Global: Jurnal Politik Internasional Global: Jurnal Politik Internasional
Volume 10 Number 2 Article 1
September 2010
Peran NGO dalam Dinamika Isu Perubahan Iklim di Afrika Peran NGO dalam Dinamika Isu Perubahan Iklim di Afrika
Stevie Leonard Harison
Forum Masyarakat Sipil Indonesia untuk Keadilan Iklim, [email protected]
Follow this and additional works at: https://scholarhub.ui.ac.id/global Recommended Citation
Recommended Citation
Harison, Stevie Leonard (2010) "Peran NGO dalam Dinamika Isu Perubahan Iklim di Afrika," Global: Jurnal Politik Internasional: Vol. 10 : No. 2 , Article 1.
DOI: 10.7454/global.v10i2.326
Available at: https://scholarhub.ui.ac.id/global/vol10/iss2/1
This Article is brought to you for free and open access by the Faculty of Social and Political Sciences at UI Scholars Hub. It has been accepted for inclusion in Global: Jurnal Politik Internasional by an authorized editor of UI Scholars Hub.
PERAN NGO DALAM DINAMIKA J S U PERUBAHAN fKLIM
DIAFRJKA
· tcvlc Leonard Harl on
Forum Musyurakut ipil Indonesia untuk Keadilan lklim E-mail: stcvic lh(a)yahoo.com
Ab tract
Climat chang has b com 011e of the most challenging issues for the international system in this _ J ' c ntui because its negativ impact has been founded in every regions in the world.
011 of those i Afri a with its far-lagged behind and poorer performance in political, economic, and social ctor than any other part of the world. This article tries to analyze ti, ongoing proc s of the er at ion of good governance in Africa's climate change dynamics.
/11 Africa. the progr of civil society activism Is pr dieted lo be the more important factor than th policy out om from its gO\ ernment in making good governance. /11 tit is context, the rise of civ ii society should be heller understood as being an equal partner than a competitor to th policy-mak rs Jo have more int nsive cooperation and collaboration to solve the urgent climat problems in Africa at present.
Keywords: Climal change, lfrica, good governance, civil society.
Pcndahuluan
Dinarnika isu perubahan iklirn (climate change) pada arena kebijakan global kini telah mencapai titik kritis seiring dengan akan berakhirnya validitas Protokol Kyoto pada tahun 2 0 1 2 . Selarna ini Protokol Kyoto selalu menjadi instrurnen utarna dan pedoman bagi diciptakannya berbagai pengaruran yang rerkait isu pcrubahan iklirn terutama mengenai irnplementasi bersarna (joint implementation) (Artikel 6), mekanisme pembangunan bersih I COM (Artikel 12), dan perdagangan karbon (Artikel l 7) di berbagai level yakni nasional, regional, hingga global. Problernatika mengenai darnpak perubahan iklim semakin disadari balk itu oleh negara rnaju rnaupun negara b rkembang, namun rnenjelang batas waktu berlakunya Protokol Kyoto pada 2 0 1 2 dunia masih belum dapat menyusun kesepakatan yang baru untuk menggantikannya,' Kesepakatan global baru pasca Protokol Kyoto ak.an menjadi suatu friksi dan kompetisi yang sengit diantara negara-negara maju dan negara-negara berkernbang yang sating mempertahankan posisi dan mengedepankan aspirasi masing
rnasing. Disparitas yang terjadi antara negara maju dan negara berkembang tentunya menjadi faktor determinan dalarn penyusunan kesepakatan global yang baru dalam mengantisipasi darnpak perubahan iklim dan korelasinya sangat erat dengan konteks pernbangunan
96 GLOBAL Vol.10 No.2 Desember 2010 - Mei 2011
berkelanjutan (. ustainabl d. 1 lopm 111) l rutarna bagi Afrika yang m miliki posisi dilematis, dirnana di satu sisi merupakan benua p ngh ii surnbcr dnya alarn mcntah kedua terbcsar di dunia sctelah Asia nnmun di i i lain juga ebngai benua dcngan kapasitas ckonorni terendah di dunia,
Af rika adalah bcnua dcngan jumlnh ncgara berkcmbang tcrbanyak di dunia, rnerniliki populasi mcncapui I rniliar jiwn pada 2009. dan sccara dominan masih bergantung pada scktor-scktor ek n mi tradi ional scpcrti pcrtanian, pcrkcbunan, dan pcrikanan yang sangat rcntan pada pcrubahan iklim global me kipun pada kenyataannya Afrik.a adalah benua dcngan tingkat cmisi karbon per kapita t rendah di dunia.' Sccara ringkas, perubahan iklirn akan sangat berdarnpak ncgatif pada k jatuhan ekonorni (terkait penurunan produksi kornoditas pcrtanian dan pcrkcbunan), kcarnanan pangan (food security), kesehatan (tcrkait mudahnya p nyebaran penyakit), scrta kcarnanan nasional (intcnsitas konflik yang meningkat akibat konflik alas tanah subur dan cadangan air) terutama di Afrika. Sclain itu, dibandingkan kawasan dunia lainnya, Afrika masih jauh tertinggal dalarn hal keicrscdiaan modal, sumbcr daya rnanusia, ilmu pcngetahuan dan teknologi schingga masyarakat internasional kurang mernperhatikan kondisi don aspirasi Afrika dalarn menanggapi isu perubahan iklim dibandingkan India dan China yang sedang b rtransforrnasi menjadi negara arnbang industri.
Figur 1
Emisi Gas Ru mah Kaea Tahunan Global
An n u a l per capita GHG emissions
S outh � NoM Arn811ea SIA> S....,.. Alica Mldclle Eul & North Atlea Europe Central Amonc.a & Corit:lbeeil AN (uc:Judlng Mldch Eul) non-Annex I Ccuntrtu Al'V'Maal I Counlltoa W()f1(J
1.40
8.50 -0.5
1.50
2.80 1.20
OJ) 0.0
3.80 1.60
0.00 1.00 2.00 3.00 •.oo 5.00 8.00 7.00
Tonnes or Carbon per capita
Sumber: Deparlme11tfor Int mational Development (DFID)-United Kingdom 1111p11b/is'1ed document (2007)
GLOBAL Vol.10 No.2 Desember 2 0 1 0 - Mei 2011 97
Ketertinggalan itulah yang mernposisikan Afrika jauh lcbih tidak siap dibaoctingkan kawasan dunia bcrkcmbang lainnya sepcrti Asia Timur, Amerika Latin, ataupun Eropa Timur dalarn mcngadopsi isu perubahan iklim sebagai salah satu prioritas kebijakan nasionalnya, Pada faktanya, Afrika mcmllik.i hutan tropis di sub-kawasan Afrika Tengah, jumlah populasi yang besar, dan potcnsi pernbcrdayaan sumbcr energi altcrnatif yang massif. Namun, hal-hal terscbut belum dapat dioptirnalisasikan sebagai kekuatan tawar-menawar (bargaining power) dalam panggung kebijakan perubahan iklirn global. Selain itu, ha) rclevan lainnya yang sangat menarik untuk dicermati di Af rika adalah betapa vitalnya peranan lembaga non
pernerintah (NGO) dalarn dinarnika isu pcrubahan iklirn ditengah banyaknya pemerintaban negara-negara Afrika yang korup dan kurang mampu rncnciptakan sistern tata kelola yang baik (good governances serta rnasyarakatnya yang secara mayoritas masih terlalu tradisional dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah. Hal-hal itulah yang menimbulkan suatu urgensi yaitu respons dan tindakan apa yang akan dilakukan Afrika khususnya masyarakat sipil dalarn menghadapi bahaya laten yang disebabkan terjadinya perubaban iklim di seluruh dunia,
Artikel ini berupaya mengkaji urgensi tersebut melalui 2 pertanyaan yakni:
1 . Bagaimana peranan (role) masyarakat sipil di Afrika dalarn mengeloJa isu perubahan iklim tersebut, selain bersama dengan pihak seperti pernerintah sebagai penyusun kebijakan dan rnasyarakat sebagai objek utama.
