• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh pembinaan ibadah sholat dan baca al

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pengaruh pembinaan ibadah sholat dan baca al"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

PENGARUH PEMBINAAN IBADAH SHOLAT DAN BACA AL- QUR’AN TERHADAP KESADARAN BERAGAMA BAGI WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN (WBP) DI LPKA

KELAS II PAREPARE

SULFITRI NIM: 15.3200.035

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PAREPARE

2019

(2)

ii

PENGARUH PEMBINAAN IBADAH SHOLAT DAN BACA AL- QUR’AN TERHADAP KESADARAN BERAGAMA BAGI WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN (WBP) DI LPKA

KELAS II PAREPARE

SULFITRI NIM: 15.3200.011

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memproleh Gelar Sarjana Sosial (S.sos) Pada Program Studi Bimbingan Konseling Islam

Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Parepare

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PAREPARE

2019

(3)

iii

PENGARUH PEMBINAAN IBADAH SHOLAT DAN BACA AL- QUR’AN TERHADAP KESADARAN BERAGAMA BAGI WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN (WBP) DI LPKA

KELAS II PAREPARE

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memproleh Gelar Sarjana Sosial

Program Studi Bimbingan Konseling Islam

Disusun dan diajukan oleh

SULFITRI NIM: 15.3200.035

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PAREPARE

2019

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

(7)

vii

KATA PENGANTAR Bismillahir Rahmanir Rahim

Segala puji bagi Allah atas segala kebesarannya, rahmat dan hidayahnya sehingga peneliti mendapat inspirasi tanpa batas dalam menyusun karya ilmiah yang Insya Allah semoga memberikan manfaat bagi pembacanya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Saw, keluarganya, sahabatnya dan bagi seluruh Umat Islam yang hidup dengan kebaikan dan sunnahnya. Tidak dipungkiri banyak kesulitan dalam mengerjakan skripsi ini, namun Alhamdulillah peneliti bersyukur dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan judul “Pengaruh Pembinaan Ibadah Sholat dan Baca Al-qur’an Terhadap Kesadaran Beragama Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di LPKA kelas II Parepare”. Skripsi ini di persembahkan untuk kedua orang tua peneliti, Ayahanda penulis yaitu Alm. Ayah Laupa dan Ibunda Hj.Sulmia atas segala upaya dan usahanya baik material maupun non material serta nasehat dan berkat do’a tulusnya sehingga penulis mendapat kemudahan dalam menyelesaikan tugas akademik tepat pada waktunya.

Peneliti telah menerima banyak bimbingan dan bantuan dari bapak Dr. M Nasri H, M. Ag selaku pembimbing I dan bapak Dr. H. Muhiddin Bakry, Lc.,M.Fill selaku pembimbing II, atas segala bantuan dan bimbingan bapak yang telah diberikan selama dalam penulisan skripsi ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih.

Selanjutnya, peneliti mengucapkan terima kasih yang tulus dan menghaturkan penghargaan kepada:

1. Dr. Ahmad Sultra Rustan, M. Si. Selaku ketua Institut Agma Islam Negeri (IAIN) Parepare yang telah bekerja keras dalam mengelola pendidikan di IAIN Parepare.

2. Dr. H. Abdul Halim K. Lc. MA. Selaku Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, atas pengabdiannya telah menciptakan suasana pendidikan yang positif bagi mahasiswa IAIN Parepare.

(8)

viii

3. Muhammad Haramain, M. Sos. I. Selaku penanggung jawab Program Studi Bimbingan Konseling Islam atas segala pengabdian dan bimbingannya bagi mahasiswa baik dalam proses perkuliahan maupun diluar dari perkuliahan.

4. Kepala perpustakaan IAIN Parepare beserta seluruh staf yang telah memberikan pelayanan kepada penulis selama menjalani studi di IAIN Parepare, terutama dalam penulisan skripsi ini.

5. Dosen pada Program Studi Bimbingan Konseling Islam yang telah meluangkan waktu mereka dalam mendidik penulis selama studi di IAIN Parepare.

6. Ketua LPKA kelas II Parepare beserta seluruh jajarannya, yang telah mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian dalam rangka penyusunan skripsi dalam menyelesaikan studi dan memproleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare.

7. Saudara-saudaraku tercinta Sul Haeril dan Sul Haerul atas do’a dan semangat yang diberikan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Tante, om, serta sepupu-sepupuku yang tercinta atas doa dan semangat yang telah diberikan kepada penulis di dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Sahabat peneliti yang begitu banyak memberikan bantuan dan alur pemikirannya masing-masing dan terkhusus kepada sahabat terdekat penulis yaitu Nur Rezky Amalia, Musdalipa, Nur Nabilah, Irma, Faisal, Muh. Isra Azhari, Rempong squad, dan Pompom squad, yang begitu banyak membantu dalam penulisan skripsi ini dan selalu menemani penulis dalam keadaan apapun sehingga skripsi ini bisa diselesaikan lebih cepat.

(9)

ix

10. Senior-senior alumni BKI tanpa terkecuali atas doa dan semangat yang telah diberikan kepada penulis di dalam menyelesaikan skripsi ini.

11. Tidak lupa untuk teman-teman seperjuangan mahasiswa Bimbingan Konseling Islam (BKI) angkatan 2015 serta kepada seluruh mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare untuk bantuan dan kebersamaan selama peneliti menjalani studi di IAIN Parepare.

Tak lupa pula peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, baik moral maupun material sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Semoga Allah SWT berkenan menilai segala kebijakan sebagai amal jariah dan memberikan rahmat dan pahala-Nya.

Akhirnya peneliti menyampaikan kiranya pembaca berkenan memberikan saran konstruktif demi kesempurnaan skripsi ini.

Parepare, 19 Agustus 2019 Penulis

SULFITRI 15.3200.035

(10)

x

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI Mahasiswa yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : SULFITRI

NIM : 15.3200.035

Tempat/Tgl. Lahir : Sekkang, 03 Juli 1997 Program Studi : Bimbingan Konseling Islam Fakultas : Ushuluddin, Adab dan Dakwah

Judul Skripsi : Pengaruh Pembinaan Ibadah Sholat dan Baca Al-qur’an Terhadap Kesadaran Beragama Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di LPKA kelas II Parepare

Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar merupakan hasil karya saya sendiri. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat oleh orang lain, sebagian atau seluruhnya, maka skripsi ini dan gelar yang diproleh karenanya batal demi hukum.

Parepare, 19 Agustus 2019 Penulis

SULFITRI 15.3200.035

(11)

xi ABSTRAK

SULFITRI. Pengaruh Pembinaan Ibadah Sholat dan Baca Al-qur’an Terhadap Kesadaran Beragama Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di LPKA kelas II Parepare.(dibimbing oleh M. Nasri H, dan H. MuhiddinBakry).

Skripsi ini mengkaji tentang pengaruh pembinaan pembinaan ibadah sholat dan baca al-qur’an terhadap kesadaran beragama bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) di LPKA kelas II Parepare. Kegiatan pembinaan ibadah sholat dan baca al- qur’an yang dilaksanakan di LPKA Kelas II Parepare merupakan salah satu kegiatan pembinaan yang diikuti warga binaan yang berperan dalam mempersiapkan warga binaan untuk kembali ke masyarakat setelah masa tahanannya selesai.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembinaan pembinaan ibadah sholat dan baca al-qur’an di LPKA kelas II Parepare, untuk mengetahui bagaimana kesiapan hidup beragama penghuni LPKA kelas II Parepare dan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh pembinaan pembinaan ibadah sholat dan baca al-qur’an terhadap kesadaran bragama bagi wargabinaanpemasyarakatan (WBP) di LPKA kelas II Parepare. Penelitian ini adalah jenis penelitian asosiatif kuantitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket, observasi dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembinaan ibadah sholat (X1) berada pada kategori sangat tinggi dengan persentase skor sebesar 94%

sedangkan pelaksanaan pembinaan baca al-qur’an (X2) berada pada kategori sangatt inggi dengan persentase skor sebesar 93,9% dan kesadaran beragama warga binaan LPKA Kelas II Parepare kategorinya juga sangat tinggi dengan perolehan skor sebesar 91,2%. Analisis regresi linier berganda menunjukkan persamaan model yaitu Y = 10,341 + 0,558X1 + 1,269X2. Hasil uji hipotesis melalui analisis regresi linear berganda menggunakan uji F menunjukkan Fhitung>Ftabel maka Ho ditolakdan Ha diterima, artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara pembinaan ibadah sholat dan baca al-qur’an terhadap kesadaran beragama warga binaan LPKA Kelas II Parepare.

Kata kunci: Pembinaan sholat, Baca al-qur’an, Kesadaran beragama.

(12)

xii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PENGAJUAN ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING . ... iv

HALAMAN PENGESAHAN KOMISI PEMBIMBING . ... v

HALAMAN PENGESAHAN KOMISI PENGUJI. ... vi

KATA PENGANTAR . ... vii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI . ... x

ABSTRAK ... xi

DAFTAR ISI . ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN . ... xvii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Kegunaan Penelitian ... 7

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Deskripsi Teori ... 8

2.1.1 Kesadaran Beragama . ... 8

2.1.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesadaran Beragama ... ... 9

(13)

xiii

2.1.3 Indikator Kesadaran Beragama . ... 12

2.1.4 Warga Binaan Pemasyarakatan . ... 15

2.2 Tinjauan Penelitian Relevan. ... 18

2.3 Kerangka Pikir ... 21

2.4 Hipotesis Penelitian ... 22

2.5 Definisi Operasional Variabel ... 23

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Design Penelitian ... 24

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 25

3.2.1 Lokasi Penelitian ... 25

3.2.2 Waktu Penelitian ... 25

3.3 Populasi dan Sampel ... 25

3.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ... 27

3.4.1 Teknik Pengumpulan Data ... 27

3.4.2 Instrumen Pengumpulan Data ... 29

3.5 Teknik Analisis Data ... 30

3.5.1 Uji Validitas Data ... 31

3.5.2 Uji Reabilitas ... 31

3.5.3 Uji Normalitas Data ... 32

3.5.4 Uji Korelasi ... 32

3.5.5 Uji Multikolinearitas ... 32

3.5.6 Uji t (Parsial) ... 32

(14)

xiv

3.5.7 Uji F (Simultan) ... 33

3.5.8 Uji Regresi Linear Berganda ... 33

3.6 Teknik Analisis Data ... 57

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 35

4.2 Hasil Penelitian ... 36

4.3 Uji Regresi Linear Berganda ... 70

4.4 Pengujian Hipotesis ... 72

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... ... 75

5.2 Saran ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 77 LAMPIRAN-LAMPIRAN

BIOGRAFI PENULIS

(15)

xv

DAFTAR TABEL No.

Tabel

Judul Tabel Halaman

4.1 Karakteristik Jenis Kelamin Responden 36 4.2 Karakteristik Pendidikan Terakhir Responden 37

4.3 Karakteristik Usia Responden 37

4.4

Hasil jawaban responden untuk variabel pembinaan ibadah shalat

Pembinaan ibadah sholat dalam hal pengajaran tata cara sholat

38

4.5 Pembinaan melaksanakan shalat lima waktu 39 4.6

Pembinaan keagamaan ibadah sholat sering melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid

39

4.7

Pembinaan keagamaan ibadah shalat melaksanakan shalat dhuha setiap hari

40

4.8

Pembinaan keagamaan ibadah sholat melaksanakan sholat tahajjud

41

4.9

Pembinaan keagamaan ibadah sholat tetap

melaksanakan ibadah shalat walaupun dalam kondisi sibuk.

41

4.10

Pembinaan keagamaan segera datang ke masjid ketika adzan dikumandangkan

42

4.11

Rangkuman hasil deskriptif (Variabel X1) Pembinaan Ibadah Sholat

43

(16)

xvi 4.12

Distribusi Frekuensi Pembinaan Ibadah Sholat

45

4.13

Hasil jawaban responden untuk variabel pembinaan baca al-qur’an

Pembinaa pengajaran baca Alqur’an pada WBP

47

4.14 Pembinaan baca al-qur’an setiap hari 48

4.15

Angket untuk perntanyaan membaca al-qur’an setelah sholat.

48

4.16

Angket untuk perntanyaan pelaksanaan menghafal surat- surat pendek.

49

4.17

Angket untuk perntanyaan perasaan senang jika membaca al-qur’an.

50

4.18

Angket untuk perntanyaan pelaksanaan wudhu sebelum membaca al-qur’an.

50

4.19

Angket untuk pertanyaan melaksanaan baca al-qur’an walaupun dalam kondisi sibuk

51

4.20

Rangkuman hasil deskriptif (Variabel X2) Pembinaan Baca Al-qur’an

52

4.21

Distribusi Frekuensi Pembinaan Baca Al-qur’an

54

4.22

Angket untuk perntanyaan mengerjakan sholat tepat waktu

56

4.23

Angket untuk perntanyaan khusu’ dalam sholat dan berdoa sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah

57

(17)

xvii SWT

4.24

Angket untuk perntanyaan membaca buku-buku sholat untuk menambah pengetahuan

57

4.25

Angket untuk perntanyaan perasaan senang ketika membaca al-qur’an

58

4.26

Angket untuk perntanyaan membiasakan baca al-qur’an dengan harapan dapat lancar membacanya

59

4.27

Angket untuk perntanyaan rutinitas mengikuti yasinan

setiap jum’at 59

4.28

Angket untuk perntanyaan rutinitas mengikuti sholat

jum’at 60

4.29

Angket untuk perntanyaan kemampuan memimpin kegiatan yasinan

60

4.30

Hasil angket untuk perntanyaan pelaksanaan menghatamkan al-qur’an

61

4.31

Angket untuk perntanyaan hafalan surat-surat pendek dalam al-qur’an

62

4.32

Angket untuk pertanyaan tindakan menegur teman yang tidak mengerjakan sholat

62

4.33

Angket untuk pertanyaan tindakan membaca al-qur’an di dalam kamar

63 4.34 Angket untuk pertanyaan tindakan meninggalkan sholat 63 4.35

Angket untuk pertanyaan melaksanakan sholat ketika sibuk

64

(18)

xviii 4.36

Angket untuk pertanyaan melaksanakan sholat dhuha setiap hari

65

4.37

Angket untuk pertanyaan membaca al-qur’an dengan sungguh-sungguh

65

4.38

Rangkuman hasil deskriptif (Variabel Y) Kesadaran Beragama

66

4.39

Distribusi Frekuensi Kesadaran Beragama

68 4.40 Hasil Persamaan Regresi Linear Berganda 71

(19)

xix

DAFTAR GAMBAR No.

Gambar

Judul Gambar Halaman

2.1 Skema Kerangka Pikir 21

4.2 Histogram Pembinaan Baca Al-qur’an 55

4.3 Histogram Pembinaan Ibadah Sholat 69

(20)

xx

DAFTAR LAMPIRAN No.

Lampiran

Judul Lampiran 1 Angket penelitian skripsi

2 Tabulasi angket variabel x 3 Tabulasi angket variabel y 4 T tabel

5 Surat izin melaksanakan penelitian 6 Surat izin penelitian

7 Surat keterangan telah selesai meneliti 8 Biografi penulis

(21)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Penegakan hukum terhadap kejahatan di Indonesia, khususnya dalam hal pemidanaan, seharusnya merujuk pada pendekatan norma hukum yang bersifat menghukum penjahat sehingga dapat memberikan efek jera. Hal ini memberikan wacana kepada para hakim dalam merumuskan vonis penjatuhan sanksi kepada para pelaku kejahatan agar mampu menangkap aspirasi keadilan masyarakat. Bagaimana suatu teori tentang pemidanaan itu baiknya, namun pada akhirnya harus disesuaikan dengan kondisi ideologis, yuridis, dan sosiologis dimana suatu teori itu diterapkan.

Karena suatu politik kriminal tidak cukup hanya dipikirkan oleh kalangan ahli hukum saja, tetapi juga harus melibatkan penguasa dan rakyat yang terkena suatu aturan hukum pidana itu.1

Di Indonesia pergeseran orientasi dalam pemidanaan ini terlihat dengan adanya penggantian istilah penjara menjadi istilah pemasyarakatan. Penggantian ini dimaksudkan agar pembinaan narapidana berorientasi pada tindakan yang lebih manusiawi dan disesuaikan dengan kondisi narapidana. Melalui sistem pemasyarakatan ini pembinaan yang dilakukan terhadap narapidana lebih bersifat manusiawi dengan tetap menjungjung tinggi harkat dan martabatnya sebagai manusia. Perlakuan ini dimaksudkan untuk menempatkan narapidana sebagai subjek di dalam proses pembinaan dengan sasaran akhir mengembalikan narapidana ke tengah-tengah masyarakat sebagai orang yang baik dan berguna (resosialisasi).

1Siti Nurjanah, Pidana dan Pemidanaan dalam perundang-undangan di Indonesia, h.15

(22)

2

Resosialisasi merupakan salah satu tujuan dari ide individualisasi pemidanaan yang lahir dari pemikiran mashab modern.

Sistem pemasyarakatan merupakan satu rangkaian kesatuan penegakan hukum pidana, oleh karena itu pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan dari pengembangan konsepsi umum mengenai pemidanaan.

Lembaga Pemasyarakatan merupakan tempat pembinaan terhadap warga binaannya. Lembaga Pemasyarakatan yang selanjutnya disebut LAPAS adalah tempat untuk melaksanakan pembinaan Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan”.

Narapidana atau WBP tersebut merupakan sebagian dari masyarakat yang mendapatkan sanksi atas tindakan kriminalitas yang dilakukannya. Namun, Warga Binaan tersebut tidak akan pernah terlepas dari peran sertanya dalam terwujudnya tujuan pembangunan suatu bangsa.2

Lembaga Pemasyarakatan bertugas untuk membentuk warga binaannya agar dapat menjadi manusia yang lebih baik, menyadari kesalahan yang telah diperbuat, dapat memperbaiki diri serta tidak akan mengulangi tindak pidana yang pernah mereka lakukan sehingga mereka dapat berperan aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. Peran masyarakat juga sangat diperlukan dalam mendukung pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan dan juga dalam sikap menerima kembali warga binaan yang kelak berbaur kembali bersama mereka. Selain itu peranan Petugas Pemasyarakatan sangat menentukan berhasil tidaknya pembinaan itu dilakukan.

Upaya untuk mewujudkan tujuan Lembaga Pemasyarakatan dilakukan melalui Pemasyarakatan. Menurut Undang-undang Republik Indonesia No.12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan Pasal 1 Ayat 1:

2 Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan

(23)

Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan sistem, kelembagaan, dan cara pembinaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana”.

Angka kriminalitas yang meningkat menyebabkan lembaga permasyarakatan sangat harus produktif dalam membina para Narapidana. Oleh karena fitrah manusia adalah suci, maka Narapidana sebagai orang yang telah terjerumus ke dalam kemaksiatan, tidak cukup baginya hanya dipidana dan menjalani pidana saja tanpa mendapatkan pembinaan yang akan membuatnya menjadi lebih baik yaitu pembinaan keagamaan. Memberikan pembinaan agama merupakan hal yang positif. Nilai-nilai agama penting untuk menjadi benteng kehidupan dalam menghadapi pengaruh- pengaruh negative yang muncul disekitar mereka yang dikhawatirkan akan mempengaruhi mereka untuk berbuat meyimpang kembali.

Bagaimanapun juga Narapidana adalah manusia yang masih memiliki potensi yang dapat dikembangkan ke arah perkembangan yang positif yang mampu merubah untuk menjadi lebih produktif, untuk menjadi lebih baik dari sebelum menjalani pidana. Potensi itu akan sangat berguna bagi Narapidana melalui pembinaan yang diberikan oleh para pembina yang memberikan motivasi bagi perubahan diri Narapidana ke arah yang lebih baik. Dalam menghadapi dunia yang semakin kacau ini, agama bisa merupakan satu-satunya alat yang ampuh. Oleh karena agama mempunyai nilai kekinian, tetapi juga akan berdampak di hari kelak nanti. Sehingga, jika anak-anak muda telah menerima nilai-nilai yang baik di bangku sekolah, masjid, atau di majelis ta’lim, sementara kenyataan diluar justru berlawanan, mereka tidak

(24)

4

mudah begitu saja hanyut karena nilai yang telah diperoleh tadi tidak lagi menjadi acuan hidup.3

Cara ini diperlukan agar dapat diteguhkan imannya terutama memberi pengertian agar Narapidana dapat menyadari akibat–akibat perbuatan yang benar dan yang salah. Usaha ini di lakukan dengan tujuan supaya Narapidana mendapat keteguhan iman serta memberikan pengertian bahwa perbuatan yang telah mereka lakukan merupakan perbuatan yang harus di jauhi. Dengan mempertebal iman dan memperbanyak ibadah itu mempunyai beraneka ragam arti bagi Narapidana, antara lain insan manusia berkewajiban menyembah kepada pencipta-Nya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Di samping itu dengan mendalamnya iman dan ibadahnya, Narapidana dapat mengendalikan hawa nafsunya, mencintai kebaikan dan membenci kejahatan sehingga mereka menyesali perbuatanya yang sesat dan selanjutnya akan selalu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya demi kehidupan di akhirat nanti.

Disinilah urgensi pendidikan dan wawasan kebangsaan masuk dalam pembinaan keagamaan dalam satu sisi, dan pada sisi lain, pembinaan wawasan kebangsaan juga perlu menggunakan bahasa agama.4 Dalam hal ini, pembinaan keagamaan memegang peranan yang sangat penting untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian pembinaan keagamaan harus diberikan kepada semua yang beragama Islam. Tujuan pembinaan

3A. Qodri A Aziziy, Islam dan Permasalahan Sosial (Yogyakarta: Printing Cemerlang 2000), h.79

4Nasaruddin Umar, Islam Fungsional (Jakarta: Elex Media Komputindo 2014), h.4

(25)

Islam adalah membimbing dan membentuk manusia menjadi hamba Allah yang shaleh, teguh imannya, taat beribadah, berakhlak terpuji.

Salah satu Lembaga Pemasyarakatan yang berada di Sulawesi Selatan adalah LPKA Kelas II Parepare. Salah satu bimbingan yang diberikan pada WBP di LPKA Kelas II Parepare adalah dengan memberikan pembinaan keagamaan sebagai usaha dalam pembinaan dalam memperbaiki akhlak. Dengan adanya pembinaan agama para narapidana bisa memiliki pengetahuan agama lebih banyak dan luas serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran untuk melaksanakan ajaran-ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berhubungan dengan ibadah dan akhlaq, serta menimbulkan sikap dan suasana kejiwaan yang diliputi oleh nilai-nilai agama seperti : sabar, tawakkal, muthma’innah, pasrah dan tidak putus asa. Seperti kajian keislaman, tahfidzul qur’an, membaca al-qur’an dan iqro’, dan shalat berjamaah. Al-Quran juga memerintahkan mendirikan sholat yaitu QS.Baqarah (QS.Al Baqarah (2):3)

ْمُھٰنْق َزَر اذمِم َو َةوٰل ذصلا َن ْوُمْيِقـُي َو ِبْيَغْل ِبِ َن ْوُنِمْؤُي َنْيِ ذلَّا َن ْوُقِفْنُي

Terjemahanya :

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

(QS.Al Baqarah (2):3)5

Dengan cara memberikan pembinaan yang bersifat religius maka harapan lembaga dapat menumbuhkan kesadaran narapidana, agar pada waktu pembinaan selesai, narapidana kembali membaur dengan masyarakat mereka tidak lagi merasa

5Departemen Agama, Al-Qur’anul Karim dan Terjemahannya (Jakarta: Departemen Agama

Republik

Indonesia, 1999), h.2
(26)

6

canggung karena perilaku mereka dahulu. Namun terkadang masih terdapat narapidana yang sulit dibina melalui agama. Menyadari untuk dapat mencapai keberhasilan sebuah pembinaan keagamaan khususnya di lingkungan Rutan bukanlah hal yang mudah dilakukan, mengingat komunitas warga binaan memiliki karakteristik dan tingkat religius yang berbeda untuk mencapai keberhasilannya diterapkan dengan merujuk dan menyesuiakan dengan kondisi internal warga binaan.

Di LPKA kelas II Parepare, terdapat beberapa kasus diantaranya Narkoba, Pencurian, Pembunuhan, Penganiayaan, Perlindungan anak, Perampokan, Penadahan, dan beberapa kasus lainnya. Adapun Warga Binaan (WBP) berjumlah kurang lebih 500 orang. Adapun salah satu program yang dijalankan di LPKA kelas II Parepare yaitu Pembinaan Keagamaan khususnya Ibadah Shalat dan Baca Alqur’an yang bermitra dengan Kementrian Agama Kota Parepare. Pembinaan tersebut dilakukan oleh kementrian agama setiap empat kali sebulan. Dalam hal ini peneliti ingin meneliti “Pengaruh dalam Pembinaan Ibadah sholat dan Baca Alqur’an terhadap kesadaran beragama bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di LPKA kelas II Parepare. Peneliti ingin melihat apakah terjadi perubahan signifikan pada saat awal masuknya WBP dibandingkan beberapa bulan setelah dilaksanakan pembinaan keagamaan.

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian berkaitan dengan pembinaan yang dilakukan oleh Kementerian Agama kepada WBP di LPKA Kelas II Parepare dengan judul “Pengaruh Kemitraan Kementerian Agama Dalam Pembinaan Ibadah Shalat dan Baca Al-qur’an Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) LPKA Kelas II Parepare”.

(27)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka masalah pokok yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.2.1 Apakah ada pengaruh ibadah shalat dan baca alqur’an dalam pembinaan bagi WBP di LPKA Kelas II Parepare ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah maka adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.3.1 Untuk mengetahui pengaruh pembinaan ibadah shalat dan baca alqur’an bagi WBP di LPKA Kelas II Parepare.

1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Manfaat Secara Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan refrensi ilmiah tentang pemasyarakatan dan pembinaan keagamaan.

1.4.2 Manfaat Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi informasi yang bermanfaat untuk para pihak berkepentingan, terutama LPKA Kelas II Parepare dan Kementerian Agama Kota Parepare dalam mengevaluasi program dan meningkatkan pembinaan keagamaan warga binaan pemasyarakatan.

(28)

8 BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Deskripsi Teori

2.1.1 Kesadaran Beragama

1. Pengertian Kesadaran Beragama

Secara bahasa kesadaran berasal dari kata “sadar” yang berarti insaf, ingat kembali, dan bangun. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kesadaran adalah keadaan atau hal yang dirasakan atau dialami oleh seseorang.6 Sedangkan agama, berasal dari kata “al-Din”, menurut Quraish Shihab, dalam bahasa arab terdiri dari huruf dal, ya, dan nun. Dari huruf-huruf ini bisa dibaca dengan dain yang berarti hutang, dan dengan Din yang mengandung arti agama, menguasai, menundukkan, patuh, kebiasaan, dan hari kiamat. Ketiga arti tersebut sama-sama menunjukkan adanya dua pihak yang berbeda. Pihak pertama berkedudukan lebih tinggi, berkuasa, ditakuti, dan disegani oleh pihak kedua. Dalam agama, Tuhan adalah sebagai pihak utama yang lebih tinggi daripada manusia.7 Pengertian kesadaran beragama ialah bagian atau segi yang hadir (perasaan) dalam pikiran dan dapat diuji melalui intropeksi, atau dapat dikatakan bahwa ia adalah aspek mental dan aktifitas agama. Setelah adanya kesadaran beragama akan dilanjutkan dengan adanya pengalaman agama yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang di hasilkan oleh perbuatan (amaliyah).8 Menurut Zakiyah Daradjat, kesadaran beragama adalah aspek mental dari aktivitas agama. Aspek ini merupakan bagian atau segi

6Departement Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), Cet.Ke-2, h.975

7Achmad Gholib, studi islam (Pengantar Memahami Agama Al-Qur’an, Al-hadis, Dan Sejarah Peradaban Islam), (Jakarta: Faza Media, 2006), cet Ke-2, h.4

8Zakiya Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), Cet Ke-12, h.3-4

(29)

agama yang hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat diuji melalui intropeksi. Dengan adanya kesadaran agama dalam diri seseorang yang akan di tunjukkan melalui aktifitas keagamaan, maka munculah pengalaman beragama. Adapun yang di maksud dengan pengalaman beragama ialah unsur perasaan dalam kesadaran agama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan dalam tindakan (alamiyah) nyata.9

Kesadaran beragama meliputi rasa keagamaan, pengalaman ke-Tuhanan, keimanan, sikap dan tingkah laku keagamaan, yang terorganisasi dalam sistem mental dari kepribadian. Karena agama melibatkan seluruh fungsi jiwa raga manusia, maka kesadaran beragamapun mencapai aspek-aspek afektif, konatif, kognitif dan motorik.

Keterlibatan fungsi afektif dan konatif terlihat didalam pengalaman ke-Tuhanan, rasa keagamaan dan rindu kepada Tuhan. Aspek kognitif nampak dalam keimanan dan kepercayaan. Sedangkan keterlibatan fungsi motorik nampak dalam perbuatan dan gerakan tingkah laku dan keagamaan.10

2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengeruh Kesadaran Beragama

Kesadaran beragama pada diri seseorang secara garis besar berasal dari dua faktor yaitu faktor internal (dari dalam atau pembawaan) dan faktor eksternal (dari luar atau lingkungan). berpengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan antara lain adalah sebagai berikut:

1. Faktor Internal

Menurut Jalaluddin faktor internal, yaitu faktor dari manusia itu sendiri, karena manusia adalah homo religius (makhluk beragama) yang sudah memiliki

9Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), Cet Ke-9, h.8

10Abdul aziz Ahyadi, Psikologi Agama (Kepribadian Muslim Pancasila), (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1995), Cet. Ke-3, h.37

(30)

10

fitrah untuk beragama.11 Di sumber lain dikatakan bahwa secara garis besar faktor- faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan antara lain adalah sebagai berikut:

a. Hereditas

Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan yang diwariskan secara turun temurun, melainkan terbentuk dari berbagai unsur lainnya yang mencakup kognitif, afektif dan konatif. Menurut Sigmund Freud perbuatan buruk dan tercela jika dilakukan akan menimbulkan rasa bersalah (sense of guilt) dalam diri seseorang. Bila pelanggaran yang dilakukan terhadap larangan agama, maka dalam diri pelakunya akan timbul rasa berdosa dan perasaan seperti ini barangkali yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan seseorang sebagai unsur hereditas.

b. Tingkat usia

Meskipun tingkat usia bukan merupakan satu- satunya faktor perkembangan jiwa keagamaan seseorang, tetapi kenyataan ini dapat dilihat dari perbedaan pemahaman agama dari tingkat usia yang berbeda.

c. Kepribadian

Kepribadian menurut pandangan psikologi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur hereditas dan pengaruh lingkungan. Hubungan antara unsur hereditas dan pengaruh lingkungan inilah yang membentuk kepribadian, dan setiap manusia memiliki kepribadian yang unik dan berbeda-beda, sehingga perbedaan tersebut membawa pengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan seseorang. Bagaimanapun juga kondisi jiwa seseorang akan berpengaruh pada pandangan tentang agama, seseorang

11Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), h.53

(31)

yang mengidap phobia akan dicekam rasa takut yang irrasional sehingga pandangannya terhadap agama akan dipengaruhi oleh hal yang demikian juga.

Sedangkan seseorang yang normal akan memandang agama secara sadar dan dapat berfikir sehat.12

2. Faktor Eksternal

Lingkungan yang dinilai berpengaruh dalam perkembangan jiwa keagamaan seseorang, karena lingkungan merupakan tempat dimana seseorang itu hidup dan berinteraksi, lingkungan disini dibagi menjadi tiga yaitu keluarga, instuisi, dan masyarakat.

a). Lingkungan Keluarga

Dalam kehidupan manusia lingkungan keluargalah yang menjadikan dasar pembentukan prilaku seseorang, juga memberikan andil yang banyak dalam memberikan bimbingan dan pendidikan keagamaan.

b). Lingkungan Institusional

Jalaluddin mengemukakan bahwa “pendidikan agama di lembaga pendidikan bagaimanapun akan memberi pengaruh bagi pembentukkan jiwa keagamaan pada anak didik”. Karena pendidikan agama pada hakekatnya merupakan pendidikan nilai, sehingga pendidikan agama lebih dititik- beratkan pada pembentukkan kebiasaan yang selaras dengan tuntutan agama.

c). Lingkungan Masyarakat

Dalam kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari orang lain, karena manusia adalah makhluk sosial yang dalam hidupnya saling membutuhkan satu sama lain. Untuk itu, lingkungan masyarakat merupakan salah satu faktor yang juga ikut

12Jalaluddin, Psikologi Agama, h.241-246

(32)

12

mempengaruhi perkembangan sikap dan prilaku seseorang. Masyarakat disini dapat di artikan sebagai komunitas yang amat heterogen dengan berbagai aspek. Di dalamnya terdapat kegiatan dalam bidang agama, sosial, ekonomi, politik, seni budaya, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Semua itu merupakan lingkungan yang dapat digunakan untuk kegiatan pendidikan.13

2.1.3 Indikator Kesadaran Beragama

Agama menyangkut kehidupan manusia, kesadaran beragama dan pengalaman agama seseorang menggambarkan sisi-sisi batin dalam kehidupan yang berkaitan dengan sesuatu yang sakral dan ghaib. Dari kesadaran dan pengalaman agama inilah timbulnya sikap keagamaan yang ditampilkan oleh seseorang.

Dengan demikian, untuk menjadikan manusia memiliki sikap keagamaan yang sesuai dengan ajaran agama islam, mereka memerlukan bimbingan dan pengembangan. Untuk dapat mengetahui bentuk sikap keagamaan seseorang maka dapat dilihat dari seberapa jauh keterkaitan komponen kognitif, afektif dan psikomotorik seseorang. Aspek afektif terlihat di dalam pengalaman ke-Tuhanan, rasa keagamaan dan kerinduan kepada Tuhan. Aspek kognitif terlihat pada keimanan dan kepercayaan sedangkan aspek psikomotorik terlihat pada perbuatan dan gerakan tingkah laku keagamaan dengan masalah-masalah yang menyangkut agama. Karena bagaimanapun juga hal tersebut tidak ditentukan oleh hubungan sesaat melainkan hubungan proses, sebab sikap dibentuk melalui hasil belajar dari interaksi dan pengalaman dalam beragama.14

13Zauhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), Cet. Ke-2, h.125

14 Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta, PT.Raja Grafindo Persada, 2009), h.216

(33)

A.) Pembinaan Ibadah shalat dan Baca Al-qur’an

Pembinaan adalah suatu proses yang membantu individu melalui usaha sendiri dalam rangka menemukan dan mengembangkan kemampuannya dengan tujuan untuk memperoleh kebahagiaan pribadi dan manfaat social. Menurut Hendiyat Soetopo dan Westy Soemanto. Pembinaan adalah menunjuk pada suatu kegiatan yang mempertahankan dan menyempurnakan apa yang telah ada. Sedangkan menurut Masdar Helmy, pembinaan mencakup segala ikhtiar (usaha-usaha), tindakan dan kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas beragama baik dalam bidang tauhid, bidang peribadatan, bidang akhlak dan bidang kemasyarakatan.

Pembinaan adalah suatu tindakan, proses, hasil atau pernyataan menjadi lebih baik.15 Dalam peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang pembinaan dan pembimbingan warga binaan pemasyarakatan pasal 1 ayat (1) menyebutkan bahwa pembinaan adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas ke taqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa, narapidana dan anak didik pemasyarakatan.

1. Ibadah

Dari segi bahasa, kata ibadah berarti taat, tunduk, merendah diri, dan menghambakan diri. Ibnu Taimiyah memberikan pengertian ibadah menurut istilah syara’dengan tunduk dan cinta, yaitu tunduk mutlak kepada Allah disertai cinta sepenuhnya kepada-Nya.16 Ibadah dalam pengertian khusus yaitu, lima rukun Islam yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim. Pengertian ibadah secara umum yaitu segala perbuatan yang dilakukan seseorang dengan niat mencari keridhaan Allah.17 Dari pernyataan tersebut di atas maka dapat penulis simpulkan bahwa ibadah adalah

15 Miftah Thoha, Ilmu Administrasi Publik Kontenporer (Jakarta: Preadamedia Group 2017), h.207

16Ahmad Azhar Basyir, Falsafah Ibadah dalam Islam, (Yogyakarta: UUI Press, 2001), h.11

17Masjfuk Zudi. 1992. Studi Islam Jilid II: Ibadah. (Jakarta: Rajawali, 1992), h.4-5

(34)

14

segala perbuatan yang dilakukan seseorang dengan niat mencari keridhaan Allah dan dengan sepenuhnya ta’dhim serta menundukkan jiwa seseorang kepada Allah.

2. Shalat

Shalat secara bahasa berasal dari bahasa Arab, yang artinya do’a-do’a, dalam hal kebaikan. Menurut syari’at Islam, shalat adalah beribadah kepada Allah SWT.

yang berupa perkataan dan perbuatan dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan, yang dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam.18 Shalat secara etimologis berarti do’a rahmat dan istigfar. Islam telah mempersempit maka shalat sebagai kewajiban ibadah yang didalamnya terdapat rukuk, sujud, gerakan-gerakan tertentu dan kaidah-kaidah baku yang tidak bisa dirubah semuanya.19

Shalat merupakan rukun Islam yang paling agung setelah dua kalimat syahadat. Dari pernyataan tersebut maka penulis simpulkan bahwa shalat adalah tiang agama dan salah satu rukun Islam yang ke dua juga suatu kegiatan ibadah kepada allah yang di awali dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam.

3. Baca Alqur’an

Al-Qur’an Al-Karim adalah kitab yang oleh Rasulullah Saw. dinyatakan sebagai “Tali Allah yang terulur dari langit ke bumi, di dalamnya terdapat berita tentang umat masa lalu, dan kabar tentang situasi masa datang. Siapa yang berpegang dengan petunjuknya dia tidak akan sesat.” Kitab suci ini juga memperkenalkan dirinya sebagai hudan li al-nas (petunjuk bagi seluruh umat manusia), sekaligus menantang manusia dan jin untuk menyusun semacam Al- Qur’an. Dari sini kitab suci kita berfungsi sebagai mukjizat (bukti kebenaran),

18Akhmad muhaimin Azzet, Pedoman Praktis Shalat Wajib & Sunnah, (Yogyakarta:

Javalitera, 2011), h.17

19Jawwad Ali, Sejarah Shalat , (Tangerang: Jausan, 20100, h.13

(35)

sekaligus kebenaran itu sendiri.20 Karena kemuliaan dan kebenaran itulah Al-Qur’an memiliki berbagai keutamaan yang luar biasa. Allah Swt. berfirman dalam surat Yusuf: 111

ىِ ذلَّ ٱ َقيِد ْصَت نِكَٰ َلَو ٰىَ َتَْفُي اًثيِدَح َن َكَ اَم ۗ ِبَٰ َبْلَ ْلّ ٱ ِلِ ۟وُ ِِلّ ٌةَ ْبِْع ْمِهِص َصَق ِفِ َنَكَ ْدَقَل ِِ ُك َلي ِصْفَتَو ِهْيَدَي َ ْيَْب َنوُنِمْؤُي َيْوَقِِل ًلَ َْ َرَو ىًدًَُو َو ْ َْ

Terjemahannya :

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.21

2.1.4 Warga Binaan Pemasyarakatan

Dalam UU RI No 12 tahun 1995, dijelaskan bahwa narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaannya.22 Secara sederhana, narapidana dapat diartikan sebutan bagi seseorang yang telah divonis hukuman pidana, akibat pelanggaran terhadap aturan negara, dan bertempat tinggal di Lembaga Pemasyarakatan atau Rumah Tahanan dalam jangka waktu tertentu.

Narapidana bukan saja obyek melainkan juga subyek yang sama dengan manusia lainnya yang sewaktu-waktu dapat melakukan kesalahan atau kekhilafan yang dapat dikenakan pidana, sehingga manusia tersebut jangan dikucilkan apalagi dibrantas. Sedangkan yang harus dibrantas adalah faktor- faktor penyebab yang mengakibatkan manusia tersebut berbuat yang

20M Quraish Shihab, Secercah Cahaya Ilahi, (Bandung: Mizan, 2007), h.19

21Departemen Agama, Al-Qur’anul Karim dan Terjemahannya (Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia, 1999), h.198

22Himpunan Perundangan RI, bab I Pasal 1 ayat 7, h.500

(36)

16

bertentangan dengan hukum, norma- norma, aturan dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.23 Warga Binaan Pemasyarakatan adalah Narapidana, Anak Didik Pemasyarakatan, dan Klien Pemasyarakatan;

1. Narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di Lapas.

2. Anak Didik Pemasyarakatan adalah:

a. Anak Pidana yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan menjalani pidana di Lapas. Anak paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun.

b. Anak Negara yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan diserahkan pada negara untuk dididik dan ditempatkan di Lapas. Anak paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun.

c. Anak Sipil yaitu anak yang atas permintaan orang tua atau walinya memperoleh penetapan pengadilan untuk dididik di Lapas sampai berumur 18 (delapan belas) tahun.

3. Klien Pemasyarakatan yang selanjutnya disebut Klien adalah seseorang yang berada dalam bimbingan Bapas.

c. Hak-Hak Narapidana

Konsep HAM memiliki dua pengertian dasar, pertama merupakan hak-hak yang tidak dapat dipisahkan dan dicabut. Hak ini adalah hak-hak moral yang berasal dari kemanusiaan setiap insan dan hak-hak itu bertujuan untuk menjamin marrtabat setiap manusia. Kedua, hak menurut hukum, yang dibuat sesuai dengan proses

23Dokumentasi Lapas, Selayang Pandang Lembaga Pemasyarakatan kelas IIA Yogyakarta, h.2

(37)

pembuatan hukum dari masyarakat itu sendiri, baik secara nasional maupun internasional.24

Hak-hak narapidana yang telah diatur dalam Pasal 14 ayat (1) UU Pemasyarakatan, yaitu:

1. Melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya 2. Mendapat perawatan, baik perawatan rohani maupun jasmani 3. Mendapatkan pendidikan dan pengajaran

4. Mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak 5. Menyampaikan keluhan

6. Mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya yang tidak dilarang

7. Mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan

8. Menerima kunjungan keluarga, penasihat hukum, atau orang tertentu lainnya 9. Mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi)

10. Mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi keluarga 11. Mendapatkan pembebasan bersyarat

12. Mendapatkan cuti menjelang bebas, dan

13. Mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kesadaran manusia terhadap HAM bermula dari kesadaran terhadap adanya nilai harga diri, harkat dan martabat kemanusiaannya. Sesungguhnya hak-hak manusia sudah ada sejak manusia itu ditakdirkan lahir didunia ini, dengan demikian HAM bukan hal yang baru lagi. Wujud komitmen tersebut adalah institusi hakim

24Handar Subhandi, Pengertian dan Hak-hak Narapidana (www.handarsubhandi.

Bolgspot.com diakses pada tanggal 13 januari 2019.

(38)

18

pengawas dan pengamat sebagaimana yang diatur dalam Pasal 277 sampai dengan Pasal 283 KUHAP, serta diundangkannya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan warga binaan pemasyarakatan berdasarkan sistem kelembagaan, dan cara pembinaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana.

2.1.4 Konsep Pembinaan Pemasyarakatan

Sistem pembinaan pemasyarakatan dilaksanakan di lembaga pemasyaraktan berdasarkan asas:

1. Pengayoman

Pengayoman adalah perlakuan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan dalam rangka melindungi masyarakat dari kemungkinan diulanginya tindak pidana oleh Warga Binaan Pemasyarakatan, juga memberikan bekal hidupnya kepada Warga Binaan Pemasyarakatan agar menjadi warga yang berguna di dalam masyarakat.

2. Persamaan perlakuan dan pelayanan

Persamaan perlakuan dan pelayanan adalah pemberian perlakuan dan pelayanan yang sama kepada Warga Binaan Pemasyarakatan tanpa membeda- bedakan orang.

3. Pendidikan

Pendidikan adalah bahwa penyelenggaraan pendidikan dan bimbingan dilaksanakan berdasarkan pancasila, antara lain penanaman jiwa kekeluargaan, keterampilan, pendidikan kerohanian, dan kesempatan untuk menunaikan ibadah.

4. Pembimbingan

(39)

Pembimbingan adalah bahwa penyelengaraan bimbingan dilaksanakan berdasarkan pancasila, antara lain penanaman jiwa kekeluargaan, keterampilan, pendidikan kerohanian dan kesempatan untuk menunaikan ibadah

5. Penghormatan harkat dan martabat manusia

Penghormatan harkat dan martabat manusia adalah bahwa sebagai orang yang tersesat Warga Binaan Pemasyarakatan harus tetap diperlukan sebagai manusia.

6. Kehilangan kemerdekaan merupakan satu – satunya penderitaan

Kehilangan kemerdekaan merupakan satu – satunya penderitaan adalah Warga Binaan Pemasyarakatan harus berada dalam Lapas untuk jangka waktu tertentu, sehingga mempunyai kesempatan penuh untuk memperbaikinya.

Selama di Lapas Warga Binaan Pemasyarakatan tetap memperoleh hak – haknya yang lain seperti layaknya manusia, dengan kata lain hak perdatanya tetap dilindungi seperti hak memperoleh perawatan kesehatan, makan, minum, pakaian, tempat tidur, latihan, keterampilan, olah raga, atau rekreasi.

7. Terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orang-orang tertentu.

Terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orang- orang tertentu adalah bahwa walaupun Warga Binaan Pemasyarakatan berada di Lapas, tetapi harus tetap didekatkan dan dikenalkan dengan masyarakat dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat, antara lain berhubungan dengan masyarakat dalam bentuk kunjungan, hiburan ke dalam Lapas dari anggota masyarakat yang bebas, dan kesempatan berkumpul bersama sahabat dan keluarga seperti program cuti mengunjungi keluarga.

(40)

20

2.2 Tinjauan Penelitian Relevan

Penelitian ini tentang Pengaruh kemitraan Kementerian Agama dalam pembinaan warga binaan pemasyarakatan LPKA Kelas II Parepare, banyak peneliti sebelumnya yang telah meneliti perihal pembinaan keagaaman pada WBP, berikut diantaranya:

2.2.1 Penelitian yang dilakukan oleh Alan Prabowo pada tahun 2018 dengan judul

“Pembinaan Keagamaan Bagi Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Rajabasa, Bandar Lampung”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif, peneliti ini dilakukan pada bulan januari 2018 sampai dengan Juli 2018 yang berada di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Rajabasa, Bandar Lampung. Subyek penelitian pembina pemasyarakatan ini.

Informan penelitian warga binaan pemasyarakatan, petugas Lemabaga Pemasyarakatan pada Blok A.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk menguji keabsahan data dalam penelitian ini digunakan triangulasi data. Hasil penelitian tentang pelaksanaan pembinaan keagamaan dalam meningkatkan perilaku spritual bagi warga binaan pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Rajabasa, Bandar Lampung yaitu : pelaksanaan Pembina keagamaan islam pada warga biaan di Lemabaga Pemasyarakatan ini, shalat wajib berjama’ah, pengajian rutin, pengajian peringatan Hari Besar Islam secara klasikal, membaca, belahar iqro’ dan Al-Qur’an beserta tajwidnya, hafalan juz amma, mengulas ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist, membaca surat yasin. Metode dalam pelaksanaan pembinaan keagamaan yaitu : ceramah, klasikal, individu, maupun musyawarah. Adapun faktor pendukung pelaksanaan

(41)

pembinaan keagamaan ini adalah bekerjasama dengan pembina / penyuluh keagamaan luar seperti mengundang tokoh agama/ tokoh masyarakat dan mempunyai rapor warga binaan.25 Penelitian ini ada perbedaan dengan penelitian yang akan saya lakukan terkait dengan metode penelitian. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif sebagai deskripsi kenyataan di lapangan. Proses pengumpulan data pada penelitian ini dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan dalam penelitian yang akan saya teliti hanya menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan proses pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi.

Hubungan penelitian ini dengan penelitian yang akan saya lakukan adalah sama-sama membahas tentang masalah pembinaan keagamaan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

2.2.2 Muh Rondi, NIM : 2018, Pengaruh Pembinaan Kerohanian Islam Terhadap Kesadaran Beragama Narapidana (Studi Kasus di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Salatiga). Skripsi. Jurusan Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Program Studi Pendidikan Agama Islam (FTIK). Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Pembimbing ; Mufiq, S.Ag, M.Phil.

Studi penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan. (1) Bagaimana pelaksanaan pendidikan agama Islam di Rumah Tahanan Kelas IIB Salatiga? (2) Bagaimana peranan pegawai Rumah Tahanan Negara kelas IIB Salatiga dalam pembinaan Kerohanian Islam narapidana? (3) Apakah ada pengaruh pendidikan agama Islam terhadap kesadaran beragama paranarapidana?

25Alan Prabowo, “Pembinaan Keagamaan Terhadap NArapidana ( Studi Deskriptif di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Rajabasa Bandar Lampung)” (Skripsi Sarjana: UIN Raden Intan lampung; Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam:2018), h.2

(42)

22

Permasalahan tersebut di bahas melalui sebuah penelitian kualitatif sebagai deskripsi kenyataan di lapangan dan penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional sebagai pembanding nilai pengaruh yang dilaksanakan di RUTAN Salatiga. Proses pengumpulan data pada penelitian ini dengan cara observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian data ini dianalisis dengan pendekatan rumus statistik product moment.

Sedangkan dari hasil perolehan angka korelasi yang menunjukkan r hitung (rh) = 0,46 lebih besar dari r tabel (rt)5% = 0,361, maka dapat peneliti simpulkan bahwa pembinaan di RUTAN Salatiga ada pengaruhnya yang cukup signifikan.

Sedangkan prosentase kontribusi kesadaran beragama di RUTAN Salatiga dipengaruhi oleh pembinaan kerohanian Islam sebesar 21,16 %, dan sisanya 78,84 % dipengaruhi oleh faktor lain baik intern maupun ekstren narapidana tersebut.

Semakin banyak narapidana mengikiuti pembinaan keagamaan semakin besar pula kesadaran untuk beragama yang lebih baik.26 Penelitian ini ada perbedaan dengan penelitian yang akan saya lakukan terkait dengan metode penelitian. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif sebagai deskripsi kenyataan di lapangan dan penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional sebagai pembanding nilai pengaruh yang dilaksanakan di RUTAN Salatiga. Proses pengumpulan data pada penelitian ini dengan cara observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi.

Kemudian data ini dianalisis dengan pendekatan rumus statistik product moment.

Sedangkan dalam penelitian yang akan saya teliti hanya menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan proses pengumpulan data menggunakan angket dan

26Muh.Rondi, “Pengaruh Pembinaan Kerohanian Islam Terhadap Kesadaran Beragama Narapidana (Studi Kasus di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Salatiga) “(Skripsi Sarjana : IAIN Salatiga; Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jurusan Hukum Pendidikan Islam: Salatiga:2018)

(43)

dokumentasi. Hubungan penelitian ini dengan penelitian yang akan saya lakukan adalah sama-sama membahas tentang masalah pembinaan keagamaan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

2.3 Kerangka Pikir

Kerangka pikir menunjukkan hubungan atau keterkaitan setiap variabel ataupun teori-teori yang menadi bagian dari penelitian ini, penelitian ini fokus pada Pengaruh Kemitraan Kementerian Agama Dalam Pembinaan Ibadah Sholat Dan Baca Al-Qur’an Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan LPKA Kelas II Parepare.

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir 2.4 Hipotesis Penelitian

Dengan demikian hipotesis merupakan dugaan sementara yang nantinya akan diuji dan dibuktikan kebenarannya melalui analisis data. Hipotesis menjadikan

LPKA Kelas II Parepare Warga Binaan Pemasyarakatan

Ketekunan Shalat dan Kemampuan Baca Al-Qur’an

Kesadaran Beragama

(44)

24

penelitian menjadi jelas sehingga membimbing penelitian dengan baik sebagai objek pengumpulan data maupun pengujian data.27

Agar pemilihan kita lebih terinci dan mudah, maka diperlukan hipotesis alternatif yang selanjutnya disingkat Ha dan hipotesis nol (null) yang disingkat menjadi Ho. Ha cenderung dinyatakan dalam kalimat positif. Sedangkan Ho dinyatakan dalam kaimat negatif.28 Hipotesis nol (Ho) disebut juga hipotesis statistik yaitu hipotesis yang diuji dengan statistik. Hipotesis ini mempunyai bentuk dasar atau memiliki statement yang menyatakan tidak ada hubungan antara variabel X dan variabel Y yang akan diteliti.29

Pada penjelasan diatas, apabila Ho ditolak maka H1 diterima, tetapi jika Ho diterima maka H1 di tolak. Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat maka dirumuskan Hipotesis sebagai berikut:

H1: Ibadah shalat dan Baca alqur’an berpengaruh positif bagi WBP di LPKA kelas II Parepare

H2: Ibadah sholat berpengaruh secara simultan bagi WBP di LPKA kelas II Parepare.

2.5 Definisi Operasional Variabel 3.4.11 Indikator (X)

a. Ibadah shalat

27M. Burhan bugin, Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi, Ekonomi dan Kebijakan PublikSerta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya, (Jakarta: Kencana,2006), h.75.

28Meilia Nur Indah S., Statistika Desriptif dan Induktif, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), h. 25

29M. Burhan bugin, Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi, Ekonomi dan Kebijakan PublikSerta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya, (Jakarta: Kencana,2006), h.79.

(45)

b. Baca Alqur’an 3.4.12 Indikator (Y)

a. Warga Binaan pemasyarakatan

Lembaga Pemasyarakatan merupakan tempat pembinaan terhadap warga binaannya. Warga binaan pemasyarakatan (WBP) adalah terpidana menjalani pidana hilang kemerdekaan di lembaga pemasyarakatan. Ibadah sholat adalah fardhu’ain atau kewajiban bagi setiap orang yang telah sudah baligh dan beragama islam serta berakal sehat. Baca alqur’an adalah salah satu ibadah bagi umat muslim.

(46)

26 BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian lapangan, dengan metode penilitian kuantitatif dengan jenis pendekatan:

3.1.1 Deskripsi

Deskripsi adalah suatu kaidah upaya pengelolahan data menjadi susuatu yang dapat diutarakan secara jelas dan tepat dengan tujuan agar dapat dimengerti oleh orang yang tidak langsung mengalaminya sendiri.Deskripsi digunakan pada penelitian ini untuk memberikan gambaran bagaimana variabelgaji, insentif, tunjangan, jenis kompensasi, sistem kompensasi serta bagaimana kompensasi berpengaruh dalam kinerja karyawan.

3.1.2 Korelasi

Secara sederhana, korelasi dapat diartikan sebagai hubungan. Namun ketika dikembangkan lebih jauh, korelasi tidak hanya dapat dipahami sebatas pengertian tersebut. Korelasi merupakan salah satu teknik analisis dalam statistik yang digunakan untuk mencari hubungan antara dua variabel yang bersifat kuantitatif.

Hubungan dua variabel tersebut dapat terjadi karena adanya hubungan sebab akibat atau dapat pula terjadi karena kebetulan saja. Dua variabel dikatakan berkolerasi apabila perubahan pada variabel yang satu akan diikuti perubahan pada variabel yang lain secara teratur dengan arah yang sama (korelasi positif) atau berlawanan (korelasi negatif).Penelitian korelasi digunakan untuk mengetahui pengaruh pembinaan ibadah shalat dan baca alqur’an bagi WBP di LPKA kelas II Parepare.

(47)

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Parepare.

3.2.2 Waktu Penelitian

Adapun penelitian ini akan dilaksanakan selama ± 2 bulan.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian peneliti dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang ditentukan. Pengertian lain menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek manusia yang terdiri dari manusia, benda, hewan, tumbuhan, gejala, nilai, tes atau peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian.30

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.Populasi pada bagi Warga Binaan Pemasyarakatan di LPKA kelas II Parepare. Adapun jumlah populasi bedasarkan kasus narkoba sebanyak ± 300 Warga Binaan Pemasyarakatan.

3.3.2 Sampel

Sampel adalah proses memilih sejumlah elemen secukupnya dari populasi, sehingga penelitian terhadap sampel dan pemahaman tentang sifat atau karakteristiknya akan membuat kita dapat menggeneralisasikan sifat atau

30Nurul Zuriah, Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan (Cet.15;Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006), h.116.

(48)

28

karakteristik tersebut pada elemen populasi.31 Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu.32 Untuk lebih memudahkan dalam meneliti untuk memilih sampel, apabila subjeknya kurang dari <100, lebih bagus jika semuanya diambil sehingga penelitiannya adalah penelitian populasi. Namun, jika jumlah subjeknya besar, maka dapat diambil separuh dari populasi sekitar 10-15%, atau 20-25% atau lebih. Tetapi, semuanya harus disesuaikan dengan kemampuan peneliti, waktu, tenaga, dan dana yang dimiliki.33 Dalam pengambilan sampel dari suatu populasi dapat dibedakan menjadi dua kategori teknik pengambilan sampel, dalam hal ini penulis memutuskan bahwa penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling. Untuk menentukan jumlah sampel, peneliti menggunakan rumus Slovin, yaitu:

n = N 1+Ne2 Keterangan:

n =Jumlah sampel N =Jumlah populasi

E = Eror level (tingkat kesalahan) atau batas kesalahan (catatan: umumnya digunakan adalah 1% atau 0,01, 5% atau 0,05 dan 10% atau 0,1). Dapat dipilih oleh peneliti.

31Juliansyah Noor, Metode Penelitian Skripsi, Tesis, Disertasi, & Karya Ilmiah (Cet: IV;

Jakarta: Prenadamedia Grop, 2014), h. 148.

32Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian (Bandung : Alfabeta, 2017), h.56.

33Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Penelitian Pendekatan Praktek (Jakarta:

Rineka Cipta, 1998), h. 120.

(49)

Jumlah populasi yang terdapat dalam penelitian ini adalah kurang lebih 300 WBP dengan menggunakan rumus slovin dengan besar toleransi kesalahan 10%, maka jumlah sampel minimum pada penelitian ini adalah:

n= 300 1+300×0,12

=75

Jadi dari populasi yang diambil sebagai sampel adalah sebanyak 75 Warga Binaan Pemasyarakatan berdsarkan dengan kasus narkoba.

3.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 3.4.1 Tekhnik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah segala sesuatu yang menyangkut bagaimana cara atau dengan apa data dapat dikumpulkan. Di setiap langkah penelitian yang dilakukan atau tentukan penulis menggunakan beberapa teknik dan instrumen penelitian dimana teknik dan instrumen penelitian yang satu dengan yang lainnya saling menguatkan agar data yang diperoleh peneliti dari lapangan benar-benar valid.

Kualitas data ditentukan oleh kualitas alat pengambilan data atau alat pengukurannya. Jika alat pengambilan datanya cukup reliabel dan valid, maka datanya juga akan cukup reliabel dan valid. Namun masih ada satu hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu kualifikasi si pengambil data. Beberapa alat laboratorium juga menuntut dasar pendidikan dan pengalaman tertentu untuk dapat mempergunakannya secara benar. Adapun tekhnik dan instrument yang digunakan dalam pengumpulan data ini :

3.4.1.1 Angket (Kuesioner)

Angket atau kuesioner adalah suatu daftar yang berisikan rangkaian

(50)

30

pernyataan mengenai sesuatu masalah atau bidang yang akan diteliti. Untuk memperoleh data, angket disebarkan kepada responden (orang-orang yang menjawab jadi yang diselidiki), terutama pada penelitian survai.34 Angket berupa pernyataan yang tertulis ditujukan kepada responden atau informan sebagai teknik pegumpulan data yang bersifat informal. Adapun jenis angket yang digunakan peneliti adalah angket tertutup yakni pertanyaan yang disajikan dengan pilihan ganda yang responden dapat memilih salah satu jawaban yang tersedia.

3.4.1.2 Observasi

Observasi atau pengamatan adalah sebuah proses penggalian data yang dilakukan secara langsung oleh peneliti dengan cara melakukan pengamatan terhadap objek penelitian.35 Sehingga dapat menjadi gambaran secara jelas tentang kondisi objek penelitian tersebut.

3.4.1.3 Dokumentasi

Dokumentasi merupakan tekhnik mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya.36 Kegiatan dokumentasi dilakukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian berupa profil, visi & misi, catatan atau arsip tentang pelaksanaan program pembinaan ibadah sholat dan Baca alqur’an di LPKA kelas II Parepare.

Instrumen penelitian yang digunakan dalam skala likert disusun dengan menggunakan check list.

34Cholid Narbuko, Metode Penelitian (Cet. X; Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 76.

35Haris Herdiansyah, Wawancara Observasi dan Fokus Group, Edisi I (Cet. I; Jakarta:

Rajawali Pers, 2013), h. 130-131.

36Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Penelitian Pendekatan Praktek, h. 236.

(51)

No. Pernyataan Jawaban

S KK HTP TP

S = Selalu diberi skor 4

KK = Kadang-Kadang diberi skor 3

HTP = Hampir tidak pernah diberi skor 2

TP = Tidak pernah diberi skor 1

3.5 Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mengatur data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategoridan satuan uraian dasar. Ia membedakannya dengan penafsiran yaitu memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan diantara dimensi-dimensi uraian. Analisis data juga dapat didefinisikan sebagai proses yang merinci usaha formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu. Dengan demikian dapat disintesiskan menjadi: Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dengan alat analisis atau instrumen berupa:

3.5.1 Uji Regresi Linear Berganda

Uji regresi linear berganda merupakan pengembangan dari regresi linear sederhana, yaitu sama-sama alat yang dapat digunakan untuk melakukan prediksi permintaan di masa yang akan datang, berdasarkan data masa lalu atauu untuk

(52)

32

mengetahui pengaruh satu atau lebih variabel bebas (independent) terhadap saatu variabel tak bebas(dependent). Perbedan penerapan metode ini hanya terletak pada jumlah variabel bebas (independent) yang digunakan. Penerapan metode regresi berganda jumlah vaariaabel bebas (independent) yang digunakannlebih dari satu yang mempengaruhi satu variabel tak bebas (dependent).37

Rumus regresi liniear berganda

Keterangan:

Y = Kesadaran Beragama (variabel terikat) 𝑋1= Ibadah shalat

Gambar

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir  2.4 Hipotesis Penelitian
Tabel 4.1 Karakteristik Jenis Kelamin Responden
Tabel 4.2 Karakteristik Pendidikan Terakhir Responden
Tabel 4.4 Saya diajarkan tata cara sholat
+7

Referensi

Dokumen terkait

Teknik kerjasama antara guru dan orang tua yang terjadi di TK Al-Muthmainnah terhadap pembinaan ibadah yang terjadi pada jam sekolah adalah dengan cara yang masih

Skripsi ini membahas tentang Pembinaan Kemampuan Baca Tulis Al-Qur‟an Anak Di Kelurahan Jaya Kota Palopo. Permasalahan pokok yang dikaji didalam penelitian skripsi ini,

Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat diketahui bahwa asatidz/ah telah menerapkan berbagai metode pembelajaran sebagai upaya dalam melakukan pembinaan ibadah shalat di TPA

Hasil penelitian ditunjukkan dengan adanya hasil perhitungan dari aplikasi penilaian latihan pemahaman materi ibadah sholat fardhu dan sunnah menggunakan metode

PENUTUP Mengenai analisis rasio likuiditas sebagai alat untuk mengukur kinerja keuangan yang telah diuraikan dan dibahas pada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai

115 BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Berdasarkan analisis yang telah diuraikan dalam skripsi ini, yang dibahas tentang hubungan bimbingan keagamaan bagi narapidana dengan kesadaran

Hipotesis yang akan diuji adalah: H0 : Tidak terdapat hubungan signifikan antara kegiatan baca Al-Qur‟an sebelum memulai pembelajaran dan kegiatan sholat dhuhur berjamaah dengan

1 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan analisis yang telah diuraikan dalam skripsi ini, yang membahas tentang penerapan literasi al-Qur’an dan pengaruhnya terhadap minat baca