BAB VI
INDIVIDUAL DALAM BELAJAR
A. Jenis-jenis Perbedaan Individual dalam Belajar
Lama sebelum perbedaan-perbedaan individu dipelajari secara ilmiah orang telah menyadari bahwa ada perbedaan antara orang yang satu dengan orang yang lain. Perbedaan-perbedaan itu tidak hanya mengenai besar, bentuk, dan roman muka, tetapi mengenai tingkah laku dan perbuatan.
Bahkan walaupun dua orang sepintas lalu menunjukkan adanya ciri-ciri jasmani yang sama, misalnya pada anak kembar identik, maka bila diamati secara sesama terdapat juga perbedaan-perbedaan itu.Dalam kehidupan sehari-hari kita mengetahui bahwa bila sekelompok manusia diberi tugas sama dengan mereka mengerjakan dalam waktu yang telah ditentukan, maka hasil yang diperoleh oleh orang itu banyak yang tidak sama. Demikian pula bila mereka disuruh mengerjakan tugas yang sama dan diminta hasil kerja yang sama, maka pada umumnya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan tugas tersebut juga tidak sama. Bila dalam satu kelas anak-anak disuruh mengerjakan soal-soal geometri dalam tempo yang terbatas maka hasil kerja mereka tidak akan anak sama. yang Mungkin dengan tempo yang telah ditentukan itu ada bisa mengerjakan semua soal dengan betul mungkin ada yang hanya dapat mengerikan sebagian dari soal-soal itu, bahkan mungkin pula ada anak yang sama sekali tidak mengerjakan soal-soal itu. Jelaslah bahwa dari pengetahuan dan pengalaman sehari-hari orang telah mengetahui adanya perbedaan individu itu. Dan pengetahuan itu telah lama diketahui Namun demikian studi secara orang ilmiah mengenai perbedaan individu baru dimulai pada abad 19. Penyelidikannya bersifat ilmiah itu didorong oleh hasil studi yang dikerjakan oleh Francis secara Galton, dalam laboratorium Anthropometri di kota London. Dalam laboratorium itu Galton mengadakan penyelidikan luas mengenai perbedaan-perbedaan sifat-sifat dan ciri-ciri antara manusia yang satu dengan yang lain dengan jalan mengukur sifat sifat dan ciri-ciri ribuan manusia."
Ada beberapa perbedaan individu yang penting di dalam belajar dan memori di antaranya adalah;
1. Perbedaan intelegensi (intelegence)
Perbedaan ini diperoleh dengan melihat perbedaan intelejensi dengan menggunakan sektor IQ. Pada tahun 1920 tes ini banyak digunakan di AS namun akhir-akhir ini tes ini dipandang sebagai sebuah instrumen yang melahirkan prasangka. Tes ini telah menimbulkan keraguan dalam kaitanya dengan apa yang diukur. Beberapa pakar melihat intelejensi tergambar dari kecepatan dan kemampuan belajar. Sementra itu yang lain memandang intelejensi tercermin dari tingkat kesulitan masalah yang harus dipecahkan oleh seseorang pada tingkat usia tertentu. Kadang-kadang, definisi tersebut malah lebih kabur, dan mencakup kapasitas global, berfikir rasional,kemampuan untuk menangani
lingkungan secara efektif. Penelitian tentang tingkatan belajar memberi indikasi bahwa berbagai faktor perlu dilihat untuk meramalkan tingkat pembelajaran seseorang. Faktor-faktor tersebut mencakup jenis-jenis pembelajaran seperti keterampilan motorik belajar verbal, belajar konsep dan lain-lain, ringkasanya karena tidak adanya keampuan belajar yang, di ukur, maka sekor IQ tidak dapat interprestasikan sebagai pencerminan dari kemampuan blajar. Kenyataan seseorang belajar lebih cepat dari yang lain tidak dapat dijadikan indikasi bahwa orang itu akan berbeda dalam menghadapi suatu tugas. Sekor IQ sangat berhubungan dengan pengukuran dan pembelajaran di sekolah. Tes yang dilakukn oleh Binet masih efektif di dalam menemukan anak yang memiliki kesulitan dalam tingkat pembelajaran tertentu dalam sekolah tradisional. Namun kita harus ingat bahwa kenyataan ini tidak mecerminkan tingkat intelejensi, tapi ini lebih mencerminkan faktor kausal yang menentukan tingkat prestasi belajar. Sehingga ada yang menyatakan bahwa semakin
tinggi prestasi seorang anak di sekolah maka semakin tinggi sekor tes IQuya Semakin tinggi sekor tes IQ seorang anak akan semakin tinggi prestasi belajarnya di sekolah. Sehingga banyak ahli psikologi yang mempertanyakan tentang sekor IQ saja yang dijadikan dasar mlihat intelejensi seseorang.
2. Gaya kognitif (coknitive style)
Bakat dapat dilihat sebagai yang menentukan tingkat penampilan intelektual, sementara gaya kognitif atau (cognitive style) mengacu secara penampilan tersebut atau bagaimana seseorang menyerang dan menentang tugas-tugas intelektual. tersebut. Umpamanya seseorang berbeda di dalam kecenderunganya terhadap suatu moralitas sensori, atau kemampuan belajar dari modalitas sensori tersebut. Seseorang. barangkali belajar lebih baik melalui materi tertulis, sementara yang lain belajar lebih banyak dari proses mendengar terhadap isi materi yang sama. Orang yang lebih lambat dari rata-rata dan yang membuat banyak kesalahan, dari rata-rata dikatagorikan sebagai orang yang reflective, sementara orang yang sekomya di atas rata-rata di dalam kecepatan memberi respon dan dalam jumlah kesalahan diklasifikasikan sebagai orang yang infulsive penelitian dalam hal ini sebagian besar berfokus pada anak-anak sekolah dasar. Pada usia tersebut ditemukan anak anak yang reflective cenderung mendapatkan sekor yang tinggi di dalam intelejensi, sementara anak yang rendah intelejensinya cenderung bersifat infulsive.
3. Strategi belajar sekor
Di dalam strategi belajar perbedaan individu lebih penampilan cenderung bersifat global yang mempengaruhi pembelajaran Hal ini sangat penting dalam menentukan seseorang dalam tugas tertentu dan dalam menentukan strateg yang digunakan dalam melakukan tugas tersebut.
4. Kemampuan memori (memory ability)
Manusia tidak hanya berbeda di dalam hal mendapatkan informasi tetapi dalam hal menyimpan dan mempertahankan informasi tersebut. Beberapa waktu yang lalu banyak ahli yang mengukur
kemampuan memori ini dengan mengkaitkan dengan intelejensi. Salah satu dari penelitian itu adalah oleh sebuah tim yang diketuai oleh Earl hunt. Penelitian mereka, pada dasarnya, kelihatan melihat fungsi memori. Mereka menemukan bahwa kemampuan verbal yang tinge mengisyaratkan keefesienan, short-term memory (memory jangka pendek). Selain itu mereka menemukan bahwa kemampuan -kuantitatif yang tinggi mengisyaratkan tingginya ketahanan seseorang untuk lupa sesuatu gangguan.
Bentuk perbedaan individual dalam jenis belajar antara lain;
a. Tempo Belajar
1) Lambat terhadap diasosiasikan dengan kehati-hatian, tetapi juga kadang-kadang dengan kelambanan.
2) Cepat disebutkan sebagai implusif, bisa disertai dengan kecerobohan atau tingkat pemahaman yang tinggi
b. Belajar mandiri
Macam-macam cara anak belajar mandiri 1) Sepenuhnya bekerja atau berusaha sendiri.
2) Sedikit dibantu orang dewasa pada awal akan belajar.
3) Terus-menerus meminta pertolongan, meskipun tidak langsung menyatakan permintaan dengan lisan.
4) Guru dapat mengelompokkan mereka, baik untuk tugas di sekolah maupun tugas di rumah. Untuk mempelancar tugas guru, diperlukan bantuan dari orang tua.
