• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DI KELAS VI MI DARUL HUDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DI KELAS VI MI DARUL HUDA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING

DI KELAS VI MI DARUL HUDA

Muhammad Khoirul Anam1, Abdullah2

1Mahasiswa IAIN Palangka Raya

2Dosen IAIN Palangka Raya

E-mail: [email protected]1, [email protected]2

Abstrak

Pembelajaran di sekolah adalah aktivitas yang terdapat dua subyek yaitu guru dan siswa. Tugas utama seorang guru adalah menciptakan pembelajaran efektif, efisien, kreatif, dinamis, menyenangkan. Guru MI Darul Huda kelas VI materi SKI menggunakan metode ceramah hasil asesmennya 40 % mencapai KKM dan 60 % belum.

Tujuan penelitian untu mengetahui peningkatan hasil belajar, Melalui Model Pembelajaran Discovery Learning Di Kelas VI MI Darul Huda. Penelitian ini melalua perencanaan,pelaksanaan, pengamatan, refleksi. dilaksanakan dua siklus. Siklus I tanggal 2 Juli 2023 dan Siklus II tanggal 20 Juli 2023, pada siswa kelas VI sejumlah 20

Hasilnya: siklus I terdapat 19 siswa (73,1 %) mencapai ketuntasan dan 7 siswa (26,9

%) belum mencapai ketuntasan, daya serapa siswa mencapai 77,69 %. Siklus II meningkat 26 siswa (100 %) mencapai ketuntasan, daya serap siswa mencapai 83,9 %.

Pengamatan pada siklus I 5 aspek (62.5%) memperoleh kriteria baik dan 3 aspek (37.5

%) memperoleh kriteria cukup. Siklus kedua meningkat 7 aspek (87.5 %) memperoleh kriteria baik dan 1 aspek (12,5 %) kriteria cukup. Melalui Model Pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa Pada Di Kelas VI Mi Darul Huda”semester I Tahun Pelajaran 2023/2024.

Kata Kunci : Hasil Belajar Siswa, Discovery Learning, SKI

Pendahuluan

Pendidikan merupakan upaya sadar yang dilakukan seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam proses kedewasaan manusia yang hidup dan berkembang, nampaklah kenyataan bahwa manusia selalu berubah dan perubahan itu merupakan hasil belajar. Hal ini berarti bahwa dalam pendidikan terjadi sebuah proses pengubahan sikap dan tingkah laku. Oleh

(2)

karena itu pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan.(Abdullah, 2013)

Proses pembelajaran di sekolah sebagai suatu aktivitas mengajar dan belajar yang di dalamnya terdapat dua subyek yaitu guru (pendidik) dan siswa sebagai peserta didik. Tugas dan tanggung jawab utama dari seorang guru adalah menciptakan pembelajaran yang efektif, efisien, kreatif, dinamis, dan menyenangkan.

Hal ini berimplikasi pada adanya kesadaran dan keterlibatan aktif antara dua subyek pembelajaran yaitu guru sebagai penginisiatif awal, pembimbing dan fasilitator dengan peserta didik sebagai orang yang mengalami dan terlibat aktif untuk memperoleh perubahan diri dalam pembelajaran itu sendiri.

Untuk mengoptimalkan pencapaian hasil belajar maka diperlukan sebuah interaksi edukatf dalam proses pembelajaran

Sejarah Kebudayaan Islam merupakan mata pelajaran pokok yang tidak hanya mengantarkan peserta didik untuk dapat menguasai berbagai kajian keislaman, tetapi lebih menekankan pada pengamalan dalam kehidupan

sehari-hari di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu guru Sejarah Kebudayaan Islam hendaknya dapat mengembangkan pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian kompetensi peserta didik secara menyeluruh yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor.

Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam termasuk dalam aspek Pengetahuan. Pada umumnya dipelajari siswa dengan cara mendengarkan ceramah guru. Pada tahun pelajaran 2021/2022 dari hasil diskusi dengan guru mata pelajaran yang mendapat tugas mengajar di kelas VI diperoleh informasi bahwa hasil belajar siswa dengan model pembelajaran seperti itu siswa yang terlibat aktif dalam kegiatan belajar ini hanya 50%. Selain itu hasil tes formatif yang diberikan menunjukkan bahwa hanya 65% siswa yang tuntas dalam belajar dengan daya serap 65.

