• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengadministrasian Tes Psikologi Secara Individual Dan Kelompok

N/A
N/A
4PA18@Bunga Cantika Sephia Cahaya

Academic year: 2025

Membagikan "Pengadministrasian Tes Psikologi Secara Individual Dan Kelompok"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

PENGADMINISTRASIAN

Kelompok 2 - 3PA18 TES

(2)

KELOMPOK 2:

10521180

Anggita Rachmawati D

10521278

Aulya Aprilianti

10521970

Nadia Salsabila

11521132

Qanita Nafisa

(3)

TOPICS

Rapport

Penyajian Tes

Hal yang Harus Diperhatikan Kelebihan dan Kelemahan

Rapport

Penyajian Tes

Hal yang Harus Diperhatikan Kelebihan dan Kelemahan

INDIVIDUAL

KLASIKAL

(4)

ADMINISTRASI TES

Menurut Fudyartanta (2017), Administrasi tes

merupakan urutan penyelenggaraan atau

pelaksanaan pengetesan dari awal sampai

akhir dengan laporan tertulis secara lengkap

mencangkup interpretasi, kesimpulan hasil

pengetesan, bahkan rekomendasi

(5)

SECARA UMUM,

TERBAGI MENJADI..

Tes Perorangan Tes Individual/

Tes Kelompok Tes Klasikal/

(6)

A. PENGADMINISTRASIAN

TES SECARA INDIVIDUAL

(7)

1. RAPPORT

Menurut Willis (dalam Lubis, 2011), rapport adalah hubungan yang ditandai dengan keharmonisan, kecocokan dan saling tarik menarik. Sementara itu, Brammer, Abrego, dan Shostrom (dalam Lubis, 2011) mendefinisikan rapport adalah suatu iklim psikologis yang positif, yang mengandung kehangatan dan penerimaan sehingga peserta ujian tidak merasa terancam dalam berhubungan dengan konselor.

Menurut Lubis (2011), dalam proses administrasi tes, rapport diawali dengan pertanyaan basa-basi penguji.

Pembicaraan awal rapport sama sekali tidak berkaitan dengan permasalahan peserta ujian, karena tujuannya hanya untuk membuat peserta ujian merasa nyaman di awal pertemuan dengan penguji.

(8)

Menurut Willis (dalam Lubis, 2011), penguji harus memiliki sikap empati pada klien. Selain itu, penguji harus bersikap terbuka, menerima tanpa syarat, dan menghormati peserta ujian. Penguji juga harus mampu membaca perilaku non verbal peserta ujian, terutama yang berhubungan dengan bahasa bukan lisan. Penguji juga harus merasakan rasa kebersamaan, intim, akrab, kejujuran, dan minat membantu tanpa pamrih dengan peserta ujian.

Menurut Lubis (2011), hubungan konseling akan berjalan efektif apabila rapport telah terbangun.

Peserta ujian akan bersikap terbuka pada penguji karena keakraban yang terjalin menghapus ketakutan dan keraguan peserta ujian untuk berbagi (sharing) dengan penguji.

(9)

2. PENYAJIAN TES

Menurut Gregory (2015), tes secara individu

sejatinya dirancang dan dikhususkan

untuk dilakukan satu dengan satu (one-

on-one).

(10)

keyakinan mental yang dimiliki oleh klien

Siap antisipasi reaksi. mengantisipasi agar siap menghadapi respon apapun dari klien

menetukan jenis tes yang akan dilakukan

menyiapkan layout yang nyaman bagi klien

menyiapkan alat tes, serta memeriksa kelengkapan alat tes

menciptakan hubungan yang baik antara tester dengan klien

klien tidak boleh merasa tegang, atau harus merasa aman dan termotivasi

tester tidak memberi petunjuk pada jawaban yang benar

A. Persiapan mental

B. Persiapan materi

C. Rapport Menurut Purna

(2020),

terdapat

beberapa langkah yang harus

dilakukan

dalam proses penyajian tes

secara individual yaitu

(11)

melakukan pemaknaan akan hasil skoring yang telah dilakukan, biasanya berbentuk laporan hasil pemeriksaan psikologis

peserta ujian dapat melihat hasil pemeriksaan psikologis. hasil pemeriksaan tidak dapat dilihat oleh

sembarang orang karna

informasinya bersifat rahasia.

penguji melakukan evaluasi, untuk menjadi perbaikan bagi pengujian yang dilakukan di masa depan.

F. Interpretasi

G. Mengkomunikasikan hasil

H. Evaluasi mematuhi prosedur standar, seperti

memahami buku manual tes

memperhatikan waktu,

karna beberapa alat tes memiliki batasan waktunya sendiri.

memperhatikan urutan pengetesan,

Perlu diperhatikan urutan pengerjaan tes dan diselingi dengan istirahat agar peserta ujian tidak mengalami kelelahan.

skoring, adalah memberikan nilai atas

tes yang telah dilakukan.

