• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengembangan bahan ajar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pengembangan bahan ajar"

Copied!
194
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Pembelajaran Kimia di SMA

Paradigma baru dalam pembelajaran kimia adalah guru harus membimbing siswa sedemikian rupa sehingga siswa dapat menerapkan ilmu kimia yang diperolehnya dalam kehidupan. Oleh karena itu, langkah yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran kimia, yaitu yang berkaitan dengan motivasi belajar siswa, kemampuan siswa, dan karakteristik zat kimia yang akan diajarkan kepada siswa.

Pentingnya Pendidikan Kewirausahaan

14Endang Mulyani, Model Pendidikan Kewirausahaan pada Pendidikan Dasar dan Menengah, Jurnal Ekonomi & Pendidikan, jilid 8 nomor 1, april 2011. 17Endang Mulyani, Model Pendidikan Kewirausahaan pada Pendidikan Dasar dan Menengah, Jurnal Ekonomi & Pendidikan, jilid 8 nomor 1, april 2011.

Tabel 1. Nilai-nilai kewirausahaan
Tabel 1. Nilai-nilai kewirausahaan

Penerapan Pendidikan Kewirausahaan

Pengintegrasian pendekatan chemo-enterpreneurship (CEP) ke dalam pengembangan kecakapan hidup siswa dapat dilakukan melalui pengembangan bahan ajar. 43Ika Lestari, Pengembangan bahan ajar berbasis kompetensi (sesuai kurikulum tingkat satuan pendidikan), (Padang: Akademia Permata, 2013).

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

Model-model Pengembangan

Pada tahap ini guru atau tim pengembangan menentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai siswa setelah melaksanakan proses pembelajaran. Pada tahap ini guru atau tim pengembangan mengidentifikasi strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Gambar 1. Desain Pengembangan Model ADDIE 1.  Langkah 1. Analisis (Analysis.)
Gambar 1. Desain Pengembangan Model ADDIE 1. Langkah 1. Analisis (Analysis.)

Bahan Ajar

Dengan cara ini, siswa dapat mengetahui jawaban yang benar dari setiap pertanyaan dalam bahan ajar.

Modul sebagai Bahan Ajar

Bahan ajar berbasis Chemo-Entrepreneurship (CEP) sebagai implementasi pendidikan kecakapan hidup termasuk dalam jenis bahan ajar visual yaitu berupa modul Kimia kelas XI tentang asam dan basa. 57Nurhadi, Pembelajaran Kontekstual (CTL) dan Penerapannya dalam KBK, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2012).

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Konsep Pembelajaran Kontekstual

Tujuan pembelajaran kontekstual dalam proses pendidikan adalah membantu siswa melihat makna dari materi yang dipelajarinya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem pembelajaran kontekstual akan membimbing siswa pada seluruh komponen penting pembelajaran kontekstual, yaitu melakukan pekerjaan yang bermakna, berkolaborasi, memelihara hubungan yang bermakna, mengelola metode belajar sendiri, menjaga kepribadian siswa, berpikir kritis dan kreatif, menggunakan untuk membuat penilaian nyata dan mencapai standar yang tinggi.57 Dengan menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran, siswa dapat memperluas, mengkonsolidasikan dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dari berbagai mata pelajaran di sekolah dan di luar sekolah. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep pembelajaran yang menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan melatih siswa untuk mampu menghubungkan pengetahuan yang diperolehnya selama kegiatan pembelajaran dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Berbagai teori pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual adalah teori pembelajaran konstruktivis Piaget dan teori pembelajaran Dienes. Sedangkan menurut Dienes, suatu konsep materi dapat dipelajari dengan baik apabila dimulai dari objek-objek konkrit yang berbeda.59 Untuk melaksanakan pembelajaran kontekstual dengan baik, guru perlu meningkatkan kemampuannya dalam menguasai berbagai pendekatan pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran. , sedangkan guru berperan sebagai fasilitator yang harus selalu mempunyai kendali terhadap proses kegiatan pembelajaran.60.

Karakteristik Pembelajaran Kontekstual

64Endah Tri Priyatni, Penerapan Konsep dan Prinsip Belajar Mengajar serta Pembelajaran Kontekstual dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia.