2. Contoh kasus (case study) apa yang mampu menunjukkan signifikansi masyarakat sipil daJam menciptakan sistem tata kelola yang baik dalam isu perubahan iklirn di Afrika saat ini.
Dinamlka lsu Perubahan lkJim di Afrika
Urgensi akan suatu isu yang terjadi dalarn suatu ncgara-bangsa terlihat dari seberapa besar peogetahuan dan perhatian rnasyarakat terhadap isu tersebut. Berdasarkan survey yang dilakukan Gallup Po113 terhadap 2.000 orang dewasa di 127 negara pada 2007 dan 2008 mengenai kesadaran akan terjadinya pemanasan global (global warming) yang merupakan salahsatu feature dari isu perubahan iklirn, ditemukan bahwa 1 3 dari 20 negara dengan persentase terendah di dunia dalam hal kesadaran publik akan pemanasan global adalah negara-negara Afrika (Iihat Iigur 2) ... Contohnya Liberia, Benin, dan Burundi yang lebih rendah dibandingkan negara yang sedang dilanda perang sepeni Afghanistan dan bahkan
98 GLOBAL Vol.10 No.2 Desember 2010 - Mel 2011
Mesir, Nigeria, dan Afrik.a Selatan yang merupakan negara industri terdepan dalam perekonomian Afrika tertinggal daripada Pakistan yang juga merupakan negara tidak stabil dalam hat keamanan. Kernudian diketahui pula bahwa 8 dari 20 negara deogan persentase terendah di dunia dalarn hal opini publik bahwa pemanasan global merupakan darnpak negatif dari aktivitas rnanusia adalah negara-negara Afrika terrnasuk diantaranya Senegal, Afrika Selatan, dan Nigeria scdangkan hanya l negara Afrika yang termasuk dalam 20 negara dunia yang sangat mempercayai bahwa pcmanasan global adalah dampak aktivitas manusia yaitu Mali.
Melalui data tcrsebut, rnasyarakat A frika mernang be I um rnenyadari sepenuhnya telah mengalarni darnpak dari perubahan ikUm baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal itu menunjukkan pula bahwa pcmcrintah negara-ncgara Afrika belum memprioritaskan isu perubah an iklirn sebagai suatu urgensi nasional dibandingkan isu ekonomi, politik, ataupun
Figur 2
Afrika dalam Kesadaran Publik Global akan lsu Perubahan Iklim
Paomtagr reportJn1 Puccnblge � bo uy
knowledge or global result of hum.an
Country wannJns Country acth-id
Wxna l5"
•
Tllj&lwt.a n 15"lknin a,�
•
lhhclwbn 18Burundi
22" •
Pakistan 2.5%Ni,er 2.4-
Botsw;an:a 26
f.g)i,t 25"
•
Aflhaniran 25 Stnq;ial 21"
•
Cbaftll 26" Niger :�
LJnwiA z� Armc.nha 28�
Ni1-ub 28X
•
Afgbani.stan 29Togo 291' SoulhA!rl� 29
}lorocm 30X Sierr.1 Leone 31
Rwarub 30X Chfld 31
South Africa ll"
•
CmmboJi.J34"
Danglade�h 331' N°'ierla 3.5%
Pak.ban :M" GU)'II� 36
Upnda 3.-;\;
Georgb 319'
tndla 35"
Dwk.Joa labnJ 38
F.uo 36" Burundi 38
S18l'TI Leotw 36. Imq 38%
Scncpl l6" Hralti 38
2007 ind 2008 Su udi Ambl.l 39
OLL :?007 and :?OOH
Sumber: Gallup Poll, report of opinion research 011 global warming (2008)
GLOBAL Vol.10 No.2 Desember 2010 - Mei 2011 99
kearnanan sehingga adalah wajar jika tidak ada publikasi sccara luas dan efektif mengenai dinarnika isu perubahan iklim bagi rnasyarakatnya. Akan halnya dcngan penelitian opini publik yang dilakukan melalui kolaborasi nntara Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan Globe Scan (badan riser opin.i publik global yang bcrbasis di Toronto, Tokyo, dan Washington yang beroperasi di lcbih dari 60 ncgara) mengcnai pcrubahan iklirn tcrhadap 1999 bum muda ( 1 2 - 1 8 tahun) sclarna Oktober 2008 di 5 ncgara yaitu Arncrika Scrikat, Russia, India. Brazil. dan Afrika Sclatan (lihat Iigur 3).5
Grafik (figur 3) di bawah ini menunjukkan bahwa kaum rnuda di ncgara bcrkcrnbang sepcrti Afrika Selatan dan juga Brazil ternyata mcmilike kesadaran dan kepedulian sangat tinggi akan situasi pcrubahan iklirn dibandingkan dcngan di ncgara rnaju scpcrti AS atau Rusia. �ni sernakin rnenguatkan asurnsi bahwa ketidakadilan i kl i m iclimatc injustices adalah bukti bahwa ruasyarakat negara rnaju (khususnya Eropa dan Amerika Utara) bclum berscdia meninggalkan pola kehidupan dcngan tingkat koosumsi encrgi yang jauh lebih tinggi dibandingkan di ncgara-negara berkernbang seperti di Asia dan Afrika. Pada intinya, baik yang terlihat dari survey Gallup Poll maupun UNEP-Globc Scan, tingkat kesadaran dan kepedulian masyarakat Afrika rnengenai isu pcrubahan iklim dapat dikatakan sedang mernasuki tahap transisi paradigma (paradigm shift) dari 'climate-uncared society' rnenjadi 'emerging climate-care society',
Figur 3
Kaurn Muda dan lsu Pcrabahan lklim
Young People Like Me Can Make a Difference on
Concern About dimate Change Climate 01.Jnge -Ver( a:xJ "Sl)11e-.Vl.1t Ccr.cened," b'J' (runtly, ()lcbef 2008 By Ccunt,y, Garber 2006
Total
••••••••m•ss Toul··· • •r•
SoulhAhu 91
96 S().Jlh �,a [J
Btuil
g
USA lndi.9
Ru�I
; i
100
Sumber. United Na/ions £11vironme11tal Programme-UNEP (2008)
GLOBAL Vol.1 O No.2 Desember 2 0 1 0 • Mei 2 0 1 1
Pu In t un n intern ision il,
rm
