PENGARUH NON PERFORMING FINANCING (NPF), NET IMBALAN (NI), BEBAN OPERASIONAL TERHADAP PENDAPATAN OPERASIONAL (BOPO) TERHADAP
RETURN ON ASSET (ROA) PADA BANK SYARIAH BUMN PERIODE 2015-2019 Siti Nurkholidah1 , Rizky Maulana Pribadi2
Program Studi Akuntansi Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan, Jakarta [email protected]1, [email protected]2
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh Non Performing Financing (NPF), Net Imbalan (NI), Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) baik secara simultan dan parsial pada Return On Asset (ROA) dari bank Syariah BUMN periode 2015-2019. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Annual Report Bank BNI Syariah, Bank BRI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri tahun 2015-2019 dengan analisis regresi linier berganda menggunakan SPSS 20 untuk Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Non Performing Financing (NPF), Net Imbalan (NI) dan Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) secara simultan berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) bank Syariah BUMN. Non Performing Financing (NPF) secara parsial tidak berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) bank Syariah BUMN, Net Imbalan (NI) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return On Asset (ROA) bank Syariah BUMN, Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return On Asset (ROA) bank Syariah BUMN.
Kata Kunci: Non Performing Financing (NPF), Net Imbalan (NI), Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Return On Asset (ROA), bank Syariah BUMN
PENDAHULUAN
Potensi perbankan syariah di Indonesia sangat besar untuk memperkuat dan mengembangkan perbankan syariah dengan mayoritas dari penduduk beragama islam (muslim).
Bank umum konvensional Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membuat anak perusahaan yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah. Hal tersebut sebagai alternatif dari pembiayaan yang terbebas dari bunga karena mengingat krisis moneter yang terjadi di dunia perbankan dengan berkembang pesatnya bank syariah di Indonesia. Namun, market share perbankan syariah di Indonesia belum mencapai angka 10% dibandingkan dengan negara muslim lain seperti negara Malaysia dengan market share perbankan syariahnya mencapai 23,8%, negara Emirat Arab
mencapai 19,6%, dan negara Arab Saudi mencapai 51,1%. Hal tersebut disebabkan oleh pasar perbankan konvensional yang masih luas dan terjangkau oleh masyarakat sehingga persaingan antar bank syariah dengan bank konvensional semakin ketat. Bahkan, Bank Syariah anak perusahaan BUMN bersaing dengan induknya yaitu Bank BUMN Konvensional karena perbedaan prinsip pada kegiatan operasinya.
Berikut ini merupakan perkembangan aset pada Bank Syariah BUMN dan Bank Konvensional BUMN
Sumber : Data diolah 2020 Gambar 1. Perkembangan Aset pada Bank Syariah BUMN dan Bank Konvensional
BUMN Tahun 2015-2019 (Dalam Jutaan Rupiah)
Berdasarkan gambar di atas bahwasanya perkembangan aset pada Bank Konvensional BUMN lebih besar dibandingkan dengan Bank Syariah BUMN dari tahun 2015 sampai tahun 2019. Pada tahun 2015 total aset Bank konvensional BUMN sebesar Rp. 710.755.287, tahun 2016 total aset Bank konvensional BUMN sebesar Rp. 815.675.850, tahun 2017 total aset Bank konvensional BUMN sebesar Rp. 905.491.290, tahun 2018 total aset Bank konvensional BUMN sebesar Rp. 1.008.617.685, dan tahun 2019 total aset Bank konvensional BUMN sebesar Rp. 1.083.999.707. Sedangkan pada Bank Syariah BUMN”pada tahun 2015 total aset Bank Syariah BUMN sebesar Rp. 39.205.874, tahun 2016 total aset Bank Syariah BUMN sebesar Rp. 44.944.362, tahun 2017 total aset Bank Syariah BUMN sebesar Rp. 51. 435.200, tahun 2018 total aset Bank Syariah BUMN sebesar Rp. 59.101.582, dan tahun 2019 total aset Bank Syariah BUMN”sebesar Rp. 68. 465.197. Dengan begitu, jumlah aset Bank Konvensional BUMN dengan Bank Syariah BUMN dari tahun 2015 sampai tahun 2019 perbandingannya jauh, dengan
2015 2016 2017 2018 2019
- 200,000,000 400,000,000 600,000,000 800,000,000 1,000,000,000 1,200,000,000
Bank Syariah BUMN Bank Konven- sional BUMN Tahun
begitu diperlukan adanya perbaikan kinerja keuangan Bank Syariah BUMN agar dapat bersaing dengan Bank Konvesional BUMN.