Komponen Pembelajaran Kontekstual

Kegiatan bertanya bagi siswa juga penting agar siswa dapat menggali informasi yang belum diketahui dan mengkonfirmasi apa yang telah diketahuinya. Bertanya merupakan keterampilan dasar yang dikembangkan dalam pembelajaran kontekstual dan berkaitan dengan kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa. Dalam komunitas belajar, kelompok belajar dibentuk agar siswa dapat berdiskusi atau belajar bersama dengan teman lainnya.

Dalam pembelajaran kontekstual, guru tidak hanya dijadikan sebagai model, namun siswa juga dapat berperan aktif sebagai model. Refleksi merupakan suatu proses berpikir mengkaji dan menyikapi suatu peristiwa, kegiatan atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran untuk mengidentifikasi hal-hal yang belum diketahui dan sudah diketahui, memotivasi munculnya ide-ide baru dan memberikan masukan untuk perbaikan.

Langkah-Langkah Pembelajaran Kontekstual 61

Pembelajaran kontekstual menekankan pada penilaian dalam proses pembelajaran sehingga data dan informasi yang dikumpulkan diperoleh dari aktivitas yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran, dan bukan hanya dari aktivitas yang berkaitan dengan nilai. Pembelajaran kontekstual merupakan model pembelajaran yang inovatif, karena konsep model pembelajaran kontekstual selalu menghubungkan materi yang diajarkan dengan pengalaman kehidupan nyata siswa, sehingga siswa dapat menemukan sendiri hakikat dan manfaat belajar. Dengan cara ini siswa akan lebih rajin dan termotivasi dalam belajar dan hasil belajar siswa dapat meningkat.

Pembelajaran kontekstual lebih baik dibandingkan pembelajaran konvensional.69 Selain itu, pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dan hasil belajar kognitif siswa. 70.71 Hal ini sesuai dengan penelitian Frank & Barzilai (2006), bahwa melalui penerapan pembelajaran kontekstual, siswa dapat memperoleh pengetahuan interdisipliner dan siswa dapat menghasilkan lebih dari satu alternatif pemecahan masalah dan siswa dapat merasakan manfaat kerja tim.72.

Pendekatan Chemo-entrepreneurship (CEP)64

95 Departemen Pendidikan Nasional, Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup melalui Pendekatan Pendidikan Komprehensif, (Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 2002). Jadi, pendidikan kecakapan hidup harus mampu mencerminkan nilai-nilai kehidupan nyata dalam proses pembelajarannya, sehingga peserta didik dapat memiliki kecakapan hidup, sehingga peserta didik siap hidup di masyarakat. 97Agus Hasbi Noor, “Pendidikan Kecakapan Hidup di Pondok Pesantren untuk Meningkatkan Kemandirian Santri,” Jurnal Pemberdayaan.

Mengembangkan potensi siswa agar siswa memiliki kecakapan hidup dan mampu memecahkan permasalahan kehidupan dalam kehidupan sehari-hari. Proses pengembangan kecakapan hidup dapat dilakukan melalui beberapa metode yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kecakapan hidup.

Materi Larutan Asam Basa

Materi teori asam basa dapat dijelaskan melalui pendekatan Chemo-Entrepreneurship (CEP), yaitu dari contoh asam basa dalam kehidupan sehari-hari. Pada modul asam basa menggunakan Chemo-Entrepreneurship Approach (CEP) dapat ditunjukkan contoh asam seperti metanol yang merupakan bahan dasar pembuatan parfum. Pada modul asam basa dengan pendekatan Chemo-Entrepreneurship (CEP), dapat ditampilkan contoh asam lemah seperti asam asetat yang terdapat pada cuka sari apel.

Produk kimia berbahan asam basa yang dapat melatih kecakapan hidup siswa dapat melatih kecakapan hidup siswa. “Pengembangan Modul Pembelajaran Kimia (CEP) SETS Berorientasi Chemo-Entrepreneurship pada Materi Pelarut Asam Basa.” Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol 10, No.

Tabel 2. Asam Basa Bronsted-Lowry
Tabel 2. Asam Basa Bronsted-Lowry

METODE PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

Rancangan Model Pengembangan

Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan bahan ajar berbasis chemo-enterpreneurship (CEP) sebagai implementasi pendidikan kecakapan hidup adalah model pengembangan ADDIE. Tahap ini dilakukan untuk menetapkan acuan dasar dalam pengembangan bahan ajar, yaitu dengan melakukan penilaian kebutuhan dan analisis tugas. Tahapan ini dilakukan untuk membuat desain produk agar produk yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik.

Kegiatan yang dilakukan adalah mengorganisasikan produk yang dihasilkan sesuai peran atau fungsinya agar produk tersebut dapat dilaksanakan. Tahapan ini dilakukan untuk melihat apakah bahan ajar yang dikembangkan berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak.

Uji Coba Produk

Setelah produk siap, produk dapat diuji pada kelompok besar kemudian dievaluasi dan direvisi hingga menghasilkan produk yang siap didistribusikan. Peran ahli materi adalah menilai kesesuaian bahan ajar (modul) sesuai dengan sasaran pengguna bahan ajar (modul) yang berkaitan dengan: Kesesuaian materi modul dengan kompetensi inti, kompetensi dasar dan indikator pembelajaran, Kebenaran substansi materi ditinjau dari aspek keilmuan, Kesesuaian tiap materi dalam modul, Kegunaan gambar dan ilustrasi untuk menjelaskan konsep/materi, Kesesuaian soal latihan dengan materi dan tujuan pembelajaran, Kesesuaian isi modul dengan Kemo-kewirausahaan ( Pendekatan CEP) dan pendidikan kecakapan hidup, Kejelasan istilah yang digunakan dalam modul, Kesesuaian modul dengan kebutuhan peserta didik, Penggunaan arahan dan petunjuk yang jelas sehingga tidak menimbulkan multitafsir, dan Penggunaan referensi atau sumber referensi. Peran ahli media adalah menilai kesesuaian bahan ajar (modul) yang berkaitan dengan: Ketertarikan desain sampul dan gambar, Kesesuaian jenis dan ukuran huruf, Keterbacaan teks dan tulisan, Kesesuaian kombinasi warna, Kejelasan tampilan ilustrasi , Daya tarik gambar yang ditampilkan, dan Kesesuaian tata letak isi buku.

Evaluasi ahli media dilakukan dengan menggunakan angket/instrumen evaluasi materi pendidikan kaitannya dengan desain materi pendidikan (modul).

Jenis Data

Instrumen Pengumpulan Data

Kuesioner umum dapat digunakan untuk memperoleh data umum tentang kehidupan seseorang, sedangkan kuesioner khusus digunakan untuk memperoleh data spesifik tentang kehidupan seseorang. Berdasarkan cara penyampaian kuesionernya, kuesioner dibedakan menjadi dua, yaitu kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. Kuesioner langsung disampaikan langsung kepada responden tentang diri mereka sendiri, sedangkan kuesioner tidak langsung disampaikan kepada responden tentang orang lain.

Kuesioner terstruktur mempunyai alternatif pilihan jawaban, sedangkan kuesioner tidak terstruktur tidak mempunyai alternatif pilihan jawaban sehingga setiap responden mempunyai jawaban yang berbeda-beda. Pada kuesioner terbuka, responden bebas menjawab sesuai pendapatnya, sedangkan pada kuesioner tertutup, responden harus menjawab sesuai jawaban yang diberikan.

Teknik Analisis Data

Bab ini akan menguraikan proses pengembangan produk pembelajaran berupa modul kimia kelas XI berbasis Chemo-Entrepreneurship pada materi pelarut asam basa. Pengembangan modul kimia berbasis kimia ini menggunakan model ADDIE dengan tujuan melakukan beberapa tahapan antara lain analisis, perancangan bahan pembelajaran (Design), pengembangan bahan pembelajaran (Development), pelaksanaan bahan pembelajaran (Implementation) dan evaluasi (Evaluation). ) bahan ajar. Pada tahap ini dapat dikembangkan modul yang sesuai dengan rancangan awal, misalnya modul kimia kelas XI berbasis Chemo-Entrepreneurship pada materi asam basa untuk melatih pendidikan kecakapan hidup siswa.

“Pengembangan Bahan Ajar Kimia (CEP) Berorientasi Kemo-Kewirausahaan untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Kecakapan Hidup Siswa.” Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol. Siswa Calon Guru Kimia dengan Pembelajaran Praktek Kimia Dasar Berorientasi Kemo-Kewirausahaan.” Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia.

Tabel 17. Konversi Tingkat Kelayakan Bahan Ajar 127 Tingkat Pencapaian Kualifikasi Keterangan
Tabel 17. Konversi Tingkat Kelayakan Bahan Ajar 127 Tingkat Pencapaian Kualifikasi Keterangan

PROSES PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

Proses Pengembangan Modul Kimia berbasis

Cakupan materi yang dibahas dalam modul lebih terfokus dan terukur serta lebih menekankan pada aktivitas belajar siswa, seluruh materi yang disampaikan disajikan dengan bahasa yang komunikatif. Telah dikembangkan modul pembelajaran kimia berbasis Chemo-Entrepreneurship sesuai prinsip pembelajaran kontekstual, yang didalamnya ditambahkan gambaran desain biaya produksi pada pembuatan produk kimia yang dapat menjadi suatu usaha di bidang kimia. Selanjutnya peneliti menganalisis KI dan KD pada kelas XI yaitu materi larutan asam basa untuk merumuskan tujuan pembelajaran.

KD.3.10 Menganalisis sifat-sifat larutan berdasarkan konsep asam basa dan pH larutan yang sesuai untuk menentukan keasaman asam basa. Tahap selanjutnya adalah melaksanakan kegiatan mengumpulkan referensi-referensi yang akan digunakan dalam menyusun dan mengembangkan materi dan soal-soal dalam modul. Materi dalam modul dapat diketik sesuai format yang diinginkan pengembang, misalnya menggunakan format Comic San MS Microsoft Word 2010.

Pendekatan Chemo-Entrepreneurship dalam modul dapat dilihat pada uraian singkat prinsip kerja dan tugas perencanaan produk.

Tabel 18. Bagian-bagian modul kimia berbasis chemo- chemo-entrepreneurship
Tabel 18. Bagian-bagian modul kimia berbasis chemo- chemo-entrepreneurship

Produk kimia dalam materi asam basa

Sabun tangan merupakan salah satu jenis sabun cair yang sangat umum ditemukan di berbagai tempat. Sabun tangan merupakan salah satu toilet atau sarana cuci tangan yang sering disediakan di rumah tangga maupun di berbagai layanan publik seperti mall (mal), restoran, hotel, dan rumah sakit. Selain itu, sabun tangan juga sangat efektif membersihkan tangan dari bakteri berbahaya, masyarakat kini semakin sadar bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati penyakit.

Oleh karena itu di berbagai tempat kita selalu diajarkan tentang pentingnya mencuci tangan dengan sabun tangan atau sabun lainnya, terutama sebelum menyajikan makanan, sebelum makan, setelah ke toilet, dan setelah memegang hewan. Selain itu, analisis ekonomi terhadap produksi produk juga harus ditampilkan, misalnya analisis ekonomi terhadap produksi produk tabir surya dan sabun tangan.

Gambar 10. Sabun Cuci Tangan https://sites.google.com/a/
Gambar 10. Sabun Cuci Tangan https://sites.google.com/a/

Kualitas Bahan Ajar atau Modul Berbasis

Evaluasi terhadap materi pembelajaran juga penting dilakukan agar pengembang dapat memahami kualitas produk yang dikembangkan. Pengaruh Pendekatan Chemo-Entrepreneurship Terhadap Sikap Siswa Terhadap Pelajaran Kimia Dan Minat Berwirausaha." Journal of Science Education, 2016. Pengaruh Penggunaan Pendekatan Chemo-Entrepreneurship (CEP) Terhadap Sikap Siswa Terhadap Pelajaran Kimia Dan Minat Berwirausaha. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia.

Supartono, Pembelajaran Kimia Saptorin Menggunakan Kolaborasi Konstruktif dan Inkuiri Berorientasi Chemo-Entrepreneurship. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol 3, No. Penerapan Chemo-Entrepreneurship Oriented Learning (CEP) terhadap Kreativitas Siswa SMA Modern Pondok Selamat pada Materi Kelarutan dan Ksp.” Jurnal Tadris Kimiya.

PENUTUP

Gambar

Tabel 1. Nilai-nilai kewirausahaan
Gambar 1. Desain Pengembangan Model ADDIE 1.  Langkah 1. Analisis (Analysis.)
Gambar 2. Desain Pengembangan Model Kemp
Gambar 3. Desain Pengembangan Model Dick & Carey a.  Identifikasi Tujuan ( Identity Instructional Goals)
+7

Referensi

Dokumen terkait

gvneyei ingvb BwZnvm wefvM, ivRkvnx wek¦we`¨ vjq cÖ‡dmi W.. gybZvmxi gvgyb BwZnvm wefvM, XvKv