• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh free cash flow dan leverage terhadap agency cost

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pengaruh free cash flow dan leverage terhadap agency cost"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH FREE CASH FLOW DAN LEVERAGE TERHADAP AGENCY COST (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar di

BEI Periode Tahun 2015-2017)

THE INFLUENCE OF FREE CASH FLOW AND LEVERAGE ON AGENCY COST (A Study in Manufacturing Companies in the Sector of Consumption Goods Industry

Listed in the IDX in the Period of 2015-2017)

Azaria Rahma Shabrina

Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya Jalan MT. Haryono Nomor 165 Malang

[email protected]

Dosen Pembimbing:

Dr. Siti Aisjah, SE., MS., CSRS., CFP [email protected]

[email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh free cash flow dan leverage terhadap agency cost. Agency cost diukur menggunakan dua proksi yaitu rasio asset turnover dan rasio SGA expense to sales. Populasi penelitian merupakan seluruh perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak 2015-2017. Sampel penelitian menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari 31 perusahaan yang sesuai dengan kriteria populasi. Data yang digunakan adalah data sekunder bersumber pada laporan keuangan tahunan perusahaan yang telah di audit dengan menggunakan metode analisis linier berganda.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa free cash flow dan leverage mempunyai pengaruh signifikan positif terhadap agency cost yang menggunakan proksi asset turnover dan tidak signifikan terhadap proksi SGA expense to sales ratio. Dan leverage berpengaruh positif tidak signifikan terhadap agency cost. Implikasi dalam penelitian ini diharapkan perusahaan manufaktur menggunakan free cash flow dan utang untuk meningkatkan kinerja keuangan agar tercapainya kesejahteraan para pemegang saham.

Kata Kunci: Free Cash Flow, Leverage, Agency Cost, Asset Turnover, SGA Expense

(2)

THE INFLUENCE OF FREE CASH FLOW AND LEVERAGE ON AGENCY COST (A Study in Manufacturing Companies in the Sector of Consumption Goods Industry

Listed in the IDX in the Period of 2015-2017)

ABSTRACT

The objective of this study is to assess the influence of free cash flow and leverage on agency cost. The agency cost was measured using two proxies: asset turnover ratio and sales to administrative expense ratio. The population of this research were all the manufacturing companies in the sector of consumption goods industry listed in the IDX from 2015-2017. Sampel of this research was selected using purposive sampling, consisted 31 companies related the population criteria. This research use secondary data in the form of audited financial reports of companies and was analyzed using multiple linear regression.

The results of this study show that free cash flow and leverage have positive and significant effects on agency cost proxied by asset turnover and insignificant using sales to administrative expense ratio as the proxy. Therefore, manufacturing companies are expected to use free cash flow and debt to improve their financial performance for the welfare of stockholders.

Keywords: Free Cash Flow, Leverage, Agency Cost, Asset Turnover, SGA Expense

(3)

I. PENDAHULUAN

Seiring dengan semakin kompleksnya aktivitas bisnis perusahaan, kini dalam perusahaan yang go public dikelola melalui beberapa fungsi yang berbeda, antara lain fungsi kepemilikan dan fungsi pengelolaan perusahaan. Fungsi kepemilikan berada pada tangan para pemegang saham, sedangkan fungsi pengelolaan dilakukan oleh manajemen. Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan perusahaan merupakan kumpulan kontrak yang dilakukan antara pihak pemilik modal (principal) dengan manajer (agent). Pemegang saham yang dalam perusahaan bisa di sebut dengan pihak pemilik, mempercayakan semua aktivitas perusahaan kepada pihak manajemen dan mendelegasikan beberapa otoritas pengambilan keputusan kepada mereka sebagai perpanjangan tangan dari pihak pemilik. Dalam pendelegasian wewenang ini, manajer diharapkan dapat memaksimalkan tujuan perusahaan, atau dalam arti memaksimumkan kesejahteraan para pemegang saham.

Pemisahan antara fungsi kepemilikan dan fungsi pengelolaan antara pihak pemegang saham dengan manajer menyebabkan adanya konflik kepentingan antara dua belah pihak (Ross, Westerfield,

Jaffe, 2010:13). Dimana, kepentingan para pemegang saham adalah memaksimumkan kekayaannya dari pembayaran deviden perusahaan bersangkutan sebagai konsekuensi yang dihasilkan dari investasi yang menguntungkan. Manajemen mempunyai kepentingan yang lebih fokus pada ukuran dan pertumbuhan perusahaan.