isi d m pcrlonnu ncgosiu i Afriku dnl m P mggung·rnmus,m kcbjjuk m J)\.' uh ,h in iklim iloh 11 h hunl th opt Im 11 dun ilektif ukibnt perbcdnnn '-' ,tum hnl ka1ln:sit is p • ·k u lmi m, morfulopi •c lt itis d m lcritorlnl, scrtu k udisi osiul dun k ' P t it \s infmstruktur 1 HI l sciinp nc mru Atriku d 11Lun melukukun upuyu pcnyc: union lnd ptnsi 1.l in pen iurune in [miti n. i) dump ik peruh hnu iklim, c I m •kur1 parn pcmimpin dan I " litisi dari nee iru-ucguru
nu
11 khususnyu ; o p , [scbugui p urc n kclcktif bugi Afriku]mcn�kl ,im buhwu kl·ti� .,kuplim iluu dun iucfcktifitns nc rosinsi A f r l k u pull I isu pcrubahan iklim munc 11 kn cuu tiduk tcrbcmuknyn �no I �m·c.•1w111 t' sccuru buik don mclun yang
sehuu \ ini ,libutuhknn di Alriku. Jika dinmuti sccurn dctnil, Alrikn dup ,t dik unkun lchih llh.:mloku:k in p ul p uses konsolidu: i d m pcnyusunnn mckunisrnc ., ecuru rcgi nal dib mdingk,m mcndctcrminusik m posisinyu p idn tingkut glob ,I sccuru unilntcrul . cpcrti yang
<Iii kuknn nlch Brazil, lndi ,. umupun hinn. 1 1
,t
tcrsebut m ·rup iknn k nsekucnsi I gi men 'ingut di Atriku tid ik udn rcglon tl 110w n: yung m impu mercprcscntaslkun kcpcntingun kuwa in sccuru kredibcl dun ndil sehin •gn kcsntunn re rionnl dan in stitusl multilateral mcnjndi kun i dipl mnsl Afrikn pndu isu pcrub ihnn iklim pndn ispck legal-formal (pcmcrintnhan). Pilihun Atriku itu tcrccrmin duri sctinp pcnyclcnggi rnnn konfcrcnsi U N F dimnna Atrikn lebih mcndcknt pudn inislnti!' 77· hin ntnupun f rum clntan lninn} n ti limn mcucntuknn posisi ncgo sinsinyu don suugutlnh jurnug mcngcmukukan in iatif orisin ilnyu sccuru v knl.6 cluin itu, Afriku pun lchih intcn ·i f berko rdinnsi dcngun badan PBB scpcrti U11il • I Nations E .ononom!c 0111111i.H/u11 for tfri ·a ( U N · A) dnn UNEP crtu Uni Eropu ( I · U) clnlum nu.:nyu un kcbijnknn pcrul>uhnn iklim untuk di tingknt rcgi nnl.nusi nul. hinggn loknl.
Pud tntnran rcgl nnl, Afrikn tclnh mcmiliki tnhnr in. titusionnlisn 'i yang rdatif lcbih mus i f dibondingkun dcngun kuwusnn duniu bcrkcmbnn • luinnyn scpcrli scluruh Asia ntnupun Amcrika Latin. I lul ini tcrbukti dcngan huuyuknyu pcmbcntukun
r
rum nntur-pcmcrinlnh utuupun forum m ,synrnkul sipil mcngcnui pcruhahun i k l i m . Tl, ' 011/·r '" of T ·n A ri Ym 1/ea l\· of /<1/ • and Gal' •nm, •111 011 linwt · lum�e ( A l I ' ) mlalnh c nt h forum ant, rpcmcrintuh yung songol unik knrcnu cl ,In di Afrikn bclum min
r
rum lingkul kcpnl ncgarn otnu kcpulu pcmcrintnhnn yung <likhu ·uskun mcmhuhus mcngcnai pcrubahnn i k l i m di kawusun dunia lainnyu kurcnu umumnyn hunya pudn lingkat kcmcntcrinn. Scdnngknn lcr<lupal 2 contoh forum nmsyumknl sipil tingkul rcgi nnl di A fr i k , yukni P"n Afri w1 Climate Juslic:e Alllw1 • (PA JA) ynng lcbih banyuk bcrkoordinusi dcngan lcmbagn-lcmbuga musyurnkul sipil lokol dun t h · Afr/ ·a II i<li •/"ii,
o ·/ · t, Ihnat· lum!;e /11/tiativ •.for Poli :>GLOBAL Vol.10 No.2 Oesember 2010 - Mol 2 0 1 1 I l
Dialogu (ACClD) yang memiliki rein i lcbih intcnsif dcngon pihak-pihak rnasyarakat sipil internasional terutama yang bera al dari ncgara-ncgara Utara. Eksistcnsi dua forum masyarakat sipil tingk l rcgi nal yang pesifik mengcnai perubaban iklim di Afrika tersebut pun snngat jarang ditemui di s luruh Asia ataupun Amcrika Latin schingga hat ini sebenarnya dapat dikatakan mcrupakan scbuah keunggulan bagi Afrika untuk mcmantapkan kernbali kesadaran dan kcpedulian publik mcngcnai pcrubahan iklirn di kawa annya dan kernudian dapat dijadikan uaiu input yang pcnting bagi lcgitimasi Afrika dalarn negosiasi kescpakatan perubahan iklim global kontcmporcr.
Pcmerintah dan Ma. yarakat ipil di Afrika: Rclusi Mutual utau Relasi Koofliktual?
Seperti dunia bcrkcmbang pada umurnnya, kontcks hubungan pemerintah dengan rnasyarakat sipil terkait dengan dinamika i u perubahan iklim terutarna di Afrika diternukan saru ha) yang rnenjadi harnbatan utarna yaitu pcrbedaan perspektif dan definisi rnengenai solusi rncngatasi darnpak perubahan iklim. Perbedaan itu berakibat pada sifat hubungan antara pernerintah dan rnasyarakat sipil dalarn menangani isu perubahan iklim yakni apakah
aling menguntungkan dan mendukuog ataukah saling rnerugikan dan bertentangan.
Perspektif yang berlaku pada era globalisasi kontemporer yaitu ekonomi adalah suatu prioritas utarna bagi negara tcrutarna negara-negara berkernbang yang jauh tertinggal dibandingkan negara-negara maju sehingga pemerintah negara berkernbang menjadikan momentum tersebut sebagai justifikasi alas berbagai kebijakan nasionalnya termasuk mendiskriminasikan isu perubahan iklim dan kerusakan lingkungan hidup. Akan halnya deogan pihak rnasyarakat sipil yang mcndasarkan pandangannya bahwa era globalisasi merupakan masa dimana posisi isu-isu non-konvensional haruslah [minimal] sejajar dengan isu ekonorni, politik, dan keamanan yang selalu bersifat dominan pada perumusan kebijakan nasional negara-negara dunia khususnya dunia berkembang.
Definisi mengenai langkah antisipasi dampak perubahan iklim yang digunakan banyak pemerintah Afrika pada saat ini lebih rnenitikberatkan pada bagairnana pasar pcrdagangan karbon (carbon trading mark t) dan pcmbiayaan dampak p rubahan iklim (climate change fi11a11cing) marnpu dimaksimalisasikan unruk mcnambah pernasukan dalarn anggaran negara. Hal ters but dibuktikan pada etiap kesepakatan atau dekJarasi yang dihasilkan dari forum ataupun konferen i mengcnai perubahan iklirn baik di tingkat mcnteri maupun kepala negara dan kcpala pcmcrintahan secara sub-regional dan regional. Sedangkan
102 GLOBAL Vol.10 No.2 Desember 2 0 1 0 - Mei 2 0 1 1
unsur masyaraknt sipil sendiri lebih menjadikan upa ra adaptasi dan rnitigasi secara sosio
kultural dan edukasi perti lo al cap city-d. · lopm 11 proj els dan advocacy programs yangs ara langsung bertujuan memunculkan dampak p sirif bagi masyarakat Afrika dalam penaaganan perubahan iklim.;
Secara detail perlu di dakan antara pihak masyarakat sipil yang berasal dari luar neg ri pada konteks ini negara maju (�orth rn r\GOs rnaupun pihak masyarakat sipil yang bersumber dari dalam n .geri S uth m r\ GO . Salieru Fakir. eorang pakar masyarakat sipil dari Int rn ti nal Union for Cons n· lion of \atur 1 • mengatakan bahwa terdapat p rbedaan cul-up tegas antara Northern r1.GOs dengan South rn \GOs yairu mengenai ke enderungan orientasinya. Pada isu perubahan iklirn di Afrika, North m r\GOs menyatakan tvironm nt b tfor d. · lopm nt' sebagai pr cautionary principle yang seharusnya diadopsi oleh Afrika, sebaliknya, Southern 1 GOs memilih int r-dep dency b tween nvironm nral sustainability and d. · lopm nr p c sebagai principl of reality untuk problematika perubahan iklim di Afrika, Fakir juga mengungkapkan bahwa saat ini terdapat kecenderungan global terutama di dunia berkembang dimana isu-isu lingkungan hidup dan perubahan iklim dianikulasikan dengan pergerakan social social mov mentsi.
Fakir juga sangat sepakat dengan filsuf Prancis Michel Foucault, yang menciptakan prinsip governance without gov mment yang artin adalah regulasi menjadi bukan dan tidak penting untuk dilaksanakan oleh hanya atau secara domina.n dilakukan oleh institusi pemerintah formal. 9
Chirisa I. dan Chanza N. ) ang merupakan pakar pembangunan p desaan dan perkotaan dari Univ ersitas Zimbabwe juga menegaskan balm isu p rubahan iklim seharusnya marnpu mentransformasikan lo I gov m nc di Afrika, 1 Chirisa dan Chanza ya.kin bahwa local gov mane jauh lebih diperlukan dibandingkan 1111 nt mengingat dampak perubahan iklim tidak mungkin ban) di el saikan e ara p litik dan institusional, melainkan juga secara so ial ekonomi hingg asp k ge graft- dan kulrural.
Local Governance Local Government
,
Demand-sid, d,
Supply-si dDiverse and 11111//ipl a tors
,
011 -a ror ri 111 I d}, Broad and
fl
rib/ i\ trow II ri i), Practical-based
,,,,
Org ni: tional-b dGLOBAL Vol.10 No2 Desember 2 0 1 0 - Mei 2011 103
Pada konteks dinarnika isu pcrubahan iklim di Afrika konrernporer, analisis Saliern Fakir dapat dikornbinasikan dcngan argumentasi Chirisa dan Chanza yang rnenghasilkan suatu prcmis positif bahwa Afrika akan mampu mcnciptakan good governance mclalui konsolidasi masyarakat sipil yang mcncakup asing (terutarna Northern NGOs) dan lokal (tcrutama Southern NGOJ) dalarn bcrbagai proyck don program bcrsarna. Scsuai dengan asumsi Maureen Biermann, pakar geografis dari Pennsylvania Stale Univcr ity, bahwa upaya adaptasi dan rnitigasi perubahan iklim haruslah rncmikirkan kontcks loknlitas yang inhercn.1 1 Biermann rncnyadari bahwa pada negara-ncgara bcrkcrnbang yang bclum mcmiliki infrastruktur telekomunikasi dan transportasi yang rnapan, NGO lokal tidak akan dapat berkontribusi secara optimal kepada masyarakat jika tidak bcrmitra dcngan pihak-pihak yang marnpu mcnyediakan informasi dan sumbcr daya (r source ) Jcbih bcsar terutarna NGO asing yang rnayoritas berasal dari negara-negara maju (Northern NGOs).1-
Pernerintah seharusnya menjodi jembatnn penghubung yang efcktif bagi NGO lokal clan NGO asing untuk berinteraksi scrta melengkapi satu sama lain. Pada faktanya, di Afrika, pernerintah justru masih rnenjadi kornponen pcnghambat utarna bagi kerjasarna komprehensif antara NGO lokal dan NGO asing tcrutarna dalam isu perubahan iklim karena belum rnatangnya karakter politik nasional. Gejala itulah yang mcnyebabkan paradigm shift mengenai isu perubahan iklirn di masyarakat bclum bcrjalan optimal. Biermann menegaskan pula bahwa NGO lokal harus Jebih banyak berperan dibandingkan pernerintah ataupun NGO asing dan harus marnpu memiliki posisi sebagai institusi berwawasan global namun bersolusi lokal dalarn mengantisipasi perubahan iklim.1 3
Realitas Peranan Masyarakat Sipil dan Good Governance di Afrtka Kontemporer Pada konteks eksistensi dan signifikansi, kini sedang terjadi proses konsolidasi yang relatif baik masyarakat sipil dalam isu perubahan iklim di Afrika kontemporer. Hal ini tercermin dari munculnya lcrnbaga-lembaga masyarakat sipil di tingkat kawasan yang rnarnpu mengkoordinasikan berbagai petuojuk kebijakan dan aspiraslnya dari tingkat nasional dan lokal. Dalam isu perubahan iklim, berbagai lernbaga masyarakat sipil di Afrika berupaya untuk menyadarkan rnasyarakat Afrika secara luas mengenai korelasi kuat antara perubahan iklim dan pernbangunan ekonorni sehingga publik dapat berpartisipasi didalam langkah
langkah adaptasi dan mitigasi perubahan ikJim.1 4
Studi kasus pertama yaitu mengenai institusionalisasi masyarakat sipil. Contoh
104 GLOBAL Vof.10 No.2 Desember 2 0 1 0 - Mei 2011
pertarna adalah eksistensi Pan African for Climat Justice Allianc PA JA) yang didiriknn dengan difasilitasi oleh koalisi NGO-NGO internasional ang sangat prihatin akan minimnyn panisipasi lembaga masyarakat sipil Afrika dalam proses dan pcrtcmuon UNFCCC.1
eskipun pernbentukannya dibanru olch NGO berskala internasional yon rnayoritas merupakan J orth rn 1\GO , namun PACJA yon mulai aktif pada Agusrus 2 0 mnmpu mcnciptakan prinsip-prinsip indcpcnd n don idcalis sebagai bagian dari masyarakat kawnsan negara berkernbang tcrbesar di dunia. I-lat ini tcrlihat dari bcrb gni pcrnyataan re mi yang dikeluarkan PA JA selarna 2 tnhun terakhir scpcrti Manifc t K adilan lklim Afrika, 1 6
penolakan terhadap Cop 11/,a II A cord, 1 Dcklnra i Be ar PACJA, 1 hing ra P rnyatnan Iasyarakat Sipil Afrika dalnrn tfric 11 \li11i t rial onfcr •11c on Envir nm int (AMCEN).1 9 Secara sub tantif dalarn i u pcrubahun iklim, ikap yang ditunjukkan lch PACJA scbagai bagian dari rnasyarakat sipil ini marnpu men arikan kcpcnringan na i nal ncgam-negarn Afrika daripada p merintahnya cndiri. Fen mcna re cbut rncmbuktikan r le an i dari suatu bargaining po ition NGO yang rclatif rncnguat dibandingkan pihak pemcrintah dalarn menciptakan Lala kelola yan aik I gov man ) dalam uatu i u yaitu pcrubahan iklim.
Selain itu, rneski hubungan antara PACJA dan pcmcrintah-pemcrintah konscrvntif di Afrikn acapkali kurang kondusif namun ejauh ini c · isten i PA JA sangat diaprc iasi olch kalangan GO internasional.
Sedangkan contoh kedua th Africa Wld. Ci, ii Society Climate Chang Iniatiative for Policy Dialogue (ACCID ialah proyek 1 tahun clama 2 0 1 0 dibawah koordinasi Food,
Agriculture. and Na/lira/ Resources Policy Analy i Network (F ANRPAN) dan institu i regional di sub-kawasan Afrika Timur dan Selatan scpcrti CO tESA. SADC, dan EA .
Mengingat status ACCID hanya sebagai proyek inisiatif rnaka aktivitasnya tidak seluas PACJA yang beoar-benar rnerupakan NGO. Lalu, berbeda dengan PACJA yan bersifat kriti terhadap kebijakan atau posisi pernerintah nasional negara-negara Af rika yang tidak serius menghadapi isu perubahan iklim ACCID ini lebih ditekankan untuk rnelakukan pend katan terhadap pihak pernerintah secara lebih rnoderat agar rnenerima propo al kebijakan yang solutif yang diusulkannya. Dalarn hal hubungan pun ACCID dapat rnenselara kan antara NGO-NGO lokal pernerintah nasional negara anggota, dan banyak NGO internasional yang juga merupakan kontributor pendanaan dalarn ber�agai aktiv itas A CID. Secara inti, perkembangan institusionalisasi masyarakat sipil Afrika yang berg rak dalam i u p rubahan iklim dapat dikatakan lebih potensial dan massif dibandingkan dalam isu korupsi atau hak asasi manusia. Selain PACJA dan ACCID masih terdapat banyak lcrnbaga masyarakat sipil
GLOBAL Vol.10 No.2 Desember 2 0 1 0 - Mel 2 0 1 1 105
lainnya scperti Cllmat 1 lw rk Africa ( NA dan ratusan NGO skala nasional di berbagai negara Afrika. lni semakin mcnunjukkan bahwn pow "r poll ti yang didominasi of h pemerintah akan scmakin lama tcreduksi lch kcrjasarna masyarakat ipil baik tingkat nasional rnaupun interna: i nal sehin ga akhimya tcrcipta kc cimbangan p wer sharing diantara pihak-pihak ter cbut yang bcrujung pada mun ulnya good go, ernanc terutama untuk isu p rubahan iklim.
Studi knsu kedua yaitu m ngenai improvisa i k, pashas rnasyarakat rnclalui bcrbagai pro) k dan program terkait i u p rubahan iklirn yang diimplcmcnta ikan baik olch NGO cara rnandiri rnaupun yang bcrkolaborasi d ngan cktor swa ta ataupun pcmcrintah. Sub
sub kawasan di Afrika yang aktif rnclak anakan proyek-proyck pcrubahan iklirn adalah Afrika baglan Selatan Timur dan Tcngah edangkan Afrika bagian Baral dan Utara r latif pasif. Contoh proyek pertarna yairu E"VDA Conununit , Adaptation Pilot Action Programm di Zambia, Niger dan Senegal selarna 3 tahun (2007-2010).:?.1 Dalarn mclaksanakan proyek tersebut ENDA banyak rnelakukan kolaborasi dengan b rbagai think-tank dan ci ii society organization (CSO) di tingkat lokal untuk mengernbangkan kapasita masyarakat dalam rangka adaptasi dan rnitigasi darnpak perubahan iklirn di wilayahnya. Conteh proyek kcdua adalah Congo Basin For st Fund (CBFF) yaitu proyek bantuan dana multi-donor untuk negara-negara Afrika sekitar daerah Basin Kongo dalarn rangka konservasi hutan, pengelolaan hutan secara berkelanjutan, dan pengurangan laju dcforestasi global. CBFF aktif sejak Juni 2008 dengan pemerintah Norwegia dan lnggris sebagai donatur a, al (masing
rnasing £ 50 juta), lalu African Development Bank (AIDB) s bagai pihak pengelolanya, pernerintah negara-negara sckitar Basin Kongo sebagai penerima bantuan (pinjarnan ataupun hibah), dan para NGO lokal atau internasional yang m njadi implementor proyek-proyek terkait konservasi hutan yang berfungsi untuk rnengurangi dampak: perubahan iklim di Afrika.11 CBFF ini dapat dikatakan memiliki mekanisrn implcmentasi yang komprchensif dalam setiap proyek-proyeknya karena melibaikan setiap pihak yang dapat mewujudkan good governance di negara-uegara Afrika terutama dalarn isu p rubahan iklirn.
Secara urnum berbagai proy k dao program pengernbangan kapasitas masyarakat di Afrika mengenai isu perubahan iklim dapat mclatih berbagai pihak mernbantu mewujudkan good go ernauc yang berasaskan kerjasarna yang non-diskrirninatif dan benefisial baik di tingkat
lokaJ nasional, hingga regional.
Studi kasus ketiga adaJah mengenai sosialisasi dan publikasi perubahan iklirn pada seluruh masyarakat Afrika. Secara umum, equivalen dcngan persebaran proyek dan program
106 GLOBAL Vol.10 No.2 Desember 2010 - Mei 2011
terkait pcrubahan iklim sosialisasi dan publikasi pun lebih massif terjadi di Afrika bagian Selatan, Timur, clan Teogah daripada Afrika Utara atau Barat. Conteh pertama ialah Africa Talks Climate (A TC) program yang disponsori dan diselenggarakan oleh BBC World Service Trust (korporasi media berskala global yang bcrbasis di London) diresrnikan di Nairobi
Kenya pada kuartal pertarna 20 I O untuk mcmberikan informasi lengkap kepada masyarakat Afrika mengenai perubahan iklim? Selain mclakukan riset terhadap masyarakat urnum, program A TC ini rnengadakan wawancara khusus dengan opinion-leaders seperti aparatus negara pimpinan institusi keagarnaan, pcmirnpin kornunitas, kalangan bisnis, hingga perwakilan media dan NGO di berbagai ncgara Afrika. Sedangkan contoh kedua yaitu beberapa negara Afrika yang mernformalisasikan isu perubahan iklim sebagai bagian dari sistern pendidikan di berbagai level seperti Afrika Selatan (program Climate Science yang berkoordinasi dengan scluruh sekolah secara nasional) Mcsir (pendirian Climat Institute yang bekerjasarna dengan banyak universitas), scrta Kenya, Nigeria, Maroko dan Zimbabwe telah terdaftar dalam daftar ncgara-negara Afrika yang b rpartisipasi dalam portal global rnengenai pendidikan perubahan iklirn (www.climatcchangceducation.org).2" Secara khusus, contoh sosialisasi dan publikasi tersebut akan mcnjadikao kompleksitas dampak perubahan iklim di Afrika dapat lebih mudah diselesaikan d ngan partisipasi positif berbagai pihak didalamnya.
Studi kasus keernpat adalah reformasi politik yang merupakan kombinasi dari segala aspek dan komponen dalam mewujudkan good governance dalam isu perubahan iklirn di Afrika. Diantara pemimpin-pemimpin Afrika sendiri terdapat perbedaan dalarn menempatkan perubahan iklim sebagai salahsatu prioritas kebijakan nasional. Misalnya Raila Odinga, Perdana Menteri Kenya, bersikap sangat supportif dan optimistis terhadap berbagai langkah solusi dampak perubahan iklim namun Meles Zenawi Perdana Menteri Ethiopia justru menyatakan pesimisme atas negosiasi global perubahan iklirn yang tiada berakhir.25 Sedangkan Afrika Selatan sendiri s benarnya merniliki ambisi tingg! untuk menjadi regional leader dalam hat upaya adaptasi dan rnitigasi dampak perubahan iklim di Afrika, namun dukungan dari negara-negara lainnya sangatlah minim. Fenomena tersebut berujung pada unilateralisasi isu perubahan iklirn pada tingkat perpolitikan nasional masing-rnasing negara Afrika meskipun institusionalisasi isu perubaban iklim pada masyarakat sipil telah mencapai tahap yang lebih stabil dan komprehensif.
Revisi kebijakan yang bersifat lebih transparan akomodatif, dan akuntabel adalah
GLOBAL Vol.10 No.2 Desember 2 0 1 0 - Mei 2011 107
syar t mutlak dalarn reforrnasi politik dalam isu perubahan iklirn di Afrika kontcmporcr.
Pcmerintah mcrnang tid k cpenuhnyn dapat dikatakan scb gai faktor pcngharnbat dalam hal itu namun i l m poliuk y ng ma ih banyak b rlaku di Afrik.n tcrlalu mcmposi ikan kckuasaaan cksekutif ccam entrali ti b hkan ndcrung otoritcr. Di isi lain, banyak pcmcrintah A f rika mcrn khawatir jiko pihakny mcmcnuhi tuntutan m yarakat ipil untu b r ikap le as rncncntang ik p c · pl itatif nc ara-ncgura indu Lti rnaju dalarn i u pcrubahan iklim maka liran bnntuan luar ncgcri (for i II aid) dari kclomp k le cbut yang mcrupakan salah atu unsur dominan dal m an garnn pcm ukan nc ara ju lJU akan dihambat atau bahkan diberhcntikun. 26 Oil m perncrimah inilah yang a apkah diabaikan oJch pihak masyarakat ipil schine a bahkan pada n gara-n gara Afrikll tcrtcntu diternukan stigma-
tigma ncgutif bahwa rnusyarnkat sipil ak clalu mcnjadi scteru abadi bagi pcmcrintah. 27 Lcbih dari itu, pada Forum Pcrnbangunan Afrika (ADF) kc-7, 1 0 - 1 5 Oktober 2 0 1 0 di Addis Ababa-Ethiopia dcngan tcma 'A tin II Climate Change for Sustainable D · lopm III in Africa' 2 tcrd pat satu k mponcn rnasyarakat sipil yang vokal dalam mend rong pcmimpin-pemimpin Afrika agar lcbih pcrhntinn tcrhod p dampak pcrubahan iklirn yakni pernuda (youth) yang dircprc entasikan olch Esther Agbarakv e dari Nigeria alas nama African ) 'outh Initiative on Climate Change (A YlCC).29 Aspirasi pcmuda Afrika terscbut dititikb ratkan pada 3 aspck yang harus diimplcmcntasikan secara sunguh-sungguh yaitu bantuan iadvocacy , pcrubahan pcrilaku (b havior change), dan pendidikan (education . Dalarn forum itu, A YJCC rneyakini bahwn scmangat pernuda Afrika sangatlah b sar untuk mampu berkontribusi dalam langkah adaptasi dan rniiigasi dampak perubahan iklim dan pcrnerintah negara-negara Afrika pun seharusnya mcmperscpsikan kalangan pcmuda Afrika sebagai rnitra yang sejajar dan potcnsial dalam isu perubahan iklim.
Pada kontcks reformasi politik, konsolidasi rnasyarakat sipil mcnjadi faktor dcterminan dalam mcnsolusikan suatu isu yang angat urgensif karena menyangkut kehidupan masyarakatnya secara nasional. Indonesia dan negara-negara Kaukasus seperti Ukraine, Georgia, dan Azerbaijan adalah contoh rclevan dirnana rnasyarakat sipil memiliki potensi bcsar daJam mendorong terjadinya refonnasi politik, Gejala itu memang belum muncuJ di Afrika narnun kornponen pembentuknya telah ada yaitu peran masyarakat sipil yang scrnakin mcnguat. Salahsatu contoh kasus yang menunjukkan bahwa pihak penyusun kcbijakan (policy-makers) semakin mengapresiasi kepentingan masyara.kat s.ipil adalah pada saat UNFCCC COP ke-15 di Copenhagen-Denmark pada awal Desember 2009, dimano Pan·
African Par/iamenlaria11 Network on Climate Change sebagai perwakilan badan-badan
108 GLOBAL Vol.10 No.2 Oesember 2010 - Mei 2011
G O B 10 'o2 Dess 10 -
.·=-·
2FIJ!ur 4
Pro cs Pencnpulun G t 1 1 1 d Gm•tmar1c,•
lmpr i ·asi
knpasitas rnasynrukut
• Rclormasi politik Ma! ynraknt
r
nucriuu h----�---- ParaJl,:111 Sit/ft
• In titus ionnli ·a i mo yarakat ipil
• S ialiasi d n publikasi
Gt1ml Gm·er11am.�e--- Kon olida i rnasya kat ipil mcnjadi Inn rkah pcrtuma clan utarn dnl m rnenyclc aikan problcrnatika pcrubahan iklirn di Afrikn dimann N using berusahu mcngisi political d,
ifi
ien J dan t chni al gap yang ada pada pcmcrintah d m masyarakat. Padu tahup ini, satu hal yang mcnjndi catatan penting adalah pcningkatun kcrja ama antura NGO I knl dan NGO using harus ditingk: tkun sc aru u stun iul, cncf ial, dan lebih intcn if tunpa terjadi diskriminasi tertcntu. Sccara politik, konsolida i mu yarakat sipil pun harus dapat mernperbaiki situasi politik yang kurang hanuonis yung adu pada ncgara-ncgura Afrika sep rti coruoh pemerintah Sudan (knsus Darfur) dan Chud (ka us kckeringnn danau asm Chad) yang rncrnpersalahkan pcrubahan iklim sebagai 'kambing hitarn' atas tcrjadinya instabilitas kearnanan yang tcrjadi di wilayahnya tcrutama isu percbutan sumbcr air dan lahan subur.Paradigm shift juga merupakan tahap penghubung yang p nting antara tahap konsolidasi masyarakat sipil dan tcrciptanya good governance. Di bebcrapa negura Afrika seperti Afrika Selatan, Kenya dan Mauritius yang tclah rncmiliki banyak proyek dan program adaptasi dan rnitigasi perubahan iklirn, telah tcrjadi paradigm shift baik pada pemcrintah maupun rnasyarakat karcna masyarakat sipil didalamnya telah terkonsolidnsi
I J O GLOBAL Vol.10 No.2 Desember 2010 - Met 2011
secara baik untuk rnengelola isu perubahan iklim. Pada tahap ini hal yang merupakan konsiderasi terpenting adalah bagairnana pernerintah, rnasyarakat sipil (baik NGOs maupun sektor bisnis), dan masyarakat berupaya rnenselaraskan antara hak p mbaogunan ekonorni (right to develop economicall ) dan perneliharaan kcseirnbangan ekologis tpreservation of the balance of colo r) tcrrnasuk iklirn yang ialah isu non-konvensional dalarn hubungan internasional yang bersifat sangat trans-boundary dan abstrak dibandingkan korupsi, pcrdagangan manusia dan narkotika, pencucian uang, bahkan hak asasi manusia.
Good gov rnance merupakan titik klirnaks bagi solusi perubahan iklim di Afrika dan seluruh dunia. Good governance akan mernbantu posisi Afrika dalarn negosiasi global dalam masalah perubahan iklim dan pembangunan b rkelaojutan. Partisipasi positif masyarakat luas, inklusivitas power sharing antara pernerintah dan aktor non-pernerintah, serta kerjasama terbuka dengan pihak-pihak luar negeri telah menjadi comer lone bagi Afrika unruk merefonnasi pola yang ada yaitu dari government-based policy menjadi governance-bas d policy. Kesalahan Afrika dalam belum terciptanya good gov mance bukanlah dari pihak clan kondi.si internal saja rnelainkan juga karena pihak dan kondisi eksternal yang mernang masih belurn rnenginginkan pembangunan Afrika berkernbang pesat laiknya Asia Timur.
Konsolidasi masyarakat sipil adalah laagkah kecil bagi kemuncuJan Afrika yang baru airu Afrika yang mampu menjawab tantangan perubahan iklirn dan pembangunan b rkelanjutan di abad XXJ berdasarkan good governance.
Kcsimpulan
Isu perubahan iklim adalah isu yang b rsifat kompr hensif clan multi-disipliner maka itu dibutuhkan solusi yang komprehensif pula, baik itu dalam b rbagai pro) ek clan program yang akan dilakukan maupun pihak-pihak yang berpartisipasi didalamnya, Kini dinamika isu perubahan iklim di Afrika dapat dikatakan sedang mernasuki era transisi ang penuh dengan lantangan dan harnbatan. Berbagai pendapat mengenai upaya mengatasi perubahan iklim inipun masih nampak terjado polarisasi yang serius diantara para pernimpin negara-n gara dari utara ataupun selatan. Disinilah peran rnasyarakat sipil rnenjadi katalisator yang vital bagi pendorong pcrcepatan negosiasi untuk melakukan penanganan terhadap perubahan iklirn.
GLOBAL Vol.10 No .. 2 Desember 2010 - Mei 2011 1 1 1
M kipun pcrubahan iklirn m sih rncnjndi sec 11d IJ' is 11c di banyak negarn di Afrikn, narnun ecara umum, p rkernban an po itif telah terjadi terutama pada unsur ma ynrakat ipil. Kerjasnm sp rodis yang dibangun antara pcrnerirnah, NGO lokal, dan NGO a in m nstimulnsi p mbangunan pini di tin kat ma ynrakat yang pada nkhirnya mcnyadarkan .tapa pcntin nya L u ini untuk di ie er mcnjadi primary i s11 • Pcncapainn oo I O\' mane d I m upnya mel kukan nc si i d n pcnnnganan p rubahan iklim rncnjndi 0111p111 yang angl t n · t ..
Daftar P11 taka
Buku
Aid • J cph •. ond R bert N. Stnvin P . I-Ky r /111 motional Climat P Ii : Summary
fl.
r P licym ikcr. nmbridgc: ambridec Univc ity Pre , 20New II Peter Clim re
fi ,.