Sifat suka memperhatikan
Perhatian anak ternyata kapasitasnya berbeda-beda;
1) Mampu memperhatikan sesuatu dalam jangka waktu Panjang 2) Hanya mampu memusatkan perhatian dalam jangka waktu pendek 3) Mudah atau tidak mudah terganggu
4) Tingkat kemampuan memusatkan perhatianya berubah- ubah setiap saat
5) Dalam waktu memperhatikan bermacam-macam kemampuana individual dalam memusatkan perhatian terhadap sesuatu perlu diperhatikan hal-hal beriut;
6) Ada atau tidaknya perhatian
7) Siapa saja yang ada dan siapa yang tidak
8) Siapa yang mudah tertanggu, baik oleh faktor luar maupun dalam
9) Siapa yang lebih memperhatikan soal diluar akademik dan siapa yang lebih memperhatikan soal akademik
10) Siapa saja yang menunjukkan perhatian kepada bidang yang ia minati.
Pengaruh perhatian terhadap kemampuan akademik adalah perhatian yang merupakan faktor penting dalam belajar,mempengaruhi kapasitas perhatian terhadap apa yang sedang berlangsung di dalam kelas, baik oleh guru maupun oleh siswa yang lain. Bagi siswa amat penting artinya, misalnya apakah siswa selalu memperhatikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya dan harus dikerjakan sendiri.Mengetahui bermacam-macam tipe anak dengan perhatian tertentu dapat membantu guru dalam menciptakan kontak antara siswa dengan perintah-perintah yang diberikan oleh guru. Guru dapat mengetahui apakah seorang siswa masih memperhatikan apa yang dikatakanya atau tidak, atau ia terganggu oleh faktor lain. Guru dapat membantu sisa;
1) Mengembangkan perhatian siswa ke arah yang positif
2) Mnyediakan bahan dan metode pelajaran yang cocok dengan tipe perhatian siswa d. Reaksi terhadap situasi baru
Siswa memiliki bermacam-macam reaksi terhadap hal-hal baru Reaksi tersebut dapat berpegaruh terhadap penyesuaian kehadiranya di dalam kelas pada tahun-tahun pertama. Yang perlu
diperhatikan oleh guru berkenaan dengan reaksi siswa terhadap hal-hal baru adalah sebagai berikut;
a. Apakah siswa hanya menerima situasi baru itu dan juga cara belajar baru itu sebagai sebuah tantangan.
b. Apakah siswa itu hanya lamban pada tahap awal saja.
c. Apakah siswa tertentu selalu panik pada setiap intruksi (pelajaran) baru dan situasi baru.
Biasanya guru tertarik pada antusiasme awal dari beberapa orang siswanya dan menganggap semua siswanya bersikap seperti itu. Jika tidak demikian, maka guru itu mengira mereka agak kurang kemampuan intelektualnya, atau bahkan mereka dianggap tidak mampu mengerjakan tugas-tugas baru. Kepekaan terhadap reaksi siswa pada situasi baru mungkin dapat mengubah evaluasi guru terhadap siswa, menolong mencegah kesulitan guru terhadap siswa dan memudahkan belajar.
Memikirkan model belajar-mengajar Intelejensi yang merupakan salah satu faktor yang menandai perbedaan individual amatlah berpengaruh terhadap tingkah laku guru, penentuan metode, dan pengelompokkan siswa dalam belajar.
Beberapa faktor tentang pengaruh intelejensi terhadap variabel-variabel model mengajar,
1) Pengungsian intelektual harus dipertimbangkan berdasarkan konteks kebudayaan dan subkultur di mana fungsi intelektual itu terjadi.
2) Kegagalan dan keberhasilan siswa di sekolah berpengaruh terhadap bagi kehidupan siswa di masa depanya. Karena itu guru harus peka terhadap tingkat kemampuan intelektual yang mereka
perlukan di lingkungan sekolah dan juga untuk kenaikan kelas.
3) Sering terjadi anggapan salah bahwa kegagalan orientasi merupakan kekurangmampuan kapasitas intelektualnya. Stail kognitif merupakan salah satu faktor yang penting bagi interaksi guru-siswa dan juga bagi pemilihan- pemilihan metode. Makin banyak guru tahu tentang stail kognitif, maka
keuntunganya adalah sebagai berikut,
1). Dapat dikembangkan materi khusus dan disusunlah menjadi naskah bahan ajar.
2). Prosedur yang harus ditempuh oleh beberapa tertentu anak.
Perencanaan didasarkan pada stail kognitif ini contoh atau gambaran yang cukup jelas tentang bagaimana perbedaan individu, dengan melalui modifikasi, dapat membuahkan proses belajar mengajar yang efektif.Pada hakikatnya perbedaan individual adalah perbedaan- perbedaan dalam kesiapan belajar. Anak-anak yang masuk sekolah masing-masing memiliki tingkat kecerdasan, perhatian dan pengetahuan yang berbeda dengan kesiapan belajar berbeda-beda.
a). Pendidikan bagi anak terbelakang mental. Marion J.
Ericson mengemukakan bahwa masalah yang dihadapi adalah bagaimana penyelenggaraan pendidikan anak-anak terbelakang mental melalui program pendidikan sekolah umum. Dari hasil penelitian;
1). Anak-anak terbelakang mental dapat dididik bersama anak normal dengan memberikan rencana- rencana khusus dengan tingkat kemampuan dan pola berfikir dan perkembangannya.
2). Anak-anak terbelakang memiliki potensi,social-ekonomi dan personal yang kompeten, yang dapat dilatih dalam batas-batas tertentu.
3). Mereka mampu belajar, tetapi tidak dapat sebanyak dan secepat anak-anak normal.
4). Anak- anak ini dapat mencapai kemandirian dalam bidang ekonomi yang lebih besar dan lebih kompeten.
Penyelenggaraan pendidikan bagi anak terbelakang mental bertujuan merealisasikan sendiri perkembangan perseorang, mengerti hubungan manusiawi sebagai anggota keluarga dan masyarakat, tanggungjawab sosial didaerah, nasional dan bangsa.
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diusulkan tiga jenis program:5 1). Kelas Khusus
2). Pelayanan konsultasi 3). Sekolah biasa secara regular
b). Program pendidikan untuk Anak Berbakat. Virget S. Ward menjelaskan bahwa pendidikan bagi anak-anak yang berbakat perlu perhatian yang seksama. Dia mengajukan argumentasi sebagai berikut:
1) Persepsi demokrasi menghendaki pemberian kesempatan yang luas bagi anak dan pemuda berbakat dengan potensinya yang melebihi anak-anak normal agar dia dapat berkembang lebih baik.
2) Keberhasilan pendidikan bagi-anak dan pemuda yang berbakat memberikan peluang yang lebih besar kepada mereka untuk memberikan dukungan dan sumbangan terhadap masyarakat.
3) Selama ini Sistem pendidikan kita kurang memperhatihkan pendidikan bagi anak-anak berbakat ini ketidak pedulian ini dianggap sebagai suatu kegagalan dalam pendidikan.
Selain itu Virget meyatakan bahwa:
1) Diperlukan program Khusus untuk anak yang berbakat
2) Dibutuhkan teori tentang pengalaman pendidikan, mana praktek pendidikan yang berhasil dan mana praktik pendidikan yang gagal untuk anak-anak berbakat.
c). Program pendidikan bagi anak-anak dari keluarga Miskin. Pada masyarakat yang berkembang umumnya terdapat banyak anak yang hidup dalam keluarga yang berada dalam tingkat bawah kemiskinan secara ekonomis.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk membantu anak-anak yang berasal dari keluarga miskin :
1). Menumbuhkan kesadaran pada orang tuanya agar di usakan supaya anak-anak itu bersekolah maupun oleh pemerintahan.
2). Memberikan bantuan biaya yang khusus disediakan oleh pemerintah sebagai dan akhusus bagi anak-anak miskin.
3). Membudayakan sistem anak asuh, selain bersifat kerelaan dari masyarakat misalnya melalui koperasi atau cara lainnya
. 4). Membebaskan kewajiban membayar sumbangan atau dan dalam membentuk adapun bagi mereka dan mengusahakan intensif yang menarik bagi mereka, misalnya lapangan kerja, melanjutkan sekolah dan sebagainya.
d). Program pendidikan bagi anak-anak di daerah terpencil Kendatipun anak-anak yang berada di daerah terpencil bukan suatu masalah anak pada hakikatnya ingin belajar dan mencapai kemajuan
sebagaimana layaknya semua anak dimana pun dia berada .barangkali di kalangan anak-anak tersebut terdapat yang punya gangguan mental, yang lamban, yang berbakat atau yang cerdas, tetapi mereka sering diabaikan dan tidak diberikan kesempatan belajar untuk mengembangkan kemampuannya secara optimal.
Upaya sistem pembelajaran harus di tempuh dengan prosedur tersendiri yang memungkinkan mereka belajar. Dengan kata lain, mungkin prinsip-prinsip dan penerapan teori belajar tertentu perlu bagi anak-anak tersebut. Secaras spesifik dapat dipikirkan prinsip-prinsip belajar yang lebih serasi dan relevan dengan kebutuhan kondisi, tingkat perkembangan anak-anak tersebut.
Selain itu dapat pula dilakukan dengan usaha lain untuk menghadapai perbedaan tersebut, usaha- usaha untuk mengatasi/menanggapi perbedaan individual di sekolah yakni; Dengan adanya
kenyataan-kenyataan bahwa pada anak-anak sekolah terdapat perbedaan-pebedaan individual yang sangat besar, maka banyak ahli pendidikan yang tidak setuju atas pendidikan yang secara klasikal.
Salah seorang yang tidak menyetujui ialah Montessori, seorang ahl pendidikan Italia. Memang di dalam pelajaran-pelajaran yang diberikan secara klasikal terdapat batas-batas yang jelas. Pelajaran klasikal menyadarkan pada pandangan pada anak-anak memiliki sesuatu yang sama. Dengan demikian pelajaran klasikal ditekankan kepada dasar kualitas umum, dan karenanya kurang memperhatikan perbedaan-perbeaan ciri-ciri psikis yang terdapat pada anak. Montessor berusaha memberikan pendidikan yang bersifat individual kepada anak, guna mengganti pendidikan yang bersifat klasikal itu.Ditinjau dari segi individu yang ada pada anak, usaha Montessori itu memang memiliki kebaikan juga, tetapi ditinjau dari segi lain usaha itu memiliki kelemahan- kelemahan yang besar. Bila rencana Montessori itu dilaksanakan pada seluruh macam sekolah maka biaya pendidikan akan terlalu mahal dan tenaga guru yang dibutuhkan akan menjadi besar jumlahnya. Selain itu pendidikan yang memupuk sikap gotong-royong tidak dapat dikembangkan dengan baik.Usaha lain untuk mengatasi perbedaan individual ialah mengadakan rombongan yang homogen. Usaha ini biasanya dilaksanakan dengan mendasarkan hasil pengetesan. Faedah dari usaha ini masih
merupakan pertanyaan besar bagi para pendidik. Lagi pula rombongan yang benar-benar homogen itu sebenarnya hanya dapat terjadi dalam bayangan saja walaupun itu berusaha membentuk rombongan-rombongan atas dasar kecerdasan, misalnya pada anak-anak yang kita anggap satu golongan itu masih terdapat variasi-variasi kecerdasan yang luas sekali.
