Peningkatan Kapasitas Manajemen Rehabilitasi Masyarakat dalam Pelayanan Gangguan Jiwa di Desa Kebonjati, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat." Desa Kebonjati, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang mempunyai jumlah penyandang disabilitas mental terbanyak di wilayah kecamatan.
Rumusan Masalah
Asumsi-Asumsi
Layanan Rehabilitasi Masyarakat pada Layanan Disabilitas Mental di Desa Kebonjati, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat sebelum Peningkatan Kapasitas. Proses intervensi peningkatan kapasitas pengasuh rehabilitasi komunitas pada layanan gangguan jiwa di Desa Kebonjati, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat.
Manfaat Penelitian
Pada bagian ini akan dijelaskan Kajian Konseptual Disabilitas, Disabilitas Intelektual, Pekerjaan Sosial Disabilitas Mental, Rehabilitasi Komunitas dan Peningkatan Kapasitas sebagai alat analisis untuk menjelaskan pentingnya peningkatan kapasitas bagi pengasuh rehabilitasi komunitas dalam layanan disabilitas mental.
Pengertian Disabilitas
Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa penyandang disabilitas adalah seseorang yang mengalami keterbatasan fisik, sensorik. Penyandang disabilitas yang dalam kehidupannya harus mendapat dukungan yang berbeda-beda dari semua pihak untuk memenuhi kebutuhannya, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penyandang disabilitas untuk menjalankan perannya sesuai dengan status sosial yang diharapkan berdasarkan persamaan hak.
Disabilitas Mental: Pengertian, Ragam, Hak dan Kebutuhan
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengartikan istilah penyandang disabilitas mental sebagai salah satu jenis penyandang disabilitas. Secara spesifik, hak penyandang disabilitas mental tertuang dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa pada Pasal 68 yang menggunakan istilah Penyandang Gangguan Jiwa (PWD) dan Penyandang Gangguan Jiwa (PWD).
Pekerjaan Sosial dengan Disabilitas Mental: Pengertian, Tujuan, Peranan dan Asumsi
Dari beberapa definisi pekerjaan sosial yang ada, terdapat definisi pekerjaan sosial dalam praktiknya bagi penyandang disabilitas. Menurut Australian National Association of Social Workers (AASWN dalam Zastrow, 2010) dalam bidang praktik pekerjaan sosial Disability Social Work (2016) Disability Social Work Field of Practice bahwa profesi pekerjaan sosial didedikasikan untuk memaksimalkan kesejahteraan individu , keluarga, kelompok masyarakat dan.
Rehabilitasi Berbasis Masyarakat: Pengertian, Tujuan dan Aktivitas Utama
Selain itu juga tentang peningkatan kesadaran dan tanggung jawab sosial masyarakat dalam upaya perlindungan kesejahteraan sosial, khususnya penyandang disabilitas.” Bantuan pendidikan bagi penyandang disabilitas dengan mengedepankan pendidikan inklusif dan penguatan kapasitas guru, staf sekolah dan pelajar, serta meningkatkan aksesibilitas fisik.
Penguatan Kapasitas: Pengertian, Tujuan, Faktor dan Unsur-Unsur .1 Pengertian Penguatan Kapasitas
Penguatan kapasitas pengelola RBM dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan tujuan RBM. Upaya peningkatan kapasitas dilakukan dengan cara yang berbeda-beda dan mencakup aspek yang berbeda-beda jika mengacu pada tingkat peningkatan kapasitas.
Desain Penelitian
Pada bagian ini akan dijelaskan tentang desain penelitian, penjelasan istilah, setting penelitian, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data, pemeriksaan keabsahan data, analisis data dan langkah-langkah penelitian serta jadwal penelitian yang digunakan peneliti dalam penguatan kapasitas masyarakat penyelenggara. layanan berbasis rehabilitasi bagi penyandang disabilitas mental di Desa Kebonjati Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang. Peneliti menggunakan Participatory Action Research (PAR) sebagai desain penelitian dalam upaya optimalisasi layanan disabilitas mental di Desa Kebonjati, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang dengan memperkuat kapasitas penyelenggara rehabilitasi berbasis komunitas.
