PENINGKATAN KEKUATAN OTOT PADA PASIEN PASCA STROKE DENGAN HEMIPARESIA DI RUANG FISIOTERAPI RSUD ULIN BANJARMASIN. Pengaruh latihan gerak terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien pasca stroke dengan hemiparesis di ruang fisioterapi RS Ulin Banjarmasin. Pada pasien pasca stroke dengan hemiparesis, efek latihan olah raga adalah meningkatkan kekuatan otot (p- 0,000 < α 0,05).
Kesimpulan: Latihan gerak dengan ROM (Range of Motion) berpengaruh terhadap peningkatan kekuatan pada pasien pasca stroke dengan hemiparesis.
Rumusan Masalah
Tujuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan pertimbangan dalam upaya menambah pengetahuan tentang pasien hemiparesis pasca stroke. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai metode pelayanan khususnya pada pasien hemiparesis pasca stroke.
Keaslian Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh pemberian latihan rentang gerak terhadap keterampilan motorik pada pasien pasca stroke di RSUD Gambran. 3 Pengaruh latihan Rom terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien hemiparesis pasca stroke di RSUP Dr. Moewardi, Surakarta (Nur Aini Andarwati, 2013). Hasil analisis uji T-test berpasangan diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05) yang berarti Ha diterima, sehingga “Ada pengaruh latihan ROM terhadap peningkatan kekuatan otot pasien.
Kekuatan otot adalah kekuatan suatu otot atau sekelompok otot yang dihasilkan untuk menahan perlawanan dengan usaha maksimal. Pengukuran kekuatan otot merupakan pengukuran untuk mengevaluasi kontraktilitas, termasuk otot dan tendon serta kemampuannya dalam mengerahkan tenaga. Tes kekuatan otot diberikan kepada individu yang mencurigai atau benar-benar mengalami penurunan kekuatan atau daya tahan otot (Yuliastati, 2011).
Pengukuran kekuatan otot dapat dilakukan dengan menggunakan pengujian otot manual yang disebut MMM (manual Muscle Testing). Range of Motion (ROM) merupakan suatu latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakkan sendi secara normal dan sempurna untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot (Potter & Perry, 2005). Suratun, dkk (2006) Range of Motion adalah gerakan yang dapat dilakukan oleh sendi yang bersangkutan dalam keadaan normal.
Latihan ROM adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan kemampuan menggerakkan sendi secara normal dan penuh untuk meningkatkan massa dan tonus otot guna mencegah terjadinya deformitas, kekuatan dan kontraktur (Nurhidayah, dkk. 2014).. a) Pemeliharaan atau pemeliharaan kekuatan otot b ) Menjaga mobilitas sendi. Penelitian ini mengkaji terapi latihan gerak terhadap kekuatan otot pada pasien pasca stroke dengan hemiparesis karena kekuatan otot pada pasien pasca stroke dengan hemiparesis mengalami kelemahan bahkan kelumpuhan, oleh karena itu terapi latihan gerakan sangat penting untuk mencegah kekakuan sendi dan meningkatkan kekuatan otot.
Hipotesis
Latihan gerakan dimulai dari leher, bahu, siku, lengan bawah, pergelangan tangan, jari tangan, tungkai, lutut dan kaki.
Penentuan Lokasi, Waktu dan Saran Penelitian 1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Metode Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani terapi peningkatan kekuatan otot pada pasien pasca stroke dengan hemiparesis di ruang fisioterapi RS ULIN Banjarmasin. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan random sampling pada pasien yang menjalani terapi peningkatan kekuatan otot pada pasien pasca stroke dengan hemiparesis di ruang fisioterapi RS ULIN Banjarmasin pada bulan November 2017-Desember 2017. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut. Variabel terikat pada penelitian ini adalah peningkatan kekuatan otot latihan pada pasien pasca stroke dengan hemiparesis.
Latihan Range of Motion (ROM) merupakan latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakkan sendi secara normal dan sempurna untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot (Potter & Perry, 2005).
Pengumpulan Data
Data sekunder pada penelitian ini diperoleh melalui catatan pengelola terapi fisik dan rekam medis mengenai data pasien pasca stroke dengan hemiparesis. Instrumen pada penelitian ini menggunakan skala kekuatan otot 0 – 5 untuk mengetahui kekuatan otot sebelum dan sesudah latihan ROM (Range of Motion) pada pasien Pasca Stroke dengan hemiparesis di ruang fisioterapi RS Ulin Banjarmasin. Instrumen penelitian adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat perubahan kekuatan otot dengan menggunakan skala kekuatan otot 0 sampai 5 dengan keterangan sebagai berikut: 0 : tidak ada gerakan.
Metode Analisis Data
4: Dapat bergerak melawan tahanan namun lemah. 5: Dapat bergerak dan melawan tahanan. diisi oleh peneliti yang mengkaji isi panduan nilai kekuatan otot, meliputi kelengkapan, kejelasan, relevansi, konsistensi. Coding yaitu kegiatan mengubah data yang berupa huruf menjadi data yang berupa angka atau angka, peneliti memberi kode pada setiap checklist yang diisi peneliti secara berurutan. Entry yaitu memasukkan data yang dikumpulkan dari panduan nilai kekuatan otot ke dalam program komputer.
Cleaning, yaitu memeriksa kembali data yang terprogram komputer untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam pemasukan data. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder yang masing-masing memberikan nilai kekuatan otot. Karakteristik responden, dari panduan nilai kekuatan otot, karakteristik dihitung dari pencapaian hasil yang diperoleh, kemudian diubah dalam bentuk persentase.
Sedangkan alternatif jalur cropped anova adalah uji Friedman, dimana pengujian ini dilakukan jika asumsi dalam statistik parametrik tidak terpenuhi atau karena sampel terlalu kecil. Artinya terdapat pengaruh latihan gerak terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien pasca stroke dengan hemiparesis. Artinya tidak terdapat pengaruh latihan gerak terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien pasca stroke dengan hemiparesis.
Deskripsi Lokasi Penelitan
Responden dalam penelitian ini adalah pasien stroke non hemoragik yang diambil dengan teknik random sampling dan diperoleh besar sampel sebanyak 20 responden pada tanggal 2 Desember sampai dengan 6 Januari 2018. Berdasarkan Tabel 4.2 terlihat mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki, 12 orang dan perempuan 8 orang. Berdasarkan Gambar 4.3 terlihat 13 responden berusia antara 46-55 tahun, 4 responden berusia antara 56-65 tahun, dan 3 responden berusia 66-75 tahun.
Analisis univariat mengenai skala kekuatan otot responden sebelum dilakukan pelatihan ROM pasif (Rage of Motion), terdapat 20 responden penderita stroke non hemoragik di ruang fisioterapi RSUD Ulin Banjarmasin. Berdasarkan Tabel 4.4 terlihat kekuatan otot maksimal responden sebelum melakukan latihan gerak dengan ROM pasif (Range Of Motion) mayoritas adalah 0 sebanyak 8 responden, 6 responden. Analisis univariat skala otot responden setelah latihan dengan ROM (Range of Motion) pada 20 responden stroke non hemoragik di ruang Fisioterapi RS Ulin Banjarmasin.
Berdasarkan Tabel 4.5 terlihat kekuatan otot mayoritas responden setelah dilakukan latihan ROM pasif (Range of Motion) sebanyak 2 sampai 8 responden, 8 responden mempunyai kekuatan otot 3, 3 responden mempunyai kekuatan otot 4 dan 4 responden mempunyai kekuatan otot 1. Perbandingan skala kekuatan Otot responden sebelum dan sesudah melakukan latihan rentang gerak dengan ROM (Range Of Motion) pada 20 responden non hemoragik penderita stroke di ruang fisioterapi RS Ulin Banjarmasin. Berdasarkan Gambar 4.1 terlihat sebelum melakukan latihan rentang gerak dengan ROM pasif (Range Of Motion) 8 responden skala 0, 6 responden skala 1, 5 responden skala 2, 1 responden skala 3, setelah melakukan latihan rentang gerak dengan ROM pasif (Range of motion) 0 responden skala 1, 8 responden skala 2, 8 responden skala 3, 4 responden skala 4.
Skala Otot
Analisa Bivariant 1. Uji Normalitas
Oleh karena sampel pada penelitian ini kurang dari 50 sampel, maka uji normalitas yang digunakan adalah uji normalitas Shapiro Wilk. Hasil uji normalitas menunjukkan data sebelum perlakuan sebesar 0,003 lebih kecil dari nilai 0,05 yang berarti data tidak berdistribusi normal. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kekuatan otot sebelum dilakukan latihan ROM pasif (Range Of Motion) dan kekuatan otot setelah dilakukan latihan ROM (Range Of Motion) pasif pada 20 responden pasca stroke non hemoragik dilakukan uji statistik Friedman.
Berdasarkan hasil uji Friedmen diperoleh p-value = 0,000 < 0,05 sehingga dapat dikatakan terdapat pengaruh latihan gerak terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien pasca stroke non hemoragik dengan hemiparesis dari hasil 3 pengukuran. Pembahasan analisis pengaruh latihan ROM (range of motion) terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien pasca stroke.
Pembahasan Analisis Pengaruh Latihan Gerak ROM (Range Of Motion) Terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Pada Pasien Pasca Stroke Terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Pada Pasien Pasca Stroke
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Kun Ika Nur Rahayu, 2015) bahwa responden yang mendapat pelatihan ROM dua kali sehari mengalami peningkatan kekuatan otot setelah dilakukan selama 7 hari. Skala kekuatan otot responden sebagian besar adalah 0, dari 16 responden terdapat 8 responden yang menunjukkan skala kekuatan otot 0. Analisis pengaruh latihan ROM (Range of Motion) terhadap perubahan kekuatan otot pada pasien pasca stroke di Ruang Fisioterapi RS Ulin Banjarmasin.
Uji statistik Friedmen menunjukkan rata-rata kekuatan otot sebelum latihan ROM pasif adalah 1,05, sedangkan rata-rata kekuatan otot setelah latihan ROM pasif adalah 2,95. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Purwanti et al, 2011) bahwa setelah pasien mendapat pelatihan ROM pasif selama 7 hari, terdapat manfaat bagi pasien yaitu peningkatan kekuatan otot dan kemampuan fungsional pada pasien stroke. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya mengenai pengaruh latihan gerak dengan ROM (Range of Motion) terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien pasca stroke di Ruang Fisioterapi RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2017, diperoleh kesimpulan sebagai berikut .
Kekuatan otot responden sebelum melakukan latihan passive ROM (Range Of Motion) tertinggi adalah skala 0 sebanyak 8 responden. Terjadi peningkatan kekuatan otot, dengan rata-rata kekuatan otot sebelum dilakukan latihan ROM (Range Of Motion) sebesar 1,05, sedangkan setelah dilakukan latihan ROM (Range Of Motion) pasif sebesar 2,95. Terdapat pengaruh yang signifikan terhadap skala kekuatan otot sebelum dan sesudah latihan ROM (Range of Motion) pasif pada penelitian yang dilakukan di Ruang Fisioterapi RSUD Ulin Banjarmasin pada tahun 2017.
Saran
Kami berharap mereka memiliki keyakinan, kepercayaan dan kesabaran dalam menghadapi segala proses penyembuhan yang harus mereka lalui, termasuk proses penyembuhan pasca stroke. Kami berharap dapat mengembangkan penelitian tentang latihan ROM (Range of Motion) pada pasien stroke hemoragik, dengan memberikan perhatian khusus pada faktor perancu untuk meminimalkan bias penelitian. Statistik penyakit jantung dan stroke: panduan kami untuk statistik terkini dan tambahan untuk fakta penyakit jantung dan stroke - pembaruan 2010.
Perbandingan latihan ROM unilateral dan latihan ROM bilateral terhadap kekuatan otot pada pasien hemiparesis akibat stroke iskemik di RSUD Kota dan RSUD Tasikmalaya. Efektivitas active-assistive range of motion (ROM): spherical grip terhadap peningkatan kekuatan otot ekstremitas atas pada pasien stroke di RSUD Tugurejo Semarang. Pengaruh latihan ROM (Range Of Motion) pasif terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien stroke hemiparesis.
National Institute of Neurological Disorders and Stroke, 2015., Stroke: Hope through Research, United States: National Institute of Neurological.