Usaha lain untuk menanggapi perbedaan individual ini dalam sekolah adalah adanya pendidikan campuran antara sistem klasikal dan sistem individual. Usaha itu dilakukan oleh Miss Helm Parkhurst dan terkenal dengan rencana Dalton. Kepada anak-anak diberikan pendidikan individual lan di samping itu diberikan vak-vak tertentu yang juga dapat pula mengata pada dianggap perlu diberikan pelajaran secara klasikal Faedah dan rencana Dalton ini problem yang berhubungan dengan soal tidak naik kelas, sebab rencana Dalton tidak mengenai tidak naik kelas, Anak-anak diberi kesempatan menyelesaikan pelajaran- pelajaranya sesuai dengan kemampuanya masing-masing, kelemahan dari sistem Dalton adalah pekerjaan guru pada umumnya sangat berat. Usaha-usaha lain lagi adalah adanya sistem kredit rencana pelajaran yang sangat luas, Dalam sistem ini sekolah menentukan banyaknya kredit untuk tingkatan-tingkatan tertentu dan waktu untuk mencapai jumlah kredit itu tergantung kepada pelajar yang bersangkutan.
Misalnya untuk mencapai ijazah B.A. yang ditentukan 120 kredit. Mungkin bagi mahasiswa yang cerdas, dapat menyelesaikan 120 kredit itu dalam tempo 3 tahun sedangkan bagi mereka yang kurang cerdas membutuhkan waktu 5 tahun. Selain itu di samping mata pelajaran wajib yang harus diikuti dipelajari sebagai mata pelajaran keahlianya, diberi pula kesempatan yang seluas-luanya untuk mengikuti pelajaran lain yang mereka kehendaki Dengan cara demikian itu, bakat dan minat
belajar diharapkan dapat berkembang sebaik-baiknya.Usaha-usaha yang terbaik diantara usaha tersebut di atas, tidak dapat ditentukan secara pasti. Hal ini tergantung pada tujuan pendidikan. Bila pendidikan itu bukan mengembangkan intelektualisme, maka usaha mengadakan rombogan yang homogen didasarkan atas dasar kecerdasan adalah usaha yang terbaik. Bila pendidikan hanya bertujuan untuk mengembangkan sifat-sifat individu dan hanya untuk kepentingan individu itu sendiri, tanpa melihat kepentingan masyarakat, maka sistem Montessori kiranya merupakan sistem yang paling baik untuk dilaksanakan.
Tindakan dalam Menghadapi Perbedaan Individual Pekembangan kajian tentang perbedaan individu telah banyak dikaitkan dengan perkembangan statistik dan teknologi komputer yang mampu menangani data dalam jumlah besar Penggunaan metode ini memang sudah banyak mendapatkan kritik karena perbedaan yang dilihat lebih cenderung bersifat kepribadian yang tidak cukup dijadikan dasar untuk melihat perbedaan individu. Jika ranah yang diteliti adalah kemampuan belajar, tes yang dianalisis merupakan pengukuran penampilan di dalam tugas dan paradigma yang berbeda. Begitu sebuah sekor dasar diperoleh suatu teknik statistik yang dikenal dengan nama analisis faktor dari sekor tes asli dapat digunakan untuk menjeneralisasikan karakter tertentu yng dikerjakan komputer.
B.Dari metode yang digunakan tersebut kelihatan ahli psikologi tertarik mendiskusikan perbedaan karakter individual rang dimulai dari pengukuran atau tes metal. Diharapkan tes ini akan konsisten dan reliabel, mengukur suatu trait, dan valid dalam arti mendekati indikator kehidupan yang sebenarnya. Validasi ini dapat dilihat dengan melakukan pengukuran dua kali atau melakukan tes yang sedikit berbeda dengan interfal yang pendek antara yang pertama dan yang kedua. Jika sekor dari tes pertama sama dengan sekor pada tes kedua, maka tes tersebut dapat dikatakan terpercaya (Reliable). Jika tidak ada korelasi antara tes pertama dan kedua, berarti ada sesuatu yang tidak beres, dan tes tersebut tidak reliable.
Perbedaan individual yang terjadi dalam belajar di sekolah meskipun merupakan suatu hal yang wajar sebagai dampak kondisi individu siswa yang berbeda-beda, namun demikian ngan dibiarkan oleh guru. Guru harus berupaya untuk mengatasi tersebut, sebab jika dibiarkan sudah pasti akan terjadi rbedaan hasil belajar antara siswa secara mencolok yang batnya guru juga dinilai tidak berhasil dalam mengajar, karena a-rata pencapaian hasil belajar siswanya rendah.
