PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti mengenai dampak dari keberadaan Mega Zanur Mall. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa keberadaan Mega Zanur Mall memberikan dampak dan pengaruh terhadap kondisi lingkungan, sosial, dan perekonomian masyarakat sekitar.
KAJIAN PUSTAKA
Konsep Pasar Modern (Mall)
Dari segi harga, pasar modern mempunyai label harga yang jelas (harga tercantum sebelum dan sesudah pajak). Dari segi sosial, pasar modern dan pasar tradisional serta usaha ritel Waserda terletak pada wilayah yang umumnya berdekatan. Pada umumnya pengusaha pasar modern mendirikan usahanya di dekat pasar tradisional atau di kawasan Waserda.
Dari segi ekonomi, pasar modern berada pada pasar yang sama dengan pasar tradisional dan usaha ritel Waserda yaitu pasar eceran. Segala barang yang diperjualbelikan di pasar modern dapat diperoleh di pasar tradisional maupun di Waserda. Dari segi permodalan, pasar modern memiliki modal yang besar, sedangkan pelaku usaha di pasar tradisional dan Waserda memiliki modal yang terbatas.
Pasar modern dikelola dengan manajemen yang modern dan terstruktur, sedangkan pasar tradisional Waserda dan usaha ritel masih dikelola secara konvensional. Perkembangan pasar modern yang terus berkembang dari waktu ke waktu dapat mengancam keberadaan pasar sentral dan usaha ritel lainnya. Dari segi kenyamanan, berbelanja di pasar modern jauh lebih nyaman dibandingkan berbelanja di pasar induk.
Berbagai jenis barang yang dijual. Selain menjual barang-barang lokal, pasar modern juga menjual berbagai barang impor. Namun perkembangan pasar tradisional saat ini semakin terpuruk karena harus bersaing dengan pasar modern yang semakin menjamur. Persaingan antara pasar tradisional dan pasar modern bukanlah persaingan tidak sehat karena kedua pasar mempunyai konsep yang berbeda.
Hubungan Pasar Modern dengan Pasar Sentral
Landasan Teori
Perlu dicatat bahwa William James terkenal karena melanjutkan dan mengembangkan serta mengembangkan konsep dan { dirinya sendiri. Blau mengatakan bahwa 'sementara orang lain mungkin diberi imbalan yang sesuai dengan menyatakan kepuasan karena telah membantu mereka, pihak yang dibantu tidak perlu memaksakan diri dan menghabiskan waktunya mendiskusikan bantuan dari orang yang membantunya. Setelah ikatan awal terbentuk, imbalan yang mereka berikan satu sama lain dapat berfungsi untuk memelihara dan memperkuat ikatan tersebut.
Namun di balik itu, ketimpangan imbalan juga dapat melemahkan atau bahkan menghancurkan perkumpulan itu sendiri, sehingga menimbulkan eksploitasi kekuasaan. Imbalan yang dimaksud pertama ini adalah imbalan yang bersifat intrinsik, seperti cinta, kasih sayang, kasih sayang, dan sebagainya. Imbalan yang kedua adalah imbalan yang bersifat ekstrinsik, seperti uang, barang, dan materi materi lainnya, karena setiap kelompok tidak dapat memberikan imbalan yang setara, sehingga di sinilah terjadi ketimpangan kekuasaan.
Misalnya pihak pertama membutuhkan jasa pihak kedua, dan pihak kedua tidak memberikan bantuan yang memadai, maka pihak pertama akan mempunyai tiga pilihan alternatif, diantaranya adalah pihak pertama memberikan tekanan kepada pihak kedua untuk menawarkan bantuan, maka pihak pertama akan meminta bantuan untuk mendapatkan bantuan dari pihak lain, dan pihak pertama akan berusaha semaksimal mungkin dengan cara yang berbeda walaupun tanpa bantuan salah satu pihak. Namun jika semua pilihan tersebut tidak berhasil, maka pihak pertama hanya mempunyai satu pilihan terakhir yaitu menyerah kepada pihak yang mampu memberikan bantuan kepada pihak pertama, yang pada akhirnya dapat menimbulkan perselisihan antar pihak yang memberikan bantuan. dan pihak-pihak yang menerima bantuan, persentase kekuasaan terbesar tetap berada pada pihak yang memberikan bantuan.
Kerangka Pikir
Pemerintah dan para pelaku usaha ritel serta pasar sentral harus melakukan upaya untuk mempertahankan eksistensi usahanya.
