• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA JARINGAN PERSAMPAHAN DI KOTA PIRU

N/A
N/A
Gloria Djonler

Academic year: 2023

Membagikan "RENCANA JARINGAN PERSAMPAHAN DI KOTA PIRU"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL)

PADA DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT

“RENCANA JARINGAN PERSAMPAHAN DI KOTA PIRU”

Disusun Oleh Nama: Gloria Djonler

NIM: 201974023

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS PATTIMURA AMBON

2022

(2)

B. LAPORAN KHUSUS

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pasca pemekaran Kabupaten Seram Bagian Barat dari kabupaten induk Maluku Tengah pada tahun 2003, Kota Piru ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Seram Bagian Barat. Keberadaan Kota Piru sebagai ibukota kabupaten berpengaruh terhadap perkembangan fisik kota baik dari segi sosial kependudukan, kondisi geografis, keberadaan jaringan transportasi, fasilitas kota, dan kebijakan pemerintah daerah. Banyaknya perubahan yang terjadi ini karena pembangunan yang dilakukan untuk kemajuan dan kesejahteraan Kota Piru.

Perkembangan ini membuat Kota Piru harus bisa mengelola semua sumber daya yang dimiliki dan lebih sigap dalam menangani semua fenomena permasalahan yang terjadi terkhususnya permasalahan sampah yang akan menjadi masalah utama dalam perkembangan Kota Piru.

Dalam rangka mengatasi permasalahan sampah perkotaan, pemerintah Kota Piru telah membuat sarana pembuangan sampah yang berupa TPS yang diletakan pada lima titik lokasi yang berbeda di kota Piru sehingga masyarakat bisa lebih mudah menggunakannya untuk membuang sampah sisa rumah tangga maupun sampah jenis lainnya, agar lingkungan kota menjadi bersih dan meminimalisir timbunan sampah yang ada. Karna pada dasarnya mengelola sampah secara baik adalah merupakan tanggung jawab setiap individu manusia yang memproduksi sampah.

Jika diamati lebih lanjut pola pembuangan sampah yang dilakukan masyarakat masih belum bisa membantu pemerintah dalam menanggulangi sampah perkotaan karena kebiasaan masyarakat yang masih memilih untuk membuang sampah di sungai, lahan kosong, jalan dan lain-lain. Hal ini dikarenakan penyediaan TPS di Kota Piru yang belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam membuang sampah. Berdasarkan perhitungan yang didasari pada jumlah penduduk Kota Piru yaitu 16.349 jiwa (BPS Seram Bagian Barat dalam angka tahun 2022) dan jumlah timbunan sampah Kota Piru yang masuk pada klasifikasi kota kecil berdasarkan SNI 19-3983-1995 karena penduduknya kurang dari 100.000 jiwa, maka jumlah sampah penduduk Kota Piru dalam sehari adalah 34.675 m3/hari. Karakteristik sampah di Kota Piru dapat digolongkan sebagai berikut:

a. Permukiman atau rumah tangga yaitu sampah berupa sisa makanan, sayur, kertas, plastik dan pecahan kaca.

b. Daerah perdagangan atau komersial yaitu sampah berupa kertas, plastik, dan sayur-sayuran.

c. Instasi atau perkantoran yaitu sampah berupa kertas, plastik, dan lain-lain.

d. Tempat umum dan jalan yaitu berupa daun kering kertas dan plastik.

(3)

Pola pengelolaan sampah di Kota Piru masih menggunakan metode pengumpulan secara langsung (door to door) dan langsung di tampung di TPA.

Perilaku masyarakat yang seperti ini tidak akan membantu pemerintah dalam mengurangi masalah persampahan namun menambah masalah baru yang bisa berimbas pada manusia dan lingkungan di sekitar. Untuk itu perlu adanya rencana jaringan persampahan di Kota Piru dengan merencanakan persebaran TPS di sejumlah titik di Kota Piru agar bisa menampung seluruh sampah masyarakat dan membawanya langsung ke TPA sehingga permasalahan sampah ini dapat di minimalisir.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimana rencana jaringan persampahan di Kota Piru.

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: Merencanakan kebutuhan jaringan persampahan di Kota Piru.