D. Pelaksanaan Tes

E. Pemberian nilai

(12)

(3) HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN

1.Penguji harus menguasai keseluruhan bahan dan petunjuk sebelum menyampaikan ketentuan tes.

Melibatkan latihan yang ekstensif dan antisipasi dalam memberikan respons yang tepat apabila terjadi keadaan yang tidak dapat diprediksi.

Choi dan Proctor (dalam Gregory, 2015) menemukan bahwa 25 dari 27 mahasiswa pascasarjana membuat kesalahan serius dalam administrasi tes Stanford-Binet: Edisi Keempat.

Dua kesalahan paling umum yang ditemukan adalah kegagalan menanyakan

tanggapan verbal yang tidak lengkap atau ambigu dan terlalu memberikan

banyak poin untuk jawaban di bawah standar

(13)

Menurut Gregory (2015), sudah seharusnya seorang penguji peka terhadap kelemahan-kelemahan fisik seperti dalam pendengaran, penglihatan, wicara maupun pengendalian motorik dari setiap peserta tes karena dapat sangat menyimpangkan hasil tes

SENSITIVITAS 2.

TERHADAP

KETERBATASAN PESERTA TES

Vernon dan Brown (dalam Gregory, 2015) pernah melaporkan

kasus tentang seorang gadis kecil yang dimasukkan ke rumah

sakit bagi penderita retardasi mental sebagai konsekuensi dari

tidak pekanya penguji akan keterbatasan fisik subjek yang tuna

rungu.

(14)

Seorang penguji yang gagal membangun hubungan baik dapat menyebabkan subjek merasakan kecemasan, sikap tidak mau bekerja sama yang pasif-agresif, dan sebagainya.

Kegagalan dalam membangun hubungan akan mendistorsi temuan tes (Gregory, 2015).

Dalam kata lain, kemampuannya peserta tes akan diremehkan dan kepribadiannya akan salah dinilai

3. MENJALIN HUBUNGAN/

RAPPORT

(15)

Hasil-hasilnya saling bertentangan sehingga tidak dapat disimpulkan secara gamblang.

Terdapat sebuah kasus tentang kepercayaan akan ras yang ditunjukkan oleh Terrel, Terrel, dan Taylor (dalam Gregory, 2015)

4. JENIS KELAMIN, PENGALAMAN, DAN

RAS PENGUJI

(16)

5. KECEMASAN TES

Peserta pernah memiliki hasil yang buruk dalam tes.

Kinerja yang buruk dalam pelaksanaan tes terlepas dari rasa cemasnya.

Tekanan waktu yang sempit memperparah tingkat ancaman pribadi sehingga mengurangi kinerja orang- orang dengan kecemasan tes secara signifikan.

Beberapa faktor kemungkinan munculnya kecemasan tes ini adalah :

Kecemasan tes adalah respons

fenomenologi, fisiologis, dan perilaku

yang menyertai kekhawatiran

tentang kemungkinan kegagalan

pada suatu tes. (Gregory, 2015)

(17)

Hasil tes dapat menjadi tidak akurat apabila peserta tes memiliki alasan untuk bekerja secara tidak memadai atau tidak sesuai dirinya (Gregory, 2015).

Menurut Fudyartanta (2017), pemalsuan ini biasa digunakan untuk memberikan impresi yang baik, berkaitan dengan penerimaan pegawai atau karyawan, atau juga bisa untuk memberi impresi yang buruk dengan maksud agar tidak diterima atau ditolak pada kegiatan- kegiatan seperti wajib militer

6. MOTIVASI UNTUK

BERBOHONG

(18)

KELEBIHAN TES INDIVIDUAL

Secara umum, tes individu memiliki keuntungan agar pemeriksa dapat mengukur tingkat motivasi subjek dan menilai relevansinya dengan faktor lain seperti rasa impulsive maupun kecemasan dari hasil tes (Gregory, 2015)

Penguji dapat secara langsung melakukan observasi secara mendalam pada peserta tes.

Tes individual bersifat lebih fleksibel (isi konten lebih spesifik dan mendalam)

Menurut Anastasi (1976), beberapa

kelebihan tes individual diantaranya :

(19)

KELEMAHAN TES INDIVIDUAL

Menurut Anastasi (1976), beberapa kelemahan tes

individual adalah :

tes memerlukan peran penguji yang telah diberi pelatihan ekstensif dan memiliki pengalaman yang mumpuni.

Tes tersebut tidak memungkinkan untuk digeneralisasikan kepada individu lain

Observasi dan pengujian yang mendalam juga membuat tes individu lebih memerlukan waktu yang banyak dibandingkan tes kelompok atau klasikal

(20)

B. PENGADMINISTRASIAN

TES SECARA KLASIKAL

(21)

Menurut Anastasi (1976), istilah "rapport" merujuk pada usaha penguji untuk membangkitkan minat subjek dalam tes, mengajak kerja sama, dan memastikan bahwa subjek mengikuti instruksi tes standar.