Menghadapi kondisi seperti ini Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas untuk menemukan suatu cara atau teknik pembelajaran yang didukung oleh media pembelajaran sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dan dapat meningkatkan hasil belajaranya.

Melalui Melalui Model Pembelajaran Discovery Learning Di Kelas VI MI Darul Huda, diharapkan siswa dapat memperoleh pengetahuan yang berkesan dan bermakna. Dengan demikian bagi siswa akan lebih termotivasi untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam perilaku hidup sehari-hari.

Pembelajaran discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah

(3)

dilupakan siswa. Dengan belajar penemuan, anak juga bisa belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri problem yang dihadapi. Kebiasaan ini akan di transfer dalam kehidupan bermasyarakat.

Adapun langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran Discovery Learning adalah sebagai berikut, Tahap pertama : Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan), Tahap ini Guru bertanya dengan mengajukan persoalan, atau menyuruh anak didik membaca atau mendengarkan uraian yang memuat permasalahan. Stimulation pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Tahap kedua : Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah), Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004 : 244). Tahap ketiga : Data collection (pengumpulan data), Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidak hipotesis, dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literature, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya (Djamarah, 2002:22). Tahap keempat : Data processing (pengolahan data), menurut Syah (2004:244) data processing merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan penegetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis Tahap kelima : Verification (pembuktian), verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih, 2005:41).Tahap keenam : Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi), Tahap generalitation/ menarik kesimpulan adalah

(4)

proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Atau tahap dimana berdasarkan hasil verifikasi tadi, anak didik belajar menarik kesimpulan atau generalisasi tertentu (Djamarah, 2002:22).

Metodologi Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu penelitian Tindakan kelas yang dilaksanakan di MI Darul Huda kelas VI . Penelitian ini didasarkan atas pertimbangan bahwa prestasi siswa belum optimal. Hal ini nampak pada perolehan nilai rata-rata siswa di kelas ini relatif masih rendah. Penelitian ini dilaksanakan dengan alokasi waktu 3 jam pelajaran, 1 kali pertemuan dan dilaksanakan dalam 2 siklus. Apabila pada siklus I belum memperlihatkan hasil sebagaimana yang diharapkan, maka akan dilanjutkan pada siklus berikutnya (siklus II).Tindakan pada siklus II merupakan perbaikan dan penyempurnaan dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus I. Oleh karena itu tindakan siklus II dilakukan dengan melihat hasil pengamatan kegiatan belajar mengajar serta hasil belajar siswa pada siklus I.

Sumber Data adalah guru pendidikan agama Islam (teman sejawat) yang bertindak sebagai pengamat selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dan Siswa yang dikenai tindakan. Teknik Pengumpulan data melalui Observasi untuk mengetahui situasi dan aktivitas siswa dalammelakukan aktivitas belajar melalui model pembelajaran Discovery Learning dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan tes kognitif digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menguasai materi.

Indikator kinerja dapat dikatakan berhasil apabila memenuhi kriteria : Hasil belajar siswa dapat mencapai nilai 75 ke atas atau daya serap 75 %, dan persentasi aktivitas siswa mencapai 80 % dan minimal 85 % aspek kegiatan belajar mengajar terlaksana dan memperoleh nilai pengamatan dengan kategori baik dan baik sekali

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dalam penelitian tindakan kelas ini ditetapkan indikator kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa terkait dengan materi Pelajaran SKI. Indikator kompetensi tersebut adalah :

1. Kemampuan dalam menganalisis Materi dalam Pelajaran SKI 2. Kemampuan dalam menyimpulkan

(5)

Setiap akhir siklus dilakukan evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa, dan dalam pelaksanaan tindakan disiapkan rencana pembelajaran yang sesuai dengan tahapan teknik yang dipilih.

Deskripsi Tindakan dan Hasil pada Siklus I Perencanaan Tindakan

Pada tahap perencanaan tindakan ini peneliti melakuan kegiatan sebagai berikut:

1) Membuat / menyusun Modul Ajar/RPP

2) Menyiapkan materi / informasi melalui video sumber belajar yang akan dijadikan sumber pengamatan siswa.

3) Membuat Lembar Kerja Peserta Didik 4) Membuat lembar pengamatan

5) Menyusun soal formatif I Pelaksanaan Tindakan

Pada kegiatan siklus I dilaksanakan rencana pembelajaran dengan alokasi waktu kegiatan belajar mengajar 3 jam pelajaran. Siklus I diawali dengan pemberian motivasi, penjajakan awal, dan penyiapan kondisi siswa untuk belajar. Selanjutnya siswa menyaksikan video informasi terkait dengan Pelajaran SKI. Setelah itu siswa mengidentifikasi hal-hal penting yang harus dipahami. Kegiatan selanjutnya adalah siswa melakukan diskusi secara kelompok pada lembar kerja yang sudah disediakan. Hasil kerja tersebut dipresentasikan dan dilakukan tanya jawab antar kelompok. Pada akhir kegiatan belajar siswa diberikan tes formatif berbentuk pilihan ganda.

Hasil Pengamatan

Adapun hasil belajar siswa yang diperoleh setelah dilakukan evaluasi pada akhir pelajaran dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 1

Data Hasil Belajar Siswa (dari Hasil tes Tertulis Pada Akhir Pelajaran) Siklus I

No. Nilai Jumlah Persentase

1.

2.

> 75

< 75

19 siswa 7 siswa

73,1 % 26,9%

Jumlah 26 siswa 100 %

Daya Serap = 2020 / 2600 x 100 % = 77,69 %

(6)

Dari tabel ini dapat dilihat 19 siswa (73,10 %) yang telah mencapai ketuntasan belajar dan masih terdapat 7 siswa (26,90 %) yang belum mencapai ketuntasan belajar. Selain itu daya serap siswa mencapai 77,69 %. Deskripsi tentang nilai hasil tes siswa pada siklus I dapat dilihat pada lampiran. Untuk mengetahui aktivitas siswa pada pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus I, peneliti mengggunakan lembar observasi. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dari 8 (delapan) jumlah aspek yang diamat ternyata baru 5 (lima) aspek yang berkrteria baik sedangkan 3 (tiga) aspek yang lain masih dalam kriteria cukup sehingga dianggap belum maksimal dan perlu dilanjutkan pada siklus II.

Refleksi Siklus I

Berdasarkan hasil obesrvasi aktivitas siswa dan pengamatan guru mitra, aspek – aspek pada kegiatan belajar mengajar dan hasil belajar siswa ternyata masih perlu ditingkatkan dalam rangka mencapai kriteria keberhasilan tindakan yang telah ditetapkan. Adapun kelemahan – kelemahan yang ditemukan melalui pengamatan yang dilakukan oleh guru mitra antara lain adalah :

1) Guru belum maksimal dalam memotivasi siswa untuk membaca dan menelaah informasi literasi digital atau sumber belajar tambahan, sehinngga hal ini menyebabkan siswa membutuhkan waktu yang cukup lama dalam menyelesaikan tugas pada lembar kerja

2) Pada saat pembelajaran berlangsung khususnya pembahasan lembar kerja secara kelompok masih ditemukan siswa yang hanya bergantung kepada temannya sehingga kurang aktif

3) Siswa cenderung menguasai materi pelajaran yang sifatnya kognitif saja.

Deskripsi Tindakan Hasil pada Siklus II Perencanaan Tindakan

Pada tahap perencanaan kegiatan ini Peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut:

1) Membuat / menyusun RPP

2) Menyiapkan video pembelajaran serta perangkat pendukung lainnya

3) Membuat lembar kerja siswa 4) Membuat lembar pengamatan 5) Menyusun tes formatif II Pelaksanaan Tindakan

(7)

Pada kegiatan siklus II ini guru mengawali kegiatan belajar dengan cara memotivasi siswa melalui penyampaian pentingnya penerapan Pelajaran SKI.

Kegiatan inti pembelajaran lebih diarahkan pada upaya untuk memperbaiki kegiatan pada siklus I dengan cara menayangkan video pembelajaran tentang Iman Pada kitab-kitab Allah Swt. Setelah itu siswa mengerjakan tugas pada lembar kerja dengan model discovery learning.

Hasil Pengamatan Adapun hasil belajar siswa yang diperoleh setelah dilakukan evaluasi pada akhir pelajaran dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3.

Data Hasil Belajar Siswa (dari Hasil tes Tertulis Pada Akhir Pelajaran) Siklus II

No. Nilai Jumlah Persentase

1.

2.

> 75

< 75

25siswa -

100 % 0 %

Jumlah 25 siswa 100 %

Daya Serap = 2181 / 2600 x 100 % = 83,9 % Adapun daftar nilai siswa terlampir.

Berdasarkan tabel di atas jelas bahwa jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar adalah 26 orang (100 %). Daya serap siswa pada evaluasi hasil belajar ini mencapai 83,9 %.

Untuk mengetahui aktivitas siswa pada pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II, peneliti mengggunakan lembar observasi. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terdapat 26 orang siswa (90,63 %) yang aktif dalam belajar pada saat penayangan media audio visual dan mengerjakan tugas.

Refleksi Siklus II

Berdasarkan hasil pengamatan memperlihatkan peningkatan keberhasilan. Hal ini terbukti pada kegiatan pembelajaran siklus II,siswa yang berpartisipasi aktif dalam pembelajaran mencapai87,50 %. Selain itu daya serap hasil belajar siswa yang diperoleh melalui evaluasi tes akhir pelajaran meningkat pula menjadi 83,9 % dengan persentasi siswa yang tuntas mencapai Kriteria Ketuntasan Belajar minimal mencapai 100 %.Pengamatan tentang kegiatan belajar mengajar pada siklus I, 5 aspek (62.5%) yang memperoleh kriteria baik dan 3 aspek (37.5 %) yang memperoleh kriteria cukup. Pada siklus kedua

(8)

meningkat menjadi 7 aspek (87.5 %) yang memperoleh kriteria baik dan 1 aspek (12,5) yang memperoleh kriteria cukup.

Peningkatan hasil belajar siswa untuk menguasai kompetensi Materi Pelajaran SKI nampak setelah membandingkan hasil penelitian yang dicapai pada siklus I dan II, baik dari segi aktivitas siswa maupun aktivitas guru selama pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar siswa melalui tes tertulis pada akhir pelajaran serta respon siswa tentang proses pembelajaran itu sendiri.

Peningkatan hasil belajar siswa ini berkaitan erat dengan modifikasi langkah-langkah pembelajaran yang dilaksanakan oleh siswa. Dalam hal ini siswa termotivasi untuk mengerahkan seluruh aktivitas mentalnya, memusatkan perhatiannya (konsentrasi), agar dapat menemukan dan mengidentifikasi hal-hal pokok/penting dari materi atau bahan ajar. Untuk selanjutnya siswa lebih mempermantap pemahamannya tentang materi dengan mengajarkan atau saling membagi antar satu dengan yang lain.

Pemahaman materi lebih ditingkatkan lagi melalui penggunaan media audio visual dalam bentuk video pembelajaran yang ditayangkan. Sehingga siswa bukan hanya sekedar menguasai secara kognitif , akan tetapi memberi kesan yang lebih mendalam bagi pembentukan sikap dan perilaku hidupnya sehari-hari.

Untuk lebih mengoptimalkan kegiatan pembelajaran dengan model belajar discovery learning yang dikolaborasikan dengan penggunaan media audio visual sangat membutuhkan keahlian dan kepiawaian guru, baik dalam hal pengaturan efisisensi waktu, pengeloalaan kelas, maupun dalam penggunaan perangkat pendukung.

Meskipun hasil belajar siswa melalui model belajar discovery learning yang dikolaborasikan dengan penggunaan media audio visual namun masih perlu pengembangan lebih lanjut. Hal ini berdasarkan hasil pengamatan pada kegiatan belajar mengajar yang menunjukkan ada beberapa siswa yang hanya memperhatikan tayangan gambar tapi kurang memperhatikan narasi lisan maupun yang tertulis. Hal ini diantisipasi oleh guru dengan cara memperbesar volume suara pada speaker.

Adapun hal yang perlu diperhatikan oleh guru antara lain adalah :

1. Pemberian motivasi bagi siswa hendaknya dilakukan dengan tepat dan berkesinambungan. Hal ini dimaksudkan agar siswa bersemangat dan berminat untuk mengikuti kegiatan belajar.

(9)

2. Pengorganisasian dan pengelolaan waktu dilakukan seefektif dan seefisien mungkin. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak berhenti atau terfokus pada satu tahapan kegiatan saja.

3. Penggunaan media hendaknya dipersiapkan dengan matang sebelum kegiatan belajar dimulai

4. Memberikan penekanan khusus (intens) pada materi pokok dan yang penting dilakukan untuk lebih memantapkan pemahaman , ingatan siswa serta penerapan keimanan pada hari akhir dalam sikap hidup sehari-hari.

Berdasarkan pengamatan hasil belajar siswa yang diperoleh dari hasil tes tertulis 73,1%. yang tuntas. Sedangkan daya serap siswa adalah 77,69

%. Di samping itu masih terdapat 7 orang siswa 26,9 % yang belum tuntas Sehingga dengan melihat kenyataan ini diperlukan tindakan lebih lanjut karena belum mencapai kriteria keberhasilan siswa dalam belajar.

Pada siklus I terdapat beberapa kelemahan dalam proses pembelajaran. Hal ini tampak dalam hal-hal seperti siswa belum termotivasi untuk segera menyelesaikan tugas pada lembar kerja, sehingga estimasi waktu yang telah ditetapkan oleh guru tersita untuk mengarahkan dan membimbing siswa supaya dapat bekerja bersama dalam kelompok.

Berdasarkan kelemahan-kelemahan pada uraian di atas dilaksanakan langkah – langkah perbaikan pada siklus II yaitu :

1. Guru memberikan motivasi kepada seluruh siswa tentang tujuan pokok mempelajari materi Materi Pelajaran SKIsemata-mata demi keselamatan hidup dunia dan akhirat, menjelaskan langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan, memberi kesempatan untuk mempelajari dan memahami materi melalui discovery learning, serta dalam hal menyelesaikan tugas pada lembar kerja

2. Alokasi waktu untuk menyelesaikan setiap tahapan kegiatan disampaikan kepada siswa sehingga siswa memiliki target waktu untuk menyelesaikan tugas

3. Tampilan pesan disajikan pada awal dan akhir pembelajaran melalui media audio visual, serta kegiatan pembelajaran dilakukan di ruang kelas yang memungkinkan.

4. Dengan pengaturan waktu yang tepat, guru memiliki waktu yang cukup untuk memberikan penekanan khusus pada siswa untuk memberikan penekanan khusus pada materi inti yaitu dengan cara menugaskan siswa untuk membaca Materi Pelajaran SKI yang terdapat Media lain.

(10)

Setelah dilakukan tindakan perbaikan melalui langkah-langkah perbaikan sebagaimana pada uraian sebelumnya, maka pada siklus II terjadi peningkatan pada situasi pembelajaran dan hasil belajar siswa baik pada proses pembelajaran maupun akhir pelajaran yaitu :

1. Hasil belajar yang diperoleh siswa melalu tes tertulis pada akhir pelajaran untuk siklus I terdapat 19 siswa (73,1 %) yang telah mencapai ketuntasan belajar dan masih terdapat 7 siswa (26,9 %) yang belum mencapai ketuntasan belajar dengan daya serap siswa mencapai 77,69 %. Pada siklus II terjadi peningkatan menjadi 26 orang (100 %) yang mencapai ketuntasan dalam belajar dengan daya serap siswa mencapai 83,9 %.

2. Pengamatan tentang kegiatan belajar mengajar pada siklus I 5 aspek (62.5%) yang memperoleh kriteria baik dan 3 aspek (37.5%) yang memperoleh kriteria cukup. Pada siklus kedua meningkat menjadi 7 aspek (87,5 %) yang memperoleh kriteria baik dan 1 aspek (12,5%) memperoleh kriteria cukup.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, jelaslah bahwa melalui discovery learning pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam untuk materi siswa mengalami peningkatan pada hasil belajar. Demikian pula pada pelaksanaan pembelajaran terjadi peningkatan. Pengamatan tentang kegiatan belajar mengajar pada siklus I 5 aspek (62.5%) yang memperoleh kriteria baik dan 3 aspek (37.5%) yang memperoleh kriteria cukup. Pada siklus kedua meningkat menjadi 7 aspek (87,5%) yang memperoleh kriteria baik dan 1 aspek (12,5%) yang memperoleh cukup.

Kesimpulan

Hasil belajar siswa yang tercapai dan diperoleh siswa dari evaluasi tes tertulis pada akhir pembelajaran mengalami peningkatan,untuk siklus I 19 siswa (73,1 %) yang telah mencapai ketuntasan belajar dan masih terdapat 7 siswa (26,9 %) yang belum mencapai ketuntasan belajar dengan daya serap siswa mencapai 77,69 %. Pada siklus II terjadi peningkatan menjadi 26 orang (100 %) yang mencapai ketuntasan dalam belajar dengan daya serap siswa mencapai 83,9 %.

Pengamatan tentang kegiatan belajar mengajar pada siklus I, 5 aspek (62.5%) yang memperoleh kriteria baik dan 3 aspek (37.5%) yang memperoleh kriteria cukup. Pada siklus kedua meningkat menjadi 7 aspek (87,5%) yang memperoleh kriteria baik dan 1 aspek (12,5%) memperoleh kriteria cukup.

(11)

Referensi

Abdullah. (2013). Pandangan Orangtua Terhadap Pendidikan Anaknya (Studi Kasus Pada Petani Yang diduga Kurang Memperhatikan Pendidikan Anaknya di Desa Jejangkit Pasar Kecamatan Jejangkit Kabupaten Barito Kuala) (IAIN Antasari).

IAIN Antasari. Retrieved from http://idr.uin-antasari.ac.id/30/

Azhar Arsyad. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta : PT Radja Grafindo Persada.

Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Dimyati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Dirjen Pendidikan tinggi Depdikbud.

Djamarah Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Ahmad, Rohani dan Abu Ahmadi. 2005. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta : Rineka Cipta

Azhar Arsyad. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta : PT Radja Grafindo Persada.

Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Dimyati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Dirjen Pendidikan tinggi Depdikbud.

Djamarah Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta Ibrahim, Muslimin, dkk.. 2000. Pembelajaran Kooperatif, Surabaya : Pusat Sains

dan Matematika Sekolah Program pasca Sarjana UNESA University Press.

Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Soekamto dan Winataputra. 2007. Teori Belajar dan Metode-Metode Pembelajaran.

Jakarta direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen pendidikan dan Kebudayaan

Sudjana. 2004. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya

Syah. 2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Winddiharto.2004. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Gema Pena.

Winkel,W.S. 2004. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Grasindo

Referensi

Dokumen terkait

Untuk siswa tuntas belajar (nilai ketuntasan 60) pada tes awal 46,51%, tes siklus pertama 86,95%, dan pada tes siklus kedua siswa belajar tuntas mencapai 100%.Penelitian

Tes akhir siklus II mencapai 88,63% dengan rata-rata skor 80,70 (kriteria tuntas) dengan 39 siswa tergolong tuntas dan 5 siswa tidak tuntas. Dari hasil penelitian dapat

yang tuntas setelah dilakukan tindakan pada siklus I meningkat menjadi 13 siswa (50%) dan meningkat lagi menjadi 23 siswa (88%) pada siklus II, dengan adanya

Pada kegiatan tes awal terdapat 10 orang siswa yang tuntas dan 19 orang siswa yang belum tuntas dengan daya serap klasikal 59,14% dan ketuntasan klasikal 34,48% hal ini

Selanjutnya, pada siklus II, kemampuan berpikir kreatif siswa semakin meningkat, mencapai persentase 81,2% dengan rata-rata 32,2 dari 7 kelompok, sedangkan untuk hasil belajar

Hasil belajar pada ranah kognitif siswa yang tuntas mencapai nilai KKM pada siklus I hanya 9,09%, siklus II terjadi peningkatan mencapai 54%, kemudian siklus III meningkat menjadi

siswa adalah 41%, sedangkan kriteria yang ingin dicapai. Dapat disimpulkan jika keduanya belum memenuhi kriteria yang ditetapkan. Berdasarkan nilai yang didapatkan siswa

Hasil belajar matematika siswa telah mencapai indikator keberhasilan yaitu tuntas secara klasikal 85% yang mendapat nilai ≥ 70 dari skor ideal 100 sesuai dengan KKM yang telah