A. Pengertian Bimbingan
1. Donald G. Mortenson (1964) mengemukakan pengertian tentang bimbingan sebagai berikut :
“As that part of the total educational program that helps provide the personal opportunities and specialized staff service by which earch individual can develop to the fullest of his abilities and capacities in tems on the democratic ideal”
Dari definisi tersebut dapat ditarik beberapa pengertian inti bahwa : a. Bimbingan merupakan bagian dari program pendidikan.
b. Bimbingan merupakan bantuan dan kesempatan bagi setiap orang.
c. Bimbingan diberikan oleh petugas-petugas yang mempunyai keahlian.
d. Dengan bimbingan diharapkan setiap individu dapat berkembang sesuai dengan kemampuannya.
e. Dasar bimbingan adalah cita-cita demokrasi.
2. Crow and crow (1960) mengartikan bimbingan sebagai berikut :
“assistance mode available by personality qualified and adequately trained men or women to an individual of any age to help him manage his own life actifities, develop his points of view, make his own decisions and carry his own burdens”
Dari definisi tersebut dapat ditarik beberapa unsur-unsur pengertian bimbingan sebagai berikut :
a. Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan oleh seseorang laki-laki atau perempuan.
b. Bimbingan diberikan oleh seseorang yang mempunyai kepribadian yang memadai dan terlihat dengan baik.
c. Bimbingan diberikan kepada individu.
d. Bimbingan diberikan kepada individu tanpa memandang unsur.
e. Bimbingan diberikan agara klien memperoleh kemandirian dalam membuat rencana dan membuat keputusan-keputusan.
f. Bimbingan bertujuan agar klien bertanggung jawab terhadap atas keputusan- keputusan yang dibuat.
3. Mortensen &Schmuller (1976) menyatakan bimbingan sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang menyediakan kesempatan-kesempatan pribadi dan layanan staf ahli dengan cara mna setiap individu dapat mengembangkan
kemampuan-kemampuan dan kesanggupannya sepenuh-penuhnya sesuai dengan ide- ide demokrasi.
4. Miller (1961) mengemukakan pendapatnya mengenai bimbingan sebagai suatu bantuan yang diberikan pada individu agar mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri sehingga mampu melakukan penyesuaian diri secara efektif terhadap sekolah, lingkungan keluarga maupun masyarakat.
5. Prayitno & Erman Amti (1994) menyatakan bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu baik anak-anak, remaja, maupun dewasa, agar orang yang dibimbing dapat menguntungkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu dan saran yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
6. W.S. Winkel (1991) mengemukakan pengertian bahwa bimbingan di sekolah adalah bidang khusus dalam keseluruhan kegiatan sekolah. Yaitu bidang yang memberikan pelayanan spesial oleh ahli-ahli bimbingan dan sekaligus menciptakan saluran-saluran bagi pelayanan tersebut. (misal: wawancara penyuluhan, bimbingan kelompok). Dengan demikian diharapkan setiap murid dapat berkembang kearah mencapai perkembangan yang semaksimal mungkin, mengingat kemampuannya dan minatnya.
Dari beberapa definisi diatas dapat kita simpulkan mengenai unsur-unsur pengertian bimbingan yaitu :
1. Bimbingan merupakan proses yang
berkelanjutan. Hal ini mengandung makna bahwa kegiatan bimbingan bukanlah merupakan kegiatan yang dilakukan secara kebetulan, insindental, sewaktu-waktu ataupun asal saja, melainkan suatu kegiatan yang dilakukan dengan sengaja, berencana, sistematis, terus menerus dan terarah.
2. Bimbingan merupakan proses pembantu
individu. Ini berarti bahwa kegiatan bimbingan bukan merupakan suatu paksaan, melainkan bersifat kerja sama secara demokratis antara klien dan pembimbing.
3. Bantuan bimbingan diberikan kepada
setiap individu yang memerlukan dalam rangka memecahkan masalah yng dihadapinya.
Pemberian bantuan ini diberikan baik kepada anak-anak maupun orang dewasa, dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.
4. Bantuan diberikan agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan potensi atau kemampuannya.
5. Tujuan bimbingan adalah agar orang
yang dibimbing mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, baik lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
6. Dalam pelaksanaan bimbingan diperukan
adanya petugas-petugas yang memiliki keahlian dan pengalaman khusus dalam bidang bimbingan.
B. Hakekat Bimbingan
Berdasarkan unsur-unsur pengertian bimbingan diatas, selanjutnya bila diterapkan dalam bidang pendidikan atau sekolah, maka dapat ditarik kesimpuan secara khusus mengenai hakekat bimbingan disekolah.
Secara umum hakekat bimbingan dalam pendidikan disekolah ialah proses memberikan bantuan kepada para siswa denagn memperhatikan kemungkinan-kemungkinan dan kenyataan-kenyataan tentang kesulitan yang dihadapinya dalam rangka perkembangannya yang optimal sehingga mereka dapat memahami diri, mengarahkan diri dan bertindak serta bersikap sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah dan masyarakat. Denagn demikian bimbingan disekolah berdasar atas dan terarah pada pencapaian tujuan pendidikan disekolah itu sendiri
Dapat pula dinyatakan bahwa hakekat bimbingan dalam pendidikan disekolah adalah proses memberikan bantuan kepada siswa agar dia, sebagai pribadi memiliki pemahaman yang benar akan diri pribadinya dan akan dubia sekitarnya, mengambil keputusan untuk melangkah maju secara opttimal dalam perkembangannya, dan dapat menolong dirinya sendiri dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalahmuya. Semua ini demi tercapainya penyesuaian yang sehat dan memajukan kesejahteraan mentalnya.