Penguji menggunakan teknik-teknik untuk membangun rapport dan teknik-teknik lain yang terkait dengan administrasi tes. Keseragaman kondisi tes sangat penting untuk membandingkan hasil dengan benar, dan deviasi dari kondisi standar harus dicatat.

(1) RAPPORT

(22)

PROSES INI MELIBATKAN SAMBUTAN RAMAH SEPERTI MENYAMBUT PESERTA TES DENGAN RAMAH DAN SOPAN, PENJELASAN DENGAN JELAS TENTANG TUJUAN TES DAN PENTINGNYA PELAKSANAAN TES, KEPERCAYAAN DAN KEYAKINAN BAHWA HASIL TES PESERTA AKAN DIOLAH SECARA RAHASIA DAN DIGUNAKAN SESUAI TUJUAN YANG DIJELASKAN, DAN PESERTA DIBERI KESEMPATAN UNTUK BERTANYA SEBELUM TES DIMULAI.

Menurut Anastasi (1976), penguji juga harus sensitif terhadap masalah motivasi yang muncul ketika menguji orang dengan gangguan emosional, narapidana, atau anak nakal. Orang- orang ini cenderung menunjukkan sikap yang tidak menguntungkan dan kondisi abnormal masa lalu mereka dapat mempengaruhi hasil tes.

(23)

(2) PENYAJIAN TES

Menurut Gregory (2015), tes secara klasikal sebagian besar merupakan pengujian menggunakan pensil dan kertas (pencil-and-paper) yang cocok untuk menguji sekelompok banyak orang pada waktu yang sama.

A. Perencanaan Tes

Tujuan Tes:

Desain Soal:

Penguji menentukan tujuan evaluasi dan informasi yang ingin diperoleh dari tes.

Pembuat soal membuat soal yang relevan dan sesuai dengan tujuan tes, memperhatikan tingkat kesulitan dan format soal.

(24)

B. Instruksi dan

Pengenalan C. Pelaksanaan Tes

Instruksi Awal:

Pengenalan Tes:

Instruksi awal dilakukan dengan cara memberikan instruksi jelas kepada peserta mengenai aturan tes, waktu yang diberikan, dan cara menjawab soal

Penguji memperkenalkan tes dengan cara memberikan gambaran umum tentang tes, mengapa tes dilakukan, dan pentingnya partisipasi peserta.

Pada saat pelaksanaan tes, penguji harus melakukan pengawasan terhadap keberlangsungan tes, waktu, dan suasana ruangan agar dapat dipastikan berjalan dengan lancar dan peserta ujian mengerjakan tes tidak melakukan kecurangan atau perilaku tidak etis.

Penguji juga harus menyediakan waktu yang cukup bagi peserta untuk menjawab soal dengan seksama dan tanpa tekanan waktu sesuai dengan prosedur pelaksanaan tes tertentu.

(25)

Menurut Fudyartanta (2017), penguji harus memastikan jumlah subjek yang akan diuji, menyediakan ruangan dan perlengkapan tes, dan menyiapkan buku tes dan lembar jawaban dengan identifikasi yang tepat.

1) Peserta masuk ruangan tes dan diberi pengantar oleh tester.

2) Identitas dicatat pada lembar jawaban.

3) Buku tes dibagikan dalam keadaan tertutup.

4) Petunjuk tes dibacakan dengan jelas oleh psikolog.

5) Waktu tes dimulai, diawasi oleh stopwatch.

6) Selesai, lembar jawaban dan buku tes dikumpulkan oleh asisten.

Penguji juga harus membagi peserta menjadi kelompok yang sesuai. Misalnya, mengelompokkan tes peserta ujian yang berasal dari kelompok sekolah negeri dan sekolah swasta.

(26)

D. Penyelesaian Tes E. Pengoreksian dan Penilaian

Pengumpulan jawaban, penguji menyusun prosedur pengumpulan jawaban yang efisien dan memastikan semua jawaban terkumpul dengan benar.

Pemeriksaan awal, penguji memeriksa jawaban untuk memastikan kelengkapan dan kebersihan lembar jawaban.

1) Kunci jawaban, penilaian tes dilakukan berdasarkan kunci jawaban yang sudah disiapkan untuk setiap subtest. Setiap jawaban diperiksa dan diberi penilaian yang dicatat pada lembar jawaban.

2) Penilaian objektif, penguji harus memastikan penilaiannya dilakukan secara adil dan objektif.

3) Tabulasi nilai, tabulasi nilai dilakukan penguji untuk mendapatkan distribusi frekuensi dari tiap kelompok (Fudyartanta, 2017).

(27)

F. Pelaporan Hasil kepada G. Umpan Peserta Balik

Pemberian umpan balik, merupakan umpan balik kepada peserta mengenai hasil tes, baik dalam bentuk nilai numerik maupun penilaian kualitatif.

Kesempatan bertanya, merupakan pemberian kesempatan bagi peserta untuk bertanya atau meminta klarifikasi mengenai hasil tes.

1) Analisis data, meliputi analisis hasil tes untuk mengidentifikasi pola dan tren, serta memberikan konteks terhadap performa peserta.

2) Penyusunan laporan, meliputi penyusunan laporan hasil tes dengan jelas dan terstruktur, mencakup ringkasan hasil dan interpretasi yang relevan.

(28)

H. Evaluasi dan

Pembaruan I. Keamanan Data

Evaluasi proses, meliputi melakukan evaluasi terhadap proses penyajian tes, mencari potensi perbaikan di masa mendatang.

Pembaruan instrumen, meliputi mengganti atau memperbarui instrumen tes.

Perlindungan data harus memastikan data peserta disimpan dengan aman dan dilindungi dari akses yang tidak sah atau penggunaan yang tidak etis.

(1) Kepatuhan hukum, mematuhi semua peraturan dan undang-undang terkait privasi dan penggunaan data peserta.

(2) Etika, menjalankan tes dengan integritas, kejujuran, dan rasa hormat terhadap peserta, serta menjaga kerahasiaan jawaban peserta.

J. Kepatuhan dan

Etika

(29)

(3) HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN

Pengaturan Waktu

Kurangnya kejelasan pada pemberian petunjuk untuk peserta ujian

Kebisingan

Kegagalan menjelaskan

kapan dan apakah peserta ujian harus menebak

1.

2.

3.

4.

(30)

Dapat diberikan secara bersamaan kepada banyak orang

Menyederhanakan peran penguji Penilaian bersifat lebih objektif

Dapat dilakukan dengan biaya yang sangat hemat

Tersedia norma-norma yang lebih mapan jika dibandingkan dengan tes secara individu

Mengelompokkan soal-soal yang serupa ke dalam subtest dengan waktu terpisah

1.

3.2.

4.

5.

6.

(4) KELEBIHAN

(31)

Penguji tidak memiliki banyak kesempatan untuk membentuk rapport dengan peserta ujian

Terdapat pembatasan yang dikenakan pada tanggapan peserta ujian yang hanya dapat disampaikan melalui pilihan ganda Kurangnya fleksibilitas pada pengerjaan tes

1.

2.

3.

(4) KELEMAHAN

(32)

REFERENSI

Anastasi, A. (1976). Psychological testing (4th ed.). Collier Macmillan Canada, Ltd.

Faisal, A. (2022). Administrasi tes dalam evaluasi pembelajaran. Jurnal darussalam, 23(1), 1-12. http://dx.doi.org/10.58791/drs.v23i1.175

Fudyartanta, K. (2017). Pengantar psikodiagnostik. Pustaka Pelajar.

Gregory, R. J. (2015). Psychological testing: History, principles, and applications (7th ed.). Pearson Education Limited.

Lubis, N. M. (2011). Memahami dasar-dasar konseling dalam teori dan praktik.

Kencana.

Purna, R. S., Rahmi, F., Puspasari, D., Oktari, S., & Husna, M. T. (2020). Suatu pengantar pemeriksaan psikologis. Atmamedia.

(33)

THANK YOU

Semoga dapat dipahami!

Referensi

Dokumen terkait

 Tidak dapat melakukan observasi secara langsung terhadap masing2 testee..  Disusun berdasarkan kebutuhan dlm dunia. psikiatri & psikologi klinis

Teori Psikologi Individual Alfred Adler dengan pendekatan psikologi dalam penelitian ini digunakan untuk memahami bagaimana proses pembentukan kepribadian yang dialami

Mahasiswa mampu menganalisa perbedaan dalam tujuan, hasil dan kegunaan pengukuran psikologi yang sudah dikenal.. Individual & Group Tes Perbedaan Individual dan

Berdasarkan hasil tes Psikologi Rekrutmen Calon Pegawai Jalur Kompetensi Pelaksana Tingkat SMK Tahun 2013, terlampir daftar pelamar yang lulus dan berhak mengikuti tes Ketahanan

Untuk posisi- posisi yang calonnya sukar didapat, ada baiknya dilakukan tes psikologi karena biasanya memerlukan persyaratan psikologis tertentu, atau orang-orang dengan

Berdasar- kan keempat tujuan ini tampak jelas bahwa alat tes psikologi memiliki tujuan yang sangat penting, maka tes psikologi haruslah dijaga dengan baik, agar dalam pelaksanaannya

Laporan praktikum psikologi lanjutan mengenai alat tes Holland