1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang diharapkan dengan adanya penulisan ini adalah:

1. Manfaat Akademis

Penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan tentang jaringan persampahan di Kota Piru sebagai salah satu upaya meminimalisir timbunan sampah dan mengatasi sampah agar menciptakan lingkungan yang bersih dan mensejahterakan masyarakat.

2. Manfaat Praktis

a. Sebagai bahan informasi untuk penelitian lebih lanjut

b. Bagi masyarakat, penulisan ini memberikan sumbangan pengetahuan tentang persampahan serta memberikan penyadaran akan pentingnya peran mereka dalam mengurangi sampah.

1.5 Sistematika Penulisan

Penyajian dalam laporan ini dijabarkan dalam lima bab, dimana antara bab satu dengan bab lainnya saling berkaitan dengan masing-masing bab terdiri dari sub-sub bab, untuk lebih jelas berikut adalah sistematikanya:

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dipaparkan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat serta sistematika penulisan tentang Rencana Jaringan Persampahan di Kota Piru.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini mengandung kumpulan penelusuran bahan pustaka yang dipakai sebagai landasan pemecahan masalah dan sebagai pedoman memberikan pemahaman keseluruhan secara umum bagaimana definisi tentang sampah, klasifikasi sampah, sampah berdasarkan

(4)

sumbernya, sampah berdasarkan kemampuan pengurainya, jenis-jenis sampah, dampak, jaringan persampahan, pengelolaan sampah, kebijakan-kebijakan terkait persampahan, peran masyarakat, pewadahan dan pengumpulan sampah, operasi pengumpulan sampah, dan fasilitas pengelolaan sampah.

BAB III METODOLOGI

Pada bab ini membahas mengenai tempat dan waktu pelaksanaan penelitian serta metode pengumpulan data.

BAB IV PEMBAHASAN

Pada bab ini menjelaskan tentang gambaran umum kota Piru serta pembahasan terkait Rencana Jaringan Persampahan di Kota Piru.

BAB V PENUTUP

Membahas mengenai kesimpulan dan saran.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum 2.1.1 Sampah

Untuk mendapatkan kesamaan pengertian tentang sampah maka dipakailah beberapa definisi sampah sebagai berikut:

1. Sampah secara umum dapat diartikan sebagai semua benda yang sudah tidak digunakan lagi oleh makhluk hidup, sehingga sifatnya menjadi buangan.

2. Sampah adalah buangan padat yang terdiri dari bahan organik dan anorganik, logam atau non logam yang mudah atau sulit terbakar, bersifat heterogen dan merupakan hasil sampingan aktfitas manusia atau berasal dari proses alamiah. (Tchobanoglous, etal.1999).

3. Sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. (World Health Organization).

4. Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. (UU No. 18 Tahun 2008).

(5)

5. Sampah adalah limbah yang bersifat padat atau setengah padat yang terdiri dari zat organik dan anorganik yang berasal dari. kegiatan manusia yang dianggap tidak berguna lagi. (DPU 1993).

2.1.2 Klasifikasi Sampah

Sumber-sumber sampah menurut DPU (1993), dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Daerah pemukiman (Rumah tangga):

Bersumber dari aktifitas rumah atau dapur serta aktifitas kerumah tanggaan lainnya. Jenis sampah yang dihasilkan berupa sampah basah dan sampah kering.

2. Daerah komersial:

Bersumber dari pasar, pertokoan, restoran, perusahaan, dan sebagainya. Di negara berkembang sebagian besar kategori sampah ini berasal dari pasar dan kebanyakan berupa sampah organik.

3. Daerah institusi:

Sampah yang termasuk kategori ini berasal dari kegiatan penyapuan atau pembersihan jalan-jalan dan trotoar, taman, lapangan, tempat rekreasi dan lain-lain.

Jenis sampah biasanya berupa dedaunan, ranting pohon, kertas pembungkus, puntung rokok, dan debu jalanan.

4. Daerah industri:

Sumber sampah industri berasal dari perusahaan yang bergerak di bidang industri berat, industri ringan, pabrik-pabrik dan sebagainya. Jenis sampah yang dihasilkan tergantung dari bahan baku yang digunakan oleh industri tersebut. Sampah industri ada yang dapat dikategorikan sebagai sampah khusus.