Jenis dan Lokasi Penelitian
Informan Penelitian
Sumber Data
Terdapat berbagai gambar terkait kegiatan dan kondisi di lokasi penelitian. Dalam hal ini gambar atau foto berkaitan dengan dampak sosial ekonomi dari keberadaan pusat perbelanjaan Mega Zanur bagi para pedagang di pasar induk Bulukumba. Dokumen dan arsip merupakan bahan tertulis yang berkaitan dengan suatu peristiwa atau kegiatan tertentu, termasuk gambaran lokasi Mall Mega Zanur dan pasar induk Bulukumba.
Teknik Pengumpulan Data
Sumber informasi non-manusia ini sering kali diabaikan dalam penelitian kualitatif, meskipun sumber-sumber tersebut sebagian besar tersedia dan siap digunakan.
Instrumen Penelitian
Mayoritas barang yang dijual di pasar induk Bulukumba adalah pakaian atau kain yang belum jadi. Di Pasar Sentral Bulukumba juga banyak terdapat orang yang berjualan sepatu, sandal, tas, aksesoris serta makanan atau jajanan pasar. Bahasa yang digunakan masyarakat dalam berkomunikasi di pasar induk Bulukumba adalah bahasa daerah Bulukumba, walaupun ada juga yang menggunakan bahasa Indonesia.
Selain itu, terdapat pula masyarakat yang berjualan barang bekas/setengah bekas di Pasar Induk Bulukumba, misalnya: barang elektronik, perhiasan, aksesoris, suku cadang sepeda. Selain berjualan barang di pasar induk Bulukumba, Anda juga bisa menjumpai aktivitas masyarakat seperti kuli angkut, meski hanya sedikit. Sedangkan tanaman yang dijual di Pasar Induk Bulukumba antara lain: tanaman hias, pohon buah-buahan, dan sayur-sayuran.
Berbelanja di pasar induk memungkinkan pembeli untuk menegosiasikan harga barang hingga mencapai kesepakatan dengan pedagang. Barang-barang yang dijual di Pasar Induk Bulukumba dan pusat perbelanjaan mempunyai perbedaan harga yang cukup signifikan. Harga suatu barang di pasar induk bisa mencapai sepertiga harga barang yang sama yang dijual di pusat perbelanjaan, terutama untuk produk segar seperti sayuran dan rempah-rempah.
Judul Skripsi: Dampak Sosial Ekonomi Keberadaan Mall Mega Zanur terhadap Pedagang di Pasar Induk Bulukumba.
Teknik Analisis Data
Teknik Keabsahan Data
Pusat perbelanjaan tidak jauh berbeda dengan pasar induk, namun di dalam pusat perbelanjaan penjual dan pembeli tidak berkomunikasi secara langsung, melainkan pembeli melihat daftar harga yang tertera di bar, yang ada di dalam gedung, dan mereka melakukan sendiri pelayanannya, dan harga semua barang tidak bisa ditawar seperti harga barang di pasar tradisional. Namun para penjual di pasar ini menjual barang dagangannya dengan cara yang khusus, yakni pada dasarnya hanya menjual pakaian, dan penjual gorden juga hanya menjual berbagai jenis gorden dengan motif dan ukuran yang berbeda-beda. Logikanya, para pedagang di pasar induk memiliki sumber daya yang cukup terbatas, sehingga hanya mampu membeli barang dalam jumlah sedikit.
Pasar sentral mempunyai pedagang yang menjual barang, namun biasanya mereka tidak terspesialisasi seperti pasar sentral Bulukumba. Hal ini terlihat dari pedagang yang menjual pakaian anak dan dewasa dijual oleh satu pengecer. Apalagi, sudah menjadi hal yang lumrah jika kita membeli dan menjual berbagai jenis barang di pasar, mulai dari sayur-sayuran, sembako, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Barang-barang yang diperjualbelikan di pasar induk ini antara lain: kebutuhan sehari-hari seperti sandang, sembako, sayur mayur, buah-buahan dan jajanan pasar.
“Pedagang yang menjual barang di pasar induk biasanya tidak terspesialisasi, hal ini terlihat pada penjual pakaian, dimana pakaian yang dijualnya berkisar dari pakaian anak-anak hingga pakaian dewasa, bahkan pakaian tersebut biasanya dijual bersamaan dengan tas dan sepatu. . ." Situasi pasar sentral yang kotor, serta cara pengemasan barang di pasar sentral juga membuatnya kurang diminati konsumen, bahkan semakin hari, bukannya membaik, kondisinya malah semakin buruk. Kami tidak' Tidak perlu berbelanja di pasar modern hanya untuk “prestise”, namun kita juga harus sadar akan kemampuan finansial kita dan tidak terlalu memaksakan diri.
