PROSEDUR DAN TEKNIK PENYUSUNAN
PERATURAN DESA
Dasar Hukum Perdes
1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah .
2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.
3. Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.
Kedudukan Perdes Dalam Hierarki PUU di Indonesia
Tidak merupakan jenis dan hierarki PUU (Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 12 Tahun 2011), Namun diakui keberadaannya sebagai salah satu jenis peraturan perundang-undangan serta mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan. (Pasal 8 ayat (1) UU Nomor 12 Tahun 2011).
Definisi
Pasal 1 angka 7 UU 6 Tahun 2014 tentang Desa Perdes adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa.
Pasal 1 angka 6 Permendagri 111 Tahun 2014 Tentang Pedoman Teknis Peraturan Di Desa
Perdes adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama BPD.
Asas Pembentukan Perdes
1. kejelasan tujuan;
2. kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat;
3. kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan;
4. dapat dilaksanakan;
5. kedayagunaan dan kehasilgunaan;
6. kejelasan rumusan; dan 7. keterbukaan.
Materi Muatan Perdes
Materi muatan Perdes adalah:
a. pelaksanaan kewenangan desa,
b. penjabaran lebih lanjut dari ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.
Materi muatan Perdes yang diatur dalam UU Nomor 6 Tahun 2014 dan PP Nomor 43 tahun 2014.
1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa;
2. Pungutan Desa;
3. Tata Ruang Desa;
4. Organisasi Pemerintah Desa;
5. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa dan Rencana Kerja Pemerintah Desa;
6. Pendirian Badan Usaha Milik Desa;
7. Pembentukan Dusun atau sebutan lain yang merupakan bagian wilayah kerja pemerintahan desa;
8. Pengelolaan keuangan desa; dan
9. Pengaturan mengenai Lembaga Masyarakat.
PROSEDUR PEMBENTUKAN PERDES
Terdiri dari enam tahap : 1. Perencanaan ;
2. Penyusunan;
3. Pembahasan;
4. Penetapan;
5. Pengundangan;dan 6. Penyebarluasan.
Perencanaan
Ditetapkan oleh Kades dan BPD dalam RKP Desa.
Lembaga Kemasyarakatan, Lembaga adat, Lembaga desa lainnya dapat memberikan masukan untuk rencana penyusunan Raperdes
Penyusunan Raperdes
Penyusunan Raperdes diprakarsai Pemdes
Raperdes yang telah disusun, wajib dikonsultasikan kepada masyarakat desa dan dapat dikonsultasikan kepada camat untuk mendapatkan masukan terkait langsung dengan substansi materi pengaturan.
Masukan dari masyarakat desa dan camat digunakan Pemerintah Desa untuk tindaklanjut proses penyusunan Raperdes.
Raperdes yang telah dikonsultasikan disampaikan Kepala Desa kepada BPD untuk dibahas dan disepakati bersama.
Penyusunan Raperdes
BPD dapat menyusun dan mengusulkan Raperdes kecuali tentang :
rencana pembangunan jangka menengah Desa,
rencana kerja Pemerintah Desa, APB Desa;dan
Raperdes tentang laporan
pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APB Desa.
Rancangan Perdes dapat diusulkan oleh anggota BPD kepada pimpinan BPD untuk ditetapkan sebagai Raperdes usulan BPD.
Pembahasan Raperdes
BPD mengundang Kepala Desa untuk membahas dan menyepakati Raperdes.
Dalam hal terdapat Raperdes prakarsa Pemerintah Desa dan usulan BPD mengenai hal yang sama untuk dibahas dalam waktu pembahasan yang sama, maka didahulukan Raperdes usulan BPD sedangkan Raperdes usulan Kepala Desa digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan.
Raperdes yang belum dibahas dapat ditarik kembali oleh pengusul.
Raperdes yang telah dibahas tidak dapat ditarik kembali kecuali atas kesepakatan bersama antara Pemerintah Desa dan BPD.
Raperdes yang telah disepakati bersama disampaikan oleh pimpinan BPD kepada kepala Desa untuk ditetapkan menjadi Perdes paling lambat 7 (tujuh) Hari terhitung sejak tanggal kesepakatan.
Raperdes yang telah disepakati bersama wajib ditetapkan oleh kepala Desa dengan membubuhkan tanda tangan paling lambat 15 (lima belas) Hari terhitung sejak diterimanya Raperdes dari pimpinan BPD.
Penetapan Raperdes
Raperdes yang telah dibubuhi tanda tangan disampaikan kepada Sekretaris Desa untuk diundangkan.