5. Tempat pembangunan, pemugaran, dan pembongkaran:

Sampah yang dihasilkan adalah sampah material atau bahan-bahan bangunan yang tidak terpakai, jenisnya tergantung dari bahan bangunan yang dipakai.

6. Rumah sakit dan balai pengobatan:

Sampah rumah sakit pengelolaannya ditangani secara khusus, kemungkinan mengandung kuman penyakit menular. Sampah yang dihasilkan berupa bekas-bekas operasi, pembalut luka, potongan anatomi, di samping sampah dapur dan kantor.

2.1.3 Sampah Berdasarkan Sumbernya

Berikut ini merupakan beberapa sumber-sumber sampah:

1. Sampah alam

Sampah yang diproduksi di kehidupan liar diintegrasikan melalui proses daur ulang alami, seperti halnya daun-daun kering di hutan yang terurai menjadi tanah. Di luar kehidupan liar, sampah-sampah ini dapat menjadi masalah, misalnya daun-daun kering di lingkungan pemukiman.

(6)

2. Sampah manusia

Sampah manusia adalah istilah yang biasa digunakan terhadap hasil-hasil pencernaan manusia, seperti feses dan urin. Sampah manusia dapat menjadi bahaya serius bagi kesehatan karena dapat digunakan sebagai vektor (sarana perkembangan) penyakit yang disebabkan virus dan bakteri. Salah satu perkembangan utama pada dialektika manusia adalah pengurangan penularan penyakit melalui sampah manusia dengan cara hidup yang higienis dan sanitasi. Termasuk di dalamnya adalah perkembangan teori penyaluran pipa (plumbing). Sampah manusia dapat dikurangi dan dipakai ulang misalnya melalui sistem urinoir tanpa air.

3. Sampah konsumsi

Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang, dengan kata lain adalah sampah-sampah yang dibuang ke tempat sampah. Ini adalah sampah yang umum dipikirkan manusia. Meskipun demikian, jumlah sampah kategori ini pun masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan dan industri.

4. Limbah radioaktif

Sampah nuklir merupakan hasil dari fusi nuklir dan fisi nuklir yang menghasilkan uranium dan thorium yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidup dan juga manusia. Oleh karena itu sampah nuklir disimpan ditempat-tempat yang tidak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas tempat-tempat yang dituju biasanya bekas tambang garam atau dasar laut (walau jarang namun kadang masih dilakukan).

2.1.4 Sampah Berdasarkan Kemampuan Pengurainya

Berdasarkan kemampuan diurai oleh alam (biodegradability), maka sampah dapat dibagi menjadi dua:

a. Biodegradable: yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur, sisa-sisa hewan, sampah pertanian, dan perkebunan.

b. Non-biodegradable: yaitu sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses biologi.

Dapat dibagi lagi menjadi:

 Recyclable: sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena memiliki nilai secara ekonomi seperti plastik, kertas, pakaian dan lain-lain.

 Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat diolah atau diubah kembali seperti tetra packs, carbon paper, thermo coal dan lain-lain.

2.1.5 Jenis-jenis Sampah

Jenis sampah dibagi dalam dua golongan:

1. Berdasarkan karakteristik unsur atau senyawa penyusunnya, sampah dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu:

(7)

a. Sampah organik (degradable)

Yaitu sampah yang mengandung senyawa-senyawa organik dan mudah membusuk terdegradasi oleh mikroba yang hidup dialam. Sampah organik di antaranya daun, kayu, tulang, kertas.

b. Sampah anorganik (undegradable)

Sampah anorganik yang merupakan sampah tidak mudah membusuk, antara lain seperti plastik wadah, kertas, botol, gelas minuman, kayu, pembungkus makanan, dan masih banyak lagi. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersial atau sampah yang pada nantinya laku dijual guna dijadikan produk lain.

c. Sampah beracun (B3)

Sampah dengan jenis ini mempunyai kandungan bahan yang berbahaya maupun beracun. Sampah dengan jenis ini membutuhkan pemrosesan yang lebih kompleks dan teliti. Adapun jenis sampah B3 yaitu limbah rumah sakit ataupun limbah pabrik.

2. Berdasarkan keadaan fisiknya, sampah terbagi atas 5 kategori:

a. Sampah basah

Yaitu sampah yang terdiri dari bahan-bahan organik dan mempunyai sifat mudah membusuk dan biasanya berasal dari sisa makanan. Sifat utama dari sampah basah ini mengandung kadar air yang tinggi dan cepat membusuk terutama di daerah tropis.

b. Sampah kering

Yaitu sampah yang susunannya terdiri dari bahan organik maupun pasanorganik yang sifatnya lembut atau tidak mudah membusuk. Sampah kering ini terdiri dari dua golongan, yaitu sampah kering logam (metalic rubbish), misalnya besi tua, kaleng bekas dan sebagainya, serta sampah kering bukan logam (non metalic rubbish) seperti kertas, kaca, kayu, dan sebagainya.

c. Sampah lembut

Yaitu sampah yang terdiri dari partikel-partikel kecil, ringan, dan mempunyai sifat mudah beterbangan yang dapat membahayakan dan mengganggu pernapasan serta mata, misalnya debu

d. Sampah padat

Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Dapat berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain. Menurut bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik Merupakan sampah yang berasal dari barang yang mengandung bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-

(8)

potongan kayu dari peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting, rumput pada waktu pembersihan kebun dan sebagainya.

e. Sampah berbahaya

Yaitu sampah yang berbahaya bagi manusia, hewan, dan tanaman yang antara lain sampah pathogen, sampah beracun, sampah radioaktif, sampah ledakan.

2.1.6 Dampak Sampah

Pada umumnya sampah memberikan dampak buruk pada masyarakat. Berikut ini adalah lima dampak sampah terhadap manusia dan lingkungan:

1. Dampak terhadap ekosistem perairan

Sampah yang dibuang sembarangan ke berbagai tempat dibedakan menjadi dua yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Pada satu sisi sampah organik ini juga dianggap dapat mengurangi kadar oksigen ke dalam lingkungan perairan, sampah anorganik dapat juga mengurangi sinar matahari yang memasuki ke dalam lingkungan perairan, sehingga mengakibatkan proses esensial dalam ekosistem seperti fotosintesis akan menjadi terganggu. Sampah organik dan anorganik membuat air menjadi keruh, kondisi akan mengurangi organisme yang hidup dalam kondisi seperti itu. Sehingga populasi hewan kecil-kecil akan terganggu.

Rembesan cairan yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan tercemari.

Berbagai makhluk hidup seperti ikan dipastikan akan mati sehingga beberapa spesies ikan akan musnah sehingga akan merubah kondisi ekosistem perairan secara biologis.

Penguraian sampah yang dibuang secara langsung ke dalam air atau sungai akan tercipta asam organik dan gas cair organik, seperti misalnya metana, selain menimbulkan gas yang berbau, gas ini dengan konsentrasi yang tinggi akan menimbulkan peledakan.

2. Dampak terhadap ekosistem daratan

Sampah yang dibuang secara langsung dalam ekosistem darat akan mengundang organisme tertentu menimbulkan perkembangbiakan seperti tikus, kecoak, lalat, dan lain sebagainya. Perkembangbiakan serangga atau hewan tersebut dapat meningkat tajam.

3. Dampak terhadap kesehatan

Pengolahan sampah yang kurang sehat sehingga menimbulkan pembuangan sampah yang tidak terkontrol, merupakan koloni yang cocok dari beberapa organisme dan menarik beberapa serangga-serangga yang menyukai tempat seperti itu, yang biasanya menjangkitkan beberapa penyakit seperti:

a. Penyakit diare, tifus, kolera yang dengan sigap menyebar dengan cepat karena virus dan bakteri yang berasal dari sampah dengan pengelolaannya yang tidak tepat bercampur dengan air.

b. Penyakit jamur mudah menyebar (jamur kulit)

(9)

c. Penyakit yang disebabkan oleh cacing pita, penyakit ini tersebar oleh rantai makanan dan pintu utamanya menggunakan hewan-hewan yang memakan makanan sampah tersebut yang kemudian ditularkan ke manusia.

d. Sampah beracun yang dibuang ke laut 4. Dampak terhadap lingkungan

Selain berdampak buruk terhadap kesehatan manusia, penanganan sampah yang tidak baik juga mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan. Sering kali sampah yang menumpuk di saluran air mengakibatkan aliran air menjadi tidak lancar dan berpotensi mengakibatkan banjir. Selain itu, sampah cair yang berada di sekitar saluran air akan menimbulkan bau tak sedap.

