RAISA NURUL NOVIANA
PERKEMBANGAN PROTESTANISME (KRISTEN-PROTESTAN) DI KOREA
RELIGI MASYARAKAT KOREA
PROTESTANISME DI KOREA
1880 - 1905 1905 - 1945 1945 - 1980
perkembangan protestanisme pada masa
kolonialisme Jepang
perkembangan pesat
protestanisme di Korea Selatan
penerimaan
protestanisme
pada masa akhir
Joseon
JOHN ROSS
(1842 - 1915)
seorang presbiterian skotlandia,
misionaris protestan pertama yang berpengaruh besar (misi gereja
presbiterian, dan menerjemahkan Alkitab Korea pertama (menggunakan tim
penerjemah - 1882 dan 1887)
pada terjemahannya, Ross menggunakan istilah teologis “hananim” karena percaya bagi orang Korea “Tuhan” juga
diasosiasikan dengan “Langit”
bapak gereja manchuria dan Korea tinggal di Tiongkok selama 3 dekade
orang Korea mudah menerima
Protestanisme karena akrab dengan konsep
“Tuhan” (Hananim, Hanullim, Hanullim, dan Hanunim), “Trinitas” (Hanung, Hwanin,
Tangun), serta surga dan neraka (Chondang dan Chiok).
KONSEP “TUHAN”
BEBERAPA PERTEMUAN ORANG KOREA DENGAN PENDETA SEBELUM MISIONARIS PROTESTAN PERTAMA DATANG KE KOREA:
1883 MIN YONG
utusan Korea pertama untuk AS, Min Yong (merupakan
tokoh paling berkuasa di Korea) bertemu dengan pendeta John F. Goucher,
presiden of universitas Goucher College, Baltimore,
secara kebetulan di kereta menuju Washington, membahas agama Kristen Protestan dan pembukaan
mission school di Korea.
1884 KIM OKKYUN
Kim Okkyun, pemimpin kudeta, bertemu dengann pendeta Robert S. Maclay di Jepang - membahas pendirian mission
school di Korea dan juga memperkenalkan pendeta Robert S. Maclay ke raja Gojong
dengan tujuan membujuk raja untuk mengizinkan pendirian mission school dan rumah sakit
di Korea.
PEDAGANG KOREA DI MANCHURIA
Ada juga beberapa pedagang Korea yang
sering melakukan
perjalanan ke Manchuria, bertemu dengan
misionaris barat - mereka berpindah agama menjadi Kristen
protestan
PADA MASA AKHIR
JOSEON (1880 - 1905)
HORACE NEWTON ALLEN
(23 APRIL 1858 - 11 DESEMBER 1932)
Horace N Allen tiba pada tahun 1884
(delapan tahun setelah Jepang membuka
border/batas negara Korea pada tahun 1876, dan dua tahun setelah hubungan
diplomatik pertama dengan AS tahun 1882) misionaris protestan pertama di Korea,
diperkenalkan oleh raja Gojong sebagai dokter kedutaan Amerika Serikat, bukan sebagai misionaris.
Karena sulit melancarkan misi (tugas) sebagai misionaris di negara yang anti-Barat dan anti-Kristen, dr Allen menjalin hubungan pribadi dengan keluarga faksi Min, raja Gojong, yang berkuasa, dan pejabat istana lain, ia anggap sebagai batu loncatan untuk misi Kristen pada saat itu. Allen diundang untuk
merawat pejabat Min Yongik (pejabat tinggi)
Hasilnya, Allen membuka rumah sakit modern, Kwanghyewon (berganti nama jadi Chejungwon) di Seoul bulan April 1885
dengan dukungan raja Gojong dan keluarga Min.
KESULITAN PROTESTAN DITERIMA DI AWAL
ANTI-BARAT DAN ANTI-KRISTEN
1) POLITIK BUDAYA
KERAJAAN JOSEON YANG ANTI-BARAT
ideologi neo-konfusianisme dan kebijakannya yang sinosentris - mengagung- agungkan Tiongkok, tidak
bisa melakukan apapun secara independent sehingga
harus menunggu hingga Tiongkok bergerak dan
memberi perintah
2) POLITIK FAKSI KERAJAAN MEMPERKUAT SIKAP ANTI- BARAT DAN ANTI-KRISTEN.
rakyat menjauhi orang-orang Barat dan hal-hal berbau Barat. Seperti saat Katolik masuk, dianggap sesat karena
menentang ajaran
konfusianisme (kebanyakan pemeluk Katolik awal adalah
kelompok elit namin - faksi selatan)
3) MENGUATNYA XENOFOBIA DI
KOREA.
misalnya, ada penganiayaan terorganisir oleh para
pejabat konfusianisme yang berpandangan bahwa agama Katolik merupakan hambatan terhadap ajaran
konfusianisme
HORACE GRANT UNDERWOOD (1859 - 1916)
Ditunjuk oleh Dewan Misi Presbiterian ke Korea, tiba di Korea pada Minggu Paskah tahun 1885, bersama teman- temannya Pendeta dan Mr. Henry G.
Appenzeller dari Misi Episkopal Metodis.
HENRY G APPENZELLER
(6 FEBRUARI 1858 - 11 JUNI 1902)
Henry G Appenzeller diizinkan
membuka sekolah modern pertama untuk anak laki-laki, Sekolah Paejae.
Appenzeller tiba di Korea pada
tanggal 5 April 1885, pada Minggu pagi Paskah, bersama istrinya Ella Appenzeller.
APPENZELLER ADALAH PENDIRI SEKOLAH ANAK LAKI-LAKI, PAICHAI HAKDANG DI KOREA PADA TAHUN 1887.
MARY F. SCRANTON
(9 DESEMBER 1832 - 8 OKTOBER 1909)
Mrs Mary F Scranton membuka
sekolah modern pertama untuk anak perempuan, sekolah Ewha tahun
1886.
Tiba dari AS tahun 1885
SISWA AWAL EWHA HAKDANG DAN MARY SCRANTON
METODE MISIONARIS DALAM BERTAHAN DI TENGAH XENOFOBIA & CHAUVINISME
memberikan perawatan medis dan
pendidikan modern kepada masyarakat Korea (membangun citra yang baik di mata rakyat)
Metode pekerjaan medis dan pendidikan terbukti efektif untuk dakwah
Dapat dikatakan metode ini luar biasa karena dapat bertahan di tengah
xenophobia yang kuat dan chauvinism
budaya, kendala bahasa dan budaya, serta masalah psikologis yang dihadapi para
misionaris yang terisolasi di negara asing.
ALASAN TANGGAPAN POSITIF RAKYAT KOREA TERHADAP AGAMA BARAT DAN PROGRAM MISIONARISNYA SETELAH TAHUN 1894
JUMLAH MISIONARIS MENINGKAT
PANDANGAN ORANG KOREA TERHADAP BARAT
DAN PROTESTAN MENJADI LEBIH
BAIK
PERASAAN KRISIS NASIONAL
BERKEMBANG SEBELUM DAN SESUDAH PERANG
TIONGKOK – JEPANG TAHUN
1894
PENGANUT KRISTEN PROTESTAN AKHIR JOSEON
Sebagian besar adalah rakyat jelata (sangmin) pengangkut air, penebang kayu, penggarap tanah,
dan perajin perkakas sehari-hari
kaum Yangban sulit karena akan mengalami banyak kerugian dengan menjadi kristen
PENGANUT KRISTEN PROTESTAN AKHIR JOSEON
tahun 1890-an wilayah barat laut Korea lebih berkembang bagi agama Kristen Protestan: ada geraja di provinsi barat Laut,
Pyongan dan Hwanghae
alasan wilayah barat laut lebih berkembang: kelas yangban
sedikit - ajaran konfusianisme tidak begitu diterapkan sehingga mudah menerima agama baru dan ada kebijakan diskriminatif (dalam jabatan di pemerintahan, pembatasan peluang mobilitas
sosial ke atas) rakyatnya petani dan pedagang (rakyat jelata)
MASA KOLONIALISME JEPANG
1905 - 1945
PESATNYA PERTUMBUHAN UMAT KRISTEN PROTESTAN KOREA
1907 - GERAKAN
KEBANGKITAN ROHANI
(1) Gereja memenuhi kebutuhan psikologis (2) Rakyat menganggap gereja sebagai komunitas di
mana mereka dapat berkumpul untuk berbagi
rasa frustrasi, rasa krisis dan rasa solidaritas juga dapat mendiskusikan masa
depan negara.
1910
Denominasi Presbiterian memiliki 687 gereja di seluruh
semenanjung Korea 200.000 orang Kristen di Korean (termasuk 144.261 orang presbiterian dan 37.722
orang metodis) 755 sekolah yang berhubungan dengan gereja dan ratusan sekolah
swasta yang didirikan oleh para pemimpin gereja Korea
(lebih dari 20.131 siswa yang mendaftar
1918 - 1919
1918 ada 1.778 gereja dengan 160.919 anggota
Setelah insiden 1 maret 1919 (삼일운동) – para pemimpin
Kristen memprakarsai Demonstrasi 1 maret untuk kemerdekaan – akibatnya ada
hukuman keras dan kejam dijatuhkan kepada gereja-
gereja protestan dan keanggotaannya
PENINDASAN UMAT KRISTEN DI GERAKAN 1 MARET 1919
Gerakan 1 maret 1919 merupakan ciptaan para pemimpin agama Korea - total 33 orang, 16 di antaranya Protestan,
menandatangani Deklarasi Kemerdekaan, tujuannya desakan terhadap non-kekerasan
Jepang dengan keras menindas gerakan tersebut - ada penganiayaan terhadap umat Kristen, gereja-gereja dibakar, banyak orang Kristen dieksekusi, penduduk desa digiring ke
sebuah gereja lokal dan kemudian dibakar.
BANGKIT PASCA 삼일운동
Gereja Presbiterian Korea mendirikan 115 gereja baru pada
tahun 1919 (bangkit kembali dengan cepat), 184 tahun 1920, dan 267 tahun 1921.
Denominasi presbiterian mulai tumbuh lagi dan tahun 1921
melampaui tingkat sebelum 삼일운동 gerakan satu maret dalam jumlah gereja dan umatnya.
Gereja protestan terus tumbuh sampai awal tahun 1940an.
PENGAMBILALIHAN GEREJA OLEH JEPANG
para misionaris barat diperintah meninggalkan semenanjung Korea tahun 1940
219 misionaris pulang ke negeri asal mereka tersisa 99 misionaris Barat yang pulang tahun 1941
semua gereja dibawah kontrol pemerintah dan digabungkan ke dalam satu kelompok Kristen, Gereja Kristen Jepang cabang
Korea (일본기독교조선교단) - jepangisasi
alasan: karena gereja sudah tidak mau ikut campur dengan isu sosial dan politik
PASCA KEMERDEKAAN
(1945 - 1980)
PERTUMBUHAN GEREJA PROTESTAN DI KOREA SELATAN
beberapa peristiwa dalam kurun waktu 1950 - 1980 seperti perang Korea, kurusahan dalam proses industrialisasi dan
urbanisasi menyebabkan masyarakat Korea bergabung dengan komunitas keagamaan dalam jumlah yang lebih besar
perpecahan Korea Selatan dan Utara juga penyebab utama ledakan pertumbuhan gereja di Korea Selatan
PERBEDAAN KRISTEN-PROTESTAN DI UTARA DAN SELATAN
di wilayah selatan, di bawah pemerintahan rezim Lee
Seungman dan AS suasana sosial dan politik menguntungkan bagi komunitas gereja protestan berkembang
di wilayah utara, para pemimpin gereja ditangkap, pemerintah melenyapkan unsur-unsur Kristen, menyita semua properti gereja, menempatkan pemimpin gereja di bawah komunitas Kristen yang disokong pemerintah, mengurangi jumlah gereja
dan pendeta
PERKEMBANGAN KRISTEN PROTESTAN DI TAHUN 1980AN
menurut statistik terkini, lebih dari 25% penduduk Korea Selatan beragama Protestan
tahun 1980an, enam gereja didirikan setiap hari di Korea Selatan tahun 1984 gereja-gereja Korea mengirimkan 3.232 misionaris ke
36 negara di seluruh dunia dan 1.093 gereja Korea juga didirikan di 12 negera lain, termasuk AS, Jepang, Mesir, Jerman dan
Australia.