1
PERAN KELUARGA DALAM MELAKUKAN KONTROL PERILAKU MEROKOK REMAJA DI DESA SIDOKERTO KECAMATAN
KARANGJATI KABUPATEN NGAWI
SKRIPSI
Oleh:
Eva Kristina Anjasari NIM. 303190007
Pembimbing:
Muchlis Daroini, M.Kom.I NIP. 201608029
JURUSAN BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO 2023
2
Abstrak
Perilaku merokok diawali oleh rasa ingin tahu dan pengaruh teman sebaya.
Perokok menyatakan bahwa setelah mencoba rokok pertama, seorang individu menjadi ketagihan merokok, dengan alasan-alasan seperti kebiasaan, menurunkan kecemasan, dan mendapatkan penerimaan. Perilaku merokok pada remaja umumnya semakin lama akan semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangannya yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas merokok, dan sering mengakibatkan mereka mengalami ketergantungan nikotin.
Dari uraian tersebut peneliti tertarik untuk meneliti hal tersebut. Tujuan penelitian yaitu 1) Untuk mengetahui perilaku merokok remaja di desa Sidokerto kecamatan Karangjati kabupaten Ngawi. 2) Untuk mengetahui peran keluarga dalam melakukan kontrol terhadap perilaku merokok remaja di desa Sidokerto kecamatan Karangjati kabupaten Ngawi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti melalui wawancara semi terstruktur dan observasi. Untuk teknik analisis data dengan menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dalam penelitian ini peneliti melibatkan enam informan diantaranya tiga remaja dan tiga orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Pengaruh perilaku merokok remaja di desa Sidokerto yaitu faktor orang tua, dimana orang tua adalah figur contoh bagi anak, jika orang tua perokok berat tidak menutup kemungkinan anak mereka akan mencontohnya juga. Faktor biologis, dimana jika seseorang yang sudah mencoba untuk merokok pasti mereka akan ketagihan karena kandungan dari nikotin yang ada di rokok. Faktor psikologis, dimana jika merokok itu bisa membuat orang yang mengkonsumsinya bisa berkosentrasi dengan apa yang dialaminya. Faktor lingkungan sosial, dimana mereka melakukan perilaku merokok karena memperhatikan dan mendapatkan contoh dari lingkungan sosial mereka. Faktor teman sebaya, dimana faktor teman sebaya sangat berpengaruh dalam dukungan dalam segala hal seperti dukungan atau paksaan untuk melakukan perilaku merokok. 2) Peran keluarga dalam melakukan kontrol terhadap perilaku merokok.
Upaya orang tua dalam menangani perilaku merokok pada remaja yaitu dengan
memberikan contoh yang baik kepada anak. Karena orang tua adalah figur contoh bagi anak. Dan faktor yang mempengaruhi kontrol keluarga yaitu faktor internal (diri pribadi anak itu sendiri) dan faktor eksternal, dimana keluarga merupakan orang yang terdekat anak, pendidikan pertama juga dilakukan oleh keluarga.
Orang tua harus jeli dalam mengawasi anak agar anak remaja mereka tidak melanggar norma yang ada, apalagi perilaku merokok dengan umur mereka yang masih menginjak remaja awal.
Kata Kunci: Kontrol Keluarga, Perilaku Merokok, Kontrol Diri.
4
6
8
BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Masa remaja ternasuk masa yang sangat memastikan sebab pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis serta fisiknya. Terbentuknya pergantian kejiwaan memunculkan kebimbangan digolongan remaja, mereka mengalami penuh gejolak emosi serta tekanan jiwa sehingga menyimpang dari ketentuan serta norma-norma sosial yang berlaku digolongan masyrakat. Dalam proses pertumbuhan kematangan psikologis serta biologis, remaja sering mengalami ketegangan, kebimbangan, serta kekhawatiran. Remaja jadi gemar coba-coba dalam emosi labil sehingga gampang terpengaruh.
Masa remaja boleh dibilang masa peralihan, peralihan tidak berarti terputus dari pergantian apa yang sudah terjalin lebih dahulu, melainkan lebih dari suatu peralihan satu sesi pertumbuhan ke sesi selanjutnya.
Maksudnya, apa yang sudah terjalin lebih dahulu hendak meninggalkan bekasnya pada apa yang hendak terjadi sekarang dan akan datang.
Remaja adalah suatu tingkatan umum dimana anak-anak tidak lagi anak-anak tetapi belum dapat dikatakan dewasa, remaja adalah umat yang menjembatani antara umur anak-anak dan dewasa, pada umumnya seperti inilah terjadi perubahan-perubahan dengan cepat pada jasmani, emosi, dan kecerdasan atau intelegensi. Menurut J. Dwi Narwoko, dan Bagong Suyanto remaja dibagi menjadi tiga tahapan, tahapan pertama yaitu remaja
awal (12-15 tahun), tahap kedua yaitu remaja pertengahan (15-18 tahun) dan ketiga remaja akhir (18-21 tahun). Jadi remaja yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu remaja yang berusia 12-21 tahun dimana adanya masa perubahan baik secara fisik, cara berfikir, sikap, dan tingkah laku, guna untuk menemukan identitas atau jati diri.1
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali ditemui orang merokok di mana-mana, baik di lingkungan sekitar, di pasar ataupun tempat umum lainnya atau bahkan di kalangan rumah tangga sendiri. Kebiasaan merokok dimulai dengan adanya rokok pertama. Umumnya rokok pertama dimulai saat usia remaja.
Perilaku merokok diawali oleh rasa ingin tahu dan pengaruh teman sebaya. Perokok menyatakan bahwa setelah mencoba rokok pertama, seorang individu menjadi ketagihan merokok, dengan alasan-alasan seperti kebiasaan, menurunkan kecemasan, dan mendapatkan penerimaan.
Perilaku merokok pada remaja umumnya semakin lama akan semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangannya yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas merokok, dan sering mengakibatkan mereka mengalami ketergantungan nikotin.
Efek dari merokok hanya meredakan kecemasan selama efek dari nikotin masih ada, malah ketergantungan nikotin dapat membuat seseorang menjadi tambah stres. Pengaruh nikotin dalam merokok dapat membuat seseorang menjadi pecandu atau ketergantungan pada rokok.
1 J. Dwi Narwoko, Bagong Suyanto, Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta:
Prenada Media Group, 2010).
10
Remaja yang sudah kecanduan merokok pada umumnya tidak dapat menahan keinginan untuk tidak merokok, mereka cenderung sensitif terhadap efek dari nikotin.
Kecenderungan remaja yang ingin mencoba merokok menyebabkan masalah kesehatan. Remaja adalah tahap dimana masih mencari jati diri mereka masih ingin mencoba hal–hal baru dan mudah terpengaruh terhadap lingkungan yang mereka tinggali. Di kalangan remaja saat ini, merokok bisa dikatakan sebagai kebiasaan yang wajar. Bahkan di mata perokok, merokok sering dianggap sebagai perilaku jantan (gentle) dan menganggap bahwa lelaki yang tidak merokok seperti seorang pecundang.
Karena pernyataan yang salah inilah maka banyak remaja yang terpengaruh dan memilih untuk merokok.
Perilaku merokok lebih tinggi ditemukan oleh orang yang mengalami stres dari pada tidak. Para perokok yang mengalami stres atau mengalami kejadian hidup yang tidak menyenangkan susah untuk berhenti merokok. Walaupun perokok menyatakan rokok dapat mengurangi stres tapi kenyataannya berhenti merokok yang dapat mengurangi stres.
Dilihat dari sisi orang disekelilingnya, merokok menimbulkan dampak negatif bagi perokok pasif. Resiko yang ditanggung perokok pasif lebih berbahaya dari pada perokok aktif karena daya tahan terhadap zat-zat yang berbahaya sangat rendah. Tidak ada yang memungkiri adanya dampak negatif dari perilaku merokok tetapi perilaku merokok bagi kehidupan manusia merupakan kegiatan yang fenomenal. Artinya,
meskipun sudah diketahui akibat negatif dari merokok tetapi jumlah perokok bukan semakin menurun tetapi semakin meningkat dan usia merokok semakin bertambah muda.
Perilaku merokok di kalangan remaja masih menjadi permasalahan sendiri di desa Sidokerto, karena masih ditemukannya remaja-remaja usia sekolah yang terlihat merokok di lingkungan masyarakat. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai perilaku merokok remaja dalam kaitannya dengan tekanan yang diterima dari teman sebaya.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada remaja di desa Sidokerto kecamatan Karangjati kabupaten Ngawi.
Contoh kasus berdasarkan penjajagan yang saya temui di sekitar saya termasuk di desa Sidokerto kecamatan Karangjati kabupaten Ngawi yaitu, remaja awal yang sudah merokok dikarenakan faktor lingkungan, teman sebaya dan keluarga yang membuat mereka sudah berani merokok.
Maka dari itu, peneliti mengambil judul “Peran Keluarga Dalam Melakukan Kontrol Perilaku Merokok Remaja Di Desa Sidokerto Kecamatan Karangjati Kabupaten Ngawi” untuk menelaah lebih dalam tentang perilaku merokok remaja di desa Sidokerto kecamatan Karangjati kabupaten Ngawi.
12
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perilaku merokok remaja di desa Sidokerto kecamatan Karangjati kabupaten Ngawi?
2. Bagaimana peran keluarga dalam melakukan kontrol terhadap perilaku merokok remaja di desa Sidokerto kecamatan Karangjati kabupaten Ngawi?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui perilaku merokok remaja di desa Sidokerto kecamatan Karangjati kabupaten Ngawi.
2. Untuk mengetahui peran keluarga dalam melakukan kontrol terhadap perilaku merokok remaja di desa Sidokerto kecamatan Karangjati kabupaten Ngawi.
D. Kegunaan Penelitian
Dalam penelitian ini, tentunya setiap tulisan memiliki manfaat dan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Dalam penelitian ini, terdapat dua manfaat yang hendak peneliti sampaikan kepada pembaca, di antaranya:
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil dari penelitian ini peneliti berharap dapat menjadi bahan pengembangan ilmu, bahan diskusi, dan bahan penelitian sejenis.
b. Penelitian ini juga dapat memperluas wawasan bagi pembaca terkhusus mahasiswa Bimbingan Penyuluhan Islam.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi orang tua dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi orang tua untuk lebih memperhatikan tentang pola asuh anak dan lebih memperhatikan pergaulan anak.
b. Untuk remaja diharapkan dapat memenejemen diri dengan baik, dan pintar-pintar memilih pergaulan yang positif.
c. Untuk penelitian ini bagi penulis sebagai bahan pembelajaran agar tidak sembarangan memilih pergaulan dan sebagai bahan pembelajaran kelak jika sudah berkeluarga dan mempunyai anak untuk lebih mengawasi pergaulan dan perkembangan anak.
E. Telaah Pustaka
Dalam penulisan ini, peneliti melakukan penelusuran secara digital untuk memudahkan penulis dan memperjelas perbedaan kajian antara apa yang akan peneliti tulis dan penelitian-penelitian sebelumnya. Adapun penelitian yang peneliti temukan sebagai berikut:
“Kontrol keluarga terhadap pencengahan kenakalan remaja”
penelitian ini ditulis oleh Sarah Rodia Natasya, Ruslan, dan Sanusi, mahasiswa Program Studi Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala dan dimuat dalam Jurnal Sosiolium volume 3. Dalam
14
penelitiannya Sarah Rodia Natasya, Ruslan, dan Sanusi menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian deskriptif.
Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan secara umum yaitu bentuk kotrol keluarga terhadap pencegahan kenakalan remaja yaitu memberikan kegiatan yang positif kepada anak, memberikan pedoman dalam Pendidikan agama, dan memberikan nasihat, tetapi ada kendala orang tua dalam mencegahan anak remajanya seperti pengaruh teman, minimnya pemahaman agama, pengaruh lingkungan, dan sikap tidak mau tahu. Informasi ini diambil dari responden anak remaja dan orang tuanya.2
Penelitian ini memiliki persamaan dalam membahas kontrol keluarga terhadap anak remajanya. Sedangkan perbedaan terdapat dalam teknik penelitian yang digunakan.
“Perilaku merokok pada remaja” penelitian ini ditulis oleh Indri Kemala Nasution, Universitas Sumatera Utara Medan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian studi kasus dan pendekatan kualitatif.
Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan secara umum yaitu bahwasannya perokok dimulai dari usia remaja diatas 13 tahun dan beberapa faktor yang mempengaruhi orang merokok yaitu seperti faktor psikologis dan juga stress, jumlah rokok yang mereka konsumsi berkaitan dengan stress yang mereka alami.3
2Sarah Rodia Natasya, Ruslan, dan Sanusi, “Kontrol Keluarga Terhadap Pencengahan Kenakalan Remaja.” Jurnal Sosiolium, 3 (Januari, 2021).
3 Indri Kemala Nasution, “Perilaku Merokok Pada Remaja.” Jurnal Usu Repository, (Agustus, 2007).
Penelitian ini memiliki persamaan dalam teknik dan pendekatan yang digunakan. Sedangkan perbedaan terdapat dalam penyebab faktor psikologis.
“Pengaruh pola asuh terhadap kualitas hidup siswa pelaku tawuran”
penelitian ini ditulis oleh Agustina, Yeni Anna Appulembang, dari Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling dan analisis data statistik dengan menggunakan kruskal wallis.
Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat perbedaan kualitas hidup yang ditinjau dari pola asuh orang tua pada siswa pelaku tawuran. Sebagian besar subyek penelitian memiliki pola asuh Ayah yang authoritative dan neglectful. Sedangkan pola asuh Ibu yang paling banyak adalah authoritarian.4
Penelitian ini memiliki persamaan dalam membahas akibat dari pola asuh orang tua. Sedangkan perbedaan terdapat dalam metode penelitian yang digunakan, dan kualitas hidup anak akibat dari pola asuh orang tua.
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian studi kasus, mempelajari secara intensif
4Agustina dan Yeni Anna Appulembang, “Pengaruh Pola Asuh Terhadap Kualitas Hidup Siswa Pelaku Tawuran.” Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, 1 (April, 2017).
16
tentang interaksi lingkungan, posisi, serta keadaan lapangan suatu unit penelitian secara apa adanya.
2. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini, lokasi penelitian ini terletak di desa Sidokerto kecamatan Karangjati kabupaten Ngawi. Alasan memilih lokasi tersebut karena peneliti tinggal dan mengetahui tentang subjek yang akan diteliti dan lebih menghemat biaya.
