PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pentingnya pendidikan bagi manusia juga dijelaskan dalam agama Islam, bahkan dikatakan bahwa orang yang berilmu akan mempunyai derajat lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak berilmu. Dan apabila dikatakan: “Berdiri”, maka berdirilah, sesungguhnya Allah akan membangkitkan kembali orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Fokus Penelitian
Berdasarkan kenyataan diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti persepsi masyarakat terhadap keberlanjutan pendidikan anak (studi kasus di Desa Jetis RT 11 RW 05 Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso, 2018). Bagaimana persepsi masyarakat terhadap anak-anak yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Desa Jetis RT 11 RW 05 Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso Tahun 2018.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
12 Tim Revisi Pedoman Karya Ilmiah IAIN Jember, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, (Jember: IAIN Jember Press, 2015), 73. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada para pembaca sehingga dapat memahami keberlanjutan pendidikan anak.
Definisi Istilah
Jadi kesinambungan pendidikan dalam penelitian ini adalah pendidikan yang terus berkembang sampai pada pendidikan tinggi. Seperti yang terjadi di Desa Jetis, sebagian masyarakat menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.
Sistematika Pembahasan
KAJIAN KEPUSTAKAAN
Penelitian Terdahulu
16 Amelia Ruwaidah R, Persepsi Terhadap Lembaga Pendidikan Masyarakat (Studi Kasus SMP Plus Mambaul Ulum, Dusun Kampung Tengah, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember, 2009), Skripsi STAIN Jember 2009. Persepsi Terhadap Lembaga Pendidikan Masyarakat (Studi Kasus SMP Plus Mambaul Ulum , Dusun Kampung Tengah Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember, 2009).
Kajian Teori
- Persepsi Masyarakat
- Keberlangsungan Pendidikan
- Persepsi Masyarakat terhdap Pendidikan
Dalam masyarakat modern, sering kali dilakukan pembedaan antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan. Penduduk di pedesaan umumnya bermatapencaharian dari pertanian. Meski ada tukang kayu, buruh genteng dan genteng, pembuat gula, namun inti pekerjaan penduduknya adalah pertanian. Pekerjaan-pekerjaan selain bertani hanya bersifat pekerjaan paruh waktu saja karena ketika tiba masa panen atau masa tanam padi maka pekerjaan – pekerjaan paruh waktu tersebut dengan cepat ditinggalkan. Masyarakat pedesaan biasanya dipersepsikan oleh masyarakat perkotaan sebagai masyarakat yang tenteram, harmonis, yaitu masyarakat yang tenteram dan tenteram, sehingga masyarakat perkotaan memandangnya sebagai tempat melepas penat dari segala hiruk pikuk atau kebingungan. pikiran.
Namun sebenarnya dalam masyarakat pedesaan kita mengenal berbagai macam gejala, terutama mengenai perbedaan pendapat atau pemahaman, yang justru menjadi penyebab masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan sosial. Masyarakat pedesaan sangat menghargai mereka yang mampu bekerja keras tanpa bantuan orang lain. Jadi jelas masyarakat pedesaan bukanlah masyarakat yang suka berdiam diri tanpa aktivitas, tanpa aktivitas apapun, namun kenyataannya justru sebaliknya.
Terdapat perbedaan perhatian antara penduduk desa dan masyarakat kota, khususnya dalam hal kebutuhan hidup. Dengan melihat perbedaan-perbedaan yang ada diharapkan dapat mengurangi kesulitan dalam menentukan apakah suatu masyarakat dapat disebut masyarakat pedesaan atau masyarakat perkotaan.41. Kekuatan yang mempersatukan masyarakat pedesaan berasal dari adanya kesamaan sosial, seperti kesamaan adat istiadat, kesamaan tujuan, dan kesamaan pengalaman.
Dari penjelasan di atas kita dapat melihat bahwa manfaat pendidikan sangat besar bagi masyarakat, khususnya bagi masyarakat pedesaan. Dimana mayoritas masyarakat pedesaan masih jauh dari kata terbelakang, sehingga menyebabkan anggapan yang terlalu rendah terhadap pendidikan dan kurangnya respon terhadap penyediaan pendidikan.