I, 11 : 1\011- 1 1 1 A t r. and the GI bot P Ii tics of ti,Gr .,11/,01 e. Cambridge: rn rid C Univcrsit Pres ,
_ooo
D kumcn resmi internet
_, 'Africa-El.I Declaration n lirnatc hong •• Africa-EU Par111 •r. ship 2008) http://www.afric:i-cu-
pnrln r hip. r itc./dcfoul file:
_oox
LO 1 africa cu de: l�u. ti n on climate chang c I .cl c> [diakses pada tanggal 2 Oki ber 2 I OJAfrica Partnership Forum Support Unit. 'Bri ling Pap r No. I . Scptemb r, 2007). Climate Change and Africa.'. OECD (20 7) <ww v. c d.org/dotn ccd/17/_0/39921733.pdf>
[ diakses pada tanggal 28 Okt bcr 20 J O ]
Africa Partnership Forum. 'Paper presented on 8th Meeting of the Africa Partnership Forum in Berlin-Germany, 22-23 May 2007', OECD (2007)
<w \ v. ccd.ore/dala ecd/17/20/3 9 2 1 7 3 3 . p d f'> [diakse pada tanggal 28 Oktober 2 0 1 0 ]
Aluka, Lucas Kodjo. 'Climate Change in Africa: a Conic t Analysis' (2010) <www.u
fondet.no mailto:u-fondet%40u-fond t.no/llle .. tore/Climate hangcinWe tAfrica
AConte. tAnalysi .pdf> [diakses pada tanggal 2 Oktobcr 2010)
Seventh African Development Forum, 'Governance and Leadership: Respons to Climate Change', Seventh African Development Forum, Issues Paper #I (20 I 0)
<wwv .uneca. rg/adfvii/documents/J ucPaper 1 G vcmance-and-leadership-through
n-chanaingclimotc.pdl> [diakses pada tanggal 28 Okrober 20 IO]
United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN-DESA), Contribution by the NGO Major Group Sector on Africa and Sustainable Development. Background Paper No.3, DESNDSD/2008/3 ', UN-DESA (2003)
<httr,://www .un.org/esa/ u tdev/csd/csd l 6/documcnts/bp3 2008.pdt> [ diakses pada tanggal 28 Oktober 2010)
United Nations Environment Programme (UNEP), 'Young People Urge World Leaders to Combat Climate Change', UNEP (2009) <www.unep.org/pdf/survey results.pdf>
[diakses pada tanggal 28 Oktober 2 0 1 0 ]
1 1 2 GLOBAL Vol.10 No.2 Desember 2010 - Mel 2 0 1 1
Artikel internet
h I lh=btc&
[diak c pada lirnatc h mgc is n Seri us
[diaksc ·
___,
__
,--·
<http://w,\w.,,orldwildlifc.org/h p/hcn/h:nming/ fricnn/gc I .him [dink c .. pada 1 4 November 20 I OJ
__ , 'International Polls Find Robu l Global Support F r Increased Efforts t Addrc:
Climate Change' JI 'orld Publi Opinion (2007)
GLOBAL Vol.10 No.2 Desember 2010 • Mel 2011 1 1 3
1 1 4
OPENHAGEN%20A
GLOBAL Vol.10 No.2 Desember 2 0 1 0 • Mei 2011
Kinver, Mark, 'Climate shifts 'not to blame' for African civil wars' BBC (2010)
<hnp://w,V\\ .bhc.co.uk/new /scicnce-cnvironment-112046 6> [ diakses pada 1 6 November 2 0 1 0 ]
Mohammed, Murtala Adogi, 'Africa: Climate Change - the Role of NG Os in Addressing the Challenges', All Africa 20 I 0) <http://allafrica.com/stories/20100323021 O.html>
[ diakses pada 25 Oktober 2 0 1 0 )
Ogodo Ochieng, 'African climate leader savs Cancun talks 'will flop", Afro11/111e (2010)
<http://www.afronline.org/?p=963 l > [diakses pada 1 6 November 2010]
Pelham, Brett, ·A\ areness, Opinions About Global Wanning Vary Worldwide', Gallup 2009) <http://\ v, .gn lJup.com/poll/ 1 1 7 7 7 21 A warcness-Opinion ·-Global-Wanning
Vary-World\ ide.aspx# I > [diakse pada 14 November 2 0 1 0 ]
Pugliese Anita dan Julie Ra y , • Awareness of Climate Change and Threat Vary by Region', Gallup 2009) <http://ww\ .eallup.com/poll/124652/awarcncs -climate-chang.c
threat-vary-reC!ion.a px> [diakses pada 1 4 November 20 l O]
Catatan Akhir
I Pada United at ions Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Conference of the Parti (COP) ke-l J (2007). Bali Roadmap telah mcmformalisasikan reducing missions from deforestation and d, gradation (REDD) sebagai mekanismc baru dalarn m nangani siruasi perubahan ikhrn dunla yang sernakin mcndesak untuk ditanggulangi. Latu pada UNFCCC COP k - 1 5 (2009), Copenhagen Accord rnenambahkan saru
mekanisme baru yairu sustainable forest management (SFM . Lalu skerna alternatif terbaru pada 2 0 1 0 ini yaitu AFOLU Agricultur Forestry, and land-Use) yang rnenghimpun sernua unsur dari Kyoto Protocol, Bali Roadmap, dan Cop nhagen Accord dengan kornponen tambahan yaitu pemberdayaan tanah kering (p at • sustainable land manag ment (SL 1), dan intensifikasi pertanian.
1 Lebih lengkap rnengcnai fol-ta dan data kondisi dampak perubahan iklim di Afrika, lihat Prof. A.C. Mo ha, Climate Chang and Poverty in Africa. (Paper presented on "ITB-UNCRD Senior Policy Seminar on Climate Change and Poverty in Asia and Africa," Bandung-Indonesia, 3-4 August 2010).
3 lernbaga independen penelitian opini publik yang bcrbasis di Washington
• G a l l u p . · Awareness, Opinions abcut Global Wanning Vary Worldwide'
<http:/fo , v.gallup c mlp 111117772/Awarenc. -Opinion -Global-W:mnin7-Vary-Worldwide.a p F#I> [di ·
f3da
2 Oktobcr 20 I OJUnited Nations En ironrnent Programme (UNEP). 'Young People Urge World Leaders lo Combat Climate Change' <w\l,'W.Wlep. rc/pdti urv�y r ul .pdf> [diakses pada 28 Oktober 2010}
b Hal iru adalah uatu kewaj ran jib rnengingat situasi clan kondisi perubahan iklim yang terjadi di Afrika berbeda dengan ka an dunia lainnya baik s cara akuruabilitas politik, kekuatan ekonorni, kapasitas ilmu
�n etahuan dan tekn logi, kualitas umber day m nusia, hingga aspek tradisi nalitas dan geografis.
Menurut Murtala Adogi Mohammed, seorang pakar perubahan iklirn dari Afrika, peran NG dalam m nyel aikan p rmasalahan perubahan iklirn terklasifikasi m njadi 4 yaitu ad okasi kcpada berb gai stakeholders dalam isu perubahan iklim, penciptaan dan penin · tan kes daran publik pada isu perubahan iklirn, aktivitas riser dan analisis men enai isu perubahan iklirn, dan fungsi perencanaan clan panisi asi.
Lebih rinci lihat MW1ab Ado i Mohammed. Africa; Climate Change - The Role of G in Addrc sin th Challcng • JI/ Afnc (2 l ) <hnp://L II. ·c .c I t rie- 2 I J1 _, html> [di • 25 k ber :wt-}
Saliern Fakir, "The Role of Environrn ntal NG in rth-S uth Dialogue· Glob l P lie for G ts Acti n al the L and aiio l L v e l ' ,
· R k ·r _ I )
limaic han c ra rm Afri n L
da 1
in Anti i ling an R · ndin , t p d I N v m r - 0 1 0 )
GLOBAL Vol.10 No.2 Desember 2010 - Mel 2 0 1 1 1 1 5
1 1 6
i ii da
fdi PJ
ID, F,\NltPAN and i rcJ p nncrs'
\ m r . IOJ dan 'Afri , -\ idc ivll
GLOBAL Vol.10 No;2 Desember 2010 .. Mei 2011
>0 • African Parliamcnuri:iru and Civil Society CaJI for Climate Justice'. Climate Ju tic , <hnp://w,V\ .climatc
ju ticc·n w.org/tag/:ifric:il> [diakse pada J J November 2010]
JI 'Implcrneruatron Strategy and Partnership ', ACPC
<http://ww, .uncca.orc.ltlcpdindex.php?P:igc=implemcntation str.lteey partner hio menu= I & Dir=h:ickgroun
�> [di · c pada 1 3 No ember 2010]
GLOBAL Vol.10 No.2 Desember 2010 - Mei 2 0 1 1 1 1 7