Penjelasan Istilah
Latar Penelitian
Persoalan etika yang dipertaruhkan adalah kepekaan penyandang disabilitas mental dan keluarganya untuk dijadikan “subyek penelitian”. Dalam proses penelitian dari awal hingga akhir, peneliti didampingi oleh pihak-pihak tersebut terutama dalam penyampaian maksud dan tujuan peneliti dalam melaksanakan penelitian kepada RBM dan penyandang disabilitas mental beserta keluarganya.
Jenis dan Sumber Data
Data primer dalam hal ini diperoleh langsung dari informan, sedangkan data sekunder merupakan sumber data yang tidak memberikan data secara langsung kepada pengumpul data berupa dokumen-dokumen yang dapat dijadikan data pendukung data primer. Dokumen-dokumen tersebut diteliti oleh peneliti untuk mendukung informasi yang diperoleh dari data primer.
Teknik Pengumpulan Data
Data primer dan sekunder diperoleh dengan menggunakan teknik purposive, yaitu teknik pengambilan informan yang ditentukan dengan pertimbangan tertentu, yaitu orang yang memudahkan peneliti untuk mendalami objek atau situasi sosial yang diteliti. Sumber data primer dalam penelitian ini diperoleh dari perkataan dan tindakan 3 pengurus inti RBM, 1 Perangkat Desa Kebonjati dan 2 keluarga penyandang disabilitas dalam situasi dan kondisi organisasi, yang dicatat sebagai data yang diperlukan.
Pemeriksaan Keabsahan Data
Triangulasi data merupakan teknik pengujian keabsahan data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber yaitu pengurus RBM, perangkat desa Kebonjati dan keluarga penyandang disabilitas mental. Kriteria ini digunakan untuk mengevaluasi hasil penelitian peningkatan kapasitas pengelola RBM yang dilakukan dengan pengecekan data dan informasi.
Analis Data
Kesimpulan yang diambil dari hasil penelitian dicari kembali atau diverifikasi dengan merumuskan masalah atau menggunakan bukti dan data pendukung. Jika kesimpulan tersebut ternyata merupakan pendapat tanpa bukti, sebaiknya peneliti mencari kesimpulan lain yang lebih valid sehingga dapat diperoleh solusi pemecahan masalah berdasarkan hasil penelitian.
Langkah-Langkah dan Jadwal Penelitian
Tingkat pendidikan penyandang disabilitas mental di Desa Kebonjati masih rendah yaitu mayoritas berada pada jenjang SMP dan SMA. Masih terbatasnya pelayanan kesehatan di Desa Kebonjati membuat penyandang disabilitas mental belum tertangani secara medis. Sumber : Temuan Penelitian Penguatan Kapasitas Pengelola RBM dalam Pelayanan Disabilitas Mental di Desa Kebonjati Tahun 2019.
KEPALA DUSUN 1
Berdirinya RBM di desa Kebonjati merupakan hasil intervensi mahasiswa pada kegiatan Praktikum Pascasarjana Politeknik Kesejahteraan Sosial 1 Bandung. Pelatihan ini dilatarbelakangi oleh relatif tingginya jumlah penyandang disabilitas intelektual dan kebutuhan masyarakat Desa Kebonjati akan sebuah platform organisasi yang memberikan layanan kepada penyandang disabilitas intelektual. Rehabilitasi Berbasis Komunitas Desa Kebonjati terbentuk melalui kerjasama antara pelajar, Puskesmas Unit Situ dan masyarakat.
SEKRETARIS DESA
Pihak manajemen rutin melaksanakan kegiatan RBM yang bersifat preventif dan kuratif dengan Puskesmas Unit Situ sebagai mitra kerja. Kegiatan preventif yang dilakukan RBM antara lain sosialisasi kepada pemangku kepentingan dan masyarakat mengenai Desa Ramah Disabilitas dan layanan apa saja yang diberikan RBM.
KEPALA DUSUN 2
STAFF AHLI
KETUA LPMKETUA BPD
Karakteristik Subjek
Selain itu, informan lain dalam penelitian ini teridentifikasi sebagai pendukung yaitu 1 orang Pejabat Pemerintah Desa Kebonjati dan 2 orang keluarga penyandang disabilitas mental. Seperti halnya JJ, NN merupakan sosok pemerhati disabilitas mental yang aktif mendampingi penyandang disabilitas mental dan keluarganya berobat ke rumah sakit umum/psikiatris. Keluarga penyandang disabilitas mental berperan penting dalam menilai kapasitas pengelola RBM dalam memberikan layanan.
Pelayanan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Desa Kebonjati Sebelum Penguatan Kapasitas
Keenam bidang tersebut perlu diperkuat melalui kegiatan peningkatan pengetahuan dan keterampilan penyelenggara dalam penyediaan layanan disabilitas mental. Keterampilan identifikasi dan penilaian diperlukan oleh pengelola RBM untuk menentukan kebutuhan dan mengatasi permasalahan penyandang disabilitas intelektual. RBM sebagai organisasi pemberi layanan bagi penyandang disabilitas mental memerlukan pengembangan pengetahuan dan keterampilan bagi pengurusnya.
Hasil kegiatan pelatihan keterampilan wawancara bagi pengelola RBM dalam identifikasi dan penilaian memberikan tambahan kemampuan bagi pengelola RBM dalam melakukan pendekatan kepada keluarga. Hasil dari sesi ini adalah administrator RBM dapat melatih kemampuan kerja sama tim, analitis dan pemecahan masalah. Dari hasil sidang tersebut pengurus RBM menyepakati jenis dan format pencatatan yang akan digunakan pada RBM di Desa Kebonjati.
Pelayanan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Desa Kebonjati Setelah Penguatan KapasitasPenguatan Kapasitas
Hal ini dilakukan agar setiap kegiatan yang diselenggarakan RBM dapat diakses oleh penyandang disabilitas mental dan keluarganya. Hal ini dimaksudkan agar penyelenggara dapat menentukan layanan seperti apa yang sebaiknya diberikan kepada penyandang disabilitas mental. Menentukan penyediaan layanan yang tepat bagi penyandang disabilitas mental memerlukan keterampilan manajemen dalam identifikasi dan penilaian.
Evaluasi
Pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas juga didukung oleh kemampuan narasumber kegiatan yang berkompeten di bidang pekerjaan medis dan sosial. Hal ini terlihat pada seluruh aspek peningkatan kapasitas yaitu pengetahuan pengurus mengenai disabilitas mental dan pengobatannya, keterampilan identifikasi dan penilaian, keterampilan perencanaan kerja, keterampilan perluasan. Hasil penguatan kapasitas penyelenggara RBM secara keseluruhan memberikan perubahan dalam pemberian layanan bagi penyandang disabilitas mental.
Pembahasan
Pengurus RBM menyadari perlunya penguatan internal dan evaluasi organisasi secara terus menerus agar pelayanan terhadap penyandang disabilitas mental menjadi lebih optimal. Pengurus RBM yang telah dibekali keterampilan sosial kemudian memberikan pelayanan yang baik kepada penyandang disabilitas mental. Berdasarkan hasil implementasi, hasil peningkatan kapasitas memberikan perubahan menuju layanan disabilitas mental yang lebih baik.
Implikasi Teoritis
Secara khusus, Soeprapto (2010:82) menyatakan bahwa faktor signifikan yang mempengaruhi peningkatan kapasitas adalah “komitmen kolektif, kepemimpinan yang suportif, reformasi peraturan dan reformasi kelembagaan”. Uraian tersebut menjelaskan bahwa penguatan kapasitas adalah terciptanya kemampuan untuk menciptakan keberhasilan melalui tindakan. Upaya penguatan kapasitas dilakukan dengan berbagai cara dan juga mencakup berbagai aspek, jika mengacu pada tingkat penguatannya.
Implikasi Praktis
Pengurus RBM bersedia tanggap menyelesaikan permasalahan disabilitas intelektual yang ada secara individual, dengan kekuatan teknis tim kerja RBM. Penguatan kapasitas terdiri dari penguatan pengetahuan pengemudi mengenai disabilitas dan penanganannya, penguatan keterampilan identifikasi dan penilaian, keterampilan perencanaan kerja, keterampilan perluasan jaringan kerja, keterampilan pendaftaran dan pelaporan, serta keterampilan penggalangan dana, yang merupakan langkah efisien untuk memperkuat layanan disabilitas. tahapan pekerjaan sosial. Hasil akhir dari kegiatan penguatan kapasitas memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap penguatan pelayanan kepada penyandang disabilitas intelektual dan keluarga ke arah yang lebih baik.
Kesimpulan
Secara organisasi, RBM diharapkan berfungsi secara terorganisir sehingga pelaksanaan kegiatan dalam upaya pelayanan penyandang disabilitas mental lebih optimal. Penguatan yang dilakukan kepada penyelenggara berkaitan dengan pengetahuan penyandang disabilitas mental dan pengobatannya serta keterampilan penyelenggara dalam memberikan pelayanan. Selain untuk anggaran, mobil desa juga disumbangkan untuk kebutuhan transportasi penyandang disabilitas mental dan keluarga saat melakukan rujukan ke rumah sakit.
Rekomendasi
Bekerja sama dengan RBM desa untuk mengubah stigma negatif masyarakat terhadap gangguan jiwa dan keluarga. Bekerja sama dengan RBM dalam upaya penanganan permasalahan disabilitas mental secara preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam mengenai gambaran layanan rehabilitasi di desa Kebonjati pada masyarakat pada layanan gangguan jiwa.
Tujuan
Partisipan
Teknik
Lokasi
Perlengkapan
Waktu
Proses wawacara
Melakukan wawancara mendalam sesuai dengan daftar pertanyaan penelitian dan dapat berkembang sesuai dengan jalannya sesi wawancara sampai topik yang dibahas dirasa cukup oleh peneliti. Peneliti meminta izin dan kesediaan informan untuk diwawancarai kembali apabila peneliti masih memerlukan data tambahan di kemudian hari.
Gambaran Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Desa Kebonjati Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa
Proses Intervensi Penguatan Kapasitas pengurus Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Desa Kebonjati Kecamatan Sumedang Utara
Identitas Sumber
Gambaran Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Desa Kebonjati Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa
Observasi dilakukan untuk mendukung hasil wawancara dan untuk mengetahui hal-hal terkait dengan model peningkatan kapasitas pengasuh rehabilitasi komunitas pada layanan gangguan jiwa di Desa Kebonjati, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat.
Teknik
Lokasi
Perlengkapan
Waktu
Partisipan
Proses Observasi
Kondisi Penyandang Disabilitas dan Keluarga
Kondisi Lingkungan Masyarakat (Keluarga Penyandang Disabilitas Mental, Aparat Pemerintahan, Dunia Usaha, Lembaga/Organisasi
Studi dokumentasi dilakukan untuk mendukung hasil wawancara dan menemukan permasalahan terkait model penguatan kapasitas penyelenggara rehabilitasi berbasis komunitas dalam perawatan disabilitas mental di Desa Kebonjati, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat.
Partisipan
Perlengkapan
Proses studi dokumentasi
Pemandu/pembawa acara meminta peserta mendiskusikan ciri-ciri RBM yang baik dan buruk. Pemandu/pembawa acara meminta peserta mendiskusikan apa yang akan terjadi jika RBM memiliki kualitas yang baik. Pemandu/tuan rumah meminta peserta untuk mengelompokkan atribut mana yang mempunyai skor tinggi (di atas 2,5) dan atribut mana yang memiliki skor rendah (kurang dari atau sama dengan 2,5).
Karakteristik Informan No
Gambaran Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Desa Kebonjati Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang
Jika Anda belum melakukan pemeriksaan kesehatan, dokter di sana akan memeriksa Anda/meminta Anda datang ke stasiun ODGJ atau mengantar Anda langsung ke sana. Kemarin kami memiliki agenda pembinaan keluarga yang sama seperti tahun lalu, dan kami mengundang seluruh keluarga. Postingan ODGJ sebulan sekali ya? Terkadang ada keluarga yang susah transportasinya atau susah dijangkau, banyak alasan kenapa kita jemput mereka dulu.
Gambaran Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Desa Kebonjati Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang Sebelum Penguatan Kapasitas Pengurus
Apalagi kalau ODGnya baru, biasanya pihak keluarga belum sepenuhnya menerima, sedikit lebih sensitif. Kami sekarang belum punya matriks kerja, tapi dulu hanya menjalankan rencana kerja awal yang kami rumuskan di awal. Ya, pusatnya belum ada, perlu ada rencana kerja, struktur kepengurusan, data disabilitas mental, data pengendalian pasien, dan teh obat.
Gambaran Penguatan Kapasitas Pengurus Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Desa Kebonjati Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang
Kami akan mengkaji secara mendalam apa yang ingin mereka ketahui tentang kondisi ODG yang ditemui di lapangan. Kita diajarkan bagaimana melakukan pendekatan dan mengumpulkan informasi dari keluarga yang baik dan benar. Mulai dari data by name by alamat, data kesehatan, kegiatan RBM, keuangan dan rencana kegiatan.