3. Data dan Sumber Data
Sumber data merupakan istilah yang mengacu pada sumber utama informasi yang diperoleh oleh peneliti. Jenis informasi tersebut dapat berupa manusia, kondisi atau suatu aktifitas dan dokumen. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah siswa SMP yang melakukan perilaku merokok dan warga di desa Sidokerto, kecamatan Karangjati, kabupaten Ngawi. Peneliti mengambil subjek tiga remaja perilaku merokok dan tiga warga setempat (orang tua remaja perilaku merokok).
Dalam penelitian ini terdapat dua jenis data, yaitu:
a. Data Primer
Data primer merupakan data yang langsung diperoleh dari sumber utama yang dalam penelitian ini. Data primer dalam penelitian ini merupakan hasil dari wawancara dan observasi di desa Sidokerto, kecamatan Karangjati, kabupaten Ngawi.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari selain sumber utama yang berfungsi untuk mendukung dan melengkapi penelitian. Dalam penelitian ini, data sekunder yang peneliti gunakan bersumber dari literature seperti buku, jurnal, artikel, dan literature lainnya yang dapat mendukung penelitian ini.5
4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara semi terstruktur dan juga observasi.
5. Teknik Pengolahan Data
Pada umumnya pengolahan data dan pemaknaan data dilakukan setelah data terkumpul atau kegiatan pengumpulan di lapangan dinyatakan selesai. Pengolahan data dimulai dengan mereduksi atau mengkategorisasi data lalu menyajikan data dan menarik kesimpulan.6 6. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis model Miles dan Huberman yang tersusun menjadi 3 tahapan yaitu:
a. Reduksi data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.
Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan
5 Samsu, Metode Penelitian: (Teori dan Aplikasi Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, Mixed Methods, serta Research & Development), (Jambi: Pustaka Jambi, 2017), 94-95.
6 Zuchri Abdussamad, Metode Penelitian Kualitatif, (Makasar: CV. Syalir Media Press, 2021), hlm 106.
18
gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.
b. Penyajian data
Dengan mendisplaykan data maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah difahami tersebut. Dalam melakukan display data, selain dengan teks yang naratif. Penarikan kesimpulan dan verifikasi
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelunya belum pernah ada. Apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang kuat dalam arti konsisten dengan kondisi yang ditemukan saat peneliti kembali ke lapangan maka kesimpulan yang diperoleh merupakan kesimpulan yang kredibel. 7
7. Pengecekan Keabsahan Data
Untuk mengecek keabsahan temuan, peneliti menggunakan metode triangulasi, yaitu menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh. Dan lebih spesifiknya, peneliti menggunakan triangulasi sumber, yaitu dengan wawancara, dan observasi.
7 Ibid., 160-163.
G. Sistematika Pembahasan
Dalam penelitian ini, peneliti membagi pembahasan menjadi empat bab:
BAB I: PENDAHULUAN, dalam bab ini berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, telaah pustaka dan metodologi penelitian.
BAB II: LANDASAN TEORI, dalam bab ini peneliti membahas tentang perilaku merokok, remaja, kontrol keluarga, dan kontrol diri.
BAB III: PAPARAN DATA, dalam bab ini peneliti membahas memaparkan data penelitian yang berupa hasil wawancara dan observasi meliputi data umum yang berisikan profil lokasi penelitian, profil narasumber, rumusan masalah pertama yang kebetulan peneliti memilih desa Sidokerto dan data khusus yaitu perilaku merokok remaja di desa Sidokerto.
BAB IV: PEMBAHASAN, bab ini berisi analisisa terhadap data dari rumusan masalah pertama dan kedua mencakup pembahasan dan analisis tentang teori perilaku merokok remaja perilaku merokok di desa Sidokerto dan kontrol keluarga yang diterapkan orang tua di desa Sidokerto terhadap remaja perilaku merokok di desa Sidokerto.
BAB V: PENUTUP, bab ini berisi kesimpulan, saran, dan juga daftar pustaka.
20 BAB II
KONTROL KELUARGA DAN PERILAKU MEROKOK
A. Perilaku
1. Pengertian Perilaku
Perilaku bisa dipahami selaku seluruh wujud aksi ataupun kegiatan baik bersifat fisik ataupun psikis yang ditunjukkan oleh seseorang. Ahli psikologi yang memandang sikap manusia (human behavior) selaku respon yang bersifat sederhana dan bersifat kompleks, sebab bisa saja dari satu ataupun lebih stimulus memunculkan sebagian reaksi. Ciri orang meliputi bermacam variabel-variabel ialah motif, nilai, perilaku, serta karakter, di mana antara satu dengan yang yang lain silih berhubungan, setelah itu berikutnya berhubungan pula dengan lingkungan, karena faktor lingkungan pula memiliki sebab terhadap perilaku.
Secara defenisi perilaku bisa dapat diartikan sebagai kesediaan bereaksi terhadap sesuatu perihal. Penafsiran lain mengemukakan bahwa (attitude) merupakan sesuatu kecenderungan untuk merespon sesuatu perihal, barang ataupun orang dengan suka (bahagia), tidak suka (menolak) ataupun acuh tidak acuh, perwujudannya dapat dipengaruhi oleh aspek pengetahuan, pembiasaan serta kepercayaan.
Maksudnya untuk membentuk perilaku yang positif ataupun melenyapkan perilaku negatif bisa dicoba pemberitahuan ataupun
menginformasikan faedah ataupun khasiatnya, dengan membiasakannya ataupun dengan meyakinkannya. Dalam belajar perilaku berperan selaku dynamic force yaitu selaku kekuatan yang hendak menggerakkan seseorang untuk belajar.
Psikologi memandang perilaku manusia (humanbehavior) selaku respon yang bisa bersifat sederhana maupun bersifat kompleks. Pada manusia khususnya serta pada bermacam spesies hewan biasanya memanglah ada bentuk-bentuk sikap instinktif (species-species- behavior) yang didasari oleh kodrat untuk mempertahankan kehidupan.8
Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua.
a. Perilaku tertutup (Convert behavior)
Perilaku tertutup adalah respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (Convert). Respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas kepada orang lain.
8 Umar Sulaiman, Perilaku Menyimpang Remaja dalam Perspektif Sosiologi (Gowa:
Alauddin University Press, 2020), 49-50.
22
b. Perilaku terbuka (Overt behavior)
Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati dilihat oleh orang lain.
2. Jenis Perilaku
Para ahli menbedakan perilaku dengan beberapa jenis diantaranya Skinner menurutnya perilaku ada dua jenis yaitu alami dan perilaku opera sebagai berikut:
a. Perilaku Alami (Innate behavior) adalah perilaku yang dibawah sejak lahir berupa refleks dan insting. Contoh dari perilaku ini adalah gerakan refleks atau spontan ketika tangan terkena panas api, kehidupan mata bila kena cahaya yang kuat. Perilaku ini secara otomatis digerakkan tampa melalui pusat susunan syaraf. Jadi respons akan timbul seketika setiap terkena stimulus otomatis.
b. Perilaku opera (Operant behavior) adalah perilaku yang dibentuk melalui proses belajar. Perilaku jenis ini dikendalikan oleh pusat syaraf atau kesadaran otak. Pada kaitan ini setelah stimulus diterima, kemudian dilanjutkan ke otak. Perilaku ini lebih dominan dibanding perilaku alami.
Jika dilihat dari pendapat Skinner bahwa perilaku ada dua jenis perilaku, perilaku alami yang dimana dibawa sejak lahir yaitu gerak refleks dan insting yang kedua adalah perilaku opera perilaku jenis
dikendalikan oleh urat syaraf atau kesadaran otak, yang melalui proses belajar pelatihan
3. Pembentukan Perilaku
Dalam terjadinya sebuah perilaku ada yang namanya pembentukan perilaku tidak terjadi begitu saja tapi ada beberapa pembentukan dimasyarakat.
a. Pembentukan Perilaku Melalui Kondisioning (kebiasaan).
Perilaku dapat dibentuk melalui membiasakan diri dengan untuk berperilaku seperti yang diharapkan. Misalnya, bangun pagi, menggosok gigi, dan sebagainya.
b. Pembentukan Perilaku Dengan Pengertian (Insight).
Perilaku ini dibentuk dengan belajar kognitif disertai dengan pengertian.
c. Pembentukan Perilaku Menggunakan Model
Perilaku yang terbentuk dengan menggunakan contoh atau model. Pembentukan perilaku seperti ini dengan cara teori belajar sosial (social learning theory) misalnya, umunnya seorang anak berperilaku mencontoh orang tuanya.9
4. Perilaku Merokok
Merokok adalah menghisap asap tembakau yang dibakar kedalam tubuh dan menghembuskannya kembali keluar. Bermacam- macam bentuk perilaku yang dilakukan manusia dalam menanggapi
9 Been Rafanany, Rahasia Membaca Pikiran Orang Lain Selancar Membaca Koran (Pinang
Merah Publisher, 2012), h. 29.
24
stimulus yang diterimanya, salah satu bentuk perilaku manusia yang dapat diamati adalah perilaku merokok. Merokok telah banyak dilakukan pada zaman tiongkok kuno dan romawi, pada saat itu orang sudah meggunakan suatu ramuan yang mengeluarkan asap dan menimbulkan kenikmatan dengan jalan dihisap melalui hidung dan mulut. Masa sekarang, perilaku merokok merupakan perilaku yang telah umum dijumpai. Perokok berasal dari berbagai kelas sosial, status, serta kelompok umur yang berbeda, hal ini mungkin dapat disebabkan karena rokok bisa didapatkan dengan mudah dan dapat diperoleh dimanapun juga. Merokok merupakan menghisap rokok, sedangkan rokok sendiri adalah gulungan tembakau yang berbalut daun nipah atau kertas.10
Merokok adalah menghisap asap tembakau yang dibakar ke dalam tubuh dan menghembuskannya kembali keluar. Asap rokok selain merugikan diri sendiri juga dapat berakibat bagi orang-orang lain yang berada disekitarnya. Pendapat lain menyatakan bahwa perilaku merokok adalah sesuatu yang dilakukan seseorang berupa membakar dan menghisapnya serta dapat menimbulkan asap yang dapat terhisap oleh orang-orang disekitarnya.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok adalah suatu kegiatan atau aktivitas membakar rokok dan kemudian menghisapnya dan menghembuskannya keluar
10 AN Alamsyah. Determinan Perilaku Merokok pada Remaja. Prodi IKM STIKes Hang
Tuah Pekanbaru Riau. Journal Endurance 2. 2017, 25-30.
dan dapat menimbulkan asap yang dapat terhisap oleh orang-orang disekitarnya.
a. Tipe Perilaku Merokok
1) Perilaku merokok yang dipengaruhi perasaan negatif.
Banyak orang yang merokok untuk mengurangi perasaan negatif dalam dirinya. Misalnya merokok bila marah, cemas, gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat. Mereka menggunakan rokok bila perasaan tidak enak terjadi, sehingga terhindar dari perasaan yang lebih tidak enak.
2) Perilaku merokok yang adiktif.
Perokok yang sudah adiksi, akan menambah dosis rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang.
3) Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan.
Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena sudah menjadi kebiasaan. Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok pada remaja digolongkan kedalam beberapa tipe yang dapat dilihat dari banyaknya rokok yang dihisap, tempat merokok, dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari.
Terdapat 4 tahap dalam perilaku merokok sehingga menjadi perokok, yaitu :
26
1) Tahap Prepatory. Seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat atau dari hasil bacaan. Hal-hal ini menimbulkan minat untuk merokok.
2) Tahap Initiation. Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang akan meneruskan atau tidak terhadap perilaku merokok.
3) Tahap Becoming a Smoker. Apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok sebanyak empat batang per hari maka mempunyai kecenderungan menjadi perokok.
4) Tahap Maintenance of Smoking. Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pengaturan diri (self regulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan.
Dan ada tiga tipe perokok yang dapat diklasifikasikan menurut banyaknya rokok yang dihisap. Tiga tipe perokok tersebut adalah :
1) Perokok berat yang menghisap lebih dari 15 batang rokok dalam sehari.
2) Perokok sedang yang menghisap 5-14 batang rokok dalam sehari.
3) Perokok ringan yang menghisap 1-4 batang rokok dalam sehari.
Tempat merokok juga mencerminkan pola perilaku merokok.
Berdasarkan tempat-tempat dimana seseorang menghisap rokok, tipe perilaku merokok menjadi :
1) Merokok di tempat-tempat umum / ruang publik
a) Kelompok homogen (sama-sama perokok), secara bergerombol mereka menikmati kebiasaannya. Umumnya mereka masih menghargai orang lain, karena itu mereka menempatkan diri di smoking area.
b) Kelompok yang heterogen (merokok ditengah orang-orang lain yang tidak merokok, anak kecil, orang jompo, orang sakit, dll).
2) Merokok di tempat-tempat yang bersifat pribadi
a) Kantor atau di kamar tidur pribadi. Perokok memilih tempat- tempat seperti ini yang sebagai tempat merokok digolongkan kepada individu yang kurang menjaga kebersihan diri, penuh rasa gelisah yang mencekam.
b) Toilet. Perokok jenis ini dapat digolongkan sebagai orang yang suka berfantasi.
5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Remaja
Perilaku merokok merupakan perilaku yang berbahaya bagi kesehatan, tetapi masih banyak orang yang melakukannya. Bahkan orang mulai merokok ketika mereka masih remaja. Sejumlah studi
28
menegaskan bahwa kebanyakan perokok mulai merokok antara umur 11 dan 13 tahun dan 85% sampai 95% sebelum umur 18 tahun.
Perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu. Artinya, perilaku merokok selain disebabkan faktor-faktor dari dalam diri juga disebabkan faktor lingkungan. Merokok tahap awal dilakukan dengan teman sebaya, orang disekitar lingkungan dan orang tua. Faktor penyebab perilaku merokok pada remaja yaitu kepuasan psikologis, sikap permisif orang tua terhadap perilaku merokok remaja, dan pengaruh teman sebaya. Faktor mengapa remaja merokok, antara lain:
a. Pengaruh Orang Tua
Remaja perokok adalah anak-anak yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dibandingkan dengan remaja yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia. Remaja yang berasal dari keluarga konservatif akan lebih sulit untuk terlibat dengan rokok maupun obat-obatan dibandingkan dengan keluarga yang permisif, dan yang paling kuat pengaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi figur contoh yaitu perokok berat, maka anak- anaknya akan mungkin sekali untuk mencontohnya. Perilaku merokok lebih banyak didapati pada mereka yang tinggal dengan satu orang tua membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut.
b. Faktor Biologis
Banyak Penelitian menunjukkan bahwa nikotin dalam rokok merupakan salah satu bahan kimia yang berperan penting pada ketergantungan merokok.
c. Faktor Psikologis
Merokok Dapat bermakna untuk meningkatkan konsentrasi, menghalau rasa kantuk, mengakrabkan suasana sehingga timbul rasa persaudaraan, juga dapat memberikan kesan modern dan berwibawa, sehingga bagi individu yang sering bergaul dengan orang lain, perilaku merokok sulit untuk dihindari.
d. Faktor Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial berpengaruh terhadap sikap, kepercayaan dan perhatian individu pada perokok. Seseorang akan berperilaku merokok dengan memperhatikan lingkungan sosialnya.
e. Faktor Demografis
Faktor ini meliputi umur dan jenis kelamin. Orang yang merokok pada usia dewasa semakin banyak akan tetapi pengaruh jenis kelamin zaman sekarang sudah tidak terlalu berperan karena baik pria maupun wanita sekarang sudah merokok.
30
f. Faktor Sosial-Kultural
Kebiasaan budaya, kelas sosial, tingkat pendidikan, penghasilan, dan gengsi pekerjaan akan mempengaruhi perilaku merokok pada individu.
g. Faktor Sosial Politik
Menambahkan kesadaran umum berakibat pada langkah- langkah politik yang bersifat melindungi bagi orang-orang yang tidak merokok dan usaha melancarkan kampanye-kampanye promosi kesehatan untuk mengurangi perilaku merokok. Merokok menjadi masalah yang bertambah besar di negara-negara berkembang seperti Indonesia.
h. Faktor Teman Sebaya
Peran teman sebaya bahwa teman sebaya mempunyai sejumlah peran dalam proses perkembangan sosial remaja. Adapun peran- peran tersebut adalah sebagai sahabat, sumber dukungan semangat, sumber dukungan fisik, sumber dukungan ego, fungsi komparasi sosial, dan fungsi kasih sayang.
Berdasarkan apa yang telah diuraikan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi perilaku merokok remaja, faktor-faktor tersebut yaitu faktor
demografis, faktor lingkungan sosial, faktor psikologis, faktor sosial- kultural dan faktor sosial politik.11
B. Kontrol Keluarga 1. Pengertian Kontrol
Keluarga Kontrol atau pengawasan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti penilikan dan penjagaan kebijakan jalannya perusahaan. Mengawasi artinya melihat serta memperhatikan perilaku, mengamati dan menjaga dengan baik (mengontrol).12 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Keluarga artinya ibu bapak dengan anak-anaknya, seisi rumah, anak istri, sanak saudara kaum kerabat.13 Jadi kontrol keluarga berdasarkan pengertian diatas adalah sikap maupun tindakan anggota keluarga satu dengan anggota keluarga yang lain dengan memperhatikan perilaku, menjaga, mengontrol, serta memberikan dukungan serta perhatian dalam melakukan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Anak yang didukung dihargai, dan diperhatikan dalam keluarganya akan termotivasi dalam melakukan kegiatan belajar.14 Tanpa kontrol, maka kegiatan bisnis tidak akan berjalan dengan baik, mengakibatkan kepincangan, atau bahkan
11 D. Komasari & Helmi, AF. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok Pada Remaja.
Jurnal Psikologi Universitas Gadjah Mada, 2. (Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press, 2000).
12 Uly Mabruroh Halida, Teori Pengantar Bisnis (Pamekasan: Duta Media Publishing, 2020), 54.
13 Dendy Sugono, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 676.
14 Tri Sutrisno, Ketrampilan Dasar Mengajar, ed. Bunai’i (Pamekasan: Duta Media Publishing, 2019), 41.
32
dapat mengalami kehancuran lebih cepat. hal tersebut yang menjadi bukti bahwa melakukan kontrol merupakan hal yang sangat penting.
Dalam bisnis juga sangat penting dilakukan kontrol terhadap keluarga, hal itu karena jika terlalu fokus terhadap bisnis maka keluarga tidak terurus dengan baik. Maka dari itu perlu dilakukan pengawasan agar keluarga khususnya anak tidak terjerumus dalam pergaulan bebas, menggunakan obat terlarang dan sebagainya. bisnis akan hilang kendali akibat kurangnya pengawasan keluarga.15 Dalam perspektif islam, penanaman pendidikan harus berawal dari keluarga. hal tersebut sesuai dengan definisi secara umum kontrol keluarga dimana keluarga hendaknya mengontrol, menjaga dan memberikan dukungan penuh terhadap anak. Peranan orang tua dalam keluarga adalah sebagai pembentuk pandangan hidup dan kebribadian anak di lingkungan keluarga. Jika kepribadian anak sudah baik maka dalam hal belajar juga akan tertata juga, sehingga daapat mempengaruhi kualitas belajar anak tersebut.
Maka dapat disimpulkan bahwa bukan hanya dalam bidang bisnis, dalam bidang pendidikan pun kontrol atau pengawasan sangat penting untuk dilakukan agar kegiatan belajar dapat berjalan dengan baik sehingga tujuan belajar dapat tercapai. Karena pada dasarnya anak tidak hanya butuh materi sebagai aspek pendukung belajar, akan tetapi sangat penting untuk dilakukan pengawasan yang dapat menunjang
15 I Nyoman Londen dan Dodi Marwadi, Percuma Berbisnis Kalau Keluarga Berantakan (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2007), 58.
jalannya proses belajar. Kurangnya perhatian atau pengawasan dari orang tua merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas belajar di rumah.16
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kontrol Keluarga a. Faktor Internal (diri pribadi anak itu sendiri)
Anak memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Dalam hal ini keluarga harus mengetahui karakter yang dimiliki oleh anak mereka sehingga dapat mengetahui cara melakukan pengawasan yang benar sesuai dengan karakter anak tersebut.
b. Faktor Ekstenal
1) Keluarga Keluarga merupakan orang yang terdekat anak, pendidikan pertama juga dilakukan oleh keluarga. penting bagi keluarga untuk memberikan perhatian serta fasilitas yang baik untuk anak guna menunjang proses belajar.
2) Pergaulan dan Lingkungan Sekitar Bukan hanya keluarga, pergaulan serta lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. hal tersebut juga yang perlu diperhatikan orang tua agar selalu memastikan anak dalam pergaulan dan lingkungan yang baik supaya memberikan efek yang positif terhadap anak.
3) Tayangan Televisi dan Media Elektronik Di era digital seperti sekarang ini penting bagi keluarga untuk melakukan
16 Tety Nur Baety, Desi Ariani, dkk., Gagasan Milenial & Generasi Z untuk Indonesia Emas 2045 (Wekatimun: Fianosa Publishing, 2020), 34.
34
pengawasan yang lebih banyak, karena perkembangan media elektronik seperti HP yang dapat berpengaruh negatif terhadap perkembangan anak. Pengawasan orang tua sangat diperlukan agar anak tidak terjerumus dalam hal negatif yang dapat berdampak buruk bagi anak.17
3. Indikator Kontrol Keluarga
a. Ada atau tidaknya pengawasan dilakukan
Pengawasan dilakukan adalah untuk menemukan hambatan- hambatan yang dihadapi dan mencegah timbulnya penyimpangan penyimpangan yang terjadi dalam proses belajar.
b. Siapa yang dilibatkan untuk melakukan pengawasan
Pengawasan ditujukan kepada kegiatan yang akan diawasi, dalam hal ini adalah proses belajar peserta didik selama di rumah.
Menentukan siapa saja yang dilibatkan dalam melakukan pengawasan sangat penting dilakukan dalam melakukan proses kontol atau pengawasan.
c. Bagaimana prosedur melakukan pengawasan
Pengawasan harus bersifat membimbing, sehingga anak dapat meningkatkan kegiatan belajarnya. Dengan pengawasan yang baik, maka akan tercapai tujuan dari adanya pengawasan tersebut.
Terjdilah perbaikan-perbaikan dari masalah yang ditemukan.
17 Agus Hermanto, dkk., Himpunan Teks Khutbah Jum’at (Malang: Literasi Nusantara, 2021), 149-150.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kontrol keluarga tidak hanya dilakukan oleh orang tua saja. Melakukan pengawasan harus memiliki tujuan, misal jika tujuan nya adalah untuk meningkatkan belajar anak. maka harus mengetahui aspek apa saja yang perlu dikontrol.18
C. Remaja
1. Pengertian Remaja
Masa remaja berlangsung dari usia 11 hingga 21 tahun. Masa remaja adalah masa peralihan, peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Artinya, anak harus meninggalkan segala sesuatu yang kekanak-kanakan. Masa remaja adalah masa dimana mereka membutuhkan pengakuan atas kemampuannya dari orang lain. Maslow menyebutkan ini kebutuhan akan harga diri dan persetujuan. Peran orang tua, sekolah dan masyarakat sangat penting dalam membantu meningkatkan harga diri dan pengakuan terhadap kemampuannya tersebut.
Masa remaja merupakan masa perubahan yang cepat baik perubahan fisik maupun perubahan sikap dan perilaku. Menurut Santrock, krisis remaja adalah periode perkembangan di mana remaja memilah-milah pilihan yang berarti dan tersedia.
18 A. Iskandar, Paradigma Baru Benchmarking Kemiskinan (Suatu Studi ke arah Penggunaan Indikator Tunggal) (Bogor: IPB Press, 2012), 26-27.
36
Munculnya permasalahan di atas semuanya menunjukkan bahwa anak muda itu sendiri tidak memiliki komitmen. Pada masa remaja akhir seharusnya sudah memiliki identitas diri yang matang (identity achievement), namun kenyataannya masih banyak remaja yang mengalami difusi identitas.
Menurut Suprapto, remaja awal (usia 12-15) memiliki kecenderungan psikologis yang meliputi:
a. Disibukkan dengan pengendalian tubuh, menderita ketidaknyamanan fisik akibat postur tubuh yang tidak seimbang.
b. Pencarian jati diri dalam keluarga, di satu sisi mengarah pada sifat mementingkan diri sendiri, di sisi lain tanggung jawab tidak dapat tersalurkan sepenuhnya, sehingga memang membutuhkan kapasitas lingkungan keluarga.
c. Kepekaan sosial yang tinggi, solidaritas yang tinggi dengan teman, tren yang besar untuk mengejar nama. Pada tahap ini, dia sibuk mengatur dirinya sendiri, mulai mengalami perubahan sikap, minat, pola pertemanan, mulai memiliki dorongan seksual, dan jenis pergaulan lainnya dengan orang lain.
d. Minat pacaran yang tinggi, kecenderungan coba-coba yang tinggi.
e. mulai timbul usaha-usaha untuk menguasai diri baik di lingkungan rumah, sekolah, klub olah raga, kesenian, maupun di lingkungan pergaulan pada umumnya.
Sementara pada tahapan remaja lanjut, ciri-ciri melekat padanya ialah:
a. Sudah mulai menunjukkan kemampuannya dan dapat menerima kondisi fisiknya.
b. Mulai menikmati kebebasan emosional.
c. Mulai bisa bergaul.
d. Sudah menemukan identitas dirinya.
e. Mulai memperkuat penguasaan diri dan menyesuaikan perilaku- nya dengan norma-norma keluarga dan kemasyarakatan.
f. Mulai perlahan-lahan meninggalkan reaksi kekanak-kanakan.
Remaja sedang dalam proses pendewasaan atau berkembang secara mandiri sebagai individu. Untuk mencapai kedewasaan tersebut, remaja memerlukan bimbingan karena mereka kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang diri dan lingkungannya, atau pengalaman untuk mengorientasikan diri dalam lingkungannya.
Proses perkembangan individu tidak selalu mulus, banyak faktor penghambat perkembangan remaja seperti hambatan psikofisik dan fisik remaja, serta pengaruh lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Remaja sebenarnya memiliki kemampuan berpikir yang luar biasa, sebanding dengan orang dewasa.
Strauch menemukan bahwa terdapat hubungan antar neuron pada otak remaja yang aktif akibat pengaruh aspek emosional dan
38
perkembangan kemampuan mental yang pesat. Perkembangan fisik remaja yang sedang berlangsung juga mempengaruhi perilakunya, sehingga sering terlihat kikuk. Selain itu, remaja juga dapat menyelesaikan tugas dengan kemampuan berpikir logis yang berkembang dengan baik, namun karena kurangnya pengalaman dan ketidakstabilan emosi, remaja memiliki karakteristik perilaku yang tidak berkelanjutan dan cenderung membuat keputusan yang tidak tepat.19
2. Perkembangan Masa Remaja
Masa remaja adalah masa datangnya pubertas (11-14) sampai usia sekitar 18 tahun, masa transisi dari kanakkanak ke dewasa. Masa ini hampir selalu merupakan masamasa sulit bagi remaja maupun orang tuanya. Ada sejumlah alasan untuk ini:
a. Remaja mulai menyampaikan kebebasan dan haknya untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Tidak terhindarkan, ini dapat menciptakan ketegangan dan perselisihan, dan dapat men jauhkan ia dari keluarganya.
b. Remaja lebih mudah dipengaruhi teman-temannya daripada ketika masih lebih muda. Ini berarti pengaruh orang tua pun melemah.
Anak remaja berperilaku dan mempunyai kesenangan yang berbeda bahkan bertentangan dengan perilaku dan kesenangan keluarga.
19 Maryam B. Gainau, Perkembangan Remaja Dan Problematikanya (Yogyakarta: PT
Kanisius, 2015), 12-14.
Contoh-contoh yang umum yaitu mode pakaian, potongan rambut atau musik, yang semuanya harus mutakhir.
c. Remaja mengalami perubahan isik yang luar biasa, baik pertumbuhan maupun seksualitasnya. Perasaan seksual yang mulai muncul dapat menakutkan, membingungkan, dan menjadi sumber perasaan salah dan frustrasi.
d. Remaja sering menjadi terlalu percaya diri dan ini bersama-sama dengan emosinya yang biasanya meningkat, mengakibatkan ia sukar menerima nasihat orang tua.
