Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2012 tentang Rencana Investasi Umum, perlu menetapkan Peraturan Gubernur tentang Rencana Investasi Umum Provinsi Kalimantan Timur untuk 2014-2025. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724); Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pemberian Insentif Dan Pemberian Kemudahan Penanaman Modal Di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 88, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4861);
Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2014 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal; Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Insentif dan Fasilitasi Penanaman Modal di Daerah; Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pedoman dan Tata Cara Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal;
Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Umum Penanaman Modal Provinsi dan Rencana Umum Penanaman Modal Kabupaten/Kota; Pemberian insentif merupakan dukungan dari pemerintah daerah kepada investor dalam rangka mendorong peningkatan investasi di daerah. LAMPIRAN I: PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TIMUR NOMOR 22 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PENANAMAN MODAL UMUM DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR.
Pendahuluan
Kebijakan investasi daerah harus diarahkan untuk menciptakan perekonomian daerah yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan. Dalam upaya mendorong daya saing ekonomi daerah secara berkelanjutan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berkomitmen untuk lebih meningkatkan iklim investasi yang kondusif dengan lebih mengembangkan kegiatan ekonomi yang dapat mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan pedoman yang jelas untuk perencanaan investasi jangka panjang dalam dokumen Rencana Investasi Umum provinsi.
Rencana Umum Penanaman Modal Provinsi (RUPMP) merupakan dokumen perencanaan jangka panjang hingga tahun 2025. Untuk mendukung pelaksanaan RUPMP guna mendorong peningkatan investasi yang berkelanjutan, diperlukan kelembagaan yang kuat, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Sementara itu, penyebarluasan informasi tentang potensi dan peluang investasi secara terarah, terpadu, dan berkesinambungan menjadi penting dan memerlukan pengendalian.
RUPMP diperlukan agar pelaksanaan penanaman modal sejalan dengan kebijakan penanaman modal Kalimantan Timur sehingga tujuan pembangunan ekonomi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana tercantum dalam RPJPD dan RPJMD dapat tercapai.
Asas dan Tujuan
Untuk mewujudkan seluruh arah kebijakan penanaman modal tersebut di atas, RUPMP juga menetapkan tahapan pelaksanaan yang dapat menjadi pedoman dalam menentukan prioritas pelaksanaan kebijakan penanaman modal sesuai dengan potensi dan kondisi perekonomian Kalimantan Timur. kemajuan ekonomi. Tingkat implementasi tersebut harus dipantau secara konsisten oleh satuan kerja perangkat daerah di tingkat pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dengan komitmen yang tinggi dan berkelanjutan.
Visi dan Misi
Berdasarkan visi dan misi tersebut, dirumuskan arah kebijakan penanaman modal yang meliputi 8 (delapan) unsur utama, yaitu.
- Persebaran Penanaman Modal
- Fokus Pengembangan Agroindustri, Infrastruktur, Energi dan Pariwisata
- Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja Lokal
- Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil , Menengah, dan Koperasi (UMKMK)
- Pemberian Fasilitas, Kemudahan dan/atau Insetif Penanaman Modal Pemberian kemudahan dan/atau insentif penanaman modal
- Promosi dan Kerjasama Penanaman Modal
Untuk itu perlu diketahui secara pasti jenis dan tata cara pungutan pajak daerah dan pungutan yang akan diberikan sebagai insentif investasi. Pemilihan insentif dan remunerasi pajak daerah untuk kegiatan penanaman modal harus mempertimbangkan aspek sektoral, regional, jadwal-strategis, serta prioritas pengembangan usaha. Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPS) dan non-KPS yang terintegrasi dengan rencana investasi pada sektor strategis tertentu.
