PENGARUH KRIM EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana linn) TERHADAP JUMLAH PIGMEN MELANIN PADA TIKUS
YANG DIPAPAR SINAR ULTRA VIOLET B
Harlisa Pasid 1, Harijono Kario Sentono2, Bambang Purwanto3, Paramasari Dirgahayu4,
1 Fakultas Kedoteran, Universitas Sebelas Maret, Surakata, Indonesia
2 Fakultas Kedoteran, Universitas Sebelas Maret, Surakata, Indonesia
3 Fakultas Kedoteran, Universitas Sebelas Maret, Surakata, Indonesia
4 Fakultas Kedoteran, Universitas Sebelas Maret, Surakata, Indonesia
THE EFFECT OF MANGOSTEEN (garcinia mangostana linn) PEEL EXTRACT CREAM APPLICATION ON THE NUMBER OF MELANIN PIGMENT
IN RATS WHICH EXPOSED TO ULTRA VIOLET B
Harlisa Pasid 1, Harijono Kario Sentono2, Bambang Purwanto3, Paramasari Dirgahayu4,
1 Doctorate Program of Medical Science, Universitas Sebelas Maret, Surakata, Indonesia
2 Doctorate Program of Medical Science, Universitas Sebelas Maret, Surakata, Indonesia
3 Doctorate Program of Medical Science, Universitas Sebelas Maret, Surakata, Indonesia
4 Doctorate Program of Medical Science, Universitas Sebelas Maret, Surakata, Indonesia
Korespondensi:
Harlisa Pasid, email : [email protected]
PENGARUH KRIM EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana linn) TERHADAP JUMLAH PIGMEN MELANIN PADA TIKUS
YANG DIPAPAR SINAR ULTRA VIOLET B
Abstrak
Paparan sinar ultraviolet (SUV) matahari pada kulit menyebabkan berbagai perubahan akut diantaranya terjadinya pigmentasi akibat proses aging. Kandungan antioksidan pada kulit buah manggis (Garcinia mangotana L) memiliki efek proteksi terhadap pigmentasi akibat paparan UV pada kulit. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh krim mengandung 5%
ekstrak kulit buah manggis terhadap jumlah pigmen melanin pada epidermis kulit tikus yang dipapar UVB. Dengan post test only control group design penelitian ini menggunakan subyek 24 ekor tikus putih jantan wistar yang dibagi 4 kelompok secara random. Krim mengandung 5%
ekstrak kulit manggis diberikan setiap hari sebelum paparan UVB dalam dosis tunggal 3 MED selama 24 menit/hari selama 4 minggu. Diperoleh hasil jumlah pigmen melanin di kelompok KI (kontrol normal) sebesar 2,2 ± 1,8 sel, kelompok KII (kontrol negatif hanya dipapar UVB) sebesar 9,40 ± 4,5 sel, kelompok KIII (kelompok yang dipapar UVB dan dioles basis krim) sebesar 5,4 ± 4,1 sel dan kelompok KIV (kelompok yang dipapar UVB dan dioles krim mengandung 5% ekstrak kulit buah manggis) sebesar 1,8 ± 1,3 sel. Ini menunjukkan terdapat peran anti pigmentasi krim mengandung 5% ekstrak kulit buah manggis terhadap paparan sinar UVB, dan hasilnya tidak bias oleh basis krim yang digunakan. Dapat disimpulkan bahwa krim mengandung 5% ekstrak kulit buah manggis berpengaruh menurunkan jumlah pigmen melanin pada tikus yang dipapar UVB dan berpotensi sebagai krim pencerah kulit.
Kata kunci: Krim Ekstrak Kulit Buah Manggis, Pigmen Melanin, Ultra Violet B.