METODE PENELITIAN
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Lokasi penelitian
Subyek penelitian
Jenis observasi yang akan digunakan adalah observasi partisipan, dimana peneliti datang ke tempat dilakukannya kegiatan dan peneliti akan terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Secara sederhana, wawancara adalah peristiwa atau proses interaksi antara pewawancara dengan sumber informasi atau orang yang diwawancarai melalui komunikasi langsung.66 Jenis wawancara yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tidak terstruktur. yaitu wawancara bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang disusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan data. 66Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif & Penelitian Gabungan (Jakarta: Prenadamedia Group Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan Litbang, 235.
Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data wawancara dengan tujuan memperoleh informasi yang jelas dan mendalam. Menampilkan data memudahkan untuk memahami apa yang terjadi dan merencanakan pekerjaan selanjutnya berdasarkan apa yang dipahami. Dalam penelitian kualitatif dimungkinkan untuk menarik kesimpulan untuk menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan sejak awal.
Temuan dapat berupa gambaran atau gambaran suatu benda yang sebelumnya masih redup atau gelap sehingga menjadi jelas setelah dilakukan pemeriksaan 70. Untuk memperoleh temuan yang valid perlu dilakukan uji kredibilitasnya dengan menggunakan teknik memperluas kehadiran. peneliti di lapangan, observasi lebih mendalam, triangulasi (menggunakan berbagai sumber, metode, peneliti, teori), diskusi sejawat, analisis kasus lain, penelusuran kesesuaian hasil, dan member check. Triangulasi sumber adalah membandingkan dan memeriksa kembali tingkat keandalan informasi yang diperoleh melalui waktu dan instrumen yang berbeda.
Tahap-tahap Penelitian
Persepsi masyarakat terhadap anak-anak yang menempuh pendidikan tinggi di Desa Jetis, RT 11 RW 05, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, 2018. Menurut saya, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sangat penting untuk memperluas pola pikir anak. Lebih lanjut, Bambang Wahyudi menjelaskan kepada peneliti pandangannya terhadap anak-anak yang masuk perguruan tinggi.
Persepsi masyarakat terhadap anak yang tidak melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Desa Jetis RT 11 RW 05 Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso Tahun 2018. Saya memilih untuk tidak melanjutkan karena keluarga saya kurang mampu, bu ingin melanjutkan studi. Anak-anak yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi cenderung mempunyai lebih banyak masalah perkembangan dan lebih sedikit pengalaman pendidikan dan lingkungan.
Lebih baik bekerja, belum tentu jika kuliah akan mendapat pekerjaan setelah lulus. Kalau menurut saya, anak tidak kuliah tidak masalah, apalagi kalau perempuan, Bu. Ada juga orang tua yang ingin anaknya masuk perguruan tinggi, namun anaknya tidak mau.
Masuk perguruan tinggi sangat penting untuk memperluas pola pikir anak dan menambah pengalaman. Persepsi masyarakat desa Yetis terhadap pendidikan tinggi baik karena mereka beranggapan bahwa menempuh pendidikan tinggi sangat penting karena dapat memperluas pola pikir anak-anak.
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
Gambaran Objektif Penelitian
Penyajian Data dan Analisis Data
Setelah meminta surat izin, peneliti menyerahkannya kepada Lurah Desa Jetis, RT 11 RW 05, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso untuk diketahui apakah diperbolehkan melakukan penelitian atau tidak. Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa dari 5247 penduduk Desa Jetis, sebanyak 534 jiwa berpendidikan tamat SMA. Adapun mengenai rumusan masalah, maka penelitian ini hanya berfokus pada dua hal yang telah dirumuskan sebelumnya, yaitu: (1) Persepsi masyarakat terhadap anak yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Desa Jetis RT 11 RW 05 Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso Tahun 2018 (2) Persepsi masyarakat terhadap anak tidak melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Desa Jetis RT 11 RW 05 Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso Tahun 2018.