Tujuan investasi bidang pangan pada setiap komoditas adalah untuk mewujudkan: (i) swasembada beras berkelanjutan; (ii) pengembangan klaster pertanian dalam arti luas; dan (iii) konversi produk primer menjadi produk olahan untuk diekspor. Sedangkan aspek internal yang perlu diperhatikan antara lain: strategi/kebijakan pembangunan sektoral dan ekonomi; kepentingan pembangunan daerah; tujuan pemberian manfaat dan/atau insentif penanaman modal; dampak/hubungan sektor bersangkutan dengan sektor lain, besaran ekonominya, penyerapan tenaga kerja; Prinsip dasar penetapan kebijakan keringanan dan/atau insentif bagi penanaman modal adalah efisiensi administrasi, efektifitas, kesederhanaan, transparansi, keadilan, pertimbangan dampak ekonomi (profit and loss analysis), serta adanya jangka waktu dan/atau adanya keringanan dan/atau peraturan politik atau insentif investasi pemerintah pusat.
Selain itu, dalam menentukan alokasi fasilitasi dan/atau insentif investasi, juga diperhitungkan kriteria klasifikasi wilayah, antara lain kegiatan investasi di daerah maju, di daerah berkembang, dan daerah tertinggal. Pemberian fasilitas dan/atau insentif penanaman modal di daerah tertinggal dan berkembang harus lebih besar dari pada di daerah maju. Berdasarkan pertimbangan eksternal dan internal, ditentukan titik awal pemberian fasilitas dan/atau insentif, kriteria kegiatan penanaman modal dan kriteria pembagian wilayah, penawaran fasilitas dan/atau insentif.
Dengan demikian, alokasi fasilitas dan/atau insentif investasi ditentukan berdasarkan pertimbangan pembangunan daerah yang spesifik sektor atau kombinasi pembangunan sektor dan daerah. Kegiatan penanaman modal yang merupakan bagian dari skala prioritas tinggi ditetapkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah dalam rangka kepentingan nasional dan pembangunan ekonomi. Penanaman modal yang dapat memperoleh insentif dan fasilitas adalah yang memiliki kantor pusat dan/atau kantor cabang di daerah dan memenuhi sekurang-kurangnya salah satu kriteria sebagai berikut: a. membantu meningkatkan pendapatan masyarakat; . b.menyerap banyak tenaga kerja lokal; .. c.menggunakan sebagian besar sumber daya lokal;
Untuk kegiatan penanaman modal yang merupakan industri pionir, penilaian pemberian insentif yang lebih tinggi karena sifat pengembangannya yang memiliki keterkaitan strategis yang luas dengan perekonomian daerah dan menggunakan teknologi baru. d) Mekanisme Pemberian Kemudahan dan/atau Insentif Penanaman Modal. Gubernur dan/atau bupati/walikota memberikan fasilitas dan/atau insentif penanaman modal untuk bidang usaha, termasuk bidang usaha di wilayah/kawasan/kawasan tertentu. Karena bidang-bidang usaha tersebut bersifat dinamis, maka untuk mengikuti perkembangan yang ada, maka perlu dilakukan penilaian secara berkala terhadap pemberian fasilitas dan/atau insentif penanaman modal, penilaian ini dilakukan oleh Badan Perizinan dan Penanaman Modal Daerah yang meliputi SKPD- dan pemerintah kabupaten/kota. yang terhubung.
Selain itu, hasil evaluasi dapat berupa usulan bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan di bidang penanaman modal yang diajukan oleh Gubernur kepada Pemerintah Pusat.
Hasil pembahasan tersebut kemudian diteruskan oleh Gubernur dalam bentuk rekomendasi/usulan penambahan dan/atau pengurangan bidang usaha yang dapat memperoleh fasilitas dan/atau insentif atau disinsentif. PDKPM (Penanaman Modal Perangkat Daerah Kabupaten/Kota). e) memperkuat peran fasilitasi hasil kegiatan promosi secara proaktif untuk mengubah minat investasi menjadi realisasi investasi. f) meningkatkan kerjasama penanaman modal pemerintah daerah dengan negara lain dan/atau badan hukum asing melalui pemerintah dan pemerintah daerah lain dan/atau pemerintah kabupaten/kota atau swasta atas dasar kesetaraan dan saling menguntungkan.
