Penguatan Kapasitas Guru dalam
membangun Adab siswa SD Aisyiyah
Disampaikan dalam Pembinaan Guru SD Aisyiyah
Peta Konsep Bahasan
VISI LEMBAGA TERWUJUDNYA LEMABAGA YANG UNGGUL DALAM NILAI-NILAI KEISLAMAN DAN KEILMUAN
MISI LEMBAGA MELAKSANAKAN PENDIDIKAN SECARA PROFESIONAL UNTUK MEWUJUDKAN GENERASI CERDAS YANG BERAKHLAQUL KARIMAH DAN TAAT BERIBADAH SERTA
UNGGUL DALAM PENGETAHUAN, BAHASA DAN KETERAMPILAN SOSIAL KAPASITAS GURU Kemampuan Individu atau organisasi untuk melaksanakan tugas pokok dan
fungsinya secara efektif, efisien, dan berkelanjutan.
PHIWM
Seperangkat nilai dan norma islami yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah untuk menjadi pola bagi tingkah laku warga Muhammadiyah dalam menjalani
kehidupan sehari-hari, sehingga tercermin kepribadian islami menuju terwujudnya masyarakat islam yang sebenar-benarnya.
SUBJEK PEMBELAJARAN Siswa
TUJUAN PEMBELAJARAN Memiliki Perilaku mulia sehingga menjadi teladan bagi sesame ( uswatun hasanah) berusaha memiliki sifat-sifat nabi “ Siddiq, Amanah, Tabligh,
Fathanah, Al-Qawiyy dan Al-amiin””
Sukabumi, 18 Agustsu 2023 Indri lastriyani, S.Pd.,M.Pd
VISI 0
1 04
02
05
03
06
Visi Lembaga Pelaksana Visi Subjek Visi
Misi Tujuan Strategi
Kapasitas Guru
Kemampuan Individu atau organisasi untuk
melaksanakan tugas pokok dan fungsinya secara
efektif, efisien, dan
berkelanjutan.
Prinsip Capacity Building
●Menciptakan Suasana kerja yang kondusif dan menyenangkan
●Menciptakan system kerja yang terstandar dan terdokumentasi
●Tingkatkan motivasi seluruh karyawan
●Koordinasi antar unit
●Adanya pendokumentasian
tanggungjawab dan wewenang
Kehidupan Dalam Mengembangakan
Profesi
PHIW
M
Profesi*
“Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan
suatu tugas khusus secara tetap /
permanen
*)Wikipedia
Merupakan Kata Serapan
Dalam Bahasa Inggris “ Profess”
Pertama
Profesi merupakan bidang pekerjaan yang dijalani setiap orang sesuai dengan keahliannya yang menuntut
kesetiaan (komitmen), kecakapan (skill), dan tanggunggjawab yang sepadan sehingga bukan semata-mata urusan mencari
nafkah berupa materi belaka.
Setiap anggota Muhammadiyah dalam memilih dan menjalani profesinya di bidang masing-masing hendaknya senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kehalalan (halalan) dan kebaikan (thayyibah), amanah, kemanfaatan, dan kemaslahatan yang membawa pada keselamatan hidup di dunia dan akhirat
Setiap anggota Muhammadiyah dalam menjalani profesi dan jabatan dalam profesinya hendaknya menjauhkan diri dari praktik-praktik korupsi, kolusi, nepotisme, kebohongan, dan hal-hal yang batil lainnya yang menyebabkan kemudharatan dan hancumya nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan kebaikan umum
Setiap anggota Muhammadiyah di mana pun dan apapun profesinya hendaknya pandai bersyukur kepada Allah di kala menerima nikmat serta bershabar serta bertawakal kepada Allah manakala memperoleh musibah sehingga memperoleh pahala dan terhindar dari siksa
Menjalani profesi bagi setiap warga Muhammadiyah hendaknya dilakukan dengan sepenuh hati dan kejujuran sebagai wujud menunaikan ibadah dan kekhalifahan di muka bumi ini.
Profesi
Kedua
Keempat
Ketiga
Kelima
ETOS KERJA
9
● Etos ethos
● Etos etika, etiket
“
Gairah-semangat yang kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal, lebih baik dan bahkan berupaya untuk
mencapai kualitas kerja yang sesempurna
mungkin “
bekerja adalah rahmah bekerja adalah rahmah
bekerja adalah amanah bekerja adalah amanah bekerja adalah ibadah
bekerja adalah ibadah
ETOS
KERJA
ETOS
KERJA
Al Qowiyy
Fathanah Al Amin
Siddiq Amanah Tabligh
Tujuan Pembelajaran
Jujur, berkata benar, mengatakan kebenaran
Suatu sikap Mengerti, menghayati, memahami,
secara mendalam yang berkenaan dengan segala hal
Kuat itu menyangkut banyak hal: fisik, ilmu (kepandaian), harta, derajat (keturunan), senjata, pengaruh (jabatan),
dan usia.
Terpercaya (dapat dipercaya) pesan yang dititipkan dapat sampai kepada yang berhak.
Bisa dipercaya (tidak sekedar menyampaikan amanat).
Kalau diserahi tugas bisa dikerjakan dan diselesaikan
dengan baik.
Menyampaikan
ADAB dan ILMU
● “Al adab artinya menerapkan segala yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga
mendefinsikan, adab adalah menerapkan akhlak-akhlak yang mulia” (Fathul Bari, 10/400).
adab penuntut ilmu
● “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh” (Adabul Imla’ wal
Istimla’ [2], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [10]).
● “Dengan adab, engkau akan memahami ilmu” (Iqtidhaul Ilmi Al ‘Amal [31], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [17]).
● “Belajarlah adab sebelum belajar ilmu” (Hilyatul Auliya
[6/330], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi
[17])
Adab merupakan ilmu dan amal
● Adab dalam menuntut ilmu merupakan bagian dari ilmu, karena
bersumber dari dalil-dalil. Dan para ulama juga membuat kitab-kitab dan bab tersendiri tentang adab menuntut ilmu. Adab dalam
menuntut ilmu juga sesuatu yang mesti diamalkan tidak hanya diilmui. Sehingga perkara ini mencakup ilmu dan amal.
● “Kalian lebih membutuhkan adab yang sedikit, dari pada ilmu yang banyak” (Syarafu Ash-habil Hadits [122], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [17]).
Dalil-dalil tentang perintah untuk berakhlak mulia
● “Kaum Mu’minin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi no. 1162, ia berkata: “hasan shahih”).
● “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR.
Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, no. 45).
● “Sesungguhnya perkara yang lebih berat di timbangan amal bagi seorang Mu’min adalah akhlak yang baik. Dan Allah tidak menyukai orang yang berbicara keji dan kotor” (HR. At Tirmidzi no. 2002, ia berkata: “hasan shahih”).
Dalil-dalil tentang perintah untuk memuliakan ilmu dan ulama
● “Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya” (QS. Al Hajj: 30).
● “Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. Al Hajj: 32).
● “Sesungguhnya Allah berfirman: barangsiapa yang menentang wali-Ku, ia telah menyatakan perang terhadap-Ku” (HR. Bukhari no. 6502).
● “Jika para fuqaha (ulama) yang mengamalkan ilmu mereka tidak disebut wali Allah, maka Allah tidak punya wali” (diriwayatkan Al Baihaqi dalam Manaqib Asy Syafi’i, dinukil dari Al Mu’lim hal. 21).