5. Dampak sampah terhadap sosial dan ekonomi

Penanganan sampah yang tidak baik juga berdampak pada keadaan sosial dan ekonomi. Beberapa di antaranya adalah:

 Meningkatnya biaya kesehatan karena timbulnya penyakit

 Kondisi lingkungan tidak bersih akibat penanganan sampah yang tidak baik.

Hal ini pada akhirnya akan berdampak pada kehidupan sosial masyarakat secara keseluruhan.

2.1.7 Jaringan Persampahan

Jaringan persampahan adalah kegiatan-kegiatan terpadu yaitu dimulai dari kegiatan pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan akhir. Ketiganya dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berhubungan secara timbal balik, yaitu penduduk, budaya masyarakat dan organisasi pengelola sampah.

2.1.8 Pengelolaan Sampah

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengolah sampah agar lebih ramah lingkungan. Beberapa contoh upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan cara reuse reduce recycle.

Reuse

Reuse adalah sebuah upaya untuk menggunakan kembali barang-barang yang masih bisa dipakai. Reuse bisa juga diartikan sebagai mengalih fungsikan barang, sehingga barang-barang yang masih layak pakai dapat digunakan untuk membuat barang lain.

Reduce

Reduce merupakan suatu upaya untuk mengurangi penggunaan aneka bahan yang dapat merusak lingkungan. Reduce bertujuan untuk mengajak masyarakat agar dapat mengurangi sampah rumah tangga, baik yang mudah terbakar maupun yang tidak mudah terbakar.

Recycle

(10)

Recycle adalah mendaur ulang barang dengan cara menggunakan kemasan makanan atau minuman menjadi barang yang lebih berguna. Konsep recycle berupaya semaksimal mungkin untuk memanfaatkan residu melalui proses, baik sebagai bahan baku seperti produk aslinya maupun sebagai produk yang berbeda.

2.1.9 Kebijakan-kebijakan Terkait Persampahan

Tentang persampahan diatur berdasarkan kebijakan pemerintah melalui:

1. UU No. 18/2008 disebutkan mengenai mengedepankan pengurangan sampah, penutupan semua Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) open dumping pada tahun 2013, dan monitoring kualitas lingkungan pasca penutupan TPA sampai 20 tahun.

2. Permen PU No. 21/PRT/2006 terkait peningkatan cakupan layanan dan kualitas pengelolaan.

3. PP No. 81/2012 tentang setiap orang wajib melakukan pengurangan dan penanganan sampah, serta pemerintah kabupaten/kota menyediakan fasilitas pengolahan sampah, antara lain berupa TPS 3R atau Tempat Pengelolaan Sampah Reuse (menggunakan kembali), Reduce (mengurangi), dan Recycle (daur ulang).

4. Permen PU No. 3/2013 tentang pemilahan sampah dilakukan oleh (1) setiap orang pada sumbernya; (2) Pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya; (3) Pemerintah kabupaten/kota

5. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Disebutkan bahwa setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib mengelola, mengurangi, menyimpan, mengumpulkan, menimbun, dan mengolah limbah yang dimaksud. Selain itu, setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib memiliki izin lingkungan.

2.1.10 Peran Masyarakat

Masyarakat berperan serta dalam proses pengambilan keputusan, penyelenggaraan, dan pengawasan dalam kegiatan pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah.

Berikut ini bentuk peran serta masyarakat:

1. Pemberian usul, pertimbangan, dan saran kepada pemerintah maupun pemerintah dan/atau pemerintah daerah dalam kegiatan pengelolaan sampah.