Untuk mengatasi perbedaan dalam belajar di sekolah dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan menyelenggarakan sistem pengajaran individual dan melaksanakan sistem belajar tuntas sebagaimana yang sudah di tetapkan oleh kurikulum sekolah.dengan Oleh karena itu untuk mengatasi perbedaan individual dalam belajar di sekolah yang berdasarkan sistem pengajaran Klasikal tersebut pertama kali harus diatasi menyelenggarakan sistem pengajaran individual yaitu cara melaksanakan pengajaran yang berupaya memperhatikan setiap individu siswa sesuai dengan tingkat kemampuannya, hal itu dilakukan guru dengan cara:
a. Guru memberikan tugas dan bimbingan serta bantuan kepada setiap siswa sesuai dengan tingkat kemampuannya.
b. Guru dalam mengajar jangan menggunakan ukuran kriteria rata-rata kelas sebagai ukuran keberhasilan, tetapi gunakanlah kriteria tuntas untuk semua siswa, karena itu yang harus dijadikan skala prioritas dalam mengajar adalah siswa yang kurang mampu, sebab siswa yang pandai tidak diberi perhatianpun oleh guru akan tetap mampu menguasai pelajaran.
c. Membentuk dan memasukan siswa-siswa yang kurang mampu dalam kelompok-kelompok belajar yang di dalamnya terdapat siswa-siswa yang pandai agar dapat belajar bersama dalam menguasai pelajaran yang harus di pelajari.
Upaya untuk mengatasi perbedaan individual dalam belajar ialah dengan melaksanakan sistem belajar tuntas yaitu upaya guru untuk mengajarkan siswa sampai memperoleh hasail belajar yang tuntas (memperoleh penguasaan penuh).
Sistem belajar tuntas (Mastery learning) dilaksanakn berdasarkan anggapan bahwa setiap siswa yang mempunyai IQ yang normal akan mampu menguasai semua bahan pelajaran yang dipelajari apabila diberikan kesempatan waktu belajar yang cukup bagi dirinya. oleh karena waktu belajar di sekolah terbatas hanya selama jam pelajaran yang sudah ditentukan maka kemungkinan siswa yang kurang pandai tidak akan mampu menguasai semua bahan yang dipelajari, mereka memerlukan tambahan besar waktu belajar yang cukup agar dapat menguasai secara tuntas. Tambahan waktu bimbingan untuk belajar dalam sistim belajar tuntas tersebut akan dilaksanakan melalui program pengajaran remedial program ini dilaksanakan dengan memberikan tambahan waktu bimbingan belajar dikantor sekolah pada waktu istirahat atau dilaksakan di luar sekolah atau dirumah setelah pulang sekolah.
bimbingan belajarnya dapat dilakukan oleh guru sendiri atau dengan meminta bantuan teman sebanyanya yang pandai sebagai tutor sebaya untuk membimbing temanya sampai dapat menguasai bahan pelajaran secara tuntas seperti yang dapat dicapai oleh teman-temanya.
C. Rangkuman
Jenis-jenis perbedaan individual dalam belajar antara lain: Intelegensi, Gaya kognitif, Strategi belajar, dan Kemampuan memori.Sedang tindakan dalam menghadapi perbedaan individual dalam belajar yaitu: Guru memberikan tugas dan bimbingan serta bantuan kepada setiap siswa sesuai dengan tingkat kemampuannya.
Guru dalam mengajar jangan menggunakan ukuran kriteria rata-rata kelas sebagai ukuran
keberhasilan, tetapi gunakanlah kriteria tuntas untuk semua siswa, karena itu yang harus dijadikan skala prioritas dalam mengajar Membentuk dan memasukan siswa-siswa yang kurang mampu.
dalam kelompok-kelompok belajar yang di dalamnya terdapat siswa-siswa yang pandai agar dapat belajar bersama dalam menguasai pelajaran yang harus di pelajari.