• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyusunan Naskah Akademis Undang-Undang

N/A
N/A
Devi Aprianti

Academic year: 2025

Membagikan "Penyusunan Naskah Akademis Undang-Undang"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

“PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIK UNDANG - UNDANG”

PERANCANGAN PERATURAN PERUNDANG - UNDANGAN

(2)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dalam pembentukan undang – undang (UU) terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui sebelum akhirnya undang - undang tersebut diberlakukan di masyarakat. UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang – Undangan menentukan bahwa tahapan pembentukan tersebut terdiri atas perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundangan. Adanya proses yang panjang terhadap pembentukan UU bukan dilaksanakan tanpa sebab. Hal ini dikarenakan UU yang telah berlaku nantinya akan menjadi pedoman masyarakat dalam bertingkah laku guna mencapai kedamaian dan ketertiban hidup. Sehingga atas hal tersebut diperlukan formulasi yang tepat yang dapat memberikan kebermanfaatan, kepastian hukum, dan keadilan.

Bahwa terhadap tahap awal dari pembentukan UU adalah dengan melakukan perencanaan Rancangan Undang – Undang (RUU). Perencanan RUU bertujuan untuk menggambarkan kebutuhan atau skala proritas pembentukan PUU, menggambarkan substansi/materi yang diatur dalam undang – undang, mencegah tumpang tindih atau pemborosan, dan memberikan patokan waktu dan sumeber daya1. Pasal 16 sampai dengan Pasal 23 UU No. 12 Tahun 2011 bahwa kegiatan yang termasuk pada tahap perencanaan RUU ini meliputi penyusunan NA (Naskah Akademik); penyusunan Prolegnas (Program Legislasi Nasional) jangka menengah; penyusunan Prolegnas prioritas tahunan; perencanaan penyusunan RUU kumulatif terbuka; dan perencanaan penyusunan RUU di luar Prolegnas2.

1 lcbadiklat-jateng.kemenkumham.go.id. (2020). Perencanaan Penyusunan Peraturan Perundang-Undangan.

hal. 6.

2 Wija Atmaja, G.M, et all. (2018). Hukum Perundang -Undangan. Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia, hal.

186.

(3)

Nasakah Akademik (NA) bukanlah hal pertama yang disusun dalam tahap perencanaan.

Akan tetapi, Naskah Akademik disusun setelah adanya penyusunan terhadap Program Legilasasi Nasional (Prolegnas). Berkenaan dengan Naskah Akademik sesuai dengan Pasal 43 ayat (3) UU No. 12 Tahun 2011 mengatur bahwa “Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR, Presiden, atau DPD harus disertai Naskah Akademik”. Hal ini menandakan bahwa keberadaan NA tidak dapat diabaikan dalam pembentukan UU, sekalipun itu berasal dari RUU oleh Presiden, DPR, ataupun DPD. Meskipun pada ayat (4) terdapat pengecualian yang menentukan bahwa terhadap RUU tentang hal tertentu, dapat dibentuk tanpa naskah akademik

3.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka disusun rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah yang dimaksud dengan Naskah Akademik dan perannya dalam pembetukan undang - undang?

2. Bagaimanakah tahapan penyusunan Naskah Akademik dalam pembentukan undang - undang?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan berdasarkan pada rumusan masalah yang telah disusun yaitu:

1. Untuk mengetahui Naskah Akademik dan perannya dalam pembentukan undang - undang 2. Untuk mengetahui tahapan penyusunan Naskah Akademik dalam pembentukan undang -

undang

3 Supriyanto, E. (2017). Kedudukan Naskah Akademik Dalam Penafsiran Ketentuan-Ketentuan Dalam Undang- Undang. Yuridika, hal. 385.