Hakekat bimbingan pendidikan disekolah dalam memberikan bantuannya berupa bantuan :
1. Sebagai siswa yang pribadi.
2. Untuk memahami diri serta lingkungan sekitar.
3. Untuk mengambil keputusan agar bisa melangkah maju dalam perkembangan.
4. Untuk menolong dirinya sendiri.
5. Untuk memperoleh penyesuaian yang sehat.
6. Untuk memajukan kesejahteraan mental.
C. Pengertian Konseling
Konseling sebagai suatu usaha tidak dapat dilepaskan dari usaha pendidikan yang lain.
Konseling mempunyai peranan dan fungi yang sangat penting dalam menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Dapat dikatakan bahwa layanan konseling disekolah sejalan dengan layanan bimbingan, oleh karenanya perlu mendapat tempat yang wajar sesuai dengan peranan dan fungsi tersebut.
Untuk dapat memperoleh pengertian secara jelas serta memperoleh gambaran yang lebih luas, perlu kiranya ditelaah beberapa pendapat dari para ahli :
1. Rogers (1942)mengemukakan pendapatnya tentang konseling sebagai berikut :
“Counceling is a series of direct contacts with the individual which aims to offer him assistance in changing his attitude and behavior..”.
Dalam pengertian tersebut Rogers menyatakan bahwa konseling merupakan rangkaian-rangkaian kontak atau hubungan secara langsung dengan individu yang tujuannya memberikan bantuan dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.
2. Mortensen dan Schmuller (1964) mengajukan konseling sebagai berikut :
“Counceling may, thers fore, be defined as a person proces in which one person is helped by another to increase in understanding and ability to meet his problems”
Definisi dari mortensen dan Schmuller menyatakan bahwa konseling adalah suatu proses interaksi antara seorang dengans seseorang, orang yang satu dibantu oleh yang lain, bantuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan kesanggupan menghadapi masalah
3. James p. Adams (1965) dalam bukunya problem in counseling mengemukakan sebagai berikut:
“counseling is an interakting relation ship between two individuals where one, the counselor, is atteemping to help the other the counselor to better umderstand him self in relation ship ti his present and future problem”.
Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa konseling adalah suatu pertalian atau hubungan antara setimbal balik antara dua individu. Yang seorang sebagai konselor membantu yang lain sebagai komseli agar supaya komseli dapat memahami dirinya secara lebih baik dalam hubungannya dengan masalah hidup yang dihadapi baik pada saat ini maupun waktu yang akan datang.
4. Robinson (1950) dalam buku prinsiples and procedures in student counseling memberikan pengertian:
"The term counseling cover alltypes of two-person situations im which one person, one client, is helpedto adjust more effectively to himself and to his environment".
Dalam hal ini Robinson berpendapat bahwa istilah konseling meliputi semua bentuk situasi hubungan antara dua orang yang satu sebagai klien yang dibantu untuk memperoleh penyesuaian yang lebih efektif baik penyesuaian terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan.
5. Prayitno dan Ernan Amti (1994), mengemukakan bahwa konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.
Apabila dibandingkan pendapat maupun definisi-definisi di atas nampak adanya perbedaan-perbedaan. Akan tetapi sebenarnya perbedaan tersebut sebenarnya mempunyai persamaan yang mendasar. Di tinjau dari segi persamaan ini dapatlah disimpulkan bahwa konseling akan mempunyai ciri-ciri pokok sebagai berikut:
1. Adanya suatu dialog langsung antara dua individu, yaitu antara konseler yang memberikan bantuan dan klien yang memerlukan bantuan.
2. Adanya suatu persiapan dan perencanaan yang sistematis serta mantap dalam melakukan kegiatan konseling.
3. Adanya masalah yang dihadapi klien yang tidak dapat dipecahkan sendiri.
4. Klien yang mempunyai masalah benar-benar memerlukan pertolongan, serta mempunyai kesiapan untuk memecahkan masalahnya dengan bantuan konseler.
5. Adanya suatu hubungan yang baik, saling menghargai dan menghormati hingga timbul saling kepercayaan.
6. Konseler berdaya upaya untuk menimbulkan potensi dan mengembangkan kemampuan klien, agar timbul dorongan yang lebih besar serta sanggup mengatasi masalahnya sendiri.
Dengan memahami ciri-ciri konseling diharapkan dalam pelaksanaan dapat diusahakan secara benar, dihindarkan hal-hal yang akan menghambat jalannya konseling serta dihindarkan kemungkinan terjadinya salah pengertian.Dari ciri-ciri tersebut dapat dipahami bahwa konseling merupakan suatu bentuk wawancara psikologis yang tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang.