Tugas Perkuliahan RoL dan Kelembagaan Hukum Oleh: Muhamad Aryanang Isal
NPM: 2306177105
Baca secara seksama tulisan Daniel Lev sebagaimana terlampir. Berikan pendapat reflektif Anda tentang bacaan tersebut dengan menjelaskan
1. Apa saja poin-poin penting yang ingin disampaikan Daniel Lev dalam tulisan ini?
(resume tulisan ini secara umum)
2. Bagaimana asal usul profesi advokat di Indonesia?
3. Bagaimana posisi profesi advokat dalam sistem hukum di civil law?
4. Bagaimana Anda melihat perbandingan profesi Advokat dalam praktek di masa lalu dan masa kini?
Jawab:
1. Poin Penting yang disampaikan oleh Daniel S. Lev dalam buku Origins of the Indonesians Advocacy adalah:
Pertama, Perkembangan Profesi Advokat di Indonesia. Lev membahas sejarah advokat, khususnya dalam konteks kolonial, dimana profesi advokat disesuaikan dengan kebutuhan model pemerintahan pada masa kolonial Belanda.1 Pada tahun 1920-an beberapa advokat mulai muncul seperti Iskaq dan Sujono. Namun, mereka harus menghadapi tantangan profesional dan sosial dalam sistem hukum yang didominasi oleh pengacara Belanda pada institusi hukum yang sepenuhnya dikendalikan oleh pejabat Belanda.2
Setelah kemerdekaan, peran advokat mengalami perubahan, sistem hukum bergeser dari bagian administrasi kolonial Eropa menjadi bagian Indonesia, Namin advokat kehilangan pengaruh, baik di pengadilan maupun ekonomi, karena proses ekonomi tidak lagi berantung pada proses hukum yang dapat ditegakkan.3
Advokat di Indonesia beradaptasi dengan berbagai cara, meskipun memulai karir tanpa pengalaman atau klien, dan menghadapi diskriminasi seperti yang dirasakan oleh advokat etnis Tionghoa.4 Namun advokat Indonesia seringkali bekerja sama dengan mengirim pekerjaan ke sesama advokat di kota lain dan memberikan bantuan kepada rekan dan teman yang menghadapi masalah. Meskipun tidak diterima oleh komunitas advokat Belanda dan seringkali bertentangan secara politik dengan pemerintah, mereka (advokat Indonesia) tetap berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan profesional yang ada.5
Kedua, sistem hukum kolonial di Hindia Belanda lebih melayani komunitas Belanda ketimbang penduduk asli. Institusi hukum merupakan pengacara hukum yang dilatih di fakultas hukum Belanda. Kriteria hukum sebagian besar bersifat rasial, di mana semua orang Eropa secara otomatis berada di bawah yurisdiksi hukum sipil, komersial, keluarga dan pidana Belanda, serta mendapatkan ketegasan dan perlindungan dari kode prosedural Eropa.6
1 Lev, D. S. (1976). Origins of the Indonesian advocacy. Indonesia, (21), hal. 154.
2 Ibid, hal 157.
3 Ibid, hal 168.
4 Ibid, hal 157.
5 Ibid, hal 155.
6 Ibid, hal 141.
Ketiga, keterlambatan kemunculan advokat pribumi di Hindia Belanda yang disebabkan oleh sikap pemerintah kolonial yang enggan mendorong adanya advokat pribumi, demi untuk mempertahankan dominasi institusi hukum yang sepenuhnya dikendalikan oleh pejabat belanda. Selain itu, meskipun ada kebutuhan akan advokat, namun sebagian besar masyarakat Indonesia tidak dapat mengakses layanan advokasi karena masalah finansial, sosial dan budaya.
Sebelum advokat pribumi muncul, telah ada pokrol bambu yang telah menangani masalah hukum masyarakat desa dan kelas bawah kota tanpa memerlukan pendidikan hukum formal ata pengakuan profesional.
Keempat, Gerakan Nasionalisme yang mempengaruhi beberapa pengacara untuk menolak posisi pemerintah, karena mereka merasa terhina dengan status sebagai ”pribumi” dalam administrasi kolonial.
2. Asal usul profesi advokat di Indonesia dimulai sejak masa kolonial tahun 1920-an, di masa itu profesi ini mengikuti model advokat belanda. Pada awalnya, kantor hukum di Indonesia tidak terlalu besar, seperti kantor advokat Mr. Besar di Tegal dan Semarang, serta Mr. Iskaq di Batavia yang mempekerjakan advokat tidak lebih dari 6 (enam) sampai 7 (tujuh) advokat dalam satu kantor.7 Meskipun ada kebutuhan akan advokat, sebagian besar masyarakat Indonesia tidak dapat mengakses layanan advokat karena masalah finansial, sosial dan budaya. Sehingga peran advokat pada saat itu dipenuhi oleh pokrol bambu yang berperan sebagai para-legal atau bertindak sebagai advokat yang menangani masalah hukum masyarakat desa atau kelas bawah.
Pokrol bambu adalah individu yang mengelola kasus hukum masyarakat desa, mereka biasanya tidak memerlukan pendidikan hukum formal dan pengakuan profesional untuk berpraktik.8 Istilah ”pokrol” berasal dari kata Belanda, yakni ”procureur” dan seringkali digunakan untuk merendahkan dan menggambarkan pengacara yang tidak profesional atau manipulatif oleh komunitas kolonial belanda. Pokrol Bambu biasanya memiliki kemampuan untuk menggunakan bahasa Belanda dalam insititusi yang dikuasai Belanda, memiliki kepercayaan diri sosial, dan menguasai dasar-dasar prosedur hukum.9
3. Menurut Daniel S. Lev, posisi profesi advokat dalam hukum civil law seperti belanda sangat jauh berbeda dengan sistem hukum common law seperti yang ada di Inggris dan Amerika Serikat (AS), di negara-negara civil law, advokat tidak membentuk asosiasi inti organisasi advokat (bar). Pada sistem common law memiliki organisasi advokat sebagai pusat gravitasi yang berorientasi pada praktik hukum swasta, dan bukan pada kontrol pemerintah, orgnisasi advokat dikontrol oleh pengacara swasta. Berbeda dengan civil law yang dimana pengacara swasta tidak terlalu menjadi concern bagi pemerintah dan perhatian bagi fakultas hukum, pola karir kebanyakan didorong pada bidang peradilan, penuntutan, administrasi, notaris dan advokasi yang dimulai sejak lulus dari fakultas hukum. Hal ini cendrung memecah belah profesi hukum di negara civil law.10
Di Hindia Belanda sejak pertengahan tahun 1920-an seluruh advokat dan notaris adalah orang Belanda. Baik orang indonesia asli maupun etnis Tionghoa belum bergabung dalam profesi ini.
Kecilnya pengaruh advokat di Indonesia pasca kemerdekaan disebabkan oleh permulaan yang terlambat. Berbeda dengan negara common law seperti Filipina yang merupakan koloni Inggris dimana pengacara peribumi ada banyak jumlahnya. Pejabat Kolonial Belanda enggan untuk mendorong pengacara swasta pribumi, karena menganggap orang pribumi sebagai sumber
7 Ibid, hal 154.
8 Ibid, hal 167.
9 Ibid, hal 153.
10 Ibid, hal 136.
korupsi, suka berperkara, penyalahgunaan hukum dan suka berbuat onar. Orang-orang Eropa lebih suka bersimpati pada masyarakat yang mereka dominasi dan menganggap pengacara swasta sebagai gejala rusaknya keakraban sosial tradisional yang mendukung aturan hukum yang kurang ramah dan akan menyebarkan kekacauan sosial dan budaya.11
4. Profesi advokat pada masa lalu di Indonesia tidak memiliki kantor hukum besar dan terlambat dalam perkembangannya, namun kemampuan beradaptasi dari advokat Indonesia yang pada saat itu kebanyakan etnis Jawa dapat membuat advokat pribumi dapat berkembang dengan baik karena kemampuan orang jawa yang mampu merawat hubungan dan bekerja sama secara profesional dan politik dengan baik. Profesi advokat pada masa itu juga tidak menjadi bagian dari aristokratik lama (priyayi) dan peran profesional mereka adalah sesuatu yang baru dalam organisasi politik di Indonesia. Advokat di Indonesia pada masa kolonial harus menghadapi tantangan sosial dalam sistem hukum yang didominasi oleh pengacara Belanda dan institusi hukum yang sepenuhnya dikendalikan oleh pejabat Belanda.12
Pada awal kemerdekaan profesi advokat mulai mengalami masa sulit ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945. Advokat mulai memperjuangkan isu keadilan, HAM dan kemerdekaan hukum yang bebas dari kontrol kolonial Belanda, namun pada awal kemerdekaan pengaturan mengenai profesi hukum sangat sulit sehingga memaksa advokat bekerja dalam kondisi yang sulit.13 Pada era modern dan reformasi, Advokat berperan sebagai aktor penting dalam sistem peradilan yang demokratis, pada tahun 2003 disahkan UU tentang Advokat yang memberikan kerangka hukum yang jelas tentang profesi advokat, termasuk kode etikk dan kewajiban organisasi advokat. Di era kolonial advokat menjadi kontrol bagi pemerintahan kolonial, tetapi pasca indonesia merdeka advokat menjadi pilar penting dalam membangun sistem hukum modern dan demokratis di Indonesia. Profesi advokat di era reformasi lebih berorientasi pada keadilan sosial dan perlindungan HAM, berbeda pada masa kolonial yang lebih menonjolkan sistem administrasi dan kolonialisme.
11 Ibid.
12 Ibid, hal 160.
13 Ibid, hal 168.