2. Pemberian saran dan pendapat dalam perumusan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga.

3. Pelaksanaan kegiatan penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang dilakukan secara bermandiri atau bermitra dengan pemerintah kabupaten atau kota.

4. Pemberian pendidikan, pelatihan, kampanye, dan pendampingan oleh kelompok masyarakat kepada anggota masyarakat dalam pengelolaan sampah untuk mengubah perilaku anggota masyarakat.

(11)

2.1.11 Pewadahan dan Pengumpulan Sampah

Menurut SNI 19-2454-2002 Pewadahan sampah adalah aktivitas menampung sampah sementara dalam suatu wadah individual atau komunal ditempat sumber sampah. Wadah individual adalah wadah yang menampung sampah dari sebuah rumah, atau sebuah bangunan. Wadah komunal menampung sampah dari beberapa bangunan/sumber sampah.

Pengumpulan sampah adalah cara atau proses pengambilan sampah mulai dari tempat pewadahan/penampung sampah dari sumber timbulan sampah sampai tempat pengumpulan sementara atau sekaligus ketempat pembuangan akhir (TPA).

2.1.12 Operasi Pengumpulan Sampah a. Pola individual langsung

Pengumpulan dilakukan oleh petugas kebersihan yang mendatangi tiap-tiap bangunan/sumber sampah (door to door) dan langsung diangkut untuk dibuang di Tempat Pembuangan Akhir. Pola pengumpulan ini menggunakan kendaraan truk sampah biasa, dump truck atau compactor truck

b. Pola individual tidak langsung

Pola individual tidak langsung adalah pengumpulan sampah yang dilakukan oleh petugas kebersihan dengan cara mendatangi tiap-tiap sumber penghasil sampah dengan menggunakan gerobak untuk kemudian dibawa ke tempat penampungan sementara sampah atau transfer dipo.

c. Pola komunal langsung

Pola Komunal langsung adalah pengumpulan sampah yang dilakukan sendiri oleh masing-masing penghasil sampah (rumah tangga, pertokoan, dsb) ke tempat penampungan sampah komunal yang telah disediakan atau langsung ke truk sampah yang mendatangi titik-titik pengumpulan, baik berupa bak ataupun container yang telah disediakan oleh Dinas Kebersihan

d. Pola komunal tidak langsung

Pola komunal tidak langsung adalah pengumpulan sampah yang dilakukan sendiri oleh masyarakat ke wadah komunal kecil (volume 250 liter) atau gerobak yang lewat pada jalan tertentu. Sampah tersebut akan dibawa ke TPS terdekat

2.1.13 Fasilitas Pengelolaan Sampah

1. Tempat Penampungan Sementara (TPS)

Sampah yang dihasilkan kemudian akan masuk ke proses pertama, yaitu Tempat Penampungan Sementara (TPS). TPS adalah tempat penampungan sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran ulang, pengolahan, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), atau Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).

TPS harus memenuhi kriteria teknis sebagai berikut:

a. Luas TPS sampai dengan 200 m2;

(12)

b. Tersedia sarana untuk mengelompokkan sampah menjadi paling sedikit 5 (lima) jenis sampah (sampah organik, non-organik, kertas, B3, dan residu) c. Jenis pembangunan penampung sampah sementara bukan merupakan wadah

permanen;

d. Luas lokasi dan kapasitas sesuai kebutuhan;

e. Lokasinya mudah diakses;

f. Tidak mencemari lingkungan;

g. Penempatan tidak mengganggu estetika dan lalu lintas; dan h. Memiliki jadwal pengumpulan dan pengangkutan.

2. TPS 3R

Selanjutnya sampah akan dikelola di TPS 3R. TPS 3R dikonsepkan untuk Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali) dan Recycle (daur ulang), dan ditujukan untuk melayani suatu kelompok masyarakat (termasuk di kawasan masyarakat berpenghasilan rendah) yang terdiri dari minimal 400 rumah atau kepala keluarga. Konsep utama pengolahan sampah pada TPS 3R adalah untuk mengurangi kuantitas dan/atau memperbaiki karakteristik sampah, yang akan diolah secara lebih lanjut di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah.

