Judul Skripsi: Pengaruh penggunaan media audiovisual (video animasi) terhadap keterampilan bercerita fiksi siswa IV. kelas SDN 52 Welonge Kabupaten Soppeng. Pengaruh penggunaan media audiovisual (video animasi) terhadap keterampilan bercerita fiksi siswa IV. kelas SDN 52 Welonge Kabupaten Soppeng.
Latar Belakang Masalah
Fenomena yang terjadi dalam pembelajaran menceritakan kembali cerita fiksi diperoleh dari wawancara dengan Ibu Ardiana. Penggunaan Media Audio Visual (Video Animasi) dalam Keterampilan Menceritakan Kembali Cerita Fiksi Kelas IV SDN 52 Welonge Kabupaten Soppeng”.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Manfaat Praktis a. Bagi Sekolah,
Kajian Pustaka
- Penelitian yang Relevan
- Keterampilan Berbahasa
- Keterampilan Berbicara
- Cerita Fiksi
- Keterampilan Menceritakan Kembali
Bercerita secara lisan merupakan keterampilan berbicara yang bertujuan untuk menginformasikan kepada pendengar mengenai cerita yang disampaikan narator. Keterampilan menceritakan kembali suatu cerita dapat dikatakan baik apabila menceritakan kembali isi cerita tersebut dilakukan dengan penuh perhatian.
Kerangka Pikir
Ho = Tidak terdapat pengaruh penggunaan media audiovisual (video animasi) terhadap keterampilan menceritakan kembali cerita fiksi siswa kelas IV SDN 52 Welonge Kabupaten Soppeng. H1 = Terdapat pengaruh penggunaan media audiovisual (video animasi) terhadap keterampilan menceritakan kembali cerita fiksi siswa kelas IV SDN 52 Welonge Kabupaten Soppeng.
Populasi dan Sampel
Hal ini dilakukan apabila populasinya relatif kecil atau kecil, kurang dari 30 orang, atau generalisasi yang kesalahannya relatif kecil.” Karena jumlah siswa kelas IV SDN 52 Welonge sebanyak 30 orang, maka sampel penelitian ini sebanyak 30 orang ( seluruh anggota populasi), yaitu 14 laki-laki dan 16 perempuan.
Defenisi Operasional Variabel
Instrument Penelitian
Sangat baik : Penggunaan kata, istilah sangat sesuai dengan tema dan karakter tokoh, terdapat variasi dalam pilihan kata. Baik: Menggunakan kata, istilah sesuai tema dan karakter tokoh, variasi pilihan kata kurang. Lemah: Penggunaan kata, istilah subjek dan karakter tidak tepat, tidak ada perubahan pilihan kata.
Sangat buruk: penggunaan kata, ungkapan tidak sesuai dengan tema dan karakter tokoh, tidak ada variasi pilihan kata. Sangat bagus: isi cerita sesuai, mudah dipahami, alur terkonsep dengan sangat jelas sesuai bagian-bagian yang seharusnya ada. Sangat bagus: Ekspresi wajah, gerakan dan suara sangat tepat sesuai dengan sifat karakter yang dimainkan dan tidak gugup.
Baik : Ekspresi wajah, gerak dan suara sangat sesuai dengan sifat karakter yang diperankan dan rasa gugupnya tidak berlebihan. Buruk: Ekspresi wajah, gerak dan suara sesuai sifat tokoh yang diperankan kurang tepat dan sedikit gugup. Sangat buruk : Mimik, gerak dan suara sesuai sifat tokoh yang diperankan tidak tepat dan membuat gugup.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dokumentasi berupa foto dalam kegiatan pembelajaran menceritakan kembali cerita fiksi melalui media audiovisual (video animasi). Dokumentasi ini berupa foto-foto pada saat proses pembelajaran, berguna untuk mendokumentasikan peristiwa-peristiwa penting sebagai bukti yang memperkuat kegiatan kelas. Menurut Nurgiyantoro (Zahra 2015:34), “tes berbicara adalah suatu cara melakukan penilaian berupa tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh siswa.”
Tes yang kami lakukan pada penelitian ini adalah tes keterampilan berbicara yaitu dengan menceritakan cerita fiksi setelah menonton video animasi di depan kelas.
Teknik Analisis Data
- Statistik Deskriptif
- Hasil Analisis Deskriptif
- Aktivitas Guru dalam Penggunaan Media Audio Visual (Video Animasi)
- Hasil Observasi Respon Siswa
Analisis data deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan atau mendeskripsikan hasil penceritaan kembali cerita fiksi siswa dari yang telah diberi perlakuan dengan media audiovisual (video animasi). Hasil penceritaan kembali cerita fiksi siswa akan dibandingkan dengan hasil sebelum disuguhi dengan media audiovisual (video animasi). Pengujian normalitas data hasil penceritaan kembali cerita fiksi siswa menggunakan uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov pada sistem SPSS Versi 20.0.
Uji hipotesis dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah penggunaan media audio visual (video animasi) berpengaruh terhadap keterampilan menceritakan kembali cerita fiksi siswa kelas IV SDN 52 Welonge. Hasil penelitian ini diperoleh dengan membandingkan tes keterampilan menceritakan kembali cerita fiksi tanpa menggunakan media audio visual (video animasi) sebagai nilai pre-test dengan tes keterampilan menceritakan kembali cerita fiksi menggunakan media audio visual ( video animasi) sebagai hasil setelah tes. Proses pembelajaran menceritakan kembali cerita khayal dengan menggunakan media audio visual (video animasi) dapat dikatakan aktif.
Sedangkan ketika siswa menceritakan kembali cerita fiksi dengan menggunakan media audiovisual (video animasi) (posttest) terdapat 30 siswa yang memperoleh nilai di atas KKM dengan persentase 100%. Data uji normalitas diambil dari nilai pretest dan posttest tes menceritakan kembali cerita fiksi siswa kelas IV. Sehingga diketahui terdapat pengaruh media audiovisual (video animasi) terhadap kemampuan menceritakan kembali cerita fiksi siswa kelas IV SDN 52 Welonge Kabupaten Soppeng.
Pembahasan
Perubahan keterampilan siswa setelah diberikan perlakuan disebabkan oleh penggunaan media audio visual (video animasi) sebagai media untuk membantu seorang guru menyampaikan informasi kepada siswa, yang dituangkan dalam bentuk gambar animasi yang bergerak dan bersuara, sehingga siswa dapat melihat peristiwa nyata (kongkrit) dalam sejarah. Proses pembelajaran dengan menggunakan media audiovisual (video animasi) dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan. Keterlaksanaan pembelajaran menceritakan kembali cerita fiksi dengan menggunakan media audiovisual (video animasi) dapat dikatakan aktif.
Secara deskriptif, hasil menceritakan kembali cerita fiksi pada mata pelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan media audiovisual (video animasi) lebih tinggi dibandingkan dengan membaca teks. Keadaan ini memberikan gambaran bahwa media audiovisual (video animasi) berpengaruh terhadap kemampuan menceritakan kembali cerita fiksi. Dengan demikian dapat diketahui adanya pengaruh penggunaan media audiovisual (video animasi) terhadap kemampuan menceritakan kembali cerita fiksi pada siswa kelas IV SDN 52 Welonge Kabupaten Soppeng.
Respon siswa terhadap pembelajaran menceritakan kembali cerita fiksi dengan menggunakan media audiovisual (video animasi) dapat dikatakan aktif dengan tingkat prestasi belajar sebesar 88,56%. Penggunaan media audiovisual (video animasi) telah terlaksana dengan baik, peneliti menyiapkan media dengan sebaik-baiknya dan mendapat respon yang positif dari siswa, hal ini terlihat dari hasil pengalaman siswa kelas IV di SDN 52 Welonge Kabupaten Soppeng sebelumnya. dan setelah penggunaan media audiovisual (video animasi). Media audiovisual (video animasi) berpengaruh terhadap keterampilan menceritakan kembali siswa kelas IV SDN 52 Welonge.
Saran
Media audio visual (video animasi) berpengaruh terhadap keterampilan menceritakan kembali cerita fiksi dibuktikan dengan hasil penelitian sebelumnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh (Sa’Diah n.d.) Sa’diah (2017) menunjukkan bahwa kelas eksperimen yang menggunakan media audio visual media memperoleh nilai rata-rata lebih tinggi sebesar 88,25 dibandingkan kelas kontrol sebesar 80,80. “Pengembangan Media Pembelajaran Animasi Video Dua Dimensi Situs Pekauman Bondowoso Menggunakan Model Addie untuk Mata Pelajaran Sejarah IPS Kelas X.” Jurnal Pendidikan 5(1):19. Kisah Putri Tandampalik dari Sulawesi Selatan - Animasi Cerita Indonesia (ACI) - YouTube." Diakses tanggal 30 Agustus 2020c (https://www.youtube.com/watch?v=PtdTrGXMAvY&feature=youtu.be).
“Meningkatkan Keterampilan Menceritakan Kembali Cerita Fabel Melalui Teknik Narasi Berpasangan Berbantuan Media Boneka Tangan Pada Siswa Kelas II A SDN Panggang Sedayu.” 372. Struktur dan Nilai Pendidikan Cerita Rakyat di Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat."Tata Bahasa STKIP PGRI Sumatera Barat 1(2). Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Menggunakan Metode Kooperatif Jigsaw di Kelas 4 SDN 1 Jimbung Klaten." Jurnal Pendidikan Dasar 2(1):90.