Dalam hal Kepala Desa tidak menandatangani Raperdes, Raperdes tersebut wajib diundangkan dalam Lembaran Desa dan sah menjadi Perdes.
Pengundangan Raperdes
Sekretaris Desa mengundangkan Perdes dalam lembaran desa.
Perdes dinyatakan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan hukum yang mengikat sejak diundangkan.
Rancangan Peraturan Desa tentang APBDes, pungutan, tata ruang, dan organisasi Pemerintah Desa disampaikan Kades kepada Bupati melalui camat paling lama 3 (tiga) hari sejak disepakati.
Dalam hal Bupati tidak memberikan hasil evaluasi dalam batas waktu, Perdes tersebut berlaku dengan sendirinya.
Hasil evaluasi Raperdes diserahkan oleh Bupati paling lama 20 (dua puluh) hari kerja terhitung sejak diterima oleh Bupati.
Dalam hal Bupati telah memberikan hasil evaluasi, Kepala Desa wajib memperbaikinya paling lama 20 (dua puluh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi.
Kepala Desa dapat mengundang BPD untuk memperbaiki Raperdes.
Hasil koreksi dan tindaklanjut disampaikan Kepala Desa kepada Bupati melalui camat.
Dalam hal Kepala Desa tidak menindaklanjuti hasil evaluasi dan tetap menetapkan menjadi Perdes, Bupati membatalkan Perdes dengan Keputusan Bupati.
Evaluasi Raperdes
Perdes yang telah diundangkan disampaikan oleh Kepala Desa kepada Bupati paling lambat 7 (tujuh) Hari sejak diundangkan untuk diklarifikasi.
Bupati melakukan klarifikasi Perdes paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak diterima.
Hasil klarifikasi dapat berupa:
a. sudah sesuai dengan kepentingan umum, dan/atau ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi; dan
b. bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.
Dalam hal hasil klarifikasi menyatakan Perdes tidak bertentangan dengan kepentingan umum, dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi Bupati menerbitkan surat hasil klarifikasi yang berisi hasil klarifikasi yang telah sesuai.
Dalam hal hasil klarifikasi menyatakan bertentangan dengan kepentingan umum, dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi Bupati membatalkan Perdes tersebut dengan Keputusan Bupati.
Klarifikasi Raperdes
TEKNIK PENYUSUNAN PERDES
Teknik Penyusunan Perdes mengikuti Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-Undangan sebagaimana diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- Undangan
KERANGKA PERDES
JUDUL
PEMBUKAAN
BATANG TUBUH
1. Ketentuan Umum
2. Materi Pokok yang Diatur 3. Ketentuan Penutup
PENUTUP
Judul Perdes
Judul Perdes memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Perdes.
Nama Perdes dibuat secara singkat dengan hanya menggunakan 1 (satu) kata atau frasa tetapi secara esensial maknanya telah dan mencerminkan isi Peraturan Desa serta tidak menyebut nama desa.
Ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.
Contoh :
PERATURAN DESA AIR MURING NOMOR 1 TAHUN 2014
TENTANG
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA
Pembukaan
Terdiri dari :
1. Frasa Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 2. Jabatan Pembentuk Perdes
3. Konsiderans 4. Dasar Hukum 5. Diktum
Contoh :
Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa KEPALA DESA AIR MURING,
Menimbang : a. bahwa...; (pertimbangan filosofis)
b. bahwa...; (pertimbangan sosiologis)
c. bahwa...; (pertimbangan yuridis) d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu menetapkan Peraturan Desa Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa;
Contoh (lanjutan):
Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5495) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6856);
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6856);
Contoh (lanjutan):
3. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5539) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6321);
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 44 Tahun 2016 tentang Kewenangan Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1037) 5. Peraturan Daerah Nomor… Tahun…. Tentang Pembentukan Desa Air Muirng 6. Peraturan Bupati Bengkulu Utara tentang Daftar Kewenangan Desa Berdasarkan Hak Asal U sul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa di Kabupaten Bengkulu Utara (Berita Daerah Kabupaten Bengkulu Utara Tahun 2020 Nomor 51)
7. ……dst
Contoh (lanjutan) :
Dengan Persetujuan Bersama KEPALA DESA AIR MURING
dan
BADAN PERMUSYAWARATAN DESA AIR MURING MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DESA TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA.
