Pola pembinaan merupakan aspek utama dalam lembaga pemasyarakatan yang merawat narapidana, oleh karena itu pelaksanaan pembinaan di lembaga pemasyarakatan harus dilakukan dengan baik agar tujuan akhir pembinaan warga binaan yang berkeadilan dapat tercapai. Lebih lanjut disebutkan dalam ketentuan Pasal 1 Angka 3 Undang-Undang tentang Pelayanan Pemasyarakatan “Lembaga Pemasyarakatan yang selanjutnya disebut LAPAS adalah tempat pembinaan narapidana dan peserta didik pemasyarakatan”. Pola pembinaan merupakan aspek utama sistem pemasyarakatan dalam perlakuan terhadap narapidana, oleh karena itu pola pelaksanaan pembinaan di lembaga pemasyarakatan harus dilaksanakan dengan benar agar tujuan akhir sistem pemasyarakatan dapat tercapai.
SISTEM PIDANA PENJARA DAN PEMASYARAKATAN
Sistem Pidana Penjara
Dengan demikian, mereka tidak hanya dihukum secara fisik dalam bentuk kerja paksa dan penjara, namun juga isolasi sosial total. Tujuan pemenjaraan dalam sistem penjara adalah untuk melindungi masyarakat dari segala bentuk kejahatan sebagai kebijakan pidana pemerintah kolonial dalam upaya menurunkan angka kejahatan. Pada periode ini dilakukan upaya untuk mempekerjakan sebanyak mungkin narapidana sebagai kerja paksa di dalam tembok penjara pusat, namun kebutuhan akan tenaga kerja untuk proyek pekerjaan besar di luar tembok masih sangat terasa, sehingga penggunaan narapidana terus berlanjut dalam jumlah besar. proyek serta kebutuhan militer.
Sistem Pemasyarakatan
Selama hilangnya kebebasan bergerak, narapidana dan pelajar harus diakui dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat, maksudnya. Narapidana dan pelajar sebagai orang hilang adalah manusia dan harus diperlakukan sebagai manusia, harkat dan martabatnya sebagai manusia harus dihormati, maksudnya. Narapidana dan pelajar hanya dihukum dengan hilangnya kemandirian sebagai satu-satunya penderitaan yang dapat dialami.
NARAPIDANA DAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN
Narapidana
Penjara hanyalah gudang degradasi sederet orang yang berbuat salah dan menjadi kumpulan penjahat, dijaga petugas agar bertobat dan menjadi pencegah. Berdasarkan undang-undang negara bagian, pelanggar akan menerima sanksi setelah sidang dilakukan dan tergantung pada keputusan hakim. Saat ini di masyarakat berkembang istilah lain yang menyebut narapidana tindak pidana sebagai terpidana.
Terkait dengan konsep perilaku menyimpang, Sudarto berpendapat bahwa salah satu upaya penanggulangan kejahatan adalah dengan menggunakan hukum pidana dengan sanksi berupa hukuman. Hukum pidana bertujuan untuk melindungi obyek-obyek hukum (jiwa, harta benda, kemerdekaan, kehormatan), namun dalam prakteknya jika terjadi pelanggaran terhadap larangan dan amar, maka berkaitan dengan obyek hukum pelanggarnya. Oleh karena itu, hukum pidana harus dianggap sebagai ultimatum remedium, yaitu jalan terakhir apabila sanksi atau tindakan pada cabang hukum lain tidak mencukupi.
Hukum pidana yang memaksakan penderitaan yang disengaja atau menimbulkan kesedihan, termasuk dalam bentuk perampasan kemerdekaan dengan tetap mempertahankan norma-norma yang diakui dalam undang-undang atas suatu pelanggaran ketentuan hukum, tidak lain hanya bertujuan untuk menjadikan orang tersebut sebagai efek jera. Narapidana adalah orang-orang yang tersesat, yang mempunyai waktu dan kesempatan untuk bertaubat, yang dalam keberadaannya memerlukan bimbingan. Tujuan promosi pelanggar di Lembaga Pemasyarakatan bukan hanya untuk membalas, namun juga untuk memperbaiki diri.
Oleh karena itu, filosofi pemidanaan di Indonesia mengalami perubahan mendasar, sebagaimana tercermin dalam sistem lembaga pemasyarakatan yang memandang terpidana sebagai orang yang tersesat dan mempunyai waktu untuk bertobat.
Lembaga Pemasyarakatan
Dapat dijelaskan juga bahwa penggantian nama lembaga pemasyarakatan menjadi lembaga pemasyarakatan erat kaitannya dengan tujuan menjadikan lembaga pemasyarakatan tidak hanya sebagai tempat pemidanaan orang saja, namun juga tempat penerimaan atau pelatihan narapidana. sehingga setelah menjalani hukuman, mereka mempunyai kapasitas untuk beradaptasi sebagai warga negara yang baik dalam kehidupan di luar penjara dan menaati hukum yang berlaku. Pemasyarakatan adalah kegiatan melaksanakan pembinaan narapidana pemasyarakatan berdasarkan sistem, lembaga, dan metode pembinaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemasyarakatan dalam sistem peradilan pidana”; Selain itu, Pasal 1 ayat (3) menyatakan bahwa “Lembaga Pemasyarakatan yang selanjutnya disebut LAPAS adalah tempat berlangsungnya pembinaan narapidana dan siswa lembaga pemasyarakatan”. Perubahan nama dari Lembaga Pemasyarakatan menjadi Lembaga Pemasyarakatan berarti Lembaga Pemasyarakatan tidak hanya sekedar tempat untuk memidana orang saja, namun juga sebagai tempat menerima atau melatih para terpidana, sehingga setelah menjalani pidananya mereka mempunyai kesempatan untuk beradaptasi sebagai warga negara terhadap kehidupan diluar. Lembaga Pemasyarakatan. yang sesuai dengan hukum yang berlaku.
Pihak pemasyarakatan memandang narapidana sebagai subyek yang harus diperlakukan secara manusiawi, bukan obyek yang dapat diperlakukan secara tidak manusiawi. Walaupun konsep lapas diubah menjadi lembaga pemasyarakatan, namun dalam praktiknya ternyata konsep lembaga pemasyarakatan belum efektif. Lembaga pidana melalui lembaga pemasyarakatan memberikan perlakuan yang lebih manusiawi kepada narapidana dengan pola pembinaan.
Demikian pula istilah penjara kemudian diubah menjadi Lembaga Pemasyarakatan yang selanjutnya disebut LAPAS. 36 Lembaga pemasyarakatan merupakan tempat narapidana menjalani hukumannya dan memperoleh berbagai jenis pembinaan dan keterampilan. Penjara sebagai tempat menyadarkan para narapidana agar bertobat atas perbuatannya dan mengembalikannya menjadi warga negara yang baik, taat hukum, menjunjung tinggi nilai-nilai moral, sosial dan agama untuk mencapai masyarakat yang aman, tertib dan damai.
Lembaga Pemasyarakatan tidak hanya sekedar tempat untuk memidana orang saja, namun juga tempat untuk membina dan mendidik para terpidana, sehingga setelah masa pidananya berakhir mereka mempunyai kesempatan untuk beradaptasi dengan kehidupan di luar Lembaga Pemasyarakatan sebagai warga negara yang baik dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. .
