POLA TINGKAH LAKU GAJAH
OLEH :
NAMA : NI KETUT ALIT ASTITI
NPM : 0740
SEMESTER : V (LIMA)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MAHASARASWATI
2007
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmatnyalah penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini disusun dengan tujuan utama untuk memenuhi tugas mata kuliah Etologi yang diasuh oleh dosen DR. Ir Deden Ismail dilingkungan Universitas Mahasaraswati.
Makalah ini berisikan uraian tentang seputaran pola tingkah laku gajah dalam mempertahankan hidupnya.. Dengan terbitnya makalah ini sekiranya dapat menambah wawasan masyarakat khususnya pembaca didalam mengenal hewan gajah lebih mendalam
Akhir kata penulis ucapkan banyak terimakasih kepada rekan-rekan yang telah banyak membantu yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Penulis juga menyadari penulisan maupun isi dari makalah ini jauh dari kesempurnaan maka dari itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan dari para pembaca untuk kesempurnaan makalah ini
Denpasar, 24 Oktober 2007
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...
...I
DAFTAR ISI...
...II
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...
...1 1.2 Rumusan Masalah...
...1 1.3 Tujuan Penulisan...
2 BAB II : ISI
2.1 Gajah Secara Umum...
...3 2.2 Tipe-Tipe Habitat Gajah...
...6 2.3 Persyaratan Hidup Gajah di Alam...
...7 2.4 Perilaku Sosial Pada Gajah...
...8 2.5 Perilaku Individu Pada Gajah...
...10 2.6 Reproduksi Gajah...
...11 2.7 Keunikan Dalam Diri Gajah...
...11
BAB III : PENUTUP
3.1 Simpulan...
...14 DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Besar kecilnya suatu hewan tidak bisa terlepas dari pola tingkah laku yang dilakukan oleh hewan tersebut. Hal ini sangat menentukan kelangsungan hidup daripada hewan itu sendiri. Hewan yang berukuran besar belum tentu mampu melakukan adaptasi yang baik layaknya hewan-hewan pada umumnya. Terkadang bobot badan yang berlebih menjadi kendala di dalam melakukan hal itu. Namun lain halnya dengan binatang gajah. Dengan postur dan bobot yang boleh dibilang cukup besar, bukan menjadi halangan baginya di dalam beradaptasi terhadap lingkungan. Bahkan hampir adaptasi yang dilakukannya tergolong cukup sulit bila dibandingkan dengan keberadaannya yang serba besar. Di balik semua itu ternyata tersimpan berbagai kesempurnaan yang tiada cacat di dalam tubuh gajah. Mulai dari belalai, kulit, kaki, telinga dan lain sebagainya. Belalai gajah beradaptasi terhadap lingkungan yang berperan sebagai tangan, indra sentuh yang sensitif,
mencapai makanan, menyedot air, mempertahankan diri, menyerang dan bersosial sesama gajah. Kulit gajah yang tebal yang tersusun atas lapisan lemak berfungsi untuk mempertahankan suhu tubuhnya agar tetap stabil. Di samping itu kaki dan telinganya berperan di dalam menopang tubuhnya dalam pergerakan dan sebagai indra pendengaran serta untuk menyejukkan tubuhnya. Selain adaptasi morfologi, gajah juga dapat melakukan adaptasi tingkah laku seperti : perilaku sosial yaitu hidup secara berkelompok dalam kawanan tertentu untuk menjaga dan melindungi diri dan kelompoknya dari para predator (pemangsa). Menjelajahi tempat tertentu dengan kelompok yang tetap serta perilaku gajah di saat kawin. Semuanya itu dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya terhadap habitat tertentu.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, adapun rumusan masalah yang penulis ajukan dalam makalah ini adalah sebagai berikut: “Bagaimana pola tingkah laku gajah dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya?”
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini berdasarkan rumusan masalah di atas adalah untuk mengetahui pola tingkah laku gajah dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.
BAB II ISI
2.1 Gajah Secara Umum
Gajah tergolong dalam hewan mempunyai saraf tunjang, bertulang belakang, kelas mamalia, mempunyai belalai hadapan, dari keluarga elephantidae.
Gajah merupakan hewan daratan terbesar di dunia.