Persyaratan TPS 3R yang tertulis dalam Permen No. 2 tahun 2013 pasal 29 ayat (2) dan ayat (3) harus memenuhi persyaratan teknis seperti:

a. Luas TPS 3R, lebih besar dari 200 m2;

b. Tersedia sarana untuk mengelompokkan sampah menjadi paling sedikit 5 (lima) jenis sampah (organik, non-organik, kertas, B3, dan residu)

c. TPS 3R dilengkapi dengan ruang pemilahan, pengomposan sampah organik, dan/atau unit penghasil gas bio, gudang, zona penyangga, dan tidak mengganggu estetika serta lalu lintas;

d. Jenis pembangunan penampung sisa pengolahan sampah di TPS 3R bukan merupakan wadah permanen;

e. Penempatan lokasi TPS 3R sedekat mungkin dengan daerah pelayanan dalam radius tidak lebih dari 1 km;

f. Luas lokasi dan kapasitas sesuai kebutuhan;

g. Lokasinya mudah diakses;

h. Tidak mencemari lingkungan; dan

i. Memiliki jadwal pengumpulan dan pengangkutan.

3. TPST

TPST adalah tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendauran ulang, pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah. Jika

(13)

dilihat dari tahapan prosesnya tingkatannya, TPST memiliki sistem proses sampah yang lebih kompleks dibandingkan dengan TPS 3R (Tempat Pemrosesan Sampah Reduce-Reuse-Recycle), karena TPST mengelola sampai pada pemrosesan akhir sampah sehingga aman untuk dikembalikan ke media lingkungan.

Persyaratan TPST yang disebutkan dalam Permen No. 2 tahun 2013 pasal 32 harus memenuhi persyaratan teknis seperti:

a. Luas TPST lebih besar dari 20.000 m2;

b. Penempatan lokasi TPST dapat di dalam kota dan atau di TPA;

c. Jarak TPST ke pemukiman terdekat paling sedikit 500 m;

d. Pengolahan sampah di TPST dapat menggunakan teknologi sebagaimana dimaksud pada Pasal 31 ayat (3); dan

e. Fasilitas TPST dilengkapi dengan ruang pemilah, instalasi pengolahan sampah, pengendalian pencemaran lingkungan, penanganan residu, dan fasilitas penunjang serta zona penyangga.

4. TPA

TPA merupakan tempat untuk memproses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan. Perbedaan signifikan antara TPST dengan TPA adalah dalam kebijakan sistem pengelolaan sampahnya.

TPA melakukan pengurugan sampah dengan metode landfill yang dikembangkan menjadi controlled landfill dan sanitary landfill.

Referensi

Dokumen terkait

Pada beberapa lokasi atau tempat di Kota Binjai pembangunan tidak selaras dengan kaidah perkotaan yang berkelanjutan seperti; lokasi tempat pembuangan sampah akhir yang

Fasilitas kebersihan pasar sepeerti keranjang sampah, tempat pembuangan sampah sementara (TPS), dan mobil pengangkut sampah. Selain itu Fasilitas kerja petugas

persampahan yang baik terutama dalam penyediaan lokasi TPS. Sarana pengangkutan sampah masih kurang dan sebagian

Tahap pewadahan dan pengangkutan sampah dari sumber hingga tempat pembuangan sampah sementara (TPSS) adalah tanggung jawab setiap sumber sampah. Pada prakteknya,

 Persampahan meliputi produksi sampah tiap hari, sistem pengangkutan sampah, pemusnahan sampah, jenis dan letak pembuangan sampah (TPS).  Gas meliputi kebutuhan gas

Dari uraian yang telah dijelaskan diatas maka permasalahan dalam penulisan ini adalah banyaknya timbulan sampah dan TPS liar yang belum teratasi oleh Dinas Kebersihan

Pedagang skala mikro informal/pedagang kaki lima yang difasilitasi penataan lokasi dan sarana usaha, pemasaran serta promosi di perkotaan dan daerah wisata (bantuan,

Upaya tersebut bertujuan untuk mengurangi sampah yang akan diurug di landfill •Sarana di tingkat kawasan atau TPS dapat berfungsi untuk pengumpulan sampah berkategori B3 dari kegiatan