Sebagai seorang guru dan orang tua, saya sangat mengutamakan anak saya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi ya kak, karena di zaman yang serba modern ini, seseorang dituntut untuk menjadi pintar, cerdas bahkan berpendidikan tinggi. Pernyataan lain juga disampaikan Robi selaku siswa SMA yang akan melanjutkan kuliah, ujarnya. Jadi, jika Anda sudah lulus SMA, sebaiknya lanjutkan ke perguruan tinggi agar ilmunya semakin luas dan mendalam.
Aku hanya ingin anakku kuliah, tapi anakku tak mau melanjutkan, kak. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap anak-anak yang tidak melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Desa Jetis RT 11 RW 05 Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso pada tahun 2018. Dan jika melanjutkan ke perguruan tinggi maka melatih pikiran untuk tidak hanya fokus pada apa yang tertulis di buku, tapi untuk berpikir lebih luas tentangnya.. sesuatu.
Dari data di atas terlihat bahwa masuk perguruan tinggi itu penting karena anak yang bersekolah lebih dihormati di masyarakat dan menjadikan pemikiran anak lebih luas dan lebih berpengalaman. Namun masih ada saja yang menganggap kuliah hanya membuang-buang uang dan belum tentu mendapatkan pekerjaan.
Pembahasan Temuan
Seperti yang diungkapkan oleh informan yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi, bahwa persepsi masyarakat Desa Jetis terhadap anak yang tidak melanjutkan pendidikan perguruan tinggi adalah sebagian warga Desa Jetis menganggap melanjutkan perguruan tinggi itu penting, namun terkadang orang tuanya ingin anaknya melanjutkan, padahal itu bukan kemauan dari anak itu sendiri. Ada juga yang menganggap kuliah itu tidak begitu penting, karena meski kuliah belum tentu mendapat pekerjaan tetap, selain itu orang tua juga menginginkan anak. Meskipun persepsi masyarakat terhadap pendidikan tinggi di desa Jetis baik, namun minat masyarakat terhadap pendidikan tinggi tidak terlalu tinggi atau kurang berminat terhadap pendidikan tinggi sehingga sebagian masyarakat di desa Jetis menganggap bahwa menempuh pendidikan tinggi itu penting, terkadang orang tua menginginkannya. lanjut anak-anak itu, namun tidak ada kemauan dari anak itu sendiri.
Ada juga yang beranggapan bahwa kuliah itu tidak begitu penting karena walaupun kuliah belum tentu mendapatkan pekerjaan tetap, selain itu orang tua ingin anaknya, apalagi perempuan, cepat menikah. alih-alih pergi ke sekolah. Bagaimana pandangan masyarakat terhadap anak-anak yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Desa Jetis Rt 11 Rw 05 Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso Tahun 2018. Bagaimana pandangan masyarakat terhadap anak-anak yang tidak melanjutkan pendidikan di Desa Jetis Rt 11 Rw 05 Kecamatan Curahdami , Kabupaten Bondowoso pada tahun 2018.
Persepsi masyarakat Desa Jetis RT 11 RW 05 terhadap kelangsungan pendidikan anak di Desa Jetis RT 11 RW 05 Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap anak yang melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi di Desa Jetis RT 11 RW 05 Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso Tahun 2017. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap anak yang tidak melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi di Desa Jetis RT 11 RW 05 Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso Tahun 2017.
PENUTUP
Kesimpulan
Hal ini sejalan dengan pandangan Wiji Suwarno yang mengatakan bahwa pendidikan harus terus ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya. Hal ini senada dengan pendapat Lisa Hikmah, ia menjelaskan bahwa sebagian besar orang tua berpendapat bahwa memberikan pekerjaan kepada anak sejak dini merupakan proses pembelajaran agar mereka bisa lebih menghargai pekerjaan dan tanggung jawab. Selain itu, anak yang bekerja diharapkan dapat membantu mengurangi beban kerja dan meningkatkan pendapatan keluarga.101.
Saran-Saran
Persepsi masyarakat terhadap keberadaan Lembaga Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam Kraton Yosowilangun Lumajang Tahun Pelajaran 2011/2012. Persepsi masyarakat yang buruk terhadap pentingnya pendidikan Islam (studi kasus masyarakat Desa Karangduren, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember).