• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkenalkan Eskatologi

N/A
N/A
Director of JPIC OFM Papua

Academic year: 2023

Membagikan "Perkenalkan Eskatologi"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

Khususnya di Gereja Paroki Katolik Emanuel Mapurujaya, keadaan gereja ditandai dengan minimnya keaktifan umat dalam kehidupan bergereja, lemahnya perekonomian umat, mengkhawatirkannya kondisi sanitasi umat, nilai-nilai kebaikan. kehidupan budaya Kamoro dan semangat pelayanan yang semakin menurun dan tidak ada tanda-tanda pertumbuhan masyarakat secara kuantitas dan kualitas. Dalam konteks ini diperlukan motivasi yang dapat mendorong para petugas pastoral agar tidak patah semangat, namun tetap semangat dalam karya pastoralnya. Tulisan ini dengan demikian bertujuan untuk melihat apa yang dimaksud dengan keputusasaan, yakni tidak diprioritaskannya harapan dalam tugas pelayanan pastoral khususnya di Paroki Emanuel Mapurujaya, baik dari pihak petugas pastoral maupun dari kalangan umat itu sendiri.

Kepercayaan merupakan nilai mendasar dalam tugas pelayanan pastoral, karena kepercayaan atau hubungan saling percaya membentuk mentalitas staf dan umat pastoral. Keluhan-keluhan tersebut ditanggapi oleh para petugas pastoral dengan rasa putus asa, kata para misionaris yang telah lama berkarya di kalangan masyarakat Kamoro, yaitu “putus asa”. Paroki Emanuel Mapurujaya berbatasan dengan Paroki Katedral Tiga Raja di utara, Paroki Mary Star of the Sea Kokonao di selatan dan timur, serta Paroki St. Louis di selatan dan timur. Maria.

Dari lima belas SPBU tersebut, tiga belas SPBU berada di bawah yurisdiksi Paroki Emanuel Mapurujaya, sedangkan dua stasiun lainnya yakni Stasiun Fakafuku dan SPBU Njita hanya menjadi SPBU pada hari Natal dan Paskah karena kedua SPBU ini berada di bawah yurisdiksi Marie Bintang Laut. Paroki Kokonao. Dari tiga belas stasiun yang ada di Paroki Emanuel Mapurujaya, empat stasiun dapat dicapai melalui sungai menggunakan tiang atau speedboat. Emanuel Mapurujaya Umatnya berasal dari latar belakang etnis yang berbeda-beda, yakni Kamoro, Kei, Flores, Jawa, dan Toraja.

Hopeless dan dampaknya bagi Para Petugas Pastoral Paroki Emanuel Mapurujaya

Hal ini juga mengakibatkan rendahnya intensitas pelayanan, bimbingan yang terputus-putus dan tidak konsisten dan terutama dilakukan oleh petugas pastoral awam yang tidak terlatih dengan baik. Kurangnya pemahaman terhadap budaya lokal dapat menyulitkan petugas pastoral untuk melihat model pelayanan yang sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya lokal. Dampak selanjutnya adalah upaya inkulturasi yang kurang konteks atau hanya menyentuh permukaan saja.

Hal ini menjadi permasalahan yang sangat mendasar karena meskipun secara teori masyarakat mengaku beragama Katolik, namun dalam praktiknya masih terdapat kesenjangan yang jelas antara budaya Kamoro dan agama Katolik. “Spiritualitas kehadiran” meski terkesan sederhana, namun nyatanya sangat bermanfaat bagi petugas pastoral dalam melakukan pendekatan dan mengenal umat.

Hopeless dan Dampaknya bagi Umat Paroki Emanuel Mapurujaya

Semua ini dapat melemahkan moral staf pastoral, terutama jika program dan rencana pastoral lebih berorientasi pada hasil daripada proses. Apabila suatu perubahan dianjurkan dan ternyata perubahan itu dapat ditempatkan pada tatanan nilai tersebut, maka perubahan itu akan diterima dengan baik, hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi, namun bila yang terjadi sebaliknya maka perubahan itu akan mati. . Dengan demikian, keseimbangan nilai-nilai ini tidak hanya penting dalam tatanan alam yang melingkupinya dan dalam dirinya sendiri, tetapi juga dalam pembagian kerja, hari raya, dan ritual adat.

Nilai-nilai dan prinsip keseimbangan tersebut sebenarnya bisa saja bertentangan dengan nilai-nilai moral Kristiani. Setiap perbuatan baik pasti ada wujud buruknya dan setiap perbuatan jahat pasti ada wujud baiknya sehingga segala sesuatunya berkaitan dengan keseimbangan kehidupan manusia Kamoro. Justru pada titik inilah tantangan terbesar bagi gereja, khususnya bagi para petugas pastoral, adalah menyesuaikan relativisme dengan pandangan atau nilai-nilai Kristen yang absolut.

Selain hal tersebut, hal lain yang mempengaruhi kehidupan masyarakat Kamoro secara keseluruhan baik dalam bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, budaya dan agama adalah filosofi hidup mereka.

PENTINGNYA KEUTAMAAN HARAPAN

Keutamaan Harapan menurut Kitab Suci .1 Perjanjian Lama 17

Harapan ini bukan sahaja mendambakan kehidupan di akhirat, tetapi juga kepenuhan keimanan yang memberi makna kepada kehidupan kini di dunia. Asas pengharapan ini ialah kasih Tuhan yang dicurahkan dalam hati kita dan dinyatakan dalam Kristus (Roma 12:12), supaya kita boleh percaya tanpa pengharapan manusia akan pengharapan daripada Tuhan (Roma 4:18). Berhadapan dengan pelbagai "kegembiraan dan pengharapan, kesedihan dan kerisauan umat masa kini", Gereja mengingatkan kita tentang Firman yang telah menyatakan kepada kita "bahawa Tuhan adalah kasih" (1 Yohanes 4:8), dan pada masa yang sama mengajar kita bahawa undang-undang asas kesempurnaan manusia dan oleh itu juga penyusunan semula dunia adalah perintah baru cinta.

Oleh karena itu beliau meyakinkan semua orang yang mengimani rahmat Ilahi bahwa jalan cinta terbuka bagi semua orang dan upaya membangun persaudaraan universal tidak akan sia-sia. Pada saat yang sama, ia mengingatkan kita bahwa cinta tidak hanya harus dikejar dalam hal-hal besar, tetapi terutama dalam situasi kehidupan sehari-hari. Pengharapan bertumpu pada keimanan dan keimanan adalah keimanan terhadap apa yang tidak dapat dilihat yaitu Tuhan.

Percaya terhadap apa yang tidak terlihat hanyalah anugerah yang tidak bisa diraih dengan kesalehan pribadi, apalagi dalam masyarakat. Dalam hal ini, kemampuan menerima penderitaan orang yang menderita juga diperlukan, seperti yang ditunjukkan Yesus sendiri dalam perjalanan menuju salib. Untuk itu harus ada kerjasama dari umat, yaitu keyakinan bahwa Tuhan yang menopang penderitaan manusia pasti akan menyelesaikannya.

Sejarah keselamatan ini harus dipahami dari firman Tuhan yang datang ke dunia melalui inkarnasi Yesus. Pemikirannya tentang teologi harapan dituangkan dalam bukunya Theology of Hope, yang sangat berpengaruh pada periode pasca-Perang Dunia II, baik di negara Barat maupun negara berkembang. Dalam situasi inilah iman bisa berkembang menjadi pengharapan untuk melawan apa yang negatif di dunia ini, sambil menderita karenanya, namun tanpa putus asa karena berharap menerima hidup salib-sekarang dalam kuasa kebangkitan.

Iman adalah ungkapan ketundukan total kepada Tuhan. 28 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1). Orang yang tidak beriman adalah orang yang tidak mempunyai pengharapan, sehingga banyak orang yang tidak mempunyai pengharapan cenderung mengandalkan kekuatan sendiri untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Harapan bukanlah sebuah sikap pasif, namun sebuah semangat yang mengubah hidup kita dalam membangun kerajaan cinta dan perdamaian.

Pengharapan kita juga harus disempurnakan dengan pengharapan akan kemurahan dan keadilan Tuhan yang dinyatakan dalam Yesus Kristus.

Pentingnya Keutamaan Harapan dalam Pelayanan Pastoral

  • Bagi Petugas Pastoral
  • Kesimpulan: Mengapa Mesti Berharap

Pentingnya keutamaan harapan dapat direduksi menjadi pentingnya keutamaan harapan bagi para petugas pastoral dan bagi masyarakat Kamoro sendiri. Oleh karena itu, Gereja sebagai pelayan adalah Gereja yang peduli terhadap situasi-situasi konkrit yang timbul dalam kehidupan umat. Para petugas pastoral yang mengenal Gereja sebagai pelayan ini akan mengalami nasib yang sama seperti keadaan umat yang sebenarnya.

Para pelayan yang solidaritas dengan umatnya sehingga visi dan misi jemaat dapat tercapai karena petugas pastoral benar-benar menjawab kebutuhan umat. Akibat dari Gereja sebagai pelayan adalah umat tidak dipandang sebagai objek melainkan sebagai subjek dengan pelayan yang berada di tengah umat, yang mengetahui, membaca dan menanggapi kebutuhan umat. Harapan keselamatan masyarakat Kamoro terlihat dari pandangan mereka terhadap otepe sebagai kekuatan yang senantiasa memperkuat diri dan diarahkan untuk menyempurnakan kekuatannya sendiri.

Namun masyarakat Kamoro menilai keseimbangan tersebut sulit dicapai karena otepi orang asing (pendatang) tidak mencapai otepi masyarakat Kamoro, misalnya dalam hal kekayaan, barang, uang, bahkan pertanian dan perkebunan. Menurut mereka, barang-barang tersebut sebaiknya dibagikan kepada masyarakat Kamoro, bukan digunakan untuk diri sendiri sehingga dianggap orang luar sebagai pencuri (tanawe, otomowe). Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa masyarakat Kamoro tidak mengutamakan pendidikan, pekerjaan, pemenuhan kebutuhan ekonomi, kesehatan maupun kehidupan bergereja, karena mereka beranggapan bahwa hal-hal tersebut akan ada dengan sendirinya karena asas keseimbangan.

Pemahaman tersebut menyebabkan masyarakat Kamoro menjelaskan segala benda asing yang dibawa oleh para pendatang asal maluku, Tionghoa, pemerintah dan Gereja sebagai sesuatu yang lain atau asing, sebagai adat istiadat lain, cara berpikir lain atau benda asing. Namun, mereka mengira bahwa "orang asing" itu adalah milik mereka, sehingga mereka memasukkan materi "asing" tersebut ke dalam cerita mitos mereka. Dengan demikian, dalam diri masyarakat Kamoro selalu ada harapan akan kehidupan seimbang yang mendatangkan kesejahteraan.

Meskipun begitu pentingnya keutamaan harapan bagi para pejabat pastoral dan jemaah, khususnya bagi suku Kamoro, namun isu pentingnya harapan tetap bergema, karena keutamaan harapan pada dasarnya bersifat konseptual, teoretis, dan sistematis secara teologis. Oleh karena itu, kisah berikut ini patut menjadi kisah inspiratif tentang pentingnya keutamaan harapan dalam suasana keputusasaan.

RANCANGAN PASTORAL

  • Visi
  • Misi
  • Analisa Masalah dan Kebutuhan .1 Masalah
    • Kebutuhan
  • Sasaran-sasaran (goals)
    • Memiliki para petugas pastoral yang dijiwai oleh keutamaan kristiani dan keyakinan akan potensi umat gembalaannya dalam pelayanan pastoral
    • Mengubah pola pikir umat Kamoro akan harapan pada perubahan dan keselamatan kini sebagai tujuan dari pelayanan pastoral yang menyentuh
  • Target-target
    • Target sasaran pertama
    • Target sasaran kedua
  • Strategi-Strategi
    • Strategi untuk target sasaran 3.5.1.1
    • Strategi untuk target sasaran 3.5.1.2
    • Strategi untuk target sasaran 3.5.2.2

Sikap putus asa ini pula yang membuat masyarakat Kamoro tidak melihat otepe pada dirinya sendiri, namun melihat otepe pada orang lain dan menuduh ketidakseimbangan sebagai pencurian yang sangat melanggar prinsip keseimbangan. Berdasarkan permasalahan yang hidup di lingkungan kerohanian, maka perlu adanya pelayanan kerohanian yang memiliki keutamaan Kristiani, khususnya keutamaan pengharapan. Kemampuan tidak hanya bersimpati, tetapi juga berempati, penting bagi pelayanan pastoral, yang mencakup seluruh aspek kehidupan, tidak hanya ibadah persekutuan, tetapi juga aspek kemanusiaan lainnya seperti politik, sosial, ekonomi, dan budaya atau dalam kerangkanya. struktur gereja dalam kaitannya dengan aspek sosial Sosial Ekonomi (SOSEKMAS).

Pada gilirannya, pelayanan pastoral yang mencakup seluruh aspek kehidupan dapat membangun kesadaran masyarakat akan keselarasan antara iman Katolik dan pengamalan imannya, terutama dalam kehidupan bergereja yang aktif. Dengan demikian, program pastoral yang direncanakan oleh para petugas pastoral dapat terlaksana berkat keterlibatan seluruh masyarakat. Upaya pastoral seperti ini membangun rasa memiliki masyarakat terhadap nilai-nilai Kristiani, karena terdapat keterkaitan dan pemahaman yang jelas antara tradisi dan gereja.

Praktisnya terjadi dalam praktik keagamaan baik dalam bentuk perkataan atau pandangan hidup maupun dalam bentuk tindakan atau ritual.

PENUTUP

Kesimpulan

Saran

Permasalahan yang ada diangkat agar eskatologi benar-benar kontekstual dengan kebutuhan masyarakat dan sejalan dengan nilai-nilai kehidupan baik yang sudah ada dan hidup dalam budaya lokal karena tentunya kita ingin masyarakat benar-benar Kamoro dan benar-benar Katolik. Dengan demikian, tulisan ini harus dibaca sebagai sebuah teologi kontekstual dalam konteks eskatologi kebahagiaan di dunia sebagai wujud kebahagiaan abadi. Di sisi lain, iman Kristen sebagai teologi kontekstual dalam sudut pandang eskatologi akan benar-benar menjawab kebutuhan konkrit umat dan tidak hanya mengambang pada tataran konseptual dan teoretis tentang surga dan neraka di kemudian hari.

Dengan demikian, kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam tulisan ini tidak hanya dikritisi dan dikoreksi saja, namun juga dilakukan pandangan baru, sehingga tujuan dakwah gereja dapat tercapai yaitu kesejahteraan dunia dan akhirat.

Daftar Pustaka

Referensi

Dokumen terkait