1
PERKEMBANGAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA (SATPOL PP) di TUAPEJAT KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI TAHUN 2009-2016
Rias Jayanti, Anatona , Refni Yulia
Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]
ABSTRACT
This study examines the development of Satpol PP in Tuapejat Mentawai Islands District Year 2009-2016. Objectives and Benefits This research is (1) Describes the background of the formation of Satpol PP in Tuapejat Kabupaten Kepulauan Mentawai; (2) Describe the Development of Satpil PP in Tuapejat Kabupaten Kepulauan Mentawai in 2009-2016. This study uses historical methods, namely: (1) Heuristics, (2) Source Criticism, (3) Interpretation, (4) Historiography.
The sources used are primary and secondary sources. Based on the results of data analysis, it can be known, Satpol PP in Tuapejat began to form in 2008 after the issuance of Regional Regulation (Perda) No. 14 of 2008 which regulates the Civil Service Police Unit and Administration and Organization. In carrying out the work and perform the duties Satpol PP there is also a Work Program that is made for more directed Tasks and Work Objectives Satpol PP. Subsequently in 2009 after the issuance of Perda on Satpol PP in the same year also Satpol PP just started operating in Tuapejat. In 2016 this is the most widely received members Satpol PP to reach 103 personnel. The performance of Satpol PP in Tuapejat is to maintain the security and order in the community of Tuapejat. The trick is to conduct Raids and Operations are done regularly. Raids carried out in the form of eradicating public diseases that always exist in every area including those in Tuapejat. The development of Satpol PP in Tuapejat including fast when seen from the number of personnel and Raids and Operations conducted every year is always increasing. For example, if in the year 2009 there are only 3 members Satpol PP then different in 2016 there are 134 members either the civil servants (Civil Servants) or Honorer.
Keywords: Development, Civil Service Police Unit (Satpol PP), Mentawai
PENDAHULUAN
Kepulauan mentawai mulai berkembang di awal tahun 2000-an selama masa berkembangnya kabupaten kepulauan Mentawai sistem
keamanan yang ada di Mentawai di bantu dengan adanya Polisi atau Polres yang ada disana. Tetapi polisi tidak setiap saat mengawasi ataupun selalu
2 terjun ke lapangan untuk melihat setiap kejadian ataupun masalah- masalah yang ada di masyarakat. Oleh karena itu baik pemerintah maupun bidang keamanan disana memerlukan tambahan bantuan dalam segi kemanan.Oleh sebab itu peran Satuan Polisi Pamong Praja disini sangat diperlukan.
Menurut Peraturan Daerah No.
14 tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan tata kerja Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Kepulauan Mentawai. Satuan Polisi Pamong Praja di Mentawai resmi terbentuk pada tahun 2008, dimana pada tahun 2008 Perda (Peraturan Daerah) baru resmi keluar dan mendapatkan izin.Lebih tepatnya tercantum dalam peraturan Daerah Nomor 14 tahun 2008 Tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Menurut Rekap tahunan Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Kepulauan Mentawai tahun 2009.
Pada awal terbentuknya Satpol PP Mentawai di tahun 2009 jumlah personil yang ada belum banyak
bahkan sangat tidak memadai. Tahun 2009 untuk pertama kalinya kantor Satpol PP berdiri baru mempunyai 3 anggota saja. Jika dibandingkan dengan awal berdirinya Satpol PP Mentawai dengan sekarang Satpol PP Mentawai sangat mengalami peningkatan karena pada tahun 2016 ini satpol pp Mentawai sudah memiliki anggota sebanyak 134 anggota termasuk PNS dan Non PNS.
Tujuan penelitian ini adalah : a) mendeskripsikan latar belakang munculnya Satpol PP di Tuapejat Kabupaten Kepulauan Mentawai.. b) mendeskripsikan perkembangan Satpol PP di Kabupaten Kepulauan Mentawai tahun 2009-2016.
Untuk mengoptimalkan kinerja Satuan Polisi Pamong Praja, diadakan Pendidikan Dasar Polisi Pamong Praja, Latihan Keterampilan dan Satgas Bencana dan Kesamaptaan, Pembinaan dan Pembekalan Petugas Keamanan Dalam (PKD) dan Latihan Beladiri Satuan Polisi Pamong Praja.
Menurut Tim Prima Pena ( Kamus Besar Bahasa Indonesia ). Keamanan seperti yang kita ketahui adalah rasa
3 nyaman yang di rasakan setiap masyarakat atau individu dari ancaman-ancaman yang mengganggu.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia keamanan adalah ketentraman dan kondisi aman yang dapat di rasakan masyarakat atau kelompok.
Menurut Heru Susetyo (2008).
Menuju Paradigma Keamanan Komprehensif Bersperspektif Keamanan Manusia Dalam Kebijakan Keamanan Indonesia. Lex Jurnalica.
Hal 2. Keamanan (security) adalah bentuk khusus dari politik.Semua masalah keamanan adalah masalah politik.Namun tidak semua konflik politik adalah masalah keamanan.
Keamanan menjadi isu utama sengketa politik ketika aktor politik tertentu mengancam atau menggunakan kekuatan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari pihak lain.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah.Metode sejarah disebut juga dengan metode kritik sumber atau
metode penelitian
kontemporer.Heuristik merupakan tahap pertama yang dilakukan oleh seorang peneliti.Pada tahap ini yang dilakukan adalah pengumpulan bahan dan sumber, baik berupa sumber
primer maupun sumber
sekunder.Tahap pengumpulan bahan dan sumber dilakukan melalui studi kepustakaan, studi kearsipan dan studi lapangan.
Tahap kedua yakni kritik sumber adalah melakukan kritik dan analisa terhadap sumber-sumber yang telah dikumpulkan.Kritik tersebut merupakan kritik ekstern dan intern.Kritik intern dilakukan untuk mendapatkan otentitas.Pada tahap ini penulis memisahkan sumber-sumber yang didapatkan antara sumber primer dan sumber sekunder.
Menurut Louis Gottschalk (1985:43). Tahap ketiga adalah Interpretasi, yaitu data-data yang telah diolah dan dikritisi dan ditafsirkan berdasarkan pemahaman peneliti terhadap sumber.Tahap terakhir adalah penulisan sejarah yang dikenal dengan Historiografi.
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Satpol Pp Di Tuapejat
1. Perjalanan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dari masa ke masa
Satuan Polisi pamong Praja (Satpol PP) adalah bagian dari struktur pengendalian kota atau daerah yang saling terkait dan terkadang bertumpang tindih dengan institusi- institusi pengendalian yang lain.
1. Era Hindia Belanda
Keberadaan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang bermoto Prajawibawa dimulai sejak zaman VOC yang pada saat itu sedang menduduki kota Batavia (Jakarta saat ini ) sering mendapat gangguan dan serangan sporadis dari pasukan lokal, dan juga tentara Inggris sehingga memunculkan kebutuhan untuk memelihara ketertiban dan ketentraman penduduknya.
2. Era Pendudukan Jepang
Setelah berakhirnya kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda yang dilanjutkan dengan pendudukan Jepang organisasi kepolisian mengalami perubahan besar bahkan
dalam prakteknya menjadi tidak jelas.Pada saat itu tidak ada lagi jenjang struktural dalam kepolisian, apalagi Satuan Polisi Pamong Praja karena pada saat itu terjadi percampuran fungsi kepolisian dan kemiliteran.Sekitar tahun 1943, Jepang yang terdesak oleh kepentingan memobilisasi angkatan perang untuk menghadapi kekuatan sekutu membentuk organisasi pemuda bersifat militer dan semi militer.Di antaranya Djawa Seinendan, Keibodan, Heiho dan Peta atau Gyugun di Sumatera.Semua organisasi ini berada di bawah kendali langsung pucuk pimpinan tentara pendudukan Jepang di Pulau Jawa.
3. Era Kemerdekaan RI
Setelah berakhirnya pendudukan Jepang, dimulailah babakan baru dalam menata sistem pemerintahan Republik Indonesia yang ditandai dengan Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945.Untuk menjaga ketentraman, ketertiban, dan keamanan masyarakat kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 dibentuklah Badan
5 Kepolisian Negara, sementara itu keberadaan Polisi Pamong Praja masih tetap di pertahankan dan menjadi bagian dari organisasi kepolisian.
Polisi Pamong Praja (Bestuurpolitie) hadir untuk mendukung fungsi-fungsi pemerintahan pribumi yang dijalankan kepala desa dan membantu pejabat- pejabat poamongpraja.Ia melekat pada fungsi pamong yang menekankan pada kemampuan memimpin warga, bukan untuk mengawasi warga sebagaimana layaknya fungsi polisi modern.
B.Lokasi Ruang Lingkup Kerja Satpol PP Di Tuapejat
Tuapejat merupakan daerah yang masih berbenah diri baik dalam insfrastruktur maupun dalam sektor keamanan.Mengenai lokasi kerja Satpol PP di Tuapejat beragam dan bahkan banyak yang menjadi perhatian Satpol PP disana.Contohnya saja yang paling menjadi perhatian atau fokus utama incaran razia adalah Penginapan-penginapan, kos-kosan serta adanya oknum masyarakat yang rumah nya dijadikan tempat hiburan sehingga mengarah perbuatan yang
melanggar hukum. Satpol PP disana juga fokus melakukan razia di tepian- tepian pantai Tuapejat karena masih banyaknya pengambilan atau penggalian pasir secara liar dan tanpa izin dari pemerintah.
SATPOL PP DI TUAPEJAT TAHUN 2009-2016
A. Perkembangan Satpol PP Tahun 2009-2016 di Tuapejat
Menurut Dokumen Satpol PP Tuapejat (Gambaran Umum satpol PP Tuapejat Tahun 2016). Pada tanggal 20 Oktober 2008 kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Kepulauan Mentawai dibentuk melalui Peraturan Daerah No. 14 tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Kepulauan Mentawai dan melaksanakan fungsi sebagai salah satu perangkat daerah yang berfungsi untuk mewujudkan masyarakat madani. Selanjutnya tanggal 23 Desember 2016 melalui Pasal 31 Peraturan Bupati No. 47 Tahun 2016 tentang susunan organisasi dan tata kerja perangkat daerah bahwa Satuan
6 Polisi Pamong Praja mempunyai tugas membantu bupati di bidang ketentraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat dan tugas pembantuan yang diberikan kepada daerah. Awalnya Satpol PP masih berbentuk kantor kini telah ditingkatkan menjadi dinas dengan tipe B (eselon II B).
Pada Tahun 2011 sampai 2012 berjumlah 17 orang, 2013 berjumlah 25 orang, 2014 berjumlah 28 orang, 2015 berjumlah 65 orang dan di tahun 2016 mencapai peningkatan jumlah anggota sebanyak 103 orang.Dapat dilihat juga pada tahun 2016 Satpol PP Tuapejat memiliki personil terbanyak dibandingkan tahun-tahun sebelumya.Kenapa demikian karena pada tahun 2016 merupakan tahun terbanyak pengangkatan atau rekrut anggota di Satpol PP Tuapejat.Seiring berjalannya waktu serta pertumbuhan pemerintahan di Tuapejat maka rekrut anggota semakin meningkat.Karena kebutuhan keamanan yang diperlukan juga semakin banyak.
B. Aktivitas Satpol PP Tahun 2009- 2016 di Tuapejat
Aktivitas ataupun kinerja Satpol PP pada tahun 2009-2016 sangat beragam, seperti yang diketahui bahwa tugas utama Satpol PP adalah menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat. Pada tahun 2009 adalah awal kiprah Satpol PP yang ada di Tuapejat diamna anggota dari Satpol PP itu sendiri hanya berjumlah 3 orang maka kinerja Satpol PP masih dibantu oleh Polres serta TNI yang ada di Tuapejat. Kegiatan yang dilakukan adalah melakusanakan operasi serta razia penyakit masyarakat yang ada di lingkunga Tuapejat dan sekitarnya.
Salah satu jenis kegiatan yang dilakukan oleh Satpol PP di Tuapejat adalah merazia para penambang pasir liar yang ada di pinggiran pantai sekkitar Tuapejat.
KESIMPULAN
Satuan Polisi Pamong Praja di Tuapejat mulai berdiri Pada tanggal 20 Oktober 2009 menindak lanjuti Peraturan Daerah No. 14 tahun 2008 tentang pembentukan organisasi dan tata kerja Satuan Polisi Pamong Praja
7 Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Perkembangan Satpol PP di Tuapejat jika dilihat dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup pesat.Jika dilihat dari segi razia serta penambahan anggota Satpol PP dari tahun mengalami peningkatan. Jika pada tahun 2009 jumlah anggota Satpol PP hanya berjumlah 9 orang, berbeda dengan tahun 2016 yang jumlah anggota mencapai 103 anggota.
Jumlah ini masih dari anggota yang non PNS.
Perkembangan Satpol PP di Tuapejat dari tahun 2009 sampai 2010 berjumlah 3 Orang. Pada tahun 2009 karena memang baru saja dijalankan Perda Tentang Satpol PP maka rekrut anggota belum terlalu banyak, oleh sebab itu pada tahun 2009 hanya mampu merekrut anggota sebanyak 3 orang saja. 2011 sampai 2012 berjumlah 17 orang, 2013 berjumlah 25 orang, 2014 berjumlah 28 orang, 2015 berjumlah 65 orang dan di tahun
2016 mencapai peningkatan jumlah anggota sebanyak 103 orang. Jenis operasi yang dulakukan Satuan Polisi Pamong Praja adalah Warung dan Mini Market, Kos-kosan dan Peginapan, Pengambilan Pasir Ilegal, Pelajar yang berkeliaran di jam Pelajaran serta Tempat Karaoke.
DAFTAR PUSTAKA
Heru Susetyo. 2008. Menuju Paradigma Keamanan Komprehensif Berperspektif Keamanan Manusia Dalam Kebijakan Keamanan Nasional Indonesia, Lex Jurnalica, Vol.6 No.1
Louise Gottschalk. 1985. Mengerti Sejarah ,Jakarta: Universitas Indonesia
Peraturan Daerah No.14 tahun 2008, tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Rekap Tahunan Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kabupatenn Kepulauan mentawai, tahun 2009