Pidana pada Kelalaian Tenaga Kesehatan
Dalam Undang-undang (UU) tentang Tenaga Kesehatan (UU No. 36 Tahun 2014) disebutkan bahwa tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Ada banyak sekali kelompok tenaga Kesehatan yang ada di Indonesia, setiap kelompok tenaga kesehatan pada umumnya membentuk asosiasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI), Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Perhimpunan Profesional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia (PORMIKI), Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia (PALTEKI).
Menjadi seorang tenaga kesehatan apalagi yang berinteraksi langsung dengan masyarakat tentu saja bukan hal yang mudah, besarnya tanggung jawab dan tuntutan yang dipegang oleh tenaga kesehatan membuat mereka mudah terjerat dalam kasus pidana, apalagi mereka juga seorang manusia biasa yang tidak lepas dari kelalaian. Tanggung jawab seorang tenaga kesehatan antara lain yaitu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat agar masyarakat mampu untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat sehingga akan terwujud derajat kesehatan yang setinggi- tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi serta sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ada juga hak yang harus didapatkan oleh tenaga kesehatan yaitu mendapat pelindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan profesi, dan standar prosedur operasional, serta memperoleh pelindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta nilai-nilai agama. Oleh karena itu, tenaga kesehatan butuh dilindungi oleh hukum pemerintah.
Namun, bagaimana jika tenaga kesehatan diabaikan oleh hukum? Seperti yang terjadi sekitar bulan Mei tahun 2023 saat banyak tenaga kesehatan yang melakukan demo penolakan Rancangan Undang-Undang Kesehatan Omnibus Law, aksi penolakan itu dilakukan di beberapa rumah sakit. Penyebabnya adalah RUU tersebut diduga berpotensi melemahkan perlindungan dan kepastian hukum bagi perawat, nakes dan masyarakat, serta tak mampu menampung masukan dari organisasi kesehatan. Alasan penolakan RUU Kesehatan Omnibus Law ini karena bersifat diskriminatif dan potensial terjadinya kriminalisasi terhadap dokter dan tenaga kesehatan serta RUU Kesehatan Omnibus Law ini tidak hanya menghilangkan kewenangan organisasi profesi tetapi juga menghilangkan eksistensi organisasi profesi. Kasus demo tersebut merupakan salah satu contoh pengurangan hak perlindungan hukum bagi tenaga kesehatan.
Persoalan yang akan saya bahas disini adalah bagaimana jika seorang tenaga kesehatan melakukan kelalaian yang tidak disengaja dan di luar kendali mereka, lalu mereka dituntut oleh pasien mereka dan mereka langsung diadili pidana tanpa bisa membela diri? Sebagaimana kita ketahui para tenaga kesehatan hanyalah manusia yang sama lelahnya dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien mereka, tidak menutup kemungkinan bahwa terjadi kelalaian dalam melaksanakan tugas yang menimpa para tenaga kesehatan, jika mereka tidak bisa membela diri mereka saat dilaporkan secara pidana, maka bisa saja banyak tenaga kesehatan yang takut untuk melakukan praktek dan melakukan penanganan kepada pasien mereka. Saya kurang setuju terhadap pidana bagi tenaga kesehatan karena untuk saat ini jumlah tenaga kesehatan yang ada di Indonesia saja masih kurang sekali dalam penyebarannya, apalagi jika ditambah dengan kurangnya perlindungan bagi tenaga kesehatan yang akan membuat mereka berpikir berulang kali untuk melaksanakan tugasnya, kemudian akan mempersulit tercapainya kesejahteraan umum. Lebih baik pemerintah membuat kebijakan yang bersifat adil dan dinamis serta pemeriksaan yang detail dan menyeluruh dalam menentukan apakah tenaga medis layak untuk dijerat pasal pidana atau bisa mendapatkan keringanan jika terbukti melakukan kelalaian yang tidak disengaja.
Namun, apabila kelalaian yang dilakukan dengan sengaja dikarenakan tidak adanya rasa tanggung jawab dalam diri mereka sebagai tenaga kesehatan,
pengadilan boleh menjatuhi hukuman pidana bagi tenaga kesehatan yang tidak bertanggung jawab tersebut.