Menurut (Almunawwaroh & Marliana, 2018) menyatakan bahwa “Profitabilitas merupakan indikator untuk mengukur kinerja suatu bank”. Dengan begitu, pada penelitian ini peneliti menggunakan”variabel Return On Asset (ROA) sebagai tolak ukur”kinerja perbankan syariah. Ini merupakan rata-rata perkembangan ROA pada bank syariah BUMN tahun 2015- 2019.
Keterangan Tahun
2015 2016 2017 2018 2019
BNIS 1.43% 1.44% 1.31% 1.42% 1.82%
BRIS 0.76% 0.95% 0.51% 0.43% 0.31%
BSM 0.56% 0.59% 0.59% 0.88% 1.69%
Rata-rata 0.92% 0.99% 0.80% 0.91% 1.27%
Sumber : Data diolah 2020 Tabel 1. Perkembangan Return On Asset pada Bank Syariah BUMN
Tahun 2015-2019
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa Return On Asset (ROA) pada periode 2015-2019 mengalami kondisi”fluktuatif. Pada tahun 2015 sebesar 0.92%, dan mengalami peningkatan di tahun 2016 dari 0.92% menjadi 0.99% dari tahun sebelumnya. Lalu di tahun 2017 mengalami penurunan dari 0.99% menjadi 0.80% dan mengalami peningkatan kembali di tahun 2018 dari 0.80% menjadi 0.91% dari tahun sebelumnya. Dan pada tahun 2019 mengalami peningkatan dari 0.91% menjadi 1.27%. Dengan begitu, perlu dilakukan langkah perbaikan kinerja untuk meningkatkan Return On Asset (ROA) selanjutnya.
Menurut (Almunawwaroh & Marliana, 2018) bank ketika menyalurkan kredit akan dihadapkan dengan namanya risiko. Risiko kredit di dalam perbankan adalah pembiayaan bermasalah. Yang dimana pembiayaan bermasalah ini dapat disebut Non Performing Financing (NPF). Apabila pembiayaan bermasalah di perbankan syariah semakin rendah maka tingkat dari profitabilitasnya tinggi, sebaliknya apabila pembiayaan bermasalah di perbankan syariah semakin tinggi maka tingkat dari profitabilitasnya rendah. Di dalam penelitian ini peneliti menggunakan Non Performing Financing (NPF) karena merupakan salah satu permasalahan yang harus dihadapi oleh perbankan syariah di dalam menyalurkan kredit kepada pihak nasabah
yang dimana permasalahan kredit ini akan mempengaruhi profitabilitas bank. Hasil penelitian (Moorcy et al., 2020) menunjukan bahwa Non Performing Financing (NPF) berpengaruh positif signifikan terhadap Return On Asset (ROA) yang merupakan indikator dari profitabilitas, Sedangkan hasil penelitian (Riyadi & Yulianto, 2014) menunjukan bahwa Non Performing Financing (NPF) tidak berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA). Oleh sebab itu, terdapat researc gap ini dari penelitian pendahulu maka diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh dari Non Performing Financing (NPF) terhadap Return On Asset (ROA).
Menurut Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 18/SEOJK.03/2015 bahwasanya Net Imbalan (NI) merupakan perbandingan antara pendapatan penyaluran dana setelah bagi hasil dikurangi (imbalan dan bonus) terhadap rata-rata total aset produktif. Menurut Hikmah & Majid (2019) Net Imbalan (NI) akan dapat menunjukan seberapa besar suatu tingkat dari efisiensi suatu bank dalam pengelolaan aktiva produktif. Apabila Net Imbalan (NI) di perbankan syariah semakin tinggi maka tingkat profitabilitasnya tinggi, namun akan semakin tinggi kewajiban dari bagi hasil terhadap pihak nasabah.
Keterangan Tahun
2015 2016 2017 2018 2019
BNIS 8.25% 8.32% 8.10% 7.16% 7.36%
BRIS 6.66% 6.38% 5.84% 5.36% 5.72%
BSM 6.53% 6.16% 7.35% 6.18% 6.02%
Rata-rata 7.15% 6.95% 7.10% 6.23% 6.37%
Sumber : Data diolah 2020 Tabel 2. Perkembangan Net Imbalan pada Bank Syariah BUMN
Tahun 2015-2019
Dari tabel 1.1 menunjukkan bahwa NI pada tahun 2015-2019 mengalami kondisi yang fluktuatif. Pada tahun 2015 sebesar 7.15%, tahun 2016 mengalami penurunan dari 7.15%
menjadi 6.95%, tahun 2017 mengalami peningkatan kembali dari 6.95% menjadi 7.10%, tahun 2018 mengalami penurunan dari 7.10% menjadi 6.23%, dan tahun 2019 mengalami peningkatan dari 6.23% menjadi 6.37%. Dengan begitu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) sebagai pengukur tingkat efesiensi di dalam perbankan syariah di dalam mengelola operasionalnya, yang dimana hal tersebut diukur melalui perbandingan antara biaya operasional perbankan syariah dengan
pendapatan operasional perbankan syariah. Hasil dari penelitian (Wibisono & Wahyuni, 2017) menunjukan bahwa Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh negatif signifikan terhadap Return On Asset (ROA) sedangkan hasil penelitian (Haramain et al, 2018) menujukan bahwa Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA). Oleh sebab itu, terdapat researc gap dari penelitian pendahulu maka perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Return On Asset (ROA).
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka dapat dirumuskan sebuah penelitian yang berjudul “Pengaruh Non Performing Financing (NPF), Net Imbalan (NI), Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Return On Asset (ROA) pada Bank Syariah BUMN periode 2015-2019”.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah agar mengetahui apakah terdapat pengaruh variabel non performing financing, net imbalan, dan beban operasional terhadap pendapatan operasional terhadap return on asset di bank syariah BUMN periode 2015-2019 secara parsial maupun simultan.
METODE PENELITIAN
Di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif yang dimana hasil akhir dari penelitian ini berupa angka-angka yang dapat dianalisis oleh peneliti dengan menggunakan statistik serta bersifat asosiatif yang artinya apakah ada hubungan antar variabel non performing financing (X1), net imbalan (X2), dan beban operasional terhadap pendapatan operasional (X3) sebagai variabel independen terhadap variabel return on asset (Y) sebagai variabel dependen secara parsial maupun simultan. Penelitian ini, peneliti menggunakan objek Bank Syariah BUMN yang termasuk Bank Umum Syariah (BUS) diantaranya bank BNI Syariah, bank BRI syariah dan bank Syariah Mandiri. Operasionalisasi variabel dalam penelitian ini digunakan agar dapat memahami bagaimana variabel independen maupun dependen yang akan digunakan di dalam penelitian. Berikut ini merupakan tabel dari operasionalisasi variabel yang digunakan peneliti di dalam penelitian ini, yaitu:
No Variabel Definisi Indikator 1 ROA (Y) Return On Asset (ROA) merupakan salah satu dari
rasio profitabilitas yang dapat digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan/laba dengan memanfaatkan total aset yang dimiliki. (Nofianti et al., 2015)
ROA = Laba Setelah Pajak x 100%
Rata-rata Total Aset
Rasio
2 Non Performing Financing (X1)
Non Performing Financing (NPF) adalah tingkat risiko yang dihadapi bank (Almunawwaroh &
Marliana, 2018).
NPF dapat dihitung menggunakan rumus:
NPF = Pembiayaan Bermasalah x 100%
Total Pembiayaan
Rasio
3 Net Imbalan (X2)
Menurut Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 18/SEOJK.03/2015 bahwasanya Net Imbalan (NI) merupakan perbandingan antara Pendapatan penyaluran dana setelah bagi hasil dikurangi (imbalan dan bonus) terhadap rata-rata total aset produktif.
NI = Pendapatan Penyaluran dana setelah Bagi hasil – (Imbalan/Bonus) x 100%
Rata-rata Aktiva Produktif
Rasio
4 Beban
Operasional terhadap Pendapatan Operasional
(X3)
Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) merupakan rasio perbandingan antara total beban operasional terhadap total pendapatan operasional (Moorcy et al., 2020).
BOPO = Total Beban Operasional x 100%
Total Pendapatan Operasional
Rasio
Tabel 3. Operasionalisasi Variabel
Pengumpulan data ini menggunakan data sekunder yang dimana data ini didapat secara tidak langsung. Data ini berupa laporan keuangan tahunan pada Bank Syariah BUMN pada tahun 2015 sampai tahun 2019 yang telah dipublikasikan oleh website resmi dari masing-masing Bank Syariah BUMN. Serta pengumpulan data yang berasal dari jurnal-jurnal, buku-buku literatur yang berkaitan dengan judul yang diteliti. Teknik yang digunakan dalam analisis data diantaranya uji asumsi klasik, analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis.
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Uji Asumsi Klasik
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 15
Normal Parametersa,b
Mean 0E-7
Std.
Deviation .07934666
Most Extreme Differences
Absolute .125
Positive .125
Negative -.103
Kolmogorov-Smirnov Z .484
Asymp. Sig. (2-tailed) .974
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Sumber: Output SPSS 20
Tabel 4. Hasil Uji Normalitas
Uji normalitas merupakan salah satu uji asumsi klasik yang dimana uji ini akan dapat mengetahui bahwasanya data yang diolah oleh peneliti berdistribusi normal atau tidak. Dari tabel dapat menunjukan bahwasanya nilai dari Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,974. Ini menunjukkan bahwa data dalam penelitian ini normal. Sebab dikatakan normal adalah nilai dari Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,974. Dengan begitu nilai tersebut lebih dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa uji normalitas yang dilakukan peneliti baik atau layak untuk dilakukan penelitian.
Coefficientsa Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig. Collinearity Statistics
B Std.
Error
Beta Tolerance VIF
1
(Constant) 8.130 .699 11.636 .000
NPF -.026 .034 -.077 -.774 .455 .238 4.202
NI .090 .034 .173 2.633 .023 .538 1.857
BOPO -.084 .009 -.826 -9.878 .000 .334 2.998
a. Dependent Variable: ROA
Sumber: Output SPSS 20
Tabel 5. Hasil Uji Multikolinearitas
Tujuan dilakukannya uji multikolinearitas adalah agar dapat mengetahui ada atau tidak adanya gejala multikolineritas. Untuk mengetahui gejala multikolinearitas atau tidak, apabila semua variabel bebas (independen) memiliki nilai tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10 sehingga variabel tersebut tidak terdapat multikolinearitas. Dapat dilihat dari tabel 5 bahwasanya variabel Non Performing Financing (NPF), Net Imbalan (NI), Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) tidak ditemukannya gejala multikolinearitas. Oleh sebab itu, hasil dari uji ini menunjukan nilai tolerance > 0,10 dan hasil dari uji ini menunjukan nilai VIF nilai < 10,00.
Runs Test
Unstandardized Residual
Test Valuea -.00955
Cases < Test Value 7
Cases >= Test Value 8
Total Cases 15
Number of Runs 7
Z -.521
Asymp. Sig. (2-tailed) .603 a. Median
Sumber: Output SPSS 20
Tabel 6. Hasil Uji Autokorelasi Dengan Run Test
Dilakukan pengujian autokorelasi agar dapat mengetahui apakah terdapat kesalahan penganggu dari periode t-1 atau periode sebelumnya dalam model regresi linear berganda pada periode t. Apabila ditemukan adanya korelasi dari data peneliti maka terdapat masalah autokorelasi. Berdasarkan dari tabel 6 bahwasanya nilai Asymp. Sig. (2-tailed) adalah 0,603.
Sebab dikatakan normal adalah nilai dari Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,603. Dengan begitu nilai tersebut lebih dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa uji autokorelasi yang dilakukan peneliti tidak terdapat masalah autokorelasi.
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
T Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) -.449 .274 -1.640 .129
NPF -.029 .013 -.979 -2.187 .051
NI .008 .013 .179 .600 .561
BOPO .006 .003 .725 1.918 .081
a. Dependent Variable: RES2
Sumber: Output SPSS 20
Tabel 7. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas merupakan uji yang dilakukan untuk mengetahui ketidaksamaan varian di dalam model regresi. Model regresi yang baik dan layak tidak terdapat heteroskedastisitas. Berdasarkan tabel 7 menunjukan bahwasanya nilai NPF memiliki nilai sig. 0,051, NI memiliki nilai sig. 0,561, dan BOPO memiliki nilai sig. 0,081.
Dengan demikian, variabel-variabel tersebut memiliki nilai sig. lebih dari 0,05 (sig > 0,05).
Hasil dari uji tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa tidak adanya gejala heteroskedastisitas di dalam penelitian ini.
2. Analisis Regresi Linier Berganda
Coefficientsa Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 8.130 .699 11.636 .000
NPF -.026 .034 -.077 -.774 .455
NI .090 .034 .173 2.633 .023
BOPO -.084 .009 -.826 -9.878 .000
a. Dependent Variable: ROA Sumber: Output SPSS 20
Tabel 8. Hasil Uji Regresi Linear Berganda
Dari hasil uji di atas didapat nilai koefisien untuk variabel non performing financing (X1) = - 0,026, net imbalan (X2) = 0,090, dan beban operasional terhadap pendapatan operasional (X3) = - 0,084 dengan konstanta sebesar 8,130. Sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut :
Y = a + b1x1+ b2x2 + b3x3
ROA = 8,130 - 0,026 X1 + 0,090 X2 - 0,084 X3
3. Uji Hipotesis
ANOVAa
Model Sum of
Squares
Df Mean Square F Sig.
1
Regression 3.350 3 1.117 139.372 .000b
Residual .088 11 .008
Total 3.438 14
a. Dependent Variable: ROA
b. Predictors: (Constant), BOPO, NI, NPF Sumber: Output SPSS 20
Tabel 9. Hasil Uji F (Simultan)
Tujuan dilakukannya uji secara simultan adalah agar dapat mengetahui pengaruh dari semua data variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Dapat dilihat dari tabel di atas bahwasanya nilai F sebesar 139,372 dan nilai dari Sig. sebesar 0,000. hasil pengujian secara simultan dapat menunjukkan bahwa variabel Non Performing Financing (NPF), Net Imbalan (NI), Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) secara simultan terdapat pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Return On Asset (ROA) karena Ftabel < Fhitung (3,490< 139,372) dan nilai dari Sig. lebih kecil 0,05 (0,000 < 0,05).
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) 8.130 .699 11.636 .000
NPF -.026 .034 -.077 -.774 .455
NI .090 .034 .173 2.633 .023
BOPO -.084 .009 -.826 -9.878 .000
a. Dependent Variable: ROA Sumber: Output SPSS 20
Tabel 10. Hasil Uji T (Parsial)
Tujuan dilakukannya uji secara parsial adalah agar dapat mengetahui variabel independen secara individu berpengaruh terhadap variabel dependen. Tingkat Sig. dari pengujian ini adalah 0,05. Berikut ini analisis dari masing-masing variabel:
H1 : Ha ditolak dan H0 diterima berarti non performing financing tidak berpengaruh signifikan terhadap return on asset.
H2 : H0 ditolak dan Ha diterima berarti net imbalan berpengaruh positif dan signifikan terhadap return on asset.
H3 : H0 ditolak dan Ha diterima berarti beban operasional terhadap pendapatan operasional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return on asset.