Gambar :Gajah Afrika Gambar : Gajah Asia Berikut adalah sistematika gajah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Mamalia Ordo : Proboscidea Familia : Elephantidae
Gajah jantan biasanya mempunyai saiz dan berat badan yang lebih daripada gajah betina. Gajah mempunyai penglihatan yang lemah dan hanya bisa melihat dengan jelas pada jarak 3 hingga 6 meter (30 hingga 60 kaki). Disebabkan badannya yang besar, gajah mempunyai telinga yang lebar yang digunakan bagi menyejukkan badannya. Jaringan saluran darah di telinganya itu membantu menyejukkan badan gajah. Selain daripada itu, telinga gajah yang lebar juga menjadikan pendengaran gajah lebih sensitif dan dapat mendengar bunyi yang tidak didengar oleh hewan lain. Telinga gajah Afrika lebih besar dan di katakan mempunyai bentuk peta Afrika sementara telinga gajah Asia bersaiz lebih kecil dan dikatakan mempunyai bentuk peta India. Belalai gajah digunakan seperti tangan, mempunyai indria sentuh yang sensitif dan mempunyai berbagai kegunaan. Belalai gajah boleh digunakan untuk menghidu gajah lain sejauh 3 kilometer, mencapai makanan, menyedot air, mempertahankan diri, menyerang, dan bersosial sesama gajah. Gajah juga mampu menghidu air di bawah tanah.
Ujung belalai gajah Afrika terdapat dua bibir sementara gajah Asia hanya mempunyai satu bibir di bagian atas. Gajah mempunyai keupayaan menyelesaikan masalah yang tinggi. Tengkorak gajah besar dan berliang udara menjadikannya ringan berbanding saisnya. Tulang kakinya panjang serta mengandung tulang bersponge menggantikan sum-sum. Jantung gajah berdenyut sebanyak 28 kali semenit. Kedua-dua jantina gajah Afrika memiliki gading sementara hanya gajah Asia jantan yang memiliki gading. Gading merupakan gigi kacip yang telah berubah. Terdapat urat saraf sepanjang 1/3 dari pangkal gading dan gading akan senantiasa tumbuh sepanjang hayat gajah. Gading ini akan haus digunakan bagi gajah liar. Gajah membuat bunyi trompet dan menghentakkan belalai ke tanah apabila ia marah dan sebagai amarah kepada musuhnya. Gajah mampu mendengar
getaran nada rendah di bawah tahap bunyi yang didengar oleh manusia yaitu bunyi infrasonik di antara 14 hingga 35 Hertz. Kulit gajah mempunyai ketebalan 2 hingga 3.81 sentimeter dan sangat sensitif dan mudah sakit. Gajah boleh terganggu hanyalah disebabkan oleh sengatan serangga, oleh itu gajah sering bermandikan lumpur untuk menyejukkan badan, melindungi kulit daripada terbakar oleh pancaran matahari, dan menghilangkan serangga yang ada di badan mereka. Oleh kerana gajah memerlukan jumlah makanan yang banyak, kumpulan gajah akan berpindah-randah dalam satu kawasan yang luas untuk mencari makan.
Kumpulan gajah tidak dapat hidup dalam kawasan hutan yang dikelilingi kawasan pembangunan disebabkan mereka memerlukan kawasan ragut yang besar dan tidak menyenangi pencerobohan manusia ke kawasannya. Sungguhpun gajah mempunyai badan yang besar, ia cukup mengimbangi berat badannya dan berdiri di atas kedua kaki belakang sekiranya perlu. Gajah biasanya hidup secara berkumpulan dengan diketuai oleh seekor gajah betina. Kumpulan gajah terdiri daripada gajah betina dan juga gajah jantan remaja yang pada kebiasaannya mempunyai perkaitan persaudaraan di antara satu sama lain. Gajah jantan dewasa akan membentuk kumpulan kecil tersendiri. Gajah jantan hanya akan menyertai gajah betina apabila tiba musim mengawan. Kadang-kala gajah jantan yang tua akan memilih untuk hidup bersendirian. Gajah boleh tidur sambil baring ataupun berdiri. Gajah dikatakan mempunyai daya ingatan yang kuat dan ini membantu mereka untuk bergerak mencari makanan dan air di musim kemarau. Disebabkan oleh ini, kumpulan gajah biasanya diketuai oleh gajah yang paling tua dan paling banyak pengalaman. Disebabkan oleh ini, kehilangan gajah yang paling tua dan besar boleh mengancam seluruh kumpulan itu disebabkan pengalaman yang berpuluh tahun itu akan hilang begitu saja. Kaki gajah terdiri daripada jari kaki yang mengelilingi tapak kaki yang lembut. Kakinya lebar untuk mengimbangi berat badannya dengan keluasan tapak kakinya. Kaki gajah yang dikurung perlu dicukur disebabkan tapak kakinya tidak haus berbanding gajah liar yang banyak berjalan. Kajian terbaru juga mendapati gajah boleh mengesan getaran melalui tapak kaki. Gajah yang berhadapan dengan bahaya akan menghentak kaki mereka kebumi. Ini akan mengeluarkan getaran bunyi bernada rendah. Oleh kerana bunyi
bergerak lebih baik melalui tanah, amaran kecermasan ini boleh di kesan oleh gajah lain pada jarak jauh tanpa disedari oleh musuh mereka. Ini membolehkan gajah lain memberi bantuan dengan segera. Gajah betina bunting selama 22 bulan dan melahirkan seekor anak setiap 3 hingga 4 tahun. Pada kebiasaannya hanya seekor anak gajah akan dilahirkan. Bagaimanapun, tempoh antara bunting bertambah apabila berhadapan dengan keadaan tidak sesuai seperti kemarau panjang. Seekor gajah betina yang lain akan membantu ibu gajah apabila tiba saat kelahiran. Anak gajah biasanya seberat 250 paun dengan ketinggian 33 inci apabila dilahirkan dan boleh berjalan dengan sendiri selepas 2 jam. Anak gajah ini akan dijaga oleh ibu gajah dan setiap anggota kumpulan gajah dengan rapi.
Sekiranya berhadapan dengan sebarang ancaman, kumpulan gajah ini akan bersatu untuk mempertahankan anak gajah ini. Pada kebiasaannya, kumpulan gajah dewasa akan membentuk bulatan dengan anak gajah berada di tengah bulatan itu. Kumpulan gajah juga akan menantikan anak gajah yang tercicir. Ibu gajah menjadi bengis dan akan menyerang sebarang hewan yang menghampiri anaknya termasuk manusia. Anak gajah akan menyusu selama 2 tahun sebelum mulai memakan makanan lain. Selepas tempuh 5 tahun, anak gajah akan berhenti menyusui sepenuhnya. Anak gajah mencapai tempuh matang pada usia 12 hingga 17 tahun. Anak gajah jantan yang matang akan beransur-ansur menghabiskan masa di pinggir kumpulan gajah sebelum meninggalkan kumpulan induk untuk menyertai kumpulan gajah jantan, dan hanya kembali pada tempoh mengawan.
Tempoh matang akan bertambah sekiranya populasi gajah adalah tinggi. Pada musim mengawan, gajah-gajah jantan akan bertarung untuk menjadi ketua, dan hanya gajah jantan yang terkuat akan mengawan. Ini memastikan hanya baka gajah terbaik akan terhasil. Gajah betina pula akan mencapai usia matang ketika berusia 9 hingga 12 tahun, tetapi paling membiak pada usia 25 hingga 45 tahun.
Sepanjang hidup gajah, gajah akan berganti gigi sebanyak enam pasang gigi, yang semakin besar, apabila gigi gerahamnya telah haus. Setelah gigi geraham terakhir tanggal, gajah akan mati kelaparan kerana tidak dapat mengunyah makanan. Gigi gajah terdiri daripada 2 pasang gigi geraham, dua di atas dan dua di bawah yang sentiasa tumbuh. Setiap gigi gajah mempunyai berat 4 kilogram (9 paun). Apabila
sesuatu anggota kumpulan gajah mati, ahli kumpulan gajah yang lain kelihatannya merasa sedih dan akan menggunakan belalai mereka untuk membelai bangkai gajah yang mati itu. Kadang-kala ahli kumpulan gajah itu juga akan menutup bangkai gajah dengan ranting dan daun pokok dan akan berdiri di kawasan sekitar selama beberapa jam lamanya sebelum beredar. Sekiranya kumpulan gajah berjumpa dengan tulang-belulang gajah yang telah mati, mereka juga akan menunjukkan sikap yang hampir serupa seperti membelai tulang tersebut atau membawa tulang tersebut untuk beberapa jam lamanya.
2.2 Tipe-Tipe Habitat Gajah
Gajah banyak melakukan pergerakan dalam wilayah jelajah yang luas sehingga menggunakan lebih dari satu tipe habitat.
1. Hutan rawa. Tipe hutan ini dapat berupa rawa padang rumput, hutan rawa primer, atau hutan rawa sekunder yang didominasi oleh Gluta renghas, Campenosperma auriculata, C. Macrophylla, Alstonia spp, dan Eugenia spp (photo hutan rawa).
2. Hutan rawa gambut. Jenis-jenis vegetasi pada tipe hutan ini antara lain:
Gonystilus bancanus, Dyera costulata, Licuala spinosa, Shorea spp., Alstonia spp., dan Eugenia spp.
3. Hutan dataran rendah. Yaitu tipe hutan yang berada pada ketinggian 0-750 m di atas permukaan air laut. Jenis-jenis vegetasi yang dominan adalah jenis-jenis dari famili Dipterocarpaceae. (photo hutan dataran rendah)
4. Hutan hujan pegunungan rendah. Yaitu tipe hutan yang berada pada ketinggian 750-1.500 m di atas permukaan air laut. Jenis-jenis vegetasi yang dominan adalah Altingia excelsa, Dipterocarpus spp., Shorea spp., Quercus spp., dan Castanopsis spp.
2.3 Persyaratan Hidup Gajah di Alam
1. Naungan. Gajah termasuk binatang berdarah panas sehingga jika kondisi cuaca panas mereka akan bergerak mencari naungan (thermal cover)
untuk menstabilkan suhu tubuhnya agar sesuai dengan lingkungannya.
Tempat yang sering dipakai sebagai naungan dan istirahat pada siang hari adalah vegetasi hutan yang lebat.
2. Makanan. Gajah termasuk satwa herbivora sehingga membutuhkan ketersediaan makanan hijauan yang cukup di habitatnya. Gajah juga membutuhkan habitat yang bervegetasi pohon untuk makanan pelengkap dalam memenuhi kebutuhan mineral kalsium guna memperkuat tulang, gigi, dan gading. Karena pencernaannya yang kurang sempurna, ia membutuhkan makanan yang sangat banyak, yaitu 200-300 kg biomassa per hari untuk setiap ekor gajah dewasa atau 5-10% dari berat badannya.
3. Air. Gajah termasuk satwa yang sangat bergantung pada air, sehingga pada sore hari biasanya mencari sumber air untuk minum, mandi dan berkubang. Seekor gajah membutuhkan air minum sebanyak 20-50 liter/hari. Ketika sumber-sumber air mengalami kekeringan, gajah dapat melakukan penggalian air sedalam 50-100 cm di dasar-dasar sungai yang kering dengan menggunakan kaki depan dan belalainya.
4. Garam mineral. Gajah juga membutuhkan garam-garam mineral, antara lain : calcium, magnesium, dan kalium. Garam-garam ini diperoleh dengan cara memakan gumpalan tanah yang mengandung garam, menggemburkan tanah tebing yang keras dengan kaki depan dan gadingnya, dan makan pada saat hari hujan atau setelah hujan.
5. Ruang atau wilayah jelajah (home range). Gajah merupakan mamalia darat paling besar yang hidup pada zaman ini, sehingga membutuhkan wilayah jelajah yang sangat luas.Ukuran wilayah jelajah gajah Asia bervariasi antara 32,4 - 166,9 km2. Wilayah jelajah unit-unit kelompok gajah di hutan-hutan primer mempunyai ukuran dua kali lebih besar dibanding dengan wilayah jelajah di hutan-hutan sekunder.
6. Keamanan dan kenyamanan. Gajah juga membutuhkan suasana yang aman dan nyaman agar perilaku kawin (breeding) tidak terganggu dan
proses reproduksinya dapat berjalan dengan baik. Gajah termasuk satwa yang sangat peka terhadap bunyi-bunyian. Oleh karena itu, penebangan hutan yang dilakukan oleh perusahaan HPHA diperkirakan telah mengganggu keamanan dan kenyamanan gajah karena aktivitas pengusahaan dengan intensitas yang tinggi dan penggunaan alat-alat berat di dalamnya.
2.4 Perilaku Sosial Pada gajah
1. Hidup berkelompok. Di habitat alamnya, gajah hidup berkelompok (gregarius). Perilaku berkelompok ini merupakan perilaku sosial yang sangat penting peranannya dalam melindungi anggota kelompoknya.
Besarnya anggota setiap kelompok sangat bervariasi tergantung pada musim dan kondisi sumber daya habitatnya terutama makanan dan luas wilayah jelajah yang tersedia. Jumlah anggota satu kelompok gajah berkisar 20-35 ekor, atau berkisar 3-23 ekor..
Setiap kelompok gajah Sumatera dipimpin oleh induk betina yang paling besar, sementara yang jantan dewasa hanya tinggal pada periode tertentu untuk kawin dengan beberapa betina pada kelompok tersebut. Gajah yang sudah tua akan hidup menyendiri karena tidak mampu lagi mengikuti kelompoknya. Gajah jantan muda dan sudah beranjak dewasa dipaksa meninggalkan kelompoknya atau pergi dengan suka rela untuk bergabung dengan kelompok jantan lain. Sementara itu, gajah betina muda tetap menjadi anggota kelompok dan bertindak sebagai bibi pengasuh pada kelompok "taman kanak-kanak" atau kindergartens.
2. Menjelajah. Secara alami gajah melakukan penjelajahan dengan berkelompok mengikuti jalur tertentu yang tetap dalam satu tahun penjelajahan. Jarak jelajah gajah bisa mencapai 7 km dalam satu malam, bahkan pada musim kering atau musim buah-buahan di hutan mampu mencapai 15 km per hari. Kecepatan gajah berjalan dan berlari di hutan (untuk jarak pendek) dan di rawa melebihi kecepatan manusia di medan yang sama. Gajah juga mampu berenang menyeberangi sungai yang
dalam dengan menggunakan belalainya sebagai "snorkel" atau pipa pernapasan. Selama menjelajah, kawanan gajah melakukan komunikasi untuk menjaga keutuhan kelompoknya. Gajah berkomunikasi dengan menggunakan soft sound yang dihasilkan dari getaran pangkal belalainya. Dewasa ini ditemukan bahwa gajah juga berkomunikasi melalui suara subsonik yang bisa mencapai jarak sekitar 5 km. Penemuan ini telah memecahkan misteri koordinasi pada kawanan gajah yang sedang mencari makanan dalam jarak jauh dan saling tidak melihat satu sama lain.
3. Kawin. Gajah tidak mempunyai musim kawin yang tetap dan bisa melakukan kawin sepanjang tahun, namun biasanya frekwensinya mencapai puncak bersamaan dengan masa puncak musim hujan di daerah tersebut. Gajah jantan sering berperilaku mengamuk atau kegilaan yang sering disebut musht dengan tanda adanya sekresi kelenjar temporal yang meleleh di pipi, antara mata dan telinga, dengan warna hitam dan berbau merangsang. Perilaku ini terjadi 3-5 bulan sekali selama 1-4 minggu.
Perilaku ini sering dihubungkan dengan musim birahi, walaupun belum ada bukti penunjang yang kuat.
2.5 Perilaku Individu Pada Gajah
1. Makan. Gajah merupakan mamalia terrestrial yang aktif baik di siang maupun malam hari. Namun, sebagian besar dari mereka aktif dari 2 jam sebelum petang sampai 2 jam setelah fajar untuk mencari makan. Hal ini sependapat bahwa, gajah sering mencari makan sambil berjalan di malam hari selama 16-18 jam setiap hari. la bukan satwa yang hemat terhadap pakan sehingga cenderung meninggalkan banyak sisa makanan bila masih terdapat makanan yang lebih baik.
2. Minum. Pada waktu berendam di sungai, gajah minum dengan mulutnya.
Sementara, pada waktu di sungai yang dangkal atau di rawa gajah menghisap dengan belalainya. Gajah mampu menghisap mencapai 9 liter air dalam satu kali isap.
3. Berkubang. Gajah sering berkubang di lumpur pada waktu siang atau sore hari di saat sambil mencari minum. Perilaku berkubang juga penting untuk melindungi kulit gajah dari gigitan serangga ektoparasit, selain untuk mendinginkan tubuhnya. photo gajah berkubang
4. Menggaram (salt lick). Gajah mencari garam dengan menjilat-jilat benda dan apapun yang mengandung garam dengan belalainya. Gajah juga sering melukai bagian tubuhnya agar dapat menyikat darahnya yang mengandung garam.
5. Beristirahat. Gajah tidur dua kali sehari, yaitu pada tengah malam dan siang hari. Pada malam hari, gajah sering tidur dengan merebahkan diri kesamping tubuhnya, memakai "bantal" terbuat dari tumpukan rumput dan kalau sudah sangat lelah terdengar pula bunyi dengkur yang keras.
Sementara itu, pada siang hari gajah tidur sambil berdiri di bawah pohon yang rindang. Perbedaan perilaku ini, mungkin berkaitan dengan kondisi keamanan lingkungan. Apabila kondisinya kurang aman maka gajah akan memilih tidur sambil berdiri, untuk menyiapkan diri jika terjadi gangguan.
2.6 Reproduksi Gajah
Di dalam pemeliharaan, gajah dapat mencapai umur 70 tahun , dan selama hidupnya gajah jantan tidak terikat pada satu ekor betina pasangannya. Gajah betina siap bereproduksi setelah berumur 8-10 tahun, sementara gajah jantan setelah berumur 12-15 tahun. Gajah betina mempunyai masa reproduksi 4 tahun sekali, lama kehamilan 19-21 bulan dan hanya melahirkan 1 ekor anak dengan berat badan lebih kurang 90 kg. Seekor anak gajah akan menyusu selama 2 tahun dan hidup dalam pengasuhan selama 3 tahun.
2.7. Keunikan Dalam Diri Gajah Tak Ada Jari, Belalai Pun Jadi
Belalai adalah harta paling berharga bagi gajah. Ia mampu melakukan sejumlah fungsi yang berbeda. Pada tahun 1700-an, para ilmuwan percaya bahwa belalai gajah tersusun atas satu otot saja. Tapi, penelitian modern kemudian membantahnya. Otot penyusun tubuh manusia berjumlah sekitar 639 buah, sedangkan pada belalai gajah berjumlah puluhan ribu. Otot ini menyerupai lingkaran yang saling bertumpuk satu di atas yang lain sehingga memungkinkan gajah bergerak dengan sangat leluasa. Belalai tersusun atas dua kelompok otot utama. Otot yang bersambungan secara diagonal memungkinkan belalai untuk membengkok dan berputar ke arah mana pun. Kelompok otot ini memungkinkan belalai berfungsi layaknya pengungkit. Ia mampu mengangkat beban yang berat.
Kelompok otot lainnya memungkinkan gajah melakukan pekerjaan paling rumit dengan sistem kendali super canggih. Bagian belalai ini sama terampilnya dengan jari-jemari manusia. Belalai bukanlah sekadar hidung gajah. Ia adalah segalanya.
Bila belalainya cedera, seekor gajah akan mati dalam waktu singkat. Pendukung teori evolusi menyatakan, ciri-ciri istimewa pada binatang terbentuk dengan sendirinya, sedikit demi sedikit, secara bertahap tanpa perancangan sengaja.
Namun, rancangan rumit dan sempurna pada belalai gajah dapat berfungsi hanya jika ratusan ribu otot ada secara bersamaan dan bekerja secara bersamaan pula.
Misalnya, jika satu kelompok saja dari otot ini tidak ada, maka gajah takkan mampu menggerakan belalainya dan akan segera mati. Namun, gajah telah menggunakan belalai mereka dengan baik sejak jutaan tahun yang lalu.
Gajah pun Memakai ‘Sepatu’
Gajah memiliki bobot 5 ton lebih. Meski sangat berat, mereka berjalan dengan ringan dan nyaman. Semua ini terjadi karena adanya suatu rancangan khusus pada tubuh gajah. Andai saja ukuran mereka sedikit lebih besar, maka kaki mereka takkan mampu menopangnya. Tapi gajah memiliki kaki yang sungguh merupakan keajaiban perancangan. Sehingga, walau tubuh gajah sangat berat, mereka berjalan dengan amat ringan. Bantalan tebal berupa jaringan kenyal, yang tumbuh sebagai lapisan pada bagian bawah setiap telapak kaki gajah, menyerap guncangan berat badannya. Lapisan bantalan ini menyebarkan efek tekanan yang
dikenakan gajah ke permukaan tanah. Itu memungkinkannya mengangkat kaki dengan mudah. Berkat bantalan ini, gajah mampu berjalan menempuh jarak yang jauh meskipun tubuhnya amat berat. Menurut hukum fisika, seorang wanita bersepatu hak tinggi akan memberikan tekanan lebih besar pada permukaan tanah daripada satu kaki gajah. Teori evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup berevolusi hingga menjadi bentuknya yang sempurna sebagaimana sekarang. Jika teori ini benar, maka gajah yang tidak memiliki jaringan kenyal ini pada kakinya takkan mampu berjalan sejak hari pertama mereka muncul ke dunia, dan karenanya akan mati kelaparan dan kehausan. Ini tidak terjadi, sebab sejak awal gajah telah dicptakan dalam bentuknya yang memang telah lengkap dan sempurna, tanpa kekurangan sedikit pun.
Besar Tubuhnya, Tak Terdengar Bicaranya
Para ilmuwan telah lama meneliti sistem komunikasi gajah. Penelitian menunjukkan, mereka berkomunikasi dengan menggunakan suara infrasonik yang tak terdengar oleh telinga manusia. Suara infrasonik memungkinkan gajah berbicara menggunakan bahasa khusus dengan gajah lain yang terpisah sejauh 4 km. Selain itu, para ilmuwan telah menemukan 30 jenis panggilan gajah yang berbeda. Sinyal infrasonik terbentuk saat benda bermassa besar bergerak sebagaimana pada meletusnya gunung berapi. Ini serupa dengan suara yang hanya dapat dirasakan. Suara infrasonik sangatlah kuat, tapi termasuk gelombang berfrekuensi rendah. Manusia dapat mendengarnya hanya dengan bantuan alat perekam khusus. Awalnya, binatang yang diyakini mampu menghasilkan suara jenis ini hanyalah ikan paus, makhluk laut terbesar. Namun kini kita tahu, gajah juga menggunakan cara yang sama untuk berkomunikasi sesama mereka. Menurut para ilmuwan, dalam cuaca yang baik, gajah mampu mendengar panggilan yang berjarak 10 km dengan gelombang infrasonik. Kemampuan mengagumkan ini mengungkapkan pada kita akan adanya jaringan komunikasi yang menjangkau kawasan sangat luas. Perangkat komunikasi khusus ini merupakan keahlian
menakjubkan yang diciptakan Allah untuk gajah. Keunggulan utama gelombang infrasonik terletak pada daya rambatannya. Suara berfrekuensi tinggi dengan gelombang pendek akan kehilangan kekuatannya dalam waktu singkat. Namun, suara infrasonik memiliki gelombang sangat panjang sehingga perlu waktu lama untuk melemah. Karenanya, gajah mampu mengatur pergerakan kawanannya yang terpencar sejauh beberapa kilometer. Dalam keadaan bahaya, gajah memiliki cara unik lain untuk berkomunikasi. Misalnya, saat bertemu badak mereka menghentakkan kaki dengan keras ke permukaan tanah sehingga menghasilkan getaran yang memperingatkan anggota kawanan yang lain. Dengan cara ini, mereka dapat melakukan pencegahan untuk menyelamatkan para anggotanya sebelum bahaya tersebut terjadi.
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa gajah merupakan hewan darat terbesar di dunia yang hidup berkelompok. Belalai gajah digunakan untuk menyerang, mempertahankan diri, makan, minum, bermasyarakat sesama gajah dan menghidu bau musuh atau makanan. Gajah mampu mendengar getaran nada rendah di bawah tahap bunyi yang didengar oleh manusia yaitu bunyi infrasonik di antara 14 hingga 35 Hertz.
DAFTAR PUSTAKA
Http://Www.Sonakali.Org/Elephant.Htm. diakses tanggal 15 Oktober 2007.
Http://Www.Scz.Org/Animals/E/Elphant.Html diakses tanggal 15 Oktober 2007.
Http://Www.Wikipedia.Org/Gajah. Gajah. diakses tanggal 15 Oktober 2007.
ii