengan tujuan yang ingin dicapai dalam proses atau kegiatan dakwah.

Kemampuan dan Keahlian Da’i (Prestasi dan Profesionalisme), prinsip ini berkaitan dengan pembahasan mengenai kemampuan dan profesionalisme da’i sebagai objek dakwah. Prinsip sosiologi; Prinsip ini membahas permasalahan yang berkaitan dengan situasi dan kondisi sasaran dakwah. Asas efektivitas dan efisiensi, asas ini mempunyai arti bahwa dalam kegiatan dakwah harus dicari keseimbangan antara biaya dan waktu.

Pertama, strategi dakwah dilihat dari sudut pandang tujuan yang ingin dicapai, dan kedua, strategi dakwah dilihat dari sudut pandang pendekatan dakwah. Sedangkan strategi tarqiyah ditujukan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan orang-orang yang memeluk Islam.24 Menurut Abdul Basith, orientasi dakwah yang dilakukan selama ini lebih terfokus pada dakwah tarqiyah. Di kalangan masyarakat awam, dakwah banyak disampaikan dalam bentuk ceramah (retoris skill), sehingga timbul kesan di masyarakat bahwa dakwah sukses berdakwah dengan bahasa homoristik.

Strategi dakwah dilihat dari pendekatan dakwah terbagi menjadi dua, yaitu strategi dakwah budaya dan dakwah struktural. Menurut Syamsul Hidayat yang dikutip Basith, dakwah budaya adalah kegiatan dakwah yang memperhatikan potensi dan kecenderungan manusia sebagai makhluk budaya, untuk menghasilkan budaya Islam alternatif, yaitu budaya dan peradaban, yang dijiwai dengan budaya islami. pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan as-Sunnah serta membebaskan diri dari budaya yang kental dengan kemusyrikan, takhayul, bid'ah dan khurafat. Berdasarkan kedua pendapat di atas, ada dua kata kunci dalam memahami dakwah budaya, yaitu: pertama, dakwah budaya adalah dakwah yang memperhatikan khalayak atau masyarakat sebagai makhluk budaya. Kedua, dakwah budaya merupakan cara atau metodologi mengemas Islam sedemikian rupa agar mudah dipahami masyarakat.

Oleh karena itu, dakwah budaya merupakan strategi pencapaian misi Islam yang lebih terbuka, toleran, dan tanggap terhadap budaya dan adat istiadat masyarakat setempat tempat dakwah tersebut dilakukan. Oleh karena itu, banyak kegiatan dakwah struktural yang menggunakan struktur sosial, politik, dan ekonomi untuk menjadikan Islam sebagai dasar ideologi negara, atau setidaknya menggunakan aparatur negara untuk mencapai tujuan dakwah.28 5. Sedangkan menurut Ali Mustafa Ya' kub, pendekatan dakwah yang digunakan Rasulullah sekurang-kurangnya ada.6, yaitu: (1) Pendekatan personal (Al-Manhaj As-Sirri); (2) Pendekatan pendidikan (Al-Manhaj at-Ta'lim); (3) Pendekatan Persembahan (Manhaj Al-Basith); (4) Pendekatan Misi (Al-Manhaj Al-Bitsah), (5) Pendekatan Korespondensi (Manhaj Al-Maktabah), (6) Pendekatan Diskusi (Manhaj Al-Mujjadi).29.

Problematika Pengembangan Dakwah

Berdasarkan Al-Qur'an Surat An-Nahl ayat 125, ada 3 pendekatan yang dapat dilakukan dalam dakwah, yaitu bil hikme (dengan hikmah), mau'idzatil hasenah (nasehat yang baik) dan mujjadi bil lati hiya ahsan (diskusi). .dengan cara yang baik). Kedua, pada tingkat kelembagaan dawat yang kurang – kalau tidak – profesional dalam pengelolaannya. Kelemahan lain yang cukup berpengaruh dalam perjalanan dakwah adalah adanya pemahaman tekstual yang berlebihan terhadap berbagai substansi ajaran Islam, karena hanya menangkap kekhususan hukum, sehingga tidak dapat diketahui makna hakiki yang dikandungnya. . semua (gagasan formal) yang pada gilirannya tidak dapat menyampaikan kepada masyarakat apa adanya. Yang merupakan kebutuhan psikologis.

Organisasi dakwah sering diterima sebagai organisasi tempat berkumpulnya para khatib yang hanya membaca alif ba dan kurang mampu mengantisipasi situasi dan suasana psikologis, apalagi mengelolanya sesuai dengan kaidah keilmuan empiris, karena gerakan dakwah harus didasarkan pada empiris. fenomena dan tidak bersifat prediktif-estimatif sama sekali. Untuk itu organisasi dakwah yang ideal adalah yang mampu menampung seluruh potensi yang ada (multidisiplin) sehingga akumulasi tersebut akan menjadikan pembudayaan dakwah menjadi efektif dan efisien. 2) Masalah eksternal. Permasalahan eksternal merupakan permasalahan kecepatan perubahan sosial yang dipimpin oleh ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) yang berperan sebagai “kausalitas utama” dalam teori budaya “Chalange and Response” Arnold Toynbee.

Pada masa lalu, sinkretisme terlihat jelas, misalnya pada penciptaan sesaji budaya di Jawa, menanam bunga di laut ketika ada bahaya (di Sumatera dan jenis kreasi lainnya). Sementara sinkretisme baru ini muncul dalam bidang sosiologi, psikologi, dan sains, sehingga sentimen keagamaan pun menyelinap ke dalam sinkretisme baru ini. Karena begitu sulitnya mengatasi permasalahan tersebut, maka muncullah tiga permasalahan kemanusiaan yang memerlukan peran baru dalam agama Islam, yaitu:

Permasalahan eksternal yang kedua adalah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah menghancurkan hampir seluruh potensi spiritual manusia, karena apa yang diramalkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi dirasa begitu akurat dan benar, bahkan dalam ranah deterministik. Sebagaimana diketahui, sejak munculnya ilmu pengetahuan dan teknologi, etika, akhlak, dan akhlak telah terpinggirkan – yang semuanya merupakan wilayah dakwah Islam – menjadi etika yang keras, rakus, dan akhlak materialistis, yang pada akhirnya menjerumuskan manusia ke dalam kedangkalan hidup. kepribadian ganda terjadi).

Kerangka Pikir dan Pertanyaan Penelitian

Sebagaimana diketahui, sejak munculnya ilmu pengetahuan dan teknologi, etika, akhlak, dan akhlak telah terpinggirkan – yang kesemuanya sebenarnya merupakan wilayah dakwah Islam – menjadi etika yang keras, akhlak yang tamak dan materialistis, yang pada akhirnya menjerumuskan manusia ke dalam kedangkalan hidup. (terjadi kepribadian ganda). Selesai. Selain itu penelitian ini sangat bermanfaat untuk melihat perkembangan dakwah secara nyata di Kalimantan Tengah serta melihat berbagai permasalahan dakwah di lapangan. Melihat Peta Perkembangan Dakwah di Kalimantan Tengah, penulis tidak hanya melihat data kuantitatif saja namun juga dari sisi kualitatif.

Mengingat wilayah Kalimantan Tengah yang begitu luas dan jarak antar kabupaten yang cukup jauh, diyakini dengan dana yang dialokasikan tidak mungkin bisa menggali data lebih dalam dan menjangkau hingga ke wilayah kecamatan. . Apa permasalahan pelaksanaan dan pengembangan dakwah di Provinsi Murung Raya dan Barito Timur Provinsi Kalimantan Tengah?

Jenis Penelitian

Lokasi Penelitian

Waktu Penelitian

Subjek Penelitian

Teknik Pengumpulan Data

Data tersebut dapat menggambarkan keadaan umum lokasi penelitian berkenaan dengan geografi dan demografi lokasi penelitian, lembaga pendidikan yang terdapat tempat ibadah, tempat ibadah, tempat ibadah, dan dokumen lain yang berkaitan dengan tujuan penelitian.

Pengabsahan Data

Analisis Data

Sejak pertama kali terjun ke lapangan dan pada saat proses pengumpulan data, tim peneliti mencoba menganalisis dan mencari makna, penjelasan, jalur sebab akibat dari data yang dikumpulkan. Selanjutnya data yang telah diolah sedemikian rupa dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan induktif untuk mencapai kesimpulan atau hasil akhir. Persepsi Keluarga Mualaf Terhadap Pendidikan Agama Islam Anak di Desa Danau Panau Kabupaten Kapuas Provinsi.

Pengaruh CTL dan gaya belajar terhadap hasil belajar ilmu fiqih di MTsN Palangka Raya. Nilai demokrasi dalam pembelajaran hukum di Mtsn 1 Palangka Raya Model dan Muslimat Nu Palangka Raya 13 PENGALAMAN. Pemetaan Penelitian Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Pendidikan Guru IAIN Palangka Raya.

Referensi

Dokumen terkait

Kota Batu secara geografis memiliki potensi sumberdaya alam yang berlimpah. Untuk dapat memaksimalkan potensi sumberdaya limpahan hasil pertanian, dan dalam upaya

Potensi Sumberdaya Berdasarkan peta kelayakan sumberdaya yang dihasilkan maka Perairan Pulau Lirang memiliki potensi sumber daya kelautan yang layak untuk dikembangkan

1) Perilaku kepemimpinan disintesiskan tindakan/aktivitas seseorang dalam mempengaruhi dan mengarahkan orang lain (bawahannya) untuk mencapai tujuan yang

Dalam upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terkait dengan jumlah penerimaan pajak yang akan dicapai, maka harus dilakukan analisis terhadap faktor-faktor

Tahap Evaluasi adalah tahap mengetahui kelayakan dan kevalidan produk yang dikembangkan sudah mencapai tujuan yang sudah ditetapkan atau belum. Evaluasi yang dilakukan

Tujuan yang ingin dicapai adalah pendapatan maksimum nelayan, pemenuhan permintaan ikan (ekspor dan konsumsi ikan domestik), penyerapan tenaga kerja, pemanfaatan potensi sumberdaya

FAIRUS NIM.180565201092 Abstrak Startegi yang dilakukan pemerintah desa dalam pemberdayaan masyarakat merupakan upaya yang dilakukakan pemerintah untuk meningkatkan potensi

Pendidikan Islam adalah segala upaya atau proses pendidikan yang dilakukan untuk membimbing tingkah laku manusia baik individu maupun sosial, untuk mengarahkan potensi baik potensi