THE EFFECT OF MANGOSTEEN (garcinia mangostana linn) PEEL EXTRACT CREAM APPLICATION ON THE NUMBER OF MELANIN PIGMENT
IN RATS WHICH EXPOSED TO ULTRA VIOLET B [1]
Abstract
Exposure to ultra violet (UV) of the sunrays on the skin can cause a variety of acute changes including pigmentation due to the aging process. The compounent of antioxidants in the mangosteen rind (Garcinia mangotana L) has a protective effect against pigmentation due to UV exposure on the skin. Objective of the study was to determine the effect of the cream containing 5% mangosteen rind extract on the amount of melanin pigment in epidermal skin rats which exposed to UVB. The post test only control group design implemented o this study by using 24 wistar male white rat subjects divided into 4 groups randomly. Cream containing 5% mangosteen peel extract is given every day before UVB exposure in a single dose of 3 MED for 24 minutes / day for 4 weeks. The results obtained from the amount of melanin pigment in the KI group (normal control) were 2.2 ± 1.8 cells, the KII group (negative control was only exposed to UVB) by 9.40 ± 4.5 cells, the KIII group (the group exposed to UVB and applied cream base) of 5.4 ± 4.1 cells and the KIV group (the group exposed to UVB and applied cream containing 5%
mangosteen rind extract) of 1.8 ± 1.3 cells. This shows the role of anti pigmentation cream containing 5% mangosteen rind extract against UVB exposure, and the results are not biased by the cream base used. It can be concluded that the cream containing 5% mangosteen rind extract has the effect of reducing the amount of melanin pigment in rats exposed to UVB and potentially as a skin lightening cream.
Keywords: Mangosteen Peel Extract Cream, Melanin Pigment, UVB.
Pendahuluan
Penuaan merupakan proses multifaktorial yang mempengaruhi berbagai organ.
Akumulasi perubahan progresif terjadi pada proses menua seiring dengan waktu yang berhubungan dengan peningkatan kematian akibat kerentanan terhadap penyakit kerusakan akibat reaksi radikal bebas yang terus-menerus terhadap sel dan jaringan1.
Saat ini orang berlomba-lomba mempunyai gaya hidup “back to nature” yang menyebabkan penggunaan obat tradisional, obat herbal, meningkat di negara maju maupun negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Obat herbal juga digunakan di bidang medik antara lain sebagai analgesik, immunomodulator, anti kanker, antibakterial, antihistamin, dan di bidang estetik medik digunakan sebagai antioksidan, proteksi terhadap UV, pelembab, dan anti selulit2. Antioksidan saat ini banyak ditemui dalam bentuk suplemen oral dan juga dalam sediaan kosmetik topikal sebagai anti aging mengatasi proses penuaan kulit2,3,4.
Aktivitas antioksidan flavonoid herbal menyita banyak perhatian peneliti. Beberapa senyawa flavonoid memiliki khasiat antioksidan yang sangat baik dan bermanfaat dalam mencegah terbentuknya Radikal Oksigen Spesies (ROS) dan peroksidasi lipid, yang terlibat pada patologi proses penuaan kulit. Paparan kronik radiasi UV pada kulit manusia juga menginduksi sejumlah respon biologi diantaranya kerusakan DNA fotoaging dan meningkatnya proses melanogenesis5.
Sebagai negara tropis, penduduk Indonesia banyak terpapar sinar matahari. Radiasi sinar matahari mengakibatkan proliferasi dan migrasi melanosit, dalam proses melanogenesis.
Peroksidasi lipid akibat pajanan sinar matahari pada membran sel juga menyebabkan terbentuknya ROS, yang kemudian akan menstimulasi melanosit untuk memproduksi melanin6. Beberapa prinsip terapi untuk mengurangi pigmen melanin dapat dengan cara menghambat melanogenesis yaitu mengurangi poliferasi melanosit, menghambat pembentukan dan sintesis melanin, serta peningkatan degradasi melanosom7.
Usaha tersebut dapat dicapai baik menggunakan sediaan dalam bentuk oral maupun topikal. Sediaan topikal biasanya mengandung bahan-bahan pencerah kulit yang terdiri dari senyawa fenolik (hidrokuinon), maupun nonfenolik seperti asam azeleat, tretinoin, asam kojik, atau formula kombinasi (formula Kligman, formula Pathak, dan formula Westerhof)7.
Berdasarkan fakta pada kondisi-kondisi tersebut diatas, peran bahan herbal yang memiliki kandungan bahan aktif yang bersifat antioksidan sebagai anti penuaan termasuk penuaan kulit sangat dibutuhkan dalam masyarakat. Terutama yang mempunyai potensi sebagai antioksidan dan sekaligus sebagai inhibitor sintesis melanin dan diharapkan dapat digunakan sebagai kosmetik pencerah kulit karena memiliki zat aktif seperti fenolik, flavonoid dan zat derivatif lain yang mempunyai peran sebagai zat antioksidan dan aktivitas scavenger8,9. Kulit buah manggis diketahui mengandung senyawa xanthon yang potensial sebagai kandidat obat.
Konstituen utama dan paling banyak ditemukan pada Garcinia mangostana L, golongan xanthon yaitu α- mangostin 10,11.
Akhir-akhir ini banyak diteliti potensi alfa mangostin derivat xanthon dari kulit buah manggis pada kelainan pigmentasi hipermelanosit khususnya dalam aktivitasnya sebagai anti tyrosinase 12,13 ,14.
Berdasarkan data-data tersebut, penulis ingin melakukan studi pre klinik untuk mengetahui seberapa besar potensi kulit buah manggis varietas yang ada di Indonesia. Ekstrak kulit buah manggis dibuat dalam bentuk sediaan topikal anti aging khususnya sebagai krim yang mempunyai efek pencerah kulit (The Mangosteen rind extract is made in the anti-aging topicals praparation, especially as a cream that has a skin lightening effect) dengan melihat perubahan jumlah pigmen melanin pada epidermis kulit tikus yang dipapar sinar UVB.
Metode
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode posttest only control group design. Pembuatan krim ekstrak kulit buah manggis, pemeliharaan dan perlakuan pada hewan coba dilakukan di Laboratorium Farmakologi departemen Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, sedangkan pembuatan preparat histo PA dan pengamatan jumlah pigmen melanin dilakukan di Laboratorium Histo Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran (FK) Unissula Semarang. Ethical clearance dikeluarkan oleh komisi bioetik penelitian kedokteran kesehatan FK Unissula Semarang No. 313/VIII/2018/Komisi Bioetik.
Sampel pada penelitian ini adalah tikus putih jantan galur wistar umur 2 bulan dengan berat 150-200 gram. Besar sampel berdasarkan rumus Degree of Freedom formula (E)15, 20 ekor tikus putih jantan galur wistar yang dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing terdiri dari 5 ekor tikus yang diambil dengan metode simple random sampling yaitu dengan cara undian pada setiap tikus yang memenuhi kriteria inklusi dan sudah diberi nomer urut. Kelompok KI (kontrol normal); kelompok KII (kontrol negatif hanya dipapar UVB); kelompok KIII (kelompok yang dipapar UVB dan diberi olesan basis krim); serta kelompok KIV (kelompok yang dipapar UVB dan diberi olesan krim mengandung 5% ekstrak kulit buah manggis).
Pada penelitian ini digunakan krim yang mengandung 5% ekstrak kulit manggis dengan basis water-in-oil (W/O) sesuai dengan Trifena (2012)2 dengan modifikasi. Fase minyak yang mengandung parafin, setil alkohol, gliseril stearat and PEG-100 Stearat dipanaskan hingga 70- 75° C dalam gelas beaker. Selanjutnya metil paraben ditambahkan dalam aquades (water phase) hingga terdispersi dengan baik, dilanjutkan dengan penambahan Xanthan gum dan triethanolamin. Fase air dituang sedikit demi sedikit kedalam fase miyak dalam gelas beaker hingga tercampur homogen. Selanjutnya dibiarkan hingga temperatur turun mencapai 40°C.
Data yang diperoleh adalah jumlah pigmen melanin, setelah data terkumpul selanjutnya diolah dengan menggunakan program komputer SPSS versi 22.0. Data diuji normalitasnya menggunakan uji Shaphiro-wilk dan diuji homogenitas menggunakan uji Lavene Test, diperoleh distribusi data tidak normal pada kelompok KIV tetapi diperoleh varian data yang homogen sehingga dilakukan uji beda menggunakan uji Kruskal Wallis. Uji Kruskal Wallis diperoleh nilai p < 0,05; dilanjutkan uji Mann-Whitney untuk mengetahui kebermaknaan uji beda antara dua kelompok.
Hasil
Sebanyak 20 sediaan histologis jaringan kulit punggung tikus putih jantan wistar disertakan dalam penelitian ini. Sediaan histologis jaringan kulit punggung tersebut berasal dari 4 kelompok, yang digunakan untuk pengamatan jumlah pigmen melanin. Kelompok KI (kontrol normal); kelompok KII (kontrol negatif hanya dipapar UVB); kelompok KIII (kelompok yang dipapar UVB dan diberi olesan basis krim); serta kelompok KIV (kelompok yang dipapar UVB dan diberi olesan krim mengandung 5% ekstrak kulit buah manggis). Jumlah melanin merupakan persentase dari pixel area granul-granul hitam melanin pada pewarnaan Masson Fontana dibandingkan dengan pixel area epidermis yang tampak pada sediaan histologis dan dinyatakan dalam persen (%). Penilaian dilakukan pada sediaan dalam format JPEG yang difoto dengan kamera Optilab Pro dan mikroskop Olympus CX41 dengan perbesaran obyektif 400 kali, masing-masing sediaan difoto 3 kali pada sisi kiri, tengah, dan kanan persiapan16,17. Hasil pengamatan pigmen melanin ditunjukkan pada gambar 1.
Jumlah pigmen melanin dinilai kenormalan dan variannya terlebih dahulu. Jumlah pigmen melanin di kelompok KI, KII dan KIII terdistribusi normal (p>0,05), tetapi pada kelompok KIV tidak terdistribusi normal (p<0,05). Upaya transformasi ke akar pangkat dua (square root) dilakukan, namun distribusi data jumlah pigmen melanin di kelompok IV tetap tidak normal (p<0,05). Hasil analisis dengan uji Levene diperoleh varian data jumlah pigmen melanin yang homogen pada keempat kelompok (p>0,05) (Tabel 1).
Uji kruskal Wallis diperoleh nilai p sebesar 0,014 (p<0,05) artinya jumlah pigmen melanin diantara keempat kelompok berbeda bermakna (Tabel 2).
Berdasarkan hasil uji Kruskall Wallis dapat diketahui bahwa pemberian krim ekstrak ikulit ibuah imanggis i(Garcinia imangostana iLinn) iberpengaruh iterhadap ijumlah ipigmen imelanin ipada itikus iyang idipapar isinar iUVB. i iLebih ilanjut idilakukan iuji iMann iWhitney iuntuk imengetahui iperbedaan ijumlah imelanin iantar idua ikelompok dengan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 3.
Perbedaan jumlah pigmen melanin yang bermakna antara KI dengan KII (p<0,05);
dimana jumlah pigmen melanin KII lebih tinggi daripada KI menunjukkan bahwa paparan sinar UVB menyebabkan meningkatnya jumlah pigmen melanin. Perbedaan jumlah pigmen melanin yang bermakna antara kelompok KII dengan KIV (p<0,05); dimana jumlah pigmen melanin di KIV lebih rendah daripada jumlah pigmen melanin di KII menunjukkan bahwa pemberian ekstrak krim mengandung 5% kulit buah manggis dapat menurunkan jumlah pigmen melanin pada kulit tikus jantan wistar yang dipapar sinar UVB. Perbedaan jumlah pigmen melanin antara kelompok III dan IV yang bermakna (p<0,05) dimana jumlah pigmen melanin kelompok IV lebih rendah dari kelompok KIII menunjukkan bahwa pengaruh pemberian krim mengandung 5% ekstrak kulit buah manggis terhadap jumlah pigmen melanin pada kelompok IV bermakna dibandingkan dengan kelompok III. Namun pemberian krim mengandung 5% ekstrak kulit buah manggis menghasilkan jumlah pigmen melanin yang sama dengan jumlah pigmen melanin pada kelompok normal (perbedaan KI dan KIV tidak bermakna, p>0,05).
Pembahasan
Pada penelitian ini ekstrak kulit buah manggis dibuat dalam bentuk sediaan topikal anti aging khususnya sebagai krim yang mempunyai efek pencerah kulit dan diperoleh bukti adanya efek antipigmentasi pada kulit akibat paparan sinar UVB dari krim mengandung 5% ekstrak kulit buah manggis. Efek antipigmentasi tersebut terlihat dari penurunan jumlah pigmen melanin di kelompok tikus jantan wistar yang idipapar isinar UVB dan diberikan krim ekstrak kulit buah manggis (KIV) dibandingkan dengan jumlah pigmen melanin pada kelompok kontrol negatif yang hanya dipapar dengan sinar UVB (KII).
Tikus jantan wistar yang dipapar sinar UVB tanpa pemberian basis krim maupun krim mengandung 5% ekstrak kulit buah manggis (KII) memperlihatkan jumlah pigmen melanin yang tertinggi. Hasil tersebut sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa paparan UVB dapat meningkatkan produksi melanin. Sinar UVB merusak gugus sulfhidril yang merupakan inhibitor tirosinase sehingga enzim tirosinase bekerja maksimal dalam memicu proses melanogenesis.
Keratinosit mampu menginduksi proses melanogenesis dan proliferasi melanosit dengan mensekresi stem cell factor (SCF), basic fibroblast growth factor (bFGF), interleukin-1, endothelin-1, inducible nitric oxide synthase, α-melanocyte-stimulating hormone, dan hormone adrenokortikotropik18.
Paparan sinar UVB pada kulit menghasilkan radikal bebas seperti hydrogen peroxidase, anion superoxide, nitric oxide (NO) yang akan menurunkan senyawa-senyawa antioksidan endogen seperti glutathione (GSH), Superoxide dismutase (SOD), katalase, dan ubiquinol19. Reactive Oksigen Spesies memicu tereskpresinya NO, protein kinase, melanocyte stimulating hormone (MSH), dan prostalgandin (PGE2) yang dapat menimbulkan kerusakan kulit dan merangsang proses imelanogenesis. Melanogenesis dapat memicu terbentuknya melanin oleh melanositi20,21.
Peran anti pigmentasi krim mengandung 5% ekstrak kulit buah manggis ini terdapat pada xanthon, senyawa fenolik yang bertindak sebagai antitirosinase dan antioksidan. Sebagai antitirosinase, xanthon menghambat enzim tirosinase dalam jalur melanogenesis22. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Arif et al. (2014)23 yang juga menunjukkan manfaat krim kulit buah manggis sebagai bahan pencerah wajah melalui aktivitas antitirosinase dan antioksidannya. Uji inhibisi tirosinase dilakukan pada ekstrak G. mangostana untuk menentukan efek penghambatan pada aktivitas tirosinase. Dalam uji ini, inhibitor tirosinase yang terkenal yaitu asam kojic digunakan sebagai standar. Hasil uji menunjukkan ekstrak G. mangostana menghambat enzim tyrosinase dalam ekstrak EtOAc. Penelitian sebelumnya mengevaluasi kapasitas antioksidan dan sifat penghambatan tirosinase. Efek penghambatan tyrosinase dievaluasi menggunakan uji penghambatan tyrosinase jamur. Studi ini menunjukkan penghambatan tirosinase langsung oleh ekstrak etil asetat dari Garcinia mangostana 14.
Aksi antioksidan xanthon terletak pada α-mangostin, sebagai antioksidan α-mangostin berfungsi sebagai penyeimbang prooksidan (radikal bebas) di dalam tubuh seperti O2-
, NO, ONOO-, 3O2, 3DO2 yang berperan pada stress oksidatif dan kerusakan DNA24. Di kulit, paparan UV menyebabkan inflamasi, perubahan imun, kerusakan DNA yang mengakibatkan penuaan
sel25. Radiasi UVB memicu produksi ROS berupa NO yang akan mengaktifkan jalur signal Protein kinase C (PKC); cyclic AMP (cAMP); MAPK/ERK Kinase (MEK); Kinase (MEK);
Melanocyte-specific melanocortin-1 melanocortin-1 receptor (MC1R); α-melanocyte-stimulating hormone (α-MSH); α-melanocyte-stimulating hormone (α-MSH); adrenocorticotropic hormone (ACTH) yang menyebabkan meningkatnya proses melanogenesis dan peningkatan pembentukan melanin di dalam melanosit26.
Peran fotoproteksi dari krim ekstrak kulit buah manggis terhadap paparan sinar UVB dalam penelitian ini tidak bias oleh basis krim yang digunakan, karena ada perbedaan yang signifikan dalam jumlah pigmen melanin antara kelompok III (basis krim) dan IV (krim ekstrak kulit manggis) (p <0,05) di mana jumlah pigmen melanin dari kelompok IV lebih rendah daripada kelompok KIII, hal ini mengungkapkan bahwa pengaruh penerapan krim ekstrak kulit manggis terhadap jumlah pigmen melanin pada kelompok IV adalah signifikan dibandingkan dengan kelompok III.
Keterbatasannya penelitian ini adalah, krim mengandung 5% ekstrak kulit buah manggis yang digunakan dalam penelitian ini masih belum diketahui efikasinya dibandingkan dengan gold standard untuk terapi hiperpigmentasi misalnya hidrokuinon, asam kojic atau arbutin, yang juga memiliki mekanisme aksi menghambat enzim itirosinase, yang merupakan enzim melanogenesis. Hydroquinone bertindak sebagai agen depigmentasi kulit dengan menghambat sintesis melanin. Ini menghambat konversi L-3,4-dihydroxyphenylalanine (L-DOPA) menjadi melanin dengan menghambat tirosinase terkait kemiripan strukturalnya dengan analog dari prekursor melanin27. Pengaruh krim mengandung 5% ekstrak kulit buah manggis pada penelitian ini hanya mengamati perubahan jumlah melanin, masih perlu dilakukan pengamatan pada perubahan paramater lain seperti ekspresi enzim melanogenesis yaitu enzim tirosinase dan berbagai sitokin dan protein lain yang berperan pada proses inflamasi epidermal yang mempengaruhi melanogenesis seperti TNF alfa dan caspase 3. Penelitian ini juga memiliki kekurangan yaitu belum ditentukannya potensi antioksidan serta kandungan alfa mangosteen pada ekstrak kulit manggis yang digunakan, sehingga perlu dilakukan skrining fitokomia dan uji invitro untuk penentuan aktivitas anti oksidan pada ektrak kulit manggis yang digunakan terlebih dahulu.
Simpulan
Penggunaan krim mengandung 5% ekstrak kulit buah manggis berpengaruh menurunkan jumlah pigmen melanin pada tikus yang dipapar UVB dan berpotensi sebagai krim pencerah kulit.
Ucapan Terima Kasih
Pertama, saya panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah mengijikan saya melaksanakan penelitian ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada penasihat saya Prof.
Dr. dr. H. Taufiq R Nasihun, Mkes, Sp. And atas dukungan yang tidak henti-hentinya dari studi
dan penelitian doktoral saya, atas kesabaran, motivasi, antusiasme dan pengetahuannya yang luas. Selain penasihat saya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman lab saya di Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Indonesia: Dr. Atina Hussaana, M.Si, Apt dan dr. Susilorini SpPA, yang telah memberikan saran dan panduan dengan sabar selama proses penelitian. Terima kasih kepada semua pihak atas dukungan sepenuhnya.
Pendanaan
Penelitian ini dibiayai dengan dana pribadi
Konflik Kepentingan
Penelitian ini tidak terkait dengan kepentingan pihak lain dan tidak menerima hibah khusus apapun dari agen pendanaan di sektor publik, komersial ataupun yayasan nir laba.
Daftar Pustaka
1. Zalukhu ML, Phyma AR, Pinzon RT. Proses Menua , Stres Oksidatif , dan Peran Antioksidan. Cermin Dunia Kedokt. 2016;43(10):733–6.
2. Trifena T. Analisis Uji In Vitro dan In Vivo Ekstrak Kombinasi Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.) dan Pegagan (Centella asiatica L.) sebagai krim Antioksidan. Tesis.
FMIPA Universitas Indonesia; 2012.
3. Zahir S, Suleiman M, Rahim K. Antioxidant study of pulps and peels of dragon fruits : a comparative study. Int Food Res J. 2010;17(17):367–75.
4. Salavkar SM, Tamanekar RA, Athawale RB. Antioxidants in skin ageing - Future of dermatology. Int J Green Pharm. 2011;5(3):161–8.
5. Wahyuningsih KA. Astaxanthin Memberikan Efek Proteksi Terhadap Photoaging. J Med.
2011;10(3):149–60.
6. Suseno LS, Bernadette I, Legiawati L. Tinjauan Pustaka Perkembangan Terbaru Etiopatogenesis Melasma. MDVI. 2014;41 No.3:133–8.
7. Asditya A, Sukanto H. Studi Retrospektif : Profil Pasien Melasma ( Profile of Melasma Patients : A Retrospective Study ). Berk Ilmu Kesehat Kulit dan Kelamin – Period Dermatology Venereol. 2017;29/No.3/ D:220–8.
8. Sugiharto, Arif A, Ahmad S, Hamid M. Efektivitas kurkumin sebagai antioksidan dan inhibitor melanin pada kultur sel B16-F1. Berk Penelit Hayati. 2012;17:173–176.
9. N. Masum M, Yamauchi K, Mitsunaga T. Tyrosinase Inhibitors from Natural and Synthetic Sources as Skin-lightening Agents. Rev Agric Sci. 2019;7(0):41–58.
10. Rubiyanti R, Susilawati Y, Muchtaridi M. Potensi Ekonomi dan Manfaat Kandungan Alfa-Mangostin Serta Gartanin dalam Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana Linn).
Farmaka. 2016;15(1):15–25.
11. Ibrahim MY, Hashim NM, Mariod AA, Mohan S, Abdulla MA, Abdelwahab SI, et al. α- Mangostin from Garcinia mangostana Linn: An updated review of its pharmacological
properties. Arab J Chem. 2016;9(3):317–29.
12. Aizat WM, Jamil IN, Ahmad-Hashim FH, Noor NM. Recent updates on metabolite composition and medicinal benefits of mangosteen plant. PeerJ. 2019;7.
13. Nooring W. Pyhtochemistry and Anti-Tyrosinase Activity of Anaxagorea Luzonensis A.
Gray. Mahidol University; 2010. Tersedia pada:
ttps://doi.nrct.go.th//ListDoi/listDetail?Resolve_DOI=10.14457/MU.the.2010.95
14. Hassan WNAW, Zulkifli RM, Basar N, Ahmad F, Yunus MAC. Antioxidant and tyrosinase inhibition activities of α-mangostin and Garcinia mangostana Linn. pericarp extracts. J Appl Pharm Sci. 2015;5(9):037–40.
15. Ilyas MN1 , Adzim MKR2 , Simbak NB1 and Atif AB1 *AB A. Sample Size Calculation for Animal Studies Using Degree of Freedom (E); an Easy and Statistically Defined Approach for Metabolomics and Genetic Research. Curr Trends Biomed Eng Biosci.
2017;10(2):2–3.
16. McMullen RL, Bauza E, Gondran C, Oberto G, Domloge N, Farra CD, et al. Image analysis to quantify histological and immunofluorescent staining of ex vivo skin and skin cell cultures. Int J Cosmet Sci. 2010;32(2):143–54.
17. Miot HA, Brianezi G, Tamega A de A, Miot LDB. Techniques of digital image analysis for histological quantification of melanin. An Bras Dermatol. 2012;87(4):608–11.
18. Park KC, Kim IS. Pathogenesis of Melasma. In: Handog EB, Enriquez-Macarayo MJ, editor. Melasma and Vitiligo in Brown Skin. 1 ed. New Delhi: Springer India; 2017. hal.
21–9.
19. Pandel R, Poljšak B, Godic A, Dahmane R. Skin Photoaging and the Role of Antioxidants in Its Prevention. ISRN Dermatol. 2013;2013:1–11.
20. You YJ, Wu PY, Liu YJ, Hou CW, Wu CS, Wen KC, et al. Sesamol inhibited ultraviolet radiation-induced hyperpigmentation and damage in C57BL/6 mouse skin. Antioxidants.
2019;8(7):1–16.
21. Videira IFDS, Moura DFL, Magina S. Mechanisms regulating melanogenesis. An Bras Dermatol. 2013;88(1):76–83.
22. Gutierrez-Orozco F, Failla ML. Biological activities and bioavailability of mangosteen xanthones: A critical review of the current evidence. Nutrients. 2013;5(8):3163–83.
23. Arif NJ, Yahya A, Abdul Hamid M, Yaakob H, Zulkifli RM. Development of Lightening Cream from Mangosteen Pericarp Extract with Olivoil Emulsifier. 2014th Int Conf Educ Res Innov. 2014;68:58–65.
24. Tousian Shandiz H, Razavi BM, Hosseinzadeh H. Review of Garcinia mangostana and its Xanthones in Metabolic Syndrome and Related Complications. Phyther Res.
2017;31(8):1173–82.
25. Amaro-Ortiz A, Yan B, Orazio JA. Ultraviolet radiation, aging and the skin: prevention of damage by topical cAMP manipulation. Mol ; 19(5) 6202–62191. 2015;19(5):6202–19.
26. Mello SAND, Finlay GJ, Baguley BC, Askarian-amiri ME. Signaling Pathways in Melanogenesis. Int J Mol Sci. 2016;17(1144):1–18.
27. Couteau C, Coiffard L. Overview of Skin Whitening Agents: Drugs and Cosmetic Products. Cosmetics. 2016;3(3):27.
Gambar 1. Hasil pengecatan menggunakan lilies ferous iron Keterangan :
A. Kelompok I Kontrol Normal jumlah melanin terlihat sedikit dibanding kelompok II dan IV B. Kelompok II Kontrol Negatif jumlah melanin terlihat banyak dibanding kelompok I, III dan IV C. Kelompok III Basis Krim jumlah melanin sedikit berkurang dibanding kelompok II
D. Kelompok IV Krim Ekstrak Kulit Buah Manggis jumlah melanin mengalami penurunan dibanding kelompok II dan III
Tanda panah menunjukkan: pigmen melanin
Tabel 1. Hasil analisis normalitas sebaran data dan homogenitas varian jumlah pigmen melanin A. Kelompok I Kontrol Normal B. Kelompok II Kontrol Negatif
C. Kelompok III Basis Krim D. Kelompok IV Krim Estrak
Kelompok Sebelum transformasi Sesudah transformasi Shapiro Wilk Levene test Shapiro Wilk Levene test
KI 0,238* 0,182** 0,192* 0,788**
KII 0,957* 0,740*
KIII 0,236* 0,398*
KIV 0,021 0,034
Keterangan: * = distribusi normal; ** = varian homogen Tabel 2. Hasil uji hipotesis Kruskal Wallis
Kelompok N Min Maks Median Mean Simpang baku p-value
KI 5 0 5 2,00 2,20 1,79 0,014*
KII 5 3 15 9,00 9,40 4,51
KIII 5 2 12 5,00 5,40 4,09
KIV 5 1 4 1,00 1,80 1,30
Keterangan : * = perbedaan bermakna
Tabel 3. Perbedaan rerata jumlah pigmen melanin antar dua kelompok.
Kelompok (I) Kelompok (J) Median difference (I-J) p-value
KI KII -7,00 0,015*
KIII -3,00 0,118
KIV 1,00 0,512
KII KIII 4,00 0,141
KIV 8,00 0,015*
KIII KIV 4,00 0,042*
Keterangan: * = perbedaan bermakna (p<0,05)
Gambar 2. Rerata jumlah pigmen melanin antar kelompok
Tabel 4. Hasil rerata jumlah sel melanin pada tiap kelompok
Kelompok Mean (Jumlah Sel) Standar Deviasi
I (Kontrol Normal) 2,2 1,8
II (Kontrol Negatif) 9,40 4,5
III ( Basis Krim) 5,4 4,1
IV (Krim) 1,8 1,3
2.00
9.00
5.00
1.00 0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
KI KII KIII KIV
rerata jumlah melanin (sel)
Kelompok Kontrol Normal
Kontrol Negatif Basis Krim Krim Estrak Kulit Buah Manggis