Ukuran dan pertumbuhan memberikan kekayaan bagi pihak manajemen. Perbedaan kepentingan antara pihak pemegang saham dan manajemen dikenal dengan istilah konflik keagenan (Agency Conflict). Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa suatu perusahaan yang memisahkan antara fungsi pengelolaan dengan fungsi kepemilikan akan rentan terhadap konflik keagenan. Bagi pihak pemegang saham, konflik keagenan melihat adanya potensi bahwa pihak manajer akan melakukan perilaku oportunistik yang tidak menguntungkan pihak pemegang saham, sehingga akan berpengaruh terhadap dividen yang akan dibagikan kepada mereka. Dengan adanya potensi tersebut, maka timbulah biaya tata kelola yang dirancang untuk mengawasi manajer dan mengurangi konflik keagenan.

Biaya yang ditimbulkan untuk mengatasi konflik kepentingan ini disebut dengan biaya keagenan (Agency Cost).

(4)

Salah satu penyebab utama masalah keagenan antara pihak pemilik modal dan manajerial adalah ketika perusahaan menghasilkan arus kas bebas (free cash flow) yang sangat besar. Menurut Jensen (1986) ketika perusahaan menghasilkan free cash flow dalam jumlah besar dan tingkat pertumbuhan perusahaan rendah, maka agency problem akan semakin besar. Dimana kelebihan free cash flow tersebut cenderung digunakan oleh manajer untuk melakukan investasi dalam hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan utama perusahaan atau investasi pada proyek proyek yang memiliki net present value (NPV) negatif.

Penggunaan free cash flow dikatakan sesuai dengan kepentingan pemegang saham ketika perusahaan bisa mendistribusikan free cash flow untuk mendanai proyek dengan NPV positif, atau mendistribusikannya kepada pemegang saham dalam bentuk pembelian kembali saham dan pembayaran deviden (Crutchley dan Hansen, 1986).

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa problem keagenan dari free cash flow antara manajer dan pemegang saham dapat dikurangi dengan keberadaan utang. Bagi perusahaan yang memiliki kelebihan free cash flow dan peluang pertumbuhan yang rendah akan menggunakan lebih banyak pembiayaan

melalui utang dengan tujuan pengawasan.

Penggunaan utang dalam struktur modal (leverage) dapat mencegah pengeluaran perusahaan yang tidak penting, karena terdapat mekanisme pengendalian dimana perusahaan dengan free cash flow besar akan mendorong manajer untuk membayar bunga dari kas secara periodik dan kreditur juga ikut mengawasi dan mengendalikan perilaku oportunistik manajer sehingga kebijakan penggunaan utang ini akan mampu mengurangi agency cost. Selain itu dengan tingginya penggunaan utang maka manajemen akan bekerja dibawah ancaman financial distress, sehingga akan mendorong manajemen untuk bekerja lebih giat dan efisien untuk meningkatkan laba sehingga dapat memenuhi kewajiban dari penggunaan utang (Palepu, Healy, dan Bernard, 2004).

Beberapa penelitian terdahulu membuktikan hipotesis free cash flow yang dikemukakan oleh Jensen (1986), Santi (2012), Herliana (2016) menemukan adanya hubungan yang positif antara free cash flow dan agency cost. Namun penelitian yang dilakukan oleh Wang (2010) menemukan bahwa adanya hubungan negative antara free cash flow dan agency cost yang menggunakan proksi operating ratio, administration ratio, dan research and development ratio. Penelitian yang dilakukan

(5)

oleh Savadjani dan Alame Haeri (2011) juga mendapatkan hasil yang sama, bahwa meningkatnya free cash flow dapat menurunkan biaya agensi. Mereka juga mengungkapkan bahwa perusahaan didirikan dengan tujuan memaksimalkan kekayaan pemegang saham. Ketika perusahaan melakukan aktivitas dan menyebabkan adanya keuntungan arus kas bebas, maka arus kas tersebut dapat digunakan melalui metode yang berbeda untuk memenuhi tujuan perusahaan. Ini berarti bahwa perusahaan dapat memanfaatkan kelebihan jumlah arus kas mereka, mengembangkan kegiatan, dan meningkatkan output masa depan untuk pemegang saham atau membayar dividen kepada pemegang saham.

Hipotesis leverage beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Jensen dan Meckling (1976), Sing dan Davidson (2003), Dwi (2012), dan Burhanudin (2018) menemukan adanya pengaruh secara negatif antara leverage dan agency cost. Namun berbeda dengan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Fachrudin (2011), dan Sadewa (2016) yang hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan positif antara struktur modal terhadap agency cost, artinya bahwa terdapat hubungan yang erat antara peningkatan utang

dalam struktur modal perusahaan dengan meningkatnya agency cost pada perusahaan.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu masih banyak diperoleh ketidakseragaman hasil dan menimbulkan suatu konflik penelitian, sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh free cash flow dan leverage terhadap agency cost.

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi pengaruh dari free cash flow terhadap agency cost dan untuk mengetahui dan mengevaluasi pengaruh dari leverage terhadap agency cost.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Keagenan (Agency Theory) Teori keagenan yang dikemukakan Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa agency relationship atau hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu orang atau lebih (principal) melibatkan orang lain (agent) untuk melakukan jasa tertentu atas nama prinsipal, serta melibatkan pendelegasian wewenang kepada agen untuk pengambilan keputusan yang terbaik bagi prinsipal.

Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan bahwa perusahaan yang memisahkan fungsi

(6)

kepemilikan dan pengelolaan pada perusahaan seringkali mengakibatkan terjadinya konflik keagenan karena perbedaan kepentingan antara pihak principal dan pihak manajemen sebagai agen.

2.2 Biaya Keagenan (Agency Cost)

Biaya yang ditimbulkan untuk mengatasi konflik kepentingan disebut dengan biaya agensi (agency cost) menurut Moeljadi (2006) terdapat tiga kategori agency cost, yaitu (1) Monitoring cost, (2) Bonding Cost, (3) Residual loss.

2.3 Free Cash Flow

Menurut Brigham (2006) arus kas bebas adalah kas yang tersedia untuk didistribusikan kepada kreditur atau pemegang saham setelah perusahaan melakukan semua investasi dalam fixed aset dan working capital.

Menurut Jensen (1986), ada lima tujuan penggunaan dari arus kas bebas adalah: Untuk membayar bunga kepada kreditor dimana harga net perusahaan adalah beban bunga setelah pajak, untuk membayar utang perusahaan, untuk membagikan deviden kepada para pemegang saham, untuk membeli kembali saham dari pemegang saham, dan untuk membeli surat berharga.

Penggunaan free cash flow yang efisien adalah ketika perusahaan mendanai semua proyek dengan NPV positif dan kelebihannya

atau arus kas menganggur bisa didistribusikan kepada para pemegang saham dengan pembelian kembali saham dan pembayaran deviden (Crutchley dan Hansen, 1989).

Formula free cash flow menurut Rose et all (2000) :

FCF = AKO – PM- NWC FCF : Free Cash Flow

AKO : Aliran Kas Operasi Perusahaan PM : Pengeluaran modal operasi NWC : Modal kerja bersih

2.3 Leverage

Menurut Brigham dan Houston (2013) rasio leverage merupakan rasio yang mengukur sejauh mana perusahaan menggunakan pendanaan dengan utang. Jenis jenis rasio leverage menurut Sawir (2000) terdapat dua jenis, yaitu sebagai berikut:

- Debt to Equity Ratio (DER)

Rasio ini mengukur penggunaan total utang terhadap total ekuitas yang dimiliki perusahaan, dan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajiban membayar utangnya dengan jaminan modal sendiri. Formula Moeljadi (2006) :

DER = Total Utang Modal Sendiri - Debt to Total Aset Ratio (DAR)

merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur bagian aktiva yang didanai

(7)

dengan menggunakan utang. Formula Moeljadi (2006) :

DAR = Total Utang Total Aktiva

2.3 Asset Turnover dan SGA Expense

Pengukuran mengenai biaya keagenan (agency cost) dapat dilakukan dengan menggunakan bebeberapa variable proksi, antara lain dengan menggunakan proksi asset turnover dan selling, general, and administrative expense to sales ratio.

Rasio perputaran aset (asset turnover) adalah rasio yang dipakai untuk menunjukkan kemampuan total aktiva untuk berputar selama satu tahun untuk menghasilkan penjualan (Moeljadi,2006). Semakin tinggi tingkat perputaran aset sebuah perusahaan menunjukkan bahwa perusahaan tersebut mempunyai kinerja yang bagus dan mampu mengelola asetnya dengan baik, sehingga nilai agency cost perusahaan dapat menurun.

Formula Moeljadi (2006) :

AC_ATO = Penjualan bersih Total Aktiva rata rata

SGA Expense adalah rasio yang digunakan untuk mengukur pembayaran dan konsumsi yang berlebihan yang dilakukan oleh pihak manajemen serta mengukur seberapa efektif manajemen perusahaan melakukan kontrol terhadap biaya operasionalnya. Semakin tinggi

beban diskresi maka semakin tinggi biaya keagenan yang terjadi. Formula Singh and Davidson (2003) :

AC_SGA = Beban Operasional Total Penjualan III. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah explanatory research dengan pendekatan kuantitatif. Dengan populasi perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang sudah dan masih terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2015-2017.