PEMBINAAN NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN
- Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan
- Proses Pembinaan Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan
- Program Pembinaan Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Sebagai dasar peraturan perundang-undangan tentang pembinaan
- Fungsi dan Tugas Pembinaan Di Lembaga Pemasyarakatan
- Pola Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan
Yang dimaksud dengan “perlakuan dan pelayanan yang sama” adalah pemberian perlakuan dan pelayanan yang sama kepada warga binaan pemasyarakatan tanpa membeda-bedakan orang. Yang dimaksud dengan “menghargai harkat dan martabat manusia” adalah sebagai orang yang tersesat, Warga Negara Binaan Pemasyarakatan tetap harus diperlakukan sebagai manusia biasa. Sistem pemasyarakatan juga meyakini bahwa sifat perbuatan salah yang dilakukan oleh warga binaan pemasyarakatan merupakan cerminan dari adanya putusnya hubungan kehidupan, penghidupan dan eksistensi antara yang terlibat dengan masyarakat sekitar.
Oleh karena itu, tujuan sistem pemasyarakatan adalah menjalin hubungan hidup, kehidupan dan kelangsungan hidup antara warga binaan lembaga dengan masyarakat (kehidupan, kehidupan dan reintegrasi dalam kelangsungan hidup). Dari sisi lembaga pemasyarakatan, keluarga pemasyarakatan mempunyai motivasi diri untuk bisa memandang setiap kejadian secara positif. Dalam Bab II, terkait dengan pembinaan, Pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa: “Pendidikan narapidana dilaksanakan di lembaga pemasyarakatan, dan pembinaan terhadap warga negara yang membantu menjalani pidana dilaksanakan di Bapas”.
Pengembangan bimbingan remedial di LAPAS dilakukan secara intramural (di dalam LAPAS) dan di luar sekolah (di luar LAPAS). Pelatihan ekstrakurikuler yang diberikan oleh LAPAS disebut asimilasi, yaitu proses mendorong warga yang telah memenuhi persyaratan tertentu dengan cara mengintegrasikannya ke dalam kehidupan bermasyarakat. Tujuan utama lembaga pemasyarakatan adalah memberikan pedoman bagi narapidana berdasarkan sistem, lembaga, dan cara pembinaan sebagai bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam sistem peradilan pidana.
Pada dasarnya arah pelayanan, pembinaan dan bimbingan yang harus dilakukan oleh petugas adalah untuk meningkatkan perilaku warga binaan pemasyarakatan sehingga tujuan pembinaan dapat tercapai. Kegiatan di Lembaga Pemasyarakatan tidak hanya sekedar menghukum atau menjaga narapidana saja, namun mencakup proses pembinaan agar Narapidana sadar akan kesalahannya dan memperbaiki diri serta tidak mengulangi tindak pidana yang dilakukan. Pendidikan formal dilaksanakan dengan ketentuan yang ada yang ditetapkan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas warga binaan pemasyarakatan.
POLA PEMBINAAN NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KEDUNGPANE SEMARANG
Pola Pembinaan Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Kedungpane Semarang
Ayat (3) Cuti pra-pelepasan adalah proses penempatan narapidana di luar lembaga pemasyarakatan setelah menjalani 2/3 masa pidana paling singkat 9 bulan dan berkelakuan baik. Ayat (4) Pembebasan bersyarat adalah proses menampung narapidana di luar lembaga pemidanaan, yang divonis 1 tahun ke bawah, setelah menjalani sekurang-kurangnya 2/3 masa pidana. Bentuk kerja sama dengan pengadilan negeri yaitu pihak Lapas Kedungpane Semarang merupakan pihak yang memberikan petunjuk kepada narapidana setelah mendapat keputusan dari pengadilan negeri, mengenai penahanan.
Kerjasama dengan Kementerian Kesehatan berupa penyediaan obat-obatan kepada narapidana serta pengobatan kepada narapidana selama berada di Lapas Kelas 1 Semrang. Bentuk kerjasamanya berupa penyediaan untuk dan penyelenggaraan acara ta'lim serta pemenuhan buku-buku agama dan penyuluhan agama bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kedungpane Semarang. Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas Satu Semrang diberikan seragam berwarna biru, warna biru melambangkan kesetiaan, yang diyakini selama terpidana memakai pakaian tersebut diharapkan akan tumbuh rasa kesetiaannya.
Narapidana juga dapat menerima makanan dari keluarga yang berkunjung di Kelas Satu IEVP Semrang dengan izin petugas. Setiap narapidana berhak memperoleh pelayanan kesehatan, pelayanan kesehatan terhadap narapidana dilakukan oleh dokter di Lapas Kelas Satu Kedungpane Semarang. Dengan menjalin kerjasama dengan berbagai instansi atau pihak eksternal, Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Kedungpane Semrang dapat memberikan pengajaran yang berkualitas kepada warga binaan.
Harapannya, para terpidana dapat memanfaatkan bimbingan yang mereka peroleh selama berada di Lapas Kelas 1 Kedungpane Semrang untuk hidup bermasyarakat setelah bebas dari hukuman.
Kendala-Kendala yang dihadapi oleh Kurangnya penyaluran Kerja ataupun pemberian modal pada Narapidana Dalam Membina
Keterbatasan yang dihadapi adalah kurangnya pembagian kerja atau pemberian modal kepada warga binaan di panti asuhan.
Solusi dan Upaya Mengatasinya
Narapidana yang mampu dalam bidang tertentu Narapidana tidak dapat serta merta membantu petugas dalam merawat Narapidana lainnya, namun Narapidana tersebut harus memenuhi kriteria sebagai berikut. Perlunya penyaluran tenaga dan modal bagi narapidana untuk memberikan bekal bagi narapidana setelah masa hukumannya selesai, maka Lembaga Pemasyarakatan Semrang melakukan hal-hal sebagai berikut. 63 Hasil wawancara dengan Bpk. A. Herriansyah, Kepala Orientasi Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Kedungpane Semarang, 1 November 2019 sekitar.
POLA PEMBINAAN NARAPIDANA YANG BERKEADILAN
Keadilan sosial dilandasi dan dijiwai hakikat keadilan manusia sebagai makhluk yang beradab (sila kedua). Mengenai Keadilan Sosial tersebut, pandangan keadilan dalam hukum secara harafiah mempunyai arti yang sempit, yaitu apa yang sesuai dengan hukum dianggap benar, sedangkan apa yang melanggar hukum dianggap tidak adil. Pandangan keadilan dalam hukum nasional berakar pada asas negara Pancasila sebagai dasar negara atau falsafah negara (filosophiche. . gondröss) yang masih dilestarikan hingga saat ini dan masih dianggap penting bagi negara Indonesia.
Pengakuan, penghayatan dan penerimaan terhadap Pancasila sebagai sesuatu yang bernilai nampaknya akan tercermin dalam sikap, perilaku dan tindakan masyarakat Indonesia. Apabila pengakuan, penerimaan, atau penghargaan tersebut tercermin dalam sikap, tingkah laku, dan tindakan masyarakat Indonesia dan bangsanya, maka dalam hal ini juga merupakan pembawa sikap, perilaku, dan tindakan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu Pancasila sebagai sumber hukum nasional yang tertinggi dan sebagai rasionalitasnya merupakan sumber hukum nasional bagi bangsa Indonesia.
Pandangan keadilan dalam hukum nasional bangsa Indonesia berpusat pada dasar negara yaitu Pancasila yang tertuang dalam sila kelima. Untuk lebih mengelaborasi keadilan dalam perspektif hukum nasional, terdapat wacana penting mengenai keadilan dan keadilan sosial. Konsep seperti ini, jika dikaitkan dengan sila kedua Pancasila sebagai sumber hukum nasional bagi bangsa Indonesia, pada hakikatnya memerintahkan kita untuk selalu menjaga keharmonisan hubungan antara individu dengan kelompok individu lainnya, agar tercipta hubungan yang adil dan beradab. .
Jadi keadilan sosial menyangkut kepentingan masyarakat, sudah sewajarnya individu yang adil secara sosial harus mengesampingkan kebebasan individunya demi kepentingan individu lain.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Rekomendasi
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN Undang Undang Dasar 1945
LAIN – LAIN