PENGADMINISTRASIAN
Kelompok 2 - 3PA18 TES
KELOMPOK 2:
10521180
Anggita Rachmawati D
10521278
Aulya Aprilianti
10521970
Nadia Salsabila
11521132
Qanita Nafisa
TOPICS
Rapport
Penyajian Tes
Hal yang Harus Diperhatikan Kelebihan dan Kelemahan
Rapport
Penyajian Tes
Hal yang Harus Diperhatikan Kelebihan dan Kelemahan
INDIVIDUAL
KLASIKAL
ADMINISTRASI TES
Menurut Fudyartanta (2017), Administrasi tes
merupakan urutan penyelenggaraan atau
pelaksanaan pengetesan dari awal sampai
akhir dengan laporan tertulis secara lengkap
mencangkup interpretasi, kesimpulan hasil
pengetesan, bahkan rekomendasi
SECARA UMUM,
TERBAGI MENJADI..
Tes Perorangan Tes Individual/
Tes Kelompok Tes Klasikal/
A. PENGADMINISTRASIAN
TES SECARA INDIVIDUAL
1. RAPPORT
Menurut Willis (dalam Lubis, 2011), rapport adalah hubungan yang ditandai dengan keharmonisan, kecocokan dan saling tarik menarik. Sementara itu, Brammer, Abrego, dan Shostrom (dalam Lubis, 2011) mendefinisikan rapport adalah suatu iklim psikologis yang positif, yang mengandung kehangatan dan penerimaan sehingga peserta ujian tidak merasa terancam dalam berhubungan dengan konselor.
Menurut Lubis (2011), dalam proses administrasi tes, rapport diawali dengan pertanyaan basa-basi penguji.
Pembicaraan awal rapport sama sekali tidak berkaitan dengan permasalahan peserta ujian, karena tujuannya hanya untuk membuat peserta ujian merasa nyaman di awal pertemuan dengan penguji.
Menurut Willis (dalam Lubis, 2011), penguji harus memiliki sikap empati pada klien. Selain itu, penguji harus bersikap terbuka, menerima tanpa syarat, dan menghormati peserta ujian. Penguji juga harus mampu membaca perilaku non verbal peserta ujian, terutama yang berhubungan dengan bahasa bukan lisan. Penguji juga harus merasakan rasa kebersamaan, intim, akrab, kejujuran, dan minat membantu tanpa pamrih dengan peserta ujian.
Menurut Lubis (2011), hubungan konseling akan berjalan efektif apabila rapport telah terbangun.
Peserta ujian akan bersikap terbuka pada penguji karena keakraban yang terjalin menghapus ketakutan dan keraguan peserta ujian untuk berbagi (sharing) dengan penguji.
2. PENYAJIAN TES
Menurut Gregory (2015), tes secara individu
sejatinya dirancang dan dikhususkan
untuk dilakukan satu dengan satu (one-
on-one).
keyakinan mental yang dimiliki oleh klien
Siap antisipasi reaksi. mengantisipasi agar siap menghadapi respon apapun dari klien
menetukan jenis tes yang akan dilakukan
menyiapkan layout yang nyaman bagi klien
menyiapkan alat tes, serta memeriksa kelengkapan alat tes
menciptakan hubungan yang baik antara tester dengan klien
klien tidak boleh merasa tegang, atau harus merasa aman dan termotivasi
tester tidak memberi petunjuk pada jawaban yang benar
A. Persiapan mental
B. Persiapan materi
C. Rapport Menurut Purna
(2020),
terdapat
beberapa langkah yang harus
dilakukan
dalam proses penyajian tes
secara individual yaitu
melakukan pemaknaan akan hasil skoring yang telah dilakukan, biasanya berbentuk laporan hasil pemeriksaan psikologis
peserta ujian dapat melihat hasil pemeriksaan psikologis. hasil pemeriksaan tidak dapat dilihat oleh
sembarang orang karna
informasinya bersifat rahasia.
penguji melakukan evaluasi, untuk menjadi perbaikan bagi pengujian yang dilakukan di masa depan.
F. Interpretasi
G. Mengkomunikasikan hasil
H. Evaluasi mematuhi prosedur standar, seperti
memahami buku manual tes
memperhatikan waktu,
karna beberapa alat tes memiliki batasan waktunya sendiri.
memperhatikan urutan pengetesan,
Perlu diperhatikan urutan pengerjaan tes dan diselingi dengan istirahat agar peserta ujian tidak mengalami kelelahan.
skoring, adalah memberikan nilai atas
tes yang telah dilakukan.
D. Pelaksanaan Tes
E. Pemberian nilai
(3) HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN
1.Penguji harus menguasai keseluruhan bahan dan petunjuk sebelum menyampaikan ketentuan tes.
Melibatkan latihan yang ekstensif dan antisipasi dalam memberikan respons yang tepat apabila terjadi keadaan yang tidak dapat diprediksi.
Choi dan Proctor (dalam Gregory, 2015) menemukan bahwa 25 dari 27 mahasiswa pascasarjana membuat kesalahan serius dalam administrasi tes Stanford-Binet: Edisi Keempat.
Dua kesalahan paling umum yang ditemukan adalah kegagalan menanyakan
tanggapan verbal yang tidak lengkap atau ambigu dan terlalu memberikan
banyak poin untuk jawaban di bawah standar
Menurut Gregory (2015), sudah seharusnya seorang penguji peka terhadap kelemahan-kelemahan fisik seperti dalam pendengaran, penglihatan, wicara maupun pengendalian motorik dari setiap peserta tes karena dapat sangat menyimpangkan hasil tes
SENSITIVITAS 2.
TERHADAP
KETERBATASAN PESERTA TES
Vernon dan Brown (dalam Gregory, 2015) pernah melaporkan
kasus tentang seorang gadis kecil yang dimasukkan ke rumah
sakit bagi penderita retardasi mental sebagai konsekuensi dari
tidak pekanya penguji akan keterbatasan fisik subjek yang tuna
rungu.
Seorang penguji yang gagal membangun hubungan baik dapat menyebabkan subjek merasakan kecemasan, sikap tidak mau bekerja sama yang pasif-agresif, dan sebagainya.
Kegagalan dalam membangun hubungan akan mendistorsi temuan tes (Gregory, 2015).
Dalam kata lain, kemampuannya peserta tes akan diremehkan dan kepribadiannya akan salah dinilai
3. MENJALIN HUBUNGAN/
RAPPORT
Hasil-hasilnya saling bertentangan sehingga tidak dapat disimpulkan secara gamblang.
Terdapat sebuah kasus tentang kepercayaan akan ras yang ditunjukkan oleh Terrel, Terrel, dan Taylor (dalam Gregory, 2015)
4. JENIS KELAMIN, PENGALAMAN, DAN
RAS PENGUJI
5. KECEMASAN TES
Peserta pernah memiliki hasil yang buruk dalam tes.
Kinerja yang buruk dalam pelaksanaan tes terlepas dari rasa cemasnya.
Tekanan waktu yang sempit memperparah tingkat ancaman pribadi sehingga mengurangi kinerja orang- orang dengan kecemasan tes secara signifikan.
Beberapa faktor kemungkinan munculnya kecemasan tes ini adalah :
Kecemasan tes adalah respons
fenomenologi, fisiologis, dan perilaku
yang menyertai kekhawatiran
tentang kemungkinan kegagalan
pada suatu tes. (Gregory, 2015)
Hasil tes dapat menjadi tidak akurat apabila peserta tes memiliki alasan untuk bekerja secara tidak memadai atau tidak sesuai dirinya (Gregory, 2015).
Menurut Fudyartanta (2017), pemalsuan ini biasa digunakan untuk memberikan impresi yang baik, berkaitan dengan penerimaan pegawai atau karyawan, atau juga bisa untuk memberi impresi yang buruk dengan maksud agar tidak diterima atau ditolak pada kegiatan- kegiatan seperti wajib militer
6. MOTIVASI UNTUK
BERBOHONG
KELEBIHAN TES INDIVIDUAL
Secara umum, tes individu memiliki keuntungan agar pemeriksa dapat mengukur tingkat motivasi subjek dan menilai relevansinya dengan faktor lain seperti rasa impulsive maupun kecemasan dari hasil tes (Gregory, 2015)
Penguji dapat secara langsung melakukan observasi secara mendalam pada peserta tes.
Tes individual bersifat lebih fleksibel (isi konten lebih spesifik dan mendalam)
Menurut Anastasi (1976), beberapa
kelebihan tes individual diantaranya :
KELEMAHAN TES INDIVIDUAL
Menurut Anastasi (1976), beberapa kelemahan tes
individual adalah :
tes memerlukan peran penguji yang telah diberi pelatihan ekstensif dan memiliki pengalaman yang mumpuni.
Tes tersebut tidak memungkinkan untuk digeneralisasikan kepada individu lain
Observasi dan pengujian yang mendalam juga membuat tes individu lebih memerlukan waktu yang banyak dibandingkan tes kelompok atau klasikal
B. PENGADMINISTRASIAN
TES SECARA KLASIKAL
Menurut Anastasi (1976), istilah "rapport" merujuk pada usaha penguji untuk membangkitkan minat subjek dalam tes, mengajak kerja sama, dan memastikan bahwa subjek mengikuti instruksi tes standar.
Penguji menggunakan teknik-teknik untuk membangun rapport dan teknik-teknik lain yang terkait dengan administrasi tes. Keseragaman kondisi tes sangat penting untuk membandingkan hasil dengan benar, dan deviasi dari kondisi standar harus dicatat.
(1) RAPPORT
PROSES INI MELIBATKAN SAMBUTAN RAMAH SEPERTI MENYAMBUT PESERTA TES DENGAN RAMAH DAN SOPAN, PENJELASAN DENGAN JELAS TENTANG TUJUAN TES DAN PENTINGNYA PELAKSANAAN TES, KEPERCAYAAN DAN KEYAKINAN BAHWA HASIL TES PESERTA AKAN DIOLAH SECARA RAHASIA DAN DIGUNAKAN SESUAI TUJUAN YANG DIJELASKAN, DAN PESERTA DIBERI KESEMPATAN UNTUK BERTANYA SEBELUM TES DIMULAI.
Menurut Anastasi (1976), penguji juga harus sensitif terhadap masalah motivasi yang muncul ketika menguji orang dengan gangguan emosional, narapidana, atau anak nakal. Orang- orang ini cenderung menunjukkan sikap yang tidak menguntungkan dan kondisi abnormal masa lalu mereka dapat mempengaruhi hasil tes.
(2) PENYAJIAN TES
Menurut Gregory (2015), tes secara klasikal sebagian besar merupakan pengujian menggunakan pensil dan kertas (pencil-and-paper) yang cocok untuk menguji sekelompok banyak orang pada waktu yang sama.
A. Perencanaan Tes
Tujuan Tes:
Desain Soal:
Penguji menentukan tujuan evaluasi dan informasi yang ingin diperoleh dari tes.
Pembuat soal membuat soal yang relevan dan sesuai dengan tujuan tes, memperhatikan tingkat kesulitan dan format soal.
B. Instruksi dan
Pengenalan C. Pelaksanaan Tes
Instruksi Awal:
Pengenalan Tes:
Instruksi awal dilakukan dengan cara memberikan instruksi jelas kepada peserta mengenai aturan tes, waktu yang diberikan, dan cara menjawab soal
Penguji memperkenalkan tes dengan cara memberikan gambaran umum tentang tes, mengapa tes dilakukan, dan pentingnya partisipasi peserta.
Pada saat pelaksanaan tes, penguji harus melakukan pengawasan terhadap keberlangsungan tes, waktu, dan suasana ruangan agar dapat dipastikan berjalan dengan lancar dan peserta ujian mengerjakan tes tidak melakukan kecurangan atau perilaku tidak etis.
Penguji juga harus menyediakan waktu yang cukup bagi peserta untuk menjawab soal dengan seksama dan tanpa tekanan waktu sesuai dengan prosedur pelaksanaan tes tertentu.
Menurut Fudyartanta (2017), penguji harus memastikan jumlah subjek yang akan diuji, menyediakan ruangan dan perlengkapan tes, dan menyiapkan buku tes dan lembar jawaban dengan identifikasi yang tepat.
1) Peserta masuk ruangan tes dan diberi pengantar oleh tester.
2) Identitas dicatat pada lembar jawaban.
3) Buku tes dibagikan dalam keadaan tertutup.
4) Petunjuk tes dibacakan dengan jelas oleh psikolog.
5) Waktu tes dimulai, diawasi oleh stopwatch.
6) Selesai, lembar jawaban dan buku tes dikumpulkan oleh asisten.
Penguji juga harus membagi peserta menjadi kelompok yang sesuai. Misalnya, mengelompokkan tes peserta ujian yang berasal dari kelompok sekolah negeri dan sekolah swasta.
D. Penyelesaian Tes E. Pengoreksian dan Penilaian
Pengumpulan jawaban, penguji menyusun prosedur pengumpulan jawaban yang efisien dan memastikan semua jawaban terkumpul dengan benar.
Pemeriksaan awal, penguji memeriksa jawaban untuk memastikan kelengkapan dan kebersihan lembar jawaban.
1) Kunci jawaban, penilaian tes dilakukan berdasarkan kunci jawaban yang sudah disiapkan untuk setiap subtest. Setiap jawaban diperiksa dan diberi penilaian yang dicatat pada lembar jawaban.
2) Penilaian objektif, penguji harus memastikan penilaiannya dilakukan secara adil dan objektif.
3) Tabulasi nilai, tabulasi nilai dilakukan penguji untuk mendapatkan distribusi frekuensi dari tiap kelompok (Fudyartanta, 2017).
F. Pelaporan Hasil kepada G. Umpan Peserta Balik
Pemberian umpan balik, merupakan umpan balik kepada peserta mengenai hasil tes, baik dalam bentuk nilai numerik maupun penilaian kualitatif.
Kesempatan bertanya, merupakan pemberian kesempatan bagi peserta untuk bertanya atau meminta klarifikasi mengenai hasil tes.
1) Analisis data, meliputi analisis hasil tes untuk mengidentifikasi pola dan tren, serta memberikan konteks terhadap performa peserta.
2) Penyusunan laporan, meliputi penyusunan laporan hasil tes dengan jelas dan terstruktur, mencakup ringkasan hasil dan interpretasi yang relevan.
H. Evaluasi dan
Pembaruan I. Keamanan Data
Evaluasi proses, meliputi melakukan evaluasi terhadap proses penyajian tes, mencari potensi perbaikan di masa mendatang.
Pembaruan instrumen, meliputi mengganti atau memperbarui instrumen tes.
Perlindungan data harus memastikan data peserta disimpan dengan aman dan dilindungi dari akses yang tidak sah atau penggunaan yang tidak etis.
(1) Kepatuhan hukum, mematuhi semua peraturan dan undang-undang terkait privasi dan penggunaan data peserta.
(2) Etika, menjalankan tes dengan integritas, kejujuran, dan rasa hormat terhadap peserta, serta menjaga kerahasiaan jawaban peserta.
J. Kepatuhan dan
Etika
(3) HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN
Pengaturan Waktu
Kurangnya kejelasan pada pemberian petunjuk untuk peserta ujian
Kebisingan
Kegagalan menjelaskan
kapan dan apakah peserta ujian harus menebak
1.
2.
3.
4.
Dapat diberikan secara bersamaan kepada banyak orang
Menyederhanakan peran penguji Penilaian bersifat lebih objektif
Dapat dilakukan dengan biaya yang sangat hemat
Tersedia norma-norma yang lebih mapan jika dibandingkan dengan tes secara individu
Mengelompokkan soal-soal yang serupa ke dalam subtest dengan waktu terpisah
1.
3.2.
4.
5.
6.
(4) KELEBIHAN
Penguji tidak memiliki banyak kesempatan untuk membentuk rapport dengan peserta ujian
Terdapat pembatasan yang dikenakan pada tanggapan peserta ujian yang hanya dapat disampaikan melalui pilihan ganda Kurangnya fleksibilitas pada pengerjaan tes
1.
2.
3.
(4) KELEMAHAN
REFERENSI
Anastasi, A. (1976). Psychological testing (4th ed.). Collier Macmillan Canada, Ltd.
Faisal, A. (2022). Administrasi tes dalam evaluasi pembelajaran. Jurnal darussalam, 23(1), 1-12. http://dx.doi.org/10.58791/drs.v23i1.175
Fudyartanta, K. (2017). Pengantar psikodiagnostik. Pustaka Pelajar.
Gregory, R. J. (2015). Psychological testing: History, principles, and applications (7th ed.). Pearson Education Limited.
Lubis, N. M. (2011). Memahami dasar-dasar konseling dalam teori dan praktik.
Kencana.
Purna, R. S., Rahmi, F., Puspasari, D., Oktari, S., & Husna, M. T. (2020). Suatu pengantar pemeriksaan psikologis. Atmamedia.
THANK YOU
Semoga dapat dipahami!