Ada sejumlah kesulitan yang sering dialami kaum remaja yang betapa pun menjemukan bagi mereka dan orang tua mereka, dan merupakan bagian yang normal dari perkembangan ini. Beberapa kesulitan atau bahaya yang mungkin dialami kaum remaja, antara lain:
a. Variasi kondisi kejiwaan, suatu saat mungkin ia terlihat pendiam, cemberut, dan mengasingkan diri tetapi pada saat yang lain ia terlihat sebaliknya, periang, berseri-seri, dan yakin. Perilaku yang sukar ditebak dan berubah-ubah ini bukanlah abnormal. Ini hanya perlu diprihatinkan bila ia terjerumus dalam kesulitan di sekolah atau dengan teman-temannya.
b. Rasa ingin tahu seksual dan coba-coba, hal ini normal dan sehat.
Rasa ingin tahu seksual dan bangkitnya berahi ialah normal dan sehat. Ingat, bahwa perilaku tertarik pada seks sendiri juga merupakan ciri yang normal pada perkembangan masa remaja.
40
Rasa ingin tahu seksual dan berahi jelas menimbulkan bentuk- bentuk perilaku seksual.
c. Membolos, tidak ada gairah atau malas ke sekolah sehingga ia lebih suka membolos masuk sekolah.
d. Perilaku anti sosial, seperti suka mengganggu, berbohong, kejam, dan agresif. Sebabnya mungkin bermacam-macam dan banyak tergantung pada budayanya. Akan tetapi, penyebab yang mendasar ialah pengaruh buruk teman, dan kedisiplinan yang salah dari orang tua terutama bila terlalu keras atau terlalu lunak dan sering tidak ada sama sekali.
e. Penyalahgunaan obat bius.
f. Psikosis, bentuk psikosis yang paling dikenal orang ialah skizofernia.20
3. Aspek-aspek Perkembangan Pada Masa Remaja a. Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris, dan keterampilan motorik. Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak- kanak menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya ialah kematangan.
20 Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Prenadamedia Grup, 2011), 225-227.
Perubahan isik otak strukturnya semakin sempurna untuk meningkatkan kemampuan kognitif.
b. Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget, seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka.
Remaja telah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide ini. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget, mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak.
Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal. Tahap formal operations adalah suatu tahap di
42
mana seseorang telah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal, remaja dapat berpikir dengan leksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja telah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan. Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang.
Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya. Pada tahap ini, remaja juga telah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, di mana mereka telah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan.
Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis.
Remaja telah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, di mana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan.
Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja ialah kecenderungan cara berpikir egosentrisme. Egosentrisme di sini adalah ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain. Elkind, mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel. Personal fabel adalah suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi (cerita) ini tidaklah benar. Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang ialah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Elkind menjelaskan personal fabel sebagai berikut: Personal fabel adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam.
Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri (self- destructive) oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya, seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil (karena perilaku seksual yang dilakukannya), atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai mening gal dunia di jalan raya (saat mengendarai
44
mobil), atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang (drugs) berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan.
Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya. Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja. Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya ini.
Beyth-Marom, dan kawan-kawan, kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri pada remaja dan orang dewasa adalah sama.
c. Perkembangan Kepribadian dan Sosial
Perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik
sedang kan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain. Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja ialah pencarian identitas diri. Pencarian identitas diri adalah proses menjadi seseorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup. Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua. Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstrakurikuler, dan bermain dengan teman. Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya ialah besar. Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya. Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya. Conger, Papalia dan Olds, mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik, atau ilm apa yang bagus.21
21 Ibid., 231-234.
46
4. Ciri-ciri Masa Remaja
Masa remaja adalah suatu masa perubahan. pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara isik, maupun psikologis.
Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja:
a. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal sebagai masa storm & stress.
Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan isik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri, dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan tampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
b. Perubahan yang cepat secara isik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan isik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
c. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
d. Perubahan nilai, di mana apa yang mereka anggap penting pa da masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena telah mendekati dewasa.
e. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan ini, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab ini.22
5. Tugas-tugas Perkembangan Remaja
Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu ialah masa (fase) remaja. Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa
22 Ibid., 235-236.
48
transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat.
Masa remaja ditandai dengan:
a. Berkembangnya sikap dependen kepada orang tua ke arah independen.
b. Minat seksualitas.
c. Kecenderungan untuk merenung atau memerhatikan diri sendiri, nilai-nilai etika, dan isu-isu moral. Pendapat dari Salzman dan pikunas.
William Kay, mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja itu sebagai berikut:
a. Menerima isiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
b. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau figur-figur yang mempunyai otoritas.
c. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual maupun kelompok.
d. Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.
e. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.
f. Memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip, atau falsafah hidup.
g. Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap atau perilaku) kekanak-kanakan.
Dalam membahas tujuan tugas perkembangan remaja, Pikunas mengemukakan pendapat Luella Cole yang mengklasiikasikannya ke dalam sembilan kategori, yaitu:
a. Kematangan emosional.
b. Pemantapan minat-minat hetero seksual.
c. Kematangan sosial.
d. Emansipasi dari kontrol keluarga.
e. Kematangan intelektual.
f. Memilih pekerjaan.
g. Menggunakan waktu senggang secara tepat.
h. Memiliki ilsafat hidup.
i. Identiikasi diri.23
D. Kontrol Diri
Kontrol diri merupakan salah satu kemampuan yang dimiliki individu dalam mempengaruhi dan mengatur proses fisik, psikologis maupun tingkah lakunya. Individu mampu untuk mempengaruhi dan mengatur apa-apa yang ada dalam dirinya, maka individu tersebut sudah mampu untuk mengontrol dirinya.
23 Ibid., 237-238.
50
Individu yang memiliki kontrol diri tinggi akan mampu mengendalikan diri dalam berperilaku, emosi, maupun dalam mengambil keputusan, sehingga masing-masing individu memiliki kemampuan mengontrol dirinya. Melihat jenis kontrol diri pada tiap- tiap individu atau siswa dapat dilihat ciri-cirinya, menurut Logue orang yang mampu memiliki kontrol diri adalah sebagai berikut:
a. Orang yang mampu memegang teguh atau tetap bertahan dengan tugas yang seharusnya dia kerjakan, walaupun dalam mengerjakan tugas tersebut banyak rintangan dan gangguannya.
b. Individu yang mampu mengubah perilakunya sendiri melalui perubahan-perubahan dari beberapa pengaruh aturan norma-norma yang harus ditaati.
c. Individu tersebut tidak menunjukkan atau terjerumus dalam perilaku- perilaku yang dipengaruhi oleh emosional, sehingga dapat menjerumuskannya untuk melakukan perilaku menyimpang.
d. Individu mampu untuk bersifat toleran terhadap stimulus-stimulus yang berlawanan agar tidak terjerumus kepada perilaku yang tidak diinginkan.
Individu yang mampu untuk menerapkan ciri-ciri kontrol diri di atas, maka individu tersebut mampu untuk memiliki kontrol diri yang baik.24
24 Ida Bagus Sudarma Putra, “Sosial Control : Sifat Dan Sanksi Sebagai Sarana Kontrol Sosial” Vyvahara Duta, 1 (Maret 2018), 29-30.
52 BAB III
PERILAKU MEROKOK REMAJA DI DESA SIDOKERTO
A. Profil Desa Sidokerto 1. Sejarah Desa Sidokerto
Desa Sidokerto merupakan salah satu desa dari tujuh belas desa yang ada di kecamatan Karangjati, kabupaten Ngawi, provinsi Jawa Timur. Desa Sidokerto terletak di wilayah kecamatan Karangjati kabupaten Ngawi. Dimana di Sidokerto berdiri sebuah pasar yang telah digunakan sebagai aktifitas perdagangan sejak masa lampau, secara historis desa Sidokerto sangat erat kaitannya dengan berdirinya kerajaan Mataram Islam dimana Suta Wijaya memperluas kekuasaan wilayah Mataram sampai ke wilayah timur. Kuat dugaan leluhur Ketika berbekalan tersebut berasal dari wilayah kerajaan Mataram Islam yang memiliki jangkauan wilayah kekuasaan sampai wilayah barat Jawa Timur.
Dusun Weru merupakan dusun tertua sekitar abad keenam belas dimana salah satu pengikut Terto Dumilah yang merupakan penguasa Kadipaten Purabaya yang bernama Duta Krisna yang diberi tugas untuk membuka hutan belantara. Duta Krisna membabat hutan yang dimana itu banyak pohon dengan itu Duta Krisna menamakan wilayah tersebut adalah dusun Weru. Setelah berjalannya kehidupan bermasyarakat di dusun Weru pada tahun 1825 hingga 1830 terjadilah perang jawa,
perang ini merupakan salah satu perang terbesar yang perah dialami oleh Belanda selama masa kedudukannya di Nusantara. Perang ini menegaskan penguasaan Belanda atas pulau jawa. Pada kurun waktu tersebut banyak pengikut dari pangera Diponogoro yang mengasingkan diri dipelosok daerah untuk melanjutkan perjuangan dengan melakukan syiar islam.
Nama dusun Samben diambil dari kata sambi atau pohon sambi yang tumbuh mendominasi di wilayah itu. Konon Kiyai Salam adalah sosok yang memiliki kharomah tinggi. Ketika beliau kesulitan menemukan mata air untuk berwudhu beliau mengambil sebatang bambu yang ditancapkan dibawah pohon, disitulah muncul mata air yang sangat deras dan jernih, dikenal dengan sumur bubut.
Dahulu kala pada saat Kyai Salam berserta pengikutnya melanjutkan babat alas kewilayah utara, dikarenakan hari sudah menjelang malam atau orang jawa menyebutnya candi olo akhirnya beliau memutuskan untuk beristirahat atau istilah jawa ngombong. Dari kata ngombong inilah akhirnya wilayah ini diberi nama Sambong.
Penjabaran diatas merupakan asal usul atau profil dari Desa Sidokerto kecamatan Karangjati kabupaten Ngawi.
2. Letak Geografis Desa Sidokerto
Luas desa Sidokerto adalah 2,72 km. desa Sidokerto terbagi menjadi empat dusun yaitu dusun Weru, dusun Samben 1, dusun Samben 2 dan dusun Sambong. Topografi wilayah desa Sidokerto
54
merupakan dataran rendah yang sebagian besar bentangan alamnya merupakan persawahan, dengan luasan kurang lebih 170 hektar.
Wilayah desa Sidokerto juga dilalui aliran anak sungai bengawan Madiun yang menjadi batasan alam wilayah antar dusun. Desa Sidokerto berbatasan langsung dengan:
Utara Desa Mojo kecamatan Bringin
kabupaten Ngawi
Selatan Desa Brangol kecamatan Karangjati
kabupaten Ngawi
Timur Desa Dungmiri kecamatan
Karangjati kabupaten Ngawi
Barat Desa Bolo kecamatan Padas
kabupaten Ngawi
3. Penduduk Desa Sidokerto a. Jumlah Penduduk
Penduduk desa Sidokerto berjumlah 3.280 jiwa yang terbagi menjadi penduduk laki-laki 1.685 dan penduduk perempuan 1.595 yang ada di desa Sidokerto.
b. Agama
Mayoritas agama yang di anut warga desa Sidokerto adalah agama Islam. Memang ada warga beragama Kristen tetapi tidak terdaftar dalam warga desa Sidokerto.
c. Mata Pencaharian
Bentangan wilayah desa Sidokerto merupakan wilayah dataran rendah yang mendorong sebagian besar warga bermata pencaharian sebagai petani dengan mayoritas padi sebagai tanaman utama, dan di desa ini selain menanam padi juga menanam tanaman lain seperti jagung, bawang merah, tembakau, kacang-kacangan, dan umbi- umbian. Selain bergerak di sektor pertanian sebagian warga desa Sidokerto bergerak di sektor peternakan seperti sapi, kambing dan ungas.
Selain sektor pertanian, perternakan dan perikanan warga desa Sidokerto juga banyak yang memiliki mata pencaharian pada sektor perdagang yang berpusat di pasar Samben atau Pasar Kliwon yang terletak di desa Sidokerto. Ini juga merupakan potensi yang memperkuat perekonomian warga.25
4. Visi dan Misi Desa Sidokerto a. Visi
Sidokerto Berkarya (Relegius, Kultural dan Budaya Daerah)
Terwujudnya desa yang lebih maju, berpretasi, berbudaya dan kreatif melalui peningkatan sumber daya alam yang maksimal , kemanpuan ekonomi dan kepedulian sosial masyarakat dan pemantapan pembangunan di berbagai bidang berlandaskan religius kultural dan budaya daerah-daerah.
25 Pemdes Sidokerto, “Sejarah Asal Usul Desa Sidokerto Kecamatan Karangjati Kabupaten Ngawi” YouTube, diunggah oleh Pemdes Sidokerto, 15 Juli 2022.
56
b. Misi
Misi dan Program Desa Sidokerto dan untuk melaksanakan visi desa Sidokerto dilaksanakan misi dan program sebagai berikut:
1) Melaksanakan atau mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara sebagai wujud peningkatan keimanan dan ketaqwaan kepad Tuhan Yang Maha Esa.
2) Mewujudakan dan mendorong terjadinya usaha- usaha kerukunan antar dan intern warga masyarakat yang disebabkan karena adanya perbedaan agama, keyakinan, organisasi, dan lainnya dalam suasana saling menghormati dan menghargai.
3) Mengembangkan kehidupan masyarakat untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang taat kepada peraturan perundang- undangan dalam rangka meningkatkan kehidupan masyarakat yang aman, tertib, temtram, dan damai serta meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
4) Terwujudnya peningkatan kualitas kehidupan masyarakat yang ditandai terpenuhnya kebutuhan sandang, pangan, papan kesehatan, pendidikan dan lapangan kerja.
5) Membangun dan meningkatkan hasil pertanian dengan jalan penataan pengairan, perbaikan jalan sawah atau jalan usaha tani, pemupukan dan pola tanam yang baik.
6) Pengembangan sektor pertanian dan perdagangan yang berorintas pada mekanisme pasar.
7) Menumbuh kembangkan usaha kecil dan menengah.
8) Pembedayaan ekonomi masyarakat khususnya UMKM ( Usaha Kecil Menengah dan Mikro ) yang berdaya saing tinggi.
9) Membangun dan mendorong usaha -usaha untuk pengembangan dan optimalisasi sektor pertanian, perkebunan, peternakan, baik tahap produksi maupun tahap pengolahan.26
B. Profil Narasumber 1. Narasumber Pertama
Narasumber pertama saya ini yaitu Pras. Pras merupakan remaja laki-laki kelahiran Ngawi,