(4)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Naskah Akademik dan Perannya Dalam Pembentukan Undang - Undang

Ketentuan Pasal 1 angka 11 UU No. 12 Tahun 2011 mengatur bahwa “Naskah Akademik adalah naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam suatu Rancangan Undang-Undang, Rancangan Peraturan Daerah Provinsi, atau Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sebagai solusi terhadap permasalahan dan kebutuhan hukum masyarakat”. Istilah Naskah Akademik (NA) di Indonesia mulai dikenal sejak adanya Keputusan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional Nomor G- 159.PR.09.10 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Naskah Akademik Peraturan Perundang – Undangan4.

Mulanya dalam pembentukan undang – undang, NA bukanlah suatu keharusan yang wajib disusun dalam pelaksanaan hal tersebut. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2005 bahwa “Pemrakarsa dalam menyusun rancangan Undang – Undang dapat terlebih dahulu menyusun Naskah Akademik mengenai materi yang akan diatur dalam Rancangan Undang – Undang. Berdasarkan ketentuan tersebut bahwa dengan adanya kata “dapat” memiliki makna bahwa penyusunan NA bisa dilakukan ataupun tidak karena tidak termuatnya makna keharusan. Kemudian barulah setelah diberlakukannya UU No. 12 Tahun 2011 sebagai dasar hukum pembentukan peraturan perundang – undangan di Indonesia, pada Pasal 43 ayat (3) menentukan bahwa penyusunan NA adalah suatu kewajiban5

4 Gusman, D. (2011). Urgensi Naskah Akademik Dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Yang Baik. Masalah-Masalah Hukum, 40(3), hal. 299.

5 ibid, hal. 300.

(5)

. Namun, sesuai dengan ayat (4) terdapat suatu pengecualian bahwa penyusunan NA dapat ditidakan apabila RUU yang disusun mengatur tentang:

a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;

b. penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang menjadi Undang-Undang c. pencabutan Undang-Undang atau pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti

Undang-Undang.

Jika merujuk ketentuan Pasal 1 angka 11 bahwa NA itu pada hakikatnya ialah naskah penelitian terhadap suatu masalah tertentu. Oleh karena sebagai suatu hasil penelitian maka terdapat beberapa hal penting yang harus ditelaah berdasarkan substansinya. Pertama, menalaah urgensi dari diperlukannya peraturan baru. Kemudian menelaah terhadap komponen serta isi materi dan komponen utama dari peraturan. Terakhir, menelaah terhadap proses pembentukan undang – undang, mencakup pada tahup penyusunan hingga pengesahan peraturan. Sehingga dengan adanya penyusunan NA lebih dahulu mampu membantu untuk mengetahui segenap permasalahan tertentu yang terjadi di masyarakat. Dimana selanjutnya NA tersebut akan menjadi pedoman dalam penyusunan suatu rancangan undang – undang6.

Secara substansi paling tidak terdapat beberapa aspek penting dalam penyusunan NA yakni dasar filosofis, yuridis, politis, sosiologis, pokok dan lingkup materi yang diatur.

a. Dasar Filosofis. Merupakan suatu pandangan filsafat yang berkaitan dengan pandangan yang dijadikan cita – cita ketika masalah tersebut dituangkan dalam undang – undang.

Keberadaan atas dasar filosofis ini membantu guna menghindari pemberlakuan undang – undang yang bertentang dengan nilai – nilai, seperti nilai etika, adat, agama, dan nilai

6 Sihombing, D.L., Nasution, B., Nasution, F.A. dan Siregar, M. (2022). Peran Naskah Akademik Dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Locus: Jurnal Konsep Ilmu Hukum, 2(1), hal. 231.

(6)

hakiki dan luhur lainnya di masyarakat. Adapun landasan filosofis ini berdasarkan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.

b. Dasar Yuridis. Merupakan landasan hukum dari suatu pembentukan undang – undang guna menghindari pertentangan antara suatu undang – undang dengan peraturan lain yang secara hierarki berada di atasnya. Selain itu, landasan ini untuk mencipatakan pemberlakuan undang – undang yang selaras dan memenuhi tuntutan dinamika kebutuhan hukum masyarakat.

c. Dasar Politis. Merupakan suatu landasan untuk menghindari pemberlakuan suatu undang – undang yang merugikan masyarakat demi terciptanya UU yang sesuai dengan tujuan hukum. Oleh Sony Lubis dinyatakan bahwa “dasar politik merupakan kebijaksanaan politik yang menjadi dasar selanjutnya bagi kebijakan dan pengarahan ketatalaksanaan pemerintahan”.

d. Dasar Sosilogis. Merupakan suatu landasan untuk menciptakan eksistensi yang panjang dari pemberlakuan suatu undang – undang yang juga guna menghidarinya dari pencabutan di akar – akar sosial masyarakat. Hal ini mengingat juga penyusunan NA dilaksanakan dengan kajian terhadap kenyataan masyarakat berkenaan dengan kebutuhan masyarakat, aspek sosial ekonomi dan nilai – nilai yang hidup dan berkembang (rasa keadilan masyarakat). Atau landasan ini memberikan gammbaran terkait fakta empiris masalah dan kebutuhan hukum masyarakat7.

Naskah akademik menjadi gambaran awal terkait dengan substansi, materi, dan ruang lingkup atas pemberlakuan dari suatu undang – undang nantinya. Hal ini tidak lepas akan muatan dalam NA yang juga berisikan konsepsi, pendekatan, dan asas dari materi – materi hukum dan pemikiran – pemikiran norma atas suatu RUU tersebut. Selain itu, terkait masalah yang akan dibahas dalam NA, di dalamnya memberikan pertimbangan bagi pihak eksekutif dan

7 Gusman, D, loc. cit.

(7)

legsilatif pembentukan undang – undang dalam rangka pengambilan keputusan. Selain harus memperhatikan jenis dan materi dalam suatu undang – undang sesuai dengan azas kesesuaian.

Dalam penyusunan NA juga memerlukan penerapan azas dapat dilaksanakan guna terbentuknya suatu undang – undang yang efektif, baik secara filosif, sosilogis, atau yuridis.

Penyusunan NA dalam pembentukan suatu undang – undang berfungsi sebagai tolak ukur ilmiah mengenai konsepsi yang berisikan latar belakang, tujuan penyusunan, sasaran serta ruang lingkup, jangkauan, objek atau arah pengaturan rancangan peraturan, yang keberadaannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hal ini mengingat penyusunan NA yang dilaksanakan dengan penelitian, menyerap dan mengakomadir secara ilmiah kebutuhan hingga harapan masyarakat dari pemberlakuakn undang – undang itu nantinya.

Artinya penyusunan NA ini juga sebagai wadah terhadap peran serta masyarakat dalam penyusunan suatu UU. Selain itu, fungsi NA ialah sebagai pedoman untuk menentukan substansi atau materi yang akan diatur sekaligus guna menerjemahkannya ke dalam kalimat hukum yang jelas, tegas, dan tidak multitafsir, bagi perancang undang – undang8.

Berdasarkan hal tersebut juga sebagaimana pendapat oleh Rudianto bahwa urgensi atau peran penting NA dalam penyusunan undang – undang ialah sebagai berikut:

 Konsep awal yang memuat gagasangagasan tentang dasar pemikiran perlunya disusun suatu rancangan peraturan perundang-undangan, asas -asas hukum, ruang lingkup, dan materi muatan peraturan perundangundangan dimaksud;

 Bahan pertimbangan yang dipergunakan dalam permohonan izin prakarsa penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan;

 Bahan dasar bagi penyusunan Rancangan Undang-Undang;

8 Sihombing, D.L., Nasution, B., Nasution, F.A. dan Siregar, M, op. cit, hal. 237 – 238.

(8)

 Pedoman dari sudut pandang akademik dalam menjelaskan alasan-alasan penarikan rumusan norma tertentu di dalam rancangan peraturan perundang-undangan di setiap tingkat pembahasan rancangan peraturan perundang-undangan terkait;

 Bahan dasar Keterangan Pemerintah mengenai rancangan peraturan perundang- undangan yang disiapkan Pemrakarsa untuk disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat9.

2.2 Tahapan Penyusunan Naskah Akademik Dalam Pembentukan Undang - Undang Sesuai dengan Pasal 44 ayat (1) UU No. 11 Tahun 2012 tentang Pembentukan Peraturan Perundang – Undangan bahwa “Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang – Undang dilakukkan sesuai dengan teknik penyusunan Naskah Akademik”. Adapun berkaitan dengan teknik penyusunan NA tersebut telah dimuat dengan jelas mengenai sistematika NA suatu undang – undang dalam Lampiran I UU No. 11 Tahun 2012. Berdasarkan hal tersebut bahwa sistematika Naskah Akademik terdiri atas sebagai berikut:

 Judul, Kata Pengantar, Daftar Isi

 BAB I Pendahuluan. Bagian yang berisikan latar belakang, sasaran yang akan diwujudkan. identfikasi masalah, tujuan dan kegunaan, serta metode penelitian.

a) Latar belakang. Memuat pemikiran dan alasan-alasan perlunya penyusunan Naskah Akademik, menjelaskan mengapa pembentukan Rancangan Undang-Undang memerlukan suatu kajian yang mendalam dan komprehensif mengenai teori atau pemikiran ilmiah yang berkaitan dengan materi muatan RUU yang akan dibentuk, sebagai acuan pembentukan RUU tertentu yang mengarah kepada penyusunan argumentasi filosofis, sosiologis serta yuridis guna mendukung perlu atau tidak perlunya penyusunan RUU.

9 Basyir, A. (2014). Pentingnya Naskah Akademik Dalam Pembentukan Peraturan Perundangundangan Untuk Mewujudkan Hukum Aspiratif Dan Responsif. IUS, 2(5), hal. 297.

(9)

b) Identifikasi Masalah. Berisikan mengenai rumusan mengenai masalah apa yang akan ditemukan dan diuraikan dalam NA, yang pada dasarnya memuat empat pokok masalah:

1) Permasalahan apa yang dihadapi dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat serta bagaimana permasalahan tersebut dapat diatasi; 2) Mengapa perlu RUU sebagai dasar pemecahan masalah tersebut, yang berarti membenarkan pelibatan negara dalam penyelesaian masalah tersebut. 3) Apa yang menjadi pertimbangan atau landasan filosofis, sosiologis, yuridis pembentukan RUU 4) Apa sasaran yang akan diwujudkan, ruang lingkup pengaturan, jangkauan, dan arah pengaturan.

c) Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik. Bagian tujuan memuat ruang lingkup sesuai dengan identifikasi terhadap empat pokok permaslaahan di atas. Sementara kegunaan penyusunan NA ialah sebagai acuan atau referensi penyusunan dan pembahasan RUU.

d) Metode Penelitian. Berkaitan dengan metode dapat menggunakan metode penelitian hukum yang meliputi metode yuridis normatif (studi pustaka yang menelaah (terutama) data sekunder yang berupa Peraturan Perundang-undangan, putusan pengadilan, perjanjian, kontrak, atau dokumen hukum lainnya, serta hasil penelitian, hasil pengkajian, dan referensi lainnya) dan metode yuridis empiris atau sosiolegal (penelitian yang diawali dengan penelitian normatif yang dilanjutkan dengan observasi yang mendalam serta penyebarluasan kuesioner untuk mendapatkan data faktor nonhukum yang terkait dan yang berpengaruh terhadap Peraturan Perundang-undangan yang diteliti.

 BAB II Kajian Teoritis dan Praktik Empiris. Pada bagian ini memuat kajian teoritis, kajian erhadap asas/prinsip yang terkait dengan penyusunan norma, kajian terhadap praktik

(10)

penyelenggaraan, kondisi yang ada, serta permasalahan yang dihadapi masyarakat, dan kajian terhadap implikasi penerapan sistem baru yang akan diatur dalam Undang-Undang atau Peraturan Daerah terhadap aspek kehidupan masyarakat dan dampaknya terhadap aspek beban keuangan negara.

 BAB III Evaluasi dan Analisis Peraturan Perundang – Undangan Terkait. Bagian ini melakukan kajian terhadap p Peraturan Perundang - undangan terkait yang memuat kondisi hukum yang ada, keterkaitan Undang-Undang dengan Peraturan Perundang- undangan lain, harmonisasi secara vertikal dan horizontal, serta status dari Peraturan Perundang-undangan yang ada, termasuk Peraturan Perundang-undangan yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku serta Peraturan Perundang-undangan yang masih tetap berlaku karena tidak bertentangan dengan UndangUndang atau Peraturan Daerah yang baru. Tujuan dilaksanakannya hal tersebut untuk mengetahui kondisi hukum atau peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai substansi atau materi yang akan diatur.

 BAB IV Landasan Filosofis, Sosilogis, dan Yuridis.

Landasan filosofis merupakan alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran, dan cita hukum yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Landasan sosilogis merupakan pertimbangan bahwa peraturan yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang menyangkut fakta empiris mengenai perkembangan masalah dan kebutuhan masyarakat dan negara.

Landasan Yuridis Landasan yuridis merupakan pertimbangan atau alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk mengatasi permasalahan hukum atau mengisi kekosongan hukum dengan mempertimbangkan aturan yang telah ada, yang

(11)

akan diubah, atau yang akan dicabut guna menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat.

 BAB V Jangkauan, arah pengaturan, dan ruang lingkup materi muatan undang – undang.

Adapun berkenaan dengan ruang lingkup materi pada hakikatnya mencakup pada ketentuan umum memuat rumusan akademik mengenai pengertian istilah, dan frasa;

materi yang akan diatur; ketentuan sanksi; dan ketentuan peralihan.

 BAB VI Penutup. Pada bagian ini meliputi pada simpulan yang memuat rangkuman dari pokok pikiran serta saran yang meliputi pada erlunya pemilahan substansi Naskah Akademik dalam suatu Peraturan Perundang-undangan atau Peraturan Perundangundangan di bawahnya, rekomendasi tentang skala prioritas penyusunan Rancangan Undang-Undang dalam Program Legislasi Nasional, dan Kegiatan lain yang diperlukan untuk mendukung penyempurnaan penyusunan Naskah Akademik lebih lanjut.

 Daftar Pustaka, Lampiran: Rangan Peraturan Perundang – Undangan10.

Penyusunan NA sebagai bagian dari tahap perencanaan pembentukan suatu undang – undang dilaksanakan oleh pemrakarsa RUU. Bahwa sesuai dengan Konstitusi Negara RI, lembaga negara yang memiliki wewenang untuk merancang RUU ialah Presiden, DPR, dan DPD. Jadi ketiga lembaga negara tersebutlah yang menyusun naskah akademiknya sendiri ketika merancang suatu RUU. Secara teknis, penyusunan NA RUU oleh DPR diatur dalam Peraturan DPR-RI No. 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib. Sementara untuk DPD, penyusunan NA RUU dilaksanakan dengan berpedoman pada Peraturan DPR-RI No. 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib.

10 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- undangan.

(12)

Penyusunan NA dari rancangan undang – undang oleh Presiden selain berpedoman pada UU No. 12 Tahun 2011, tetapi juga diatur dalam Perpres No. 87 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang – Undangan. Berdasarkan Pasal 8 ayat (2) bahwa penyusunan NA RUU oleh Presiden itu dilaksanakan oleh Pemrakarsa yang berkoordinasi dengan Menteri. Adapun keberadaan Menteri ini disini berperan dalam membantu penyelarasan terhadap sistematika dan materi NA tersebut. Penyelarasan dilakukan dalam rapat penyelarasan yang juga melibatkan pemangku kepentingan. Dalam hal menteri telah menyelesaikan penyelarasan maka harus melampirkannnya bersamaan dengan penjelasan hasil penyelarasan kepada Pemrakasa. Hal ini dikarenakan NA beserta penyelarasannya akan dilampirkan pada daftar RUU dalam Prolegnas jangka menengah untuk dimasukkan ke dalam Prolegnas prioritas tahunan11.

Secara umum, tidak ada standar proses penyusunan naskah akademik dari suatu RUU, melainkan hanya berpedoman pada peraturan – peraturan tersebut. Jika merujuk pada seorang ahli, B. Hestu Cipto Handoyo, bahwa ada dua cara dalam proses penyusunan RUU yakni:

a. Mendahulukan penjaringan aspirasi. Bahwa cara ini dilaksanakan dengan mengadakan lebih dulu penyerapan aspirasi melalui seminar, lokakarya, focus group decision, ataupun expert meeting forum. Kemudian aspirasi yang ditampung akan dijadikan sebagai fondasi untuk selajutnya disusun dalam draft awal NA. Draft tersebut kembali lagi diskusikan secara publik yang diikuti oleh para stakeholder. Terhadap masukan atas draft awal NA itu, tim penyusun NA akan melaksanakan rapat internal guna menyempurnakan NA sebelum pada akhirnya diajukan ke pemrakarsa.

b. Mendahulukan penyusunan NA. Cara ini merupakan kebalikan atas cara di atas dimana dilaksanakan lebih dahulu penyusunan draft awal NA. Namun terhadap penyusunan draft awal tersebut, tim penyusun tetap melaksanakn dengan inventarisasi masalah dan

11 Wija Atmaja, G.M, et all, op. cit hal. 189 – 190.

(13)

mengumpulkan bahan – bahan penunanjang lebih dulu dalam penyusunannya.

Kemudian apabila telah tersusun barulah dilakukan serap aspirasi masyarakat melalui kegiatan yang serupa dengan cara pertama. Lalu aspirasi digunakan sebagai penyempurnaan draft awal NA oleh tim penyusunan di dalam diskusi internalnya12. Sementara beberapa ahli lainnya seperti Sirajudin, Fatkhurohman, dan Zulkarnain, dalam pennyusunan NA RUU, mengakomodir Metode ROCCIPI atau metode partisipasif.

Secara garis besar, tahapan penyusunan NA RUU atas metode itu terdiri dari:

a. Tahap Persiapan: Tahap persiapan: Pembentukan Tim Penyusun NA, pengumppulan data dan informasi, penyusunan agenda, dan pembagian tugas serta persiapan – persiapan teknis.

b. Tahap pelaksanaan penyusunan NA: penyusunan sistemaika draf NA, penyusunan draf awal NA.

c. Diskusi publik: menginformasikan draf NA, menghimpun masukan – masukan dari berbagai pihak

d. Evaluasi draf NA: menginventarisasi masukan – masukan, mengakomodir masukan – masukan yang bermanfaat ke dalam draf NA.

e. Finalisasi: melakukkan penetapan draf NA.

f. Mengajukan NA kepada pemrakarsa: Menyampaikan NA kepada Pemerintah, DPR atau DPD sebagai bahan masukan atau pertimbangan dalam pembahasan rancangan peraturan perundang-undangan13.

12 ibid, hal. 191.

13 ibid, hal. 192.

(14)

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

“Naskah Akademik adalah naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam suatu Rancangan Undang-Undang, Rancangan Peraturan Daerah Provinsi, atau Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sebagai solusi terhadap permasalahan dan kebutuhan hukum masyarakat”. Penyusunan NA dalam pembentukan suatu undang – undang berfungsi sebagai tolak ukur ilmiah mengenai konsepsi yang berisikan latar belakang, tujuan penyusunan, sasaran serta ruang lingkup, jangkauan, objek atau arah pengaturan rancangan peraturan, yang keberadaannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu, keberadaan NA berfungsi sebagai bahan pertimbangan / pedoman atas penyusunan RUU terkait.

Dalam penyusunan NA, harus memuat landasan filosofis, landasasan sosiologis, dan landasan yuridis. Sesuai dengan isi Lampiran I UU No. 12 Tahun 2011 bahwa sistematika NA terdiri atas Judul, Kata Pengantar, Daftar Isi, BAB I Pendahuluan, BAB II Kajian Teoritis dan Praktik Empiris, BAB III Evaluasi dan Analisis Peraturan Perundang – Undangan Terkait, BAB IV Landasan Filosofis, Sosilogis, dan Yuridis, BAB V Jangkauan, arah pengaturan, dan ruang lingkup materi muatan undang – undang, BAB VI Penutup, Daftar Pustaka, Lampiran:

Rangan Peraturan Perundang – Undangan.

Secara umum, tidak ada standar proses penyusunan naskah akademik dari suatu RUU, melainkan hanya berpedoman pada segenap peraturan yakni UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang – Udangan, Peraturan DPR-RI No. 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib (penyusunan NA RUU oleh DPR), Peraturan DPR-RI No. 1 Tahun 2014 tentang

(15)

Tata Tertib (penyusunan NA RUU oleh DPR), dan Perpres No. 87 Tahun 2014 (penyusunan NA RUU oleh DPR). Jika merujuk pada seorang ahli, B. Hestu Cipto Handoyo, bahwa ada dua cara dalam proses penyusunan RUU yakni Mendahulukan penjaringan aspirasi dan mendahulukan penyusunan NA. Sementara beberapa ahli lainnya seperti Sirajudin, Fatkhurohman, dan Zulkarnain, dalam pennyusunan NA RUU, mengakomodir Metode ROCCIPI atau metode partisipasif.

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Basyir, A. (2014). Pentingnya Naskah Akademik Dalam Pembentukan Peraturan Perundangundangan Untuk Mewujudkan Hukum Aspiratif Dan Responsif. IUS, 2(5), hal. 297.

Gusman, D. (2011). Urgensi Naskah Akademik Dalam Pembentukan Peraturan Perundang- Undangan Yang Baik. Masalah-Masalah Hukum, 40(3), hal. 299 – 300.

lcbadiklat-jateng.kemenkumham.go.id. (2020). Perencanaan Penyusunan Peraturan Perundang-Undangan. hal. 6.

Sihombing, D.L., Nasution, B., Nasution, F.A. dan Siregar, M. (2022). Peran Naskah Akademik Dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Locus: Jurnal Konsep Ilmu Hukum, 2(1), hal. 231 – 238.

Supriyanto, E. (2017). Kedudukan Naskah Akademik Dalam Penafsiran Ketentuan-Ketentuan Dalam Undang-Undang. Yuridika, hal. 385.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

Wija Atmaja, G.M, et all. (2018). Hukum Perundang -Undangan. Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia, hal. 186 – 192.

Referensi

Dokumen terkait

100/PUU-XI/2012 yang memenuhi aspek keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum bagi pekerja maupun pemberi kerja dan implikasi hukum dari pembatalan pasal 96 Undang-Undang

2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menjadikan Naskah Akademik (academic paper) pembentukan rancangan undang- undang menjadi permasalahan aktual yang

Naskah Undang-Undang Minangkabau mengandung teks yang berisi aturan-aturan mengenai adat, hukum, lembaga adat dan lembaga hukum, dan manusia sebagai makhluk Tuhan,

Undang-Undang sebagai pedoman penegakan hukum sebagai sebuah kepastian hukum Indonesia apakah telah memenuhi rasa Keadilan dan kebenaran yang dicita-citakan

Sehubungan dengan selesainya tahapan Evaluasi Dokumen Kualifikasi pekerjaan Pembuatan Naskah Akademis Raperda KPR Desa Provinsi Banten pada proses Pengadaan Jasa

Dalam konsideran Rancangan KUHAP disebutkan bahwa “pembaruan hukum acara pidana juga dimaksudkan untuk lebih memberikan kepastian hukum, penegakan hukum, ketertiban hukum,

Dalam penelitian mengenai rekonstruksi hukum pendaftaran tanah dalam memberikan kepastian hukum sertifikat hak atas tanah berbasis nilai keadilan digunakan beberapa

Simpulan Jadi perlindungan hukum bagi korban hate speech adalah suatu gambaran dari fungsi hukum, yaitu konsep dimana hukum dapat memberikan suatu keadilan, ketertiban, kepastian,