SIMPULAN DAN SARAN
Hasil dari pengujian serta analisis yang dilakukan peneliti maka dapat menarik kesimpulan bahwasanya Non Performing Financing (NPF), Net Imbalan (NI), Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) secara simultan berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) bank Syariah BUMN. Non Performing Financing (NPF) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA) bank Syariah BUMN. Hal ini dapat diartikan apabila Non Performing Financing (NPF) mengalami kenaikan maka terdapat pengaruh pada turunnya Return On Asset (ROA), begitu pula sebaliknya. Net Imbalan (NI)
secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return On Asset (ROA) bank Syariah BUMN. Hal ini berarti berapapun kenaikan Net Imbalan (NI) akan berpengaruh terhadap meningkatnya Return On Asset (ROA), begitu juga sebaliknya. Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return On Asset (ROA) bank Syariah BUMN. Hal ini dapat diartikan apabila Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) mengalami kenaikan maka akan berpengaruh pada menurunnya Return On Asset (ROA), begitu sebaliknya.
Dari temuan penelitian, dapat disarankan bagi pihak Bank Syariah BUMN bahwasannya untuk memperhatikan Non Performing Financing (NPF), Net Imbalan (NI), Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) dengan menganalisis Return On Asset (ROA) untuk meningkatkan pangsa pasar pada Bank Syariah BUMN dimasa mendatang. Dan untuk peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat melakukan penelitin yang lebih luas dengan menambahkan jumlah sampel, menambahkan tahun dari penelitian yang akan datang dan memperbaharui periode serta menambah atau mengganti dari variabel independen maupun dependen.
DAFTAR PUSTAKA
Almunawwaroh, M., & Marliana, R. (2018). Pengaruh CAR, NPF dan FDR terhadap profitabilitas bank syariah di Indonesia. Amwaluna: Jurnal Ekonomi Dan Keuangan Syariah, 2(1), 1-17.
Haramain, I., Nanda, T. S. F., & Ismuadi, I. (2020). PENGARUH INFLASI, BOPO DAN PEMBIAYAAN MUDHARABAH TERHADAP PROFITABILITAS PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis Islam, 1(2), 32-51.
Hikmah, I. L., & Majid, M. S. A. (2019). FAKTOR KEUANGAN INTERNAL YANG MEMENGARUHI PERTUMBUHAN QARDHUL HASAN SEBAGAI WUJUD PELAKSANAAN CSR PADA PERBANKAN SYARIAH INDONESIA. JURNAL ILMIAH MAHASISWA EKONOMI ISLAM, 1(1).
Moorcy, N. H., Sukimin, S., & Juwari, J. (2020). PENGARUH FDR, BOPO, NPF, DAN CAR TERHADAP ROA PADA PT. BANK SYARIAH MANDIRI PERIODE 2012- 2019. Jurnal GeoEkonomi, 11(1), 74-89.
Nofianti, N., Badina, T., & Erlangga, A. (2015). Analisis Pengaruh Return on Asset (ROA), Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Suku Bunga, Financing to Deposits Ratio (FDR) dan Non Performing Financing (NPF) Terhadap Tingkat Bagi Hasil
Deposito Mudharabah (Studi Empiris pada Bank Um. Esensi: Jurnal Bisnis dan Manajemen, 5(1).
Riyadi, S., & Yulianto, A. (2014). Pengaruh pembiayaan bagi hasil, pembiayaan jual beli, Financing to Deposit Ratio (FDR) dan Non Performing Financing (NPF) terhadap profitabilitas bank umum syariah di Indonesia. Accounting Analysis Journal, 3(4).
Wibisono, M. Y., & Wahyuni, S. (2017). Pengaruh Car, Npf, Bopo, Fdr, Terhadap Roa Yang Dimediasi Oleh Nom. Jurnal Bisnis dan Manajemen (Journal of Business and Management), 17(1), 41-62.
www.bnisyariah.co.id
www.brisyariah.co.id
www.mandirisyariah.co.id www.ojk.go.id