Selain itu, jika kita berbelanja di pasar tradisional, kita dapat membantu perekonomian para pedagang di sana yang sebagian besar merupakan masyarakat kelas bawah, sekaligus membantu kelangsungan hidup pasar tradisional di Kabupaten Bulukumba.
HASIL PENELITIAN
Letak Geografis Objek Penelitian
Sejarah Singkat Kabupaten Bulukumba
Mitos ini pertama kali muncul pada abad ke-17 M saat terjadi perang saudara antara dua kerajaan besar di Sulawesi, yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Been. Bangkeng Buki' (secara harfiah berarti kaki bukit) yang merupakan barisan perbukitan dari Gunung Lompobattang diklaim oleh Kerajaan Gowa sebagai batas wilayahnya dari Kindang hingga wilayah timur. Namun Kerajaan Bone bersikeras mempertahankan Bangkeng Buki' sebagai wilayah kekuasaannya dari barat hingga selatan.
Pengenalan Bulukumba sebagai nama kabupaten diawali dengan diundangkannya UU No. 29 Tahun 1959 tentang pembentukan daerah. Ahmad Mattulada (ahli sejarah dan kebudayaan) hari jadi Kabupaten Bulukumba ditetapkan pada tanggal 4 Februari 1960, dengan Keputusan Daerah No. 13 Tahun 1994. Dalam arti hukum formal, Kabupaten Bulukumba resmi menjadi Wilayah II. Kabupaten ini dibentuk oleh DPRD Kabupaten Bulukumba pada tanggal 4 Februari 1960, setelah itu bupati pertama yaitu Andi Patarai dilantik pada tanggal 12 Februari 1960.
Paradigma sejarah, budaya, dan agama memberikan nuansa moralitas dalam sistem pemerintahan, yang dalam tatanan tertentu menjadi etika bagi struktur kehidupan bermasyarakat melalui asas “Mali’ siparappe, Tallang sipahua.”. Filosofi semboyan ini dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu sejarah, budaya, dan agama.
Keadaan Penduduk
Ajaran agama Islam yang pada intinya tasawwufin, memajukan kesadaran beragama di kalangan pemeluknya dan menggerakkan sikap keimanan agar zuhud, suci dan batiniah, aman dunia dan akhirat dalam kerangka tauhid ‘appasewang’ (satuan ). in Allah SWT) Tahun 2012-2013 menurut BPS kabupaten.
Bidang Pendidikan
Berdasarkan data PDRB Kabupaten Bulukumba, sektor pertanian merupakan sektor basis yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pembangunan ekonomi daerah yaitu sebesar 52,9%. Subsektor sektor pertanian yang paling berkembang di Kabupaten Bulukumba adalah tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan.
Agama dan Kepercayaan
Hasil Penelitian dan Pembahasan
- Aktifitas Mall Mega Zanur
- Aktifitas Pedagang Kaki Lima di Pasar Sentral Bulukumba
Kembali ke sifat umum masyarakat Bulukumba yang menyukai barang gratisan, window shopping di mall memang tidak disebut-sebut sebagai aktivitas favorit masyarakat Bulukumba. Pusat perbelanjaan memiliki area yang lebih luas, bersih, rapi dan dilengkapi AC, serta aman dari perampokan dan penculikan. Di mall-mall saat ini banyak terdapat berbagai macam area bermain, termasuk yang biasanya hanya dilakukan di arena outdoor seperti panjat dinding.
Di Mall yang ada AC, kebersihan, kenyamanan dan gengsi yang tinggi menjadi andalan Mall, dan hal tersebut tidak dimiliki oleh Pasar Sentral. Banyak sekali event-event yang diadakan di mall dan semuanya bisa menjadi hiburan gratis, bahkan atraksi di mall pun bisa menjadi hiburan tersendiri. “Saat ini pun persaingan antar mall menyangkut desain dan atraksi yang ada di dalam mall, semua itu tentunya harus gratis.”
Untuk produk segar seperti daging, ikan, sayur mayur, telur, dan lain-lain, pasar sentral biasanya menyajikan produk yang jauh lebih segar dibandingkan di mal karena tidak ada tambahan bahan pengawet. Lokasi yang strategis, tempat penjualan yang luas, barang yang lengkap, harga yang murah, sistem negosiasi yang menunjukkan kedekatan antara penjual dan pembeli menjadi keunggulan pasar sentral.
PENUTUP
Saran
Bagi masyarakat Indonesia khususnya di Kabupaten Bulukumba alangkah baiknya jika kita berbelanja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa mengutamakan gengsi.