Perlu diperhatikan :
Yang dimasukkan dalam dasar hukum yaitu :
Dasar hukum yang merupakan sumber kewenangan untuk membentuk Perdes (dasar hukum formil)
Dasar hukum peraturan perundang-undangan yang memerintahkan pembentukan Perdes (dasar hukum materiil)
Penulisan dasar hukum harus sesuai urutan hierarki dan tahun disahkan atau ditetapkan serta menuliskan lembaran negara/lembaran daerahnya.
Batang Tubuh
1. Batang tubuh Perdes memuat semua materi muatan Peraturan Desa yang dirumuskan dalam pasal atau beberapa pasal.
2. Materi muatan dalam batang tubuh dikelompokkan ke dalam:
ketentuan umum;
materi pokok yang diatur;
ketentuan peralihan (jika diperlukan); dan
ketentuan penutup.
1. Materi muatan Perdes tidak dapat memuat ketentuan sanksi pidana.
KETENTUAN UMUM
Diletakkan pada bab atau pasal awal
Ketentuan umum berisi:
batasan pengertian atau definisi;
singkatan atau akronim yang dituangkan dalam batasan pengertian atau definisi; dan/atau
hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal atau beberapa pasal berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas, maksud, dan tujuan tanpa dirumuskan tersendiri dalam pasal atau bab.
Batasan pengertian atau definisi, singkatan atau akronim harus terdapat dalam pasal-pasal selanjutnya.
Frasa pembuka dalam ketentuan umum berbunyi:
Dalam Perdes ini yang dimaksud dengan:
MATERI POKOK YANG DIATUR
Materi pokok yang diatur ditempatkan langsung setelah bab ketentuan umum, dan jika tidak ada pengelompokkan bab, materi pokok yang diatur diletakkan setelah pasal atau beberapa pasal ketentuan umum.
Pembagian materi pokok ke dalam kelompok yang lebih kecil dilakukan menurut kriteria yang dijadikan dasar pembagian.
KETENTUAN PERALIHAN (JIKA DIPERLUKAN).
Ketentuan Peralihan memuat penyesuaian pengaturan tindakan hukum atau hubungan hukum yang sudah ada berdasarkan Peraturan Desa yang lama terhadap Perdes yang baru, yang bertujuan untuk:
a. menghindari terjadinya kekosongan hukum;
b. menjamin kepastian hukum;
c. memberikan perlindungan hukum bagi pihak yang terkena dampak perubahan ketentuan Perdes; dan d. mengatur hal-hal yang bersifat transisional atau
bersifat sementara.
KETENTUAN PENUTUP
Ketentuan Penutup memuat ketentuan mengenai:
a. penunjukan organ atau alat kelengkapan yang melaksanakan Perdes;
b. nama singkat Perdes;
c. status Perdes yang sudah ada; dan d. saat mulai berlaku Perdes.
Contoh :
1. Status Peraturan Desa/Perkades yang lama Pasal 10
Pada saat Peraturan Desa ini mulai berlaku, Peraturan Desa Nomor...Tahun.... Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Desa (Lembaran Desa Tahun....Nomor....), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
2. Saat mulai berlaku.
Pasal 11
Peraturan Desa ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
PENUTUP
Penutup merupakan bagian akhir Peraturan Perundang-undangan yang memuat:
a. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Perdes dalam Lembaran Desa.
b. Penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan;
c. Pengundangan atau Penetapan Peraturan Perundang-undangan; dan
d. akhir bagian penutup.
Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Perdes dalam Lembaran Desa.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Desa ini dengan penempatannya dalam Lembaran Desa...
Penandatanganan penetapan Perdes.
Memuat :
a. tempat dan tanggal penetapan;
b. nama jabatan;
c. tanda tangan pejabat; dan
d. nama lengkap pejabat yang menandatangani, tanpa gelar, pangkat, golongan, dan nomor induk pegawai.
e. Ditulis disebelah kiri.
Contoh :
Ditetapkan di ...
pada tanggal ...
KEPALA DESA..., tanda tangan BAMBANG
Pengundangan Peraturan Desa.
Memuat :
a. tempat dan tanggal Pengundangan;
b. nama jabatan yang berwenang mengundangkan;
c. tanda tangan; dan
d. nama lengkap pejabat yang menandatangani, tanpa gelar, pangkat, golongan, dan nomor induk pegawai.
e. Ditulis di sebelah kanan.
CONTOH :
Diundangkan di ...
pada tanggal ...
SEKRETARIS DESA..., tanda tangan
SUSILO
Akhir bagian penutup.
Akhir bagian penutup dicantumkan Lembaran Desa
LEMBARAN DESA ... TAHUN... NOMOR...