Dari beberapa definisi di atas dapat dilihat bahawa intipati jual beli adalah perjanjian untuk menukar barang atau barang yang mempunyai nilai. Jual beli dalam pengertian umum ialah perjanjian untuk menukar sesuatu yang tidak mendatangkan faedah dan kesenangan. Nabi Muhammad Shallallahu “alayhi wasallam” melarang jual beli hushah dan jual beli gharar” (Riwayat Baihaqi).13.
Di antara dalil-dalil (asas syariah) yang membenarkan amalan akad jual beli ialah QS berikut. Maksudnya: Janganlah dipisahkan dua orang yang berjual beli sehingga mereka berpuas hati (rekod Abu Daud dan Tirmidzi). Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi ini menjadi bukti kesahihan jual beli secara umum.
Rasulullah SAW ditanya tentang penghidupan yang baik, baginda menjawab: Seseorang itu bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli itu menguntungkan." Maksud mabrur dalam hadis di atas ialah jual beli, menjauhi manusia yang cuba menipu dan membahayakan orang lain. .
Rukun dan Syarat Jual Beli
Penjual dan pembeli
Menurut syariah, jual beli merupakan salah satu cara pemenuhan keinginan dan kebutuhan manusia, karena pada prinsipnya manusia tidak dapat hidup tanpa adanya kontak dan bantuan orang lain. Setelah syarat-syarat tersebut terpenuhi maka jual beli dapat berlangsung dan harus selalu berdasarkan kesepakatan antara penjual dan pembeli. Sedangkan yang dimaksud dengan kemauan sendiri, bahwa dalam melakukan perbuatan jual beli itu salah satu pihak tidak melakukan tekanan atau paksaan terhadap pihak lain, sehingga pihak yang lain tidak melakukan perbuatan jual beli itu atas kemauannya sendiri, namun disana mengandung unsur paksaan.
Keadaan tersebut tidak berlebihan, yaitu pihak yang mengikatkan akad jual beli bukanlah orang yang mubazir (mubazir), karena orang yang menurut hukum boros termasuk dalam kategori orang yang tidak cakap bertindak. Syarat selanjutnya mengenai orang/orang yang melakukan perbuatan hukum jual beli adalah baligh atau dewasa. Para ulama fiqh sepakat bahwa unsur terpenting dalam jual beli adalah kemauan kedua belah pihak, kesediaan kedua belah pihak untuk menerima.
Apabila ija>b qabu>l dilafazkan dalam akad jual beli, pemilik barang atau wang telah menggantikan pemilik asal. Apabila ditanya perniagaan mana yang lebih baik, Rasulullah bersabda: "Perniagaan manusia dengan tangannya dan jual beli itu berjaya". Ulama telah bersepakat untuk mengecualikan kewajipan ija>b-qabu>l untuk menjual dan membeli barang-barang yang bernilai kecil yang biasanya berlaku dalam memenuhi keperluan harian, seperti membeli dan menjual sebungkus rokok.
7) Mengetahui (melihat), barang yang diperjualbelikan harus dapat diketahui jumlah, berat, takaran atau ukurannya, maka tidak sah jual belinya sehingga menimbulkan keragu-raguan salah satu pihak.
Objek Jual Beli
Ma'qu>d'alayh wajib hadir, tidak boleh membuat perjanjian pada perkara yang tidak ada atau dikhuatiri tidak ada, dan penjual menyatakan kesediaannya menerima pasal41, kerana jual beli buah-buahan yang telah belum muncul, atau membeli dan menjual haiwan muda yang masih dalam kandungan. Secara umumnya hujah yang digunakan adalah sama dengan hujah Imam Bukhari dan Muslim bahawa Rasulullah SAW melarang jual beli buah-buahan yang belum nampak buahnya. Terma dan syarat am adalah syarat yang berkaitan dengan semua bentuk jual beli dan yang telah ditetapkan oleh syara'.
Syaratnya hanya satu, yaitu akad jual beli harus lepas atau bebas dari khiya>r' (pilihan), yaitu menyangkut kedua belah pihak yang berakad dan akan menyebabkan batalnya akad. Objek transaksi harus ada pada saat kontrak dibuat. Tidak sah melakukan transaksi terhadap barang yang tidak ada, misalnya menjual susu yang masih diperah. Tidak diperkenankan menjual barang milik orang lain atau yang berada di alam bebas.
Para Fuqaha sepakat bahwa haram hukumnya jual beli barang yang tidak ada pada saat bertransaksi, seperti menjual buah yang belum asli (belum berbuah, serta belum jelas untung dan ruginya karena masih terlalu dini). untuk menjual). Rasulullah SAW melarang jual beli yang mengandung gharar (penipuan) sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari riwayat Abu Hurairah R.A. Contoh bentuk jual beli properti (mal) yang bermanfaat adalah jika Anda melakukan transaksi “Saya akan menjual rumah ini kepada Anda dengan pembayaran mobil ini, atau “Saya akan menjual pena ini kepada Anda dengan harga tersebut”.
Oleh karena itu, haram bertransaksi dengan sesuatu yang bukan sepenuhnya milik penjual (bai') pada saat terjadinya transaksi jual beli. D). Penetapan syarat di atas berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang mengharamkan jual beli gharar (yang mengandung unsur penipuan). e). 3) Jual beli tersebut tidak diartikan sebagai perbuatan melawan hukum seperti memperdagangkan barang curian, barang sitaan, atau jual beli yang dilakukan karena paksaan.
Termasuk unsur terpenting dalam jual beli adalah nilai tukar barang yang dijual (untuk saat ini adalah uang). Mengenai masalah nilai tukar ini, para ulama fiqih membedakan at-tsaman dengan al-si'r, menurut mereka at-tsaman adalah harga pasar yang berlaku di masyarakat saat ini, sedangkan al-si'r adalah modal barang. yang harus diperoleh pedagang sebelum dijual kepada konsumen (pengguna). Harga rusak di tempat akad sebelum diadakan : . a) Apabila benda itu berupa uang, maka akadnya tidak batal karena dapat digantikan dengan yang lain. . b) Jika harga tersebut menggunakan barang yang dapat rusak dan tidak dapat diganti pada saat itu, menurut ulama Hanafi, maka akadnya batal.
Macam-Macam Jual Beli
Jual Beli Di Tinjau Dari Segi Model Tukar Menukar Barang Dagangan Di bagi Menjadi
Dengan cara membeli dan menjual dengan cara ini, seseorang boleh menukar (membeli dan menjual) wang untuk mendapatkan semua perkara yang dia perlukan, dan jual beli berakhir apabila dia pergi. Ia bermaksud menukar sesuatu barang dengan barang lain, atau barang dagangan itu dengan barang dagangan lain, atau dengan kata lain menukar harta itu dengan harta yang berbeza selain emas dan perak. Jual beli ini sama seperti jual beli secara umum yang mempunyai syarat yang sama.
Jika kedua barang yang dipertukarkan itu adalah uang, maka jual beli itu disebut S}harf' (penukaran uang/penukaran uang), dan kalau salah satunya adalah uang, (umumnya) disebut jual beli mutlak. atau salam (pesanan). 2) Dua barang yang dipertukarkan adalah berupa barang yang dapat dilihat, karena jual beli sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan sesuatu yang dapat dilihat tidak termasuk barter, melainkan mutlak jual beli. Apabila barang dagangan itu diserahkan pada waktu yang berbeda, sekalipun harganya tunai, maka disebut jual beli salam (pemesanan). Salah satu dari dua orang yang bertransaksi tidak boleh meminta pasangannya untuk menyerahkan dagangannya terlebih dahulu.
Belakangan, ia hanya menyerahkan dagangannya kepada rekannya karena dua barang dagangannya sudah ada di sana saat transaksi berlangsung.
Jual Beli Di Tinjau Dari Segi Penentuan Harga
Jualan sulit, jual beli, di mana penjual menyampaikan harga belian barang dan sama ada penjual mendapat keuntungan atau tidak. Pembelian dan penjualan baru boleh dijalankan atau sah apabila pemegang kontrak mempunyai kuasa untuk menjalankan jual beli. Kontrak jualan tidak boleh dilaksanakan jika pihak yang berkontrak tidak mempunyai kuasa langsung untuk membuat kontrak.
Jual beli seperti ini disebut jual beli عيب لوضفلا. Ashalnya bai' al fudhu>l atau biasa disebut bai' al. Karena salah satu syarat jual beli barang adalah milik sendiri, bukan milik orang lain. Artinya apabila pemilik atau pihak yang diberi kuasa tidak mempunyai kemauan atau persetujuan, maka jual beli tersebut tidak sah.
Seorang Muslim juga tidak boleh berkata kepada pembeli yang ingin membeli sesuatu barang, "barang ini dibeli dengan harga sedemikian." Dia berdusta untuk menyesatkan pembeli, sama ada dia bersekongkol dengan penjual atau tidak, kerana Abdullah bin Umar R.A berkata bahawa "Rasulullah SAW melarang jual beli Najasy." Dan Nabi SAW bersabda. Hanifah berpendapat bahawa jual beli talji'ah adalah batal (tidak sah) kerana ia mengandungi unsur main-main dan tiada unsur suka-suka, maka secara hukum ia tidak dianggap sah jual beli. Ini juga merupakan pendapat yang masyhur (popular) di kalangan Hanabilah. b) Syafi'i>yy'ah berpendapat bahawa jual beli talji'ah adalah sah kerana yang dipegang adalah perjanjian antara penjual dan pembeli secara zahir.
Jualan dianggap sah apabila ditentukan bahawa jualan itu memenuhi peraturan dan syarat yang ditetapkan dan bukan milik orang lain. Jual beli dikatakan tidak sah apabila salah satu atau kesemua rukunnya tidak ditunaikan atau jual beli itu berlandaskan sifat bukan syariah seperti jual beli beli anak, orang gila. Jual beli yang sesuai dengan ketentuan syariah pada awalnya, tetapi tidak sesuai dengan syariat sifatnya.
Para ulama fiqih sepakat bahwa ketentuan harga ini tidak terdapat dalam Al-Qur'an. Menurut mereka, segala bentuk campur tangan dalam penentuan harga tidak diperbolehkan, baik kenaikan harga itu karena perbuatan para pedagang atau karena hukum alam, tanpa adanya campur tangan para pedagang. Lebih lanjut, para ulama fiqih yang melarang penetapan harga menyatakan bahwa dalam suatu transaksi terdapat dua kepentingan yang saling bertentangan, yaitu kepentingan konsumen dan kepentingan produsen.
Sebaliknya jika penetapan harga diberlakukan, bukan tidak mungkin pedagang akan enggan menjual barangnya, dan tidak menutup kemungkinan pedagang akan menimbun barang karena harga yang ditetapkan tidak sesuai dengan keinginannya. Penetapan harga yang permisif, bahkan wajib, adalah ketika terjadi kenaikan harga yang tajam akibat tindakan pedagang.