Sampel dalam penelitian ini berjumlah 31 perusahaan dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling.

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder.

Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini bersumber pada laporan keuangan tahunan perusahaan yang telah di audit dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2015-2017. Seluruh data dapat di akses dari publikasi Bursa Efek Indonesia pada website www.idx.co.id, dari IDN Financial, dan dari website perusahaan perusahaan terkait.

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif statistik, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis regresi linier

(8)

berganda. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan program SPSS.

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah agency cost yang diukur dengan dua proksi yaitu asset turnover (AC_ATO) dan proksi beban selling, general, dan administrative (AC_SGA). Sehingga berdasarkan variabel tersebut persamaan linier berganda yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

Y1 = a + β1X1 + β2X2 + β3X3+e

Y1 : Agency Cost proksi Aset Turnover a : Konstanta

b : Koefisien regresi X1 : Free Cash Flow X2 : Debt to Equity Ratio X3 : Debt to Total Asset Ratio e : Standard error

Persamaan regresi linier untuk pengujian hipotesis agency cost yang menggunakan proksi SGA expense adalah sebagai berikut:

Y2 = a + β1X1 + β2X2 + β3X3+e

Y1 : Agency Cost proksi SGA Expense a : Konstanta

b : Koefisien regresi X1 : Free Cash Flow X2 : Debt to Equity Ratio X3 : Debt to Total Asset Ratio e : Standard error

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Uji Asumsi Klasik

1. Uji Multikolinieritas Data

Pada model regresi pertama dan model regresi yang kedua menghasilkan nilai VIF lebih kecil dari 10 dan menghasilkan nilai tolerance lebih

besar dari 0.1. Dengan demikian variabel bebas dalam model regresi pada penelitian ini dinyatakan tidak terjadi gejala multikolinier.

2. Uji Normalitas Data

Pada model regresi pertama dan model regresi yang kedua menghasilkan statistik uji Kolmogorov Smirnov sebesar 0.070 dan 0.091 dengan probabilitas 0.200 dan 0.057. Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa probabilitas > level of significant (α=5%).

Dengan demikian residual dinyatakan berdistribusi normal.

3. Uji Heteroskedastisitas

Pada model regresi pertama dan model regresi yang kedua menghasilkan grafik probabilitas dengan kondisi observasi residual menyebar secara acak serta tidak membentuk pola tertentu.

Dengan demikian residual dinyatakan memiliki ragam yang homogen.

4. Uji Autokorelasi

Pada model regresi pertama dan model regresi yang kedua menghasilkan statistik uji Run berturut-turut sebesar -0.00233 dan -0.01948 dengan probabilitas 0.076 dan 0.176. Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa probabilitas > level of significant (α=5%).

Dengan demikian residual tidak saling berkorelasi atau tidak mengandung masalah autokorelasi.

(9)

4.2 Pengaruh Free Cash Flow, DER, DAR terhadap Asset Turnover

Coefficientsa

Model

Unstandardize d Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B

Std.

Error Beta

1 (Constant) .817 .120 6.785 .000

Free cash flow

8.727E-

14 .000 .258 2.829 .006

DER .263 .143 .400 1.838 .069

DAR .085 .526 .035 .161 .872

a. Dependent Variable: AC_ATO

Model empirik Regresi Linier berdasarkan hasil estimasi di atas adalah sebagai berikut :

Model Umum Regresi Linier : Y = β0 + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + ε Model Empirik Regresi Linier :

Y = 0.817 + 0.000000000000087 X1 + 0.263 X2

+ 0.085 X3

1. Uji Hipotesis Parsial antara Konstanta terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi Asset Turnover

Pengujian hipotesis secara parsial Konstanta terhadap Agency Cost menggunakan Proksi Asset Turnover menghasilkan koefisien regresi sebesar 0.817 dengan statistik uji t sebesar 6.785 dan probabilitas sebesar 0.000. Hasil tersebut menunjukkan koefisien regresi bernilai positif dan | statistik uji t | > | t tabel | (1.662). atau probabilitas < level of significance (α= 5%). Hal ini berarti terdapat pengaruh positif dan

signifikan Konstanta terhadap agency Cost menggunakan Proksi Asset Turnover.

2. Uji Hipotesis Parsial antara Free Cash Flow terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi Asset Turnover

Pengujian hipotesis secara parsial Free Cash Flow terhadap Agency Cost menggunakan Proksi Asset Turnover menghasilkan koefisien regresi sebesar 0.000 dengan statistik uji t sebesar 2.829 dan probabilitas sebesar 0.003.

Hasil pengujian tersebut menunjukkan koefisien regresi bernilai positif dan | statistik uji t | > | t tabel | (1.662). atau probabilitas < level of significance (α= 5%). Hal ini berarti terdapat pengaruh positif dan signifikan Free Cash Flow terhadap Agency Cost menggunakan Proksi Asset Turnover.

3. Uji Hipotesis Parsial antara Debt to Equity Ratio terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi Asset Turnover Pengujian hipotesis secara parsial Debt to Equity Ratio terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi Asset Turnover menghasilkan koefisien regresi sebesar 0.263 dengan statistik uji t sebesar 1.838 dan probabilitas sebesar 0.035. Hasil tersebut menunjukkan koefisien regresi bernilai positif dan | statistik uji t | > | t tabel | (1.662). atau probabilitas < level of significance (α= 5%). Hal ini berarti terdapat pengaruh positif dan

(10)

signifikan Debt to Equity Ratio terhadap agency cost Menggunakan Proksi Asset Turnover.

4. Uji Hipotesis Parsial antara Debt to Total Asset Ratio terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi Asset Turnover Pengujian hipotesis secara parsial Debt to Total Asset Ratio terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi Asset Turnover menghasilkan koefisien regresi sebesar 0.085 dengan statistik uji t sebesar 0.161 dan probabilitas sebesar 0.436. Hasil tersebut menunjukkan koefisien regresi bernilai positif dan | statistik uji t | < | t tabel | (1.662). atau probabilitas > level of significance (α= 5%). Hal ini berarti terdapat pengaruh positif dan tidak signifikan Debt to Total Asset Ratio terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi Asset Turnover.

4.3 Pengaruh Free Cash Flow, DER, DAR terhadap SGA Expense

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B

Std.

Error Beta

1 (Constant) .282 .033 8.615 .000 Free cash

flow

- 2.158E- 15

.000 -.027 -.257 .798

DER .023 .039 .148 .592 .555

DAR -.214 .143 -.372 -1.497 .138

a. Dependent Variable: AC_SGA Expense

Model empirik Regresi Linier berdasarkan hasil estimasi di atas adalah sebagai berikut :

Model Umum Regresi Linier : Y = β0 + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + ε Model Empirik Regresi Linier :

Y = 0.282 - 0.0000000000000022 X1 + 0.023 X2

- 0.214 X3

1. Uji Hipotesis Parsial antara Konstanta terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi SGA Expense to Sales Ratio

Pengujian hipotesis secara parsial Konstanta terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi SGA Expense to Sales Ratio menghasilkan koefisien regresi sebesar 0.282 dengan statistik uji t sebesar 8.615 dan probabilitas sebesar 0.000.

Hasil pengujian tersebut menunjukkan koefisien regresi bernilai positif dan | statistik uji t | > | t tabel | (1.662). atau probabilitas < level of significance (α= 5%). Hal ini berarti terdapat pengaruh positif dan signifikan Konstanta terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi SGA Expense to Sales Ratio.

2. Uji Hipotesis Parsial antara Free Cash Flow terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi SGA Expense to Sales Ratio

Pengujian hipotesis secara parsial Free Cash Flow terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi SGA Expense to Sales Ratio menghasilkan koefisien regresi sebesar 0.000 dengan statistik uji t sebesar -0.257 dan

(11)

probabilitas sebesar 0.399. Hasil pengujian tersebut menunjukkan koefisien regresi bernilai positif dan | statistik uji t | < | t tabel | (1.662).

atau probabilitas > level of significance (α= 5%).

Hal ini berarti terdapat pengaruh negatif dan tidak signifikan Free Cash Flow terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi SGA Expense to Sales Ratio.

3. Uji Hipotesis Parsial antara Debt to Equity Ratio terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi SGA Expense to Sales Ratio

Pengujian hipotesis secara parsial Debt to Equity Ratio terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi SGA Expense to Sales Ratio menghasilkan koefisien regresi sebesar 0.023 dengan statistik uji t sebesar 0.592 dan probabilitas sebesar 0.278. Hasil pengujian tersebut menunjukkan koefisien regresi bernilai positif dan | statistik uji t | < | t tabel | (1.662).

atau probabilitas > level of significance (α= 5%).

Hal ini berarti terdapat pengaruh positif dan tidak signifikan Debt to Equity Ratio terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi SGA Expense to Sales Ratio.

4. Uji Hipotesis Parsial antara Debt to Total Asset Ratio terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi SGA Expense to Sales Ratio

Pengujian hipotesis secara parsial Debt to Total Asset Ratio terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi SGA Expense to Sales Ratio menghasilkan koefisien regresi sebesar -0.214 dengan statistik uji t sebesar -1.497 dan probabilitas sebesar 0.069. Hasil pengujian tersebut menunjukkan koefisien regresi bernilai positif dan | statistik uji t | < | t tabel | (1.662).

atau probabilitas > level of significance (α= 5%).

Hal ini berarti terdapat pengaruh negatif dan tidak signifikan Debt to Total Asset Ratio terhadap Agency Cost Menggunakan Proksi SGA Expense to Sales Ratio.

4.4 Pembahasan Hasil Penelitian

- Pengaruh Free Cash Flow terhadap Agency Cost Proksi Asset Turnover

Hasil penelitian menjelaskan bahwa free cash flow berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap agency cost yang diukur menggunakan proksi asset turnover. Hal ini menunjukkan bahwa, adanya free cash flow yang berlebih membuat perusahaan lebih efektif dalam menggunakan asetnya untuk meningkatkan penjualan dan kesejahteraan pemegang saham.

Sehingga mengurangi biaya keagenan yang akan dikeluarkan oleh perusahaan. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang diajukan yaitu free cash flow berpengaruh positif terhadap biaya keagenan yang diproksikan dengan asset turnover ditolak.

(12)

Hal ini sesuai dengan pendapat Achjen Lachheb (2017) yang berpendapat bahwa peningkatan pada free cash flow bisa menandakan bahwa hasil pengeluaran manajemen yang efisien. Sehingga free cash flow mempunyai perbandingan yang terbalik terhadap agency cost. Adanya free cash flow yang berlebihan dalam perusahaan membuat manajemen mengelola sumber daya perusahaan untuk meningkatkan penjualan.

- Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Agency Cost Proksi Asset Turnover

Dalam perhitungan Debt to Equity Ratio tehadap Agency cost yang menggunakan proksi asset turnover, didapatkan bahwa debt to equity ratio berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap asset turnover. Hal ini menandakan bahwa hipotesis kedua dalam penelitian ini dapat diterima. Apabila rasio debt to equity meningkat, maka asset turnover akan meningkat juga secara signifikan, dan nilai agency cost menurun.

Tingginya Debt to Equity Ratio dalam perusahaan menujukkan seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang. Kemungkinan bahwa apabila perusahaan mempunyai nilai debt to equity ratio yang tinggi maka terdapat ancaman kebangkrutan yang membuat pihak manajemen menggunakan asset untuk menaikkan penjualan dan mencegah pengeluaran dana yang tidak penting, sehingga akan mempengaruhi penurunan agency cost.

Temuan ini sejalan dengan Jensen dan Meckling (1976) yang menyatakan bahwa penggunaan utang dapat mencegah pengeluaran yang tidak penting dan mendorong manajemen untuk mengoperasikan perusahaan dengan lebih efisien. Hal tersebut dikarenakan terdapat kewajiban manajemen untuk membayar pokok utang dan bunga secara berkala dan adanya monitoring dari pihak kreditor.

- Pengaruh Debt to Total Asset terhadap Agency Cost Proksi Asset Turnover

Dari data yang sudah diteliti di dapatkan bahwa debt to total asset mempunyai pengaruh yang positif dan tidak signifikan terhadap agency cost yang menggunakan proksi asset turnover.

Ini menandakan bahwa apabila jumlah debt to total asset meningkat maka asset turnover juga akan meningkat tetapi tidak secara signifikan, dan menyebabkan turunnya biaya agensi. Hasil tersebut sesuai dengan hipotesis kedua bahwa leverage dapat menurunkan biaya agensi.

Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian sebelumnya oleh penelitian Yulia et all (2015) yang menemukan bahwa leverage mempunyai pengaruh positif dan tidak signifikan terhadap agency cost pada lima kelompok industry di BEI. Sepanjang observasi manajemen secara optimal bisa memanfaatkan dana yang bersumber dari hutang sehingga stakeholder mengalihkan perhatian mereka untuk mencari variabel lain yang mempengaruhi

(13)

agency cost seperti asimetris informasi, efektifitas manajerial dalam mengelola aset, dan variabel lainnya.

- Pengaruh Free Cash Flow terhadap Agency Cost Proksi SGA Expense

Dari hasil penelitian menggunakan proksi SGA Expense, dapat diketahui bahwa free cash flow berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap agency cost yang menggunakan proksi SGA Expense. Yang artinya apabila tejadi peningkatan pada free cash flow maka akan menurunkan jumlah agency cost secara tidak signifikan. Hal ini berarti menolak dugaan awal penelitian bahwa free cash flow berpengaruh positif terhadap agency cost.

Tidak berpengaruhnya free cash flow terhadap agency cost dapat disebabkan penggunaan free cash flow tidak digunakan untuk biaya operasional perusahaan, tetapi di gunakan untuk meningkatkan kesejahteraan pemegang saham dalam bentuk dividen. Hasil penelitian ini konsisten dengan adanya penelitian Jensen (1986), Wang (2010), dan Savadjani (2011).

- Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Agency Cost Proksi SGA Expense

Hasil penelitian dan analisis menyatakan bahwa debt to equity ratio mempunyai pengaruh yang positif dan tidak signifikan tehadap agency cost yang menggunakan proksi SGA Expense.

Sehingga dapat dikatakan bahwa apabila terjadi peningkatan tehadap debt to equity ratio maka agency cost yang di proksikan dengan SGA Expense juga akan meningkat secara tidak signifikan. Hasil ini tidak mendukung dugaan awal penelitian bahwa peningkatan utang dapat menurunkan agency cost.

Keberadaan utang dalam perusahaan belum tentu dapat mencegah pengeluaran manajemen yang tidak penting. Hal tersebut dikarenakan keberadaan utang digunakan sebagai aturan prioritas yang dapat membatasi dana eksternal yang dikumpulkan oleh perusahaan (Hart and Moore, 1994)

- Pengaruh Debt to Total Asset terhadap Agency Cost Proksi SGA Expense

Dapat diketahui dari data di atas bahwa debt to total asset mempunyai pengaruh negatif dan tidak signifikan tehadap agency cost yang menggunakan proksi SGA Expense. Berdasarkan hasil tersebut maka dugaan awal penelitian diterima. Tidak signifikannya pengaruh leverage (DAR) pada agency cost dikarenakan penggunaan utang tidak menjadi mekanisme pengendalian atas agency cost yang tepat dalam perusahaan. Dengan demikian diperlukan cara lain untuk mengatasi agency cost seperti keberadaan komisaris yang benar benar independen serta komite audit dalam rangka

(14)

menegakkan good corporate governance (Fachrudin, 2011)

Hasil ini konsisten dengan penelitian Burhanudin (2018) dan Dwi (2012) yang mendapatakan leverage berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap agency cost. Penuruan agency cost juga dapat disebabkan oleh pengawasan terhadap manajemen semakin berkurang karena debtholder mampu memonitor kinerja manajemen dengan baik atas dana yang dipinjamkan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Free Cash Flow mempunyai pengaruh negatif terhadap agency cost baik yang diukur dengan proksi asset turnover maupun selling general and administrative expense.

Semakin besar nilai free cash flow, maka agency cost akan menurun.

2. Debt to equity ratio mempunyai pengaruh signifikan positif terhadap agency cost yang di ukur dengan proksi asset turnover.

Sedangkan apabila di ukur dengan SGA expense, debt to equity ratio berpengaruh positif tetapi tidak signifikan.

3. Debt to total asset mempunya pengaruh positif tidak signifikan terhadap agency cost yang di ukur dengan asset turnover, sedangkan apabila agency cost di ukur dengan SGA expense, DAR mempunyai

pengaruh negatif dan tidak signifikan. Yang menandakan bahwa semakin tingginya debt to total asset maka akan menurunkan jumlah agency cost.

Saran

1. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambah periode observasi penelitian dan memperluas sampel perusahaan manufaktur sehingga sampel lebih representatif, dapat di generalisasi, dan dapat mempengaruhi akurasi ketepatan hasil penelitian.

2. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti dengan menggunakan proksi agency cost lain yang lebih terperinci, seperti resarch and development ratio, operating ratio, dan sebagainya.

3. Peneliti di masa datang disarankan mencari variabel baru yang juga mempengaruhi agency cost yang belum pernah digunakan dalam penelitian sebelumnya seperti pembayaran pajak, penggunaan dividen tunai, asimetris informasi, dan lain lain.

