Pertumbuhan lewat social capital Oleh Mutamimah
Fenomena kemiskinan di pedesaan sampai saat ini belum bias diselesaikan dengan baik. Data BPS menunjukkan penurunan jumlah orang miskin sangat sedikit. Tahun ini angkanya turun mejadi 13,32%, dari tahun 2009 yang 14,15%. Namun jika dicermati lebih lanjut persentase jumlah orang miskin di pedesaan justru meningkat, Tahun 2009 sebesar 63,65% namun tahun 2010 naik menjadi 64,23%.
Dikaitkan dengan mudik Lebaran, apabila hanya dimaknai sebagai konsep dalam konteks budaya maka hal itu hanya sekedar rutinitas. Padahal jika diformulasikan kembali, mudik dapat dijadikan sarana mewujudkan social capital melalui silaturahim (silaturahmi) atau halal bihalal, sekaligus momentum strategis meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan sehingga bermanfaat dalam jangka panjang dan menurunkan angka kemiskinan.
Ketika dimaknai secara dangkal pun maka hanya memberikan manfaat jangka pendek yang lebih bersifat konsumtif. Tentunya konsep mudik perlu direformulasi atau diredefinisi.
Dalam hal ini mudik sebagai sarana untuk saling silaturahmi, berbagi pengalaman dan kebahagiaan, bertukar informasi, yang tentu akan dapat mewujudkan social capital.
Banyak definisi tentang social capital, di antaranya dari Fukuyama tahun 1995 dalam artikel “Social Capital and The Global Economy”. Disebutkan bahwa social sebagai serangkaian nilai atau normal informal yang dimiliki bersama anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerja sama di antara mereka. Partha dan Ismail S dalam artikel
“Social capital A multifaceted perspective” melengkapinya dengan menyebut social capital sebagai hubungan yang tercipta dan norma yang membentuk kualitas dan kuantitas hubungan sosial dalam spectrum yang luas. Yakni sebagai perekat sosial (social glue) yang menjaga kesatuan anggota kelompok secara bersama-sama.
Dari dua definisi itu dapat disimpulkan bahwa silaturahim dapat menjadi sarana membentuk social capital. Dari sudut pandang ekonomi, mudik mendorong terjadinya proses remitansi, yaitu mengalirnya uang yang jumlahnya bias miliaran rupiah, materi, pengalaman, pemikiran, ide kreatif, dari penduduk perkotaan ke penduduk perdesaan, kesempatan peningkatan pemasukan non PAD, peluang keuntungan ekonomi bagi daerah pedesaan, serta
terbentuknya social capital, membangun ukhuwah, networking dalam arti relasi sosial antara masyarakat desa dan kota.
Momentum strategis
Karena itu, momentum mudik sebaiknya tidak dimaknai sekadar tradisi atau ritual dan uang yang mengalir hanya untuk keperluan konsumsi, namun dimaknai juga sebagai peluang mengembangkan potensi-potensi investasi yang ada di desa, seperti investasi, membantu pendidikan, kesehatan, infrastruktur. Diharapkan ke depan akan terwujud sumber daya manusia di perdesaan yang kompeten yang mampu mandiri, serta mampu meningkatkan taraf hidup mereka.
Selain itu, mudik dapat juga menjadi momentum memetakan arah strategis pembangunan perdesaan kepada perantau lewat informasi yang menarik. Tentu hal ini menuntut kepala daerah bersama wakilnya memetakan potensi dan daya saing daerahnya yang kemudian dipromosikan kepada perantau. Dengan demikian diharapkan uang yang mengalir dari perantau dari kota ke desa bias dioptimalkan untuk investasi yang kondusif, yang tentu akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi perdesaan.
Mudik merupakan tradisi yang sudah berakar sejak lama, dan berbagai upaya dilakukan agar tetap bias mudik. Persoalan harus berdesak-desakan, harga tiket mahal, macet, dan sebagainya tidak menggoyahkan mereka. Mudik sebaiknya tidak hanya dimaknai sebagai acara ritual namun sebagai momentum strategis meningkatkan kualitas silaturahim sehingga tercipta social capital yang memuat nilai-nilai, seperti kasih saying, berbagi informasi, saling menghargai, tolong menolong sehingga tercipta network yang menguntungkan semua pihak, yang selanjutnya akan menjadi modal dasar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi perdesaan. Hal ini terwujud jika ada komitmen dan kerja sama seluruh stakeholder, antara lain masyarakat pedesaan, perantau, dan pemerintah.