Peningkatan kemampuan berbicara mahasiswa PgSD pada perkuliahan bahasa Indonesia berbasis pelestarian nilai-nilai karakter dengan menerapkan metode task based Activity dengan media audio visual. 12. Penggunaan media audio visual pada mata pelajaran IPA di SMP Negeri 1 Pacitan.” 18.
KOMPETENSI INTI (KI)
KOMPETENSI DASAR (KD) Bahasa Indonesia
TUJUAN PEMBELAJARAN
Dengan mengamati gambar anak menarik dan mendorong ayunan, siswa dapat menemukan pemahaman yang benar tentang gaya dan gerak. Dengan menuliskan hasil percobaan mendorong dan menarik meja, siswa dapat menuliskan hasil percobaan gaya dan gerak.
MATERI PEMBELAJARAN
PENDEKATAN, METODE DAN MODEL PEMBELAJARAN
SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN
KEGIATAN PEMBELAJARAN
Ketika guru memahami isi cerita dan menemukan tokoh-tokoh dalam cerita, guru mengajak siswa untuk membuat ulang cerita yang dibaca melalui teks selama 3 menit di depan teman-temannya dengan suara nyaring, artikulasi jelas, ekspresif, intonasi yang benar. dan kepercayaan diri. . Pada kegiatan LET'S TALK: Guru menjelaskan bahwa cerita Zlati Dada merupakan salah satu contoh teks fiksi yang berbentuk cerita rakyat. Guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk mencari informasi dari berbagai sumber, seperti bertanya kepada orang yang dirasa mereka kenal.
Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa: “Apa yang dilakukan Udin pada gambar sebelah kiri?” dan “Apa itu. Siswa yang sudah menemukan pengertian gaya dan gerak diajak membacakan temuannya kepada temannya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang pengertian gaya dan gerak jika belum paham.
Siswa kemudian diminta melakukan percobaan untuk mengetahui pengaruh gaya tarik dan dorong terhadap arah gerak suatu benda. Setelah siswa menuliskan hasil diskusinya, siswa diminta untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelompok lain. Dengan melakukan penilaian, guru memberikan tugas kepada siswa untuk mengetahui cerita rakyat lainnya dan mengetahui kegiatan mana yang termasuk gaya dan dorongan.
PENILAIAN 1) Penilaian Sikap
- REMEDIAL
PENGAYAAN
Kompetensi Dasar: 4.9 Menyampaikan secara lisan, tertulis dan visual hasil identifikasi tokoh dalam teks fiksi Narator: 4.9.1 Menceritakan kembali cerita dengan menggunakan cara yang benar. Ia diajak ratunya untuk melihat ketiga anjing yang baru saja dilahirkan oleh lelaki malang itu. Dengan membaca teks cerita fiksi, siswa dapat mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam teks cerita fiksi dengan benar.
Dengan berlatih menceritakan kembali teks cerita fiksi, siswa dapat mengulang cerita dengan artikulasi yang jelas, ekspresif, intonasi yang benar, dan penuh percaya diri. Dengan mengetahui makna dan ciri-ciri teks cerita fiksi, siswa dapat menganalisis makna dan ciri-ciri teks cerita fiksi. Buku Panduan Guru Tema Daerah Tempat Tinggal Saya Kelas 4 (Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).
Tema Buku Siswa : Daerah Tempat Tinggalku Kelas 4 (Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta: Kemendikbud, 2013). Guru menampilkan melalui layar LCD video animasi cerita Putri Tandampalik yang berjenis cerita rakyat fiksi. Setelah menghasilkan hasil percobaan gaya dan gerak, siswa mendiskusikan perbedaan gaya dan gerak dengan anggota kelompoknya.
- Penilaian Keterampilan
Skor kemampuan diambil dari kemampuan menceritakan kembali cerita fiksi dan kemampuan melakukan eksperimen kekuatan dan dorongan. Beliau adalah seorang raja yang adil, bijaksana dan bijaksana, sehingga rakyatnya hidup sejahtera dan damai. Masyarakat Luwu sangat sedih atas penyakit yang diderita putri kesayangannya.
Setelah berpikir dan berunding, Datu Luwu memutuskan untuk membuang putrinya ke tempat yang jauh. Sebelum berangkat, Datu Luwu memberikan sebuah keris pusaka kepada Putri Tandampalik sebagai tanda bahwa ia tidak akan pernah lupa, apalagi membuang anaknya. Setelah mempersiapkan segala perbekalan yang diperlukan, mereka berangkat ke daerah yang jauh dari Kerajaan Luwu.
Setelah kerbau itu menjilat berkali-kali, kulit sang Putri yang mengeluarkan cairan tiba-tiba menghilang tanpa bekas. Hingga saat ini kerbau putih di Pulau Wajo masih diperbolehkan hidup dan berkembang biak secara bebas.