DAFTAR PUSTAKA

Brigham, E. F & Houston. 2006. Fundamental of Financial Management: Dasar Dasar Manajemen Keuangan. Edisi 10. Jakarta:

Salemba empat

Brigham, E. F & Houston. 2013. Manajemen Keuangan. Edisi 2. Jakarta: Erlangga

(15)

Burhanudin. 2018. Pengaruh Leverage dan Kebijakan Dividen Terhadap Agency Cost Dengan Corporat Governance Sebagai Variabel Moderating. Jurnal Eco- Entrepreneurship. Vol.4 No.2, pp.86-107 Bursa Efek Indonesia. Laporan Keuangan dan

Tahunan. Dilihat 13 Mei 2019.

https://www.idx.co.id/perusahaan- tercatat/laporan-keuangan-dan-tahunan/

Crutchley, C.E., & Hansen R.S. 1989. A Test of the Agency Theory of the Managerial Ownership, Corporate Leverage, and Corporate Dividends. Financial Management. 18 (4). pp. 36-46

Fachrudin, K.A. 2011. Analisis Pengaruh Struktur Modal, Ukuran Perusahaan, dan Agency Cost terhadap Kinerja Perusahaan. Jurnal Akuntansi dan keuangan, Vol.13, pp.37-46

Herliana et all. 2016. Pengaruh Free Cash Flow terhadap Kinerja Perusahaan Melalui Agency Cost Sebagai Variabel Antara.

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Airlangga.

Vol.26 No3, pp

IDN Financials. 2019. Daftar Emiten. Dilihat 16

Mei 2019.

https://www.idnfinancials.com/id/

Jensen, M.C. 1986. Agency Cost of Free Cash Flow, Corporate Finance, and Takeovers.

American Economic Review. Vol. 76, No.2, pp. 323-329

Jensen, M. C., & Meckling, W. H. 1976. Theory of the Firm: Managerial Behaviour, Agency Cost and Ownership Structure.

Journal of Financial Economics, Vol.3, No. 4, pp.305-360

Lachheb, Achjen and Chokri Slim. The Impact of Free Cash Flow and Agency Cost on Firm Performance. International Journal of Management and Applied Science.

Vol.3, Issue-7. Pp.94-101

Moeljadi. 2006. Manajemen Keuangan Pendekatan Kuantitatid dan Kualitatif.

Edisi ke-1. Malang: Bayumedia Publishing

Paramitha, Susanti. 2012. Analisis Pengaruh Free Cash Flow Terhadap Agency Cost dan Kinerja Keuangan. Skripsi. Salemba (Indonesia): Universitas Indonesia

Rachmawati, Dwi. 2012. Analisis Pengaruh Penggunaan hutang terhadap Agency Cpst pada Perusahaan Manufaktur yang mengalami financial distress dan tidak mengalami financial distress. Skripsi.

Depok (Indonesia): Universitas Indonesia

(16)

Ross, S. A., Westerfield, R. W., & Jaffe, J. 2010.

Corporate Finance 9th edition. New York: McGraw-Hill/Irwin

Sadewa, Nanda. 2016. Pengaruh Corporate Governance dan Leverage pada Agency Cost. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis.

Vol 11 No.1, pp.17-27

Singh, M., and Davidson, W. N. (2003). Agency Cost Ownership Structure and Corporate Governance Mechanisms. Journal of Banking and Finance. Vol. 27, pp.793-816 Wang, Goerge Yungchih. 2010. The Impact of Free Cash Flow and Agency Cost on Firm Performance. Journal Service Science &

Management, Vol.3, pp.408-418

Yulia et all. 2015. Pengaruh Leverage, Size, Managerial Ownership, dan Dewan Komisaris Terhadap Agency Cost Pada Lima Kelompok Indsutri di Bursa Efek Indonesia. Vol.6 No.2, pp.1-15

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh free cash flow, leverage, likuiditas, profitabilitas, dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba. Pengambilan sampel dilakukan

Hasil dari penelitian dengan menggunakan FCF (free cash flow) sebagai proksi agency cost menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata agency cost antara perusahaan

Secara parsial menunjukan bahwa free cash flow dan kepemilikan saham tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan hutang.. Kata kunci: Free Cash

Secara parsial menunjukan bahwa free cash flow dan kepemilikan saham tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan hutang.. Kata kunci: Free Cash

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya menyatakan bahwa Skripsi dengan judul: Analisis Pengaruh Dividen dan Free Cash Flow terhadap Tingkat Hutang Perusahaan: Perspektif

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, dapat dibuktikan bahwa profitabilitas, free cash flow, dan leverage secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap

Sedangkani secara simultan (bersamaan) Free Cash Flow, Leverage, Firm Size dan Likuiditas mempunyai pengaruh terhadap Kebijakan Deviden pada perusahaan sektor Property dan

Free cash flow tidak berpengaruh terhadap perilaku sticky cost karenamemiliki nilai β 4 sebesar 0,001 yang berarti ketika free cash flow mengalami kenaikan maka variasi