2014-2015) : Pengembangan penanaman modal yang relatif mudah dan cepat menghasilkan
2014-2019) : Percepatan Pembangunan Infrastruktur dan Energi
Proyeksi Kebutuhan Penanaman Modal Kalimantan Timur
Pada tahun 2025, kesejahteraan masyarakat Kaltim diperkirakan meningkat jauh lebih tinggi dari kondisi tahun 2014. Pada tahun 2025, pendapatan per per kapita bagi penduduk provinsi Kalimantan Timur meningkat 7 kali lipat dibandingkan pendapatan per penduduk pada tahun 2014. Pendapatan per per kapita penduduk provinsi Kalimantan Timur diperkirakan mencapai 75,90 juta rupiah (dengan migas harga berlaku) atau 48,53 juta rupiah (tanpa migas harga berlaku) pada tahun 2025.
Untuk mencapai proyeksi di atas diperlukan investasi langsung, baik investasi yang dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk belanja modal maupun penyertaan modal maupun investasi oleh swasta, baik investasi swasta asing melalui Penanaman Modal Asing (PMA), investasi investasi swasta dalam negeri melalui PMDN. Penanaman Modal (PMDN) maupun penanaman modal swasta dalam negeri yang tidak tercatat sebagian besar dilakukan oleh UMKM di berbagai sektor. Investasi pemerintah diperlukan untuk menyediakan berbagai fasilitas publik berupa infrastruktur dan fasilitas umum guna memberikan pelayanan publik yang lebih baik dan memberikan eksternalitas untuk mendorong dan mempercepat investasi swasta, sehingga menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif. Kebutuhan akan investasi swasta diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dan mendorong terciptanya lapangan kerja yang lebih luas di berbagai sektor ekonomi secara berkelanjutan.
Selain itu, melalui kemitraan publik-swasta juga dimungkinkan untuk berkolaborasi dengan investasi publik dan swasta untuk proyek-proyek berskala besar. Pencapaian perekonomian Kaltim yang diinginkan pada tahun 2025 membutuhkan investasi yang tidak hanya meningkat jumlah dan pangsanya, tetapi juga merambah ke berbagai sektor dan meningkatkan kualitas iklim investasi. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,0%, kebutuhan investasi Kaltim 2014-2025 sebesar Rp 66,45 triliun. Investasi diharapkan tumbuh rata-rata 6,0% per tahun, sehingga pada tahun 2025 investasi akan mencapai porsi yang signifikan dalam perekonomian Kalimantan Timur.
Baik investasi publik maupun investasi swasta (PMA dan PMDN) serta sektor swasta lainnya dikelola sesuai dengan perannya masing-masing dalam pembangunan ekonomi Kaltim, sehingga peran pemerintah pada akhir periode RPJPD diharapkan mencapai 10% dan peran swasta mencapai 90% Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi hingga mencapai tingkat yang diharapkan, pemerintah berperan terutama dalam bentuk investasi publik, yang diharapkan mampu mengakselerasi pertumbuhan peran tersebut. swasta dengan menyediakan infrastruktur dan atau sarana lain yang mendukung tercapainya pelayanan yang lebih optimal dan efisien serta mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pelaksanaan
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis agroindustri.. agroindustri yang ramah lingkungan dan terintegrasi dari hulu hingga hilir. PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TIMUR NOMOR 22 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PENANAMAN MODAL UMUM DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR. Pengembangan perangkat daerah atau lembaga penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) di seluruh kabupaten/kota yang terstandar (peralatan dan sistem informasi elektronik yang memadai) 2.
Identifikasi atau registrasi (database) potensi dan wilayah sebaran infrastruktur dan energi 4. debottleneck investasi infrastruktur dan energi. Peningkatan skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPS) dalam pembangunan infrastruktur dan pengembangan energi Pengembangan sektor-sektor strategis yang mendukung infrastruktur dan energi seperti industri semen, industri mesin dan industri pipa). Meningkatkan penggunaan teknologi energi baru dan terbarukan yang ramah lingkungan dan terintegrasi dari hulu ke hilir (hilir) 4.
LAMPIRAN III PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TIMUR NOMOR 22 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PENANAMAN MODAL UMUM DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TAHUN. RENCANA UNTUK MEMfasilitasi REALISASI PROYEK INVESTASI YANG STRATEGIS DAN CEPAT MENGHASILKAN DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR.