• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pergeseran Orientasi Seniman Jaranan

N/A
N/A
Kinanti Masida

Academic year: 2024

Membagikan "Pergeseran Orientasi Seniman Jaranan"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MAKALAH SOSIO ANTROPOLOGI SENI

Oleh :

Nama : Kinanti Masida Hudayani NIM : 23021640030

PASCASARJANA JURUSAN PENDIDIKAN SENI TARI FAKULTAS BAHASA, SENI, DAN BUDAYA

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2024

(2)

PERGESERAN ORIENTASI SENIMAN JARANAN

A. PENDAHULUAN

Kesenian Jaranan di Kota Kediri, Jawa Timur memiliki akar yang dalam dalam tradisi dan budaya Jawa. Meskipun tidak ada catatan tertulis atau buku yang membahas sejarah kesenian jaranan secara pasti mengenai asal-usulnya, jaranan diyakini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa Timur selama berabad-abad. Namun, satu hal yang penting adalah bahwa semua pelaku seni jaranan mengetahui bahwa sejarah jaranan tertua di Kota Kediri dapat ditemukan di desa Pakelan Trunojoyo, yang sekarang dikenal dengan nama Putrasurya. Tidak hanya di Kediri, jaranan juga dapat ditemukan di beberapa daerah lain di Jawa Timur seperti Ponorogo, Tulungagung, Nganjuk, dan Banyuwangi. Meskipun demikian, setiap daerah memiliki perbedaan rasa dan ciri khasnya masing-masing. Pertunjukan jaranan di Kota Kediri juga memiliki variasi dan ciri khasnya sendiri, baik dalam gaya tarian, kostum, maupun musik pengiringnya. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan sosial, adat istiadat lokal, serta pengaruh dari pertunjukan jaranan di wilayah sekitar.

Terdapat banyak versi cerita mengenai sejarah kesenian jaranan. Salah satunya adalah cerita yang berkembang di masyarakat tentang pernikahan Dewi Sanggalangit dengan Klana Sewandana. Dewi Sanggalangit adalah putri Kerajaan Panjalu yang memiliki wajah rupawan serta sifat yang lembut. Dengan kecantikan wajah dan kelembutan hatinya, banyak pria yang bermaksud meminangnya menjadi istri. Oleh karena itu, sang dewi mengadakan sayembara, yaitu siapa yang bisa membawakan tontonan yang belum pernah ada, dengan 1000 kuda kembar serta hewan berkepala dua. Raja Klana Sewandana akhirnya terpilih sebagai suami Dewi Sanggalangit. Pada saat arak-arakan pengantin dari Kerajaan Panjalu menuju Wengker, keduanya diarak oleh prajurit kerajaan yang menunggang kuda serta pemusik yang memainkan alat musik dari besi dan bambu.

(3)

Jaran buatan atau kuda tiruan melambangkan para prajurit Kerajaan Jenggala yang menaiki kuda ketika iring-iringan pengantin, sedangkan mereka yang memainkan gamelan melambangkan para pemusik yang memainkan alat musik dari besi. Jaranan melibatkan tarian yang dilakukan oleh sekelompok penari pria yang mengenakan kostum kuda dari anyaman bambu dan kain berwarna-warni. Pertunjukan jaranan sering kali diiringi oleh musik gamelan atau musik tradisional Jawa lainnya.

Pertunjukan jaranan sering kali terkait dengan ritual keagamaan, upacara adat, atau acara perayaan lainnya. Saat ini, pertunjukan jaranan telah menjadi bagian dari festival budaya dan acara kesenian di Kota Kediri, yang membantu melestarikan dan menghidupkan kembali warisan budaya yang berharga ini bagi masyarakat setempat serta generasi mendatang. Selain kaya akan nilai seni dan budaya, tarian ini juga sangat kental dengan kesan magis dan nilai spiritual.

Kota Kediri, sebagai kota yang memiliki sejarah panjang, sebenarnya memiliki cukup banyak seni pertunjukan yang hingga saat ini masih beroperasi dan terdaftar di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga. Beberapa seni pertunjukan yang ada di Kota Kediri adalah jaranan, sanggar tari, wayang kulit, campursari, reog, dan ketoprak. Kesenian jaranan saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kota Kediri. Hal ini terbukti dari tahun ke tahun jumlah kelompok jaranan semakin bertambah banyak. Selain itu, keberadaan jaranan juga menarik minat masyarakat untuk ikut serta dalam kelompok jaranan hingga menjadi penari jaranan.

Berdasarkan data beberapa kesenian tersebut, kesenian jaranan merupakan seni pertunjukan yang paling banyak di Kota Kediri, dengan jumlah sebanyak 113 grup yang sudah memiliki nomor induk. Kesenian jaranan menjadi seni pertunjukan paling populer di Kota Kediri. Setiap sanggar memiliki ciri khas dan pakem tersendiri dalam penampilannya.

Adapun berikut ini mengenai struktur pertunjukan, pola lantai, iringan musik, dan properti penari sebagai berikut:

(4)

a. Struktur Pertunjukan : Doa / Suguh, Bukak Kalangan, Tari Jaranan 6, Tari Jaranan 4, Tari Jaranan 2 / Senggel, Tari Ganongan dan Kucingan, Tari Jaranan Perang dengan Barongan.

b. Pola Lantai : Panjer Papat, Prapatan, Puteran, Lanjaran

c. Iringan Musik : Kendang, Suwukan, Kecer, Kenong, Kempul, Gong

d. Properti Penari : Kuda Lumping, Pecut, Sampur, Gongseng/Gelang Kaki, Gelang Tangan, Tutup Kepala

B. ISI

Kuda Kepang Ganongan

Kucingan / Kewan Alas Kostum Celeng

(5)

Caplokan / Barongan Celeng

Seiring dengan perkembangan zaman, kesenian jaranan mengalami sedikit pergeseran. Beberapa hal mengalami perubahan secara bertahap. Perubahan tersebut meliputi beberapa hal sebagai berikut:

1. Pergeseran Kesenian Jaranan Menuju Budaya Modernisasi

Kesenian jaranan di Kota Kediri, dan umumnya di Jawa Timur, telah mengalami pergeseran signifikan seiring perkembangan zaman. Pergeseran ini terjadi karena pengaruh budaya modernisasi yang masuk ke dalam masyarakat, yang membawa perubahan pada cara pandang terhadap seni tradisional. Modernisasi mengutamakan pemikiran yang lebih realistis, yang berfokus pada nilai jual dan pelestarian kesenian dalam konteks yang lebih kontemporer. Akibatnya, kesenian jaranan yang dulunya sarat dengan nilai-nilai religius, sakral, dan magis kini lebih diarahkan pada hiburan dan atraksi seni yang bisa menarik perhatian masyarakat modern, baik untuk konsumsi lokal maupun wisatawan.

Namun, perubahan ini juga membawa dampak negatif, yaitu hilangnya ritual-ritual tradisional yang dulunya merupakan bagian penting dalam pertunjukan jaranan. Ritual yang mengandung unsur magis, seperti prosesi kesurupan (ndandi), makan kembang, atau berbagai atraksi magis lainnya, kini mulai ditinggalkan. Dengan adanya perubahan tersebut, ada kecenderungan untuk menjadikan jaranan lebih sebagai hiburan yang

(6)

hanya mengutamakan kesenangan dan daya tarik visual, bukan lagi sebagai media untuk menyampaikan makna spiritual atau religius yang terkandung dalam kesenian tersebut.

2. Perbedaan Penyebutan "Jaranan Jowo" dan "Jaranan Pegon"

Terdapat perbedaan penyebutan antara "Jaranan Jowo" dan "Jaranan Pegon," yang menjadi salah satu faktor pemicu terpecahnya nilai-nilai kesenian jaranan. "Jaranan Jowo" merujuk pada bentuk kesenian jaranan yang masih mempertahankan struktur dan tradisi asli, yang mengutamakan kelengkapan ritual dan unsur magisnya, seperti yang telah dijelaskan pada poin pertama. Sementara itu, "Jaranan Pegon" merujuk pada bentuk jaranan yang telah mengalami perubahan, di mana beberapa elemen ritual dan magisnya telah dihilangkan atau dikurangi. Sebagai gantinya, jaranan Pegon lebih mengutamakan aspek hiburan tari dan atraksi yang lebih bersifat modern dan komersial.

Perbedaan penyebutan ini sering kali menyebabkan perbedaan pendapat antara kelompok-kelompok atau paguyuban yang terlibat dalam kesenian jaranan. Setiap komunitas cenderung ingin menunjukkan ciri khasnya masing-masing, baik dalam hal penyebutan maupun dalam pelaksanaan pertunjukannya. Keinginan untuk mempertahankan tradisi asli atau mengadopsi elemen-elemen baru sesuai dengan selera pasar atau perkembangan zaman membuat nilai kesenian jaranan semakin terpecah, yang bisa berisiko mengaburkan identitas dan makna sesungguhnya dari seni tersebut.

3. Kegiatan Meminum Alkohol Sebelum Pertunjukan

Salah satu fenomena yang juga muncul dalam kesenian jaranan adalah adanya kebiasaan penari untuk meminum alkohol sebelum acara dimulai. Kebiasaan ini dilakukan dengan tujuan untuk membantu penari merasa lebih rileks dan lebih lepas dalam menampilkan pertunjukan. Penari jaranan menganggap bahwa konsumsi alkohol

(7)

dapat meningkatkan rasa percaya diri dan mengurangi rasa cemas atau ketegangan sebelum tampil di hadapan penonton.

Namun, kebiasaan ini mengandung risiko yang cukup besar, baik dari sisi kesehatan maupun dari sisi pelestarian nilai-nilai budaya. Penggunaan alkohol sebelum pertunjukan bisa mempengaruhi kualitas pertunjukan, mengingat alkohol dapat mempengaruhi koordinasi motorik dan konsentrasi penari. Selain itu, kebiasaan ini juga bisa merusak citra kesenian jaranan sebagai seni budaya yang seharusnya menjaga nilai-nilai luhur dan kesakralannya. Praktik ini berpotensi merusak esensi spiritual dari pertunjukan jaranan, yang seharusnya lebih mengedepankan nilai-nilai kesenian yang murni dan bebas dari pengaruh negatif seperti penyalahgunaan alkohol.

Teori yang digunakan dalam kajian ini mencakup teori J. Maquet dalam Soedarsono (2003), yang mengatakan bahwa seni yang telah menghilangkan nilai-nilai religius, sakral, dan magisnya disebut sebagai art by metamorphosis (seni yang telah mengalami perubahan bentuk), art of acculturation (seni akulturasi), atau pseudo- traditional art (seni pseudo-tradisional), atau yang lebih dikenal dengan istilah tourist art (seni wisata). Seni yang asli, yang belum dikemas, disebutnya sebagai art by destination (seni yang ditujukan bagi masyarakat). Ini berarti bahwa dengan hadirnya wisatawan mancanegara ke sebuah negara, seni wisata khusus disajikan bagi para wisatawan. Hal ini sesuai dengan konsep Adolph S. Thomars dalam tulisannya yang berjudul "Class Systems and the Arts". Meminjam konsep Thomars, bahwa dengan hadirnya masyarakat wisata, akan lahir pula seni wisata.

Banyak tantangan yang dihadapi oleh seni jaranan selama kelangsungan hidupnya.

Tantangan atau ancaman tersebut bisa berasal dari luar maupun dari dalam seni jaranan itu sendiri. Berbagai tantangan dan ancaman ini tidak hanya menyerang kelangsungan hidup seni pertunjukan tradisional, khususnya kesenian jaranan, tetapi juga menyerang identitas seni jaranan Kediri. Oleh karena itu, solusi berdasarkan teori seni fungsional untuk masalah yang terjadi adalah dengan bekerja sama antara pihak kebudayaan serta

(8)

pemerintah kota dan kabupaten Kediri untuk lebih memperhatikan kemurnian atau keautentikan dari kesenian jaranan itu sendiri. Sehingga, keaslian pertunjukan jaranan akan tetap terjaga.

C. KESIMPULAN

Dari transformasi yang terjadi pada kesenian jaranan yang sudah disebutkan di atas, maka ada beberapa kesimpulan yang dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Perspektif Sosiologi

1. Pergeseran Kesenian Jaranan Menuju Budaya Modernisasi

Dari perspektif sosiologi, pergeseran kesenian jaranan yang mengarah pada budaya modernisasi dapat dilihat melalui konsep perubahan sosial. Perubahan sosial adalah transformasi yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat, yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Dalam konteks ini, kesenian jaranan yang awalnya sarat dengan ritual dan makna religius kini lebih mengarah pada hiburan dan komersialisasi yang disesuaikan dengan selera masyarakat modern.

Proses modernisasi di dalam masyarakat Jawa, yang membawa pengaruh besar terhadap kesenian tradisional, menggambarkan bagaimana nilai-nilai tradisional dipengaruhi oleh budaya global dan arus kapitalisme. Budaya modern yang lebih materialistik dan mengutamakan pragmatisme, seperti pencarian keuntungan ekonomi melalui kesenian, menggeser esensi budaya asli. Dalam hal ini, jaranan yang dulunya memiliki dimensi magis, sakral, dan religius kini berubah menjadi sebuah atraksi hiburan yang lebih bersifat sekuler dan pasar-oriented.

Perubahan ini mengarah pada erosi nilai-nilai lama yang berhubungan dengan spiritualitas dan makna mendalam dalam pertunjukan jaranan. Fenomena ini juga dapat dilihat sebagai bentuk akulturasi, di mana unsur-unsur kebudayaan baru bercampur dengan kebudayaan tradisional. Menurut teori perubahan sosial,

(9)

akulturasi ini sering kali menghasilkan pergeseran dalam pola hidup masyarakat, dengan unsur budaya lama yang terkadang kehilangan fungsinya dalam konteks kehidupan yang lebih modern.

2. Perbedaan Penyebutan "Jaranan Jowo" dan "Jaranan Pegon"

Perbedaan penyebutan antara "Jaranan Jowo" dan "Jaranan Pegon" dapat dianalisis melalui teori identitas sosial dalam sosiologi. Identitas sosial merujuk pada cara individu atau kelompok memandang dirinya sendiri dan bagaimana mereka membedakan dirinya dari kelompok lain, berdasarkan karakteristik tertentu seperti etnisitas, budaya, atau ideologi. Dalam hal ini, perbedaan antara "Jaranan Jowo" dan "Jaranan Pegon" menunjukkan upaya kelompok-kelompok dalam masyarakat untuk membentuk identitas budaya yang berbeda sesuai dengan preferensi dan nilai yang mereka anut.

Adanya perbedaan penyebutan ini mencerminkan proses identifikasi dan diferensiasi dalam kelompok sosial. Setiap paguyuban atau kelompok seni jaranan cenderung ingin mempertahankan ciri khas mereka, baik dalam hal penyebutan, struktur pertunjukan, atau elemen-elemen lainnya. Ini bisa dilihat sebagai manifestasi dari teori "identitas kolektif," di mana kelompok-kelompok tersebut berusaha menunjukkan eksistensi mereka dalam kerangka yang lebih luas dari komunitas atau budaya lokal.

Namun, perbedaan ini juga dapat menciptakan fragmentasi dalam masyarakat, karena setiap kelompok merasa lebih unggul atau lebih "otentik" dalam mempresentasikan kesenian jaranan. Fragmentasi ini dapat menyebabkan polarisasi, di mana masing-masing kelompok lebih fokus pada pembentukan identitasnya sendiri tanpa memperhatikan kesatuan atau keselarasan dengan bentuk jaranan yang lebih luas. Dalam jangka panjang, hal ini bisa mengancam pelestarian kesenian jaranan itu sendiri, karena identitas yang terpecah akan sulit dipertahankan secara bersama-sama.

(10)

3. Kegiatan Meminum Alkohol Sebelum Pertunjukan

Kegiatan meminum alkohol oleh penari jaranan sebelum pertunjukan, yang dilakukan untuk meningkatkan rasa percaya diri atau mengurangi ketegangan, dapat dianalisis dalam kerangka teori kontrol sosial dan deviasi dalam sosiologi.

Teori kontrol sosial menjelaskan bagaimana norma-norma sosial mengatur perilaku individu dalam masyarakat, dan bagaimana pelanggaran terhadap norma-norma tersebut dapat menimbulkan reaksi dari kelompok sosial.

Dalam konteks kesenian jaranan, meminum alkohol sebelum pertunjukan bisa dilihat sebagai bentuk pelanggaran terhadap norma-norma tradisional yang mengedepankan kesakralan dan kedisiplinan dalam menjalani ritual atau pertunjukan. Penggunaan alkohol dalam hal ini dapat dianggap sebagai deviasi, yaitu penyimpangan dari norma yang seharusnya diterapkan dalam konteks pertunjukan budaya yang penuh dengan nilai spiritual dan etika.

Dari sisi sosial, kebiasaan ini mungkin diterima dalam kelompok tertentu sebagai bagian dari strategi penyesuaian diri, tetapi jika dilihat dari perspektif masyarakat yang lebih luas, kebiasaan ini bisa merusak citra kesenian jaranan sebagai seni budaya yang luhur dan penuh makna. Kebiasaan meminum alkohol dapat mengubah persepsi masyarakat terhadap kesenian jaranan, yang dulunya dihormati sebagai bagian dari warisan budaya, menjadi lebih terkesan sebagai pertunjukan yang hanya mengutamakan hiburan semata.

Dalam hal ini, kebiasaan tersebut juga bisa dikaitkan dengan proses erosi moral yang terkadang terjadi dalam masyarakat yang tengah mengalami perubahan nilai- nilai, di mana perilaku yang sebelumnya dianggap tidak pantas atau tabu menjadi lebih diterima atau bahkan dianggap normal dalam konteks tertentu. Oleh karena itu, perlu adanya kontrol sosial yang lebih ketat untuk menjaga kesakralan kesenian tradisional dan memastikan bahwa pertunjukan jaranan tetap berlandaskan pada nilai-nilai budaya yang telah diwariskan oleh leluhur.

(11)

b. Perspektif Antropologi

1. Pergeseran Kesenian Jaranan Menuju Budaya Modernisasi

Dari perspektif antropologi, pergeseran kesenian jaranan yang mengarah pada budaya modernisasi dapat dipahami melalui konsep perubahan budaya dan akulturasi. Pergeseran ini mencerminkan bagaimana masyarakat beradaptasi dengan perubahan zaman dan pengaruh luar yang datang, serta bagaimana mereka mempertahankan atau mengubah elemen-elemen budaya yang ada dalam kehidupan mereka.

Secara antropologis, perubahan budaya merupakan bagian dari dinamika kehidupan sosial yang terjadi seiring dengan berjalannya waktu. Ketika masyarakat mengalami modernisasi, baik dari segi teknologi, ekonomi, maupun gaya hidup, terjadi proses akulturasi, yaitu proses saling mempengaruhi antara budaya lokal dan budaya asing. Dalam hal ini, kesenian jaranan yang awalnya sarat dengan elemen- elemen ritual, magis, dan religius mengalami perubahan akibat masuknya pengaruh budaya baru, seperti kapitalisme dan kebutuhan untuk menarik perhatian pasar.

Perubahan ini menunjukkan bagaimana budaya tradisional seperti jaranan, yang awalnya berfungsi sebagai media ekspresi spiritual dan sosial, kini lebih difokuskan pada hiburan dan komodifikasi seni. Proses komodifikasi budaya ini adalah salah satu bentuk perubahan budaya yang sering terjadi dalam masyarakat yang tengah mengalami modernisasi. Di satu sisi, perubahan ini membantu kesenian jaranan bertahan di tengah perkembangan zaman. Namun, di sisi lain, penghilangan unsur- unsur ritual dan magis yang dulu melekat pada jaranan menyebabkan hilangnya dimensi budaya yang lebih mendalam, yang memiliki nilai spiritual dan religius.

2. Perbedaan Penyebutan "Jaranan Jowo" dan "Jaranan Pegon"

Dari perspektif antropologi, perbedaan penyebutan antara "Jaranan Jowo" dan

"Jaranan Pegon" dapat dianalisis melalui konsep identitas budaya dan diferensiasi sosial. Dalam masyarakat, identitas budaya sering kali dibentuk melalui simbol- simbol, praktik-praktik budaya, dan cara-cara tertentu dalam melaksanakan tradisi.

(12)

Penyebutan yang berbeda ini mencerminkan bagaimana kelompok-kelompok dalam masyarakat berusaha membangun identitas mereka sendiri, berdasarkan kesenian yang mereka praktikkan.

Antropologi melihat bahwa identitas budaya bukanlah hal yang statis, melainkan dinamis dan selalu dipengaruhi oleh perubahan sosial dan politik. Dalam hal ini, "Jaranan Jowo" dan "Jaranan Pegon" menggambarkan dua kelompok yang berusaha mempertahankan tradisi mereka, namun dengan penyesuaian yang berbeda terhadap pengaruh modernitas. Kelompok yang menyebut dirinya "Jaranan Jowo" cenderung lebih mempertahankan struktur dan esensi tradisional dari jaranan, sedangkan kelompok "Jaranan Pegon" berusaha melakukan inovasi dengan mengurangi unsur-unsur ritual dan magis untuk membuatnya lebih menarik secara komersial dan sesuai dengan selera penonton modern.

Perbedaan penyebutan ini dapat dilihat sebagai bentuk diferensiasi sosial dalam masyarakat. Diferensiasi sosial merujuk pada cara-cara masyarakat membagi kelompok-kelompok sosial berdasarkan berbagai kriteria, seperti agama, etnis, atau praktik budaya. Dalam hal ini, perbedaan antara "Jaranan Jowo" dan "Jaranan Pegon" menunjukkan bagaimana kesenian jaranan dipecah menjadi dua bentuk yang berbeda, yang masing-masing mengidentifikasi diri dengan cara yang khas sesuai dengan nilai-nilai dan preferensi yang dimiliki oleh komunitasnya.

Namun, di balik perbedaan ini, ada kemungkinan munculnya ketegangan antar kelompok yang merasa lebih otentik atau lebih tradisional. Ketegangan ini sering kali terjadi dalam proses akulturasi, di mana kelompok-kelompok dalam masyarakat saling berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai mereka sambil beradaptasi dengan nilai-nilai dari luar.

3. Kegiatan Meminum Alkohol Sebelum Pertunjukan

Kegiatan meminum alkohol oleh penari jaranan sebelum pertunjukan dapat dianalisis dalam kerangka ritual, norma sosial, dan perubahan budaya. Dalam antropologi, ritual merupakan tindakan yang memiliki makna simbolis dan

(13)

dilakukan dengan tujuan tertentu, sering kali berkaitan dengan spiritualitas atau untuk menjaga keseimbangan sosial. Dalam kesenian jaranan tradisional, ritual seperti kesurupan atau makan kembang memiliki fungsi simbolis yang erat kaitannya dengan kepercayaan dan nilai-nilai spiritual masyarakat.

Namun, kebiasaan meminum alkohol sebelum pertunjukan menggambarkan bagaimana norma sosial dalam masyarakat mengalami perubahan. Dalam konteks ini, meminum alkohol bisa dianggap sebagai pelanggaran terhadap norma-norma ritual tradisional yang dulunya sakral dan penuh makna. Kebiasaan ini mengindikasikan adanya proses sekularisasi dalam budaya jaranan, yaitu perubahan yang mengarah pada penghilangan unsur-unsur religius dan magis dalam kehidupan masyarakat.

Dari perspektif antropologi, kebiasaan ini juga mencerminkan bagaimana pengaruh budaya populer dan global, yang sering kali terkait dengan perilaku konsumsi alkohol, mulai masuk ke dalam kesenian tradisional. Dalam masyarakat modern, alkohol sering dipandang sebagai sarana untuk relaksasi, penghilang stres, atau bahkan sebagai simbol dari kebebasan individu. Hal ini berlawanan dengan nilai-nilai tradisional yang mengutamakan kedisiplinan dan kontrol diri dalam menjalani ritual dan pertunjukan budaya.

Selain itu, kebiasaan ini juga dapat dilihat sebagai contoh dari proses adaptasi budaya, di mana kesenian jaranan berusaha beradaptasi dengan perubahan sosial dan gaya hidup masyarakat yang lebih terbuka terhadap pengaruh luar, termasuk kebiasaan-kebiasaan baru yang tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai budaya asli.

Penggunaan alkohol, meskipun mungkin diterima dalam kelompok tertentu, bisa merusak citra kesenian jaranan sebagai representasi dari budaya yang luhur dan spiritual.

(14)

c. Saran

1. Mengadakan workshop tentang makna dan nilai-nilai ritual dalam kesenian jaranan agar para seniman memahami pentingnya aspek tradisional dan spiritual.

2. Dialog antar paguyuban : Mengadakan pertemuan antara paguyuban yang berbeda untuk mendiskusikan perbedaan penyebutan dan menciptakan pemahaman bersama tentang kesenian jaranan.

3. Penciptaan event bersama: Menyelenggarakan festival jaranan yang melibatkan berbagai paguyuban untuk merayakan keberagaman sekaligus memperkuat kesatuan dalam kesenian jaranan.

4. Bekerjasama dengan pelatih yang berpengalaman dalam kesenian jaranan untuk memberikan arahan kepada penari agar dapat menampilkan pertunjukan yang maksimal tanpa bergantung pada alkohol.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Adolph S. Thomars. 1996. Class Systems and the Arts. Batavia: Vplksclectuur Batavia Arifin, Z. (2018). The Role of Traditional Art in the Preservation of Local Culture:

Case Study on Jaranan Art in East Java, Indonesia. International Journal of Cultural and Creative Industries, 4(2), 112-121. https://doi.org/10.1016/j.jccs.2018.04.003 Bakker, E. & Munoz, F. (2021). The Cultural Impact of Performance Art: Exploring the Role of Audience Interaction in Contemporary Art Forms. Journal of Arts and Culture, 23(4), 98-112.

Dharu, Atmaja. 2019. Festival Kesenian Jaranan, Vol 4 no 12

Irianto, E., & Handayani, T. (2021). Jaranan Performance and the Evolution of Traditional Ritual in Modern Society. Journal of Performing Arts and Cultural Studies, 6(1), 52-65. https://doi.org/10.1016/j.jpcs.2021.02.005

Kurnia, Elsa. 2019. Karya Jaranan Jawa Segotro Putro Kelurahan Burengan Kecamatan Pesantren Kota Kediri (Tinjauan Struktur Pertunjukan), Vol 8 no 2

Oktaviany, dhany. 2020. Jaranan Kediri : Hegemoni dan Representasi Identitas, Vol 1 no 15

Setiawan, Y. (2017). Jaranan: A Traditional Performing Art of East Java and Its Contemporary Transformation. Jurnal Seni Budaya, 15(2), 74-89.

Soedarsono. R.M. 2009. Seni Pertunjukan Indonesia di era Globalisasi. Yogyakarta:

Gajah Mada University Press

Wijayanti, S. (2019). The Cultural Symbolism of Jaranan and Its Role in Community Identity in Kediri, East Java. Jurnal Kebudayaan dan Seni Tradisional, 23(1), 103-118.

Referensi

Dokumen terkait

Para seniman merupakan insan- insan kebudayaan terdepan yang mengisi kehidupan dengan nilai-nilai keindahan seni.. Melalui karsa, cipta dan karyanya, harkat sebuah

SERAMBI KANG HADI : BIOGRAFI SENIMAN DALAM KONTEKS PERKEMBANGAN SENI RUPA.. DIBANYUMAS RAYATAHUN 1971

Akan lebih baik apabila local genius seni tari jaranan digunakan sebagai media dakwah, karena kita sebagai penerus dakwah Rasulullah harus pandai mengajak

“Tekstual dan Kontekstual Seni dalam Kajian Antropologi Budaya”, makalah disampaikan dalam Seminar “Metodologi Penelitian Seni” di Sekolah Tinggi Seni Indonesia

Penelitian ini, dibatasi dengan kajian etnografi sebagai latar belakang dari tiga seniman seni rupa Medan yang diteliti, yaitu berupa deskripsi yang mengulas tentang kebudayaan

Permalahan yang ingin dijawab pada penelitian ini adalah, (1) bagaimana kronologi perkembangan garap karawitan Jaranan kelompok seni Guyubing Budaya dari tahun 1920

Setelah terbentuk organisasi seni yang bernama Lembaga seniman Yin Hua yang diketuai oleh Lee Man Fong seorang keturunan Cina peranakan mampu menarik perhatian para seniman

Apa saja kendala yang sering ditemui oleh para seniman jalanan ketika ingin membuat karya seni di dinding kosong ataupun rumah masyarakat setempat.. Hambatan apa saja yang